2016-12-04

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

PEMBENTUKAN Keraton Yogyakarta bermula dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada 1578. Pusat kerajaan terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Mataram muncul setelah periode kekacauan dan perang saudara yang panjang.

Menurut Babad Mataram, awalnya kerajaan ini berupa hutan belantara bernama Alas Mentaok. Hutan ini merupakan hadiah Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan. Hadiah diberikan karena keberhasilan Ki Ageng Pemanahan menumpas pemberontakan Bupati Jipang, Arya Penangsang.

Gideon Sjoberg dalam The Origin and Evolution of Cities (1965) mengatakan, perkembangan masyarakat perkotaan akan menjadi lebih kompleks dan heterogen dibandingkan dengan perdesaan, baik itu secara kelembagaan maupun mata pencaharian warganya. Migrasi penduduk ini sebagai sebuah cara memenuhi kebutuhan yang lebih gampang didapatkan jika mereka berkumpul di sebuah kawasan yang berdekatan yakni Mataram.

Daerah yang awalnya hanyalah hutan belantara, lambat laun ramai dengan penduduk. Warga yang sebelumnya hidup terpencar di daerahnya masing-masing, berduyun-duyun bermukim di Mataram.

Masing-masing kelompok ini membawa keahliannya masing-masing. Ada yang berprofesi sebagai petani, pedagang, pandai besi hingga prajurit. Dengan beragam profesi warganya, Mataram cepat berkembang menjadi wilayah yang maju.

Masyarakat tidak sekadar mengandalkan pertanian untuk mata pencahariannya, namun juga perdagangan. Kelembagaan pun lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya. Ada lembaga pemerintahan, keagamaan, perdagangan, hingga pertanian.

Sebagai contoh, di bidang keagamaan terdapat penghulu, khotib, naid, dan surantana yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Di bidang pengadilan, dalam istana terdapat jabatan jaksa yang bertugas menjalankan pengadilan istana. Untuk menciptakan ketertiban di seluruh kerajaan, diciptakan peraturan yang dinamakan anger-anger yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk.

Alas Mentaok sendiri sebelumnya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu pada abad kedelapan yang menguasai Pulau Jawa. Kerajaan ini memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa sehingga mampu membangun candi-candi kuno dengan arsitektur yang megah, seperti Candi Candi Prambanan dan Borobudur.

Namun pada abad ke-10, kerajaan tersebut memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur. Rakyat pun berbondong-bondong meninggalkan Mataram dan lambat laun wilayah ini kembali menjadi hutan lebat. Tidak diketahui pasti mengapa ada migrasi pusat pemerintahan itu.

Pembentukan Mataram Islam tidaklah mulus. Ini karena awalnya Sultan Hadiwijaya enggan memberikan tanah tersebut kepada Ki Ageng Pemanahan. Sultan Hadiwijaya takut dengan ramalan Sunan Giri yang menyebutkan nanti di tanah Mataram akan muncul raja penguasa Jawa.

Tidak ingin ada ”matahari kembar”, Sultan Hadiwijaya mencoba ingkar janji dengan tidak memberikan tanah tersebut kepada Ki Ageng Pemanahan. Namun berkat bantuan Sunan Kalijaga, akhirnya tanah tersebut diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan.

Namun sebelum tanah diberikan, Sultan Hadiwijaya meminta agar Ki Ageng Pemanahan bersumpah tidak memberontak kepada Pajang. Ki Ageng Pemanahan bersedia, namun dia tidak menjamin keturunan setia kepada Pajang.

Akhirnya bersama pengikutnya, Ki Ageng Pemanahan membuka Alas Mentaok dan mendirikan kadipaten di bawah kekuasaan Pajang. Benar saja, selama pemerintahan Ki Ageng Pemanahan, Mataram setia kepada Pajang.

Setelah Ki Gede Pemanahan wafat, beliau digantikan putranya Danang Sutawijaya, yang bergelar Panembahan Senapati. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senapati yang bijaksana desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur.

Selanjutnya Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi keraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 hektare. Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.

Panembahan Senopati sendiri akhirnya enggan tunduk kepada Pajang dan memberontak. Mataram pun akhirnya menjadi kerajaan sendiri dengan raja pertamanya Panembahan Senopati.

Imperium Mataram dimulai saat kepemimpinan Nyakra Kusuma, yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Agung. Dialah yang menjadi Mataram dari kerajaan regional menjadi imperium besar.

Menurut Bernard Vlekke (sejarawan), Sultan Agung inilah yang sebenarnya pendiri Mataram. Nama Panembahan Senopati dimunculkan sebagai tokoh mitos semasa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645).

Saat memerintah, Sultan Agung berhasil menaklukkan Pasuruan 1616, Tuban pada 1619, dan Surabaya pada 1620. Sesudah menaklukkan kerajaan di utara dan timur Jawa, Sultan Agung membidik wilayah Sunda (Jawa Barat).

Namun di saat bersamaan, pada 1619 perusahaan dagang Hindia Belanda (VOC) mendirikan markasnya di Batavia, pantai utara. Dari sini, Belanda memulai berdagang, berperang, dan ikut campur tangan dalam urusan politik Jawa. Kehadiran mereka terbukti menggoyahkan keseimbangan dan mengejutkan Sultan Agung yang ingin menguasai Jawa, Madura, dan Bali.

Tak ayal, dia menyerang Batavia pada 1628 dan kembali melakukannya setahun kemudian. Namun dua penyerangan ini gagal. Invasi dan peperangan selama periode kekuasaan Sultan Agung memunculkan masalah besar bagi sumber-sumber ekonomi dan politik Mataram. Serangkaian peperangan dengan kerajaan pantai, ketiadaan modal, serta permintaan pasukan hampir mengundang munculnya pemberontakan.

Sultan Agung mangkat pada 1645 saat kerajaan hampir jatuh. Amangkurat I, putera Sultan Agung pun naik tahta dan memerintah dengan ”tangan besi”. Ditambah dengan kekacauan perdagangan dan pertanian akibat peperangan Sultan Agung, gaya ”tangan besi” Amangkurat I menyebabkan Mataram mengalami malapetaka di akhir abad XVII.

Pada akhir 1670, meletus perang saudara yang mengakibatkan seluruh keraton terbakar. Keraton baru bisa diselamatkan setelah adanya campur tangan Belanda. Amangkurat I wafat pada 1677 dan digantikan anaknya Amangkurat II.

Saat itu Belanda menuntut balas atas jasanya menyelamatkan Mataram, namun kas kerajaan sedang kosong. Amangkurat II pun tidak punya pilihan selain menyerahkan pesisir utara kepada Belanda.

Keputusan itu semakin memperkokoh kedudukan Belanda di Semarang dan kian menyudutkan Mataram. Hal ini karena Mataram kehilangan pendapatan penting dan membuatnya terisolasi dari negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Komunikasi dengan pusat-pusat studi Islam di Asia Selatan dan Timur Tengah menjadi sulit. Mataram pun makin bergantung pada Belanda.

Kekuasaan berangsur-angsur berubah ke Belanda, hingga memungkinkan mereka memengaruhi dan bahkan mengontrol masalah-masalah politik. Namun terbukti bantuan Belanda kepada Amangkurat II tidak bisa memberangus pemberontakan. Pada 1680, lahir keraton baru di Kartasura.

Sejarah zaman Kartasura merupakan periode masa perang saudara paling lama (1686-1703, 1703-1708, 1718-1723, dan 1740-1745). Periode ini ”dibumbui” ketegangan antara Belanda dan komunitas China di Batavia. Banyak orang China yang terbunuh, sementara yang lain meloloskan diri dan mengepung benteng Belanda di Semarang.

Pakubuwono II (1726-1749), pengusaha Kartasura memberikan bantuan kepada China. Hasilnya keraton pecah dan memaksa Pakubuwono berubah sikap.

Perang yang semula terjadi antara Belanda-komunitas China, berkembang menjadi perang saudara berskala besar. Puncaknya keraton dibakar pada 1742. Pada 1743, Pakubuwono II membangun keraton baru di Surakarta.

Pada 15 Desember 1749, Pakubuwono III naik tahta menggantikan ayahnya. Namun beberapa kelompok pemberontak yang tergabung dengan orang-orang China menolak tunduk. Tokoh penting dari para pemberontak ini Mas Said (kemudian menjadi Mangkunegara I) dan Pangeran Singasari.

Untuk menumpas pemberontakan, Pakubuwono menggandeng Pangeran Mangkubumi dan kerabatnya yang lain dengan janji pemberian tanah luas. Kekuatan Mas Said hancur 1746. Namun tanah yang dijanjikan itu tidak kunjung diberikan. Hal ini memaksa Mangkubumi memberontak. Alasan lainnya, Mangkubumi marah besar kepada Pakubuwono yang menyerahkan wilayah pesisir kepada Belanda.

Pemberontakan Mangkubumi pada akhirnya mengakibatkan pembagian Mataram menjadi dua, Keraton Yogyakarta dan Surakarta (Perjanjian Giyanti). Mangkubumi diangkat menjadi sebagai Sultan Hamengkubuwono I pada 13 Februari 1755.

Pembangunan Keraton Yogyakarta pun dimulai. Lokasinya tidak di Kota Gede, namun bekas pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Setahun sesudah Perjanjian Giyanti ditandatangani, ibu kota dan Keraton Yogyakarta telah benar-benar berdiri.

Keraton Yogyakarta dikelilingi 33 kampung. Ke-33 kampung tersebut disediakan bagi para prajurit dan pelayan-pelayan keraton. Para penghuninya mempunyai tugas masing-masing. Beberapa dari mereka adalah tukang kuda dan penunggangnya, prajurit, ujangga, sastrawan, ahli agama, hingga pelayan rumah tangga. Di sini bisa terlihat adanya spesialisasi pekerjaan dengan lokasi hunian.

