2019-05-26

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan istrinya, Ani Yudhoyono.(Foto/SINDOnews/Ist)
Jakarta - Perjuangan tanpa lelah Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono) melawan sakit kanker darah berada di titik akhir. Sabtu (1/6/2019) pukul 11.50 waktu Singapura, Sang Maha Pencipta memanggilnya.

Ani Yudhoyono mengembuskan napas terakhir dalam perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) National University Hospital (NUH).

Isak tangis, dukacita, dan kenangan atas istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mengiringi kepergiannya. Ucapan belasungkawa tidak hanya disampaikan langsung ke keluarga yang ditinggalkan, namun juga merebak di berbagai platform media sosial.

Presiden Joko Widodo menyampaikan rasa belasungkawa atas kepergian Ani. Kepala Negara turut mendoakan semoga almarhumah diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

"Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia sama-sama berdoa bagi almarhumah semoga diterima dan diberikan yang terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, (semoga) husnul khatimah, dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran," ucap Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (1/6/2019).

Ani tidak hanya dikenal sebagai perempuan yang pernah menjabat sebagai Ibu Negara. Namun juga, sosok bertalenta dengan berbagai karya.

Berikut beberapa fakta tentang Ani Yudhoyono.

1. Putri Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.
Lahir di Yogyakarta pada 6 Juli 1952, Kristiani Herrawati merupakan anak ketiga dari pasangan Letnan Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo dan Sunarti Sri Hadiyah.

Siapa tidak kenal Sarwo Edhie? Tentara kelahiran Purworejo Jawa Tengah itu salah satu “legenda” dunia militer Indonesia. Sarwo Edhie yang saat itu menjabat Panglima Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) berperan besar menumpas pemberontakan Gerakan 30 September PKI. RPKAD adalah cikal bakal Kopassus.

Putra-putri Sarwo Edhie yakni Wijiasih Cahyasasi, Wrahasti Cendrawasih, Kristiani Herrawati, Mastuti Rahayu, Pramono Edhie Wibowo, Retno Cahyaningtyas dan Hartanto Edhie Wibowo.

2. Mengenal SBY di Lembah Tidar.
Ani untuk pertama kalinya melihat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Komplek Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah. Pertemuan itu terjadi pada 1973. Saat itu Sarwo Edhi, ayahnya merupakan Gubernur Akmil. Sementara SBY merupakan taruna muda.

Ani terkesan dengan SBY yang jangkung dan gagah saat menghadiri acara peresmian Balai Taruna. Dari tatapan mata itulah mereka akhirnya kenal. Di Lembah Tidar itu pula benih cinta bersemi. Dalam perjalanannya, SBY akhirnya melamar Ani. Mereka menikah pada 30 Juli 1976.

3. Urung Menjadi Dokter.
Menjadi risiko anak tentara harus berpindah-pindah sekolah. Demikian pula yang dialami Ani Yudhoyono dan saudara-saudaranya. Ani bahkan harus mengurungkan niat untuk menjadi dokter.

Pada 1974 Ani yang merupakan mahasiswa Jurusan Kedokteran Universitas Kristen Indonesia harus mengikuti ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo yang ditunjuk menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan. Namun Ani akhirnya melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka dan lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Politik pada 1998.

4. Dari Istri Menteri ke Ibu Negara.
Status Ani sebagai istri tentara berubah pada 29 Oktober 1999. Seiring diangkatnya SBY sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada era Presiden Abdurrahman Wahid, praktis Ani pun menjadi “istri menteri”.

Status itu berubah lagi pada 2004. SBY yang maju sebagai capres dari Partai Demokrat memenangi pilpres. Tepat 20 Oktober 2004 Ani Yudhoyono resmi menyandang status Ibu Negara Republik Indonesia. Jabatan ini pun tersemat selama dua periode atau 10 tahun pemerintahan SBY.

5. Hobi Fotografi.
Ani tidak hanya dikenal sebagai sosok yang aktif di berbagai organisasi. Dia ternyata memiliki banyak talenta. Salah satunya fotografi. Ketertarikan akan dunia potret-memotret itu terus diasahnya semasa menjabat Ibu Negara. Berbekal kamera SLR, Ani mengabadikan berbagai objek dan momen di dunia.

