Latest Post

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, diusir massa Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, saat memberikan kuliah kebangsaan di Aula Kampus 1, Medan, Kamis (21/3/2019). [Medanheadlines]
Medan - ‎Ali Mochtar Ngabalin, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, diusir massa Aliansi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, saat memberikan kuliah kebangsaan di Aula Kampus 1, Medan, Kamis (21/3/2019).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, saat Ngabalin menjadi salah satu pemateri kuliah kebangsaan yang bertemakan industri 4.0.

Tiba-tiba terdengar teriakan massa mahasiswa yang mengusirnya. Ngabalin yang mendengar teriakan massa, langsung keluar dan mengklarifikasi kehadirannya bukan untuk tujuan politik.

Namun, klarifikasinya ditolak massa mahasiswa. Terdengar para mahasiswa yang berteriak, ”Pulang kau, pulang kau, usir, usir, usir”.

Ngabalin tampak hanya tersenyum menanggapi teriakan para mahasiswa lalu meninggalkan acara.

Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa UINSU Boby Harahap mengatakan, aksi ini sengaja dilakukan untuk menjaga independensi kampus.

Sebab, Ngabalin dinilai sebagai bagian dari tim sukses Capres dan Cawapres nomor urut 1 Jokowi – Maruf Amin.

“Tim siapa pun yang datang di kampus akan diusir, karena kampus adalah tempat mahasiswa untuk belajar, tidak boleh dilakukan sebagai lahan politik praktis dan kepentingan pribadi,” ujar Boby.

Boby mengatakan, kehadiran Ngabalin di UINSU memiliki indikasi yang bermuatan politis yang dikemas dalam dialog wawasan kebangsaan yaitu industri 4.0 .

Reaksi massa, kata Boby, berlangsung spontanitas, berawal saat Ngabalin menyampaikan materi dengan menampilkan foto dan video Jokowi.

“Itukan enggak rasional. Foto dan video beredar dan suasana di dalam itu ricuh dan riuh, jadi kita melaksanakan aksi pada saat Ngabalin sedang presentasi, kita usir beliau kemudian pergi,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UINSU Amroeni Drajat saat dikonfirmasi membantah kalau kegiatan itu bermuatan politis.

“Pada hari ini kami mengadakan kegiatan (dari) Kominfo tentang (masalah) menghadapi revolusi industri,” ujar Drajat seperti diberitakan Kabarmedan.com—jaringan Suara.com.

Amroeni juga mengatakan, pada kegiatan itu sama sekali tidak ada kegiatan politik.

“Perlu diluruskan bahwasanya di dalam kegiatan ini tidak ada politisasi. Adapun (bila) sebagian dari mahasiswa menafsirkan sebagai kegiatan politik di kampus, itu sebuah kewajaran (melibatkan),” tambahnya.

Terkait aksi mahasiswa tersebut, kata Drajat, pihak kampus nantinya memberikan pengertian agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Acara ini pada hakikatnya (dialog) untuk unsur kebangsaan untuk menghadapi 4.0. Kalau sanksi (tidak ) ada, kita berikan pemahaman. Kalau saya rasa idealisme yang mendorong (mahasiswa ) melakukan (aksi) itu.”

Sumber: kabarmedan.com

Ilustrasi
Lhokseumawe  – Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lhokseumawe berhasil membekuk  dua ersangka pelaku pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Kedua pelaku tersebut berinisial YF (21), dan FS (20) keduanya warga Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Indra Trinugraha Herlambang, S.Ik menyebutkan, kejadian itu berawal pada 4 Februari 2019 lalu. Sekitar pukul 03.00 WIB, PB yang merupakan korban berusia 15 tahun tersebut menerima telepon dari dari nomor telepon yang mengaku Yusri (saksi).

Orang yang mengaku Yusri ini mengajak ketemuan PB dan juga disuruh ajak temannya AY (korban 15 tahun) untuk datang ke Jembatan tepatnya di Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

“Setibanya di lokasi kejadian tiba-tiba, kedua korban ini tidak bertemu dengan orang bernama Yusri tapi malah bertemu dengan YF dan FS. Saat itu ke dua korban ini dipisahkan oleh kedua pelaku tersebut,” kata Kasat Reskrim saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Kamis (21/3).

Sambungnya lagi, saat keduanya berhasil dipisahkan, saat itulah ke dua pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap ke dua korbannya ini. Namun, saat itu korban mengatakan kepada pelaku kalau ada warga yang membawa senter.

“Ketika korban mengatakan hal tersebut, lalu kedua pelaku melarikan diri,” ungkapnya.

