2016-01-03

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Jayapura - Presiden Jokowi beberapa waktu lalu berkunjung ke Papua. Dalam lawatannya, orang nomor satu di Indonesia itu menyatakan siap membuka ruang dialog dengan TPN/OPM yang kini masih berjuang mengangkat senjata.

Lalu, bagaimana tanggapan kelompok ini?

"Kami hanya mau Papua Merdeka, kami tak mau dialog dengan siapapun termasuk Presiden RI," kata Panglima TPN/OPM wilayah Lany Jaya Papua, Puron Wenda, melalui telepon selulernya, Sabtu, 9 Januari 2016.

Menurut Puron, dialog tidak akan menyelesaikan persoalan Papua. Karena orang Papua hanya ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membangun sendiri Papua. "Dialog, itu hanya omong kosong, karena dialog hanya program pejabat atau segelintir elite Papua, untuk kepentingan mereka. Kami TPN/OPM bersama rakyat hanya ingin merdeka, dan akan terus berjuang untuk mewujudkannya," ujarnya menegaskan.

Puron Wenda meminta, sebaiknya Jokowi melepaskan Papua untuk menentukan nasibnya sendiri. Daripada pertumpahan darah terus terjadi. "Jangan lagi bicara dialog atau otonomi, itu hanya untuk kepentingan segelintir elite pejabat Papua saja," ujarnya berdalih.

Ia meyakini, bila Papua Merdeka, maka tidak akan ada lagi pertumpahan darah. "Kalau Papua sudah merdeka mungkin segala aksi kekerasan akan berhenti dan situasi aman," ujarnya berjanji.

Disinggung bahwa kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru, Puron tetap mengatakan akan berjuang sesuai dengan caranya saat ini. Dia memastikan bahwa TPN/OPM tidak akan berhenti.

Penyerang Polsek Sinak

Puron mengungkapkan, bahwa kelompok yang menyerang Polsek Sinak ada di bawah koordinasinya. Ia mengklaim sudah mengatur mereka. "Di bawah komando Lekagak dan Tenggemati Telenggen," ujarnya mengklaim.

Kelompok itu, kata Puron, beranggotakan sekitar 56 orang dan bermarkas di Yambi Puncak Jaya. Komandan pos adalah Lekagak dan komandan operasi Tenggahmati. Pasca penyerangan, Puron mengakui, aparat TNI/Polri terus mengejar mereka dan salah satu anggotanya yang melakukan penyerangan tewas tertembak. "Ada satu anggota saya yang tertembak oleh pasukan Indonesia," ucapnya.

Adapun jumlah senjata saat ini untuk kelompok Yambi di bawah komando Lekagak dan Tenggamati, sudah mencapai dua puluhan pucuk. "Kemarin dari Sinak tambah 6 pucuk, sebelumnya ada 8 dari Pos Polisi Kulirik. Ditambah senjata lama jenis Mouser, AK47 dan AK China sebanyak 6 pucuk serta laras pendek pistol 4 pucuk," ujarnya menerangkan.

Meski pelaku penyerangan Polsek Sinak dari Markas Yambi Puncak Jaya, Puron menyebut ada juga anggotanya yang menjadi komandan Pos di Puncak. "Ada Titus Murib dan Beny Murib di Ilaga dan Sinak," terangnya.

Puron menambahkan, kelompok Yambi kerap beraksi di Sinak, karena jarak tempuhnya yang dekat. Apabila ditempuh dengan jalan kaki maka dari Yambi ke Sinak hanya butuh waktu 6 jam. "Kalau kami dari Lany Jaya 1 hari, jadi Lekagak dan Tenggamati serta pengikutnya lebih mudah beraksi."(VIVA)

Personel Polri di Poso.
Meskipun operasi Camar Maleo IV sudah dinyatakan berakhir, tetapi kelompok teroris Santoso masih belum tertangkap. Untuk itu polisi menyatakan telah mempersiapkan operasi baru untuk terus mengejar kelompok yang meresahkan masyarakat itu.
Poso - Kepolisian Poso Sulawesi Tengah menegaskan tidak akan berhenti memburu kelompok teroris Santoso meskipun Operasi Camar Maleo IV telah berakhir pada 9 Januari 2016.

Kapolres Poso AKBP Ronny Suseno mengatakan kepada VOA hari Kamis (8/1) bahwa Mabes Polri telah memastikan akan ada operasi baru untuk melanjutkan operasi Camar Maleo IV. Operasi baru nanti diberi nama sandi “Operasi Tinombala 2016”.

"Akan ada kepanjangan dari operasi ini, ada kelanjutannya dengan sandi sementara yang kita tahu Tinombala. Operasi Tinombala 2016. Kepastiannya belum ada keputusan dari Mabes, yang jelas pasti akan ada operasi lanjutan itu," ungkap Ronny.

Wilayah operasi Tinombala 2016 itu masih difokuskan untuk mencari dan mengejar kelompok teroris Santoso di pegunungan Poso dan akan mengikutsertakan dua kepolisian resor dari dua kabupaten yang berbatasan dengan Poso, yaitu Polres Parigi Moutong dan Polres Sigi.

Jumlah personil dalam operasi Tinomba 2016 mungkin akan jauh lebih besar dari operasi Camar Maleo IV. Sekitar 300 personil Brimob BKO Mabes Polri yang telah ditarik pada 7 Januari 2016 dan kini ditempatkan di Polda Sulawesi Tengah menurut rencana akan dikirim kembali ke Poso dalam dua minggu. Mereka akan bergabung dengan 700 personil Brimob yang masih mengisolasi kelompok Santoso dari pemukiman masyarakat. Selain itu, juga akan ada tambahan dua SSK Brimob BKO Mabes Polri.

“Ada penambahan 2 SSK lagi, ada perintah dari Waka Polri memang akan ada penambahan nanti,” tambah Ronny.

Sejauh ini belum jelas apakah TNI akan dilibatkan dalam operasi baru ini. Ronny mengatakan, "Nah, ini masih digodok dalam tingkat Mabes jadi kita informasi yang kita dapat hanya sebatas sandi operasi yang akan digunakan setelah operasi Camar 4."

Sepanjang tahun 2015 Polri telah menggelar empat operasi untuk mencari dan menangkap kelompok teroris Santoso, tetapi belum membuahkan
hasil. Tinombala yang akan menjadi nama sandi operasi baru ini diambil dari nama sebuah puncak pegunungan Bosagong, di Desa Tinombala, Kecamatan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Mesut Ozil
Sport - Mesut Ozil malah pilih pemain yang satu ini saat harus pilih Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Pilihan yang cukup bijak.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sudah tidak terhitung disebut sebagai pemain terbaik di kolong planet bumi saat ini. Tapi Mesut Ozil berpikiran lain, ketika disuruh memilih antara dua pemain di atas, ia justru cepat menunjuk hidung Mathieu Flamini.

Pada hari Jumat (08/01/2016) malam, Ozil menggelar tanya jawab melalui akun Twitter dengan para penggemarnya. Mula-mula, Ozil mendapat pertanyaan dari akun @c4st_no_shadOw, ‘Ronaldo atau Messi?’. Tegas sekaligus diiringi emoticon tertawa, Ozil menjawab dengan tidak ragu-ragu ‘Flamini!!!’

Jawaban ini karuan mengejutkan jagat bola dunia. Bagaimana tidak, semua perhatian saat ini sedang tertuju pada Messi dan Ronaldo sebagai finalis yang akan merebutkan status pemain terbaik dari FIFA dalam gala penyerahan Ballon d’Or yang akan berlangsung pada 11 Januari besok. Tidak ada nama Mathieu Flamini.

Kemudian pemain Arsenal raja assist di Premier League sepertinya juga yakin Flamini akan menyabet Ballon d’Or jika seandainya ia menjadi salah satu nominasi.

“Siapa yang akan menang Ballon d’Or tahun ini?” tanya seseorang dengan akun @diLekhan1m.

“Apakah Flamini masuk dalam nominasi?” jawab Ozil dengan sedikit heran.(gilabola.com)

Banda Aceh- Terungkapnya salahsatu napi bos narkoba telah kabur 10 hari yang lalu,membuat sejumlah napi didalam lapas banda aceh mulai membeberkan borok lapas tersebut.

Salah seorang napi kasus narkotika bernama Napi atas nama Safrizal Bin Zainuddin,Dusun Ingin Jaya Desa Pante Bale,Kec Langkahan Aceh Utara dikabarkan beberapa hari lalu mengalami sakit yang amat sangat dibagian perutnya bekas operasi akibat luka bacok saat dirinya belum menjalani pidananya dilapas banda aceh.

Sudah berkali-kali keluarga napi saftizal tersebut memohon agar pihak lapas mengizinkan dirawat dirumah sakit untuk jalani operasi.

Walau telah melengkapi segala sesuatu persyaratan yang diminta oleh pihak lapas namun napi tidak juga diberi izin untuk dirawat dirumahsakit.

Namun berkat bantuan pihak YARA Aceh yang mendampingi akhirnya pihak LP Banda aceh baru mengeluarkan safrizal untuk dirawat dan jalani operasi dirumah sakit zainal abidin banda aceh.

Basri Koordinator YARA Aceh timur menuturkan jika safrizal sudah mengalami sakit hampir 1 minggu dan pihak keluarga dipersulit untuk mendapat izin dirawat dirumahsakit akibat dipersulitnya serta tidak tahan dengan melihat rintihan kesakitan safrizal pihak keluarga meminta agar ihak LP Banda Aceh untuk disuntik mati  jika memang tidak diberi izin dirawat dirumah sakit.