6. Karya Buku.
Bukan hanya fotografi. Ani juga seorang penulis. Para kerabat dan kolega mengenalnya sebagai seorang “pencatat”. Bahkan saat menjalani pengobatan, dia pun mencatat pengobatan apa saja yang dilakukannya.

Tidak mengherankan kepiawaiannya itu membuat dia menghasilkan sejumlah karya buku, baik tentang isu-isu kemanusiaan maupun buku fotografi. Buku mengenai Ani atau yang ditulis oleh Ani yaitu Kepak Sayap Putri Prajurit, Batikku-Pengabdian Cinta Tak Berkata, The Colors of Harmony, Tenunku, 3500 Species, Bersatu Dalam Kemajuan, Anak Kita Masa Depan Kita, Menanam untuk Hari Esok, Keluarga Sehat, Investasi Bangsa, dan Tebar Kepedulian dengan Cinta Kasih

7. Kenalkan Mobil Pintar.
Semasa menjabat Ibu Negara, Ani Yudhoyono juga dikenal sebagai ketua Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Berbagai kegiatan diinisiasi oleh Ani. Di antaranya peningkatan kesehatan dan pendidikan bagi anak Indonesia.

Di dunia pendidikan, Ani intensif menggerakkan kegiatan literasi melalui perpustakaan keliling yang disebut Mobil Pintar. Peluncuran mobil pintar dilakuan pada 18 Mei 2005 di Cilincing, Jakarta Utara.

8. Memo dengan Empat Cucu.
Perjalanan bahtera rumah tangga Kristiani Herrawati-Susilo Bambang Yudhoyono dikaruniai dua orang putra, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Keduanya telah berumah tangga dan mempunya putra-putri. Dengan demikian, Ani bukan saja istri bagi SBY dan ibu bagi dua anak lelakinya, namun nenek bagi para cucunya.

Menariknya, ada panggilan sayang dari cucunya kepada Ani yaitu Memo. Panggilan ini pertama kali diucapkan cucu pertamanya, atau putri dari AHY-Annisa Pohan yaitu Almira Tunggadewi Yudhoyono. Dari situ panggilan Memo dan Pepo (untuk SBY) menjadi panggilan saying dari cucunya. Selain Almira, cucu Ani yaitu Airlangga Satriadhi Yudhoyono, Pancasakti Maharajasa Yudhoyono, dan Gayatri Idalia Yudhoyono yang merupakan anak dari Ibas-Aliya Rajasa.

9. Sakit Kanker Darah.
Tidak ada yang mengira Ani Yudhoyono bakal terkena kanker darah. Rasa sakit itu pertama kali dirasakan di punggung ketika Ani usai melakukan perjalanan mendampingi SBY di Aceh. Semula sakit itu dikira hanya karena kelelahan.

Berdasarkan diagnosis dokter, ternyata sakit itu lebih parah dari semua yang diperkirakan. Oleh tim dokter, Ani direkomendasikan untuk menjalani perawatan di Singapura. Pada 13 Februari 2019, SBY mengumumkan kondisi terkini istrinya. Ani ternyata mengidap kanker darah (blood cancer).

Kondisi kesehatan Ani sempat membaik pada 16 Mei 2019. Tim dokter bahkan memperbolehkannya untuk menghirup udara luar. Namun pada Rabu (29/5/2019) kondisinya memburuk sehingga harus dirawat di ICU. Empat hari kritis, Ani tutup usia pada Sabtu (1/6/2019) pukul 11.50 waktu setempat. | Sindonews


STATUSACEH- Setelah beberapa waktu lalu seorang narapidana dikabarkan menghilang dari Lapas banda Aceh yang pada akhirnya diketahui napi tersebut diketahui telah dipindahkan ke Lapas Nusakambangan.

Hal serupa kembali dialami oleh Siti Nurbaya (30) warga Aceh Timur mengaku suaminya yang selama ini menjalani masa pidananya di Lembaga  pemasyarakatan (Lapas) Klas 1 Medan Raib dari Lapas tersebut.

Hal ini dituturkan oleh siti kepada Redaksi,  Kamis (30/5/2019) menceritakan ikhwal raibnya suaminya Syukri bin Ismail (42) terpidana 20 tahun dalam kasus narkotika di Lapas Klas I Medan yang lebih dikenal Lapas Tanjunggusta Medan.

