2016-03-20

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Ilustasi
Medan - Dua pemuda asal Aceh yang beralamat di Gampong Paloh Mampre dan Meunasah Meucat Kecamatan Nisam Aceh Utara dikabarkan ditangkap di bandara kuala Namu tadi pagi sekitar pukul 09:00 WIB, Sabtu, 26 Maret 2016.

Informasi yang dikutip di Waspada Online, Sindikat jaringan narkoba selalu berusaha melancarkan aksinya melalui Kuala Namu International Airport (KNIA). Walau pun selalu gagal, namun pelaku narkoba, tidak jera menggunakan jalur penerbangan untuk membawa narkoba ke tempat tujuannya.

Seperti halnya dua pemuda asal Aceh, inisial A (26) dan K (23), nekat tadi pagi membawa 3 Kg sabu tujuan Bandar Lampung.

Manajer Humas dan Protokoler KNIA, Wisnu Budi Setianto, saat dikonfirmasi wartawan, membenarkan ada penangkapan terhadap dua pemuda asal Aceh membawa narkoba jenis sabu 3 Kg di bandara.

“Iya benar ada sabu 3 Kg diamankan petugas bandara dari dua pemuda warga aceh berinisial A dan K,” tutur Wisnu Budi Setianto, Sabtu (26/3).

Dijelaskan, tersangka A dan K merupakan calon penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 270 tujuan Bandar Lampung. Kedua pria itu diamankan petugas keamanan bandara sekira pukul 09.00 WIB setelah tidak lolos pemeriksaan.

“Di dalam barang bawaan A ditemukan 1 Kg sabu, dibungkus rapi dalam kardus. Sementara di dalam barang bawaan K diamankan lagi 2 Kg sabu. Keduanya diamankan petugas Avsec ketika pemeriksaan di sentral security check point,” ungkap Wisnu.

Kini kedua pria itu bersama barang bukti sabu sudah diamankan dan dimintai keterangan. Tersangka akan diserahkan petugas pengamanan bandara ke Polres Deliserdang guna pengembangan lebih lanjut.(Red)

Kebakaran Rutan Bengkulu/DAVID MUHARMANSYAH/ANTARA FOTO
PETUGAS gabungan TNI dan POLRI mengevakuasi tahanan saat kebakaran yang dipicu aksi tawuran dan tembak menembak antar napi di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Malabero Kota Bengkulu, Jumat, 25 Maret 2016 malam. Sebanyak 256 narapidana dievakuasi dan akan direlokasi ke Lapas Bentiring yang daya tampungnya lebih besar.*
Bengkulu - Lima tahanan tewas setelah Rumah Tahanan (Rutan) Bengkulu terbakar, Jumat, 25 Maret 2016, sekitar pukul 20.30 WIB. Diduga, sejumlah tahanan membakar Rutan saat terjadi penggeledahan narkoba.

"BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) melakukan penggeledahan di Rutan Bengkulu, namun terjadi perlawanan oleh tahanan dengan menjebol pintu hunian dan membakr seluru blok hunian," kata Kepala Biro Humas Hukum dan Kerjasama Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham Effendi Perangin Angin melalui pers rilisnya, Sabtu, 26 Maret 2016.

Petugas keamaan akhirnya bisa mengendalika situsi pukul 22.45 WIB. Dari 259 penghuni, petugas baru mampu 231 orang. Soalnya, petugas kesulitan karena listrik turut dipadamkan. "Pihak lapas segera mengambil langkah seluruh penghuni dipindahkan ke LP (Lembaga Permasyarakat) Kelas llA Bentiring," tutur Effendi.

Laporan terakhir, tahanan yang dievakuasi berjumlah 257 orang.‎ "Tahanan 252 orang dievakuasi ke LP Bengkulu, 1 orang dibawa ke rumah sakit umum, 1 orang dibon (dipinjam) BNNP Bengkulu dan 5 orang meninggal dunia terbakar," ucapnya.

Saat ini, Kemenkumham masih mengidentifikasi lima tahanan yang tewas terbakar tersebut. Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Komunikasi Dirjen Permasyarakatan Akbar Hadi menyatakan, ada empat petugas yang berjaga saat kejadian. "Saat kejadian hanya 4 orang petugas yang berjaga. Satu regu ada 4 orang," ujarnya.(pikiran-rakyat.com)

Tempat Kejadian Perkara penemuan Mayat di Riseh Teunong Kecamatan Sawang, (Foto: StatusAceh.Net)
Lhokseumawe - Berdasarkan hasil penelusuran penyidik Polres Lhokseumawe, ternyata seorang remaja pria berumur 15 tahun asal Bireuen diduga ikut terlibat dalam kasus pembunuhan Maryani (42), janda asal Dusun Ara Silo, Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Selasa (22/3) malam. Saat ditemukan, korban mengalami luka tusuk di punggung dan luka bekas hantaman batu di wajahnya.

Baca: Terkait Penemuan Mayat Wanita Di Sawang, Geuchik Dan Sekdes Riseh Tunong Tepis Isu Mantan Suami Korban Pelakunya

Meski remaja tersebut bukan pelaku utama dan tidak terlibat mengeksekusi korban, tapi dia berada di lokasi dan melihat langsung saat korban dieksekusi. Ia bahkan ikut membuang sandal korban dari badan jalan ke sebuah kebun cokelat (kakao) untuk mengaburkan lokasi korban dieksekusi.

“Anak itu melihat dari awal hingga pelaku utama selesai mengeksekusi korban. Dia sudah kita amankan di mapolres beberapa jam setelah kita temukan mayat korban,” ungkap Kapolres Lhokseumawe, AKPB Anang Triarsono, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir SE, Jumat (25/3).


Berdasarkan keterangan yang dihimpun kepolisian, tersangka utama yang namanya sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO), nekat membunuh karena marah gara-gara korban menceritakan kepada orang lain bahwa tersangka utama punya utang emas padanya.

Pembunuhan itu, menurut AKP Yasir, cukup terencana. Pada Senin (21/3) sore, korban dan tersangka utama sempat bertemu di rumah orang tua anak laki-laki berumur 15 tahun tersebut. Rumah tersebut selama ini dijadikan tempat tinggal tersangka utama yang berasal dari Aceh Barat Daya (Abdya) itu.

Disebutkan juga, korban dan tersangka utama posisinya sedang marahan, saling tak berbicara.

Selanjutnya, korban pulang menuju Kecamatan Sawang. Ia sempat singgah di rumah Ibrahim, juga warga Sawang. Tak lama kemudian, tersangka utama bersama bocah 15 tahun itu juga tiba di rumah Ibrahim.

Menjelang shalat Isya, kedua tersangka minta izin kepada Ibrahim hendak pulang ke Bireuen. Tapi ternyata mereka menuju ke Dusun Ara Silo dengan maksud menunggu korban melintas.

Dalam perjalanan, tersangka sempat singgah di tempat penjual mie caluek (mi khas Pidie -red) dan memesan sepiring mi. “Saat baru dipesan, tiba-tiba korban lewat, sehingga tersangka utama tak jadi memesan mi dan langsung mengejar korban,” ujar AKP Yasir.

Saat mengejar korban, remaja Bireuen yang mengendarai sepeda motor (sepmor), sedangkan tersangka utama dibonceng. Sesampai di lokasi kejadian, mereka bertemu.

Tersangka utama langsung turun dari sepmor. Baju yang dia pakai dibukanya, langsung dililitkan ke leher korban yang sedang mengendarai sepmor dengan kecepatan lambat, karena jalan berbatu.  “Dijerat” tersangka pakai bajunya, korban pun terjatuh. Lalu tersangka menusuk tubuh korban dengan pisau yang sengaja ia bawa. Setelah itu, wajah korban dihantamnya menggunakan batu hingga tewas di tempat.

Saat polisi menemukan jasad korban pada Selasa (22/3) sekitar pukul 05.30 WIB, tas, dompet, dan kalung emas korban tak ditemukan di lokasi. “Tapi tersangka utamanya kini masih diburu, sekalipun ia lari ke luar Kota Lhokseumawe,” pungkas AKP Yasir.

