Latest Post

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

BERBEDA dari kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki keistimewaan sendiri. Sejak dulu hingga sekarang, Aceh merupakan daerah mayoritas muslim yang kini hidup dalam bingkai syariat Islam.

Alasan sejarah membuat daerah ini memiliki otonomi sendiri. Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan di Asia Tenggara. Sejarah mencatat, sejak awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka.

Aceh pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (1511-1959). Kemudian Daerah Istimewa Aceh (1959-2001), Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009), dan terakhir Aceh (2009-sekarang). Sebelumnya, nama Aceh biasa ditulis Acheh, Atjeh, dan Achin.

Sejak dulu, Aceh sudah sudah dikenal sebagai negeri yang melahirkan para wali dan ulama. Ada banyak ulama masyhur di Aceh yang kiprahnya sangat berpengaruh. Para ulama ini sangat dihormati karena dianggap berjasa dalam penyebaran Islam dan ilmu syariat.

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku “Paham Wujudiah” karya Abuya Syeikh Prof Dr Tgk H Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syeikh Hamzah Fansuri
Foto Syeikh Hamzah Fansuri (http://www.tintaguru.com)

Syeikh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Beliau lahir di Fansur Singkil, Aceh. Beliau hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Beliau merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Beliau ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syeikh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Beliau menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan beliau lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah SWT. Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) beliau dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa itu.

2. Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani
Foto Makam Syeikh Syamsuddin As-Sumatrani (https://maulanusantara.wordpress.com)
Beliau adalah tokoh ulama besar dan pengarang di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syeikh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Beliau menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, beliau memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Beliau dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.
Beliau juga pernah diangkat menjadi qadi malikul adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Beliau mengetuai Balai Gading (balai khusus yang di anggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun beliau berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syeikh Nuruddin. Beliau meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan beliau dan fatwa-fatwa beliau. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Beliau adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang Syeikh, penasehat agung raja.

3. Syeikh Nuruddin Ar-Raniry
Foto Syeikh Nuruddin Ar-Raniry (tgkboy.blogspot.com)
Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniry Al Quraisyi Asy Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di kota pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Beliau seorang ulama besar, penulis, ahli fikir, dan Syekh Thariqat Rifa’iyyah di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi SAW pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar di samping sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Melaka yang jatuh ke penguasaan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syeikh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syeikh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Beliau pernah menentang faham wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah faham wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan ia dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Beliau Ia berthariqat dengan thariqat Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara Beliau dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semaunya sama-sama pengikut thariqat suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syeikh Abdurrauf As-Singkili
Foto Syeikh Abdurrauf As-Singkili (Singkil Channel)
Beliau adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syeikh Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin Sumatrani dan Syeikh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syeikh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda.

Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syeikh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah beliau sampai di Mekkah dan Madinah beliau melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syeikh Thariqat Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya IbrahimAlqur’ani, beliau memperoleh ijazah dari pimpinan thariqat tersebut.

Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepada Beliau selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syeikh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar thariqat Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Beliau mengajar di Kuala atau Muara Krueng Aceh sampai wafat di daerah tersebut pada tahun 1693 M (1105 H). Karena mengajar dan wafat di Kuala Aceh ia kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan Syiah Kuala.

Selain mengajar ia juga menjalankan tugasnya sebagai mufti kerajaan Aceh Darussalam pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin (1641-1675 M). Banyak karangan beliau baik dalam ilmu tafsir dan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan ilmu-ilmu lain.

Sumber: Sindonews.com

Film The Man from the Sea (Laut).Foto: Dok Nikkatsu/Kaninga Pictures
StatusAceh.Net - Aktris Sekar Sari khusus mempelajari bahasa Aceh untuk film The Man from the Sea (Laut). Dia berperan sebagai Ilma, gadis Aceh penyintas bencana tsunami yang berjuang keras menjadi seorang jurnalis.

"Di Jakarta, belajar bahasa Aceh dengan maestro seni PM Toh. Cukup susah karena ada banyak akar kultur serta logat di sana, mulai dari Melayu, Indonesia timur, Jawa, juga Arab," ujar Sekar pada konferensi pers di Jakarta, Senin (17/12).