“ Sudah kesal melihat perilaku dan moral para petugas maupun pejabat lapas,dimana napi berduit sangat mudah dikeluarkan namun napi sakit keras yang memerlukan pertolongan medis kok malah dipersulit” ujar basri kesal.

Setelah pihak keluarga meminta agar saftizal disuntik mati,entah bagaimana tiba-tiba pihak lapas baru memberi izin dirawat dirumahsakit zainal abidin hingga kini.

Basri juga menambahkan jika pihaknya sangat mengecam bahkan mengutuk keras sikap dan perilaku para pejabat dan petugas LP Banda Aceh yang kerap mengedepankan finansial dalam pengeluaran napi bukan sebaliknya mengedepankan rasa kemanusiaan.

Reporter: Azhar

StatusAceh.Net - Ada opsi transportasi seru bagi traveler yang ingin mengunjungi Banda Aceh. Kini dari Medan, tersedia bus dua tingkat dengan fasilitas super lengkap!


Ini adalah salah satu bus baru Simpati Star dengan rute Medan-Banda Aceh. New Mercedes-Benz OC 500 RF 2542 dengan dua tingkat. Berdasarkan informasi yang saya dapat, fasilitas di bus ini merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia.


Bus terbaru ini merupakan kelas Super VIP. Di bagian depan tempat duduk terdapat televisi mini, dan tentunya kamar mandi di bagian belakang. WiFi gratis juga tersedia.

Anda yang ingin traveling ke Aceh bisa mencoba jenis transportasi baru ini. Pengalaman yang seru sepanjang perjalanan!(Detik)

Organisasi Papua Merdeka pimpinan Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang bermarkas di Lany Jaya, Papua (VIVA.co.id/Banjir Ambarita)
 "Bagaimana itu Republik. Tahanan kok bisa kabur?"
Jayapura - Pimpinan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) wilayah Lany Jaya, Puron Okinan Wenda mengejek sistem pengamanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura sehingga sangat mudah dibobol tahanan untuk kabur.

"Bagaimana itu Republik? Tahanan kok bisa kabur macam belum merdeka saja," ujar Puron kepada VIVA.co.id, Sabtu, 9 Januari 2016.

Puron mengatakan, ada dua dari 13 tahanan kabur yang terdata sebagai anggotanya. "Dua tahanan Lapas Abe yang kabur adalah anggota saya yakni Yogor dan Usmin Telenggen," ujarnya bangga.

Menurut Puron, dua anggotanya itu berhasil melarikan diri tanpa ada bantuan dari kelompok OPM. Keduanya kabur dengan cara mereka sendiri. "Kami sama sekali tidak tahu rencana mereka kabur, tapi itu bukti mereka tetap dengan tekadnya memperjuangkan kemerdekaan Papua," katanya menambahkan.

Puron Wenda meminta Kepolisian tidak lagi mengejar dua tahanan OPM yang melarikan diri dan menahan para pejuang kelompok OPM lainnya. "Indonesia jangan tahan-tahan lagi para pejuang kemerdekaan Papua, karena itu ilegal. Jangan kejar-kejar mereka, karena mereka punya hak untuk merdeka."

Sebelumnya, 13 tahanan melarikan diri dari Lapas Abepura Papua, Jumat, 8 Januari 2016, sekitar pukul 11.30 WIT. Mereka kabur setelah melakukan perlawanan kepada petugas yang berjaga. Mereka yang melarikan diri sebagian besar adalah telah berstatus narapidana dalam berbagai kasus terutama makar dan penyerangan terhadap aparat keamanan.(VIVA)

StatusAaceh.Net - Situasi di Israel dan Jalur Gaza menjadi kian rumit akibat permusuhan antara para pemukim Yahudi garis keras dengan pemerintah Israel. Hamas pun bersumpah meningkatkan perlawanan untuk mengusir Israel.

Tidak ada perdamaian yang tampak di depan mata antara Israel dan Palestina, sementara kekerasan di wilayah tersebut terus meningkat. Pemimpin Hamas di Gaza pada Kamis 7 Januari bersumpah bahwa Palestina akan terus melakukan pemberontakan sampai tujuan mereka bisa tercapai.

Berbicara kepada pendukungnya di Gaza, pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh mengatakan bahwa rakyat Palestina akan berjuang "sampai tanah (yang diduduki Israel) tersebut dibebaskan."

"Kami melanjutkan dengan pemberontakan dan terus membangun kekuatan dengan cara yang akan mengejutkan dunia. Kami tidak melakukan ini untuk membela Gaza; kami melakukannya untuk membebaskan Yerusalem dan seluruh Palestina," kata Haniyeh, seperti dikutip VOA Indonesia, Sabtu (9/1/2016).

Pada 1 Januari, militan Palestina diduga menembakkan beberapa roket ke Israel selatan, dan militer Israel segera merespons dengan serangan udara. Israel mengatakan menangkap enam anggota Hamas atas dugaan bahwa mereka berencana untuk menculik dan membunuh seorang warga Israel. Pasukan keamanan menewaskan tiga warga Palestina di dekat permukiman Betlehem di Israel selatan Kamis 7 Januari, bertepatan dengan hari di mana warga Kristen Ortodoks hari merayakan Natal di kota diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus.

Seorang warga Palestina lainnya tewas di dekat kota Hebron ketika ia mencoba untuk menusuk seorang tentara Israel. Seringnya terjadi serangan pisau telah mendorong Israel untuk berusaha membuat rompi pelindung khusus.

"Saya tegaskan, pemberontakan akan berlanjut sampai tanah tersebut dikembalikan kepada kami. Kami akan terus memompa darah dan jiwa kita ke dalam Intifada (perlawanan Palestina)," tegas Haniyeh.

Situasi di Timur Tengah kini menjadi lebih rumit akibat munculnya permusuhan antara para pemukim Yahudi garis keras dengan pemerintah Israel. Selain memerangi pemberontakan warga Palestina, Israel juga harus berurusan dengan para pemukim Yahudi ultra-ortodoks.

Pada Minggu 3 Januari, seorang pemuda Israel berusia 21 tahun telah didakwa melakukan serangan pada Juli 2015 terhadap sebuah rumah di Duma, Tepi Barat yang menewaskan satu keluarga Palestina dan seorang bayi mereka. Diduga penyerang tersebut adalah anggota dari kelompok yang disebut "Pemuda Hilltop", generasi baru pemukim Yahudi garis keras.

"Jika kita tidak berada di sini, orang-orang Arab akan berada di sini dan apa pun yang berhasil dimiliki oleh orang-orang Arab sekarang akan sangat sulit (bagi kami) untuk mengambilnya kembali nanti. Dan itu bahkan bukan sebuah peperangan, (tapi) itu adalah peperangan diam-diam," kata Refael Morris, seorang anggota dari kelompok "Pemuda Hilltop".

Namun, pasukan keamanan Israel mengatakan bahwa kelompok radikal itu kecil dan tidak memiliki dukungan dari pemerintah atau masyarakat luas.

Senada dengan Israel, otoritas Palestina juga mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mencegah para pemuda Palestina yang tidak melihat adanya harapan masa depan, kecuali dengan melakukan peperangan.(konfrontasi.com)

Din Minimi
StatusAceh.Net - Din Minimi masih dijaga ketat pengawalnya. Ia tetap bersikeras tidak mau diproses secara hukum sebelum menerima amnesti.

Din Minimi ingat betul pohon duren di depan rumah orangtuanya masih kecil, menempel di batu--sebelum dia pergi bersembunyi ke hutan. Empat tahun berlalu, ia kembali, batu itu pecah terbelah akar, pohon durennya pun sudah berbuah. "Di hutan bukan waktu yang sebentar," kata pemilik nama tulen Nurdin bin Ismail Amat ini bercerita.

Dia mengajak Heru Triyono dan fotografer Bismo Agung dari Beritagar.id duduk di halaman rumah orang tuanya, berupa rumah panggung, agak lebih besar dari tipe 36. Rumah itu dikelilingi pohon pinang, sementara bagian belakangnya menghadap hutan. "Silakan duduk," ujarnya Senin sore (04/01/2016), Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur.

Dari kota Lhokseumawe, jarak tempuh menuju lokasi diperlukan waktu tiga jam. Jalannya berkelok, dan melewati beberapa jembatan kayu rusak.

Jalan masuk dijaga belasan anak buahnya, yang merupakan gabungan eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka, dan anggota yang baru bergabung--di masa Din memberontak dengan senjata. "Saya kecewa dengan Pemerintah Aceh," kata pria berusia 40 tahun ini.

Din memimpin anak buahnya itu selama di hutan. Jumlahnya ia sebut ada 42 orang. Puncaknya, di akhir 2014, ia menyatakan perang terhadap Gubernur Aceh Zaini Abdullah, mantan menteri luar negeri GAM dan wakilnya, Muzakir Manaf, mantan panglima Tentara Nasional Aceh.

Keberadaan mereka dicari. Apalagi pasca tewasnya dua intelijen tentara di Nisam Antara, Aceh Utara--yang diduga dibunuh anggotanya. Din, sebagai ketua kelompok bersenjatanya, diburu dalam keadaan hidup atau mati. "Kami hanya jaga diri," katanya, mengelak dipersalahkan.

Namun belakangan ia melunak. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengatur penyerahan dirinya sebelum tahun baru kemarin, dengan janji amnesti. Din menyambut dan menuntut agar janji itu jangan dilanggar. "Saya sudah niat baik. Jangan dikhianati," ujarnya.