Diberitakan sebelumnya, Maryani (42), janda asal Dusun Ara Silo, Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, ditemukan tewas di kebun cokelat desa setempat, Selasa (22/3) sekitar pukul 05.30 WIB. Korban mengalami luka tusuk di punggung dan luka bekas hantaman benda keras di wajah. Berdasarkan informasi si remaja 15 tahun itu, pelaku memang berkali-kali memukul wajah korban dengan batu, selain menusuk punggung korban dengan pisau tajam. Baca : Mayat Wanita Setengah Telanjang Ditemukan Di Sawang . (Serambinews.com)

Warga Gunung Lagan, Gunung Meriah, Aceh Singkil, Sabtu (26/3/2016) menghadang mobil rombongan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah.
Singkil - Mobil rombongan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, dihadang warga Gunung Lagan, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Sabtu (26/3/2016).

Aksi warga itu hanya berlangsung dalam hitung menit, setelah polisi yang melakukan pengawalan orang nomor 1 di Aceh ini, membubarkannya.

Kejadian bermula saat rombongan Zaini Abdullah, bergerak dari pesantren Darul Marhamah, di Suka Makmur menuju Pesantren Darul Mutalimin, Tanah Merah, masih di kecamatan yang sama.

Ketika sampai di Desa Gunung Lagan, tiba-tiba sekelompok masa membentangkan spanduk di tengah jalan hingga rombongan berhenti.

Bahkan seorang polisi pengawal yang menggunakan sepeda motor dilaporkan sempat terjatuh karena mengerem mendadak menghindar menabrak penghadang.

“Ada polisi yang pakai speda motor jatuh, karena mengerem mendadak saat tiba-tiba warga menghadang ke tengah jalan,” ujar Irwan warga setempat.

Ulah warga dipicu kemarahan atas sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Lantaran dinilai tidak menghormati proses hukum atas gugatan warga terhadap sengketa pelebaran jalan Singkil-Gunung Meriah, di kawasan Gunung Lagan.

“Kami bukan anarkis, tapi ingin menyampaikan aspirasi kepada Gubernur karena pemerintah kami di sini tidak menghormati proses hukum,” kata Juli Murdi juru bicara warga Gunung Lagan.

Menurut Juli, gugatan dilayangkan warga ke Pengadilan Negeri Singkil, atas pelebaran jalan di daerahnya.

Proses di pengadilan masih berlangsung dalam tahap mediasi, namun di lapangan terus ada pengerjaan. Kondisi itulah yang membuat warga nekat menghadang mobil rombongan Gubernur. (Sumber: Serambinews.com)

Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah (DPD) II Partai Golkar Simeulue, Subhan Farid
Simeulue - Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah (DPD) II Partai Golkar Simeulue, Subhan Farid belum bersedia memberikan pendapat mengenai ditetapkan Darmili sebagai tersangka. Karena hingga sekarang, pihanya belum mendapat petunjuk dari pimpinan.

Darmili saat ini menjabat Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Simeulue dan sekarang masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK).

"Terkait adanya informasi status pak ketua, oleh Kejati Aceh, maka seluruh pengurus DPD II Partai Golkar Kabupaten Simeulue, hingga saat ini belum menyatakan sikap apapun, karena masih menunggu petunjuk dan arahan dari DPD I Partai Golkar Provinsi Aceh," kata Subhan Farid, Sabtu (26/03/2016) kepada Habadaily.com.

Kendati demikian, Farid mengakui mengetahui Darmili ditetapkan menjadi tersangka kasus Perusahaan Daerah Kabun Sawit (PDKS) setelah adanya pemberitaan di media. Selain itu ia juga melakukan komunikasi langsung dengan pihak DPD I Partai Golkar Provinsi Aceh.

"Saya ketahui, setelah mendapat telepon dari para kader dan dari pengurus DPD I Partai Golkar Provinsi Aceh, dan saat itu, kami diperintahkan untuk menunggu perkembangan dan intruksi dari sana," imbuh Farid.(Sumber: habadaily.com)

Ilustrasi serangan udara Rusia di Suriah (Foto: Sofrep.com)
StatusAceh.Net - Seorang perwira pasukan khusus Rusia dilaporkan minta dibom oleh rekannya sendiri daripada ditangkap dan disandera tentara ISIS, pada awalnya ia diwartakan tewas akibat baku tembak. Pasukan elit Negeri Beruang Merah itu memang dalam keadaan terkepung.

Dilaporkan, pihak militer Rusia menyebut perwira itu sebagai pahlawan. Sang perwira sedang sendirian berada di Kota Palmyra, Suriah, selama satu minggu untuk mengidentifikasikan koordinat dari target lokasi penting ISIS agar pesawat tempur Rusia dapat menggempur lokasi tersebut.

“Seorang perwira Pasukan khusus Rusia (SOF) tewas di dekat Kota Palmyra ketika menuntun pesawat tempur Rusia menuju koordinat target untuk menggempur ISIS,” ujar pihak militer Rusia kepada kantor berita Interfax, sebagaimana dilansir Russia Today, Sabtu (26/3/2016).

“Perwira itu meninggal sebagai seorang pahlawan dengan memanggil serangan udara untuk dirinya sendiri ketika sudah dikepung oleh para teroris (ISIS),” ujar sumber militer tersebut.

Hingga saat ini, identitas dari perwira pasukan khusus tersebut dirahasiakan oleh pemerintah Rusia.

Pasukan Special Operation Force (SOF) Rusia sudah berada di Suriah semenjak September 2015 demi menggempur pasukan ISIS di darat. Selain itu, SOF juga mempunyai tugas berkoordinasi dengan Angkatan Udara Rusia demi menentukan target untuk dibombardir pesawat tempur mereka.(OKZ)

Ilustrasi
Bandung - Dua oknum anggota TNI Yon Arhanudri 3 Bandung Prada PW dan Prada DA diduga melakukan tindakan pemerkosaan terhadap seorang perempuan SP (24) di wilayah Desa Jambudipa Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Saat ini keduanya telah diamankan petugas setempat. 

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa itu terjadi saat sejumlah anggota Polsek Cisarua tengah melakukan patroli, Jumat, 25 Maret 2016, pukul 02.30 WIB.

Tepat di depan diler sepeda motor, kampung Panyandaan, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, terdengar suara jeritan perempuan meminta tolong.

Di saat bersamaan terlihat dua orang berboncengan sepeda motor langsung pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan perempuan tersebut.

Selanjutnya, anggota Reskrim Aiptu Budi beserta Kanit Serse melakukan pengejaran, dan sampai di sekitar Dusun Bambu, pengendara tetap memacu kendaraannya.

Saat itulah petugas kemudian mengeluarkan tembakan peringatan pertama dan kedua, namun tidak dihiraukan. Selanjutnya penembakan ketiga dilakukan dan mengenai pengendara yang dibonceng.

Kedua pelaku pun langsung diamankan dan dibawa ke Polsek setempat. Sementara salah satu pelaku yang tertembak telah dibawa ke RS Dustira Cimaha.

Adapun korban SP tengah dimintai keterangan. Diduga ia menjadi korban pemerkosaan oleh para pelaku yang mencoba melarikan diri tersebut. (Viva)

Ilustrasi
Kuala Namu - Dua pemuda asal Nisam Aceh Utara ditangkap petugas bandara Kuala Namu Internasional Airport (KNIA) Sumatera Utara, Sabtu (26/3) sekitar pukul 08.30 wib.
AF (26) dan KW (23) diamankan petugas Aviantion Security (Avsec) bandara diduga telah membawa narkotika jenis sabu di dalam tas ransel hitam miliknnya.

"Benar, ada warga asal Aceh yang diamankan petugas Avsec yang dicurigai membawa narkotika Sabu," kata Kabid Humas Sumut Kombes Helfi Assegaf saat dihubungi AJNN melalui selularnya.

Namun, pihaknya belum mengetahui jumlah narkotika yang dibawa warga asal Aceh tersebut. "Saya belum dapat informasi berapa jumlah narkotika yang dibawanya," jelasnya.

Informasi yang diterima AJNN, kedua warga Kecamatan Nisam Aceh Utara merupakan calon penumpang pesawat GA 270 dengan tujuan Lampung.  Pada saat kedua ingin check in di SCP Centralisasi dan memasukan barang bawaanya ke X-Ray petugas menemukan barang yang dicurigai di dalam tas bawaannya.

Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan serbuk putih yang diduga narkotika yang disimpan didalam bungkusan teh Cina merek Guanyinwang seberat 1,15 kg. 

Dari hasil pemeriksaan dari pelaku, barang haram tersebut di bawa dari Lhokseumawe untuk dibawa ke Bandar Lampung. "Mereka dijanjikan akan diberikan upah senilai Rp 30 juta, namun yang bersangkutan baru menerima upah Rp 700 ribu," kata sumber dari kepolisian kepada AJNN.

Saat ini, kedua pelaku dan barang bukti langsung diserahkan ke Polres Deli Serdang.(Sumber: AJNN.Net)

StatusAceh.Net - Perbukitan hijau dengan telaga berair tenang membuat pemandangan telaga di Lhok Nga ini terlihat seperti taman nasional di AS. Lihat dan buktikan sendiri keindahannya.

Tahu fotografer ternama Ansel Adams? Beliau dikenal sebagai bapak fotografer landscape. Karya-karyanya berupa foto pemandangan alam yang indah khususnya Taman Nasional Yosemite di Amerika Serikat. Lokasi itu sangat ikonik dengan tampilan gunung batu dan refleksinya yang dipantulkan oleh air sungai yang mengalir di lembahnya.

Untuk melihat pemandangan seindah Yosemite, traveler tidak perlu jauh-jauh ke negeri Paman Sam. Cukup berkunjung ke Aceh Besar saja. Di sana ada juga pemandangan seindah Yosemite lho!

Berlokasi di Lhok Nga, ada sebuah telaga yang di kelilingi bukit batu kapur yang ditumbuhi pepohonan lebat. Bukitnya terlihat indah dengan bentuk berpunuk-punuk seperti unta. Airnya yang tenang nyaris tak beriak membuat refleksi yang ditampilkan terlihat begitu sempurna.

Entah dari mana sumber airnya. Apakah ada mata air atau merupakan aliran sungai yang terperangkap di telaga itu. Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawabannya.

Mau ke sini? Ini petunjuknya!

Jika berangkat dari Kota Banda Aceh, traveler harus menempuh jarak sekitar 18 kilometer dari pusat kota. Posisi telaga ini berada di sebelah kiri jalan. Atau berseberangan dengan Pantai Lhok Nga.

Walaupun posisinya tepat di pinggir jalan, namun jika tidak terlalu jeli dengan adanya telaga ini, traveler akan melewatinya begitu saja. Jadi jika sudah berada di kawasan Lhok Nga, cobalah berjalan pelan dan perhatikan bagian kiri jalan agar lebih mudah menemukannya.

Terlihat sepi? Ya wajar sih, mengingat lokasi ini bukanlah lokasi wisata seperti pantai-pantai di sepanjang Lhok Nga. Hanya beberapa fotografer landscape yang datang ke sini untuk mengabadikan keindahannya.

Nah kalau traveler mau punya foto indah ala Yosemite-nya Ansel Adams, silahkan datang ke lokasi tersebut dan abadikan keindahan panoramanya dengan kamera anda. Selamat hunting foto!(detik.com)

Muhammad Arsyad
Banda Aceh - Sekretaris Jenderal Forum Gerakan Pemuda Peduli Aceh (FORGEPPA) Muhammad Arsyad mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam membantu mengawasi penggunaan anggaran dana desa di Aceh.

“Aceh tahun ini mendapatkan  Alokasi Dana Desa (ADD) dari pemerintah pusat jauh lebih besar dibandingkan jatah tahun 2015. Oleh karena itu kami mengajak masyarakat desa, LSM dan para pemuda untuk berperan aktif dalam mengawasi bantuan dana desa tersebut dan segala bentuk bantuan dari pemerintah, hal ini bertujuan agar tidak ada penyalahgunaan,” kata Arsyad dalam acara diskusi dengan sejumlah mahasiswa dan pemuda Aceh di warung Sahabat Kopi Ciputat, Tanggerang Sealatan, pada Jumat malam (25/3/2016).

Kami juga berharap kepada aparat kampung yang diberikan amanah mengelola dana desa harus transparan serta jangan disalahgunakan karena akan berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi serta memfasilitasi transparansi penggunaan dana desa, agar rincian penyalurannya dapat dipublikasi di papan pengumuman di setiap desa dan harus disampaikan kepada masyarakat secara terbuka tentang pemanfaatan di lapangan.

“Kami berharap kepada seluruh perangkat desa agar publikasi penggunaan dana desa secara otomatis harus dipublikasi di papan pengumuman di setiap desa supaya terbuka dan siap menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat desa. Sebab, melalui sifat terbuka tersebutlah prinsip akuntabilitas Bisa terwujud,” tegas Arsyad.(Rill)

Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
StatusAceh.Net - Pemikir Muslim ternama yag hidup pada abad ke-14, Ibnu Khaldun, menilai penting adanya rasa kebersamaan, serta senasib dan sepenanggungan, atau disebutnya sebagai ashabiyah sebagai penjamin kelangsungan sebuah negara. Hilangnya ashabiyah itu, kata dia, akan melahirkan antara lain perilaku korupsi.

Khaldun mengamati jatuh bangunnya kesultanan dan menulisnya kesimpulannya dalam buku The Muqaddimah (Mukadimah). Buku tersebut juga masuk dalam daftar bacaaan CEO Facebook Mark Zuckeberg.

Ibnu Khaldun menulis, pada awal berdirinya kesultanan ada perasaan ashabiyah yang kuat karena pemimpin dan masyarakat sama-sama berjuang mendirikan negara. Lalu seiring bergantinya generasi dan datangnya kemakmuran, ashabiyah hilang dan diganti mengejar kemewahan dan kenikmatan hidup.

"Agama dan kesejahteraan tergeser oleh keinginan mencapai kemewahan hidup," kata Khaldun.

Kemewahan hidup itu tidaklah mudah dicapai karena membutuhkan biaya besar. Maka, kata Khaldun, muncullah korupsi karena orang berusaha mengejar kemewahan dengan cara-cara yang tidak benar.

Jika pejabat di pemerintahan juga mengejar kemewahan itu, maka Khaldun melihat mereka tak lagi memperhatikan kebutuhan sehari-hari masyarakatnya. Maka, kata dia, muncullah kemiskinan dan kesulitan ekonomi di masyarakat.

Dalam buku Mukadimah, Khaldun menyebut kesultanan yang kini berada di Maroko yang menanam pohon yang indah di berbagai tempat. Pohon-pohon itu, kata dia, enak dipandang tapi buahnya tak bisa dimakan sehingga tak berguna bagi masyarakat.

Maksud Khaldun, tanda-tanda sebuah pemerintah yang korup adalah yang proyek pembangunannya tidak ada kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. "Kalau sudah sampai tahap ini, orang harus mulai cemas dengan masa depan negaranya," ujarnya.

Jika ada ashabiyah atau perasaan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakatnya untuk mengejar tujuan bersama, maka negara bisa terhindar dari korupsi dan bisa sejahtera untuk waktu yang panjang. Jika tidak, maka negara akan hancur oleh perilaku korup.

"Jika korupsi sudah merusak karakter dan keagamaan seseorang, rasa kemanusiaannya sudah hilang, maka dia tak ada bedanya dengan binatang," kata Khaldun. (detik.com)

Banda Aceh - Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah menyambut baik proses rekonsiliasi para eks kombatan yang diajukan oleh Kamaruddin Abubakar atau yang akrab dipanggil Abu Razak saat pertemuan antara keduanya di di Pendopo Gubernur, Banda Aceh, Kamis (24/3).

Menurutnya, proses rekonsiliasi seluruh elemen para eks kombatan akan memberikan kontribusi penting dalam menyatukan masyarakat bagi pembangunan Aceh yang baik ke depan. 

“Bersatunya para eks kombatan dalam satu wadah juga diharapkan dapat menimbulkan aura kesejukan dalam tubuh perjuangan yang selama ini dinanti-nantikan oleh rakyat,” ujar Gubernur Aceh yang kerap disapa Doto Zaini. 

Gubernur mengatakan proses rekonsiliasi seluruh elemen eks kombatan saat ini sangat diperlukan dan didambakan oleh masyarakat demi mendukung jalannya pemerintahan dan perdamaian di masa mendatang.