Hal ini sejalan dengan konsep Sjoberg dalam The Origin and Evolution of Cities (1965) yang melihat perkembangan kota lebih muncul dari golongan spesialis, bukan pertanian. Golongan berpendidikan merupakan bagian penduduk yang terpenting. Mereka itu adalah literati yakni golongan pujangga, sastrawan dan ahli agama, itulah titik awal kota. Baru berikutnya muncul pembagian kerja tertentu dalam kehidupan kota.

Jumlah kampung yang mencapai 33 merupakan representasi jumlah surga di Gunung Meru, axis mundi kosmos Budhis. Ini merupakan contoh penting bagaimana konsep Hindu dan Budha masuk dalam kosmologi Islam Jawa. Keraton yang menjadi pusat kota dan kekuasaan menjadi penanda bagi kota tersebut (landmarks).

Kevin Lynch dalam The City Image and Its Elemets (1960) menuturkan, landmarks merupakan unsur yang turut memperkaya ruang kota. Landmarks merupakan citra suatu kota yang memberikan suatu kesan terhadap kota tersebut. Landmarks merupakan ciri khas terhadap suatu wilayah sehingga mudah dalam mengenal orientasi daerah tersebut. Sebagai sebuah citra, landmarks dapat memberikan orientasi bagi orang dan berbagai macam kegiatan untuk bersirkulasi. (*)

Sumber: sindonews.com

Banda Aceh - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, ada 64 masjid rusak akibat gempa bumi di Provinsi Aceh pada Rabu, 7 Desember 2016.

"Ada 64 masjid rusak dengan rincian 31 rusak berat, 3 rusak sedang, dan 15 rusak ringan," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (10/12/2016).

Selain menghancurkan masjid, gempa Aceh juga meruntuhkan 88 musala, 157 ruko, 7 unit Meunasah (lembaga pendidikan dan kebudayaan di Aceh), 5 kantor desa, 11.668 rumah, 14.800 meter jalan, serta 55 jembatan rusak.

Hingga saat ini, jumlah pengungsi yang berada di tenda pengungsian mencapai 11.668 jiwa.

Sutopo mengatakan, yang kini sangat dibutuhkan pengungsi gempa Aceh yakni sandang dan pangan, peralatan kesehatan, obat-obatan, tenda untuk pelayanan kesehatan, air bersih, dan susu bayi.

"Saat ini, upaya yang dilakukan sesuai arahan bapak Presiden, BNPB dan pemerintah pusat melakukan pendampingan ke Pemda. Dalam hal ini mem-back up pemda dalam melakukan penanggulangan Bencana," Sutopo menandaskan.(liputan6)

JAKARTA - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bahwa sebanyak empat maskapai penerbangan menggeratiskan ongkos bagi para relawan gempa yang akan melakukan perjalanannya ke Aceh guna membantu para korban gempa di Pidie Jaya.

Selain relawan, empat maskapai penerbangan itu juga menggratiskan barang-barang yang akan dikirim ke Aceh guna membantu para korban gempa di Tanah Gayo.

"Ada empat maskapai antara lain, Air Asia, Lion Air, Tri-MG Asia Airlines, dan Sriwijaya Air," ujar Sutopo di Kantor BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (10/12/2016).

Selain empat pesawat komersil, pemberian bantuan juga menggunakan pesawat Hercules milik TNI dan pesawat kargo milik BNPB.

"Jadi dua pesawat itu juga difokuskan beri bantuan," tandasnya.

Seperti diketahui, Provinsi Aceh diguncang gempa berkekuatan 6,4 SR pada Rabu, 7 Desember 2016 kemarin. Gempa tersebut terjadi pada ke dalaman 15 kilometer, lokasi gempa berada pada 5,19 LU-93,36 BT.

Sampai saat ini korban meninggal sudah mencapai 101 orang, korban luka-luka sebanyak 1713, dan masyarakat yang berada di pengungsian sebanyak 45.329 jiwa. (Okezone)

Nisam - Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (HIMAPKA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Malikussaleh menyelenggarakan Lomba Berhitung Matematika I 2016 (LBMATIKA) tingkat SMA Se-Kab.Aceh Utara pada hari Sabtu, 10 Desember 2016. Yang di mulai sekitar Pukul 09:00 WIB pagi Sd pukul 12:00 WIB siang di Aula SMA Negeri 1 Kecamatan Nisam, Aceh Utara. Kegiatan lomba ini diikuti oleh sekolah-sekolah menengah atas yang ada di Kabupaten Aceh Utara dengan tempat pelaksanaan di Aula SMA Negeri 1 NISAM yang berlangsung sukses.

Lomba ini diawali dengan Pembukaan oleh moderator, selanjutnya ketua sambutan Ketua Himapka, ketua Pogram Studi Pendidikan Matematika dan Di buka langsung oleh kepala sekolah SMA NEGERI 1 NISAM. 

Kata Iryana Muhammad, “Lomba ini adalah lomba yang bagus dan dapat mendorong minat peserta belajar matematika dan lomba ini jangan hanya diadakan sekali ini saja tapi diadakan dalam agenda tahunan Himapka” jelas Ketua Program Studi Pendidikan Matematika. Lomba yang di buka oleh Kepala Sekolah SMA NEGERI 1 NISAM ini, mengatakan “Kagiatan Lomba ini sangat bagus untuk diikuti karena di Aceh Utara sendiri jarang sekali adanya lomba-lomba seeprti ini, sehingga dengan adanya lomba ini mereka dapat termotivasi belajar dan saling bersaing ilmu dengan sekolah-sekolah menengah atas di Aceh Utara” Ungkap Drs. Abu Bakar.

Acara ini dengan Tema “Penerus Bangsa, Cerdas dan Beretika” semoga menghasilkan peserta-peserta yang cinta akan matematika karena seperti kita ketahui, selama ini matematika bnayal di takuti pelajar karena kesulitannya” kata Muhammad Ichsan Abda sebagai Ketua Umum Himapka.

Lomba ini yang dilaksanakan Himapka dengan Ketua Pelaksana, Walida mengatakan cukup terjadio persaingan saat lomba berlangsung karena selain lomba berhitung dengan menegrjakan soal dalam waktu singkat, peserta juga bersaing dalam babak rebutan.

Lomba yang menjadi pemenang dari SMA NEGERI 1 MUARA BATU, Nanda Fajrina, juara 2 dan 3 dari SMA NEGERI 1 NISAM, Muhammad Khairul Abrar dan Rauzatul jannah ini dengan total hadiah 1 juta + Trophy dan Setifikat. Masing-masing 500.000,-, 300.000,- dan 200.000,- +Sertifikat dan Trophy.

Terimakasih juga disampaikan oleh ketua Umum Himapka atas kesediannya SMA NEGERI 1 NISAM menyelenggarakan acara Lomba ini dan kepada CV. SEFA BUMI PERSADA yang telah menyokong jalannya acara tersebut.(Rill)

Pidie Jaya - Tim Tanggap Darurat Bencana (TAGANA) Polres Lhokseumawe bangun barak korban gempa di gampong lhok puuk kec Pante Raja kab Pidie Jaya, sabtu 10/12/2016 pukul 09.00 wib

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman, SH, S.Ik, MH melalui Katim Tagana Polres Lhokseumawe IPTU Amir Husen menyampaikan saat ini kita bergotong royong melakukan pembangunan barak pengungsi korban gempa bekerja sama dengan masyarakat, bersama kita juga bergabung tim kesehatan kedokteran unimal, mereka bertugas melakukan pemeriksaaan kesehatan bagi warga korban gempa.

Ditambahkan, pembangunan barak ini merupakan hasil koordinasi dari instansi terkait, sesuai dengan kebutuhan masyarakat korban gempa." Ujar IPTU Amir Husen. (Red)

StatusAceh.Net - Gedung Sekolah Agama Islam Al-Aziziyah di Kompleks Pesantren Mudi Mesra Samalanga, Kabupaten Bireuen yang ambruk akibat gempa, Rabu subuh, 7 Desember 2016 lalu,   dalam satu atau dua hari mendatang akan dibersihkan. Pembersihan itu mengunakan alat berat. Sementara dokumen-dokumen yang masih tersisa sudah dipindahkan oleh para santri dayah.

Demikian disampaikan Pimpinan Pesantren Mudi Mesra Samalanga,  Tgk H Hasanoel Bashry atau yang akrab disapa Abu Mudi, Kamis malam 8 Desember 2016 pekan lalu di dayah tersebut. “Direktur Abad Jaya sudah berjanji dan meminta bantuan dari PT Trakindo Utama serta PT Mifa di Meulaboh untuk mengarahkan alat beratnya, membersihkan gedung yang telah roboh,” kata Abu Mudi.

Lanjutnya, untuk biaya operasional seperti kebutuhan bahan bakar alat berat yang akan dipergunakan itu serta biaya makan sopir beko ditanggung oleh pihak dayah. Gempa yang terjadi pada Rabu 7 Desember 2016, selain merubuhkan sejumlah bangunan di Pidie Jaya, juga bangunan di Pesantren Mudi Mesra Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Sementara Presiden Jokowi saat berkunjung ke Dayah itu Jumat 9 Desember 2016 menyebutkan, Pemerintah akan membangun kembali gedung itu. “Kita akan membangun kembali gedung itu, besok TNI akan membersihkannya kemudian langsung kita bangun kembali,” sebutnya.(Modusaceh.co)

Korban gempa bumi/ANTARA
ANAK-ANAK korban gempa bumi mengikuti kegiatan penyembuhan trauma di Pidie Jaya, Aceh, Jumat 9 Desember 2016. Kegiatan tersebut dilakukan untuk menghilangkan trauma anak-anak korban gempa di Pidie Jaya.*
StatusAceh.Net - Sekitar 43.000 korban gempa tektonik 6,5 skala richter di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh sudah menempati 45 posko pengungsian.

