Latest Post

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gunung Sinabung Haji Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

 

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan tersangka kasus suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) yang juga Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

"Dilakukan perpanjangan penahanan terhadap tersangka kasus suap DOKA, Irwandi Yusuf," ujar juru bicara KPK, Febri Diansyah, saat ditemui di kantornya, Jumat 20 Juli 2018.

Febri berujar selain Irwandi, KPK juga memperpanjang penahanan untuk tiga tersangka lainnya. Mereka adalah Bupati Bener Meriah Ahmadi serta dua pihak swasta, Hendri Yuzal dan Saiful. Penahanan dilakukan untuk 40 hari mendatang dimulai sejak 24 Juli hingga 1 September 2018.

Dalam perkara ini KPK menyangka Ahmadi menyuap Irwandi terkait izin proyek yang bersumber dari DOKA tahun anggaran 2018.

Terungkapnya kasus ini bermula dari operasi tangkap tangan yang digelar KPK di Aceh pada Selasa malam, 3 Juli 2018. Dalam operasi tersebut, KPK menyita uang tunai Rp 50 juta dan bukti transfer masing-masing sekitar Rp 50 juta, Rp 190 juta, dan Rp 173 juta.

KPK menduga duit setengah miliar itu adalah sebagian dari total Rp 1,5 miliar uang suap yang akan diberikan kepada Irwandi Yusuf. Diduga pemberian tersebut bagian dari commitment fee 8 persen jatah pejabat di pemerintah Aceh dari setiap proyek yang dibiayai dari DOKA.(Red/tempo)

Presiden Soeharto menyalami Yoga Sugomo setelah menerima Bintang Mahaputra Adipradana di Istana Negara. Foto: Repro Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar.
YOGA Sugomo bersama Ali Moertopo berhasil menggalang dukungan untuk menjadikan Soeharto panglima Teritorium IV Diponegoro. Sejak itu, Yoga dan Ali menjadi pendukung utama Soeharto sehingga dikenal trio Soeharto-Yoga Sugomo-Ali Moertopo.

Hubungan mereka lebih dari atasan-bawahan, melainkan sudah seperti saudara (sedulur sinorowedi). Yoga dan Ali pun selalu ngeman dan pasang badan demi Soeharto. Ngeman merupakan perasaan simpati terhadap orang lain, tidak rela orang itu mengalami musibah, menderita atau tersakiti. Orang yang ngeman akan berusaha menjaga dan mencegah hal itu terjadi.

Dalam rangka ngeman itu, Yoga dan Ali merasa khawatir dengan masa jabatan Soeharto yang akan mencapai 16 tahun pada 1983. Mereka menilai terlalu lama menjabat dapat menimbulkan perasaan jenuh atau sikap keakuan yang berlebihan.

Yoga dan Ali pun mencoba mengingatkan Soeharto dengan “cara Jawa” yaitu “memangkunya” sebagai tokoh senior dan bapak bangsa.

“Cara Jawa memangku Pak Harto itu adalah dengan menggulirkan pemberian gelar Bapak Pembangunan sebagai puncak prestasi, pengabdian dan sekaligus penghargaan rakyat. Tentu saja ini adalah operasi yang sangat-sangat rahasia dan peka karena menyangkut masalah perasaan yang berkelindan dengan kekuasaan,” ungkap B. Wiwoho dan Banjar Chaeruddin dalam edisi revisi biografi resmi Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, yang terbit tahun ini. Buku ini terbit pertama kali pada 1990. Soeharto melarang cetakan ketiganya terbit.

Soeharto malah senang dengan gelar itu dan kembali menjadi presiden periode 1983-1988. Cara Jawa gagal, Yoga memberanikan diri menyampaikan maksudnya secara terbuka kepada Soeharto.

Dalam pertemuan rutin mingguan pada Mei 1985, Yoga menyampaikan pandangannya bahwa Soeharto akan berusia 67 tahun pada Pemilu 1988 dan sudah menjadi kepala negara selama 22 tahun, dikhawatirkan sampai pada tahap jenuh dan lelah.

Menurut Yoga, periode kepemimpinan 1983-1988 merupakan puncak kepemimpinan Soeharto. Setelah itu dikhawatirkan akan melemah.

Yoga juga menyinggung bisnis keluarga dan anak-anak Soeharto yang terus membesar bisa menimbulkan kecemburuan sosial dan sasaran tembak.

Terakhir, menurut Yoga, sumber dan jaringan serta rekrutmen Soeharto secara alamiah semakin menyempit disebabkan kesenjangan generasi.