Setelah kedua orangtua korban ini mengetahui kejadian tersebut, paada 5 Maret 2019 lalu, pihaknya melaporkan hal itu ke Reskrim Polres Lhokseumawe. Dan setelah tim melakukan penyelidikan serta sudah cukup dan lengkap barang bukti, pihaknya berhasil menangkap pelaku di rumahnya masing-masing tepatnya di Kabupaten Bireuen.

“Untuk kedua pelaku ini disangkakan pidana Pasal 47 qanun Aceh nomor 6 tahun 2004 tentang hukum jinayat, dengan ancaman pidana uubat ta’zir cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan,” pungkas Kasat Reskrim. (Trb)

Danlantamal I Belawan, Laksamana Pertama TNI Ali Triswanto mengatakan, penangkapan itu bedasarkan informasi bahwa akan masuk dua boat nelayan yang terindikasi membawa sabu masuk ke Lhokseumawe melalui jalur Perairan Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Senin (18/3).
StatusAceh.Net - Pemain narkoba di Indonesia hingga kini masih menjadikan keuntungan uang sebagai dasar utama motivasi mereka dalam melakukan aktivitas bisnisnya, Narkoba dari aspek ekonomi sangat merugikan negara dalam berbagai hal termasuk beban keuangan negara terutama untuk sektor kesehatan dan keamanan.

Dengan total penduduk sekitar 270 juta jiwa, Indonesia adalah pasar besar bagi pengedar narkoba. Secara ekonomi, bisnis gelap narkoba sangat menggiurkan. Alasan keuntungan yang besar dan cepat adalah alasan utama. Dalam waktu satu minggu, bandar tersebut dapat menjual sabu minimal total 1 kg. Keuntungan bersih per kg adalah 400jt. Dengan penjualan minimum per 50gr seharga 50-52jt. Sedangkan harga per 1 kg sabu di Tawau, Malaysia adalah 500jt. Menurut pengakuannya, menyelundupkan sabu dari Tawau ke Sulawesi Selatan cukup mudah karena adanya Kapal penumpang secara langsung dari Nunukan tujuan Pare-Pare. Selain itu, karena terdapat oknum aparat, baik di Indonesia ataupun di Malaysia, yang dapat "bekerja sama" dan dapat disuap jika sewaktu-waktu sabu miliknya terkena razia.

Situasi penjara di Indonesia memang sangat tidak mendukung terhadap upaya pemberantasan narkoba. Terdapat "perlindungan" yang diterima oleh narapidana dalam melakukan aktivitas bisnisnya melalui terali besi penjara. Lapas atau Rutan menjadi sangat ekslusif karena terdapat prosedur yang rumit dalam upaya mengungkap narapidana yang masih berbisnis narkoba. Kemenkumham harus terbuka dalam upaya mengungkap narkoba karena pengendalian narkoba dari Lapas adalah hal biasa.

Kemenkumham tidak boleh menutup diri bagi Polri atau BNN untuk dapat sewaktu-waktu melakukan sidak karena harus melalui izin padahal dalam proses pengungkapan narkoba, penegak hukum berkejaran dengan waktu dan upaya menjaga kerahasiaan informasi. Jika BNN atau Polri untuk melakukan sidak atau upaya "penangkapan" terhadap pengendalian narkoba dari dalam penjara harus melalui prosedur izin biasa, hampir pasti informasi tersebut akan bocor dan operasi akan gagal. Setiap kali dilakukan sidak di Lapas, hampir pasti akan ditemukan hand phone, bahkan dengan fasilitas M-Banking. Operasi sidak di Lapas pun akan gagal jika rencana operasi bocor. Jika saja ada hukuman yang berat terhadap petugas Lapas hingga pemecatan jika masih ditemukan alat komunikasi secara liar di dalam lapas, maka itu dapat menjadi bagian dari solusi atas persoalan narkoba di Indonesia.

Trending topik dalam bebrapa hari yang lalu empat orang kurir narkoba jenis Sabu-sabu berhasil diringkus oleh TNI Angkatan Laut Lhokseumawe. Tidak sedikit barang bukti yang disita, jika dikalikan dengan rupiah makan bisa mencapai ratusan Milyar.

Empat nelayan yang ditangkap bersama 50 Kg sabu tersebut terjadi pada hari Minggu (17/03/2019), mereka disergap oleh Tim gabungan F1QR Lanal Lhokseumawe Lantamal 1 Medan, Bukan hanya Sabu,  sepucuk pistol jenis Beretta dan 7 butir amunisinya juga disita oleh TNI AL tersebut.

Keempat tersangka yang ditangkap yakni Ibnu Sahar Bin Ibnu Sakdan alias Jamen (36), Hamdan Syukranilillah (28), Irwandi (29) serta Muhamad Arazi (28) yang merupakan warga Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Keempat pelaku ini berperan sebagai transportir laut untuk mengambil barang haram itu.

