2019-12-01

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Lhokseumawe - Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, S.Ik melalui Kasubag Humas Salman Alfarasi, SH, MM menghimbau agar masyarakat mewaspadai aksi Debt collector nakal yang melakukan penarikan kenderaan dengan menyalahi peraturan dan ketentuan yang ada.

Tips dan triknya adalah, sebaiknya jika ada debt collector yang melakukan penarikan kendaraan langsung tanyakan identitasnya, dari mana dia bukan polisi dan bukan aparatkan.

Selanjutnya, tanyakan apakah punya kartu sertifikasi profesi yang dikeluarkan oleh APPI, APPi ini yang berhak mengeluarkan izin menagih.

Kemudian petugas Debt coleector tidak boleh perbuatan semana-mena, dalam ini harus ada surat kuasa panarikan dari finance bersangkutan.

Terakhir, harus ada sertifikat fidusianya dalam bentuk salinan.

Jadi jika empat hal ini tidak ada, silahkan ditolak dect collectornya drngam baik, sopan dan hindari permusuhan, jika ngotot laporkan secepatnya ke kantor Polsek terdekat.(Rill)

Lhokseumawe — Pertemuan evaluasi dana desa di Kota Lhokseumawe berlangsung spontan, kocak namun terarah.

Dihadapan 200 lebih peserta yang dihadiri Walikota dan Sekda Lhokseumawe, salah seorang Geuchik dengan spontan mengajak pendamping untuk menemaninya sehingga mengundang tawa peserta lainnya.

Begitu juga ketika terhenti membaca teks dilayar, dengan spontan mengaku tidak nampak tulisan dengan mengatakan matanya kabur meski belum terlalu tua. Spontanitas ini menjadi kocak yang mengundang tawa.

Sekretaris Daerah Aceh dr Taqwallah, M. Kes saat menyampaikan pembekalan usai presentasi Kepala DPMG Aceh berharap kepada Geuchiek dan Tuha Peut se-kota Lhokseumawe agar Anggaran Pendapatan Dan Belanja Gampong Tahun 2020 dapat ditetapkan selambat-lambatnya tanggal 20 bulan Desember tahun 2019.

Suasana kocak penuh humor juga kerap berlangsung saat Sekda Aceh menyampaikan presentasi. Peserta spontan tertawa ketika Taqwallah menyebut innalillah pada dana desa yang sudah tidak bisa cair.

Peserta juga tertawa ketika Sekda Aceh menyentil kegiatan BUMDes yang dikelola sekedar menjaga modal dasar. “Nyo kegiatan selemah-lemah iman,” katanya. Sekda berharap, BUMDes dapat mengelola kegiatan yang ujungnya dapat mengurangi angka pengangguran dan angka kemiskinan di gampong masing-masing.

suasana kocak penuh tawa juga terjadi ketika Sekda Aceh memperlihatkan gambar orang memetik kates dengan susah payah padahal buahnya dapat diambil dengan mudah. “Hidup ini mudah, jangan dipersulit,” sentil Sekda Aceh.

Kegiatan Evaluasi Pengelolaan Dana Desa dan Gerakan ‘Bereh’ dipusatkan di Aula Setdako Kota Lhokseumawe, Jum’at 6 Desember 2019.

Selain Geuchiek dan Tuha Peut ikut juga hadir unsur pendamping, camat dan pihak DPMG Kota Lhoseumawe. Walikota Lhokseumawe Suaidi Yahya dan Sekda Kota Lhokseumawe Teuku Adnan juga ikut hadir menemani Sekda Aceh yang hadir bersama Kepala DPMG Aceh.

Dipandu Kadis. DPMG Kota Lhokseumawe Bukhari, S. Sos. M.Si dua gampong terpilh untuk menyampaikan laporan terkait dana desa yaitu Gampong Blang Teue Kecamatan Muara Dua dan Gampong Alue Awe Kecamatan Blang Mangat. Kedua Geuchiek Gampong tersebut mempresentasikan Form Pantau secara spontanitas, kocak namun terarah.

Selain Gampong Blang Teue dan Gampong Alue Awe Kadis DPMG Kota Lhokseumawe juga menunjuk langsung Keuchiek Gampong Lancang Garam untuk menyampaikan perkembangan dana gampong milik gampongnya.

Kadis DPMG Aceh Azhari meminta komitmen Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa untuk mendampingi Pemerintahan Gampong se-kota Lhokseumawe agar dapat menetapkan APBG tepat waktu, sehingga pada bulan Januari tahun 2020 Gampong dapat mencairkan Dana Desa Tahap I.

Secara terpisah Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kota Lhokseumawe Faurizal Moechtar, ST. MM kepada media ini menyampaikan bahwa idealnya Perencanaan Gampong itu diawali dengan penetapan RPJMGampong selambat-lambatya tiga bulan setelah Geuchiek dilantik.

“Kemudian penetapan RKPG dengan rentang waktu antara bulan Juni sampai dengan bulan September, diikuti penetapan Qanun Gampong tentang APBGampong selambat-lambatnya akhir bulan Desember tahun berjalan” katanya.

Lebih Lanjut Faurizal mengatakan, Kunjungan Pak Sekda Aceh dan Kadis DPMG Aceh beserta Koordinator KPW Aceh ini sangat berarti dalam mendampingi dan mendorong Pemerintah Gampong untuk melakukan pencairan Dana Desa Tahap III tahun ini dan penetapan APBGampong tahun 2020.

Usai melakukan pertemuan evaluasi dana desa, Sekda Aceh melakukan peninjauan kantor camat Muara Dua dan Pukesmas Muara Dua dan SMA Negeri 5 Lhokseumawe guna mengetahui kemajuan penerapan Gerakan Bereh. | RUBRIKA.id

Lhoksukon - Camat Nisam Ibnu Khatab mengapresiasi Sekretaris Daerah Provinsi Aceh dr Taqwallah bersama Sekda Aceh Utara Abdul Aziz yang telah berkunjung ke Kecamatan Nisam, Sabtu (07/12/2019) sekitar pukul 08 WIB pagi tadi.

"Kami ucapkan terima kasih kepada bapak Sekda Aceh yang telah berkunjung ke daerah kami walau dalam kondisi hari libur dan hujan,"tuturnya.

Menurutnya, Kunjungan tersebut dalam rangka peninjauan implementasi program gerakan Bersih Rapi Estetik dan Hijau (BEREH) yang dimulai dari Puskesmas dengan melihat langsung pelayanan dan alat medis di ruang pasien, kemudian di kantor Camat Sekda Aceh melihat ruang administrasi dan pelayanan publik, dan kemudian menuju SMA Nisam dengan meninjau ruang belajar siswa dan juga ruang guru.

"Sebenarnya tidak ada persiapan atas kunjungan bapak Sekda, karena datangnya mendadak dan Alhamdulillah Muspika Nisam siap dalam segala situasi, apalagi ada kunjungan seperti hari ini,"pungkas Camat Nisam.

Tambahnya, kecamatan Nisam sudah lama menjalankan Program Bereh di lingkungan kerja masing-masing. Bahkan sekarang pihaknya lagi mengampanyekan "Nisam Bereh" dan juga memberi semangat kepada kasi kecamatan agar dapat mengoptimalkan fungsi dan kerja pelayanan publik yang baik kepada masyarakat.

"InsyaAllah, pelayanan publik di kecamatan Nisam tidak ada keluhan, dan kedepan kami akan mengusahakan untuk membuat inovasi-inovasi pelayanan, supaya masyarakat nyaman dan Nisam menjadi terbaik,"terang Ibnu Khatap.[tm]

Ilustrasi pencabulan.
Malang - Oknum guru yang cabuli siswa SMP di Malang, Jawa Timur (Jatim) akhirnya ditangkap petugas Satreskrim Polres Malang, Jumat (6/12/2019) petang. Dia ditangkap di sebuah SPBU di daerah Talok, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Penangkapan KH ini berhasil usai petugas melakukan pengejaran selama dua hari. Pelaku langsung digiring ke ke ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) guna dilakukan pemeriksaan.

Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Andaru Rahutomo mengatakan untuk mengejar tersangka, polisi menurunkan sebanyak tiga tim. “Pelaku ditangkap sekitar pukul 16.30 WIB dan pemeriksaan akan dilakukan malam ini,” katanya.

Tiksnarto mengatakan dalam pemeriksaan ini polisi akan mencari tahu terkait motif pelaku serta jumlah pasti korban pelecehan seksual.

Sebelumnya, pelaku diketahui kabur setelah petugas memanggilnya untuk dimintai keterangan terkait laporan aksi pelecehan seksual terhadap sejumlah siswa.

Diketahui, seorang guru bimbingan konseling salah satu SMP di Kabupaten Malang diduga melecehkan sejumlah siswa. Dia meminta para siswa telanjang, mengukur alat vital dan meminta mereka mengeluarkan sperma.

Hasil pengakuan para korban, tindakan asusila ini dilakukan oleh oknum guru dengan dalih untuk penelitian akademik S-3. Kasus ini terjadi sejak satu tahun silam, namun baru terbongkar setelah ada korban yang melapor ke pihak sekolah. (inws)

Foto: Dua mortir jenis A60 yang diperkirakan sisa perang kemerdekaan ditemukan di aliran Gayo Lues, Aceh.Dok: Polres Gayo Lues
Galus - Dua mortir jenis A60 yang diperkirakan sisa perang kemerdekaan ditemukan di aliran Gayo Lues (Galus), Aceh. Bom tersebut kini diamankan tim jihandak Brimob Polda Aceh.

"Bom mortir yang ditemukan masing-masing seberat lebih kurang 1 kilogram dan panjang 30 sentimeter," kata Kapolres Gayo Lues, AKBP Rudi Setiawan, Jumat (6/12/2019).

Menurut Kapolres, mortir tersebut ditemukan di aliran sungai Marpunge, Kecamatan Putri Betung, Gayo Lues pada Kamis (5/12) kemarin sekitar pukul 12.00 WIB. Bom ditemukan oleh masyarakat yang sedang mengambil material batu di lokasi.

