Latest Post

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Foto: Pelaku NZ alias Legos
LHOKSUKON – Personel Opsnal Sat Reskrim Polres Aceh meringkus ZUL alias Legos, (40) tersangka perampokan mobil avanza milik Nursyidah (53) Kepala SMP Swasta Raudhatul Fukara di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Kamis (23/5/2019) sore.

“Pelaku berhasil kita ringkus tak lama setelah membawa kabur mobil korban, ia kita sergap dikawasan Kecamatan Samudera saat sedang melaju ke arah Lhokseumawe, kini pelaku sudah diamankan di Polres Aceh Utara.” ujar Kapolres Aceh Utara melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah.

Mobil Avanza warna hitam Nopol BL 441 ZM milik Nursyidah Mukhtar, 53 tahun, dirampok seorang pria yang menutup wajahnya menggunakan helm di jalan Gampong Aron Pirak Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Kamis (23/5/2019) pukul 10.00 WIB.

Kepada polisi, Korban yang merupakan kepala Sekolah SMP swasta Raudhatul Fukara di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara itu, mengaku dirinya dicegat oleh salah satu dari 3 pria yang menggunakan sepeda motor ditengah jalan saat sedang mengemudi.

“Pelaku masuk dan memaksa menyetir mobil korban, sementara korban yang saat itu bersama temannya Erlinawati diminta untuk pindah ke kursi belakang.” ujar Kasat Reskrim Iptu Rezki.

Kasat Reskrim menerangkan, kepada korban, pelaku mengaku bahwa dirinya telah menyenggol pelaku dengan mobilnya, sehingga harus melakukan perdamaian.

“Pelaku lalu mengemudikan mobil ke sekolah korban, saat itu korban dan saksi turun dari mobil untuk mencari suaminya sementara pelaku masih didalam mobil, akan tetapi sesaat kemudian pelaku kabur membawa mobil korban.” terang Iptu Rezki.

Saat ini, Iptu Rezki menambahkan, dua pria yang sebelumnya bersama pelaku menggunakan sepeda motor sudah diamankan pihaknya.

“Dua orang ini masih remaja berumur 13 dan 15 tahun, mereka sedang kita periksa sebagai saksi.” pungkasnya. (Trb)

Banda Aceh - Nilai ekspor kopi yang tumbuh di kawasan dataran tinggi wilayah Tengah Aceh triwulan I di 2019 sudah menembus angka 311,04 persen dengan nilai 22,86 juta dolar AS jika dibanding periode yang sama di tahun 2018.

"Ekspor kopi asal Aceh di bulan Maret 2019 saja total 7,85 juta dolar AS, jika digabungkan dalam tiga bulan terakhir menjadi 22,86 juta dolar AS," terang Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, Kamis.

Ia menyebut ekspor kelompok kopi tergabung komoditas teh, dan rempah-rempah tersebut asal provinsi berjuluk "Serambi Mekkah" ini di periode Januari-Maret 2019 tercatat senilai 5,56 juta dolar AS lebih.

Bahkan komoditas yang telah diekspor ke-17 negara dan semakin disukai penikmatnya telah memberi andil 30,41 persen, setelah batubara Aceh senilai 40,05 juta dolar AS atau mempunyai andil 53,28 persen dari total nilai ekspor 75,18 juta dolar AS lebih.

Meningkatnya nilai ekspor kopi ini terutama jenis Arabika, karena dunia internasional semakin meminati kopi yang sebagian besar diekspor, dalam bentuk biji, tidak dipanggang dan tidak dihilangkan kandungan kafeinnya.

"Sayangnya di triwulan itu, kegiatan ekspor kopi dilakukan melalui pelabuhan luar Aceh. Seperti Pelabuhan Belawan di Medan, Sumut, mayoritas negara tujuan ekspor kopi adalah Amerika Serikat," katanya.

Ia mengatakan sedangkan melalui pelabuhan di provinsi paling barat Indonesia ini belum tercatat sama sekali di antara lima kelompok komoditas dengan nilai triwulan tahun ini total tercatat 44,88 juta dolar AS lebih.