Ketika wawancara, empat pria--badannya lebih besar dari Din--terus menyipitkan mata ke kami. Mereka memeriksa barang yang dicurigai sebagai senjata, seperti tas berisi tripod--sebelum bisa bertemu dengan pemimpinnya. "Isi tas itu apa? Jangan macam-macam," kata salah satu pengawal Din.

Selama sejam ia menjawab lugas setiap pertanyaan Beritagar.id tentang perjalanan hidup, pemberontakan, dan hari-harinya menunggu amnesti. Terkadang matanya melotot nanar jika disinggung soal proses hukum yang juga menunggunya. "Kalau proses hukum itu ada, kembalikan senjata saya, biar kita perang lagi," katanya.

Berikut petikannya:

--------------------

Sejak bersama anggota turun gunung apa saja kegiatan Anda?
- Kah (kamu) lihat sendiri, saya terima tamu. Tenda juga belum dicabut karena banyak keluarga ingin bertemu. Kalau tidak ada, ya paling main HP (telepon seluler). Saya biasa di hutan, jadi agak kebingungan.

Mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Minggu (03/01/2016), juga bertamu, apa yang dibicarakan?
- Itu kawan lama.

Ada motivasi kedatangan dia?
- Tidak. Kami hanya bicara tentang masa lalu, bukan soal apa maksud saya untuk turun gunung.

Berapa lama berpikir hingga akhirnya mau menyerahkan diri dan turun gunung?
- Saya tidak perlu berpikir. Ketika salat, saya selalu minta diberikan jalan oleh Allah.

Apa sih yang membuat Anda akhirnya melunak dari bujukan BIN (Badan Intelijen Negara)?
- Saya bilang tadi. Ini jalan Yang Maha Kuasa. Kalau kita niat baik, maka Allah memberi jalan.

Siapa yang menjembatani Anda dengan BIN? Atau Anda langsung berkomunikasi dengan Sutiyoso?
- Juha Christensen (ketua penasihat politik Ketua Aceh Monitoring Mission) datang ke tempat saya di gunung (tempat pelarian), sekitar awal Desember. Saya sudah mengenalnya ketika masa konflik dan perdamaian. Dia dua kali datang ke gunung dan meyakinkan saya tentang jalan ini (penyerahan diri dan amnesti). Ketika turun, dia menemui Pak Sutiyoso, dan barulah Pak Sutiyoso menjumpai Presiden. Setelah itu Pak Sutiyoso menemui saya.

Apa yang membuat yakin dengan tawaran Juha Christensen?
- Bukan menawarkan. Saya dan dia hanya ngobrol tentang misi saya. Di situ saya jelaskan, bahwa misi saya adalah menyejahterakan anak yatim, Inong Balee, fakir miskin. Kami banyak diskusi dulu, bukan jumpa langsung deal. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi dengan Juha, dan juga Pak Sutiyoso, lewat HP.

Anda memiliki hubungan khusus dengan Juha?
- Insya Allah, walaupun dia kafir ha-ha-ha. Tapi ada sisi baiknya juga dia.

Bagaimana dengan Sutiyoso? Anda langsung percaya dengan dia?
- Dia (Sutiyoso) bicaranya tidak terbalik-balik. Dari mulai komunikasi lewat telepon hingga jumpa tidak ada perubahan, konsisten.

Apa syarat yang Anda ajukan kepada Sutiyoso dan Juha?
- Amnesti dan kesejahteraan untuk masyarakat kecil agar layak hidupnya. Intinya ada enam poin, yang saya sebutkan ketika berjumpa Sutiyoso.

(Berikut ini enam tuntutan Din Minimi):
1. Lanjutkan proses reintegrasi
2. Kesejahteraan para janda korban dan mantan GAM dijamin oleh pemerintah
3. Kesejahteraan anak-anak yatim piatu korban dan keluarga mantan GAM dijamin kepastiannya oleh pemerintah
4. KPK menyelidiki dugaan penyelewengan dana APBD oleh Pemda Aceh
5. Ada pemantau indenpenden dalam Pilkada Aceh pada 2017
6. Pemberian amnesti kepada seluruh anggota kelompok Din Minimi yang menyerahkan diri

Dalam hitungan Anda ada berapa banyak anak yatim dan janda eks kombatan GAM yang harus dibantu?
- Ada sekitar 5 ribuan. Saat dialog ke Pak Sutiyoso sudah saya sampaikan, dan dia bilang siap membantu.

Sepanjang yang Anda tahu sudah sejauh mana proses amnesti dilakukan?
- Belum tahu.

Sutiyoso hari ini (Senin, 04/01/2016), secara resmi menyerahkan surat pengajuan amnesti Anda kepada Presiden Joko Widodo. Komentar Anda?
- Saya tahu, tapi persisnya bagaimana, tidak tahu. Pak Sutiyoso sudah hubungi saya langsung soal itu, ini pertanda baik.

Optimistis amnesti diberikan?
- Yakin. Karena begini. Presiden tidak mungkin berubah. Kecuali kita ini pencuri. Kita ini tujuannya untuk menyejahterakan rakyat. Tapi kalau mau ribut terserah, kalau dari saya tidak. Silakan memulai (keributan), tapi jangan dari saya. Tanpa senjata pun saya berani, ayo berkelahi.

Tapi oleh aparat, kelompok Anda dicap kriminal?
- Kami bukan bertindak kejahatan, tapi gerakan saya ini untuk kebaikan.

Polisi ingin catatan kriminal kelompok Anda diproses secara hukum dulu sebelum diberikan amnesti. Komentar Anda?
- Sanggup nanti mengatasi saya? Proses hukum bagaimana? Jangan lagi buat masalah. Malam ini dikasih senjata saya siap. Saya tidak takut mati. Mati saya dalam kebaikan.

(Menurut Kepala Kepolisian Republik Indonesia Badrodin Haiti, kelompok Din Minimi terlibat sembilan kasus, di antaranya pembunuhan terhadap dua anggota Intel Kodim 0104 Aceh Utara)

Ada janji khusus dengan tim perunding dari BIN sehingga proses hukum ini tidak perlu dilakukan?
- (Tidak menjawab)

Artinya Anda memang tidak bersedia diproses secara hukum?
- Tidak mau. Kalau ada proses hukum, kembalikan senjata saya, biar kita perang lagi. Jangan main-main. Kita sudah baik-baik dengan yang sana (pusat). Jangan bicara hukum ini itu, saya tahu hukum juga. Pemberian amnesti itu hak presiden. Panas kuping kalau bicara hukum terus. Jangan khianati saya lagi.

Anda juga meminta pemberian amnesti kepada seluruh anggota. Ada berapa jumlahnya?
- Saya ingat-ingat dulu. Nama sandi saja ya, Tengku Plang, Doyok, Komeng, Dakir, Kobra, Skinhead, Siglok, Sitong, Sami, Siting. Ada satu lagi yang ditahan di LP (Lembaga Pemasyarakatan) Aceh Utara.

(Sutiyoso menyatakan, pemerintah akan memberikan amnesti untuk 150 anggota kelompok bersenjata pimpinan Din Minimi di Aceh, termasuk yang di dalam tahanan)

Kabarnya ada beberapa tahanan yang mendompleng atau mengaku-ngaku anak buah Anda agar diberi amnesti?
- Tidak bisa lah. Mereka bukan kelompok kami. Kalau kelompok saya itu sudah didikan semua.

Bagaimana Anda mengawasinya kan susah...
Itu tidak boleh terjadi. Kalau Komeng dan Tengku Plang memang anggota saya. Keduanya pernah latihan.

Polisi telah menangkap 30 anggota kelompok Anda sepanjang 2015. Apakah itu anak buah Anda semua?
- Tidak. Mereka (tahanan lain) bisa jadi minta duit dengan mencatut nama saya, biar dapat amnesti. Banyak yang mengaku-ngaku anggota saya. Dari telepon juga ada yang meminta.

Bagaimana nasib anggota Anda di dalam tahanan selama proses amnesti ini?
- Mereka semoga sabar. Butuh proses juga. Kan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Kapan Anda bertemu dengan Sutiyoso kembali?
- Tanggal 26 Januari (2016).

Jalifnir alias Tengku Plang berjalan menuju kursi tamu depan ruang Kepala Lembaga Pemasyarakatan Lhoksukon, Aceh Utara dengan tertatih. Ia memakai tongkat penyangga yang diapit di bawah kedua ketiaknya. Dia dan Faisal bin Arani alias Komeng bersedia ditemui Beritagar.id dan satu wartawan lokal, pada Senin (04/01/2016) untuk bicara soal amnesti.

Keduanya, yang merupakan anggota Din Minimi, dituduh membunuh dua intelijen tentara di Nisam Antara. "Saya minta doanya agar amnesti diberikan. Saya tidak membunuh tentara," kata Komeng.

Mereka mengklaim kelompok Din dalam masa gerilyanya tidak memakai pola intimidasi dan kriminal. Sehingga banyak simpati muncul dari penduduk, yang kemudian justru ikut bergabung. "Bang Din tegas. Ia memberi instruksi ke penduduk untuk menelponnnya jika ada teror yang mengatasnamakan kelompok kami," ujar Tengku Plang.

Tapi sidang pengadilan untuk keduanya sudah di depan mata. Polisi mengklaim sudah mengumpulkan cukup bukti untuk menyeret mereka ke penjara. Komeng mengatakan, ia seharusnya disidang hari ini, tapi entah kenapa hal itu ditunda.