Kepala Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya Ridwan, di Meureudu, Sabtu 10 Desember 2016 mengatakan, para korban gempa tersebut tersebar di delapan kecamataan yakni Pante Raja, Bandar Dua, Bandar Baru, Jangka Buya, Tringgadeng, Meureudu, Bandar Baru, dan Ulee Glee.

Daerah terparah yang diguncang gempa bumi pada Rabu 7 Desember 2016 adalah Kecamatan Pante Raja, Bandar Dua, Tringgadeng, Meureudu, Bandar Baru, dan Alee Glee.

"Jumlah korban meninggal saat itu yang sudah terindentifikasi 92 orang dan yang belum teridentifikasi ada 8 orang," kata Ridwan seperti dilaporkan Antara.

Saat ini, tim evakuasi dari Basarnas, BNPB, TNI, Polri, dan unsur masyarawat masih mencari korban yang diduga masih tertimbun rereruntuhan bagunan. Tim medis yang terdiri atas unsur dokter dan TNI memeriksa sejumlah korban gempa yang masih berdatangan ke posko kesehatan di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pidie Jaya dan halamana Kantor Bupati setempat.

Saat ini, upaya pencarian korban yang dilakukan Basarnas terus dilakukan dengan menggunakan alat berat.

"Untuk hari ini, menurut Basarnas, pencarian akan dilakukan di tiga kecamatan," katanya.

Sebelumnya, untuk lima kecamatan yang telah dilakukan proses evakuasi korban tertimpa bangunan, secara teknis sesuai pernyataan Basarnas sudah ditemukan.

Ia juga menyebutkan, jumlah korban luka berat dan ringan akibat gempa tersebut mencapai 565 orang yang saat ini dirujuk ke RSUD Bireun, RSUD Sigli, RSUD Pidie Jaya, dan RSUD Banda Aceh. Mereka harus dirujuk ke empat rumah sakit tersebut untuk menjalani perawatan.(pikiran-rakyat.com)

Foto: Rahma menunjukkan foto pernikahannya dengan suami (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Rahmawati duduk terdiam di bawah tenda pengungsi warna biru tak jauh dari rumahnya. Matanya sembab. Nada bicara perempuan berusia 35 tahun ini pelan dan nyaris tak terdengar.

Rahma merupakan salah satu korban selamat saat gempa 6,5 skala richter (SR) mengguncang Aceh, Rabu (7/12) lalu. Dia bertahan sekitar lima jam di bawah reruntuhan rumahnya sebelum akhirnya ditolong warga.

"Jam 10.00 WIB saya baru bisa keluar, ditolong sama warga," kata Rahma saat ditemui di lokasi pengungsi sekitar 50 meter dari rumahnya di Desa Kuta Pangwa Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh, Jumat (9/12/2016).

Kala gempa mengguncang Aceh pada Rabu (7/12) lalu, Rahma beserta suami dan dua anaknya masih tertidur. Suaminya Nazaruddin (45) berusaha membuka pintu kamar begitu bumi bergoyang. Tiba-tiba, brukk! bangunan rumah mereka ambruk. Keempatnya pun tertimbun reruntuhan.

Suasana mencekam. Suara minta tolong dan teriakan terdengar di mana-mana. Orang saat itu masing-masing menyelamatkan keluarganya. Belum terpikirkan menolong orang lain, termasuk Rahma dan keluarganya.

Di Desa Pangwa, hampir 90 persen rumah rusak. Sebagian roboh dan menimpa penghuninya. Saling bantu membantu baru dilakukan warga setelah keluarga masing-masing selesai dievakuasi. Untuk Rahma dan keluarganya, pertolongan datang beberapa jam kemudian.

Setelah lima jam bertahan di bawah reruntuhan sejak gempa sekitar pukul 05.03 WIB, Rahma berhasil dikeluarkan. Sementara suami dan dua anaknya Hani (8) dan Hayan Fayad (4,5) berhasil dievakuasi beberapa saat kemudian. Sayangnya ketiganya sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

"Suami saya berhasil diambil (evakuasi-red) setelah pakai alat berat," jelasnya.

Rahma kini tinggal bersama anak sulungnya, Aura (10). Pada malam musibah itu, Aura tidur di rumah saudara. Meski demikian, Rahma tidak putus asa dan bertekad untuk melanjutkan hidup.

"Sekarang saya bertahan hidup untuk dia (Aura)," ungkap Rahma.

Sejak gempa kemarin, Rahma memilih tidur di bawah tenda yang dibangun beberapa warga tak jauh dari rumahnya. Kepala Desa Pangwa, Marthonis, mengatakan, warga di sana rata-rata membangun tenda di depan rumah masing-masing sebagai tempat mengungsi. Warga tidak berani tidur di rumah karena kondisinya retak dan sebagaian besar hancur.

"90 persen rumah warga di sini rusak. Retak-retak tidak berani ditempati lagi," kata Marthonis. (detik.com)

Militer Filipina terlibat bentrokan bersenjata dengan militan Abu Sayyaf di selatan negara itu. Foto/Istimewa
StatusAceh.Net - Pasukan pemerintah Filipina terlibat bentrokan dengan militan Abu Sayyaf di sebelah selatan negara itu. Sedikitnya 3 orang tewas, termasuk seorang tentara dan dua militan serta melukai 6 orang.

Pertempuran meletus ketika pasukan dari Yonif 21 bentrok dengan faksi gabungan dari 3 pemimpin Abu Sayyaf di desa Panglayahan, kota Patikul di provinsi Sulu. Wilayah ini dikenal menjadi wilayah basis militan yang diyakini memiliki kaitan dengan Jemaah Islamiyah (JI) dan Negara Islam (IS).

Juru bicara Komando Mindanao Barat (Westmincom) , Filemon Tan mengatakan pertempuran berlangsung selama 30 menit dimana tentara Filipina berjuang menghadapi sekitar 150 militan. Tan mengatakan kelompok Abu Sayyaf mundur setelah mereka menderita korban berat, termasuk dua orang tewas dan enam luka.

Ia mengatakan tentara pemerintah merebut daerah pelabuhan yang ditinggalkan oleh kelompok Abu Sayyaf dan juga menyita senapan sniper M14 dari militan seperti dikutip dari Xinhua, Jumat (9/12/2016).

Militer mengatakan militan Abu Sayyaf dilaporkan menawan setidaknya 23 sandera, termasuk warga Belanda, Jerman, Malaysia, Indonesia dan Vietnam. Tapi Tan mengatakan tidak ada laporan keberadaan dari sandera yang ditahan oleh kelompok Abu Sayyaf.(Sindonews)

Satuan Narkoba Polresta Barelang dan Bea Cukai Batam menyita 26,433 Kilogram sabu-sabu milik jaringan narkoba internasional yang disimpan dalam lukisan. Foto/KORAN SINDO/Teguh
BATAM - Satuan Narkoba Polresta Barelang dan Bea Cukai Batam menyita 26,433 Kilogram sabu-sabu milik jaringan narkoba internasional. Sebanyak 26,433 kg sabu-sabu asal China tersebut disimpan di balik dua lukisan.

Menurut Kapolda Kepri Brigjend Pol Sam Budigusdian, penangkapan pelaku setelah dilakukan kerjasama dengan Bea dan Cukai. "Bea Cukai mencurigai dua lukisan asal China yang tiba dari Singapura pada Rabu 30 November lalu langsung berkoordinasi dengan Sat Narkoba Polresta Barelang," ujarnya.

Lalu sekitar pukul 11.00 WIB, kata Kapolda, anggota Sat Narkoba Polresta Barelang bersama petugas Bea dan Cukai melakukan pengecekan lukisan dan kecurigaan tersebut benar, karena dibalik lukisan itu terlihat ada narkoba. "Lalu kita melakukan control delivery ke Jakarta bersama pemilik ekspedisi berinisial Yf," katanya.

Sesampainya di Jakarta, Yf akhirnya menghubungi anaknya berinisial An. Lalu, bersama orang suruhan An berinisial Ts membawa lukisan ke alamat pengantaran barang di PT Weisheng Jaya Indonesia Jalan Tiang Bendera pada Kamis 1 Desember.

Lalu, dari kantor pengiriman jasa barang tersebut menghubungi penerima barang Raden Novi dan barang tersebut diantar ke alamat Raden Novi (31) yang beralamat di Jalan Adipati Unus RT 03 RW 011 No 18 Perumahan Duta Asri 5 Cibodas, Tangerang. "Raden Novi kita tangkap saat menerima barang di rumahnya," katanya.

Penangkapan Raden, sambung Sam, sekitar pukul 11.00 WIB dan pemilik barang Mike Lin alias Jackie menelpon Raden sekitar pukul 16.00 WIB untuk memastikan barang. Lalu, arahan Jackie kepada Raden untuk menemui Hung Cheng Ning alias Tony Lee (46) di Bandara.

Namun, sampai di Bandara Tony tidak ditemukan melainkan Tony langsung menuju rumah Raden. "Saat Tony masuk ke rumah Raden, Tony langsung kita tangkap karena ada anggota di dalam rumah Raden," ujar Sam.

Setelah Raden dan Tony ditangkap, keduanya langsung dibawa ke Batam beserta barang bukti dua lukisan yang berisi sabu-sabu puluhan kilogram. Namun, di dalam rumah Raden ditemukan satu lukisan yang sudah terbongkar dan diduga sama dengan dua paket yang diamankan.

"Selain mengamankan dua pelaku, kita juga mengamankan satu lukisan yang diduga sudah beredar di Indonesia," katanya.

Didalam satu lukisan Bunda Maria yang sedang berdoa dengan kode Yc, dibalik lukisan ditemukan 31 kotak kecil sabu-sabu yang dibalut almunium foil seberat 13,062 gram.

Sementara dibalik lukisan Bunda Maria sedang menggendong anak bayi, ditemukan 33 kotak kecil sabu-sabu yang dibalut almunium foil seberat 13.631 gram.