Setelah mendapat materi yang cukup kompleks, perempuan 29 tahun kelahiran Yogyakarta itu menjumpai perbedaan setibanya di Aceh. Apa yang dia pelajari dengan PM Toh yang berasal dari Sabang memiliki perbedaan dengan bahasa pergaulan anak muda Aceh.

Karena itu, Sekar memutuskan untuk menambah pengetahuannya dengan banyak mengobrol dan berkumpul bersama pemuda-pemudi Aceh. Dari sana, dia semakin tahu bahasa gaul, dialek, cara berjalan, hingga gestur khas orang Aceh.

"Belajar bahasa ini sangat signifikan untuk menyampaikan peran Ilma, terutama bagaimana seorang perempuan Aceh menyampaikan idenya dengan lugas," kata pemeran utama dalam film Siti (2014) itu.

Film The Man from the Sea (Laut) adalah produksi kolaborasi beberapa negara. Sinema bergenre drama fantasi itu diproduksi Kaninga Pictures (Indonesia), Nikkatsu (Jepang), dan Comme Des Cinemas (Prancis), di bawah arahan sutradara Jepang, Koji Fukada.

Tidak heran jika proses syuting yang berlangsung di Aceh dan Sabang pada 2017 melibatkan orang-orang dengan bahasa berbeda. Menurut Sekar, hal itu menjadi pengalaman menarik di mana orang dari bangsa berlainan bisa menghasilkan karya kreatif bersama.

Selain Sekar, film dibintangi Dean Fujioka, Adipati Dolken, Taiga, Mayu Tsuruta, dan Junko Abe. Film yang akan rilis awal 2019 ini berkisah tentang pria misterius yang terdampar di pesisir pantai Banda Aceh. Warga sekitar menjulukinya Laut. | Republika

Pernikahan Karna Radheya dengan bule cantik Polly Alexandria Robinson mencuri atensi.Foto: Instagram @pollyoddsocks
StatusAceh.Net - Cinta memang sejatinya tak memandang ras dan perbedaan budaya. Seperti yang dialami oleh pria asal Jawa Tengah ini yang menikahi kekasihnya, wanita asal Inggris. Foto pernikahan mereka pun jadi viral di media sosial.

Belum lama ini pernikahan seorang pria yang bernama Karna Radheya dengan bule cantik Polly Alexandria Robinson mencuri atensi. Banyak netizen yang heboh dan kagum pada pernikahan lintas negara tersebut.

Karna dan Polly melangsungkan pernikahan dengan sederhana di Dusun Gaten Desa Banyubiru Kecamatan Dukun, Magelang. Wanita yang berasal dari Manchester, Inggris ini pun tampil manis dengan veil bernuansa pink di pernikahannya itu. Sementara itu, Karna tampil sederhana dengan kemeja putih dan peci.

Meskipun Polly tak secara langsung mengunggah foto pernikahannya itu di akun Instagramnya, bule cantik ini mengunggah fotonya bersama Karna dan memperlihatkan keduanya memakai cincin yang sama. Polly pun menuliskan rasa terima kasihnya atas ucapan selamat dari banyak orang tentang pernikahannya.

"Kami berdua mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang telah mengirimkan pesan dalam beberapa jam terakhir untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Kami sangat bahagia untuk membagi kisah kami dan berharap untuk dapat segera menjawab pertanyaan apa pun ," tulis Polly di keterangan foto Instagramnya



A post shared by Polly Alexandria Robinson 🌾🍊 (@pollyoddsocks) on

Berdasarkan beberapa postingan di akun Instagramnya itu, Polly telah menjalin hubungan asmara dengan Karna selama kurang lebih satu tahun. Keduanya pun dipertemukan di Bali, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikat janji suci pernikahan.

Kisah cinta Polly dan Karna yang diikat lewat pernikahan ini pun membuat banyak netizen baper. Selain ucapan selamat, tak sedikit netizen juga berkomentar agar bisa segera menemukan jodohnya.