Seperti biasanya siti mengaku senantiasa membezuk suaminya setiap bulannya ke lapas tanjunggusta dengan membawakan sedikit makanan yang dimasaknya sendiri  untuk berbuka suaminya.

Pagi itu siti dari dirinya berangkat dari aceh Timur dengan menaiki bus menuju ke Medan yang memakan waktu 5 jam perjalanan.

Namun alangkah terkejutnmya sesampai di Lapas dirinya tidak menemukan suaminya berada disana,bahkan petugas yang dirinya temui bungkam saat ditanyakan kemana suaminya.

" Sampai di Lapas saya minta bertemu bang syukri, para petugas itu bilang bang syukri sudah tidak disini lagi, saya tanya kemana, mereka bilang kami gak tahu kalapas yang tahu kemana bang syukri, tapi wajah dan mata  petugas disana saya lihat seperti sedih gak sangup mengatakannya ",ujar siti diirngi tangis kepada redaksi.

Kemudian siti meminta untuk bertemu Kalapasnya para petugas mengatakan untuk menunggu karena kalapas sedang keluar, lama menunggu sang kalapas tidak juga muncul akhirnya siti memutuskan untuk pulang bersama makanan yang dibawanya dengan perasaan sedih.

" Lama saya tunggu kalapas tapi tidak kembali ke lapas jadi karena hari sudah sore saya lansung pulang ke Aceh,makanan yang saya bawa tadi saya makan sendiri dalam bus saat buka puasa ",cerita siti.

Menurut siti suaminya memang benar kasus narkoba namun pada dasarnya suaminya sebelum masuk penjara  adalah seorang yang bekerja dibidang kontruksi namun naas bagi suaminya kala itu seorang dijebak oleh teman baiknya mengajak dirinya ikut kemedan untuk melunasi hutang piutang kepada suaminya.

Siti mengatakan jika selama menjalani masa pidana di Lapas Tanjungusta suaminya tidak pernah bermasalah apapun bahkan semua petugas serta pejabat lapas disana mengenal suaminya kerap membantu pekerjaan petugas dan ringan tangan.

" Setahu saya bang syukri kalau di lapas semua kenal mulai petugas sampai kalapas, dia suka ikut kegiatan pembinaan, ringan tangan bahkan kalau bang syukri tidak ada uang berani hutang sama petugas nanti kalau saya bezuk saya bayar, bang syukri memang bukan orang narkoba cuma nasibnya naas dijebak teman dekatnya sendiri ", Tutur siti saat ditanya redaksi kisah suaminya sampai masuk penjara.(red)

Jakarta - Ani Yudhoyono, istri Presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, meninggal dunia di tengah perjuangannya melawan kanker darah (leukemia). Ani Yudhoyono meninggal National University Hospital, di Singapura.

Menurut Ossy Dermawan, sekretaris pribadi, Ani Yudhoyono meninggal pada pukul 11.50 waktu Singapura.

Rabu lalu, Ani mengalami demam sehingga dirawat di ruang ICU. Ani harus mendapatkan perawatan intensif dan tindakan eksta medis. "Kamis malam, kondisi ibu Ani up and down. Kadang bagus, kadang menurun," ujar Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat, Imelda Sari, dalam wawancara dengan tvOne di acara Apa Kabar Indonesia, Sabtu pagi 1 Juni 2019.

Diketahui, Ani Yudhoyono dirawat di National University Hospital Singapura sejak Februari lalu karena sakit kanker darah. Almarhumah meninggal di usia 66 tahun.(Viva)

Menhan Ryamizard Ryacudu di Raker Komisi I DPR dan Mayjen (Purn) Soenarko. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan/Dok. kopassus.mil.id)
Jakarta - Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu kembali berkomentar soal kasus yang menjerat eks Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko, atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal diduga untuk makar.

Ryamizard meyakini Soenarko yang juga juniornya di TNI AD itu tidak mungkin berniat makar, apalagi dengan menggunakan senjata untuk membunuh orang.

"Itu Soenarko itu di bawah saya dua tiga tahun, berarti lama. Dia sudah pengalaman di Papua, Timtim, Aceh, segala macam," ucap Ryamizard di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (30/5).

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu juga meyakini tidak mungkin ada rencana pembunuhan oleh Soenarko. Ryamizard mengaku pernah menyampaikan akan menindak langsung Soenarko jika dia berbuat onar.