Tersangka Ibnu Sahar alias Jamen, diketahui telah bekerja lima kali bersama Ferry untuk menyelundupkan sabu dengan jumlah bervariasi yakni belasan hingga puluhan kilogram sejak September 2018 hingga kemarin.

Tersangka Hamdan Syukranilillah, sudah bekerja 4 kali bersama Ferry menyelundupkan sabu dengan jumlah bervariasi sejak November 2018 lalu hingga kemarin. Sementara tersangka Irwandi (29) dan Muhamad Arazi (28), masing-masing baru bekerja bersama Ferry selama dua kali dan satu kali.

Danlantamal I Belawan berharap dengan ditangkapnya penyelundup sabu jaringan internasional ini dapat mengurangi volume masuknya narkoba ke Aceh. Menurut dia, tidak menutup kemungkinan masih adanya bandar narkoba jaringan internasional lainnya yang masih berkeliaran.

"Mungkin belum terpantau oleh pihak keamanan sebab wilayah kota Lhokseumawe dikelilingi oleh laut, sehingga memudahkan bagi penyelundup narkoba masuk," kata Laksamana Pertama TNI Ali Triswanto.(Red)

Imam Nizam ul haq Thanvi membacakan Surat Al-Baqarah pada pembukaan sidang parlemen Selandia Baru. Foto/Istimewa
WELLINGTON - Parlemen Selandia Baru berduka atas pembantaian di Masjid Christchurch. Untuk menunjukkan rasa duka itu, sidang parlemen dibuka dengan pembacaan doa secara Islam untuk para korban.

Dalam sidang parlemen yang terjadi pada Selasa kemarin, Ketua Parlemen Trevor Mallard memimpin delegasi multi-agama ke ruangan itu, dengan Imam Nizam ul haq Thanvi, membacakan doa dalam bahasa Arab, diikuti oleh versi bahasa Inggris oleh Imam Tahir Nawaz.

Kemudian dilanjutkan dengan doa Te Reo Maori.

Para politisi berdiri dan tampak diam ketika doa dari Imam Nizam ul haq Thanvi bergema di dalam ruangan parlemen. Dalam kesempatan itu, Imam Nizam ul haq Thanvi membacakan Surat Al-Baqarah ayat 153-156.

Para politisi dari kedua sisi DPR juga terlihat bersatu dalam memberikan penghormatan kepada para korban yang tewas dalam serangan mengerikan itu.

"Saya telah meminta sekelompok pemimpin agama untuk datang ke Parlemen dengan saya sebagai tanda persatuan dan kebersamaan. Jadi, periode doa kita hari ini akan sedikit diperpanjang," ujar Ketua DPR Trevor Mallard seperti dikutip dari tvnz.co.nz, Rabu (20/3/2019).

Sementara itu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memberikan pernyataan belasungkawa pertama. Ia membuka pidatonya dengan mengucapkan Assalamualaikum.

"Mereka adalah orang Selandia Baru, mereka adalah kami. Karena mereka adalah kami, kami berduka cita untuk mereka," katanya.

"Kami tidak bisa mengetahui kesedihanmu, tetapi kami bisa berjalan bersamamu di setiap tahap," sambungnya.

Ia pun memberikan penghormatan kepada kepada mereka yang mencoba menghentikan serangan tersangka, dan polisi yang menangkapnya Penangkapan itu sendiri tidak lain dari tindakan keberanian.

Ardern pun menyatakan ia tidak akan pernah menyebut nama pelaku.

Sedikitnya 50 orang tewas dan 50 lainnya terluka setelah seorang warga negara Australia, Brenton Tarrant, memberondong dua masjid di Christchurch saat salat Jumat. | Sindonews

Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Banda Aceh - Perkara dugaan korupsi proyek pembangunan gedung Kementerian Agama (Kemenag) di kantor wilayah Aceh masih bergulir di persidangan. Namun KPK diminta ikut turun tangan menelisik lebih jauh kasus itu.

Hal itu disampaikan koordinator LSM Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian. Dia menilai kasus yang ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh tersebut belum sepenuhnya tuntas.

"MaTA merekomendasikan kepada KPK untuk mengungkapkan secara menyeluruh terhadap sistem yang korup secara menyeluruh dan termasuk Kemenag Aceh yang masih bermasalah dengan kasus korupsi dan penyelesaiannya tidak utuh," kata Alfian dalam keterangannya, Kamis (21/3/2019).

"Kami percaya kepada KPK dalam penindakan yang sedang berlangsung dan dapat mengembangkan kasus tersebut secara menyeluruh sampai ke daerah," imbuh Alfian.

Dia ingin perkara itu tidak berhenti pada 2 orang saja. Alfian meyakini masih ada pihak yang lain yang bertanggung jawab atas kasus itu.