"Nilai komoditas asal Aceh diekspor melalui pelabuhan di Aceh, yakni bahan bakar mineral atau batubara 40,05 juta dolar AS memberi andil 89,23 persen, dan menyusul bahan kimia anorganik 4,35 juta dolar AS dari total nilai ekspor 44,88 juta dolar AS," kata Wahyudin.

Presiden Joko Widodo tahun 2018 mengatakan, ekspor dan investasi menjadi dua hal penting atau kunci dalam memperkuat fundamental perekonomian Indonesia.

"Kalau itu bisa kita lakukan, ekspornya meningkat, sehingga defisit neraca perdagangan bisa kita selesaikan. Defisit transaksi berjalan kita bisa kita selesaikan," kata Jokowi. | Antara

MOHAMMAD HATTA, wakil ketua PPKI kepayahan menghadapi lawan debatnya, Ki Bagus Hadikusumo, Menjelang sidang PPKI, ulama Muhammadiyah dari Yogyakarta itu  bersikukuh agar dalam rancangan mukadimah Undang-Undang Dasar, dan Pasal 29, Ayat 1, ditambahkan kalimat, “Dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, sebagaimana isi Piagam Jakarta. Dengan kata lain, Ki Bagus menghendaki sistem negara bercorak agama (baca:Islam). 

“Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu,” tutur Bung Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan.

Dua nama pertama, Wahid Hasyim (NU) dan Kasman Singodimedjo (Muhammadiyah) merupakan tokoh dari kalangan Islam. Sementara Teuku Mohammad Hasan berasal dari golongan berbeda. Hasan seorang putra uleebalang (bangsawan Aceh) dan juga ahli hukum tamatan dari Universitas Leiden, Belanda. Hatta kenal baik dengan Hasan sewaktu keduanya sama-sama menuntut ilmu di negeri Belanda.

Menurut Hatta, meski bukan mewakili golongan Islam, Hasan berasal dari Aceh, wilayah dengan kultur Islam yang kental. Dan lagi, Hatta tahu persis bahwa Hasan seorang yang taat beragama. Percaya dengan kapasitas intelektual dan religinya, Hatta menunjuk Hasan untuk melobi Ki Bagus.

Dalam memoarnya, Hasan mengisahkan pertemuannya dengan Ki Bagus Hadikusumo. Hatta mengantarkan Hasan ke ruangan kamar tempat Ki Bagus dikarantina. Di tempat itulah Hasan berkenalan dengan Ki Bagus. Saat itu, Hasan masih berusia 39 tahun sedangkan Ki Bagus sudah berumur 54 tahun.

Hatta membuka pembicaraan dengan mengucap Bismillah. Namun Hatta hanya berbicara sejenak karena menghadapi sanggahan demi sanggahan dari sang ulama. Ki Bagus enggan mengubah pendiriannya. Hasan lantas mengambil alih percakapan. Perdebatan sengit pun terjadi antara Ki Bagus yang kelahiran 1890 dengan Hasan yang kelahiran 1906.

 “Dalam perjuangan menuntut kemerdekaan Tanah Air perlu persatuan yang bulat dari semua golongan untuk menghadapi musuh bersama, jangan sampai Belanda memecah belah kita sama kita dan mempergunakan golongan Kristen dan lain-lain melawan golongan Islam dan sebagainya,” kata Hasan kepada Ki Bagus sebagaimana terkisah dalam memoar Mr. Teuku Mohammad Hasan: Gubernur Sumatera, dari Aceh ke Pemersatu Bangsa. 

Menurut Hasan, persatuan adalah senjata utama mencapai kemerdekaan yang telah di depan mata. Sebaliknya, tuntutan sebagian golongan dengan menafikan kelompok lain akan dapat digunakan Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kekhawatiran Hasan cukup beralasan. Orang-orang Kristen yang berbasis di Tanah Batak, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur punya ikatan dengan Belanda melalui pendidikan dan lembaga gereja. Belanda bisa saja menggunakan sentimen agama guna memukul perjuangan Republik dari dalam.

“Apabila kita terus mempertahankan kepentingan sepihak, bisa-bisa orang Kristen dapat dipersenjatai oleh Belanda. Padahal kita kan maunya merdeka, bukan berperang,” pungkas Hasan.