"Kalau dongkol saya begini, 'entar saya gampar lu'. Sampai berapa puluh tahun enggak saya gampar kok. Saya tembak kepalanya, sudah berapa puluh tahun enggak ada saya tembak," paparnya.

"(Soenarko) enggak akanlah gitu-gituan. Jangan terlalu khawatir, bila perlu saya datang nanti bilang jangan begitu enggak boleh." kata Ryamizard Ryacudu

Ryamizard kembali menyebut keyakinannya soal senjata yang dituduhkan kepada Soenarko bukanlah selundupan, tapi rampasan. (Ryamizard memahami selundupan berarti luar negeri).

"Katanya ada yang menggunakan senjata. Kalau saya lihat senjata itu dibawa dari luar negeri ya enggaklah. Saya yakin itu," tuturnya.

"Dia punya senjata merampas ya senjatanya rampasan," imbuhnya.

Menurutnya, ribut-ribut soal makar hingga pecah kerusuhan 21-23 Mei, jelas merugikan bangsa Indonesia dan menguntungkan pihak lain yang ingin ambil kesempatan.

"Kalau kita ribut ada yang ikut dompleng. Siapa lagi, ya radikal-radikal saja yang merasa antipancasila, pasti di sana. Ini yang perlu kita waspadai dan bangkit," pungkasnya. | Kumparan

StatusAceh.Net - Konflik Aceh yang berkempajangan yang dimulai dari tahun 1965 hingga masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan darurat militer yang berakhir pada tahun 2004 lalu menjadi kenangan pahit bagi masyarakat Aceh, khususnya bagi pasukan gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang saat itu menghadapi militer Indonesia untuk memperjuangkan kedaulatan Aceh. dan diperkirakan Aceh terlibat konflik dengan Indonesia berjalan selama 29 tahun yang merenggut hampir 15 ribu korban jiwa.

Konflik Aceh berakhir setelah adanya perundingan di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005. pada waktu itu Indonesia diwakili Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin, sedangkan GAM mengutuskan Malik Mahmud Al Haytar untuk menandatangani Memorandum of Understanding (MoU).

Salah seorang eks kombatan GAM Zulfakri dengan kata sandinya Aneuk Geutu dimasa darurat militer (Konflik Aceh 2003-2005) mengisahkan dirinya ketika bergabung dengan pasukan GAM,

Pada saat itu tepatnya tanggal 4 Desember 2000, Zulfakri bergabung dengan Militer GAM, dia diberi nama Aneuk Geutu karena diantara sekian ribu pasukan GAM hanya dialah yang paling kecil, pada saat itu usiannya masih 15 tahun, dan bergabung dengan pasukan gajah meulangue yang dibekali senjata AK 46.

Selain fanatik kedaulatan Aceh, alasan Aneuk Geutu Masuk GAM tidak lain karena keluarganya dibantai dan rumahnya dibakar oleh Militer Indonesia (TNI/Polri)yang berada di gampong Paloh Punti, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe.

Kala itu orang tuannya yang bernama Sulaiman bin Ibrahim alias Teungku Leman Panyang yang merupakan panglima komandan operasi Militer wilayah pasee syahid dalam pertempuran di paya Cot Trieng, Paloh Punti pada massa Aceh dalam status Darurat Militer.

Selain itu, Abang kandungnya yang bernama Mahdi juga anggota GAM syahid dalam pertempuran dengan militer Indonesia di kawasan lindek gampong Seumirah, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Selanjutnya Abang sepupunya yang bernama Azhar di Paloh punti juga ikut syahid dalam pertempuran Ujong Pacu, Lhokaeumawe.

Menurutnya ada 21 anggota keluarganya yang syahid di masa konflik Aceh 2003 silam, untuk data yang pasti peristiwa tersebut Aneuk Geutu tidak lagi tersimpan dalam memori ingatannya, itu diakibatkan karena semua kelurganya Syahid.

Aneuk Geutu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, namun yang kedua abangnya dan Ayahnya Syahid dalam pertempuran antara GAM dan TNI/Polri, dia hanya tinggal seorang diri.

Pengalaman Aneuk Geutu dalam bertempur  semasa konflik mempunyai keahlian dalam merakit bom dan bergerilya, wilayah tempur yang dialaminya diantaranya paloh punti Lhokseumawe dan Nisam Antara dan Nisam.