Bom itu diamankan tim jihandak Brimob Polda Aceh.Bom itu diamankan tim jihandak Brimob Polda Aceh. Foto: Dok: Polres Gayo Lues

Setelah ditemukan, kedua bom mortir ini sempat disimpan di kandang ayam milik warga selama tiga hari. Masyarakat kemudian melaporkan penemuan mortir ke Polsek Putri Betung.

Polisi meluncur ke lokasi dan mengamankan kedua mortir tersebut. Saat ini, bom tersebut sudah dibawa tim Jihandak Brimob Polda Aceh. | Detik.com

Kapolres didampingi Kasat Narkoba dan Kanit Narkoba Iptu Sinurat menjajar barang bukti ganja 18 kg dengan tiga pelaku pengedar jaringan Aceh (angga)
DEPOK – Tiga pelaku pengedar ganja jaringan Aceh berhasil diciduk aparat Satresnarkoba Polres Metro Depok di daerah Limo, Kota Depok, Jumat (6/12).

Barang bukti yang berhasil disita sebanyak 18 Kg ganja senilai puluhan juta rupiah.

Kapolrestro Depok AKBP Azis Andriansyah mengatakan ketiga pelaku itu yaitu IM, MI alias Ambon, dan AS alias Ajay, berhasil ditangkap hasil penyamaran anggota saat transaksi di Jalan Pinang II, Limo, sekitar pukul 03.00 WIB.

Setelah melakukan penggeledahan didapatkan barang bukti tersimpan dalam tas gunung merek Consina warna biru  sebanyak 17 bungkus ganja yang dilakban coklat dan sejumlah bungkusan kecil dengan total berat bruto sekitar 18 Kg.

“Dari pengakuan AS sebagai bandar. mendapatkan ganja dari seseorang yang dikenal digerakan dari dalam Lapas Gn.Sindur Kab.Bogor. Selain itu AS juga menyuplai ganja ke dua pelaku lain yang  bertugas sebagai kurir dengan sekali antar mendapat upah Rp.150 ribu,”ujar AKBP Azis Andriansyah didampingi Kasat Narkoba Polres Metro Depok Kompol Indra Tarigan dalam jumpa pers depan gedung Promoter Polres Depok.

Sementara itu belasan kilogram ganja baru datang dari Aceh ini, rencana AS sudah dipersiapkan untuk diedarkan di Kota Depok tepat pada malam perayaan Tahun Baru dan Natal.

“Sebelum diedarkan, pelaku AS ini sudah keburu ketangkap anggota. Rencana ganja akan diedarkan sekitar Depok buat kebutuhan malam Natal dan Tahun Baru 2020 nanti,” tambahnya.

Untuk target penjualan ganja, lanjut AKBP Azis,  adalah para pegawai, kalangan mahasiswa bahkan pelajar serta orang yang mampu untuk membeli.

“Ada beberapa orang merayakan Natal atau Tahun Baru dengan pesta fora, salah satunya ganja ini digunakan untuk melepas kepenatan membuat efek lebih fresh namun begitu membahayakan karena dapat kecanduan panjang,” ujarnya. “Ketiga pelaku kita kenakan Pasal 114 dan 112 UU narkotika dengan ancaman pidana penjara enam tahun atau hukuman mati.” |poskotanews.com

MRI Aceh Jaya - ACT Aceh menyerahkan santunan biaya hidup guru kepada Fitriani (35), pengajar sudah mengabdi 15 tahun di PAUD SPS Sayang Ibu, Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, Kamis (5/12/2019). Antara Aceh/ HO
Langsa - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyantuni beberapa orang guru mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) maupun dayah atau pesantren, terutama yang ikhlas mendidik anak-anak agar menjadi generasi berkarakter walau mereka hidup seadanya di Aceh.

"Para guru-guru ini, merupakan ujung tombak kemajuan bangsa dan agama. Salah satu di antaranya Fitriani (35), sosok guru sudah 15 tahun mengabdi di PAUD SPS Sayang Ibu," kata Staf Program ACT Aceh, Laila Khalidah melalui telepon seluler dari Langsa, Aceh, Jumat.

Ia menceritakan, Fitriani mendapat insentif tidak menentu setiap bulannya. Paling tinggi ia dapatkan cuma Rp500 ribu, dan bahkan besaran pendapatan itu terkadang terhitung cuma dalam enam bulan sekali pada PAUD tempat mengajar berada di Gampong (Desa) Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.

Padahal ia terpaksa menjadi tulang punggung dikeluarganya, setelah ditinggal oleh suami tercinta. Dengan keadaan ekonomi seperti itu, guru PAUD ini harus mengurus keempat orang anaknya, dan ibunya sering mengalami sakit-sakitan akibat penyakit stroke yang diderita.

Pada Kamis (5/12), ACT Aceh melalui Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Jaya telah menyantuni Fitriani dibagian program Sahabat Guru Indonesia (SGI).

"Dengan adanya program ini, saya berharap bisa menambah modal usaha mengelola kios yang selama ini juga menjadi mata pencarian hidup, selain di PAUD," ungkap Fitriani.

Laila menyebut, ACT Aceh juga menyalurkan santunan kepada enam guru di Dayah Tgk Chik Disampang, Gampong Meunasah Tutong, Kecamatan Montasik, Aceh Besar.

Ia mengatakan, di pondok pesantren Tgk Chik Disampang memiliki ratusan santri dengan semangat mengajar belasan guru mengaji, terdapat banyak kisah yang mengharukan.

"Pengajar di sini selain mengajarkan ngaji ke santri, mereka juga bekerja dengan berbagai profesi. Dengan harapan melalui kepedulian bersama, semoga bisa menambah semangat mereka memberi ilmu agama," tutur dia.

Penyaluran santunan kepada guru tersebut, sebagai bentuk apresiasi ACT Aceh terhadap mereka karena telah mengabdikan dirinya demi menciptakan generasi berkarakter. "Guru-guru kita ialah sosok yang memiliki peran penting bagi murid-muridnya dalam menggapai mimpinya," terangnya.

Ke depan, ACT akan mengimplementasikan program SGI pada beberapa daerah di Aceh, seperti Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.

"Total guru yang disantuni nanti, mencapai 20 orang guru secara bertahap," ungkap Laila. (ANTARA)

Guru honorer di Pandeglang Banten, Dedi Mulyadi, hanya menerima upah Rp12.000 per hari. (Foto: iNews/Iskandar Nasution).
STATUSACEH - Seorang guru honorer di Kabupaten Pandeglang, Banten, hanya menerima upah Rp12.000 per hari. Bayaran tersebut tidak diterima bila yang bersangkutan izin atau sedang tidak ada aktivitas belajar mengajar.

Guru honorer di SDN Pasirlancar 2, Dedi Mulyadi mengatakan, dia sudah 12 tahun mengajar di sekolah tersebut. Baginya tidak masalah mendapat bayaran receh harian, asalkan bisa mendidik generasi penerus bangsa.

"Iya, hanya Rp12.000 per hari. Kalau saya izin atau sedang libur, tidak ada bayarannya," kata Dedi kepada iNews di SDN Pasirlancar 2, Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Jumat (6/12/2019).

Dia mengaku, ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS), namun dari sisi usia sudah dianggap melewati batas, karena usianya sudah 37 tahun. Meski hanya sebagai guru honorer dia mengaku akan selalu menikmatinya dan bersyukur.

Menurut dia, uang Rp12.000 per hari yang didapat dari mengajar siswa SD tidak mencukupi kebutuhan harian, karena itu dia mencari uang tambahan dengan menjadi ojek yang mengantar orang-orang kampung pergi ke pasar.

"Kadang saya diminta orang antar ke pasar beli sayur, nanti ada tambahan dari sana," ujarnya.

Dedi mengaku, sangat suka mengajar dan mencintai dunia pendidikan. Awal mulanya masuk ke sekolah tersebut ketika SDN Pasirlancar 2 kekurangan pengajar pada 2007 lalu. Almarhum ayahnya yang mengajak dia sebagai guru.

"Dulu hanya almarhum ayah saya yang mengajar di sana. Saya pun diajak, dan mengajar sampai sekarang," ujar Dedi.

Kepala SDN Pasirlancar 2, Medikin mengatakan, ada lima orang guru honorer di sekolah tersebut. Mereka sudah mengabdi bertahun-tahun, rata-rata sudah di atas lima tahun. Meski begitu, jumlah guru di sana tetap dianggap kurang.

"Idealnya ada enam orang guru, di luar kepsek, guru olahraga dan guru IPA. Ini jumlahnya masih sangat minim," ujar dia.

Terkait upah para pengajar, dia mengagakan, pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak membantu mereka, karena dana yang ada hanya berasal dari dana BOS saja. Sedangkan, sekolah sama sekali tidak memungut biaya dari para siswa. | INews

Listyo Sigit Prabowo saat menjabat Kapolda Banten. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Kapolri Jenderal Pol Idham Azis akhirnya menunjuk Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Kabareskrim Polri. Jabatan ini sebelumnya kosong selama hampir sebulan lebih.

Penunjukan ini tertuang dalam telegram Nomor ST/32/XII/KEP./2019 yang diterbitkan pada Jumat (6/12/2019). "Mutasi ini adalah hal yang alami dalam organisasi Polri sebagai tour of duty dan tour of area, penyegaran, promosi dan dalam rangka performa kinerja organisasi menuju SDM unggul dan promoter," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Argo Yuwono.

Dalam telegram tersebut, Sigit diangkat menjadi Kabareskrim. Dia sebelumnya menduduki posisi Kadiv Propam.

Brigjen Pol Ignatius Sigit Widiatmono akan menggantikan Irjen Sigit sebagai Kadiv Propam. Selain itu, telegram ini juga memuat mutasi Komjen Firli dari posisi Kabarhakam menjadi Analis Kebijakan Utama Barhakam Polri.