Mendengar penjelasan Hasan, Ki Bagus agak tertohok. Dia melunak dan bersedia memikirkan ulang usulannya. Hasan kembali meyakinkan Ki Bagus agar tetap berbesar hati.  Katanya, “Umat Islam tidak perlu takut mengingat populasinya yang berjumlah 90% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kalau kita banyak, kita tidak perlu cemas. Yang penting merdeka dulu. Setelah itu terserah kita mau dibawa ke mana negeri ini.” 

“Rupa-rupanya kata-kata Mohammad Hasan mengena di hati dan di terima oleh Ki Bagus,” tulis Dwi Purwoko dalam Dr. Mr. T.H. Moehammad Hasan: Salah Seorang Pendiri Republik Indonesia dan Pemimpin Bangsa.

Secara diplomatis, Hasan berhasil membujuk Ki Bagus untuk membatalkan niatannya. Perubahan sikap Ki Bagus dilaporkan Hasan kepada Hatta. Hatta kemudian melaporkan kepada Sukarno, selaku ketua PPKI. Masalah syariat Islam selesai dengan kata mufakat. Maka sidang pun berlanjut ke agenda inti: memilih presiden dan wakil presiden.

“Pada waktu itu kami dapat menginsafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan 'Ke Tuhanan dengan kewjiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' dan menggantinya denga 'Ke Tuhanan Yang Maha Esa',” ujar Hatta.

Polemik sengit dalam perumusan dasar negara itu pungkas dengan keberhasilan mewadahi kepentingan bersama dari berbagai golongan. Sikap Hasan yang tenang dan mengedepankan dialog, alih-alih konfrontrasi, membuat proses negosiasi berjalan dengan baik. Hasan sendiri kelak menjadi gubernur provinsi Sumatera yang pertama dan terakhir.(*)

Sumber: Historia.id

Foto:Korban
LHOKSUKON – Mobil Avanza warna hitam Nopol BL 441 ZM milik Erlina Wati, 53 tahun, dirampok seorang pria yang menutup wajahnya menggunakan helm di jalan Gampong Aron Pirak Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Kamis (23/5/2019) pukul 10.00 WIB.

Kepada polisi, Korban yang merupakan kepala Sekolah SMP swasta Raudhatul Fukara di Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara itu, mengaku dirinya dicegat oleh salah satu dari 3 pria yang menggunakan sepeda motor ditengah jalan saat sedang mengemudi.

“Pelaku masuk dan memaksa menyetir mobil korban, sementara korban yang saat itu bersama temannya diminta untuk pindah ke kursi belakang.” ujar Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah.

Kasat Reskrim menerangkan, kepada korban, pelaku mengaku bahwa dirinya telah menyenggol pelaku dengan mobilnya, sehingga harus melakukan perdamaian.

“Pelaku lalu mengemudikan mobil ke sekolah korban, saat itu korban dan saksi turun dari mobil untuk mencari suaminya sementara pelaku masih didalam mobil, akan tetapi sesaat kemudian pelaku kabur membawa mobil korban.” terang Iptu Rezki.

Saat ini, Iptu Rezki menambahkan, dua pria yang sebelumnya bersama pelaku menggunakan sepeda motor sudah diamankan pihaknya.

“Dua orang ini masih remaja berumur 13 dan 15 tahun, mereka sedang kita periksa sebagai saksi, sementara pelaku yang membawa kabur mobil korban sedang dikejar dan insya Allah segera tertangkap.” pungkasnya. (Nvl)

Jakarta - Sebanyak delapan orang meninggal dunia akibat bentrokan antara massa dengan aparat kepolisian di sejumlah titik di Jakarta. Bentrokan yang terjadi pada Selasa, 21 Mei hingga Rabu, 22 Mei 2019 kemarin juga mengakibatkan ratusan orang menderita luka-luka.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, korban yang meninggal jumlahnya terbaru adalah delapan orang. Sementara masih ada sebanyak 730 orang mendapatkan penanganan kesehatan di berbagai rumah sakit yang tersebar di Ibu Kota.