"Jika dirupiahkan puluhan kilogram sabu-sabu ini sekitar Rp27 milar dan kita berhasil menyelamatkan 140 ribu orang," ujarnya.

Sam menegaskan, pengungkapan ini bukti keseriusan untuk memberantas peredaran narkoba di Indonesia. Tetapi, kedepan jajarannya dengan instansi terkait terutama Bea dan Cukai akan terus bekerja sama menghentikan peredaran narkoba.

"Tetapi jaringan narkoba selalu mencari kelemahan petugas, tetapi kali ini kita tidak mau kebobolan meskipun dua kali pengiriman mereka berhasil," katanya.

Penangkapan ini, Sam menduga, jaringan narkoba internasional mengambil momen Natal sehingga lukisan yang menyimpan narkoba ini adalah lukisan Bunda Maria.

Namun, untuk mengungkap jaringan ini ia akan bekerjasama dengan BNN. "Karena yang mengendalikan barang ini adalah jaringan Lapas Cipinang, diduga lukisan yang sudah dibongkar diedarkan di Jakarta," ujarnya.

Kapolda beranggapan, barang tersebut masuk ke Batam karena dianggap jaringan narkoba internasional di Bandara Batam bebas karena memiliki fasilitas FTZ. Tetapi, anggapan jaringan tersebut tidak seperti yang dipikirkan.

"Polri sudah bekerjasama dengan Bea dan Cukai untuk memberantas narkoba, jadi tidak ada bandara yang aman di Indonesia untuk memasukan narkoba," ujarnya. (sindonews)

BANDA ACEH - Musibah gempa bumi dengan kekuatan 6,5 SR yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (7/12/2016) telah menyisakan duka yang mendalam. 

Sebelumnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh telah mengagendakan kegiatan Aceh Surfing Festival (ASF) 2016 yang direncanakan berlangsung Sabtu dan Minggu (10-11/12/2016) di Pantai Kuala Cut Lampuuk, Aceh Besar.

"Suasana duka masih menyelimuti saudara-saudara kita di Pidie Jaya, jadi kita minta panita surfing juga mengundurkan waktu sekitar seminggu untuk agenda ini. Kita berharap panita juga dapat mengajak pengunjung acara nanti ikut serta menggalang dana sebagai salah satu agenda acara," sebut Kadisbudpar Aceh, Reza Fahlevi.

Kegiatan sport tourism ASF 2016 yang mengangkat tema “Challenge the Waves and Enjoy Culture” menurut sekretaris pelaksana, Nasrul dipastikan akan diundur beberapa hari dari jadwal sebelumnya, yakni pada tanggal 14-15 Desember.

"Aceh Surfing Festival 2016 resmi kita undur yang sebelumnya dijadwalkan 10-11 Desember, kita geser sekitar empat hari dan dipastikan akan berlangsung pada hari Rabu dan Kamis, 14 dan 15 Desember," jelasnya.

Selain suasana berkabung pascagempa Pidie Jaya, Nasrul juga menjelaskan menurut akurasi dari laman magicseaweed.com ombak pantai Kuala Cut pada tanggal 14-15 Desember sangat bagus untuk peserta kompetisi surfing.

"Dari laman tersebut kita dapatkan akurasi sekitar 75 persen ombak sangat mendukung, khususnya bagi surfer yang ikut serta dalam kompetisi baik untuk kelas open dan grommet yang hingga kini sudah 32 peserta yang ikut mendaftar yang memperebutkan hadiah belasan juta rupiah, trophy, tiket pesawat, dan doorprize yang telah dipersiapkan panitia," jelasnya.

Agenda Seni Turut Diundur
Tidak hanya ASF 2016, beberapa agenda yang akan digelar oleh Disbudpar Aceh lainnya juga diundur.

Seperti pagelaran seni eksibisi dan malam apresiasi seni yang sebelumnya dijadwalkan 9-12 Desember juga ikut diundur menjadi tanggal 16-19 Desember mendatang yang akan digelar di Taman Budaya Aceh.

"Agenda pagelaran seni sebelumnya sudah kita jadwalkan 9-12 Desember, jadi karena musibah gempa yang melanda Pidie Jaya juga kita undurkan menjadi 16-19 Desember yang nantinya sekaligus dengan acara penyerahan sertifikat warisan budaya tak benda Indonesia 2016," sebut Kepala UPTD Taman Seni dan Budaya, Suburhan Pagan.

Pada malam yang sama juga, sebut Suburhan, panitia acara juga akan menggelar penggalangan dana untuk Pidie Jaya yang bekerjasa sama dengan Dewan Kesenian Aceh (DKA).

Pidie - Gempa 6,5 SR yang mengguncang Pidie Raya, Aceh, Rabu (7/12), membuat Muridillah alias Agam (14) menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya yang tengah mengandung, serta dua adiknya meninggal dalam peristiwa itu.

Liburan natal Pergi.com bagi2 diskon Rp 100,000Subuh sekitar pukul 05.03 WIB, Agam dikejutkan dengan guncangan keras yang membuatnya terbangun dari tidur. Rumah keluarganya di Kuta Gelumpang, Desa Teupin Perahu, Meureudu, rubuh. Remaja ini terkurung di reruntuhan, kakinya pun terjepit. Dia menangis.

Sebelum kejadian itu, Agam terlelap di lantai dua. Sementara anggota keluarganya yang lain tidur di lantai satu. M Nur alias Buyung (46) bersama istrinya, Siti Sahrum alias Kak Yung (40), beserta dua putri mereka, Intan Novita Sari yang masih duduk di bangku SD, dan Nurhazizah yang masih TK, tidur dalam satu kamar.

Setelah rumah mereka runtuh, tak terdengar suara manusia dari lantai satu, kecuali suara alarm Toyota Harier yang juga tertimpa beton di garasi. Kendaraan itu bahkan terus "menjerit" hingga pukul 09.00 WIB.

Ketika gempa mengguncang, kerabat dan tetangga sekitar berhamburan ke luar rumah. Begitu pula dengan warga lain yang dikejutkan guncangan keras.

"Waktu kami keluar rumah, kami lihat rumah Buyung sudah runtuh," kata Nuzannah (45), sepupu Buyung. Mereka tinggal bersebelahan meski tak dempet dinding.

Saat masih kokoh berdiri, rumah keluarga Buyung berlantai dua. Bangunan yang ada di tepi Jalan Banda Aceh-Medan itu berdinding dan berlantai beton, begitu juga dengan atapnya.

Buyung merupakan kontraktor. Dia dikabarkan memiliki sejumlah alat berat, mobil dan belasan kapal kayu.

Saat mengetahui rumah Buyung runtuh, Nurzannah dan warga lainnya mendekat. Mereka mendengar Agam menangis dan menjerit. "Wak tolong. Agam di sini," jeritnya ketika itu.

Warga langsung bertindak. Mereka berusaha mencari asal suara. "Zikir terus Gam," kata Nurzannah berupaya menenangkannya.

Meski sudah tahu perkiraan posisinya, warga tak berdaya mengeluarkan Agam. Remaja yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP Negeri 2 Meureudu terperangkap.

Sekitar pukul 06.00 WIB, keluarganya akhirnya mendatangkan escavator milik warga yang terparkir di belakang gedung SMP Negeri 2 Meureudu. Sekolah ini juga bersebelahan dengan rumah keluarga Buyung.

Agam yang terperangkap sekitar 1 jam akhirnya bisa diselamatkan. Dia hanya mengalami luka kecil di bagian tangan dan kaki.

Sementara ayah, ibu dan adik-adiknya masih terperangkap. Tak ada suara, kecuali alarm mobil yang terus meraung dari reruntuhan gedung.

Sekitar pukul 08.30 WIB, Buyung dan Kak Yung bersama 2 putrinya ditemukan dan berhasil dievakuasi. Namun mereka sudah tidak bernyawa. "Jasadnya utuh," kata Nurdin Zakaria (54), warga sekitar yang mengaku ikut membantu evakuasi.

Jasad Buyung, Kak Yung yang dikabarkan tengah hamil, beserta Intan dan Nurhazizah, disemayamkan di rumah Nurzannah. "Malam dimakamkan karena menunggu keluarga istrinya yang datang dari Kota Tanjung Balai (Sumut)," jelas Isbah (22), kerabat dekat lainnya.

Jenazah kedua orangtua Agam dan adik-adiknya dimakamkan di Kuta Gelumpang, Desa Teupin Perahu, Meureudu. Mereka ditempatkan dalam satu liang kubur.

Agam yang yatim piatu pun tinggal seorang diri. Dia akan dirawat neneknya, Ti Aminah (70) yang tinggal tak jauh dari makam orangtuanya.

Saat ini Agam terkadang tampak ceria mengendarai sepeda motornya. Senyumnya bahkan masih tampak saat dia bersama kerabat dekatnya membongkar reruntuhan rumahnya menggunakan alat berat, Jumat (9/12) sore. Mereka ingin mengamankan barang dan berkas berharga dari rumah itu.

Tapi sekali waktu kesedihan Agam muncul. Dia sempat berkata pada temannya, "Buat apa punya harta tapi tak punya orangtua."(merdeka.com)

Ilustrasi
Bireuen - Tgk Amir, selaku teungku imuem (imam) Desa Meunasah Pulo, Peudada Bireuen, Rabu (7/12) sekira pukul 20.15 WIB, menemukan sesosok bayi laki-laki yang diletakkan dekat kulah (bak) air wudhuk Meunasah Desa Pulo, Peudada.

Kapolres Bireuen AKBP Heru Novianto SIK melalui Kapolsek Peudada, Iptu Hadriman S Sos, Kamis (8/12) mengatakan, bayi tersebut diperkirakan baru lahir enam jam sebelum ditemukan imam meunasah dalam keadaan hidup. Dan diletakkan di dekat bak air, dalam tas baju merek Aimako.