Seperti diketahui, Firli akan segera dilantik menjadi Ketua KPK. Sementara posisi Firli akan diisi oleh Irjen Pol Agus Andrianto yang saat ini menjabat Kapolda Sumatera Utara.

Listyo Sigit merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991. Pada 2014 dia didapuk sebagai Ajudan Presiden Jokowi. Sekitar dua tahun kemudian dia menjabat Kapolda Banten dengan pangkat brigadir jenderal.

Pada Agustus 2018, dia menyandang pangkat inspektur jenderal yang disematkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri. Kemudian, Listyo dipromosikan menjadi Kadiv Propam Polri berdasarkan Surat Keputusan Kapolri (Skep) Nomor 81/ 2014 A/III/KEP./2018 tertanggal 13 Agustus 2018.

Perwira tinggi kelahiran 5 Mei 1969 tersebut pernah menjadi Kapolres Pati, Jawa Tengah. Setelah itu dia menduduki posisi Wakil Kapolrestabes Kota Semarang lalu Kapolres Solo. Adapun pada 2012, pada saat Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta, Listyo Sigit Prabowo dirotasi ke Jakarta dengan pos Asubdit II Direktorat Tipdum Bareskrim Polri.

Sebelum menjabat Ajudan Presiden Jokowi, pada Mei 2013, Listyo bertugas sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Sulawesi Tenggara. | Sindonews

Lhokseumawe - Terkait penangkapan NZ (34), Ketua KNPI Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara yang diduga terlibat terlibat kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. DPD KNPI Kabupaten Aceh Utara angkat bicara.


Penelusuran StatusAceh.Net, Kamis (5/12/2019) dari laman Facebook DPD KNPI Aceh Utara menyebutkan atas ditetapkannya Ketua terpilih DPK KNPI Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara sebagai tersangka oleh penyidik Polres Lhokseumawe, Kamis, 05 Desember 2019 sesuai dengan laporan nomor: LP/373/X/2019/Aceh/Res Lsmw, Tanggal 29 Oktober 2019, Perihal Dugaan Jarimah “Pelecehan Seksual Terhadap Anak”, serta hasil konferensi pers oleh pihak penegak hukum dimaksud hari ini, Kamis, 05 Desember 2019.


Pihak
DPD KNPI Kabupaten Aceh Utara melalui Bidang Infokom menyikapi hal tersebut diatas, maka dengan ini Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Aceh Utara, merasa berkepentingan untuk menjelaskan kepada publik beberapa hal sebagai berikut:

1. Bahwa memang benar Sdr. NZ selaku pihak yang disangkakan oleh Penyidik Polres Lhokseumawe, merupakan Ketua Terpilih DPK (Dewan Pengurus Kecamatan) KNPI Kecamatan Banda Baro Kabupaten Aceh Utara, namun yang bersangkutan baru saja terpilih berdasarkan hasil Musyawarah Kecamatan (MUSCAM) di wilayah tersebut, dan hingga saat ini ianya belum di-SK-kan dan dilantik secara resmi oleh DPD KNPI Aceh Utara ;

2. Pada prinsipnya, DPD KNPI Aceh Utara sangat menghormati proses hukum dan menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada pihak berwajib, untuk ditindaklanjuti sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Siapapun yang bersalah memang harus dihukum. Empati dan belasungkawa juga kami sampaikan kepada para (terduga) korban dan keluarganya, agar tetap kuat dan memperoleh keadilan di hadapan hukum kelak ;

3. DPD KNPI Aceh Utara juga mendukung penuh upaya penegakan hukum, khususnya terkait dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak. Semua pihak tentu bersepakat bahwa Kabupaten Aceh Utara harus menjadi kawasan yang ramah anak. Anak-anak kita harus benar-benar merasa aman dan nyaman saat berada di lingkungannya ;

4. Untuk diketahui juga, bahwa selama ini pihak DPD KNPI Aceh Utara bahkan sedang giat-giatnya menjalin kerjasama dengan para pihak di wilayah Kabupaten Aceh Utara, dalam kaitannya dengan upaya perlindungan anak, penghormatan atas hak-hak perempuan serta perbaikan akhlak remaja dan pemuda/i di kawasan ini, agar sesuai dengan tuntunan Syari’at Islam dan Budaya Aceh yang memang dikenal sangat kental dengan nuansa Islamnya ;

5. DPD KNPI Aceh Utara tidak akan mentolerir sekecil apapun bentuk kesalahan yang dilakukan, baik oleh anggota dan atau kadernya, sepanjang hal tersebut benar adanya tanpa motif lain. Pun demikian, DPD KNPI Aceh Utara berharap kepada semua pihak, untuk menghargai azaz pradaduga tak bersalah. Biarlah nanti pengadilan yang memutuskan siapa yang benar dan yang siapa bersalah dalam kasus ini. Kepada teman-teman PERS juga dimohon kerjasama-samanya, agar terus mengedepankan kode etik jurnalistik (cover both sides) dalam memberitakan kasus ini ;

6. Jika sangkaan yang dialamatkan kepada Ketua Terpilih DPK KNPI Kecamatan Banda Baro ini nantinya terbukti benar dan proses hukumnya sudah inkracht, maka DPD KNPI Aceh Utara akan mengevaluasi hasil MUSCAM Kecamatan Banda Baro atau status Sdr. NZ sebagai Ketua DPK KNPI Terpilih, untuk sesegera mungkin dicarikan penggantinya sesuai mekanisme AD/ART dan PO KNPI. Selanjutnya kita juga akan menjadikan kasus ini sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan dan evaluasi sistem rekrutmen dan pengkaderan di internak KNPI. DPD KNPI Aceh Utara kedepannya akan lebih memperketat lagi sistem seleksi di organisasi ini, agar para pengurus KNPI, baik di level Kabupaten hingga Kecamatan benar-benar diisi oleh pemuda/i yang memiliki integritas dan berbudi-pekerti luhur ;

7. DPD KNPI Aceh Utara, secara kelembagaan juga turut prihatin atas kasus yang disangkakan kepada Sdr. NZ, dan saat ini kita sedang mengkaji kemungkinan untuk memberikan bantuan advokasi hukum, atas kasus yang menimpa Ketua Terpilih DPK KNPI Kec. Banda Baro tersebut, jika memang diperlukan seraya terus berharap semoga fakta di Pengadilan nantinya berkata lain, meskipun dilain pihak kami sangat yakin atas Profesionalisme teman-teman Penyidik di Polres Lhokseumawe, ketika seseorang dijadikan sebagai tersangka.

Demikian rilis ini dikeluarkan untuk dimaklumi, sembari menanti proses hukum lebih lanjut.

Lhoksukon, 05 Desember 2019
*Bidang Infokom DPD KNPI Aceh Utara*

Ilustrasi
Lhokseumawe - Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lhokseumawe meringkus NZ (34), Ketua KNPI Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara. Ayah dari tiga anak itu ditangkap karena diduga terlibat kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. 

Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Indra Herlambang melalui Kanit PPA, Ipda Lilisma Suryani mengatakan, diduga tersangka sudah melakukan perbuatan pelecehan seksual itu pada empat orang korban. Keempat orang korban tersebut yakni, tiga orang anak di bawah umur C, F dan N, dan satu orang ibu dari salah satu tiga anak tersebut yakni FY. 

“Tersangka melakukan perbuatan itu terhadap korban terakhir, pada Minggu (27/10), di rumah neneknya korban,” kata Lilisma, saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (5/12). 

Dikatakan Lilisma, korban C mengaku pelecehan seksual yang dilakukan oleh tersangka terhadap dirinya sudah dua kali dalam tahun 2019. Kejadian pertama saat itu, korban sedang membuat minum di dapur, lalu datang tersangka, melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan tersebut. 

“Sedangkan kejadian kedua, pada hari Minggu, tersangka datang ke rumah, untuk menagih iuran sumur bor milik desa. Karena nenek korban tidak ada, tersangka berpura-pura ngobrol dengan korban,” ujarnya. 

Lanjut Lilis, tersangka menyebutkan kalau air sumur bor sudah hidup pada korban, lalu korban masuk ke kamar mengambil jelbab untuk mengambil air itu. Akan tetapi tersangka mengikutinya ke kamar. Dan kemudian memeluk serta menindih tubuh korban. 

“Sementara kejadian yang menimpa tiga korban lain di waktu yang berbeda, ada yang tahun 2018 dan 2019. Namun, mereka tidak berani melapor karena dianggap itu aib. Akan tetapi ketika menimpa anaknya, ibu dari korban ini geram dan langsung melaporkannya ke polisi,” ujarnya. 

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 47 qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat. Dengan ancaman hukuman cambuk 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni, atau penjara paling lama 90 bulan. | Ajnn.net

Ilustrasi ambulans. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Naganraya - Oknum perawat dan sopir ambulans Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, dipecat karena diduga melakukan pesta sabu. Keduanya telah ditangkap polisi setempat.

"Perawat dan sopir ambulans yang diduga mengonsumsi sabu ini sudah dipecat," kata Direktur RSUD Nagan Raya drg. Doni Asrin di Suka Makmue, Rabu (4/12), dilansir Antara.

Doni mengatakan status kedua oknum tersebut adalah tenaga harian lepas (THL) atau pegawai honorer di rumah sakit. Pemecatan itu, menurutnya untuk memberikan efek jera kepada pegawai lain agar tidak ada lagi yang mengonsumsi narkoba.

Ia juga mengapresiasi langkah petugas kepolisian yang melakukan penangkapan terhadap seorang perawat, sopir ambulans, dan seorang warga sipil yang diduga sedang pesta sabu di kompleks rumah sakit setempat.

Petugas Polsek Kuala, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh mengamankan tiga orang pria setelah terciduk sedang mengisap narkotika jenis sabu-sabu di Kompleks RSUD Sultan Iskandar Muda Nagan Raya, Senin (2/12).


Tiga pelaku itu ditangkap polisi ketika petugas kepolisian pada Senin siang berusaha meminjam armada ambulans untuk mengantarkan seorang pasien di RSUD Nagan Raya.