Dalam perbincangan dengan Abu Razak, Gubernur Zaini mengajak semua pihak yang terlibat dalam perjuangan rakyat Aceh, terutama kepada para elemen eks kombatan untuk bersatu kembali memikirkan berbagai hal yang berdampak positif bagi kemajuan daerah ini.

“Yang penting dalam pertemuan sikap kita tetap terbuka menyambut para eks kombatan untuk kembali bersatu, bersama-sama memperjuangkan nasib rakyat Aceh ke depan,” katanya.

Sebagaimana pernah diberitakan sebelumnya, Abu Razak pernah meminta untuk bertemu dengan Doto Zaini usai sholat jenazah dan pemakaman tokoh Partai Aceh, Atqia Abubakar, pada Senin (14/3) di Banda Aceh. Menanggapi hal tersebut Doto Zaini meminta Abu Razak untuk datang menemui dirinya di Pendopo Gubernur Aceh sehingga terjadinya pertemuan pada Kamis (24/3) di lokasi tersebut.(Rill)

Foto: Reuters (ilustasi)
StatusAceh.Net - Dua belas orang tewas dalam tabrakan antara minibus dan truk berat di Allier, Prancis. 12 Orang tersebut merupakan warga Portugal.

Diberitakan AFP, Jumat (25/3/2016), kendaraan itu sedang melakukan perjalanan dari Swiss ke Portugal ketika kecelakaan itu terjadi saat tengah malam waktu setempat.

"Dua belas penumpang minibus, yang semuanya Portugis meninggal," ujar pihak keamanan setempat.

Kecelakaan itu terjadi ketika minibus berbelok tajam di jalur lalu lintas dan bertabrakan dengan truk di dekat kota Moulins. Sopir minibus dan dua pengemudi truk selamat dari kecelakaan itu, meski mengalami cedera.

Penyelidikan awal mengatakan sopir minibus itu tidak berada di bawah pengaruh alkohol, dan polisi melakukan penyelidikan atas kasus ini.

"Batas kecepatan 90 kilometer per jam," kata sumber dari peradilan setempat.

Sebuah balai desa digunakan sebagai kamar mayat sementara untuk para korban. Usai kecelakaan, jalanan di sekitar itu sempat ditutup hingga olah TKP selesai.(detik.com)

Ilustrasi
StatusAceh.Net - Peredaran narkoba di Provinsi Jambi masih marak meski sudah dilakukan upaya pemberantasan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jambi dan aparat kepolisian di wilayah-wilayah rawan narkoba di Provinsi Jambi.

Aceh menjadi suplai terbesar barang haram jenis sabu, ganja dan ekstasi di Provinsi Jambi. Disusul oleh Batam, Malaysia, Medan, Riau dan Palembang.

Kabid Pemberantasan BNNP Jambi, AKBP Marlian mengatakan, dari peta BNNP Jambi, kawasan rawan atau zona merah narkoba yakni di Kota jambi dan Kabupaten Bungo. Kota Jambi yakni di Pulau Pandan, Danau Sipin dan Legok sedangkan Bungo adalah di Kecamatan Pelayang.

"Kita terus menyisir daerah-daerah rawan dari Kota Jambi, Bungo, Tanjab Barat dari pengedar-pengedar narkoba," ujar Marlian, Kamis (24/3).

Ia menyebutkan, Kecamatan Pelayang, Kabupaten Bungo merupakan wilayah nomor dua setelah Pulau Pandan yang menjadi sasaran empuk para pengedar narkoba. Sekitar 45 persen penduduk di Pelayang sudah terindikasi narkoba.

"Barang haram itu masuk dari Aceh dan diedarkan pengedar salah satunya ke Bungo. Masing-masing bandar di sana itu adalah keluarga. Jaringan pengedaran mereka adalah kekerabatan. Agar lebih mudah mengedarkannya," sebutnya.

"Misalnya, pengedar dari Bungo memiliki keluarga di Palembang. Barang itu bisa masuk ke sana," imbuhnya.

Barang bukti narkoba perbulannya cukup banyak yang diamankan oleh BNNP. Namun Marlian tidak bisa menyebutkan berapa angka tersebut.

"Terakhir kita menangkap pengedar narkoba jaringan Aceh di Bungo dengan barang bukti 22 gram narkoba jenis sabu. Mereka menyuplai barang dari Aceh ke Jambi. Itu berhasil kita tangkap enam orang," kata dia. (tribunnews.com)

Nasir Jamil
Banda Aceh - Anggota DPR, Muhammad Nasir Djamil berharap polisi di wilayah Polda Aceh terus berbenah agar pelayananan kepada masyarakat Serambi Mekah itu maksimal.

"Saya berharap polisi di Aceh menjadi Polisi Sajuta," ujarnya dalam pertemuan  dengan jajaran Polda Aceh saat reses. Salah satunya dengan Kepala Biro (Karo) Sumber Daya Manusia Polda Aceh, Kombes Pol. MZ. Muttaqien.

Sajuta yang dimaksud Nasir Djamil tidak lain adalah Sabar, Jujur dan Taqwa. Kata Nasir Djamil, Sajuta tersebut sudah seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari perilaku polisi sehari-hari.

"Saya meyakini dengan menjalankan Sajuta ini akan menjauhkan polisi kita dari perilaku yang negatif seperti terlibat peredaran narkoba, curanmor bahkan bunuh diri," tambahnya.

Sementara itu, Kombes Pol MZ Zainulmenjelaskan beberapa kasus yang sering dialami oleh polisi di Aceh di antaranya urusan rumah tangga, terlibat tindak pidana.

Namun, pria jebolan Akabri tahun 1990 ini mengklaim prilaku negatif anggota kepolisian di wilayah Polda Aceh dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang signifikan. "Penurunan ini tidak terlepas dari kerja keras jajaran Polda Aceh," ujarnya.

Mantan Wakapolres Ciamis Jawa Barat ini menambahkan salah satu langkah konkrit yang dilakukan pihaknya dalam upaya menekan perilaku negatif anggotanya yakni dengan menggelar pesantren kilat.

"Kita mencoba revolusi mental anggota-anggota dengan pesantren kilat dilakukan secara terus menerus," tandasnya.(RMOL)

Riau - Komandan Resor Militer 031/WB menegaskan telah menyebar intelijen dan meningkatkan koordinasi guna memburu dua tahanan Detasemen Polisi Militer 1/3 Pekanbaru, Riau, Koptu IP dan Prada SF yang melarikan diri.

"Kita sudah sebar intelijen untuk pengejaran. Selain itu, juga menyebar foto ke setiap pasukan dengan harapannya ditemukan kembali," kata Komandan Resor Militer (Korem) 031/WB Brigjen TNI Nurendi kepada Antara di Pekanbaru, Kamis (24/3/2016).

Dua tahanan polisi Detasemen Polisi Militer (Denpom) 1/3 TNI AD Pekanbaru, Riau, yang merupakan tersangka narkoba berinisial Koptu IP dan Prada SF melarikan diri pada Rabu (23/3) dini hari lalu.

Danrem menjelaskan, jajarannya telah menginformasikan kaburnya tahanan itu ke sejumlah provinsi tetangga. Sementara itu, ia mengatakan bahwa kaburnya tahanan tersebut telah menjadi atensi Komando Daerah Militer Bukit Barisan I/Bukit Barisan.

"(Kaburnya tahanan itu) masih dalam pengusutan kita, termasuk KODAM turut mengusut bagaimana kaburnya tahanan itu," jelasnya.

Danrem mengakui bahwa kaburnya tahanan narkoba akibat dari kelalaian petugas. Untuk itu, ia meminta kepada seluruh satuan jajarannya untuk meningkatkan pengawasan guna mencegah hal yang sama terjadi.

Seperti diketahui, Koptu IP merupakan tahanan Denpom 1/3 Pekanbaru yang ditangkap oleh Direktorat Narkoba Polda Riau dan Intelijen Korem 031/WB.

IP yang merupakan oknum TNI AD yang bertugas di Komando Distrik Militer Tembilahan itu diamankan pada Minggu (13/3) lalu di Jalan Tanjung Datuk, Kota Pekanbaru. Dari tangan IP, petugas mengamankan barang bukti berupa setengah kilogram sabu-sabu.(Rima)

Aceh Utara - Ketua Tim Relawan Aceh (TRA) Wilayah Aceh Utara, Abdul Rahman Ismail, secara langsung telah meresmikan kantor TRA yang terletak di kawasan Pusat Perkotaan Sampoiniet, Kecamatan Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (24/3).