Teka teki perjuangan terjawab ketika matanya terbuka dari bangun tidurnya pada 15 Agustus 2004 yang bahwa GAM dan RI telah menandatangi perjanjian damai di Finlandia.

"Pada waktu itu saya lagi tidur di rumah untuk menjaga senjata-senjata yang di titip oleh keluarga saya beserta amunisi dan berbagai alat praga militer di rumah dan pas kebutulan abang saya (Pasukan GAM) pulang untuk menginformasikan bahwa Aceh sudah damai," kisahnya.

Mengenai wacana Referendum, Aneuk Geutu sangat mendukung apalagi itu perintah dari panglima GAM yakni Muzakir Manaf alias Muallem.

"Terkait wacana Referendum Saya dari pihak korban konflik atawa kombatan siap sepenuhnya untuk mendukung penutoh sang pimpinan perang yaitu Muallem,"cetus Aneuk Geutu.(Red)

Tim Kuasa Hukum dan Sejunlah Purnawurawan menyampaikan pembelaan untuk mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Jhusu Mayor Jenderal Tentara Nasionak Indonesia (Purn) Soenarko yang ditahan atas tuduhan kepemilikan senjata ilegal di Jakarta, Jumat 31 Mei 2019. Tempo/Budiarti Utami Putri
Jakarta - Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda Kolonel Infanteri (purn) Sri Radjasa Chandra membela bekas atasannya, eks Panglima Kodam I Iskandar Muda Mayor Jenderal Tentara Nasional Indonesia (purn) Soenarko yang dituduh memiliki senjata ilegal. Pembelaan ini terutama menyangkut jenis senjata yang dikirim kepada Soenarko dengan yang ditunjukkan oleh kepolisian.

Sri Radjasa awalnya menuturkan soal senjata-senjata yang dikumpulkan dari kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Kata dia, pada 2009 Staf Intel Iskandar Muda menerima tiga pucuk senjata dari masyarakat Aceh, yakni dua pucuk AK-47 dan sebuah M16 A1.

"Kondisi senjata tersebut saya lihat sendiri bahwa tidak layak untuk sebuah pertempuran," kata Sri Radjasa di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Jumat, 31 Mei 2019.

Sri Radjasa kemudian melaporkan penerimaan senjata itu kepada Soenarko, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer I Iskandar Muda. Soenarko menginstruksikan agar dua AK-47 itu dimasukkan ke gudang, sedangkan M16 A1 disimpan di kantor Staf Intel untuk kemudian diberikan ke museum Kopassus.

"Ini jelas bahwa Pak Narko tidak pernah memiliki senjata itu," ucapnya.

Dia melanjutkan, M16 A1 itu sempat dimodifikasi di bagian popor, penutup laras, dan teropong bidik. Dia berujar teropong bidik itu bukan kriteria untuk sniper, melainkan pertempuran jarak dekat.

Sri Radjasa pun mengaku dirinya sempat diminta Soenarko mengirim M16 A1 itu ke Jakarta pada 2018. Namun dia keburu habis masa tugas di Aceh dan ke Jakarta sebelum sempat memenuhi permintaan seniornya itu.

Sri Radjasa mengatakan Soenarko juga menginstruksikan anak buahnya di Aceh, Heriansyah, untuk mengirim senjata itu. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu, ujarnya, mewanti-wanti agar pengiriman senjata dilaporkan kepada Kepala Staf Daerah Militer Iskandar Muda Brigadir Jenderal Daniel agar mendapat surat pengantar.

Kemudian, kata dia, senjata M16 A1 itu dikirim pada 15 Mei pukul 16.30 menggunakan pesawat Garuda Indonesia, dengan dilengkapi surat pengantar dari Brigadir Jenderal Sunari. Namun setibanya senjata itu di Bandara Soekarno Hatta terjadi dua keanehan:
Sunari menyebut surat itu palsu dan Heriansyah membantah mengambil senjata itu dari markas Kodam.

"Yang tiba- tiba jadi aneh, ketika sampai di bandara dikatakan surat pengantarnya palsu, kemudian si pengirimnya mengaku tidak mengirim," kata Sri Radjasa.