Temuan tak terduga itu langsung beritahukan Tgk Amir kepada perangkat desa dan kemudian melaporkan ke Polsek Peudada. Bayi  tersebut kemudian diambil serta dievakuasi ke Puskesmas Peudada untuk menjalani perawatan dan proses penyelidikan selanjutnya.  “Kami sudah memintai kerangan saksi yang menemukan dan sedang berusaha mencari tahu siapa pelaku atau orang tua yang tega membuang darah dagingnya,” kata Kapolsek.(Prohaba)

Samalanga - Dalam kunjungannya ke Aceh pada hari Jum'at (09/12/2016), Presiden RI Joko Widodo menyempatkan hadir ke Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk meninjau dampak yang ditimbulkan oleh gempa pada hari Rabu (07/12/2016) kemarin.

Setelah melakukan lawatan ke wilayah pusat gempat di Pidie Jaya, Bapak Presiden tiba di Dayah MUDI menjelang shalat Jum'at pada pukul 12.30 WIB. Dalam waktu yang singkat selama lebih kurang 10 menit, Presiden Jokowi menyempatkan untuk meninjau keadaan Mesjid Poe Teumeureuhom yang kubah nya roboh pada gempa Rabu kemarin serta gedung kampus utama Insitut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah.

Berbicara di depan wartawan dengan didampingi oleh Abu Mudi serta Wadir II, Aba Sayed, Presiden Jokowi berjanji akan menanggulangi kerusakan yang diakibatkan gempa ini hingga selesai.

"Mulai besok akan segera dibersihkan dan (renovasi) akan dikerjakan oleh pemerintah," ujar Presiden Joko Widodo kepada wartawan.

Total jumlah korban luka-luka akibat bencana gempa bumi di Dayah MUDI mencapai 107 orang yang terdiri dari santri dan juga dewan guru dengan 6 di antaranya mengalami luka berat. Tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.(mudimesra.com)

15 korban tewas gempa di baringkan di atas sajadah dan tiker di sebuah tenda yang didirikan di Desa Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Rabu (7/12). Foto oleh Habil/Rappler
Pidie Jaya - Sebuah ambulans melesat menuju gerbang masuk Meunasah atau Madrasah Kuta Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Rabu sore, 7 Desember 2016.

Lampu sirine yang berkedap-kedip seolah berteriak meminta jalan kepada kerumunan warga di lapangan meunasah. Ambulans tersebut membawa satu lagi korban tewas akibat gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu pagi.

Di halaman meunasah, ambulans itu berhenti. Beberapa petugas bergegas mengeluarkan sesosok tubuh yang tak lagi bernyawa ke dalam tenda kemudian membaringkannya di sana, di atas hamparan sajadah dan tikar.

Jenazah tersebut adalah korban ke-15 yang ‘datang’ ke Meunasah Desa Kuta Pangwa. Ia dibaringkan berjejer dengan 14 korban tewas lain. Tubuh mereka ditutupi kain.

Sejumlah warga tampak memadati tenda. Para ibu dan anak-anak menangis. Tampak pula seorang ibu duduk di samping jasad suaminya sambil melantunkan Surat Yaasin.

Ibu itu tak bisa lagi membendung air mata ketika melihat jasad suaminya bersama 14 jasad lain mulai dimandikan. Tak ada kata-kata keluar darinya. Hanya hafalan ayat suci yang lamat-lamat terdengar dari bibirnya.

Seorang warga menuturkan, saat gempa terjadi, ibu tersebut sedang berada di rumah bersama suaminya. Ia selamat karena hanya terjebak runtuhan dinding, sementara suaminya tewas tertimbun.

“Ke-15 korban ini berasal dari 9 kepala keluarga. Semuanya tertimbun di bawah reruntuhan rumah,” kata Sekretaris Desa Kuta Pangwa, Zulkifli, kepada Rappler, Rabu sore 7 Desember 2016.

Zulkifli sendiri bersama keluarganya menjadi korban gempa. Saat gempa datang, kata Zulkifili, ia sedang berbaring di tempat tidur menunggu azan subuh. Saat hendak mengambil wudu, tiba-tiba datang goncangan sangat keras.

Tubuhnya terhentak dan seluruh dinding rumahnya mendadak ambruk. Satu balok rumah tersebut jatuh menimpa kedua kakinya. “Saat itu saya berusaha keras mengangkat balok itu bersama barang timbunan lainnya. Alhamdulillah, dalam waktu 10 menit saya bisa lekas berdiri, bahkan berlari," ujar Zulkifli.

Ia bersyukur karena tak ada keluarganya yang tewas dalam insiden mengerikan ini. “Karena kami tidak terkena langsung reruntuhan rumah,” katanya.

Pembicaraan Rappler dengan Zulkifli terputus ketika seseorang memanggilnya, memberitahukan kuburan massal yang telah disiapkan. Zulkifli pun langsung bergegas menuju liang lahat yang dipersiapkan untuk memakamkan 15 korban gempa yang baru saja dimandikan. Sumber: Rappler.com

Pidie - Mendikbud Muhadjir Effendy menyambangi bangunan sekolah yang roboh akibat gempa 6,5 SR yang mengguncang Pidie Jaya, Aceh. Muhadjir pertama kali mendatangi SMK Negeri Bandar Baru yang terletak di Kabupten Pidie Jaya.

Menurut keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (9/12/2016) Muhadjir yang didampingi oleh Sekjen Kemdikbud Didik Suhardi berkeliling kelas sekolah tersebut. Sebagian besar ruang kelas itu mengalami retak.

Ada 2 laboratorium yang kini rata dengan tanah. Laboratorium yang biasa digunakan untuk praktik bongkar motor biasa dipakai menginap oleh siswa. Beruntung, pada saat kejadian gempa tak ada siswa yang menginap.

Muhadjir dan rombongan kemudian mengunjungi SDN Peulandok dan SDN Masjid Tringgandeng. Kedua bengunan sekolah itu masih utuh, namun bagian dalamnya telah rapuh.

Muhadjir kemudian berkunjung ke rumah duka seorang guru SDN 1 Tringgandeng, Sakdiyah. Almarhumah meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan rumahnya bersama suami dan anaknya.

Sakdiyah meninggalkan seorang anak bungsu. Suami dan anak sulung Sakdiyah juga meninggal dunia akibat peristiwa itu. Muhadjir kemudian memberikan santunan tunai untuk anak bungsu Sakdiyah. (detik.com)

 Presiden Joko Widodo saat menjenguk korban gempa Aceh di RSUD Teungku Chik Ditiro, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, (Foto: Kompas.com)
Banda Aceh –  Presiden Presiden Joko Widodo membesuk korban gempa bumi Aceh, di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, Kamis (08/12/2016) malam. Presiden Jokowi datang ke rumah sakit sekira pukul 20.00 WIB, didampingi Plt. Gubernur Soedarmo serta Panglima TNI, Gatot Nurmantio. 

Jokowi menyebutkan, penanganan pasien di rumah sakit pemerintah tersebut telah dilakukan maksimal. Dari data yang diperoleh, kata Jokowi, sebanyak 23 korban mendapatkan perawatan di rumah sakit Zainoel Abidin.

Selain menjenguk pasien, Presiden Jokowi juga menyerahkan santunan kepada korban yang dirawat di sana.

“Dari total yang dirawat di sini, delapan di antaranya telah dioperasi. Yang lain akan segera ditangani juga,” ujar Jokowi. Jumat (09/12/2016) besok, Presiden Jokowi diagendakan untuk  berkunjung langsung ke lokasi terparah gempa bumi, yaitu di Pidie Jaya. Jokowi ingin memastikan langsung semua kebutuhan pengungsi tercukupi.

Jokowi menambahkan, proses evakuasi korban di lapangan juga hampir rampung. Untuk seterusnya, ia meminta semua pihak yang terlibat sebagai tim tanggap darurat bisa fokus pada pemulihan kondisi.

“Saya akan lihat langsung proses reevakusi di lapangan besok. Untuk sementara yang terpenting adalah proses evakuasi telah hampir selesai yaitu mencapai 99 persen,” ujar Jokowi. [Rill]

Mendagri Tjahjo Kumolo Tiba di Lokasi Gempa Pidie Jaya (foto:tribunnews.com)
Pidie Jaya – Menteri Dalam Negeri, Tjahyo Kumolo, memerintahkan seluruh jajaran pemerintahan kabupaten yang terdampak gempa untuk tetap menyelenggarakan pemerintahan seperti biasa, sehingga masyarakat yang membutuhkan tetap mendapatkan pelayanan.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Mendagri, di Rumah Dinas Wakil Bupati Pidie Jaya, usai meninjau sejumlah lokasi terdampak gempa dan sejumlah posko pengungsian bersama Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Mayjen (Purn) TNI Soedarmo dan .

"Sesuai dengan perintah Bapak Presiden, sSaya kesini untuk memastikan  sistem pemerintahan di Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen tetap berjalan. Walaupun ada masa tenggang 14 hari, namun sistem piket harus tetap berjalan, agar tata kelola pemerintahannya jalan, pelayanan terhadap masyarakat yang membutuhkan berbagai hal tetap berjalan," tegas Tjahyo.

Meski memaklumi kondisi gedung gedung pemerintahan Kabupaten Pidie Jaya dan beberapa kantor kecamatan juga mengalami kerusakan parah, namun Mendagri tetap mengingatkan agar segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan harus tetap jalan.

"Saya juga sudah meminta Pemkab Pidie Jaya agar mengerahkan jajarannya untuk menginventarisir kerusakan. Seluruh jajaran pemkab, mulai dari Satpol PP, Dinas Sosial dan lain sebagainya untuk untuk membuka pos –pos pelayanan masyarakat. Teruslah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan dan semua instansi terkait termasuk TNI dan seluruh jajarannya. Dengan sinergi antar lembaga ini, kita harapkan penangan mendesak bagi korban dapat sesegera mungkin teratasi," tambah Tjahyo.