Dalam peresmian tersebut, pertama kali diawali dengan pembacaan ayat suci Alqur’an oleh Tgk Bukhari. Selanjutnya shalawat badar dan peusijuek kantor serta 200 anggota TRA oleh Tgk Juned dan Tgk Abah. Hadir juga Sekretaris TRA, Yani.

Berkaitan dengan hal ini, Rahman secara tegas menyampaikan bahwa timnya itu akan memilih golput pada Pilkada Aceh 2017 mendatang bila tuntutannya tidak direalisasikan oleh Pemerintah Aceh.

Tuntutannya, agar pemerintah memberikan santunan kepada para korban konflik dan segera mengimplementasikan butir-butir MoU Helsinki ini sebelumnya pernah Ia sampaikan kepada pihak DPR Aceh di Banda Aceh beberapa waktu lalu.

“Kami hanya akan mendukung pemimpin yang benar-benar memperhatikan nasib rakyat. Kami menyatakan bahwa sejauh ini masih mengambil sikap netral, tidak ada mengarahkan dukungan kepada kandidat calon Gubernur Aceh periode 2017-2022,” ucapnya tegas.(Sumber: waspada.co.id)

Warga padati lapangan singa putra kubu  
Aceh Utara- Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang digelar oleh Karang Taruna "CIGAPU"dilapangan bola Singa Putra di desa Kubu Kec. Sawang Kab. Aceh Utara malam ini Kamis (24/3/2016) menjadi lautan manusia.

Pasalnya dalam peringatan maulid nabi SAW dimulai pukul 20:00 WIB kali ini acara ini dimeriahkan oleh peserta Q Academy Indosiar yakni Nasyid Salsabil Aceh.

Penampilan ke 7 (tujuh) anggota nasyid salsabil ini memukai ribuan warga masyarakat dari berbagai desa dalam kecamatan sawang.
Seperti di ungkapkan oleh Iswandi (29) warga desa kubu,acara maulid yang dilaksanakan dilapangan singa putra kubu luar biasa banyak antusias warga yang menyaksikan dakwah islamiah yang di prakarsai oleh karang taruna.
Nasyid Salsabil                                                 Tgk M. Yunus   
“ Luarbiasa banyak warga yang datang,sampai-sampai harus berdesakan menyaksikan dakwah malam ini” Ungkap iswandi.

Demikian hal yang sama di ungkapkan oleh mahmudi warga lhokcut, " Saya datang tadi terlambat,saat saya datang terpaksa menyaksikan penampilan nasyid salsabil dan Tgk M. Yunus dari jauh" tuturnya.

Ribuan warga membanjiri lapangan desa kubu yang datang menyaksikan penampilan nasyid salsabil memanfaatkan dengan mengabadikannya kamera handphone setiap syiar-syair yang dibawakan oleh grup nasyid asal dewantara ini dan penceramah tunggal dari Idi Aceh timur Tgk M. Yunus.

Reporter: T. Sayed Azhar

Pengungsi Rohingya
Aceh Utara - Sampai Maret 2016, tinggal 75 orang warga etnis Rohingya yang masih berada di Aceh Utara.

Media Relation Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh Utara Zainal Bakri kepada Kompas.com, Kamis (24/3/2016) mengatakan, jumlah tersebut berkurang dari 332 orang yang tiba di kabupaten itu pada Mei 2015.

Meski jumlahnya menyusut, penanganan terhadap warga Rohingya tetap maksimal. Mereka tetap diberi pelatihan menjahit, pertanian, dan lain sebagainya.

"Fokus kita adalah untuk memberikan keterampilan mereka sehingga mereka bisa hidup mapan di kemudian hari," ujar Zainal.

Sampai saat ini, semua warga Rohingya ditampung dalam lokasi penampungan sementara Blang Adoe, Aceh Utara, sampai mereka mendapatkan negara pemberi suaka.

Sebagian besar warga Rohingya kabur dari penampungan menuju Malaysia untuk menemui saudaranya di negeri jiran itu.

"Berapa pun jumlah mereka tersisa kami tetap memberikan layanan terbaik," kata Zainal.(*)

Sumber: Kompas.com

Jakarta - Ketua DPP Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Irma Suryani Chaniago akhirnya ‘menembak’ Ahmad Dhani dengan kata-kata pedas. Ia membalas pernyataan musisi Ahmad Dhani, yang menyebut partai politik pendukung Basuki T Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 sebagai penjilat.

Pernyataan itu disampaikan Dhani, ketika konferensi pers di kediamannya pada Selasa (22/3). Bahkan, ia menyebut Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga termasuk partai penjilat bila mendukung Ahok di Pilkada DKI.

“Ha ha ha. Susah kalau bicara sama orang yang nggak punya pendidikan politik,” kata Irma kepada wartawan di Jakarta, saat menanggapi pernyataan Ahmad Dhani, Rabu (23/3).

Anggota Komiis IX DPR itu menyarankan agar pentolan Dewa 19 itu tak usah ikut-kutan terjun ke dunia politik, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.

“Dhani itu urus musik saja! Nggak usah cawe-cawe di politik. Suruh belajar dulu, bahwa di politik itu tidak semua gunakan politik praktis, harus tau juga politik etis,” tegas Irma.

Irma justru menilai lucu bila ada yang mendukung Dhani di dunia politik dan memimpin masyarakat. Kecuali bidang musik, mantan suami Maia Estianty, menurutnya memang jagonya.(PM/jpnn)


Banda Aceh - Bakal calon Gubernur Aceh, Tarmizi A Karim, resmi melamar sebagai kandidat calon Gubernur yang akan diusung oleh Partai Nasdem  pada pilkada 2017 mendatang. Tarmizi A Karim menyerahkan berkas formulir pendaftaran yang diterima langsung Ketua DPW Partai Nasdem Aceh, Zaini Djalil, 24 Maret 2016.

Ketua DPW Partai Nasdem Aceh, Zaini Djalil mengatakan, pihaknya akan kembali melakukan survei terhadap balon kepala daerah yang sudah melamar sebelum menentukan kandidat yang akan diusung partainya.

Sementara itu, bakal calon Gubernur Aceh, Tarmizi A Karim mengaku, tekatnya maju sebagai calon Gubernur Aceh ingin mengabdi kepada tanah kelahirannya atas dasar pengalamannya dalam mengelola pemerintahan selama 36 tahun, termasuk menjadi Plt. Gubernur Kalimantan Selatan.

Dirinya juga mengaku memiliki persamaan visi dan misi bersama Partai Nasdem, sehingga memilih partai itu sebagai kendaraan politiknya untuk maju sebagai Cagub Aceh pada Pilkada 2017 mendatang. (Sumber: acehvideo.tv)

Banda Aceh - Irwandi Yusuf resmi mendaftar sebagai bakal calon Gubernur Aceh ke kantor DPW NasDem Aceh di Lampineung, Banda Aceh, Kamis, 24 Maret 2016, sekitar pukul 14.00 WIB tadi. Ia akan disurvei sebagai bakal calon (balon) gubernur oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem).

Amatan portalsatu.com, pendaftaran Irwandi Yusuf diwakili oleh kader Partai Nasional Aceh (PNA) Dedi Safrizal ditemani istri Irwandi Yusuf, Darwati A. Ghani. Dedi Safrizal dan Darwati saat ini menjabat anggota DPRA dari PNA.

Rombongan kandidat balon Gubernur Irwandi Yusuf diterima Ketua DPW Partai NasDem Aceh, Zaini Djalil. Dedi Safrizal kemudian menyerahkan berkas pendaftaran Irwandi Yusuf kepada Zaini Djalil.

Irwandi Yusuf merupakan balon gubernur kedua yang sudah melamar ke NasDem hari ini, setelah Tarmizi A. Karim datang pagi tadi.

"Yang sudah mengembalikan berkas sudah dua, tadi pagi Pak Tarmizi Karim, kemudian yang sekarang ini Pak Irwandi Yusuf. Kemudian nanti sore, ada calon yang berasal dari partai, tapi ingin maju melalui independen, secara otomatis tidak mendaftar melalui partai," kata Zaini Djalil.