Polisi yang datang ke ruang sopir ambulans itu menemukan tiga orang pelaku diduga sedang asik mengisap sabu-sabu di kompleks rumah sakit. Ketiganya kemudian dibawa ke Polsek Kuala, Nagan Raya, guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ketiga pria yang diamankan tersebut masing-masing seorang perawat, sopir, serta seorang wargal. Dari tangan ketiganya, polisi mengamankan satu unit diduga alat pengisap sabu-sabu jenis bong.

Sedangkan barang bukti berupa narkotika jenis sabu tidak ditemukan karena diduga sudah habis dikonsumsi ketiganya.

Terkait warga yang juga ditangkap dalam kasus itu, Doni menduga yang bersangkutan menetap di sekitar kompleks rumah sakit.

Doni Asrin menduga para pelaku sengaja menjadikan rumah sakit sebagai sarana untuk mengonsumsi narkotika jenis sabu-sabu karena mereka menganggap tempat itu aman dari pantauan aparat penegak hukum.

"Kayaknya sudah keenakan mereka itu, dipikir aman. Biar sajalah diproses polisi," kata Doni. | cnnindonesia.com

Ilustrasi
Sabang - Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 5,5 terjadi di wilayah Sabang, Aceh. Gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 16.13 WIB, Kamis (5/12/2019).

Lokasi gempa ada di koordinat 6,74 Lintang Utara dan 94,42 Bujur Timur atau 137 km BaratLaut Kota Sabang, Aceh.

Pusat gempa berada di kedalaman 32 km. Belum diketahui ada-tidaknya dampak akibat gempa itu.(Dtk)

Seorang kerabat memeluk seorang warga Palestina anggota Hamas yang menghilang di Mesir dengan yang lain beberapa tahun lalu, setelah kedatangannya di Kota Gaza, Kamis (28/2). Foto :Reuters/Ibraheem Abu Mustafa/cfo
Gaza - Wartawan Palestina Amjad Yaghi baru berusia sembilan tahun ketika sang ibu meninggalkan Jalur Gaza ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis.

Namun setelah berpisah selama 20 tahun, akhirnya mereka bertemu kembali pekan ini.

Setekah kepergiannya dari Gaza pada 1999, ibu Yaghi, Nevine Zouheir, tidak bisa kembali ke Gaza lantaran sakit tulang belakang yang diderita, yang mengharuskannya menjalankan operasi.

Meski telah berupaya 14 kali untuk melihatnya, Yaghi tidak bisa keluar dari Gaza karena kelompok Hamas mengambil kendali wilayah tersebut pada 2007 dan Israel dan juga Mesir memberlakukan blokade yang mencakup pembatasan perjalanan.

Yaghi diundang untuk menghadiri konferensi di luar negeri tetapi dia menerima izin perjalanan hanya setelah acara tersebut selesai, membuatnya tak memiliki alasan yang tepat untuk menyeberangi perbatasan.

Hingga akhirnya kini di Yaghi diberikan visa untuk memasuki Mesir melalui Jordania dan dia pun menuju apartemen ibunya di Kota Nile Delta, Benha pada Senin.

Saat sang ibu melihatnya dari balkon, dia pun meneriakkan nama putranya itu. Zouheir bergegas turun untuk memeluk anaknya dan mereka saling berpegangan erat melepas rindu.

"Begitu sulit, mengetahui kamu bisa meninggal tanpa mewujudkan impianmu, tanpa melihat keluargamu yakni ibumu," kata Yaghi, yang mengalami luka akibat konflik bersenjata dengan Israel pada 2009.

"Di setiap situasi, kamu membutuhkan seorang ibu. Memang, saya berusia 29 tahun. Tetapi asaya membutuhkan ibu di samping saya," katanya.

"Saya memiliki saudara yang semuanya hebat, tetapi seorang ibu penting di sebuah negara yang hidup di bawah pendudukan."

Terkait masalah keamanan, Israel menjaga ketat kontrol terhadap pergerakan warga Palestina di dalam dan di luar Jalur Gaza, yang dirampas oleh Israel dalam Perang Timur Tegah 1967.

Mesir hanya sesekali membuka perbatasan di kota Rafah untuk memperbolehkan orang-orang tertentu melintas, seperti pemegang paspor asing, pelajar dan mereka yang membutuhkan perawatan medis. (antara/jpnn)

WASHINGTON DC —  Hidup di tengah keterbatasan ekonomi bukanlah sebuah penghalang bagi Aula Andika Fikrullah Al Balad dalam meraih pendidikan dan cita-citanya. Terlahir dari orang tua yang sehari-harinya berdagang sayur di Gampong Lampasi, Darul Imarah, Aceh Besar untuk memenuhi kebutuhan hidup, Aula, begitu ia kerap disapa, berhasil meraih beasiswa S2 untuk kuliah di Lehigh University, di Bethlehem, Pennsylvania, yang masuk ke dalam daftar 50 besar universitas terbaik di Amerika Serikat.

Seperti kisah hidupnya, Aula mengatakan, “it’s not about perfect. It’s all about effort.” Tak perlu harus melulu sempurna, namun segala cita-cita bisa diraih dengan berusaha.

Kisah Perjuangan Si Bungsu di Lampasi

“Semenjak menikah dengan almarhum ayah, (ibu) itu sudah jualan sayur,” papar Aula kepada VOA Indonesia belum lama ini.

Kalau dulu biasa berjualan dari pintu ke pintu, sejak tahun 2000, Aula dan keluarga membangun kios kecil yang beratapkan rumbia di depan rumah mereka, sehingga kini sang Ibu, Siti Narimah atau biasa disapa Mak Cut, tidak perlu lagi berkeliling kampung.

“Mungkin, sekitaran 60an,” ujar Aula saat ditanya mengenai usia Mak-nya.

Tak ada yang tahu persis usia Mak.

“Karena ibu-ibu yang lain di sekitaran rumah sekitaran 70an umurnya dan ibuku paling muda diantara mereka semua,” jelasnya.

Kejadian tragis menimpa keluarga Aula pada tahun 2004 ketika sang ayah, almarhum Ridhwan Kr Is, ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa lagi di dekat sebuah sawah. Almarhum telah menjadi korban saat terjadi konflik di Aceh. Pada waktu itu Aula masih kelas lima di bangku sekolah dasar. Dua orang kakaknya juga meninggal pada tahun yang sama, satu karena sakit dan satu lagi menjadi korban tsunami.

Perjuangan baru pun dimulai oleh Mak Cut yang seketika menjadi orang tua tunggal yang harus memenuhi kebutuhan hidup bagi dirinya dan anak-anak. Membantu orang tua berdagang sayur memang sudah menjadi ritual Aula dan kakak-kakaknya sejak masih duduk di bangku sekolah.

“Saya SMP itu ingat. Jadi saya sekolahnya jam dua siang. Jadi pagi itu ngantar dulu ibu ke pasar untuk belanja sayur, terus jemput lagi ibu. Ibu ke pasar gitu, kemudian setelah semuanya beres, jam dua siang saya baru berangkat ke sekolah,” ujar si bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Tidak Boleh Bantu Cari Uang, Pendidikan Nomor Satu

Namun, pendidikan selalu menjadi nomor satu dalam keluarga Aula, walaupun almarhum ayah hanya menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar di sekolah rakyat, dan ibu tidak pernah sekolah, bahkan tidak bisa membaca dan menulis.

“Saya masih ingat, ketika SD dulu, kakak-kakak pernah cerita, bahkan harus sekolah tanpa ada uang jajan. Bahkan kita sakit pun, sakit dalam kondisi sakit demam dan sebagainya itu nggak boleh libur. Tetap harus berangkat ke sekolah,” cerita pria kelahiran November 1993 ini.

Dengan keuntungan penghasilan sekitar sepuluh hingga dua puluh ribu per hari dari berdagang sayur, orang tua Aula tidak pernah memperbolehkan anak-anaknya membantu mencari uang.

“(Almarhum ayah) akan marah. Apalagi kita harus libur sekolah gitu. Jadi memang pendidikan tetap yang utama di keluarga kita,” kata Aula.

Tentu saja dalam bersekolah untuk meraih pendidikan harus dilalui dengan berbagai perjuangan. Itulah yang Aula rasakan di setiap jenjang sekolah.

“Bisa nggak sih sekolah?” Hal itu selalu menjadi pertanyaan setiap tahunnya. Aula beruntung orang tuanya, termasuk kakak-kakaknya selalu ikut membantu dan berjuang bersamanya.

“Ketika SMP, kakak harus jual apa gitu (perhiasan), supaya bisa saya masuk sekolah,” katanya.

Hal ini kembali terjadi ketika masuk ke jenjang SMA, kakak Aula juga menjual barang untuk membantu sang adik membayar uang sekolah.

Semangat Meraih Segudang Prestasi

Keterbatasan ekonomi di keluarga tidak pernah membuat Aula berkecil hati dan patah semangat. Alhasil, segudang prestasi di dunia akademik selalu diraihnya. Mulai dari juara pidato, cerdas cermat, olimpiade fisika dan matematika, public speaking, hingga MTQ (Majelis Tilawatil Qur’an).

Tahun 2010 saat duduk di bangku SMA, Aula meraih sederetan penghargaan di ajang Festival Film Anak Aceh yang diselenggarakan oleh dinas sosial dan didukung oleh UNICEF Indonesia, atas hasil karya filmnya yang berjudul “Masihkah Punya Harapan?”

Film pendek berdurasi sekitar 15 menit yang ia garap hanya dalam satu bulan ini bercerita tentang seorang anak yang berasal dari keluarga kaya namun tidak diizinkan untuk bersekolah. Anak ini lalu kabur dari rumah, rela mengemis dan menyemir sepatu demi bisa mengenyam pendidikan. Film ini memang terinspirasi dengan kehidupannya sendiri, namun dengan sedikit ‘plot twist’ atau perubahan cerita di dalamnya.