"Ini musibah kita bersama, kita cukup prihatin.  Aceh merupakan daerah rawan bencana, maka kita minta kepada gubernur yang saat ini sedang melakukan pembahasan anggaran belanja Aceh bersama pihak legislatif, maka saya himbau untuk memasukkan dan menambah dana taktis untuk menghadapi bencana. Sehingga kita menjadi tanggap saat bencana melanda," sambung Mendagri.

‎Mendagri juga menjabarkan, saat ini Kementerian Sosial telah mengirimkan bantuan, TNI juga sudah mengerahkan pasukannya termasuk 24 orang dokter TNI dan ratusan perawat, Kemenkes juga sudah hadir di Pidie Jaya.

"Pak Teten Masduki Staf Khusus Presiden juga sudah mengkoordinir dan membagi tugas Menteri-menteri yang telah hadir di sini, untuk persiapan peninjauan oleh Presiden besok (Jum'at, 9/11)," pungkas Tjahyo Kumolo.

Saat ini, Rumah Sakit Lapangan TNI telah didirikan di Posko Utama BPBA yang berada di Halaman Depan Kantor Bupati Pidie Jaya.

Sore ini Presiden Joko Widodo telah berada di Banda Aceh. Besok pagi, Presiden didampingi Gubernur Aceh akan bertolak ke Pidie Jaya, untuk meninjau situasi terkini Pidie Jaya pasca gempa. (Rill)

Pidie Jaya - Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta sejumlah rombongan menteri tiba di Aceh untuk meninjau langsung penanganan bencana gempa di Pidie Jaya dan Bireuen.

Jokowi tiba dengan menggunakan pesawat kepresidenan RI-1 di Bandara Lanud Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang pada jam 5.30 sore, Kamis (8/12).

Turut mendampingi Jokowi Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Panglima TNI Gatot Nurmayanto, Kapolri Tito Karnavian, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono serta sejumlah pejabat kementerian terkait.

Sejurus setelah mendarat, Jokowi berserta rombongan menuju ke Hotel Hermes Palace untuk memimpin rapat terbatas mengenai penanganan bencana gempa di Aceh bersama Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki. 

Dalam rapat tersebut, Jokowi menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses penanganan darurat kepada para korban gempa, termasuk bantuan kepada para korban yang mengalami luka ringan dan luka berat serta ahli para korban yang meninggal dunia. 

Jokowi juga menyebutkan pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan kembali rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa di Pidie Jaya dan Bireuen. Selanjutnya, Jokowi meninjau para korban gempa yang dirawat di Rumah Sakit Umum dr. Zainal Abidin. (Rill)

Lhokseumawe - WH (Wilayatul Hisbah) Kota Lhokseumawe, laksanakan Razia busana dengan melibatkan tim gabungan dari pihak TNI/Polri dalam rangka penegakkan Qanun Aceh, yang bertempat di jalan Merdeka Barat depan Taman Riyaddah Desa Kuta Blang Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Jumat tanggal 09 Desember 2016 sekira pukul 10.00 WIB pagi tadi.
 
Dalam razia busana muslim ikut hadir:
1. Kasat Pol PP dan WH Kota Lhokseumawe an. Irsyadi
2. Sekretaris Sat Pol PP WH Kota Lhokseumawe an. Mahlil S.Pd.
3. Kabid Sat Pol PP Kota Lhokseumawe an. Sulaiman ST.
4. KBO Bimas Polres Lhokseumawe an. IPDA H. Mawardi
5. Kasi Satpol PP Kota Lhokseumawe Samsul Bahri S.Sos.

Dalam razia busana muslim melibatkan LK 50 orang di antaranya:
1. 3 orang personil Sat Bimas Polres Lhokseumawe
2. 2 orang personil Dan Lanal Lhokseumawe
3. 2 orang personil PM TNI-AD
4. 30 orang personil WH
5. 10 orang personil Sat Pol PP

Jenis pelanggaran Qanun syariat islam yaitu:
1. Qanun nomor 11 tahun 2002 tentang pelaksanaan Syariat Islam, Akidah, dan Ibadah
2. Qanun nomor 06 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat yang berlaku di Provinsi Aceh
3. Seruan bersama nomor 02 tahun 2013 tentang larangan duduk ngangkang bagi pengguna kereta

Dalam Razia busana muslim tersebut bagi pelanggar pria maupun wanita yang tidak memakai jelbab, baju ketat, celana ketet, celana pendek atau ponggol akan di pakaikan kain sarung dan jelbab bagi wanita oleh WH

Jumlah pelanggaran 90 orang
1. Pria 30 orang
2. Wanita 60 orang

Sehingga pelaksanaan Razia busana muslim tersebut berakhir pada pukul 11.00 Wib. (Red)

tugu kota Lhokseumawe
LHOKSEUMAWE - Sebagian besar masyarakat  menilai kinerja Kepala BPBD Kota Lhokseumawe Nofendi tidak profesional dan mandul,  lantaran selama ini  selain sulit ditemui juga tidak pernah melayani komunikasi terbuka dengan publik hingga non aktifkan nomor kontaknya. 

Sampai hari ini, banyak kalangan menyesalkan kinerja Kepala BPBD Lhokseumawe Nofendi yang terkesan enggan menjalani hubungan komunikasi dengan berbagai kalangan masyarakat terkait kepentingan umum  dan kejadian musibah tak terduga. 

Hal ini juga seperti diungkapkan Kabag Humas Pemko Lhokseumawe Muslem media ini, Kamis (8/12) kemaerin, menyatakan dirinya memiliki dua nomor kontak Kepala BPBD Nofendi, namun ironisnya tak satu pun yang aktif  untuk dihubungi. 

Bahkan selama ini pihak Humas sendiri juga mengaku kesulitan menjalin komunikasi dengan oknum pejabat tersebut  yang terkesan menghindari pertemuan dan bersifat sangat tertutup. 

“ Nomor kontak yang ada sama saya juga sulit dihubungi. 
Pokoknya kalau Pak Nofendi memang orang yang paling payah berkomunikasi. Makanya saya nyaris tidak pernah berkomunikasi dengannya, “ tandas Kabag Humas. 

Kondisi miss komunikasi yang ditonjolkan Kepala BPBD Nofendi itu juga turut dirasakan oleh berbagai kalangan wartawan dari berbagai media massa yang umumnya selalu gagal melakukan konfirmasi berita seputar kegiatan penanggulangan bencana seperti salah satunya adalah musibah kebakaran dan lain-lainnya. 

Salah seorang wartawan media cetak terbitan Medan Nouval kepada Media ini mengatakan dirinya bersama sejumlah rekan pers lainnya tidak pernah berhasil melakukan konfirmasi berita tertentu dengan oknum pejabat tersebut. 

Tidak hanya itu, ketika mendatangi Kantor BPBD  di Desa Alue Awe Kecamatan Muara Dua  juga sering tidak masuk  dinas. Demikian juga gagal dikonfirmasi via telepon selulernya yang tidak pernah aktif dan sering berganti nomor kontak yang tidak jelas. 

Nouval menjelaskan bila kinerja buruk oknum Kepala BPBD Nofendi masih dipertahankan, maka sangat dikhawatirkan bila suatu ketika terjadi musibah tertentu, maka masyarakat akan merasa kesulitan berkomunikasi dengan pihak BPBD tersebut yang bertanggung jawab untuk penanggulangan tanggap darurat. 

“  Saya dan teman-teman pers lainnya, selalu mengalami kendala yang sama karena selalu gagal melakukan konfirmasi dengan Kepala BPBD Nofendi. Kita datang ke kantor, tidak pernah bisa jumpa, dihubungi lewat telepon selulernya juga tidak menyambung dan nomor kontaknya tidak jelas,” terangnya. 

Mantan BEM Universitas Malikussaleh Teuku Andi Rahman mengatakan seharusnya Badan nasional Penanggulangan Bencana memiliki pejabat yang berani bertemu dengan semua orang dan melayani komunikasi masyarakat karena untuk kepentingan tugas Kemanusiaan. 

Sehingga dirinya juga sangat menyesalkan kinerja buruk oknum Kepala BPBD Lhokseumawe Nofendi yang memiliki karakter tertutup dengan masyarakat. 

“  BPBD harus juga harus transparan dalam menyampaikan informasi seputar tanggung jawabnya dalam kegiatan penanggulangan bencana kepada masyarakat. Maka nomor kontaknya harus jelas dan aktif 24 jam, bayangkan kalau kesulitan ini berlanjut sampai bila bencana terjadi secara tidak diduga,” cetusnya. 

Pasca terjadi gempa di Pidie Jaya,  seharusnya masyarakat dapat mengakses berbagai informasi perkembangan diwilayah kerja masing-masing. Karena masyarakat berhak mendapatkan informasi dan pelayanan BPBD Kota Lhokseumawe. (ZA/SA).

LHOKSEUMAWE-  Gempa berskala 6,5 richter yang terjadi di Pidie Jaya telah menjadi perhatian berbagai pemerintahan kabupaten/kota di Aceh,salahsatunya adalah Pemerintahan Kota (Pemko) Lhokseumawe. 

Sejumlah instansi dijajaran Pemko Lhokseumawe telah mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa sembako dan kain sarung untuk para korban gempa bumi di Pidie Jaya dan sekitarnya. 

Rombongan Pemko Lhokseumawe telah menyalurkan sejumlah bantuan kemanusiaan untuk meringankan beban penderitaan masyarakat yang menjadi korban gempa bumi. 

Kabag Humas Pemko Lhokseumawe Muslem mengatakan rombongan pengantar bantuan itu dikoordinir oleh Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Lhokseumawe yang akan singgah di kawasan Meurdu yang merupakan daerah terparah terkena imbas gempa bumi berkekuatan 6, 5 skala richter. 