Wawancara hanya sebentar. Keduanya pun kembali berbaur bersama tahanan lainnya.

Kapan predikat nama Minimi yang melekat di belakang nama Din Anda sandang?
- Selama konflik 2002. Waktu itu anggota lain memanggil saya Minimi karena saya selalu menyebut nama ayah yang juga mendapat panggilan sama. Saya tidak tahu lagi kuburan ayah saya, sehingga saya selalu menyebut namanya ketika perang era 2000 hingga masa perjanjian Helsinki sedang berproses.

Senjata Minimi (sejenis senjata serbu buatan Belgia) adalah senjata pertama yang Anda pegang?
- Saya lupa.

Bagaimana awalnya Anda memegang senjata dan ahli menggunakannya?
- Saya mengenal senjata dari Ayah (Ismail Minimi). Dia mahir, dan senjata ya sudah biasa di keluarga.

(Menurut Komeng--anak buahnya yang ditahan--Din paling jago berburu di dalam hutan. Dengan senapan AK-47, Din tidak pernah meleset dalam menembak rusa. Karena itu ia disegani).

Keluarga besar Anda berafiliasi ke GAM. Bahkan di rumah ayah Anda (di Geureudong Pase) diadakan rapat pertama perjuangan GAM. Anda menyaksikannya?
- Saya melihat. Sejak dulu memang orang-orang itu rapat di rumah saya, mereka ingin Aceh sejahtera, ingin merdeka, karena melihat ketimpangan. Waktu itu usia saya 12 tahun, jadi saya agak lupa siapa saja elit GAM yang hadir.

Seperti apa gambaran keadaan ekonomi di keluarga Anda ketika itu?
- Saya orang susah. Ayah dan ibu dapat penghasilan dari hasil panen cabai dan kacang di ladang. Tapi mereka begitu giat, meski baru tiga bulan sekali bisa panen. Saya ketika kecil bandel, disuruh mengaji atau sekolah terkadang tidak mau. Atau bilangnya sekolah tapi tidak sampai. Dan ketika itu sekolah juga dibakar GAM.

Jadi Anda tidak pernah mengenyam pendidikan?
- Saya sempat sampai sekolah dasar, dan ketika itu sudah pisah sama bapak dan mamak. Saya harus cari makan sendiri.

Bagaimana ceritanya kemudian Anda masuk GAM?
- Saya sebenarnya bukan GAM, ya karena ayah saja, sehingga dicap GAM. Tapi tidak ada paksaan masuk GAM.

Apa sebenarnya cita-cita sewaktu kecil?
- Saya ingin jadi operator alat berat dan sopir. Saya lihat abang-abang (pria lebih tua) mengoperasikan alat berat itu, ya saya suka. Dan itu tercapai. Saya menjadi operator alat berat (Deco) di RGM (Raja Garuda Mas) tahun 1999 sampai 2003. Saat itu saya bekerja sampai ke Pekan Baru, Meulaboh dan Jakarta.

Siapa idola Anda?
- Tidak ada. Karena saya tidak terlalu tahu dunia luar. Kalau dari hutan pergi ke desa, tidak pernah banyak cakap. Duduk ya duduk, bekerja ya bekerja.

Bagaimana mulanya Anda mulai beraksi karena ketidakpuasan terhadap elit GAM sendiri yang kini berada di Pemerintahan Aceh?
- Ini bukan masalah ketidakpuasan. Mereka ini sebelum naik telah menjanjikan. Saya tidak mau sekadar ucapan. Sebelum Pemilu, per kepala keluarga dijanjikan Rp1 juta. Mereka juga menjanjikan menyejahterakan anak yatim dan janda para pejuang, naik haji gratis, juga pengaspalan jalan. Saat ini tidak ada.

Jadi gerakan atau aksi Anda ini murni karena kekecewaan itu atau apa?
- Ini reaksi. Mana yang mereka janjikan? Sudah sekitar 4 tahun lebih kami beraksi dan bersembunyi di hutan tapi tidak ada bukti.

Apakah selama itu tidak pernah ada komunikasi dengan Pemerintah Aceh?
- Tidak sama sekali, malah saya diburu.

Sebenarnya apa kekecewaan terbesar Anda terhadap mereka?
- Saya ini anak yatim, saya mau ingatkan bahwa banyak anak yatim yang sengsara. Ini tidak adil.

Kalau yang jadi musuh adalah Pemerintah Aceh, tapi kenapa tentara dan polisi yang diserang?
- Bukan berarti saya memegang senjata untuk menembaki aparat. Tidak. Senjata ini saya bawa karena untuk jaga diri. Karena saya diburu.

Anda pernah minta bantuan orang luar ketika di hutan?
- Komunikasi keluar saja tidak, saya hanya minta bantuan ke Allah.

Bagaimana Anda dan para anggota bertahan hidup di sana?
- Masak saja yang ada. Kami masak bergantian, memegang senjata juga gantian. Satu pucuk senjata itu dipegang lima orang. Senjata itu bukan untuk menembak, kalau kita ditembak baru membela diri. Paling berat, ya pas kontak senjata. Ketika kawan terkena, bawa lari.

Ada berapa orang yang bersama Anda ketika di hutan?
- 42 orang.

Mereka masih ada yang di dalam hutan?
- Tidak ada. Ya mana tahu datang Din Minimi lain. Yang saya tahu, anggota kita sudah turun semua, jangan coba-coba ganggu.

Anda mendapat pasokan senjata dari mana?
- Bekas dulu (GAM), mana ada yang memasok ke kami.

Dengan sikap memberontak Anda apakah ada faksi GAM lain yang keberatan dengan Anda?
- Pasti ada.

Terakhir. Sebenarnya apa arti Indonesia untuk Anda?
- Belum tahu.

Dikutip : Berita Aceh

Lapas Banda Aceh
Banda Aceh- Sejumlah napi bos narkoba bebas berkeliaran diluar lapas banda aceh  namun satu diantaranya napi bos narkoba berhasil kabur dari LP Banda Aceh setelah dikeluarkan oknum petugas LP tanpa memiliki izin yang sah (ilegal).

Napi yang berhasil kabur yakni Farukh (45) warga Medan kasus narkotika dengan pidana diatas 5 tahun,napi ini juga berstatus bos narkoba.

Dari informasi beberapa penghuni LP diterima Sabtu (9/1) oleh Reporter, napi farukh sudah 10 hari yang lalu tidak terlihat didalam lapas bersama sejumlah napi bos narkoba lainnya seperti Faisal,Gunawan dan Fauzi Nurdin.

"Faisal,gunawan dan Fauzi sudah masuk kembali kedalam lapas tadi pagi" ujar napi yang enggan disebut namanya disini.

Masih menurut sumber yang sama menyebutkan jika napi farukh adalah cina turunan yang kerap dikeluarkan oleh pihak LP selama ini tanpa mengantongi izin yang sah ataupun pengeluarannnya diluar ketentuan yang berlaku.

Salahseorang napi yang enggan disebut namanya menyebutkan jika selama ini banyak napi kasus nakoba yang memiliki banyak uang sangat mudah mendapatkan fasilitas keluar masuk LP lantaran petugas dan pejabat lapas kerap mendapatkan kompensasi dari napi narkoba tersebut.

Sementara itu Plt. Kalapas Banda Aceh Joko Budi Santoso yang dikonfirmasi melalui sambungan telpon selulernya Sabtu (9/1) oleh Reporter membenarkan jika adanya salah seorang napi narkoba yang kabur setelah dikeluarkan dari lapas.

Joko mengatakan jika dirinya tidak mengetahui perihal pengeluaran napi tersebut karena sedang berada diluar kota,namun joko berjanji akan melakukan croscek terkait kaburnya napi bos narkoba bermata cipit tersebut.

Reporter : Azhar

Petani di Kemukiman Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh memetik cengkih. Perlahan, masyarakat mulai mengelola kembali kebun mereka. Foto: Junaidi Hanafiah
StausAceh.Net - Cengkih pernah menjadi primadona di Aceh. Tumbuhan yang ditanam mandiri oleh masyarakat di beberapa daerah tersebut pernah melambungkan nama Aceh. Meski pernah ditinggalkan, ketika harganya dimonopoli saat Orde Baru berkuasa, kini masyarakat di Kabupaten Aceh Besar, Sabang, dan Simeulu mulai mengelola kembali kebun yang sempat mereka terlantarkan.

Pemilik kebun cengkih di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Muhammad, mengutarakan, ekonomi keluarganya pernah berjaya dengan berkebun cengkih. “Sebelum Orde Baru, harga cengkih sangat mahal. Saat itu, satu kilogram setara satu gram emas. Misal, harga emas Rp 500.000 per gram maka seperti itulah harga cengkih.”

Muhammad memaparkan, semua pemilik kebun dapat mengumpulkan uang untuk naik haji, membangun rumah, termasuk menghidupi sejumlah pekerja. Warga tidak membutuhkan lahan yang luas, tidak seperti kebun sawit. “Sekarang, saya punya 50 batang dengan beberapa pekerja untuk memetik.”

Muhammad mengatakan, cengkih merupakan tanaman yang tidak merusak lingkungan. Tanaman ini juga tidak memerlukan banyak air. Harga jual bunga cengkih lebih mahal dari sawit yang harusnya dikembangkan oleh pemerintah, bukan malah membuka lahan sawit dan merusak hutan. “Di Lhoknga, meskipun cengkih banyak ditanam masyarakat, hutan di sekitar tidak rusak. Ini tanaman warisan nenek moyang yang harusnya kita kembangkan.”