"Mugi Kulo Entuk bojo sing kuoyo ki (Semoga saya bisa dapat istri yang seperti ini)," komentar netizen

"Masyaallah, sesuatu mas. Gimana caranya mas bisa dapat istri cantik sekali ," tulis @slamet_solikin

"Kalo jodoh gak kemana yaaa," tambah komentar @merlyn.dali, netizen lainnya. | Detik.com

Seorang perempuan Muslim Uighur menangis setelah memprotes kekerasan yang dilakukan aparat keamanan.
StatusAceh.Net - Ketergantungan ekonomi dan investasi Indonesia terhadap China dianggap menjadi salah satu alasan Indonesia tak bisa berbuat banyak untuk menekan Beijing soal dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap suku muslim Uighur di Xinjiang.

"Ketergantungan ekonomi yang tinggi atas China di bidang perdagangan dan investasi, dalam konteks bilateral dan CAFTA, memaksa RI berpikir amat panjang dan mendalam sebelum membuat sebuah kebijakan atas praktik pelanggaran HAM yang terjadi di Xinjiang," ucap pengamat politik internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (18/12).

Selain ketergantungan ekonomi, Indonesia juga telah menyepakati perjanjian kemitraan komperhensif strategis bersama China pada 2008 lalu.

Menurut Teuku, perjanjian itu mensyaratkan hubungan bilateral di berbagai bidang harus terpelihara dan tidak boleh terganggu akibat peristiwa baru di masa depan yang mengganjal kedua negara, termasuk kasus dugaan pelanggaran HAM ini.

Berbeda dengan penanganan kasus Rohingya di Myanmar, menurut Teuku, dugaan pelanggaran terhadap etnis Uighur cukup kompleks.

Jika Indonesia menyinggung China terkait hal ini dengan cara yang tidak tepat, dosen jurusan hubungan internasional itu khawatir langkah pemerintah RI tak hanya mempengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga merusak prospek kerja sama ASEAN-China.

"RI tidak memiliki kapabilitas untuk menekan China di level regional karena China yang tersudutkan berpotensi merusak kerja sama dengan ASEAN dan ASEAN centrality melalui tiga negara yang amat tergantung pada bantuan pembangunan Beijing yakni, Kamboja, Laos, Myanmar," tutur Teuku.

Etnis Uighur kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah pemerintah China dikabarkan menahan satu juta suku minoritas tersebut di kamp penahanan indoktrinasi. Para etnis Uighur itu dilaporkan dipaksa mencintai ideologi komunis.

Berdasarkan kesaksian mereka, otoritas China terus melakukan penahanan massal sewenang-wenang terhadap Uighur dan minoritas Muslim lain di Xinjiang sejak 2014 lalu.

Pemerintah China sendiri memaksa etnis Uighur masuk ke kamp khusus dengan alasan tidak normal sehingga harus dimasukkan ke kamp untuk 'mendidiknya' agar kembali normal.

Mereka menyangkal tudingan pelanggaran HAM dan menyatakan kamp itu cuma bagian dari "pelatihan."

Pemerintah China dikenal berlaku diskriminatif terhadap wilayah Xinjiang dan etnis Uighur yang memeluk agama Islam. Mereka kerap memberlakukan aturan tak masuk akal, seperti melarang puasa saat Ramadhan, menggelar pengajian, hingga salat berjamaah.

Pemerintah China melakukan itu semua dengan alasan untuk mencegah penyebaran ideologi radikal di kalangan etnis Uighur. Namun, dari sisi etnis Uighur, mereka menyatakan justru perlakuan pemerintah China yang memicu radikalisme dan ekstremisme.

Berbeda dengan penanganan isu Rohingya, pemerintah Indonesia dinilai tidak vokal bahkan cenderung diam melihat persekusi yang dialami etnis Uighur.

Hingga kini, Jakarta tidak pernah secara tegas menyatakan kecaman atau kekhawatiran terhadap isu ini meski baru-baru ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Indonesia menolak segala bentuk pelanggaran dan penindasan HAM.

Kendati demikian, menurut JK, pemerintah Indonesia tak bisa ikut campur terkait permasalahan yang terjadi karena itu adalah urusan dalam negeri China.