“Alhamdulilah, kita dapat penghargaan film terbaik sama sutradara terbaik, aktor terbaik, aktor itu saya langsung juga, jadi sutradara merangkap sebagai aktor,” kenangnya sambil tertawa.

“Kemudian kita menang nominasi sebagai editor terbaik dan untuk penata artistik kita hanya masuk nominasi saja. Kita nggak menang,” tambahnya.

Terpaksa Tolak Undangan Masuk Perguruan Tinggi Negeri

Kabar yang seharusnya menjadi kebanggaan dan kegembiraan keluarga ternyata membuahkan kebingungan saat tamat SMA. Aula berhasil mendapat undangan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri mana pun di Indonesia dari program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Jadi itu ditujukan kepada 10 besar siswa-siswa berprestasi dari tiap sekolah untuk bisa masuk ke seluruh universitas negeri yang ada di Indonesia,” jelasnya.

“Saya bingung, karena ini sudah dapat undangan, trus nanti yang bayar uang sekolah siapa gitu ya? Akhirnya saya tidak terlalu antusias dengan undangan itu. Padahal itu sesuatu yang sangat priviledge dan sangat dinanti-nanti sebenarnya oleh setiap siswa gitu. Tapi saya nggak terima itu,” tambahnya.

Tidak hanya itu, menurut Aula, masa tersebut adalah salah satu masa yang “paling sedih.”

“Karena ada omongan kemarin bahwa, ‘lu jangan harap deh bisa masuk kuliah deh, Aula. Kalau lu nggak bisa sogok orang dan lu nggak punya orang dalam,’” kenangnya.

“Seakan-akan dia mau ngomong bahwa, ‘oh, anak miskin itu nggak bisa sekolah. Anak miskin itu nggak bisa kuliah,” katanya.

Semangat untuk meraih pendidikan berhasil mengalahkan kesedihannya. Aula lalu memutuskan untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) biasa dan memilih universitas Syiah Kuala dengan jurusan pendidikan fisika, sesuai dengan keinginannya. Ia pun berhasil masuk.

“Di semester satu-lah baru dapat beasiswa Bidikmisi dan Alhamdulillah sampai dengan tamat dengan beasiswa dari Bidikmisi itu,” paparnya.

Mak pun ikut gembira mendengarnya, apalagi melalui beasiswa S1 tersebut, Aula bisa membantu keuangan keluarga.

“Walaupun memang tidak besar, tapi minimal ada-lah, kita kasih ke ibu untuk beli sayur, untuk makan sehari-hari,” ceritanya.

Saat kuliah pun, Aula berhasil meraih berbagai prestasi, seperti menjadi Kalau di tingkat kuliah sudah masuk ke seperti Raja Baca Provinsi Aceh, Duta Damai Provinsi Aceh, Duta Bahasa, juga menjadi perwakilan Indonesia dalam kegiatan Nusantara Leadership Camp.

Wisuda Kuliah: Titik Terendah Dalam Hidup

Wisuda kuliah yang biasanya menjadi kebanggaan dan penuh canda tawa, ternyata menjadi titik terendah dalam hidup Aula.

“Pengen banget lihat si bungsu ini wisuda, “ ujar Aula saat menceritakan kata-kata almarhum ayah kepada salah seorang kakak Aula.

“Dan saya pengen banget memang ketika wisuda, ketika diumumkan Aula Andika sebagai mahasiswa berprestasi itu, saya pengen orang tua kedua-duanya bisa hadir gitu. Itu titik terendah saya,” tutur Aula.

Aula pun tak kuasa menahan tangisnya pada hari wisuda yang jatuh pada bulan November 2016 itu.

“Terus untuk apa sertifikat ini? Terus untuk apa kalau orang yang selama ini lu inginkan hadir itu nggak bisa hadir di sini?” ujarnya.

Berkat motivasi orang tua, Aula berhasil bangkit dari kekelamannya dan mengucap syukur, karena telah berhasil memenuhi impian orang tuanya. Kelulusannya telah membuktikan bahwa di tengah keterbatasan, ia tetap mampu meraih pendidikan tinggi.

Usai lulus, Aula mulai bekerja freelance sebagai blogger untuk dunia gaya hidup dan juga menekuni bidang media sosial. Ia juga memulai terjun ke dunia pendidikan dengan mengajar Al-Qur’an dan Kitab Kuning di pesantren tradisional atau mengajar fisika, baik di kampus juga di sekolah untuk olimpiade sains nasional tingkat Aceh.

53 Kali Gagal Tembus Beasiswa: “Apakah memang diriku tidak pantas untuk ke luar negeri atau apa?”

“Saya dari dulu tuh pengin banget ke luar negeri,” cerita Aula kepada VOA Indonesia.

“Tapi sudah (bulat), ‘Aula, ke luar negeri, naik pesawat, tapi enggak boleh dibayar sama diri sendiri,” kenang Aula.

Inilah yang membuatnya lalu dikenal sebagai ‘scholarship hunter’ alias pemburu beasiswa sejak kuliah. Lima puluh tiga kali sudah Aula mendaftar beasiswa, tidak ada satu pun yang berhasil.

“Selama S1 saya coba berbagai beasiswa, short course, conference, exchange program ke luar negeri selalu mendapat penolakan,” jelasnya.

Mimpi untuk menuntut ilmu ke Swedia, Portugal, Republik Ceko, Taiwan, dan negara lainnya pun kandas.

“Apakah memang diriku tidak pantas untuk ke luar negeri atau apa?” tambahnya.

Hingga akhirnya ia mendengar teman-temannya mendaftar beasiswa USAID prestasi untuk program S2 di Amerika. Ia hanya bisa pasrah. Tidak berminat lagi kuliah ke luar negeri.

“Coba sekali lagi,” ujarnya saat mengenang pesan Mak. Selanjutnya>>>

STATUSACEH - Senator DPD RI H Fachrul Razi MIP menggelar Konferensi Pers Peringatan Milad GAM yang ke 43 pada tanggal 4 Desember 2019.

Siaran pers yang diterima StatusAceh.Net, Rabu (4/12/1019) mengangkat topik utama "Salam Perdamaian Abadi untuk Aceh"

Menurutnya, perdamaian Aceh yang telah berjalan 14 tahun telah membuktikan bahwa Aceh mengalami proses perubahan yang berjalan dengan damai dan Pembangunan yang cepat. Pada hari ini, tanggal 4 Desember 2019 Aceh telah melewati 43 tahun peringatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai para pihak yang telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Indonesia menuju Aceh yang damai dalam bingkai NKRI.

Peringatan Milad GAM yang ke 43 pada tanggal 4 Desember 2019, menunjukkan rakyat Aceh cinta akan perdamaian, dan komit dengan perdamaian dalam mewujudkan Aceh yang damai, sejahtera dan bermartabat dalam bingkai NKRI.

Menyingkapi perdamaian Aceh ke 14 tahun dan peringatan GAM yang ke 43, masih terdapat beberapa persoalan yang belum selesai seperti butir perjanjian MoU Helsinki yang belum selesai dan persoalan dana Otsus Aceh yang akan berakhir pada tahun 2027 serta permasalahan Bendera Aceh yang belum selesai.

Oleh karena itu, Kami menyatakan Sikap sebagai berikut:

1. Peringatan 43 Tahun Milad GAM Tanggal 4 Desember 2019 dan Usia Perdamaian 14 Tahun Perdamaian merupakan momentum bersejarah bagi rakyat Aceh dalam menjaga perdamaian dan menunjukkan identitas lokal yang terus membuktikan komitmen dalam menjalankan dan menjaga perdamaian di Aceh. Oleh karena itu, kami meminta kepada pemerintah pusat untuk terus membangun kepercayaan, meningkatkan komitmen dalam mewujudkan perdamaian di Aceh dengan melaksanakan semua janji yang telah di tandatangani di MoU Helsinki.

2. Perdamaian abadi di Aceh yang telah ditandangani perjanjian damai MoU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 dan melahirkan UU Pemerintah Aceh, setidaknya terdapat 16 poin dalam UUPA masih bertentangan dengan MoU Helsinki. Sementara 11 poin belum dilaksanakan sama sekali, sedangkan 26 poin sudah selesai seiring berakhirnya tugas AMM dan 1 poin bidang penyelesaiaan perselisihan sesuai pasal 6 poin C MoU Helsinki. Artinya baru 17 poin yang dilaksanakan sesuai dengan MoU Helsinki. Kami merekomendasikan agar UUPA direvisi sesuai dengan MoU Helsinki. Pemerintah Pusat tidak perlu curiga dan apriori dengan perjanjian damai ini karena telah membangun kepercayaan kedua belah pihak perdamaian abadi sehingga dapat terwujud melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam Negara Kesatuan dan Konstitusi Republik Indonesia.

3. Persoalan Dana Otsus Aceh yang akan berakhir pada tahun 2027 kami tegaskan perlu dilanjutkan selamanya. Keberlanjutan pelaksanaan Otsus harus didukung dengan evaluasi yang komprehensif yang dilakukan secara berkala dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat Pusat maupun Daerah. Pemanfaatan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) harus diarahkan untuk peningkatan kualitas SDM dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, tepat sasaran dan tepat kegunaan, seperti untuk pembangunan Pendidikan, Kesehatan, Pemberdayaan dan Pengentasan kemiskinan, Ekonomi dan Kesejahteraan, dan pengembangan kelembagaan Sosial-budaya masyarakat. Kami menilai pemanfaatan dan penggunaan DOKA harus akuntabel dan melibatkan masyarakat agar dapat diawasi bersama-sama.