Petani di Kemukiman Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh memetik cengkih. Perlahan, masyarakat mulai mengelola kembali kebun mereka. Foto: Junaidi Hanafiah

Petani di Kemukiman Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh memetik cengkih. Perlahan, masyarakat mulai mengelola kembali kebun mereka. Foto: Junaidi Hanafiah.

Munandar, warga Simeulue menuturkan, pulau yang dikelilingi Samudera Hindia itu mulai digempur perkebunan sawit. Cengkih mulai ditinggalkan. “Padahal, dulu Pulau Simeulue, dikenal sebagai penghasil cengkih. Saat panen tiba, pekerja dari luar Simeulue datang karena masyarakat di Simeulue kewalahan.”

Munandar mengatakan, Pemerintah Simeulue harus menghentikan perluasan kebun sawit dan membantu masyarakat kembali menanam cengkeh. “Ini penting, untuk menjaga hutan di Pulau Simeulue yang terus berkurang akibat ekspansi sawit.”

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Besar, Jakfar mengatakan, setelah masyarakat kembali mengurus dan mengembangkan kebun cengkih mereka, pemerintah kabupaten terus membantu petani dengan menyediakan bibit unggul. “Tahun ini, pemerintah membantu bibit 28.000 batang yang dikembangkan di Kecamatan Lhoknga, Peukan Bada, dan Pulo Aceh.”

Jakfar mengatakan, pengembangan cengkih di Kabupaten Aceh Besar tidak terlalu sulit dilakukan karena masyarakat cukup familiar. Aceh Besar juga ditetapkan sebagai daerah pengembang cengkih, lada, dan kelapa. “Aceh Besar merupakan pusat penghasil bibit cengkih,” ungkapnya.

Data Pemerintah Aceh menunjukkan, produksi cengkih yang ditanam masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2011, jumlah cengkeh yang berhasil di produksi mencapai 1.435 ton. Berikutnya, 2012 naik menjadi 2.885 ton dan di 2013 meningkat hingga 3.379 ton.(Mongabay)

,

Ilustrasi  

Sinabang- Sebanyak 4 (Empat) Narapidana Rutan Cabang Kab. Simeulue terpaksa dipindahkan ke LP Kelas IIB Meulaboh, Aceh Barat  disebabkan ke 4 napi tersebut telah melakukan keributan serta upaya membakar rutan pada malam pergantian tahun baru Jum’at (01/1/2016).

Ke-4 Napi tersebut merupakan napi berkasus narkotika dan UU Perlindungan Anak yakni, Sumadi Bin Abdul samad,Hendri Lafajri Bin Ruslan, Jasmadi Bin Abdul Rahman dan Ruslan Bin M.Jasa.

Pemindahan ke-4 napi tersebut dibenarkan oleh Kadivpas Aceh Mujiraharjo Bc.IP, menurut mujiraharjo pemindahan ini hal yang biasa dilakukan bagi napi yang melakukan keributan,

Lanjutnya, Pemindahan ini adalah untuk antisipasi adanya gangguan kamtib didalam lapas juga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Dari informasi diterima oleh Reporter, Tepatnya saat malam pergantian tahun baru Jumat (01/1/2016) sekira pukul 03:00 WIB dini hari, ke-4 napi ini melakukan provokasi terhadap napi lainnya untuk melakukan keributan serta membakar rutan sinabang.

Belum sempat api membesar,pihak petugas rutan berhasil mengendalikan situasi dan memadamkan api,ke-4 napi tersebut terindikasi adalah pemicu keributan dan upaya membakar rutan sinabang.


Reporter: T. Sayed Azhar

Jenis Narkotika  

Status Aceh- Selama ini kita hanya tahu narkotika dari mendengarnya saja tanpa mengetahui asal usul dan jenisnya secara detail. Sehingga saat ingin mengetahui bagaimana proses narkotika saat menggerogoti penggunanya masih mengambang, antara keyakinan berbahayanya terhadap tubuh dan keraguannya terhadap efek narkotika ini.

Kementerian Kesehatan RI membagi 4 Terminologi Narkotika, diantaranya yakni:

1. Terminologi 1
Dalam terminologi 1 yang dijelaskan Ibu Riza, mengacu pada UU 35/2009, definisi Narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau-pun bukan dan yang sintesis atau semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkanm ketergantungan.

Dalam hal ini, penggolongan Narkotika dalam Undang-Undang tidak sejalan dengan terminologi yang ada pada Farmakologi, jadi yang dapat dipakai sebagai dasar adalah besaran masalah penggunaannya.

2. Terminologi 2
Narkotika berasal dari Bahasa Yunani dari kata Narkotikos yang artinya obat apa saja yang bisa menginduksi untuk tidur.Selalu diartikan dalam lingkup yang lebih sempit, yaklni Opioda. Dalam konteks legal, sebagai senyawa yang sering disalahgunakan dan bersifat adiktif.

3. Terminologi 3
Ketergantungan zat (Narkotika) menurut UU No 35/2009 yang ditandai oleh dorongan secara terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaan dikurangi atau dihentikan secara tiba-tiba, akan menimbulkan gejala fisik yang khas.

Hal ini terjadi karena penggunaan zat berulang kali secara teratur sehingga terjadi gejala toleransi dan gejala putus zat. Keadaan ini dapat terjadi sekalipun untuk tujuan terapeutik.

4. Terminologi 4
Tahun 1987, American Psychiatric Association (APA) menggunakan istilah ketergantungan zat bagi penggunaan zat yang tak terkendali yang lazim disebut adiksi. Istilah Adiksi ditinggalkan karena mengandung konotasi negatif bagi pasien.

Klasifikasi Zat Psikoaktif (PPDGJ III) adalah sebagai berikut :

1. Alkohol: Minuman ber-etanol seperti bir, wiski, vodka, brem, tuak, saguer, ciu dan arak.

2. Opiodia: Candu, morfin, heroin, petidin, kodein dan metadon.
3. Kanabinoid: Ganja atau mariyuana, hashih.

4. Sedatif dan hipnotik: Nitrazepam, klonasepam, bromazepam.

5. Kokain: Daun Koka, pasta kokain, bubuk kokain.

6. Stimulan lain: Kafein, metamfetamin, MDMA.

7. Halusinogen: LSD, meskalin, psilosin, psilosibin.

8. Tembakau yang mengandung zat psikoatif nikotin.

9. Inhalansia atau bahan pelarut yang mudah menguap, misalnya minyak cat, lem dan aseton.

Seperti diketahui, bahwa Narkotika untuk beberapa golongan, disatu sisi mempunyai manfaat sebagai pendukung ilmu pengetahuan dan pengobatan, agar aturannya jelas dan terukur, serta tidak menimbulkan masalah yang tidak diinginkan, maka diatur dalam UU 35/2009, yang menjelaskan aturan dalam penggolongan sebagai berikut:

Golongan I : opium, heroin, kokain, ganja, metakualon, metamfetamin, MDMA, STP dan fensiklidin.

Jenis narkotika ini ilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan, karena akibatnya yang terlalu beresiko dan akan menimbulkan efek kerugian jangka panjang bagi individu tersebut.

Tetapi dalam jumlah terbatas dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan menteri atas rekomendasi kepala BPOM seperti yang tercantum pada Pasal 8.

Golongan II: morfin, petidin, metadon
Narkotika golongan II ini berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, jika digunakan sebagai pengobatan, dapat digunakan sebagai pilihan terakhir.

Golongan III : kodein, bufrenorfin
Biasanya digunakan dalam terapi karena berpotensi ringan dalam menyebabkan ketergantungan.

Efek Dalam Penggunaannya:
Semua zat yang terkandung dalam Narkotika Psikoaktif, memberikan efek kenikmatan menurut pemakainya, akan memengaruhi kerja otak dan akhirnya terjadi perubahan perilaku yang akan menjadi lebih aktif atau menjadi lamban, perasaan (euforia), proses pikir yang lebih cepat atau menjadi lebih lamban, isi pikir (waham), persepsi (halusinasi), kesadaran (menurun atau lebih siaga). Bila zat psikoaktif dikonsumsi berlebih, akan terjadi intoksikasi akut sampai overdosis.

Masyarakat perlu diberikan penerangan mulai dari mengenalkan jenis, penggolongan dan fungsi dari narkotika dalam kehidupan manusia. Harus dipahami karena narkotika berperan juga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengobatan medis.

Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan melalui pendekatan edukasi, pengenalan jenis narkotika dan bahayanya akan lebih efisien dalam pembentukan pemahaman yang mudah bagi masyarakat tentang prosesnya perubahan fisik yang memburuk akibat narkotika yang dikonsumsinya.

Selain pendekatan edukasi, diperlukan pula pendekatan rohani dan kegiatan-kegiatan bermanfaat dalam masyarakat.


Publhising: T.Sayed Azhar
Sumber    : Okezone.com & Dra.Riza Sarasvita, Msi, MHS, PhD dari Kemenkes RI 

Banda Aceh - Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah menerima kunjungan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Swedia, Bagas Hapsoro beserta perwakilan dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Kamis (7/1).

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Zaini menceritakan tentang pengalamannya selama menetap di Swedia dan sejarah perlawanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah berkantor pusat di negara tersebut. Selain itu, Gubernur turut membahas peluang ekspor dan promosi kopi jenis arabika Gayo  sebagai salah satu komoditas unggulan Aceh di Swedia dan beberapa negara Skandinavia lainnya.