Dalam konferensi pers pada 21 Mei, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian menyebutkan senjata yang dikirim itu jenis M4 Carbine. Sri Radjasa pun heran dengan hal tersebut. Dia memastikan, senjata yang dikumpulkan dari eks kombatan GAM dan dilaporkan pada Soenarko adalah M16 A1.

"Pasti (M16 A1) karena saya yang dapat dari GAM. Tapi yang ditayangkan Pak Tito itu saya enggak tahu senjata apa itu," kata dia.

Sri Radjasa mengaku tak tahu mengapa kemudian Tito menunjukkan M4 Carbine. Dia mengklaim, Soenarko tak pernah mengubah M16 A1 itu menjadi M4.

"Engak tahu saya (kenapa berubah), tanya aja sama polisi. Yang jelas Pak Narko tidak pernah mengubah senjata itu menjadi M4," ucapnya.

Menurut laporan Majalah Tempo edisi 26 Mei 2019, surat pengantar dari Brigjen Sunari yang menyertai pengiriman senjata itu palsu. Surat lancung itu diduga dibuat oleh ZP, seorang tamtama berpangkat prajurit kepala yang membawa senjata dari Aceh.

BP diduga memalsukan dokumen pengiriman dengan surat bertanda tangan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Aceh. Hanya saja, dia mencomot format surat lama yang masih mencantumkan nama Brigjen Sunari sebagai Kabinda. Padahal Sunari sudah digantikan Kolonel Cahyono Cahya Angkasa per 26 Januari 2019.

Laporan Tempo juga menyebut Soenarko mencak-mencak kepada Heriansyah pada medio Mei lalu, lantaran paket senjata yang dipesan sejak beberapa bulan sebelumnya tak kunjung tiba di Jakarta. Namun kata Sri Radjasa, Soenarko tak mengetahui pengiriman senjata pada tanggal 15 Mei lalu.

Berikutnya, masih berdasarkan laporan Tempo, Soenarko menelepon seorang tentara berinisial ZN yang akan menerima paket senjata dari Aceh di Bandara Soekarno Hatta. Namun menurut Sri Radjasa hal itu tak benar. "Bukan Pak Narko menelepon kurir, itu salah semua."

Sumber: MAJALAH TEMPO

Jakarta - Dihadapkan pada peluang dan tantangan bagi Indonesia di dalam mengembalikan kejayaan sektor hulu minyak dan gas bumi, pemerintah memiliki banyak pekerjaan rumah.

Salah satunya adalah mengembalikan minat dan kegairahan investor migas global untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Tanah Air. Pemerintah optimistis akan hal tersebut, lantaran sudah ada komitmen beberapa kontraktor untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.

Ditemui di Jakarta, Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Tumbur Parlindungan, (26/05) mengakui bahwa cadangan migas nasional terbukti masih relatif besar di kawasan Asia Tenggara, bahkan di Asia.

“Hanya saja, perlu ada tambahan cadangan migas yang diwujudkan dengan eksplorasi. Sayangnya dalam 15 tahun terakhir aktivitas eksplorasi cukup minim terjadi di Indonesia. Padahal, negara lain yang cadangan migasnya di bawah Indonesia banyak berbenah untuk menghadirkan investasi hulu migas,” ungkap Tumbur.

Hal ini patut menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, mengingat porsi Minyak dan Gas Bumi dalam kebutuhan energi nasional masih tertinggi bila dibandingkan dengan batubara, ataupun energi baru terbarukan. Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), target bauran energi fosil pada 2025 mencapai 47%, sementara pada 2050 sebesar 43,5%.

Berdasarkan RUEN, diproyeksi produksi minyak bumi nasional sebesar 567.000 barrel oil per day (BOPD) pada 2025, sementara pada 2050 sebesar 698.000 BOPD. Sementara itu, untuk kebutuhan kilang minyak mentah nasional pada 2025 mencapai 2,19 juta BOPD dan meningkat menjadi 4,61 juta BOPD pada 2050.

Dengan asumsi produksi minyak nasional diserap 100% untuk kebutuhan domestik, maka impor minyak mentah nasional pada 2025 berkisar 1,67 juta BOPD dan 3,92 juta BOPD pada 2050.