Muslem menjelaskan penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Pemko Lhokseumawe terhadap para korban yang mengalami musibah dan akan terus berupaya meringankan beban penderitaan korban. 

“ Kami rombongan Pemko Lhokseumawe, Dinas Sosial dan BPBD telah tiba di daerah Merdu untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Kegiatan sosial Ini adalah wujud kepedulian kita terhadap saudara – saudara yang sedang tertimpa musibah,” paparnya. 

Sementara itu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kota Lhokseumawe Nofendi mengatakan bantuan sembako yang disalurkan adalah 100 kardus Mie Instan, 100 papan telur, 60 sak beras, 100 liter minyak goreng dan 60 helai kain sarung. 

Disebutkannya, selain itu bantuan lainnya juga akan disalurkan oleh DInas Sosial, relawan kemanusiaan, Tagana, yang juga mengantarkan titipan bantuan dari sejumlah kantor lain seperti  pihak BPJS. 

Namun sayangnya, Waspada belum mengetahui rincian bantuan yang diantarkan rombongan Pemko Lhokseumawe, lantaran Kadis Sosial Syuib gagal dikonfirmasi dan tidak mengangkat telepon selulernya. (ZA/SA)

Jakarta - Sempat dihukum seumur hidup, WN Nigeria Ikechukwu Vitus Ekperechukwu akhirnya dijatuhi hukuman mati. Vitus beserta dua rekannya yaitu Karyati dan Lianah terbukti mengedarkan 44 kg sabu di Jakarta.

Kasus ini bermula saat Vitus mendapat perintah dari seseorang bernama Ekbere (DPO) di Johar Baru, Jakpus pada Juni 2015. Vitus kemudian meminta Lianah untuk mencari kendaraan. Selanjutnya, keduanya disuruh menuju Taman Palem, Cengkareng, Jakbar untuk mengambil sabu seberat 44 kg. Sedangkan peran Karyati adalah mengatur keuangan.

Pergerakan mereka terendus polisi. Komplotan itu lalu melarikan diri. Tapi pelarian itu terhenti karena petugas Polda Metro Jaya sudah membuntuti kartel tersebut. Vitus ditangkap di kosannya dan dua rekannya ditangkap di tempat terpisah.

Pada 29 Maret 2016, PN Jakpus menjatuhkan hukuman seumur hidup bagi Vitus. Hukuman itu tidak sesuai dengan tuntutan mati yang diajukan jaksa sehingga jaksa mengajukan banding.

Permohonan banding dikabulkan Pengadilan Tinggi Jakarta pada 8 Juni 2016. Majelis hakim yang terdiri dari Sutarto, Syamsul Bahri Borut dan Sri Anggarwati mencoret hukuman seumur hidup dan mengubahnya menjadi hukuman mati.

Mengetahui hukuman mati di depan mata, nyali Vitus ciut dan buru-buru mengajukan kasasi. Tapi apa kata MA?

"Menolak permohonan kasasi Ikechukwu Vitus Ekperechukwu," kata majelis kasasi sebagaimana dilansir website MA, Jumat (9/12/2016).

Duduk sebagai ketua majelis Artidjo Alkostar dengan anggota Prof Dr Surya Jaya dan Sri Murwahyuni. Putusan yang mengantongi nomor perkara 2051 K/PID.SUS/2016 itu diketok pada 29 November 2016 lalu.(detik)

Para warga komunitas Rohingya yang mengalami penindasan di Rakhine, Myanmar. Foto / Dokumen Reuters
StatusAceh.Net - Seorang warga Muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar telah memberikan deskripsi grafis dari pembunuhan, pemerkosaan dan pembakaran rumah oleh tentara Mynamar. Militer Myanmar dituduh datang dan melakukan pembunuhan tanpa ampun terhadap warga Rohingya di negara bagian Rakhine.

Pengungkapan warga Rohingya yang berhasil melarikan diri ke Bangladesh ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa pembersihan etnis sedang berlangsung di Rakhine oleh militer Myanmar.

”Mereka datang dan membunuh tanpa ampun. Mereka membakar rumah kami. Tidak ada seorang pun di sana untuk menyelamatkan kita,” kata Osman Gani, seorang guru bahasa Arab dari komunitas Muslim Rohinya kepada Associated Press setelah berenang melintasi Sungai Naf untuk memasuki Bangladesh di dekat pelabuhan Cox Bazar.

Gani bahkan menunjukkan bukti video klip yang dia rekam dari ponselnya tentang kekerasan yang terjadi di Rakhine. ”Mereka (militer Myanmar) menindas kami dan menembaki kami dari pesawat,” kata Gani, yang dilansir Jumat (9/12/2016).

”Orang-orang tewas di depan rumah saya. Mereka mengejar gadis-gadis dan menembaki mereka. Dan mereka membakar banyak orang. Mereka membakarnya di depan rumah saya,” ujar Gani.

Gani bersembunyi dengan keluarganya selama seminggu sebelum tentara Myanmar mencari mereka pria yang identitasnya Rohingya.

”Saya tidak punya pilihan selain meninggalkan (keluarga saya) di belakang. Saya datang ke tepi sungai dan mulai berenang,” katanya.

Gani adalah salah satu dari sekitar 15 ribu Rohingya yang telah tiba di Bangladesh pada bulan lalu. Dia bergabung dengan 500 ribu orang lainnya yang sudah tinggal di kamp-kamp perbatasan kumuh di Bangladesh.

Beberapa laporan dari warga Rohingya yang belum dikonfirmasi menyatakan bahwa militer Myanmar telah melepaskan tembakan terhadap warga sipil dari helikopter tempur, termasuk bayi yang terkena tembakan.

PBB memperkirakan bahwa hingga 30 ribu warga Rohingya telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa pekan terakhir setelah militer “mengunci” ketat Rakhine, menolak masuk badan-badan bantuan kemanusiaan, wartawan dan pengamat independen.

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi telah menuduh masyarakat internasional memicu kerusuhan di negaranya. Suu Kyi yang tidak pernah mengakui tuduhan penumpasan etnis Rohingya oleh militer Myanmar merasa negaranya diperlakukan tidak adil oleh masyarakat internasional. (Sindonews)

Lhokseumawe - Kepolisian Resor Lhokseumawe melalu Polsek Muara satu tangkap polisi gadungan seorang pria an. MBN (22) warga Gampong Matang Jeuleukat, yang mengaku sebagai anggota polisi Lhoksukon untuk memperdaya wanita di salah satu cafe desa Padang sakti Kec.Muara Satu Kota Lhokseumawe.”Kamis malam (8/12/2016

Pelaku memperdaya korban dengan mengedit sebuah foto dirinya dengan editan pakai seragam polisi dengan tujuan agar korban percaya.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Hendri Budiman, SH, S.Ik, MH melalui Kapolsek Muara Satu AKP Ahmad yani menyampaikan kejadian tersebut kita ketahui saat korban datang ke Polsek Muara satu, korban an. LS (21) warga  Gampong cotreung Kec.Muara Satu Lhokseumawe itu mengaku telah di bohongi dengan meminjamkan uang tunai sebesar Rp. 4.000.000,_ (Empat juta Rupiah) 1 buah Hp. Merk Lenovo seharga 1,2 (Satu koma dua) juta rupiah oleh seorang laki laki yang mengaku dirinya anggota Polres Lhoksukon.

Dilanjutkan, berdasarkan Informasi tersebut, kamis sekira Pkl.20.30 Wib kita langsung melakukan pengecekan karna di khawatirkan akan terjadi hal hal yang tidak di inginkan, keluarga korban saat itu bersiap siap mau menangkap pelaku di seputaran cafe di desa Padang sakti Kec.Muara Satu Kota Lhokseumawe.

Seketika itu korban menghubungi pelaku melalui Hp oleh korban dan di ajak berjumpa karna uang yang pelaku minta kemarin sebesar Rp.1.500.000 ribu rupiah sudah ada dan diajak untuk bertemu di Cafe tersebut.

Ditambahkan, Kemudian pelaku datang dengan mengunakan Mobil Avanza warna Silver no Pol BL.BL.588 KF yang dirental pelaku dan duduk minum bersama korban.

Selanjutnya  pihak kepolisian langsung melakukan penangkapan tanpa perlawanan, kemudian pelaku kita amankan ke Polsek Muara Satu untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut.” Tegas AKP Ahmad Yani. (Tribratanews-polreslhokseumawe.com)

Zulkifli sang nabi isa palsu asal aceh timur

IDI- Akhirnya Nabi Isa palsu asal Aceh Timur yang membuat kemarahan masyarakat Aceh khususnya Netizen serta pengguna sosial media (Sosmed) berhasil diamankan oleh personil Polres Aceh Timur pada Kamis (8/11/2016)pagi hari.

Diamankannya Zulkifli (32) warga Desa Teupin Batee Kecamatan Idi Rayeuk setelah Tim Satreskrim Polres Aceh Timur mendapat perintah dari Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto SIK M.Hum melihat banyaknya hujatan dan komentar yang menghujani Zulkifli si pria yang mengaku nabi isa.

Setelah mengamankan Zulkifli dari sebuah toko sablon yang berada di desa Pasir Putih Kec. Idi Rayeuk,Aceh Timur,Polres Aceh timur lansung mengundang sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk membicarakan penyelesaian tentang zulkifli yang mengaku sebagai nabi isa.

Dala  pertemuan di sepakati jika zulkifli akan dilakukan proses hukum setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan kejiwaannya ke Rumahsakit Jiwa Banda Aceh.

Hal ini dilakukan mengingat kondisi zulkifli saat di periksa mengaku lebih baikmtidak makan jika tidak mempunyai paket internet,kasus ini bukanlah pertama sekali terjadi namun sebelumnya zulkifli juga sempat melakukan penghinaan terhadap ulama aceh timur pada juni 2015 lalu.