Pemerintah Aceh menurut dr, Zaini akan terus mempromosikan kopi jenis arabika asal Aceh mengingat daerah ini memiliki kopi yang berkualitas tinggi, terutama yang berasal dari dataran tinggi Gayo. “Bahkan bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan penghasil kopi jenis arabica terbesar di Indonesia,” ujar Gubernur Zaini.

Menurut Gubernur, dari hasil partisipasi tim Pemerintah Aceh pada World Coffee Expo di Gohtenborg, Swedia beberapa waktu lalu, kopi arabika Gayo dikatakan sangat diminati oleh masyarakat Swedia dan negara Skandinavia lainnya yang merupakan salah satu komsumen kopi terbesar di kawasan Eropa.

“Minat para investor Eropa pada komoditas kopi asal Aceh juga sudah terjalin baik, bahkan rombongan dari Specialty Coffe Association of Europe (SCAE) sudah berkunjung ke  dataran tinggi Gayo untuk melihat langsung kondisi dan potensi kopi yang ada di sana pada 17 November lalu,” katanya.

Sebagai orang yang pernah menetap di Swedia selama 25 tahun, Gubernur Zaini mengatakan masyarakat Swedia pada umumnya sangat familiar terhadap Aceh mengingat banyaknya masyarakat Aceh di negara itu, terlebih lagi setelah proses perdamaian antara GAM dan Pemerintah Indonesia dan bencana tsunami yang menarik simpati masyarakat Eropa kepada Aceh.

“Peluang ini harus kita manfaatkan agar kita dapat meningkatkan kerjasama ekonomi antara Aceh dan Swedia sekaligus menarik lebih banyak lagi investor dari negara tersebut di sektor pertanian Aceh,” tegas Gubernur.

Selain membahas tentang komoditas unggulan Aceh dan investasi, Gubernur Aceh juga turut memaparkan kondisi keamanan di Aceh yang kini stabil dan siap menampung para investor untuk menanamkan modal di berbagai sektor perokonomian di Aceh.

“Aceh punya Sabang, Pulau Weh yang merupakan tujuan wisata populer, dengan keindahan bawah lautnya dan menjadi salah satu tempat persinggahan kapal pesiar dari beberapa negara Eropa. Di bagian barat selatan, Aceh juga mempunyai garis pesisir pantai yang indah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata alam yang dapat menarik pengunjung dari mancanegar,” kata Gubernur.

Terkait dengan pelaksanaan syariat Islam yang sering mendapat pemberitaan negatif terutama dari media barat, Gubernur Zaini menegaskan bahwa syariat Islam di Aceh jangan hanya dipandang dari aspek qanun jinayat. “Qanun jinayah adalah bersifat preventif, bukan untuk menghukum dan ianya tidak berlaku bagi non muslim,” jelas Gubernur.

“Saya harap kita semua dapat memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat luar, terutama kepada masyarakat Eropa terhadap pemberlakuan syariat Islam di Aceh, jangan ada ketakukan dari wisatawan yang hendak berkunjung ke Aceh hanya karena syariat Islam yang kita terapkan disini,” ujar Gubernur Zaini.

Dalam kunjungan Duta Besar RI berserta rombongan tersebut, Gubernur Aceh didampingi oleh Kepala Dinas Syariat Islam Prof. Syahrizal Abas, Kepala Badan Investasi dan Promosi (Bainprom) Provinsi Aceh, Anwar Muhammad, Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh Nasir Zalba, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Arifin Hamid, kepala Badan pengendalian dampak lingkungan (Bapedal) Aceh, Iskandar, Kepala Biro Humas Setda Aceh, Frans Dellian, Kepala Biro Umum Setda, T. Asnal serta beberapa kepala SKPA terkait lainnya.(RED)

"Kan itu ada prosesnya. Harus kita cek dulu. Yang pertama kan dilaporkan waktu itu 120 (anggota), kita cek apa betul jumlahnya betul 120. Kemudian kita cek apakah yang 120 itu GAM semua kan harus ada verifikasinya," ujar Kapolri.

Jakarta - Presiden Joko Widodo mempertimbangkan pemberian amnesti kepada kelompok bersenjata asal Aceh, Din Minimi. Bagi Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, amnesti tersebut harus melalui proses dan kroscek secara detail dan menyeluruh.

"Kan itu ada prosesnya. Harus kita cek dulu. Yang pertama kan dilaporkan waktu itu 120 (anggota), kita cek apa betul jumlahnya betul 120. Kemudian kita cek apakah yang 120 itu GAM semua kan harus ada verifikasinya," ujar Kapolri kepada wartawan di Mabes Polri, Jumat (8/1/2016).

Menurut Kapolri, dari 120 anak buah Din harus dicek lagi apakah ada yang melakukan tindak pidana. "Masih gelondongan saja belum diverifikasi. Kita lagi penelitian sehingga belum diambil suatu keputusan. Menunggu hasil dari data itu," ujar dia.

Kapolri menjelaskan ada ketentuan tertentu saat seseorang atau kelompok tertentu diberikan amnesti. Pemberian amnesti atau abolisi dan grasi memiliki pertimbangan hukum. "Kan tadi saya katakan, kalau amnesti itu tidak diproses hukum. Akibat hukum akibat tindak pidana yang dilakukan itu dihapuskan. Kalau abolisi, penuntutannya dihapuskan. Berarti polisi masih bisa memproses penyidikan sampai ke kejaksaan bisa dihentikan," jelasnya.

"Sementara kalau grasi itu sudah diproses hukum, sudah inkracht lalu diampuni. Itu semuanya. Tentu semua itu ada persyaratannya. Itu memenuhi syarat atau tidak," sambung Badrodin.

Lalu, apakah saat ini Polri telah dimintai pertimbangan oleh Presiden terkait pemberian Amnesti ini?"Kan kita belum bisa ambil keputusan karena memang kami lagi verifikasi apa yang tadi saya jelaskan. Bagaimana kami bisa menjawab kalau itu saja belum selesai," kata Badrodin.(*)

Sumber: detik.com

Banda Aceh - Kebakaran hebat terjadi di Jalan Hasan Saleh, Lorong Sentosa, Gampong Neusu Jaya, Banda Aceh, Jumat (8/1/2016) sekitar pukul 03.30 WIB dini hari, terbakar.

Kejadian itu menyebabkan Nek Pocut Khatijah (70) meninggal dalam kebakaran itu akibat terjebak api.

Kebakaran itu menghanguskan 12 unit rumah dan menyebakan 17 kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal.

Informasi diterima Serambinews.com dari Keuchik Neusu Jaya, Abdul Mukhti mengatakan api diperkirakan berasal dari arah belakang mobil Avanza BL 535 JP yang terparkir di garasi rumah Ikhsan Sahim (60) Ketua Tuha Pheut Gampong (TPG) Neusu Jaya yang rumahnya ikut terbakar.

Hal tersebut, kata Abdul Mukhti diakui oleh Ikhsan Sahim, yang berusaha memadamkan api di bagian mobil.

"Sebelum api menjalar ke bangunan lainnya, sempat terdengar suara ledakan keras. Dalam waktu singkat, api sudah membakar seluruh bangunan," kata Keuchik Neusu Jaya ini.

Wakapolresta Banda Aceh AKBP Sugeng Hadi Hadi Sutriasno yang ditemui di lokasi kejadian menyebutkan kejadian ini masih dalam penyelidikan.

"Kami sudah meminta tim identifikasi dari Lapfor Cabang Medan, datang ke TKP untuk menyelidiki sumber api dan penyebab kebakaran," kata AKBP Sugeng.(SRB)

Dirjen PAS I Wayan K Dusak

Jakarta- Mengingat besarnya resiko yang dihadapi oleh para petugas pengamanan di lapas dan rutan diseluruh indonesia maka Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) I Wayan Kashamita Dusak berencana akan memperjuangkan Tunjangan Resiko kepada seluruh petugas pengamanan yang lansung berhadapan dengan warga binaan.

I Wayan Kashamita Dusak juga menyampaikan jika dirinya akan mengajukan tunjangan resiko bagi para petugas pengamanan kepada Menteri Hukum dan HAM yang kemudian diserahkan pada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan).

Kepada Reporter, I Wayan telah memerintahkan seluruh pejabat Ditjen PAS serta jajaran Ka UPT diseluruh indonesia untuk mendukung perubahan yang akan dirinya lakukan dengan membuat kajian mengenai tunjangan resiko yang nantinya akan dirinya ajukan kepada Menkumham dan selanjutnya Menpan.

" Sudah layak para petugas jaga di setiap lapas/rutan  mendapat mendapat keadilan dengan tunjangan resiko dan kenaikan Remunerasi karena mereka adalah orang yang lansung berhadapan dengan para warga binaan dengan berbagai karakter dan pemikiran baik positif maupun negatif” ujar I Wayan yang juga alumni AKIP.

Hal yang sama sudah pernah disampaikan oleh orang nomor satu dilingkungan Ditjen PAS ini pada pertemuannya dengan semua pejabat Ditjen PAS dan kepala UPT Se-Jabotabek beberapa hari lalu Rabu (06/6).


Reporter: T. Sayed Azhar

Jakarta - Wakil Ketua Komisi I DPR, Hanafi Rais, mengatakan, Indonesia dapat mengambil peran dengan melakukan mediasi dalam penyelesaian konflik antara Arab Saudi dengan Iran. 

"Yang bisa dilakukan Indonesia adalah mediasi, dalam arti menggalang dukungan internasional agar ada penyelesaian konflik Saudi-Iran," katanya, di Jakarta, Jumat.