"Kalau masalah domestik tentu kita tidak ingin campuri masalah itu," ujar JK di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (17/12). | cnnindonesia.com

Banda Aceh - Dalam rangka memperingati 60 tahun kerjasama dua negara, Indonesia - Jepang, sutradara Koji Fukada menggandeng Kaninga Pictures menggarap film The Man from the Sea.

Indonesia dan Jepang sama-sama pernah diterjang tsunami, karena adanya perasaan senasib dari kisah pilu gempa tsunami di Aceh tersebut film The Man from teh Sea mengambil lokasi syuting di pesisir Aceh yang terkena Tsunami.

"Di antara Jepang Indonesia ada kesamaan karena kita sering diserang bencana alam. Tahun ini jepang ada bencana alam yang besar bulan Juli atau Agustus hujan lebat sampai banyak rumah hanyut. Orang Jepang yang punya pengalaman di serang bencana alam sangat bersimpati dengan karya ini," ungkap Koji Fukada dalam jumpa pers di XXI Plaza Indonesia, Senin (17/12).

Dalam film The Man from the Sea yang bergenre drama fantasi, metafora alam diwakili tokoh pria misterius yang diperankan Dean Fujioka.

Dean yang juga seorang musisi mengungkapkan banyak hal yang dipelajari selama menjalani syuting film The Man from the Sea di Aceh dan pulau Weh.

"Ada banyak hal, tapi satu hal yang paling khas. Kopi aceh itu enak banget. Enak gila. Saya sebelumnya tidak pernah meminum kopi, jadi Aceh merubah hidup saya. Hari-hari di Aceh membuat saya banyak belajar," kata Dean Fujioka tersenyum.

Film hasil kolaborasi Nikkatsu (Jepang), Comme des Cinemas (Prancis), dan Kaninga Pictures (Indonesia) ini dibintangi artis Indonesia, Adipati Dolken dan Sekar Sari.

Penayangannya di Jepang sudah berlangsung sejak 26 Mei 2018. Rencananya akan ditayangkan pula di jaringan bioskop Indonesia awal 2019 mendatang. | tabloidbintang.com

Banda Aceh - Hingga pekan ke dua bulan Desember atau menjelang akhir tahun anggaran 2018, serapan dana desa di Provinsi Aceh mencapai 85,04 persen. Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan Provinsi Aceh, Zaid Burhan Ibrahim menyatakan, anggaran disalurkan melalui 7 KPPN di wilayah Aceh.

Pernyataan ini disampaikannya pada acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Dana Tranfer Daerah dan Dana Desa Tahun 2019 yang dihadiri Bupati/Walikota serta Unsur Forkompinda se-Provinsi Aceh.

DIPA tersebut diserahkan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Ia menyampaikan, serapan dana transfer daerah berupa data fisik dan dana desa tahun anggaran 2018 tersebut telah disalurkan melalui tujuh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) yang tersebar se-Provinsi Aceh dan telah mencapai 92,3 persen atau sebesar Rp 6,6 triliun.

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo menyatakan, sejak tahun 2015 hingga tahun anggaran 2019 melalui APBN pemerintah pusat terus menambah alokasi dana desa.

"Setiap tahun dana desa itu ditambah, pada 2014 Rp 40 triliun, 2016 Rp 60 dan pada tahun 2019 Bapak Presiden akan menaikkan lagi dana desa menjadi Rp 70 triliun," sebut Mendes PDTT pada acara Sosialisasi Prioritas Penggunaan Dana Desa 2018 di Gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Jumat.

Mendes PDTT juga mengingatkan, Pemerintah Desa agar mengalokasikan dana desa dengan baik seusai amanat undang-undang yakni, untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Pada tahun 2018 diketahui, Pemerintah Pusat melalui tujuh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) telah menyalurkan atau melakukan pencairan dana desa untuk 6.497 desa yang tersebar di 23 kabupaten/kota.

Ke tujuh KPPN di Provinsi Aceh meliputi, KPPN Banda Aceh, KPPN Langsa, KPPN Lhokseumawe, KPPN Meulaboh, KPPN Tapaktuan, KPPN Kutacane, serta KPPN Takengon telah melakukan pencairan dana desa pada tahap I Rp891,98 miliar, tahap II Rp1,7 triliun, dan tahap III Rp 1,7 triliun.

Sumber : Antara
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.