“Berdasarkan analisis tersebut, Yoga menyarankan agar Pak Harto dengan jiwa besar, legowo lengser keprabon dan tidak maju lagi dalam masa jabatan berikutnya pada 1988. Pak Harto dimohon mempersiapkan kader peralihan generasi ‘45. Siapa pun kader yang ditunjuk, Yoga akan mengamankan dan mendukungnya,” tulis Wiwoho dan Banjar.

Soeharto tidak menanggapi saran Yoga itu. Mensesneg Soedharmono dan Panglima ABRI Jenderal TNI Benny Moerdani menolaknya. Terjadilah perdebatan yang menegangkan. Sementara Soeharto lebih banyak diam dan tidak mengambil sikap. Ibu Tien Soeharto yang diam-diam mengamati kemudian melintas di ruang pertemuan seraya memberi isyarat cenderung mendukung usul Yoga.

Peristiwa pertemuan malam itu menyakitkan hati Yoga. Dia memutuskan tidak akan menghadap Soeharto jika tak dipanggil. Pertemuan rutin setiap Jumat malam sejak 1974 itu berakhir. Padahal, pertemuan itu digunakan presiden dan pembantu terdekatnya untuk mengevaluasi keadaan. Mereka mengolah informasi-informasi penting serta membuat perkiraan keadaan ke depan berikut langkah-langkah mengantisipasinya.

“Yoga kesal dan prihatin atas sikap Pak Harto dan dua sejawatnya tadi,” tulis Wiwoho dan Banjar. Yoga berusaha menenangkan diri dengan memperpanjang kunjungannya ke Jepang menyertai delegasi Persatuan Alumni Mahasiswa Indonesia di Jepang pertengahan Juni 1985.

Semenjak itu, hubungan Yoga dengan Soeharto dan Benny menjadi dingin. Meskipun demikian, Soeharto tetap mempercayai dan mempertahankannya sampai dia sendiri mengundurkan diri sebagai kepala Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) pada Juni 1989. Dia pensiun sebagai jenderal bintang empat.

“Sejak itu berakhirlah kerja sama sedulur sinorowedi. Di hari-hari terakhir masa jabatannya, dia menyelami hakikat dirinya sebagai wayang yang dikendalikan Sang Dalang Yang Maha Agung,” tulis Wiwoho dan Banjar.

Sementara itu, Soeharto tak terhentikan. Dia terus menjadi presiden selama 32 tahun hingga gerakan Reformasi melengserkannya.(*)

Sumber: Historia.id

Aceh Timur - Patroli Air Direktorat Polair Korpolairud Baharkam Polri menangkap sebuah kapal berbendera Indonesia di perairan Selat Malaka. Kapal tersebut menyelundupkan 4 ton bawang merah dari Thailand.

"Itu kapalnya kapal berbendera Indonesia, tapi dia berangkat dari Thailand," kata Kasubdit Patroli Air Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri Kombes Makhruzi Rahman kepada detikcom, Jumat (20/7/2018).

Kapal tersebut tertangkap pada Kamis (19/7) sekitar pukul 17.00 WIB. Kapal motor Harapan bernomor lambung Perkakak 3017 itu tertangkap tim patroli air di koordinat 04,42'800" U - 98,39'800" T di perairan Selat Malaka, Aceh Timur.

"Ini kan kita patroli rutin di seluruh perairan Indonesia di wilayah Selat Malaka, kemudian nemu itu kapal Indonesia tapi berangkat dari Thailand. Setelah kita cek ternyata ada muatan bawang merahnya," katanya.

Kapal tersebut dinakhodai Wahyudi dengan jumlah anak buah kapal (ABK) 3 orang. Selain bawang merah, kapal tersebut mengangkut 25 pohon kurma.

"Pemilik kapal atas nama Arianto. Kapal berangkat dari Sotun, Thailand, tujuan ke Idik Rayek, Aceh Timur," lanjutnya.

Kapal tersebut saat ini dilabuhkan di Pelabuhan Kuala Langsa, Aceh Timur. Nakhoda dan ABK akan diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui pemilik bawang tersebut. | Detik.com

Lhokseumawe - Ratusan massa yang menamakan diri Gerakan Masyarakat Anti Korupsi (GMAK) Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara berunjuk rasa di Taman Riyadah, Lhokseumawe, Aceh, Kamis (19/7) sore.

Mereka mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membasmi wabah koruptor di Aceh.

Terutama indikasi korupsi dalam penyalahgunaan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Siapapun yang terlibat harus dihukum.

Desakan itu disampaikan dalam aksi damai ratusan massa yang tergabung bersama Gerakan Masyarakat Anti Korupsi (GMAK) Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Kamis (19/7).