Ditanya terkait kemungkinan Mualem juga mendapat dukungan dari Partai NasDem, Zaini Djalil mengatakan, hal tersebut masih belum bisa dikonfirmasi saat ini.

"Mualem kemarin pada saat Ketua Umum (Partai NasDem) Pak Surya Paloh ke Aceh, mereka sudah bertemu dan berbicara sekitar satu jam. Untuk mendapat dukungan dan diusung oleh Partai Nasdem, ini sedang dikomunikasikan terlebih dahulu. Nanti kita akan disampaikan pada waktunya," kata Zaini Djalil.(Sumber: portalsatu.com)

Nasyid Salsabil  
Aceh Utara- Karang Taruna "CIGAPU" (Central Internal Gampong Kubu) di Desa Kubu Kec. Sawang Kab. Aceh Utara malam ini Kamis (Kamis 24/3/2016) Pukul 20:00 WIB akan menggelar acara Dakwah Islamiyah dalam rangka peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Dalam acara bernuasa relegius nanti malam juga menghadirkan nasyid salsabil yang pernah tampil sebagai peserta dan juara di acara akademi Q Indosiar tahun lalu.

Ketua Karang Taruna "CIGAPU " Desa Kubu, Junaidi Spdi ditemui di sela-sela persiapan acara menyampaikan jika acara dakwah islamiyah yang pihaknya adakan dalam rangka peringatan  maulid nabi SAW serta terbuka untuk masyarakat luas untuk datang menyaksikan.

Menurut junaidi dakwah islamiyah nanti malam dijadwalkan akan menghadirkan Tgk M. Yunus dari Idi, Aceh timur.
" Untuk memeriahkan acara peringatan maulid pihak karang taruna CIGAPU juga turut mengudang Nasyid Salsabil " ungkap junaidi

Sementara itu dari pihak manager nasyid salsabil melalui sofyan anggota Nasyid membenarkan jika pihaknya grup nasyid salsabil akan tampil malam ini di acara peringatan maulid nabi SAW di desa kubu kec.sawang yang digelar oleh para pengurus dan anggota Karang Taruna "CIGAPU".

" Insya Allah kami memang ada jadwal malam ini tampil di desa kubu sawang memenuhi undangan karang taruna "CIGAPU " jawab sofyan.


Reporter: T. Sayed Azhar

Foto: Penampakan kelompok Santoso makin terdesak di hutan/istimewa/detikcom
Poso - Teroris Abu Wardah alias Santoso dan kelompoknya makin terdesak diburu tim Satgas Tinombala. Pasokan amunisi dan makanan mereka di hutan semakin menipis.

Bahkan salah satu anggota Santoso, yakni MAQ alias S alias Brother (19) nekat melarikan diri. Brother akhirnya diringkus Satgas Tinombala ketika mengambil makanan di rumah penduduk di Desa Wuase, Lore Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Senin (21/3).

Satgas Tinombala kemudian mengorek berbagai informasi tentang keberadaan Santoso dan kelompoknya. Di foto-foto yang diperoleh detikcom dari seorang perwira, terlihat Santoso dan kelompoknya tengah berada di hutan.
Santoso--berambut gondrong--dan anak buahnya tampak memanggang anoa untuk makan di hutan (istimewa/detikcom)

Santoso mengenakan penutup kepala warna hitam menutupi rambutnya yang gondrong. Dia mengenakan jaket hitam dan celana panjang motif loreng. Dia menyandang senjata laras panjang di punggung. Di samping Santoso tampak anak buahnya, seorang pria yang usianya masih belia, diduga sekitar 20-25 tahun. Keduanya tersenyum ke arah kamera sambil memanggang anoa untuk makan.

Di foto lainnya, terlihat sekitar 13 orang anggota Santoso yang juga masih berusia muda. Sebagian berkumpul di bawah tenda seadanya yang terbuat dari kayu dan dedaunan. Sebagian lagi berkumpul seperti sedang makan. Satu orang terlihat menggenggam senjata laras panjang.

Kepada aparat, Brother mengaku kabur karena kelaparan. Mereka kekurangan logistik karena ruang gerak mereka terus dipersempit oleh Satgas Tinombala.

Pengakuan Brother, selama ini mereka mendapat amunisi dan makanan dari seseorang di kota yang rutin memasok. Namun belakangan, pasokan mereka makin terhambat sehingga Santoso dan kelompoknya turun gunung menjarah makanan ke rumah warga. Mereka juga memakan apapun yang ada di hutan seperti anoa, ujung rotan dan ujung batang pohon pinang dan lainnya.

Dari Brother inilah diketahui bahwa kelompok jaringan Santoso mulai pecah kongsi. Kepada polisi, Brother mengaku bahwa amaliyah kelompok Santoso sudah menyimpang dari ajaran Islam. Santoso juga dianggap tak pantas menjadi figur pemimpin dalam gerakan jihad di Poso.

"Yang bersangkutan kabur dari kelompok Santoso karena menilai Santoso tidak cocok menjadi figur pemimpin dalam gerakan jihad di Poso karena setelah tersangka bergabung dengan kelompok Santoso, tersangka baru mengetahui bahwa Santoso sangat lemah dalam pemahaman agama bahkan cenderung menyimpang dari ajaran Islam," kata Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadisaat berbincang dengan detikcom, Kamis (24/3/2016).

Sesama anggota kelompok Santoso juga terjadi perdebatan soal amaliah. Beberapa anggota kelompok Santoso menghalalkan amaliah yakni membunuh warga sipil yang sudah tua dengan cara dipenggal. Anggota kelompok yang tidak setuju dengan pendapat tersebut akhirnya memilih kabur.

"Sehingga hal ini pun menimbulkan perdebatan antara anggota kelompok. Karena ada beberapa anggota kelompoknya juga yang bertentangan, sehingga tidak tahan dan memilih kabur," jelasnya.

Perdebatan antara sesama anggota jaringan ini kian meruncing saat Santoso mengeluarakan fatwa bahwa orang yang kabur dari hutan adalah murtad. Santoso juga menghalalkan kepada anggotanya untuk membunuh anggotanya yang dianggapnya 'murtad'.

Tersangka juga menilai kelompok Santoso sudah tidak kompak dan tidak jelas arah serta tujuannya. Di antara para anggota kelompok juga sudah mulai timbul egoisme masing-masing. "Intinya tersangka sudah tidak kuat dan tidak tahan lagi dengan penderitaan," kata Rudy.

Kelompok Santoso
Jakarta - Pemimpin kelompok bersenjata, Santoso yang tengah bersembunyi di Poso, Sulawesi Tengah, ternyata telah dimasukan ke dalam daftar teroris berbahaya oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). 

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Desmond Mahesa menilai, masih berkeliarannya kelompok Santoso menunjukan buruknya sinergi para penegak hukum.

"Kesannya (kelompok Santoso) dipelihara. Seharusnya sejak dulu operasi gabungan. Kalau hanya Densus nanti mereka salah bunuh lagi," kata Desmond kepada wartawan, Kamis (24/3/2016).

Menurut politikus Partai Gerindra ini, Densus 88 sendiri sudah punya kesan negatif di sebagian masyarakat. Karena itu, menurutnya, tidak bisa hanya menitikberatkan operasi dilakukan pada Densus semata.

"Densus sudah jelek di mata masyarakat. Kalau hanya andalkan mereka saja kesannya egoisme sektoral. Harus libatkan semua agar tidak terkesan Santoso ini dipelihara," ujar Desmond.

Sementara itu, Ketua DPR RI Ade Komarudin (Akom) menilai wajar Santoso dimasukan ke daftar itu. Menurutnya aksi terorisme adalah ancaman untuk dunia internasional.

"Amerika mungkin sudah memandang itu tingkat berbahaya, makanya dimasukkan ke daftar orang yang mengancam keamanan nasional," kata Akom.(Rima)

StatusAceh.Net - Israel memperketat penjagaan di kompleks Masjid al-Aqsa dan melarang warga Palestina masuk bertepatan dengan hari raya Yahudi, Purim.

Sheikh Azzam al-Khatib, direktur jenderal Organisasi Wakaf Muslim dan Urusan Al-Aqsa, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mulai Selasa (22/03/2016) polisi Israel melarang Muslim di bawah 50 tahun beribadah di Al-Aqsa.