4. Persoalan Bendera Aceh yang belum selesai, kami tegaskan bahwa Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh telah mendapat pengesahan oleh Gubernur dan DPR Aceh karena Aceh telah memiliki Bendera dan Lambang Sendiri seperti yang tertera dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh pada pasal 246 dan Pasal 247 UUPA, sebagai turunan dari Kesepahaman Damai antara GAM dan RI atau yang sering disebut MoU Helsinky. Dengan telah disahkannya Qanun No 3 tersebut maka rakyat Aceh menganggap “Benar Aceh telah merdeka dalam Bingkai NKRI”. Oleh karena itu kami mendesak agar Bendera Aceh sudah bisa di resmikan dan dikibarkan sebagai bendera lokal di Aceh bersamaan dengan dengan Bendera kebangsaan Bendera Merah Putih. Disisi lain, pemerintah juga sudah memberikan sinyal positif terhadap penyelesaian masalah bendera untuk segera selesai.

5. Akhir release ini, Kami menyatakan sikap bahwa Perdamaian Aceh melalui MoU Helsinki adalah penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat bagi semua. Perjanjian ini melahirkan pemerintahan rakyat Aceh dapat diwujudkan menuju Aceh yang maju dan berhasil.

Salam Perdamaian Abadi Aceh,
Senator DPD RI Asal Aceh/
Pimpinan Komite I DPD RI

Ilustrasi
Banda Aceh - Dua pejabat di Dinas Peternakan Aceh ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi pengelolaan hasil produksi pada UPTD Balai Ternak Non Ruminansia (BTNR) pada tahun 2016-2018. Kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 2,6 miliar.

"Kedua pejabat yang sudah kita tetapkan sebagai tersangka yaitu RH selaku kepala UPTD BTNR dan MN pembantu bendahara penerimaan," kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Trisno Riyanto saat dimintai konfirmasinya, Selasa (3/12/2019).

Penyelidikan kasus dugaan korupsi ini mulai dilakukan polisi sejak 2018 lalu. Kedua tersangka diduga melakukan korupsi terkait produksi UPTD BTNR Dinas Peternakan Aceh tahun 2016 sampai 2018 dengan anggaran Rp 13 miliar.

Dalam kasus ini, kedua tersangka tidak mencatat setiap penjualan hasil produksi UPTD BTNR berupa penjualan telur pada buku kas umum (BKU). Uang hasil penjualan telur dipakai keduanya untuk kepentingan pribadinya maupun untuk biaya operasional UPTD BTNR.

Seharusnya, uang tersebut disetorkan dulu ke kas daerah. Menurut Trisno, berdasarkan hasil laporan audit perhitungan kerugian keuangan negara (PKKN) yang dilakukan auditor BPKP Perwakilan Aceh, kerugian negara akibat perbuatan keduanya yaitu sebesar Rp 2,6 miliar.

Trisno menyebut, polisi sudah memeriksa 27 saksi dalam kasus ini. Kedua tersangka RH dan MN juga sempat dilakukan penahanan pada 12 November lalu. Namun pada 1 Desember, polisi mengabulkan penangguhan penahanan keduanya.

"Sejak proses penyelidikan dilakukan, pihak UPTD BTNR Dinas Peternakan Aceh telah melakukan penyetoran hasil penjualan telur sesuai dengan aturan dengan total sebesar Rp 6,2 miliar," ujar Trisno. | Detik.com

Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto enggan berbicara soal belanja alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia (alutsista TNI) yang akan menjadi prioritas pada 2020 karena bersifat rahasia.

"Tentu prioritasnya ada. Tapi tidak akan saya sampaikan ke kalian. Banyak mata dan telinga di sini," kata dia, usai melihat pameran industri alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) di kantor Kemenhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.

Hanya saja, Prabowo Subianto menekankan bahwa pengembangan industri pertahanan dalam negeri akan melibatkan perusahaan swasta dan BUMN. Baginya tidak ada pembeda jika kedua perusahaan yang bergerak di sektor tersebut ikut menggarapnya.

"BUMN dan swasta kerja sama. Nanti kita bisa cari formulanya, akar masalah. BUMN jadi lead integrator tapi semua swasta ikut dengan aktif," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, mantan Danjen Kopassus ini bilang bahwasanya dirinya cukup puas dengan kemampuan alutsista yang dimiliki tiga matra TNI.

Ia pun berjanji, dalam lima tahun ke depan, alutsista TNI, akan lebih maju dan mandiri melalaui beberapa bagian yang harus mendapat perhatian penelitian dan pengembangan.

"Insya Allah saya optimis lima tahun lagi kita akan lebih mandiri, lebih berdiri di atas kaki kita sendiri," tegas Menhan Prabowo Subianto. | Vivanews

LHOKSUKON - Polda Aceh mengirim sejumlah 20 Personel Bawah Kendali Operasi (BKO) Brimob dari Kompi 4 Jeulikat ke Polres Aceh Utara, nantinya pasukan ini akan membantu pelaksanaan tugas Polres Aceh Utara menjaga Kamtibmas menjelang 4 Desember 2019.

Kehadirian Brimob ini disambut Kabag Ops Polres Aceh Utara AKP Syukrif I Panigoro, Senin (2/12/2019) sore kemarin di halaman tengah Mapolres setempat.

"Disini, pelaksanaan tugas BKO Brimob  berlaku sejak 2 hingga 5 Desember 2019." ujar AKP Syukrif, Selasa (3/12/2019).

Ia mengatakan, menjelang 4 Desember, jajaran Kepolisian Resor Aceh Utara akan meningkatkan aktifitas Patroli diseluruh wilayah sebagai antisipasi gangguan kamtibmas.

"Kehadirian BKO Brimob termasuk untuk mempertebal kekuatan Patroli Polres Aceh Utara." pungkasnya.

Lhokseumawe - Seorang pria asal Aceh Utara, Aceh berinisial AR alias Rahman Peudeng tewas dalam kontak tembak dengan polisi. Rahman diketahui sebagai pelaku pemasang bahan peledak di tiang bendera serta membakar sebuah sekolah dasar di Aceh Utara.

"Saat hendak kita tangkap, Rahman melepaskan tembakan ke arah petugas. Rahman tewas dalam kontak tembak," kata Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Indra Herlambang dalam konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Selasa (3/12/2019).

Kasus yang melibatkan Rahman bermula saat dia mengibarkan bendera Alam Peudeng di tiang bendera SD 17 Sawang, Aceh Utara pada pertengahan November lalu. Pada tiang bendera tersebut juga dipasang benda diduga bahan peledak atau bom.

Beberapa hari berselang, tepatnya 25 November sekitar pukul 21.00 WIB, Rahman juga membakar pintu sekolah tersebut. Rahman merekam aksinya serta mengunggah ke Facebook.

Selain itu, Rahman juga membuat beberapa postingan provokatif di akun media sosial miliknya. Polisi yang mendapat laporan terkait aksi Rahman kemudian membentuk tim khusus yang terdiri dari personel Polda Aceh, Brimob serta anggota Polres Lhokseumawe.

"Setelah kejadian bapak Kapolda Aceh membentuk tim khusus untuk menyelidiki keberadaan pelaku," jelas Indra.

Menurut Indra, pada Minggu (1/12) sore, tim gabungan bergerak ke Peuntet, Kecamatan Sawang, Aceh Utara untuk memburu Rahman. Begitu tiba di lokasi, petugas memantau tempat yang diperkirakan bakal dilewati Rahman.

Setelah dilakukan pemetaan, personel gabungan menyergap Rahman sekitar pukul 21.00 WIB. Namun Rahman berusaha melawan dengan melepas tembakan menggunakan senjata laras panjang.

Dalam kontak tembak, Rahman tewas di lokasi. Pada tubuh pria Aceh Utara itu diduga terpasang bahan peledak. Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan benda diduga bahan peledak di tempat persembunyian Rahman.

"Dari pelaku kita mengamankan satu pucuk senjata laras panjang serta satu granat manggis, rompi serta beberapa barang bukti lainnya," ungkap Indra. | detik.com

STATUACEH - Untuk mencapai puncak Gunung Halimun tidaklah mudah.

Butuh waktu setengah hari berjalan kaki menyusuri lereng berbukit yang terjal dan cadas.

Saat hujan turun lintasan di lereng bukit dan sungai menjadi sangat licin.

Hawa sejuk terasa menusuk kulit bila berada di lokasi ini.

Serambinews.com sekitar 2008 lalu berkesempatan melakukan reportase menyusuri Halimun yang dikenal dengan gunung berkabut.

Tapi sayangnya kami hanya bisa sampai di Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie, sebuah desa di kaki Halimun.

Bagi para gerilyawan GAM, Halimun menjadi sebuah legenda dan saksi penting dalam sejarah perjuangan GAM.

Dari atas puncak Halimun yang berkabut dan berhawa sejuk inilah, Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 mendeklarasikan berdirinya Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dari sini pula, Hasan Tiro bersama orang-orang seide dengannya mengobarkan semangat perlawanan kepada Pemerintah RI.

Berikutnya Hasan Tiro juga melantik kabinetnya yang bernaung di bawah bendera Aceh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF).

Legenda Halimun bagi para pejuang GAM menjadi sebuah cerita tersendiri.

Halimun rumah paling aman yang tak pernah tersentuh oleh militer yang memburu mereka ketika itu.

Konon menurut cerita, tentara yang memburu pejuang GAM saat itu hanya bisa sampai di sebuah desa di kakinya.

Desa itu adalah Blang Pandak, yang diklaim tentara sebagai kawasan hitam.

Di desa ini pula kerap terdengar kontak senjata antara tentara RI dan GAM.

Tentara pemerintah sulit menjangkau puncak Halimun.

Bahkan sebuah cerita bernuansa mistis kerap terdengar di masyarakat, tentang 'kehebatan' Gunung Halimun yang menyimpan banyak misteri.

Beberapa informasi menyebutkan di atas puncak Halimun terdapat banyak kuburan para pejuang Aceh yang syahid di medan perang melawan penjajah Belanda.

Halimun juga disebut gunung aulia. Orang juga sering menyebutnya gunung berkabut. Nama ini ternyata sesuai dengan apa yang terlihat.

Sejauh mata memandang, puncak Halimun selalu disentuh kabut yang mengitari langit Tangse.

Banyak juga cerita yang berembus tentang Halimun. Bahkan jauh sebelum Hasan Tiro memproklamirkan GAM.