“ Kita lakukan  pemeriksaan psikilogisnya dahulu ke rumahsakit jiwa banda aceh karena kasus serupa juga pernah terjadi pada juni 2015 dia pernah menghina ulama aceh timur,jika nantinya psikologisnya normal akan kita proses hukum itupun harus ada masyarakat yang membuat laporan pengaduan kepada kami “,ungkap Kasatreskrim AKP Parmohonan Harahap.

Parmohonan juga mengatakan untuk keselamatan serta keamanan dari hal yang tidak diinginkan, zulkifli di amankan di malpores aceh timur.

“ Jika nantinya hasilnya dia tidak sehat maka akan kita kembalikan pada pihak keluarga,untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan sementara zulkifli kita amankan di polres aceh timur sambil menunggu hasil pemeriksaan dari banda aceh “,pungkas kasatreskrim.

Dalam pertemuan yang digelar di Aula Wira Satya Polres Aceh Timur dihadiri oleh H. Anwar perwakilan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Timur H. Anwar, Ikatan Santri Aceh Timur (ISAT) diwakili oleh Tgk. Iskandar, Rahmayuddin, Al Hada diwakili oleh Tgk. Muhibuddin,.

Tidak ketinggalan dalam acara tersebut tampak Geuchik Teupin Batee (Ahmadi), Tuha Peut Teupin Batee (Ilyas TR), Kadus Teupin Batee ( Syarbaini) serta beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda Desa Teupin Batee, Kecamatan Idi Rayeuk juga sekaligus dihadirkan Zulkifli yang mengaku dirinya Nabi Isa.(tribratapolresacehtimur)


Editor: Redaksi

Banda Aceh - Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo sekitar pukul 9.30 pagi, Kamis (8/10) tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda. Kedatangan Mendagri ke Aceh untuk meninjau lansung lokasi bencana Gempa di Kabupaten Pidie Jaya.

Tiba di Aceh, Mendagri didampingi Plt Gubernur Aceh, Soedarmo beserta rombongan lansung bertolak ke Pidie Jaya menggunakan helikopter. Mendagri direncanakan akan meninjau beberapa titik lokasi gempa di Kabupaten Pidie Jaya. 

Selain Medagri, dua menteri lainya, Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek dan Menteri Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono  dan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo sudah berada di Pidie Jaya. Bersama mereka ikut juga Staff Khusus Presiden Joko Widodo, Teten Masduki.

Plt Gubernur Aceh, Soedarmo melalui Asisten Administrasi Umum, Syahrul, SE ,M.Si menyampaikan bahwa status darurat provinsi sudah ditetapkan sejak kamarin, Rabu (7/12) selama 14 hari kedepan. Status darurat ini kata Syahrul bisa saja di tambah tergantung kondisi dan situasi dilapangan. 

Pemerintah Aceh kata Syahrul terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk membantu korban bencana gempa. Sejumlah alat berat juga sudah diturunkan untuk membantu evakuasi korban yang tertimpa bangunan yang roboh akibat gempa. 

Syahrul juga menyampaikan, hari ini Presiden Jokowi direncakan akan terbang ke Aceh untuk meninjau lokasi Gempa.
(Rill)

StatusAceh.Net - Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang berkedudukan di Stockholm, Swedia menyampaikan ucapan belasungkawa untuk korban gempa di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Hal itu disampaikan Bachtiar Abdullah selaku Koordniator GAM  melalui press release yang diterima redaksi pagi ini.

"Kami sampaikan salam dukacita dan takziah yang se-ikhlasnya kepada ahli keluarga mangsa gempa yang terjadi subuh tadi di Pidie Jaya. Semoga roh mereka di Rahmati Allah, di amponkan dosa dan mendapat tempat yang tinggi disisi Rabbul'ala. Amin.", ucap Bachtiar.

Press releas ini dikirimkan dalam dua bahasa, Bahasa Aceh dan Bahasa Melayu. Berikut naskah lengkap siaran pers tersebut:

Siaran Pers Pernyataan Duka Cita GAM Dalam Bahasa Aceh

Pernyataan Pers, 7 Desember 2016, dukatjita gempa di Aceh.

Inna lillahi wa inna ilaihi radji-un

Deungon njoë kamoë peusampoë saleuëm dukatjita dan takziah njang seichlaih icklaih djih keu bandum ahli bet keuluarga musibah geumpa njang teudjadi bunoë suboh (Rabu, 07/12/16) di Aceh, kawasan njang brat rusak Pidie Djaja dan Bireuen.

Mudah mudahan roh ureuëng njoë bandum beuneubri Rahmat lé Po teuh Allah, Neupeuampôn dèësja dan Neupeuduëk bak teumpat njang djroeh lë Rabbôl 'Ala. Amin. Kamoë meudo'a tjit semoga Allah SWT Neubri tabah haté dan kông Iman keu sjèëdara-sjeedara njang mantông hudép njang teungoh neuhadap tjabaran dan udjoë njang that brat djinoë.

Hana tuwo tjit do'a kamoë keu bandum sjèëdara-sjeedara njang ka tjidra akibat geumpa njoë supaja beurajek saba dan beubagah puléh nibak luka-luka dan tjidranjan. Seumoga beunantu peurawatan njang ka geubri dalam keuadaan darurat djinoë djeuët peuphui beuban sakét njang teungoh geurasa.

Kamoë lakèë supaja bandum angèëta GAM, geutrén ulapangan geubantu dan geugabông deungon sigra bandum angèëta peumeurintah dan non-peumeurintah seurta deungon masjarakat njang teungoh geubri beunantu darurat di teumpat-teumpat keudjadian.

Saban-saban sabë geutanjoë meudo'a bak Allah, neupeudjeu-ôh bala ateuëh Atjèh njang ta tjinta dan Beuneupeulara geutanjoë sabé dalam Iman dan Islam.

Njang échlaih,

Bakhtiar Abdullah
Koordinator GAM
Stockholm, Swedia


Siaran Pers Pernyataan Duka Cita GAM Dalam Bahasa Indonesia
Pernyataan Pers


7 Desember 2016


Innalillah iwa inna ilaihi rajiun

Dengan ini kami sampaikan salam dukacita dan takziah yang se-ikhlasnya kepada ahli keluarga mangsa gempa yang terjadi subuh tadi di Pidie Jaya. Semoga roh mereka di Rahmati Allah, di amponkan dosa dan mendapat tempat yang tinggi disisi Rabbul'ala. Amin. Kami juga berdo'a semoga semoga Allah SWT tabahkan hati dan berikan kekuatan Iman kepada mereka yang masih hidup dalam menghadapi cabaran dan ujian yang sangat berat sekarang ini.

Tidak lupa juga kami mendo'akan semuga saudara-saudara kami yang mengalami kecederaan akibat gempa ini, berbanyak sabar dan cepat sembuh dari sakitnya. Semoga perawatan dan bantuan yang sedang diberikan dalam keadan darurat ini dapat meringankan beban yang mereka hadapi.

Kami menghimbau kepada semua anggota GAM supaya turut membantu dengan sigra, bergabung dengan semua pihak pemerintah dan non-pemerintah serta masyarakat yang sedang bertungkus-lumus memberikan bantuan darurat dengan apa saja memungkinkan ditempat-tempat kejadian.

Sama-samalah kita berdoa selalu semoga Allah menjauhkan segala bala atas Aceh yang kita cintai agar dan tetap hidup dalam Iman dan Islam.


Yang ikhlas,


Bakhtiar Abdullah
Koordinator GAM
Stockholm, Swedia


Seperti diketahui, gempa tektonik melanda Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya, Aceh pada Rabu (7/12) sekitar pukul 05.30 WIB. Goncangan itu berlangsung 15 detik.

Gempa yang berkekuatan 6,4 SR itu juga dirasakan Banda Aceh, Langsa, hingga Simeulue.

Berdasar laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh, gempa sangat kuat dirasakan selama 15 detik di Kabupaten Pidie Jaya dan Kabupaten Pidie.(Rill)

Ilustrasi
Bangkok - Enam pengedar narkoba tewas dalam baku tembak dengan para tentara Thailand yang tengah berpatroli di dekat kawasan Segitiga Emas.

Baku tembak terjadi saat keenam pengedar narkoba tersebut, berjalan kaki di wilayah pegunungan di dekat perbatasan kawasan Segitiga Emas, yang menjadi bagian dari Laos, Myanmar, dan Thailand pada Rabu (7/12) malam waktu setempat. Mereka pun diperintahkan untuk berhenti oleh patroli militer Thailand, namun orang-orang tersebut terus berjalan. Baku tembak kemudian terjadi setelah para tentara melepaskan tembakan ke arah merela.

"Enam pengedar narkoba tewas," tutur Jiradech Kamolpetch, komandan gugus tugas perbatasan Thailand seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/12/2016).

"Ada 20 orang di kelompok ini," imbuhnya seraya mengatakan, para tentara dan polisi kini masih mengejar sisa-sisa kelompok tersebut di provinsi Chiang Mai, Thailand.

Menurut seorang perwira militer Thai lainnya, sebanyak 554 ribu tablet methamphetamine, sekitar 30 kilogram heroin dan dua senjata api disita dari kelompok tersebut usai baku tembak. Dikatakannya, otoritas Thai menduga orang-orang tersebut merupakan warga etnis Wa -- minoritas yang banyak berada di barat laut Myanmar.

Didukung oleh milisi pemberontak yang kuat, etnis Wa menguasai bagian besar wilayah di Myanmar. Mereka dituduh menjalankan kerajaan narkotika di wilayah tersebut. Sebagian komunitas Wa juga bermukim di wilayah Thailand utara, yang membentuk bagian dari kawasan Segitiga Emas, zona produksi narkoba yang terkenal itu. (detik.com)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.