Pemerintah Israel juga menerjunkan pasukan tambahan untuk memperketat penjagaan dan memasang pagar di dekat gerbang menuju masjid.

Pada Senin malam, polisi Israel menangkap 17 pemuda Muslim dan melarang mereka masuk ke masjid Al-Aqsa sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Sehari setelahnya, tentara Israel mengumumkan rencana untuk membatasi akses masuk ke Al-Aqsa secara umum terhadap warga Tepi Barat menjelang hara raya Purim, yang tahun ini jatuh pada Rabu hingga Kamis.

Menurut pernyataan militer Israel, pos pemeriksaan yang menghubungkan antara Tepi Barat dan Israel akan ditutup total. Penutupan itu sudah dilakukan sejak Rabu tengah malam dan akan berlangsung hingga Sabtu malam, World Bulletin.[Rima]

Bendera bulan bintang
Lhokseumawe - Pemerintah pusat dinilai melihat persoalan bendera bulan sabit bintang dari sisi politik. Sehingga persoalan itu menggantung dan hingga kini belum ada solusi.

"Secara regulasi, jika pusat melihat bendera itu dari pandangan hukum maka presiden bisa membatalkan Qanun Bendera dan Lambang Aceh yang sudah disahkan DPRA itu," sebut Direktur Jaringan Survei Inisiatif (JSI) Aceh, Aryos Nivada kepada Kompas.com, Kamis (24/3/2016).

Persoalan bendera kembali mencuat setelah Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Aceh Utara Tgk Zulkarnaini Hamzah dilaporkan mengibarkan bendera bulan sabit bintang di Arab Saudi.

Sementara bagi rakyat kecil di Aceh, sebut dia, bendera bukanlah hal terpenting. Rakyat, kata Aryos, lebih ingin hidup sejahtera dalam damai Aceh.

"Rakyat tidak memikirkan persoalan simbolik bendera itu," ujarnya.

Sejauh ini, sambung Aryos, pemerintah pusat mengajak Aceh untuk jeda membahas bendera.

"Pusat harusnya melihat bendera itu dalam konteks damai Aceh. Kesejahteraan rakyat lebih penting. Maka persoalan bendera harus segera diputuskan jangan dibiarkan menggantung," katanya.

Sejauh ini, Pemerintah Indonesia belum mengakui bendera itu. Pasalnya dinilai mirip bendera separatis.(Sumber: Kompas.com)

Polda Aceh saat menunjukkan barang bukti kulit harimau yang berhasil ditangkap dari pelaku di Cot Gapu, Kabupaten Bireuen, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah | mongabay
Banda Aceh - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Suhefti Hasibuan, Senin, 21 Maret 2016 menyebutkan, akibat tingginya angka perburuan, status harimau sumatera terancam punah yaitu Kritis (Critically Endangered/CR).

“Kemungkinan jumlahnya diperkirakan 150 individu yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Jika tidak segera diantisipasi, nasibnya dikhawatirkan akan punah sebagaimana harimau jawa dan harimau bali.”

 Genman mengatakan, BKSDA Aceh memberikan dukungan penuh kepada semua pihak yang membantu pelestarian harimau sumatera. Termasuk, mendukung Polisi Daerah (Polda) Aceh yang menangkap dan melakukan tindakan hukum terhadap para pemburu. “Mereka (pemburu) bekeliaran di Kabupaten Bener Meriah, Bireuen, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Jaya, dan Aceh Selatan. Bahkan, hampir semua di kabupaten kami temukan jerat harimau.”

Terkait perburuan harimau, Kasubbid Tipiter Reskrimsus Polda Aceh AKBP Mirwazi menyebutkan, pada 17 Maret 2016, pihaknya telah menangkap pelaku perdagangan kulit harimau sumatera di kawasan Cot Gapu, Kabupaten Bireuen. Penangkapan dilakukan setelah polisi menyamar sebagai pembeli dan mengajak pelaku bertemu.

“Saat ditangkap, dari pelaku berinisial AS warga Kabupaten Aceh Besar, ditemukan dua kulit harimau termasuk tulang-tulangnya. Sementara satu pelaku lagi melarikan diri.”

Pelaku yang kabur, Markur, warga Aceh Tengah, pernah ditangkap Polda Aceh karena kasus perdagangan kulit harimau pada 2014. Namun, 22 Maret 2016 ini, Maskur menyerahkan diri ke Polda Aceh.

“Harimau yang dibunuh untuk diambil kulitnya tersebut, berumur sekitar lima sampai delapan tahun. Pelaku akan dijerat  Pasal 21 ayat 2 (a dan b) Undang-undang No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya junto Pasal 55 dan 56 KUHP dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. “Bila dirinci, pada 2014, Polda Aceh telah menangani 15 kasus perdagangan satwa liar, termasuk kulit harimau. Sedangkan 2015, ada 10 kasus,” papar Mirwazi.

Kasus sebelumnya

Pada 15 September 2015, polisi di Kabupaten Aceh Tenggara, berhasil menangkap dua pelaku perdagangan harimau, Samin dan Salman, warga Gayo Lues. Dari tersangka, disita kulit, tulang, dan taring harimau yang rencananya akan dijual ke Medan, Sumatera Utara, seharga Rp150 juta. Namun, dalam perjalanan, keduanya tertangkap di Aceh Tenggara.

Sementara, pada 8 Agustus 2015, tim Reserse dan Kriminal Khusus Polda Aceh, berhasil menangkap empat pemburu harimau di Desa Jambe Rambung, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Dari tangan tersangka disita kulit, tulang, dan taring harimau.

Dari empat tersangka tersebut, Amir bin Mat Amin, Baharuddin, M. Sa’i alias Ajo, dan Sahruna, tiga diantaranya merupakan pemburu, sementara satu lagi bertindak sebagai penjual. Para pelaku mengaku memburu harimau di hutan Desa Listen, Kecamatan Pindeng, Gayo Lues.

Terhadap kasus tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang, Aceh Tamiang, yang dipimpin oleh Zulfikar beserta hakim anggota Hasnul Tambunan dan Suhadi Putra Wijaya, memvonis bersalah Amir bin Mat Amin, Baharuddin, M. Sa’i, dan Sahruna. Mereka divonis dua tahun penjara dan dengan Rp50 juta.

“Keempatnya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja melukai, membunuh, satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, menyimpan, memiliki, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati bersama,” sebut majelis hakim dalam putusannya.

Irma Hermawati, Legal Advisor Wildlife Crime Unit (WCU) menuturkan, Kementerian Linkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus memberikan perhatian khusus terhadap kejahatan perdagangan satwa liar. “Kami melihat, Indonesia darurat satwa. Hampir setiap minggu, kami bersama kepolisian membongkar dan menangkap pemburu dan pedagang satwa haram itu.”

Menurut Irma, perdagangan satwa awetan, bukan hanya dilakukan di dalam negeri, tapi juga sudah marak dikirim ke luar. Termasuk, melalui bandara. “Ini membuktikan, Indonesia harus menerapkan darurat satwa.”

Khusus Aceh, perburuan satwa masih marak terjadi sebagaimana harimau, orangutan, dan gajah. Beberapa pemburuan dan pedagang, melibatkan pemain lama yang pernah ditangkap. Kasus perdagangan kulit harimau yang dibongkar pihaknya bersama Polda Aceh pada 17 Maret 2016 ini, salah satu pemainnya adalah Markur.

“Satu tahun menjalani hukuman, setelah bebas, Markur kambuh dan kembali terlibat perdagangan kulit harimau. Ini membuktikan hukuman yang dijatuhkan terhadap kasus kejahatan lingkungan masih terlalu ringan, belum ada efek jera bagi pelaku.”

Irma menambahkan, hasil penelusuran pihaknya, awetan harimau dari Aceh, umumnya di jual ke seluruh Indonesia, Singapura, Malaysia, hingga Tiongkok. “Selain untuk hiasan, bagian anggota tubuh harimau juga dianggap berkhasiat sebagai obat-obatan,” tukasnya.