Beberapa riwayat menyebutkan, air yang mengalir di lereng gunung itu sangat jernih dan dingin.

Orang hanya bisa mengambilnya dengan mencelupkan tangan. Bila memasukkan kaki, maka orang bersangkutan akan merasa kebas.

Saat berada di atas, setiap pengunjung harus berniat baik. Pantang untuk bercanda ria berlebih.

"Bila pantangan ini tidak dipatuhi maka, dari gunung itu akan turun hujan dan terlihat kabut," kata Ambiya (34), warga setempat yang ditemui Serambinews.com tahun 2008 lalu.

Halimun juga menyimpan banyak kejadian unik. Salah satunya tentang keberadaan binatang pengisap darah yang mengerikan. Gigitannya sangat menyengat.

"Orang-orang di sini menyebutnya pacat dawood," kata Ambiya.

Pacat dawood juga salah satu binatang yang paling ditakuti para gerilyawan GAM.

"Tentara hanya bisa mencapai di kaki bukit. Tapi tidak pernah bisa naik ke atas," kata Ambiya.

Karena itu, saat konflik, Halimun menjadi kawasan paling strategis bagi gerilyawan GAM.

Selain strategis, dari sini juga para gerilyawan GAM juga bisa menjelajah ke berbagai wilayah lainnya. Apabila berada di titik koordinat puncak Halimun, para gerilyawan GAM bisa berjalan menuju Tiro, Mereudu, Takengon dan Geumpang serta beberapa wilayah lainnya.

Karena lokasinya strategis itu pula, Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 memilih Halimun sebagai tempat ia mendeklarasikan GAM.

Sejak saat itu, Halimun tercatat dalam sejarah perjuangan GAM dan melegenda sampai saat ini.

Beberapa warga yang ditemui di kaki gunung Halimun mengatakan, sejak pemerintah RI dan GAM menandatangani MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu, kawasan gunung sudah dapat lebih mudah dijelajahi masyarakat. Baik untuk kepentingan mencari rezeki maupun untuk pertambangan.

Namun hanya sedikit orang yang berhasil mencapai puncak Halimun. Salah satunya karena kontur lerengnya yang terjal.(*)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Misteri Gunung Halimun, Tempat GAM Dideklarasikan

Gunungsitoli - Terkait sidang Ke-5 minggu yang lalu, Jaksa Penuntut Umum terdakwa Kepala Desa Loloanaa Idanoi, Edieli Batee dituntut 1 Tahun denda Rp.500.000.000 karena melanggar Pasal  27 ayat 2 UU ITE pencemaran nama baik dimedia sosial dalam Group Wathsapp Panitia Hut Kemri 2018.

Menanggapi tuntutan tersebut, penasehat hukum terdakwa Edieli Batee membuat agenda nota pembelaan (Pledoi) terhadap tuntutan kepada kliennya. Dengan mengajukan dan membacakan sendiri nota pembelaan (Pledoi) dari sisi hukum sebanyak 9 halaman, senin, (02/12/2019).

Adapun isi nota pembelaan yang dibacakan oleh kuasa hukum terdakwa yakni menuntut kliennya untuk dibebaskan karena tidak terbukti secara sah melakukan pelanggaran yang dituduhkan. Kemudian Saksi -saksi korban yang dihadirkan dipersidangan tidak memenuhi unsur dan begitu juga tuntutan jaksa penuntut umum terlalu memberatkan terdakwa.

Selanjutnya kuasa hukum terdakwa menyebutkan bahwa Kepala Desa Loloana'a idanoi masih layak memimpin sehingga masyarakat Desa Loloana'a idanoi masih mengharapkan  kepemimpinanya demi memimpin ribuan masyarakat untuk memajukan program -program pemerintahan khususnya di Desa Loloana'a Idanoi sebagaimana Surat Keterangan Terlampir, sebut Penasehat Hukum terdakwa.

Selanjutnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eliksander Siagian, SH. meminta Replik Dengan Waktu dekat ketika Hakim Ketua Mempertanyakan Tanggapan terhadap dirinya.

Terpisah, menurut Yamasokhi Mendrofa yang berprofesi sebagai Juru Parkir di Kota Gunungsitoli yang dimintai tanggapannya oleh Pewarta Media ini,  menilai Pledoi atau pembelaan yang diajukan oleh Kuasa hukum Edieli Batee atas Nama Herman Fiktor Lase, SH di Pengadilan Negeri Gunungsitoli adalah pembelaan klasik yang berusaha membenarkan kliennya dan itu adalah hal yang paling memprihatinkan, ucapnya

"Bagaimana mungkin dia meminta kliennya dibebaskan dari proses hukum Pak, sementara saat kasus ini bergulir ditingkat ke Polisian tidak mungkin ditetapkan kliennya itu sebagai tersangka bila mana belum memenuhi unsur, sungguh tidak masuk logika Pak" tuturnya terheran-heran".

Kemudian Yamasokhi Mendrofa berpandangan atas dalih pledoi atau pembelaan yang diajukan oleh Kuasa hukum terdakwa yang mengklaim saksi-saksi yang diajukan oleh korban tidak memenuhi unsur adalah juga pernyataan yang seolah ternilai ling-lung, disana pernah dihadirkan Ketua PPWI Gunungsitoli atas Nama Arozatulo Zebua, SE sebagai saksi korban, tentu jika beliau tidak memenuhi unsur sebagai saksi tidak mungkin kesaksiannya didengarkan oleh Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Gunungsitoli itu, pintanya

Yamasokhi Mendrofa berharap Pledoi yang diajukan oleh Kuasa Hukum terdakwa itu ditolak oleh Majelis Hakim, demikian harapnya (AZB/Red)

TEKNO - Facebook merilis alat baru, yang memungkinkan penggunanya untuk mentransfer foto langsung ke Google Photos, di Irlandia, dan akan tersedia di seluruh dunia pada paruh pertama tahun 2020.

"Selama hampir satu dekade, kami telah memungkinkan orang untuk mengunduh informasi mereka dari Facebook," ujar direktur privasi dan kebijakan publik Facebook, Steve Satterfield, seperti dikutip dari The Verge, Senin.

"Alat transfer foto yang akan kami mulai rilis hari ini didasarkan pada kode yang dikembangkan melalui partisipasi kami dalam Proyek Transfer Data," lanjut dia.

Proyek Transfer Data tersebut juga melibatkan sejumlah perusahaan teknologi, seperti Apple, Google, Microsoft dan Twitter. Facebook mengatakan akan memulai dengan Google Photos, dan selanjutnya akan menambahkan layanan lain.

Facebook sedang menguji alat tersebut di Irlandia, dan akan memperbaikinya berdasarkan umpan balik dari pengguna.

Alat tersebut akan berguna bagi pengguna Google Photos yang tidak secara otomatis mencadangkan gambar di ponsel mereka. Namun, bagi pengguna Facebook dan Google Photos yang sudah melakukan back-up foto, maka kemungkinan sebagian besar foto yang diunggah ke Facebook sudah dicadangkan pada layanan Google tersebut.
| vivanews

Ustaz Abdul Somad

StatusAceh.Net - Dai kondang asal Riau Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. akan kembali mengunjungi Aceh. Rangkaian safari dakwah beliau kali ini akan dipusatkan di sejumlah titik di kota Banda Aceh dan Aceh besar.

Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh Muhammad Fadhillah, Lc., M.Us. didampingi oleh H. Nazaruddin  Yahya Lc sebagai perwakilan Tim UAS Aceh mengatakan bahwa mereka telah mengkonfirmasi kedatangan UAS beberapa waktu lalu ke pihak tim UAS di Pekanbaru.

"Sudah dikonfirmasi, beliau insya Allah akan bersama kita selama 2 hari, Banda Aceh dan Aceh Besar." Kata M Fadhillah.

Kegiatan safari dakwah Ustadz Abdul Somad, Lc., MA. diawali dengan Tabligh Akbar di Mesjid Haji Keuchik Leumiek Banda Aceh pada pada hari Jumat 6 Desember 2019 malam hari (malam Sabtu-red). Selain itu UAS yang saat ini segera menyelesaikan doktoralnya di Sudan juga akan menyampaikan tausiyah subuh di Mesjid Oman, Lamprit Banda Aceh esok harinya.

Di Aceh Besar, beliau akan mengisi ceramah maulid di Gampong Teuladan Lembah Seulawah dan  Pondok Pesantren Gontor 10 di Seulimum, Aceh Besar.

"Alhamdulillah, akhirnya Ustadz Abdul Somad dai yang dirindukan masyarakat Aceh kembali berdakwah di bumi Seuramoe Mekkah. Semoga  nasehat-nasehat beliau nanti akan memberikan spirit baru untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT." Pungkas H. Nazaruddin Yahya Lc. Selanjutnya mereka mengajak masyarakat Aceh untuk menyemarakkan kegiatan dakwah ini.

Berikut jadwal Tabligh Akbar UAS Di Banda Aceh dan Aceh Besar;
6 Desember 2019 Mesjid Haji Keuchik Leumiek, 7 Desember Tausiyah Subuh di Mesjid Oman, Tabligh Akbar di Gampong Teuladan Lembah Seulawah Aceh Besar
8 desemberTausiyah subuh di Pondok Pesantren Gontor 10 Seulimum Aceh Besar.


SAWANG- Ab alias Teuntra Raman (37) warga gampong Punteut Kecamatan Sawang Kab. Aceh Utara tewas diterjang peluru personil Polres Lhokseumawe, Minggu (01/12/2019) pukul 22:00 WIB malam.

Menurut informasi beredar di masyarakat, polisi menembak teuntra raman saat mantan combatan ini akan mengambil uang 10 juta pada geuchik gampong setempat.

Dari salah satu sumber menyebutkan selama ini teuntra raman kerap meresahkan warga setempat dengan berbagai aksi kriminal seperti pemerasan pada kepala desa,menaikkan bendera seperatis dan membakar bendera merah putih yang menyebabkan terbakarnya sekolah di desa Punteut Kecamatan Sawang, Aceh Utara beberapa waktu lalu.