"Jenis diagnosis terbanyak yang nontrauma 93 orang, luka berat 79 orang, luka ringan 462 orang. Serta yang belum ada keterangan 96 orang," ujar Anies pada Kamis (23/5/2019).

Berikut data korban meninggal dunia dari Pemprov DKI:

1. Farhan Syafero (31) alamat : Depok, Jawa Barat, meninggal di RS Budi Kemuliaan pada 22 Mei 2019 (jenazah dirujuk ke RSCM)

2. M. Reyhan Fajari (16) alamat Jalan Petamburan 5, RT 010/05, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Meninggal di RSAL Mintoharjo pada 22 Mei 2019

3. Abdul Ajiz (27) alamat Pandeglang, Banten, meninggal di RS Pelni pada 22 Mei 2019

4. Bachtiar Alamsyah alamat Batu Ceper, Tangerang, meninggal di RS Pelni
pada 22 Mei 2019

5. Adam Nooryan (19) alamat Jalan Sawah Lio II Gang 3 No 6A RT 6/1 Jembatan 5, Tambora, meninggal di RSUD Tarakan pada 22 Mei 2019

ADVERTISEMENT

6. Widianto Rizky Ramadan (17) alamat Jalan Slipi Kebon Sayur, Kemanggisan, Slipi meninggal di RSUD Tarakan

7. Tanpa Identitas, Pria meninggal di RS Dharmais pada 22 Mei 2019

8. Sandro (31) meninggal di RSUD Tarakan pada 23 Mei 2019 (pascarawat sejak 22 Mei 2019) 

Sumber: Sindonews

Banda Aceh - Laporan Keuangan Pemerintah Aceh tahun 2018 kembali mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini dari Badan Pemeriksa Keuangan itu merupakan  yang ke empat kali diperoleh pemerintah Aceh, secara berturut-turut.

"Kami berharap WTP tersebut dapat memberikan dorongan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas Keuangan pemerintah daerah di Aceh," kata Bambang Pamungkas, Auditor Utama Keuangan Negara V BPK RI, usai menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Aceh tahun 2018 dalam rapat paripurna di DPR Aceh, Kamis 23/05.

"Prestasi ini akan menjadi momentum untuk lebih mendorong terciptanya akuntabilitas dan transparansi keuangan sehingga menjadi kebanggaan bersama yang patut dipertahankan," kata Bambang.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyebutkan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh tahun 2018 merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBA tahun 2018 yang disajikan sebagai salah satu instrumen dalam mengevaluasi kinerja pelaksanaan pembangunan pemerintah Aceh.

"Pemerintah Aceh akan terus berupaya mewujudkan clean government and good governance dalam pengelolaan keuangannya," kata Nova.

Plt Gubernur mengapresiasi seluruh SKPA yang telah bersusah payah menyusun laporan keuangan untuk dikonsolidasikan dalam kesatuan Laporan Keuangan Pemerintah Aceh. Ia meminta agar seluruh SKPA terus meningkatkan kualitas laporan keuangannya, tidak sebatas pada penyajian tapi juga dalam pengelolaan dan pelaksanaan program serta kegiatan.

Para kepala SKPA, lanjut Nova, merupakan pihak yang bertanggungjawab penuh atas laporan keuangannya. Laporan keuangan SKPA, ujar dia, merupakan gambafan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan program. "Tolong benar-benar perhatikan perencanaan program-program kegiatan sehingga visi-misi Aceh Hebat dapat dicapai maksimal."

Dalam laporan hasil pemeriksaan BPK, lembaga itu memang melakukan beberapa koreksi. Di antaranya adalah kelemahan dalam hal penganggaran, penatausahaan, pertanggungjawaban dan tata kelola aset serta penyajian laporan. Koreksi itu akan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah Aceh demi peningkatan kualitas laporan keuangan Pemerintah Aceh.

Ketua DPR Aceh, Sulaiman, mengatakan pihaknya bangga atas prestasi tersebut. "Kita mendorong agar prestasi itu sejalan dengan tata kelola pemerintahan yang semakin baik serta terbuka dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan," kata Sulaiman. Ia berterimakasih pada BPK Aceh yang telah mencermati dan mengaudit kinerja keuangan pemerintah Aceh tahun 2018.(*)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.