Aksi damai ini untuk mendukung tugas KPK mengusut tuntas para pelaku korupsi di Aceh dari level kepala daerah hingga level bawah.

Massa aksi tak hanya laki-laki, belasan perempuan bercadar turut pula menyampaikan aspirasinya.

Sebelum aksi digelar massa berkumpul di halaman Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe, usai melaksanakan salat Zuhur. Kemudian, pada pukul 14.30 WIB, mereka bergerak ke Simpang Bank Indonesia Lhokseumawe, tepatnya di depan Taman Riyadah dan menyampaikan orasi.

Pendemo membawa sejumlah spanduk dan poster bertuliskan,“KPK Segera Buka Kantor Khusus Untuk Aceh, KPK Basmi Wabah Koruptor di Aceh, Tangkap Koruptor di seluruh Aceh serta sejumlah poster lainnya dalam bentuk dukungan kepada KPK.

Tampak hadir dalam aksi itu, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Aceh, Tgk. Muslim At Thahiri, dan Koordinator Aksi GMAK, T. Khairul Rijal. Aparat Kepolisian dari Mapolres Lhokseumawe, turut mengawal dengan ketat jalannya aksi.

“Jangan ada kelompok tertentu di Aceh dengan mengataskan namakan masyarakat Aceh untuk membela pelaku tindak korupsi,”tegas Koordinator Aksi GMAK, T. Khairul Rijal, dalam orasinya dihadapan ratusan massa.

Pihaknya mendesak KPK untuk segera membuka kantor khusus di Aceh, agar bisa langsung mengawasi pengelolaan anggaran di Pemerintahan Aceh. Khususnya, menyangkut dengan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA), yang telah dikucurkan Pemerintah Pusat pasca perdamaian Aceh.

Apalagi, sudah triliunan rupiah lebih DOKA diberikan untuk Aceh, tapi kita rakyat Aceh masih hidup di bawah garis kemiskinan. Akibat pengelolaan dana tersebut tidak maksimal dan lebih kepada kepentingan pribadi, ketimbang untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

“Kasus indikasi korupsi yang terjadi di Aceh saat ini sangat memalukan dan menjatuhkan marwah Aceh. Karena dugaan korupsi itu dari level kepala daerah di Aceh. seharusnya pemimpin itu menunjukan sikap teladan dan contoh baik kepada rakyat atau masyarakat,” tegasnya. | JPNN

Ilustrasi
Langsa - Seorang siswa SMAN-2 Langsa bernama Muhammad Faizal, 17, ditemukan tewas bersimbah darah di pematang tambak warga Gampong Kapa, Kecamatan Langsa Timur, Aceh, Rabu (18/7).

Warga Gampong Alue Merbau, Kecamatan Langsa Timur, diduga menjadi korban pembunuhan.

Kasat Reskrim Polres Langsa, Iptu Agung Wijaya Kusuma SIK mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan lapangan diketahui korban merupakan siswa kelas III IPA pada SMAN2 Langsa.

Saat ditemukan warga, korban sudah meninggal dunia di lokasi dengan bersimbah darah dan masih memakai seragam sekolah.

"Menyangkut motif kita belum tahu, karena sampai saat ini masih dalam proses penyidikan, dugaan sementara berdasarkan bukti-bukti lapangan dan keterangan beberapa warga, korban dibunuh," sebut Agung.

Pihak terus melakukan olah TKP dan menunggu hasil visum rumah sakit terhadap jenazah korban.

Dijelaskannya, pengungkapan kasus dugaan pembunuhan ini berawal dari laporan warga yang mengatakan ada sosok remaja berseragam sekolah SMU terkapar dengan posisi telungkup bersimbah darah di pematang tambak warga, di Gampong Kapa, Kecamatan Langsa Timur.

Menindaklanjuti laporan tersebut tim identifikasi Polres Langsa bersama Sat Reskrim langsung meluncur ke lokasi dan mensterilkan TKP.

Lanjutnya, ketika tiba di TKP petugas mendapati korban masih dalam posisi telungkup bersimbah darah dengan memakai seragam sekolah SMU celana panjang abu-abu, baju biru motif batik.

Pada tubuh korban bagian perut kiri ditemukan luka tusuk benda tajam dan berlumuran darah, serta dompet dan hp disekitar tubuh korban yang diduga milik korban.

"Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan sejumlah saksi di lapangan, korban diperkirakan dibunuh antara pukul 12.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB pada jam pulang sekolah. Kondisi ini juga diperkuat dengan kondisi darah yang keluar dari tubuh korban masih segar dan baru, namun untuk lebih pasti kita manunggu hasil visum dokter," sebut Agung. | JPNN


Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.