Rais menilai, Indonesia mampu berperan sendiri namun bisa juga secara multilateral dengan mengkoordinasikan suatu contact group.

Langkah itu, menurut dia, di luar organisasi teluk atau Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam rangka memulai proses mediasi.

"Dalam proses mediasi, kalau Indonesia mau serius maka diperlukan dua prasyarat penting," ujarnya.

Prasyarat pertama, menurut dia, perhatian yang terus-menerus dan fokus terhadap perdamaian Iran-Saudi. Kedua, menurut dia, memiliki tim diplomasi terampil dan menguasai politik ekonomi Timur Tengah.

"Di samping itu, pemerintah Indonesia juga punya kewajiban menjaga perdamaian Sunni-Syiah di dalam negeri agar tidak jadi bagian dari eskalasi Saudi-Iran di Timteng," katanya.

Selain itu, dia menilai, ide Menteri Agama, Lukman Saifuddin, menghadap Presiden Joko Widodo agar Indonesia mengambil peran mediasi konflik di kedua negara tersebut, bisa dikatakan terlalu bagus untuk terwujud.

Menurut dia, hal itu bisa terjadi apabila disertai persiapan dan perhatian yang serius dari pemerintah Indonesia.

"Ini semestinya menjadi ranahnya menteri luar negeri bukan menteri agama," ujarnya.

ANTARAnews

1,5 ton ganja yang disita BNN, Jakarta
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggagalkan upaya pengiriman 800 kilogram ganja asal Aceh dengan sebuah truk. Rencananya ganja tersebut akan dikirim ke Jakarta.

Kepala Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi mengatakan, truk bermuatan ganja itu dibawa oleh dua orang berinisial AP (58 tahun) dan AM (35). Keduanya ditangkap di jalan Raya Depan Kantor unit pelaksana penimbangan kendaraan bermotor (UPPKB) Pematang Panggang, Sumatra Selatan pada Jumat, (4/12) lalu.

"AP yang berprofesi sebagai sopir diperintahkan oleh seseorang untuk mengambil sebuah mobil di kawasan Aceh Timur untuk selanjutnya mengangkut ganja yang berada di Banda Aceh," katanya kepada Republika.co.id, Kamis (7/1).

Di sisi lain, AP ditemani AM yang bertugas sebagai kernet ketika membawa barang haram itu. Ketika tiba di Banda Aceh, Sabtu (5/12), AP diperintahkan mengambil truk di depan tempat cucian mobil di kawasan Perla Kota. Keduanya lalu memindahkan ganja seberat 824,579 gram yang telah diambilnya di Banda Aceh ke dalam truk. Selanjutnya, mereka meninggalkan mobil di sebuah rumah makan.

"AP dan AM kemudian membawa ganja berisi truk tersebut menuju Jakarta melalui jalur darat. Tumpukan ganja diletakkan di lantai bak truk dan ditumpuk lagi drngan kayu-kayu," ujarnya.

Namun belum sampai tiba di Jakarta, truk itu ditangkap oleh anggota BNN pada Rabu, (9/12) di jalan raya depan UPPKB Pematang Panggang.
Slamet menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan diperoleh fakta bahwa AP diperintahkan oleh seorang DPO. AP dijanjikan uang Rp 30 juta rupiah untuk menjalankan aksi kriminalnya. Adapun AM dijanjikan upah sebesar Rp 3 juta oleh AP.

"Para tersangka dikenakan pasal 114 ayat dua juncto pasal 132 ayat 1 dan atau pasal 111 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati," jelasnya. (ROL)

Jakarta - Partai Golkar memberi sinyal bakal merapat mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Artinya mereka bakal keluar sebagai oposisi dari Koalisi Merah Putih (KMP). Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menegaskan tidak masalah jika hanya partainya saja menjadi oposisi. Sebab, sesuai perintah Prabowo Subianto.

"Tidak ada masalah, dari dulu Gerinda punya sikap walaupun sendirian tidak masalah. Pak Prabowo (Subianto) yang bilang walaupun kita sendirian kita tak masalah," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (7/1).

Plt ketua DPR ini, menjelaskan hak setiap partai politik bebas menyatakan sikap untuk mendukung maupun menjadi oposisi dalam pemerintahan. Meski begitu, dirinya meyakini sikap Gerindra tak akan berubah sampai kapanpun.

"Ini sikap Gerindra demi kebaikan demokrasi kita, kebaikan bagi rakyat," tuturnya.

Walau desas-desus Golkar bakal kabur makin santer, Fadli menegaskan komunikasi antar partai KMP tetap berjalan baik. Semua dilakukan demi mengkritisi tiap kebijakan dianggap salah.

"Kalau semua mendukung pemerintah nanti apa yang salah-salah semuanya jadi benar. Tapi sejauh ini dalam komunikasi politik kita ke KMP tetap dibutuhkan sebagai kekuatan untuk pengawasan," pungkasnya.

Seperti diketahui Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie menggelar rapat koordinasi di Bali, Senin (4/1). Sejumlah rekomendasi dikeluarkan. Mulai dari sikap politik partai sampai persoalan kisruh internal di tubuh partai berlambang beringin tersebut. Anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar kubu Ical Ibrahim Lambong menyebut ada delapan poin penting hasil konsolidasi di Bali. Salah satunya sikap Partai Golkar ke pemerintahan Jokowi-JK.

"Direkomendasikan kepada Rapimnas untuk dibahas agar Partai Golkar mendukung pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla," ujar Ibrahim melalui pesan singkatnya kepada merdeka.com, Selasa (5/1) lalu.(MDK)

Ilustrasi
Medan - Penodongan terhadap penumpang bus tujuan Aceh kembali terjadi di Terminal Terpadu Pinangbaris, Medan, Kamis (7/1/2016).

Beruntung polisi bergerak cepat sehingga pelaku berhasil ditangkap sebelum menghabiskan harta korbannya.

Aksi kriminalitas ini dilakukan Yasir Arafat Nasution (39), dengan mengeluarkan ancaman memiliki senjata tajam. Pelaku yang berdomisili tidak jauh dari terminal ini kemudian memaksa korban, Ibnu Hajar menyerahkan barang bawaannya.

Korban yang tengah menunggu keberangkatan bus yang ditumpanginya ke Aceh itu tidak berdaya, sehingga menuruti permintaan pelaku.

Sebuah tas berisi uang dan barang berharga lainnya dengan cepat berpindah ke tangan pelaku. Namun ternyata korban tidak menyerah sepenuhnya, karena setelah pelaku berlalu ia langsung melapor ke polisi.

Polisi merespon laporan ini dengan menyisir areal terminal. Hasilnya, pelaku diringkus bersama tas hasil jarahannya.

"Kami langsung menyisir terminal. Kebetulan pelaku masih di situ," kata Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal Iptu Nur Istiono.

Nur mengakui aksi pemerasan penumpang di Pinangbaris cukup tinggi. Dalam kasus ini ia mengapresiasi tindakan korban yang langsung melapor.

Karena dari beberapa kasus, korban tidak melapor sehingga pelaku semakin leluasa beraksi.

Menurutnya, para pelaku tidak melakukan diskriminasi dalam beraksi. "Kebetulan saja warga Aceh. Karena kebetulan Pinangbaris kan pintu gerbang Medan ke Aceh," ujarnya.

Dari kasus terdahulu, para pelaku hanya menargetkan kejahatannya kepada penumpang yang berpenampilan mencolok.

Dalam hal ini tidak hanya menggunakan perhiasan berhiasan, tapi juga barang bawaan yang mengundang perhatian.

"Mereka sudah amati mana penumpang yang diduga membawa barang berharga. Jadi bukan karena dia suku tertentu," tandasnya. (serambinews.com)

Soleman B Ponto
Banda Aceh - Mantan Kepala Badan Intelejen Strategis (BAIS), Soleman B Ponto menyakinkan bahwa kelompok bersenjata Din Minimi adalah binaan Badan Intelejen Negara (BIN).

“Ini bukan aku bilang, tapi ini Ka BIN, Sutiyoso sendiri yang bilang dalam berita kompas, 6 Januari 2016 bahwa BIN yang dipimpin Sutiyoso tidak menyangkal penanganan kelompok bersenjata tidak lepas dari pembinaan wilayah teritori. Itu bagian pembinaan BIN di wilayah,” tegas Soleman kepada wartawan usai diskusi “Menakar Teka Teki Din Minimi” di UIN Ar-Raniry, Kamis (7/1/2016).

Menurut Soleman, kalau BIN melakukan pembinaan boleh-boleh saja, sepanjang tidak merusak sistem yang sudah ada. “Artinya BIN setelah menerima Din Minimi lalu serahkan ke Polisi atau Pangdam Iskandar Muda,” ujar Soleman.

Senjata yang digunakan Din Minimi kata mantan Kepala BAIS ini juga bukan senjata sisa konflik. “Itu senjata baru, bisa disuplai baru atau disimpan, yang sisa konflik sudah tidak ada lagi, artinya semua senjata setelah tanggal 31 Desember 2005 itu adalah kriminal,” tegas dia menyakinkan.

Soleman juga menuding BIN telah merusak prinsip intelejen negara. “BAIS tidak kecolongan, kami juga bisa menurunkan Din Minimi, tapi tetap dalam SOP yang berlaku, kemudian BIN sudah melanggar prinsip-prinsip intelejen, seharusnya BIN menyerahkan Din Minimi ke Polisi dan tidak melakukan publikasi,” kata Soleman.