Jumlah harimau sumatera keseluruhan saat ini diperkirakan antara 300 – 400 individu dan cenderung menurun akibat perburuan dan alih fungsi lahan. Jumlah tersebut berdasarkan perkiraan pada pengamatan dan penggunaan kamera jebak yang terungkap saat seminar “Indonesian Tiger Conference 2014” di Bogor, 11-13 Desember 2014.(*)

Sumber: mongabay.co.id

Kepala BNN Komjen Pol. Budi Waseso (Buwas) (foto: Waspada)
Langsa - Peredaran narkoba di Aceh bukan hanya tingkat daerah, melainkan sudah masuk kategori lintas negara. Artinya, narkotika yang dipasok juga diedarkan di beberapa negara yang berdekatan dengan Aceh.

Demikian disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa, AKBP Navri Yulenny, saat penandatanganan kesepakatan komitmen bersama pemberantasan narkoba di aula Polres Langsa, dikutip dari Waspada Online, Kamis (24/3/2016).

Turut hadiri, Kapolres Langsa AKBP Sunarya, Wakil Wali Kota Langsa H Marzuki Hamid, Danyon Raider 111/KB Mayor M Ikbal Lubis, Waka Polres Langsa Kompol Hadi Saepul Rahman, Wakil Ketua DPRK Langsa Faisal, Ketua Pengadilan Negeri Langsa Ismail Hidayat, dan lainnya.

“Untuk memberantas narkotika di Aceh, khususnya Kota Langsa, diperlukan kerja sama semua pihak. Bukan hanya tanggung jawab Polri dan BNN saja, akan tetapi juga tanggung jawab kita semua termasuk kepala daerah,” sebut Navri.

Dijelaskannya, bahwa pemberantasan narkoba tidak bisa jika hanya dilakukan Polri dan BNN, karena itu juga tanggungjawab semua stakeholder yang ada, termasuk masyarakat dan seluruh elemen sipil lainnya yang berada di Aceh.

Memerangi peredaran narkotika tersebut, BNN bersama Polres Langsa, Muspida Plus, Lembaga, dan Ormas di Kota Langsa melakukan penandatanganan kesepakatan komitmen bersama operasi bersinar Rencong 2016.

Kapolres Langsa, AKBP Sunarya, mengatakan penandatanganan kesepakatan komitmen bersama dilaksanakan mengawali Operasi Bersinar Rencong 2016 yang terpusat di seluruh Indonesia dari Mabes Polri.

Wakil Wali Kota Langsa, Marzuki Hamid, menyebutkan Pemko Langsa akan mengupayakan kepada seluruh PNS melakukan tes urine. Ini sebagai bentuk komitmen dan dukungan pemerintah terhadap pemberantasan narkoba yang dilakukan aparat kepolisian dan BNN setempat.

“Atas nama Pemko, saya akan mendukung sepenuhnya pemberantasan narkoba di Kota Langsa, agar masyarakat kita terbebas dari barang haram tersebut,” ujarnya.(sumber: waspada.co.id)

Banda Aceh - Proses pembahasan revisi Qanun nomor 5 tahun 2012 yang mengatur tentang Pilkada perlu secepatnya dibahas oleh DPR Aceh bagi mengelakkan permasalahan hukum di kemudian hari terkait pelaksanaan pilkada pada 2017 mendatang.

Hal tersebut disampaikan oleh Staf Ahli Gubernur Aceh bidang Hukum dan Pemerintahan, M Jafar SH dalam diskusi Focus Group Discussion yang berjudul  “Refleksi Pilkada 2015 menuju Pilkada Aceh 2017” di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, Rabu 23 Maret 2016.

“Saat ini antara UUPA, Qanun no. 5 Tahun 2012, UU no. 8 Tahun 2015 dan Putusan MK tentang pilkada masih banyak perbedaan dan pendapat. Hal ini harus segera dibahas oleh para legislatif, karena jika tidak pilkada akan kacau karena tidak adanya kepastian hukum dalam pelaksanaan pilkada nanti,” kata M. Jafar. 

Antara hal yang menurutnya perlu dibahas segera adalah terkait dukungan calon perseorangan di Aceh harus mengajukan 3 persen dari jumlah penduduk menurut Qanun, sedangkan menurut UU No. 8, Tahun 2015 menyebutkan antara 6.5% hingga 10% dari total jumlah penduduk. 
  
“Hal ini harus segera dibahas dan ditetapkan oleh DPR Aceh agar tidak terjadi permasalahan hukum nantinya,” katanya.

Selanjutnya, M. Jafar berharap qanun pilkada untuk turut memasukkan poin terkait tes bebas narkoba kepada para calon. “Hal ini penting bagi memastikan orang-orang yang berada di puncak pemerintahan tidak terlibat dalam penggunaan benda terlarang tersebut,” katanya. 

“Hal lainnya yang perlu dibahas termasuk syarat pengunduran diri dari partai bagi calon perorangan yang dalam qanun pilkada diatur tetapi tidak pada UU No. 8, 2015 tentang pilkada,” katanya.

Kemudian, terkait dengan rekomendasi dari DPP partai bagi calon jalur harus mendapat persetujuan DPP, sedangkan dalam qanun pilkada tidak diatur. “Ini semua permasalahan hukum yang harus segera dibahas supaya proses pilkada nantinya berjalan lancar dan mempunyai kekuatan hukum yang jelas,” ujarnya.

“Ada banyak hal lain lagi seperti penetapan calon bagi mantan narapidana, persentase kemenangan suara dan lain-lain yang masih berbeda antara Qanun nomor 5 tahun 2012 terkait pilkada, UU No. 8 Tahun 2015 tentang pilkada dan putusan MK terkait UU pilkada,” kata M. Jafar.

Terkait dengan anggaran untuk penyelenggaraan pilkada, M. Jafar mengatakan para kabupaten/kota dan Pemerintah Aceh perlu mempunyai ketepatan anggaran untuk mendukung kelancaran proses pilkada mendatang.

FGD yang diselenggarakan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang mewakili para aparatur pemerintahan, partai politil, Lembaga Swadaya Masyarakat serta beberapa tokoh politik membahas berbagai topik dan isu permasalahan menjelang pilkada di Aceh.(Rill)

Zaini Abdullah (Foto: Ist)
Banda Aceh - Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah, mengatakan Pemerintah Aceh sangat berkomitmen untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat Aceh melalui berbagai program seperti Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh, pembangunan Rumah Sakit Regional, serta pembenahan sarana dan prasaranana kesehatan.

"Kita akan bangun lima Rumah Sakit Regional, untuk tahap pertama akan kita bangun tiga rumah sakit regional, di Sigli, Takengon, dan Langsa," kata Zaini Abdullah pada acara penutupan Pertemuan Pra-Rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) di kantor Dinas Kesehatan Aceh, Rabu (23/3)

Menurut Zaini, pembangunan Rumah Sakit Regional di Aceh sangat penting untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan kesehatan. Selain itu, juga untuk mengurangi masyarakat yang menghabiskan uang untuk berobat keluar negeri karena rumah sakit tersebut akan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan dokter spesialis yang kompeten di bidangnya.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Zaini Abdullah juga meminta kepada seluruh stakehorder kesehatan agar bekerja keras untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Kepada para peserta rapat pra-rakerkesnas diharapkan dapat menerapkan apa yang dipelajari dalam pertemuan tersebut ketika kembali ke daerah masing masing.

"Segera tentukan langkah-langkah selanjutnya untuk menindak lanjuti kesepakatan yang telah diraih bersama dalam kegiatan Pra Rakerkesnas ini," tegas Zaini Abdullah.

Sebelum acara penutupan rapat Pra Rekerkesnas,  Gubernur Zaini Abdullah sempat melakukan teleconference dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. DR dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K). Dalam teleconference singkat itu, Menteri kesehatan membahasa upaya penanggulan dan pencegahan penyakit Diabestes Melitus di Indonesia.

"Kita juga harus melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi penyakit diabetes ini di Indonesia, selain mengobati, kita harus mencari cara pencegahan sejak dini," kata Menteri Nila.

Selain itu, Menteri Nila juga mengusulkan kepada Gubernur Aceh untuk mempergubkan peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Aceh agar masyarakat lebih waspada dan mengurangi konsumsi rokok yang dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Zaini Abdullah mengatakan sangat mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diabetes.

“Kita akan melakukan sosialisasi bersama Dinas Kesehatan mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten karna banyak hal yang belum diketahui masyarakat terkait penyakit ini,” kata Gubernur Zaini.(Rill)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.