2014-01-26

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA


SABTU, 30 Oktober 1976, sekitar pukul 8.30 pagi. Perahu yang ditumpangi Hasan Tiro dari Malaysia merapat di Pasi Lhok, sebuah desa nelayan di pantai utara Aceh. Dari tempat itu dia melanjutkan perjalanan ke arah timur.


Sekitar pukul 6.00 sore Hasan Tiro tiba di Kuala Tari. Sekelompok laki-laki yang dipimpin M. Daud Husin telah menunggu kehadirannya. Malam itu juga mereka berangkat menuju Gunung Seulimeun.


KELUARGA Tiro dikenal sebagai keluarga pahlawan. Hal ini sudah terbukti sejak buyut mereka, Muhammad Saman, hingga lelaki yang kesembilan, Muhammad Hasan Di Tiro.

Selain itu, para lelaki dari keluarga ini secara turun temurun dianggap sebagai “wali” bangsa Aceh. Hasan Tiro sendiri merupakan wali yang kesembilan. Hasan Tiro juga terkenal sebagai seorang penulis. Beberapa buku dan makalahnya bahkan jadi rujukan sejumlah penulis dan peneliti lainnya, terutama yang hendak berkisah tentang Aceh, sebuah wilayah kecil di ujung Pulau Sumatera.
Sebuah buku fenomenalnya bertajuk The Price of Freedom, The Unfinished Diary of Teungku Hasan Tiro. Buku ini pula banyak dikutip para penulis dalam Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh. Buku yang ditulis oleh 144 orang ini mencoba memandang Hasan Tiro dari berbagai sudut.
Banyaknya jumlah penulis dalam buku ini tentu saja membuat beragam pula bentuk tulisan yang disajikan. Ada yang menulis dalam bentuk reportase bergaya jurnalistik, ada yang menulis dalam bentuk opini, ada pula serupa esai seakan surat yang hendak ditujukan kepada pengikut Hasan Tiro.
Beragamnya bentuk dan jenis tulisan di sini, tentunya menuntut kelihaian



Aceh dikenal sebagai Wilayah di Indonesia  yang kaya dengan sumber daya alamnya. yaitu  Mineral, minyak, gas bumi, bijih besi, emas,  sumber daya laut dan pesisir, sumber daya hutan, dan lain-lain, ini semua adalah sumber kekayaan alam yang diberikan Allah SWT kepada rakyat Aceh. 

Karena itu, ungkapan bahwa Aceh secara khusus diibaratkan seperti  zamrud khatulistiwa, atau kolam susu merupakan ekspresi yang menggambarkan keindahan dan kekayaan alam yang dimiliki Aceh saat ini. 

Tetapi, apakah kekayaan alam tersebut membawa nikmat dan telah mengantarkan rakyat Aceh ke tingkat kesejahteraan dan kemakmuran
 
Obralan yang sangat murah dan mengeruk habis semua sumber daya alam yang ada di Aceh. Inilah kesesatan berfikir pemerintah yang memaknai era globalisasi dan pasar bebas hanya dari sudut pandang ekonomi saja. 

Sebagai kota yang pernah dikenal dengan sebutan Kota Petro Dolar dikala gas alam masih melimpah, Lhokseumawe memang tidak terlepas dari berbagai persoalan. Salah satunya adalah ‘bisnis’ protitusi yang dilakukan oleh pelajar belia hingga mahasiswi dengan berbagai latar belakang.
Wanita Pemuas Birahi” itu sebutan umum bagi yang menjalani frofesi  tersebut ditemukan,  banyak dilakonkan pelajar dan mahasiswi, dengan cara terselubung.

Pasca kericuhan di kantor gubernuyr akibat ramainya masayarakat yang datang mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan dari Rp. 3 juta hingga Rp.500 ribu, disinggung Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Aceh, Yunus Ilyas. Dia menilai kebijakan Pemerintah Aceh menyalurkan bantuan modal usaha untuk masyarakat sebesar Rp 500.000/proposal merupakan kebijakan keliru dan tak masuk akal. Dikutip dari laman Serambi, Wakil Gubermnur Aceh Muzakkir Manaf sepertinya merasa tersinggung, bahkan Wagub balik menuding “Kalau bicara jangan asal bunyi saja. Berilah jalan keluar untuk masyarakat yang sedang membutuhkan,” kata Muzakir Manaf yang juga Ketua Umum Partai Aceh. Senin 30 Desember 2013 Menurut Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem,
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.