"KPK dapat melakukan penyelidikan secara menyeluruh mulai pengelolaan anggaran dan kebijakan dalam jabatan di tingkat Kanwil Kemenag di level daerah, termasuk Aceh," kata Alfian.

Perkara ini saat ini masih dalam proses pengadilan di Pengadilan Negeri Banda Aceh. Ada 2 terdakwa yang diadili, yaitu Yuliadri sebagai pejabat pembuat komitmen dan Hendra Saputra sebagai rekanan yang mengerjakan proyek.

Pembangunan gedung itu menggunakan APBN 2016 dan kejanggalannya diketahui BPK hingga diusut kejaksaan. Yuliadri dan Hendra pun sudah dituntut pada 21 Februari 2019, meski belum divonis.

Yuliadri dituntut 1,5 tahun penjara, begitu pun Hendra. Namun Hendra mendapat tuntutan hukuman tambahan, yaitu diwajibkan mengembalikan uang Rp 1,01 miliar. | Detik.com

Banda Aceh - Sebanyak 10 orang dari lima pasangan pelanggar Qanun Syariat Islam dicambuk di halaman Masjid Baiturrahmah, Gampong Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Aceh, Rabu (20/3/2019). Mereka divonis bersalah melanggar pasal ikhtilat dan khalwat.

Dari 10 pelanggar syariat yang disabet rotan oleh algojo itu, delapan di antaranya melanggar Pasal 25 ayat (1) Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang ikhtilat (bermesraan dengan pasangan tidak sah).

Mereka adalah MI (19 kali cambukan), WR (19), KM (22), SF (22), HS (19), RF (19), RI (20), dan KF(19). Hukuman cambuk tersebut diterima masing-masing terdakwa setelah dipotong masa tahanan 4 kali.

Sementara, dua terdakwa lain: MR sebanyak 6 kali cambukan dan NY (4), divonis bersalah melakukan khalwat (mesum) yang diatur Pasal 23 ayat (1) Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014.

Eksekusi cambuk dilakukan pukul 11.00 WIB. Sebelum eksekusi, petugas beberapa kali sempat mengimbau anak-anak di bawah usia 18 tahun agar tidak menyaksikannya.

Kendati demikian, masih banyak anak-anak yang menyaksikan dari teras masjid --tak terpaut jauh dari panggung eksekusi.

Kepala Bidang Pencegahan Syariat Islam, Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh, Safriadi, mengatakan anak-anak memang dilarang menyaksikan eksekusi cambuk karena sudah diatur dalam qanun. Namun, praktiknya tidak sesuai.

"Kita sudah imbau, kadang bahasa kita sudah agak kasar, tapi orang tuanya juga tidak menggubris. Kita sangat prihatin dengan orang tuanya. Cambuk nanti punya dampak psikologis (bagi anak-anak)," kata dia kepada jurnalis di lokasi.

Safriadi menambahkan, sebelum eksekusi cambuk, pihaknya terlebih dahulu menyampaikan ke perangkat kecamatan dan gampong. Selain itu, pihaknya mengajak semua lapisan masyarakat menjadi Wilayatul Hisbah (WH) dalam memantau, mengawasi, dan mencegah pelanggaran syariat Islam.

"Jangan menunggu dulu. Karena ada juga masyarakat berpikir, setelah mereka melakukan pelanggaran baru ditangkap. Kita berharap preventif, jadi sebelum terjadi kita cegah," kata Safriadi.

Safriadi menyebutkan, pelanggar syariat Islam kebanyakan mahasiswa dari luar Kota Banda Aceh. Dia berharap, orang tua mereka agar mengingatkan anaknya yang kuliah di Banda Aceh. Sementara pemilik rumah kos agar mengawasi penghuni kos.

"Termasuk juga pengawasan dari pihak gampong," tuturnya.

Ini adalah eksekusi cambuk ketiga selama 2019 atau kedua selama Maret 2019 di Banda Aceh. Eksekusi pertama bulan ini berlangsung pada Senin dua pekan silam (4/3).

Namun, lokasinya berbeda. Pada 4 Maret, ada enam pasangan yang mendapat vonis serupa dan menjalani eksekusi di halaman Masjid Syuhada, Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Berbeda pula dengan terpidana terbaru, para pelanggar Qanun Syariat Islam yang lalu adalah para tamu hotel. Para pelanggar melakukan aksi mesum dengan pasangan tak sah di penginapan.

Meski begitu, eksekusi cambuk kembali di lakukan di halaman masjid atau di tempat terbuka. Padahal ada Peraturan Gubernur No. 5 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Hukum Acara Jinayat di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas).

Persoalannya, para petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) sebagai penanggung jawab eksekusi tak punya petunjuk teknis. Itu sebabnya mereka belum bisa menggelar eksekusi di dalam lapas. | Beritagar
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.