Permainan intelejen tidak kelihatan tapi bisa dirasakan. Intelejen bermain di bawah tanah, apapun dilakukan boleh-boleh saja, ketika intelejen melakukan maka harus diserahkan ke Polisi atau TNI, kalau SOP ini hancur, berapa banyak sistem yang akan rusak.

Seharusnya KA BIN memberikan contoh baik kepada adik-adiknya. “Kenapa saya ribut, karena saya tidak ingin ini terjangkit dengan adik-adik saya,” demikian Kepala BAIS TNI  2011-2013, Soleman B Ponto. 

Sumber: ACEHTERKINI

Presiden Jokowi dan Din Minimi

IDI- Din minimi yang didampingi oleh kuasa hukumnya Safaruddin SH dari Yayasan Rakyat Aceh (YARA) Rabu (6/1) mengucapkan terimakasih kepada presiden jokowi atas komitmen orang nomor satu di indonesia tetap akan merealisasikan pemberian amnesti kepadanya dan 150 orang anggotanya.

Kepada Reporter dan beberapa wartawan media lainnya, Din minimi mengatakan sejak awal merasa sangat optimis jika presiden jokowi akan tetap memberinya amnesti dan merealisasi semua tuntutannya.

Sementara itu Safaruddin selaku kuasa hukum Din Minimi memberi apresiasi kepada presiden jokowi walau pemberian amnesti sempat terjadi pro dan kontra namun presiden tetap akan memberi amnesti kepada kliennya yakni din minimi beserta anggotanya.

'' Kami akan terus mengawal realisasi serta tuntutan klien kami sampai terwujud,kami yakin langkah presiden dalam memberikan amnesti untuk din minimi dan anggotanya adalah yang terbaik" ujar safar


Reporter: Basri

Jayapura - Suara seorang wanita berbicara di telepon. “Ibu sudah sampai mana. Jadi siang ini ke rumah , tahu jalannya?” kata wanita itu kepada Tempo, Rabu, 16 Desember 2015. Butuh waktu sedikitnya  2 jam dari Jayapura menuju distrik Arso, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

Keerom merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Papua Nugini. Di kawasan ini tinggal satu panglima Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Lambert Pekikir, usianya berkisar 60 tahun.
 
Jalan yang menghubungkan Jayapura – Keerom  mulus, hampir tak ada kubangan lumpur atau aspal yang terkelupas.  Sisi kanan dan kiri jalan nampak hutan belantara dan perkebunan sawit, dan semakin mendekati Arso dipenuhi tanaman pisang.

Sepanjang jalan hanya beberapa kendaraan yang melintas. Sepi. Tempo menghitung sekitar enam pos penjagaan aparat TNI berada di sisi dan kanan jalan. Aparat TNI berjaga-jaga dari posnya yang dibangun di tempat yang lebih tinggi dari jalan. Beberapa aparat nampak duduk sambil menyeruput minuman.

Rumah Lambert Pekikir, tak jauh dari jalan lintas kabupaten. Tepatnya di Kampung Workwana, Distrik Arso. Beberapa pria tampak sibuk membangun rumah dan memperbaiki saluran air pemilik rumah. Sedikitnya empat rumah berdiri di atas tanah.

Seorang perempuan mengenakan daster batik Papua tanpa lengan muncul dari satu rumah. Dia tersenyum dan mengajak Tempo masuk ke rumah yang disebutnya rumah anaknya. Di dalam seorang bocah perempuan sedang bermain.”Ini anak bungsu mama. Mama istri Pak Lambert. Mama tadi yang telepon,” ujar Rosalia Maniger, 40 tahun.

Dalam keseharian warga Papua menyapa perempuan dewasa sebagai “mama” sebagai sapaan hormat. Rosalia   menjelaskan, suaminya  sudah beberapa hari memilih masuk hutan. Lambert beralasan dirinya tak mau dimintai pendapat oleh siapapun terkait dengan hasil pemilihan kepala daerah serentak di Papua. “Bapak sering jadi tempat meminta pendapat oleh mereka yang mau pilkada, Bapak tidak mau lagi,” ujarnya.

Di dinding rumah , ada beberapa foto  Lambert di ruang tamu . Satu di antaranya Lambert berfoto bersama sejumlah orang dengan dilatari gedung Sarwo Edhie di markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.  Simbol Kopassus berupa pisau kecil dan simbol Pancasila dipajang di dinding rumah keluarga Lambert Pekikir.  Rosalina hanya tersenyum ketika Tempo memperhatikan foto-foto tersebut.

Rosalia irit bicara tentang sepak terjang suaminya setelah berhasil didekati Kopassus untuk kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Menurut seorang perwira intelijen Kopassus yang bertugas di Papua, Lambert dibawa berkunjung ke markas besar pasukan elit itu pada tahun 2013.

“Kita yakinkan dia untuk kembali ke NKRI. Lagipula usia sudah tua, , tentu tidak kuat lagi tinggal di dalam hutan. Kita bantulah asalkan dia dukung NKRI,” kata perwira intelijen Kopassus itu kepada Tempo .

Sejumlah pemimpin TPN-OPM yang bertahun-tahun menentang Indonesia, ujarnya, kini berbalik mendukung NKRI. TNI, ujarnya, mengubah pendekatan di Papua dari operasi militer ke pendekatan kesejahteraan seperti membangun rumah keluarga TPN-OPM, membangun infrastruktur, dan bantuan penyediaan sembako, dan kesehatan.

Namun pendekatan kesejahteraan, belum sepenuhnya mampu mengajak turun para panglima TPN-OPM yang bergerilya di hutan-hutan di Papua hingga perbatasan. Panglima TPN-OPM wilayah Puncak Jaya, Gholiat Tabuni sampai saat ini memilih menutup komunikasi dengan pemerintah Indonesia. Panglima TPN-OPM yang disegani oleh panglima TPN-OPM lainnya, Richard Joweni hingga akhir hayatnya menolak berkompromi dengan pemerintah Indonesia.

“Struktur komando TPN-OPM terbaik dibawa pimpinan Richard Joweni, “ kata Ketua Komnas HAM perwakilan Papua, Fritz Ramande kepada Tempo.  Dan, pilihan Lambert , ujarnya, diduga lebih pada latar belakang faktor usia dan ekonomi . Dan, Lambert  diyakini memilihnya dengan kesadaran penuh.

Sumber: TEMPO

Jakarta - Ketua DPP Gerindra Desmons J Mahesa membenarkan kabar Koalisi Merah Putih (KMP) bubar diawal tahun ini. Pasalnya hampir semua partai yang bergabung dalam KMP telah merapat ke kubu partai pendukung pemerintah.

“Betul itu kalau Gerindra sudah sendiri di KMP,” ujar Desmond di Jakarta, Kamis (7/1).

Menurut Desmon KMP sudah mulai tidak kompak sejak akhir tahun lalu. Ketika pengesahan RAPBN 2016. Saat itu hanya Fraksi Partai Gerindra yang menolak disertakanya Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam APBN 2016. Sementara seluruh partai lainya menerima.

“Kan 9 fraksi setuju PMN dimasukkan, seharusnya BUMN memberikan keuntungan ini malah ‎akan diberikan modal. Tapi akhirnya pemerintah menolak dimasukkannya PMN itu dalam APBN,” ungkap Wakil Ketua Komisi III itu

Desmond menyebutkan terbentuknya KMP usai pemilu egislatif 2014 itu hanya sekedar untuk “lucu-lucuan” saja bagi para pendukung Prabowo Subianto dalam pemilu presiden lalu.

“Jadi tinggal nunggu waktu saja, enggak ada guna hanya untuk lucu-lucuan saja KMP ini,” cetusnya

Meski demikian, kata Desmond, tak ada masalah meskipun Gerindra hanya sendiri karena ditinggal‎kan oleh koalisinya. Ia menambahkan, bubarnya KMP juga diakibatkan karena pemerintahan Presiden Jokowi mengakomodir kepentingan partai yang sebelumnya di luar koalisi pemerintah.

“Kan adanya KMP juga jarena Jokowi tidak mengakomodi‎r pendukung Prabowo, tapi sekarang kan mengakomodir. Bagi partai-partai pragmatis pasti merapat ke sana seperti PAN. Bagi Gerindra enggak ada masalah, yang bagus kita dukung yang tidak pro rakyat kita lawan,” tandas Desmond.(konfrontasi.com)

Meulaboh - Petugas Satuan Narkoba Polres Aceh Barat, Provinsi Aceh meringkus tujuh penguna sekaligus pengedar narkoba jenis sabu-sabu dan ganja kering.

Kasat Narkoba Polres Aceh Barat Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan bahwa ketujuh tersangka ditangkap di lokasi berbeda. Itu merupakan hasil pengembangan dari tertangkapnya salah satu kurir sabu.

"Tiga orang kita tangkap di salah satu rumah tersangka karena kepemilikan ganja kering dan sabu serta alat hisap. Sementara empat orang lain atas kepemilikan sabu-sabu," ujarnya, Kamis (7/1/2016).

Miftahuda menjelaskan tertangkapnya salah satu kurir sabu-sabu berinisial RJ. Ia berhasil dibekuk berkat informasi dari dua warga Gampong (desa) Lhung Buloh, Kecamatan Woyla, yang tertangkap sebagai pengguna sekaligus pengedar.

Selanjutnya dikembangkan lagi dan tertangkap empat tersangka lain. Ketujuh orang tersangka mendapat ancaman pidana berbeda. Tergantung peran masing-masing. (OKZ)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.