Tidak sampai disana saja,teuntra raman juga memiliki sepucuk senjata api rakitan yang kerap dibawanya dalam menjalankan aksi kriminalnya.

“Kemarin itu dia naikkan bendera separatis terus dikasih turun sama orang koramil,besoknya dia naikkan lagi bènderanya yang dikasih bom terus diturunkan sama polisi dan jihandak, terus dia bakar bendera umbul-umbul yang disekolah sampai sekolah terbakar “,ungkap salahsatu warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya disini.

Syahdan teuntra raman sehari sebelumnya sempat meminta uang puluhan juta dari geuchik setempat,belakangan saat teuntra raman mendatangi rumah geuchik tersebut .

Diluar perkiraan teuntra raman polisi telah berada diseputaran rumah geuchik dan bersiap-siap meringkusnya namun mengetahui keberadaan polisi,teuntra raman kabur keareal persawahan dengan senjata api rakitannya,namun polisi berhasil menembak pelaku hingga tewas.

Sementara Wakil Kepala Polda Aceh Brigjen Supriyanto Tarah membenarkan informasi mengenai kejadian itu.

Menurut dia, AD awalnya mendatangi salah satu rumah warga desa itu untuk meminta uang sebesar Rp 10 juta. Namun, AD mengancam jika tidak diberikan uang, warga tersebut akan dibunuh. Warga yang menjadi korban kemudian melapor ke polisi.

Menurut Supriyanto, polisi langsung mengintai di lokasi kejadian. "Begitu AD tiba di lokasi, polisi berusaha menangkap. Namun, pelaku ternyata membawa senjata api dan menembak ke arah polisi, sehingga petugas memberikan perlawanan lewat tembakan juga,” kata Supriyanto.

Supriyanto menyebutkan, pelaku diketahui mengenakan rompi anti peluru. Bahkan, di dalam rompi itu diduga ada bom.

Bom itu telah dievakuasi oleh tim penjinak bom dari Brimob Kompi B Jeulikat, Lhokseumawe. Barang bukti yang diamankan dua pucuk senjata api rakitan milik pelaku dibawa ke Polres Lhokseumawe. Sedangkan, bom dibawa ke Markas Brimob.

“Proses visum di Rumah Sakit Umum Cut Meutia sedang berlangsung,” kata Supriyanto.

Dia menyebutkan, polisi telah mengantongi identitas kelompok pria yang bersenjata tersebut.

“Banyak atau sedikit jumlah senjata yang ada di kelompok itu relatif ya, yang jelas kita sudah ketahui identitasnya dan kami pastikan akan melakukan penangkapan terhadap anggota kelompok itu,” kata Supriyanto.(Tim)

Ilustrasi
Sawang - Tim Polres Lhokseumawe, Aceh, menembak AD (37) di sebuah rumah di Desa Peunteut, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (1/12/2019). Penembakan itu terjadi sekitar pukul 22.00 WIB.

Saat ini, jenazah AD dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara. Wakil Kepala Polda Aceh Brigjen Supriyanto Tarah membenarkan informasi mengenai kejadian itu.

Menurut dia, AD awalnya mendatangi salah satu rumah warga desa itu untuk meminta uang sebesar Rp 10 juta. Namun, AD mengancam jika tidak diberikan uang, warga tersebut akan dibunuh. Warga yang menjadi korban kemudian melapor ke polisi.

Menurut Supriyanto, polisi langsung mengintai di lokasi kejadian. "Begitu AD tiba di lokasi, polisi berusaha menangkap. Namun, pelaku ternyata membawa senjata api dan menembak ke arah polisi, sehingga petugas memberikan perlawanan lewat tembakan juga,” kata Supriyanto.

Supriyanto menyebutkan, pelaku diketahui mengenakan rompi anti peluru. Bahkan, di dalam rompi itu diduga ada bom.

Bom itu telah dievakuasi oleh tim penjinak bom dari Brimob Kompi B Jeulikat, Lhokseumawe. Barang bukti yang diamankan dua pucuk senjata api rakitan milik pelaku dibawa ke Polres Lhokseumawe. Sedangkan, bom dibawa ke Markas Brimob.

“Proses visum di Rumah Sakit Umum Cut Meutia sedang berlangsung,” kata Supriyanto.

Dia menyebutkan, polisi telah mengantongi identitas kelompok pria yang bersenjata tersebut.

“Banyak atau sedikit jumlah senjata yang ada di kelompok itu relatif ya, yang jelas kita sudah ketahui identitasnya dan kami pastikan akan melakukan penangkapan terhadap anggota kelompok itu,” kata Supriyanto.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melaksanakan Upacara pemecatan atau Pemberhentian Tidak Dengan Hormat terhadap dua Personelnya, Senin (2/12/2019) di Aula Tri Brata Polres setempat dipimpin langsung Kapolres AKBP Ian Rizkian Milyardin, S.I.K.

Hal ini dilakukan atas tindak lanjut dari Keputusan Kapolda Aceh Nomor : Kep/337/XI/2019 tanggal 19 November 2019 tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat dari dinas Polri.

Dua personel ini ialah Brigadir Lian Saputra, dipecat karena kasus Narkoba dan Briptu Herlan, dipecat karena Disersi.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin mengatakan bahwa PTDH yang dilakukan telah melalui proses yang panjang dengan berbagai pertimbangan serta pilihan terakhir hingga terbitlah keputusan PTDH.

"Peristiwa ini benar-benar sangat memprihatinkan, hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya yang bersangkutan menyadari dan memahami hakekat Insan Bhayangkara yaitu warga negara yang berdarma Bhakti kepada negara dan masyarakat untuk menjamin ketentraman dengan penuh rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas." ujarnya.

Dihadapan peserta upacara, Kapolres mengatakan kiranya PTDH ini dapat menjadi pelajaran bagi semua, ia berharap tidak ada lagi yang meniru perbuatan serupa.

"Saya ingatkan kepada seluruh personel agar lebih mawas diri jangan sampai larut dan hanyut oleh hawa nafsu yang dapat membawa kehancuran dalam menata karir serta pelaksanaan tugas." ujar AKBP Ian.

Dirinya berpesan kepada personel untuk menghindari pelanggaran sekecil apapun agar dapat menjalankan tugas dengan baik dan benar, selalu menjaga kehormatan institusi, kehormatan diri dan keluarga.

"Dengan menjalankan tugas dengan baik dan benar serta menjaga kehormatan maka kita akan selalu dilindungi oleh Allah SWT dan selamat dunia akhirat." pungkasnya.

Data dihimpun tribratanews, sepanjang tahun 2019, sudah 5 personel Polres Aceh Utara yang dipecat karena melakukan pelanggaran yang umumnya persoalan Narkoba.

Surabaya - Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, melantik kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PPWI Kota Surabaya di Hotel Grand Surabaya, Jl. Pemuda, Surabaya, Sabtu (30/11/209).

Prosesi pelantikan yang dimulai pada jam 11:30 Wib itu, selain dihadiri Ketua Umum PPWI, juga hadir Perwakilan Polrestabes  Surabaya Ipda MK Umam, Penasehat PPWI Nasional Bunda Ida Suhardja dari Blitar, Ketua Yayasan Difable Surabaya Bunda Nina, dan Ketua DPC PPWI Magetan. Koordinator PPWI  Keresidenan Madiun, Iswayudi bersama rekan insan pers dari puluhan media di Surabaya dan sekitarnya juga terlihat hadir di acara ini.

Peresmian dan pengukuhan pengurus PPWI Kota Surabaya dipimpin langsung oleh Ketua Umum, Wilson Lalengke yang disaksikan seluruh peserta yang hadir. Sebelum prosesi pelantikan, didahului dengan penyuluhan anti penyalahgunaan narkoba oleh Brigjenpol Dr. Victor Pudjiadi, SpB, FICS, DFM dari BNN Pusat.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PPWI menyebutkan bahwa hadirnya PPWI di Kota Surabaya bukan untuk ajang persaingan antar oraganisasi wartawan, namun kita ingin bersinergi dengan berbagai organisasi agar dapat memberi warna baru di dunia pewarta tanah air, khususnya di Kota Surabaya.

"Kita berharap pengurus PPWI yang baru dilantik dapat bekerja sama dengan lintas organisasi yang ada di Kota Surabaya dalam membangun masyarakat dan memperjuangkan kemerdekaan pers seperti yang diamanahkan dalam Undang-Undang nomor 40 tahun 1999," tutur Wilson.

Wilson berharap agar pengurus PPWI Kota Surabaya  mampu menjadi pilar terdepan dalam melawan hoax dan radikalisme. Artinya, setiap pewarta yang bernaung dalam organisasi PPWI harus mampu menyajikan berita produk jurnalistik, akurat dan berimbang. Setiap informasi yang disampaikan melalui media haruslah merupakan sebuah realitas, faktual, bukan berita bohong atau hoax.

"Setiap insan pewarta harus mampu memberikan informasi yang sebenarnya dan akurat, harus menjadi pilar untuk mencerdaskan publik, bukan pewarta yang memecah-belah antar masyarakat, suku atau ras," sebut Wilson.

Ia menambahkan bahwa para pewarta harus menjadi pilar yang mampu mengakomodir setiap informasi dan mengemasnya menjadi satu berita berdasarkan fakta yang dihimpun, agar seluruh berita yang disajikan dapat bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat.

Sebelum mengakhiri  sambutannya, Ketua Umun PPWI Wilson Lalengke menitipkan pesan kepada seluruh pengurus dan anggota agar senantiasa mengedepankan etika dalam mencari berbagai informasi, melakukan peliputan, dan ketika mengemas informasi menjadi satu berita, tanpa memihak dan berpihak. "Para pewarta diharap benar-benar menjalankan fungsi kontrol sosial di tengah-tengah Masyarakat," pungkas Alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu. (SAT/Red)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.