Bicara kondisi terkini terutama terkait cadangan migas, terjadi peningkatan cadangan di gas bumi, sementara penurunan di minyak. Berdasarkan data SKK Migas, tahun lalu cadangan minyak sebesar 226,62 Million Stock Tank Barrels (MMSTB), atau menyusut sebesar 334,05 MMSTB dibandingkan tahun 2017. Sementara untuk gas bumi, cadangannya sebesar 3.387,81 Billion Standard Cubic Feet (BSCF) pada 2018 atau meroket dari cadangan tahun sebelumnya sebesar 578,47 BSCF.

Upaya mendorong tambahan cadangan ataupun produksi minyak, sepertinya perlu melihat apa yang dikerjakan Malaysia. Mengacu IEA, Malaysia telah berhasil menjaga tren produksi minyaknya berkisar 700.000 BOPD selama periode 2000 -2018. Berdasarkan data theglobaleconomy.com, produksi minyak Malaysia sebesar 755.700 BOPD pada 2000, sementara pada 2018 sebesar 736.280 BOPD. Capaian produksi minyak di bawah 700.000 BOPD hanya terjadi pada kurun waktu 2011 - 2014.

Terkait cadangan minyak Malaysia, tercatat adanya penurunan sebesar 20% dalam kurun 2000 – 2016 atau dari 4,5 miliar barel menjadi 3,6 miliar barel. Sementara itu, Indonesia mengalami penurunan cadangan minyak yang signifikan dari 5,1 miliar barrel pada 2001, menjadi sekitar 3,3 miliar barrel pada akhir 2016.

Melihat kondisi tersebut, menghadirkan proyek setara Lapangan Banyu Urip atau temuan migas di Blok Sakakemang, Sumatera Selatan, menjadi harapan baru lagi semua pihak. Februari lalu, Repsol mengumumkan cadangan terbukti gas bumi mencapai sekitar 2 triliun kaki kubik (TCF) di Blok Sakakemang.  

“Langkah yang ditempuh negara lain di antaranya memperbaiki rezim fiskalnya. Sehingga, investor punya banyak opsi untuk berinvestasi. Kalau Indonesia dianggap kurang menarik dan sementara negara lain lebih menarik, tentu mereka masuk ke sana,” ucap Tumbur.

Ke depannya, Indonesia diharapkan terus meningkatkan kualitas investasi hulu migas agar lebih banyak investor global yang datang ke tanah air untuk mengeksplorasi ataupun mengembangkan blok migas nasional. Apalagi berbekal pengalaman, bahwa kita pernah mampu menarik investor global, yakni era proyek LNG Bontang, Blok Rokan dan Blok Mahakam.

Kendati, investor memahami tingginya risiko bisnis di hulu migas, mereka tetap mencari tempat investasi yang memberikan potensi reward lebih besar daripada risiko bisnisnya. Inilah tantangan pemerintah meyakinkan investor migas global untuk datang menanamkan modalnya. 

“Mungkin risikonya sama, tapi bagaimana kalau potensi keuntungan keekonomian di sana lebih bagus? Contoh lain agar investor tertarik datang adalah dimulainya proyek-proyek besar yang sedang didiskusikan, seperti Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Proyek LNG Abadi. Dengan begitu, investor yakin untuk melakukan eksplorasi ataupun pengembangan,” tambah Tumbur Parlindungan.

Dia optimistis, masa depan industri hulu migas nasional akan cerah dengan dukungan segala pihak. Upaya memangkas kebijakan yang tidak pro-bisnis hingga melakukan promosi temuan-temuan di area migas nasional dapat menjadi jalan untuk investor masuk.

“Saya kira tidak hanya di ASEAN, di tingkat Asia pun kita masih dipandang penting untuk sektor migas. Tinggal sekarang bagaimana mengundang pemain besar datang,” ujarnya.

Upaya Menemukan Lapangan Migas Baru


Di tempat terpisah, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher, mengungkapkan besaran nilai Komitmen Kerja Pasti (KKP) dan Komitmen Pasti yang telah dicapai dalam kontrak Kerja Sama sebesar USD 1.14 miliar untuk beberapa kegiatan eksplorasi seperti 47 studi G&G, 79 Sumur Eksplorasi, 38 Survei Seismik, dan 4 Survei lainnya selama periode 2018–2026 di 24 Wilayah Kerja.

“Kegiatan eksplorasi (khusus KKP) ini bukan saja dapat dilakukan di dalam WK, namun juga dapat dilaksanakan di open area untuk mendorong lebih banyak ditemukannya lapangan-lapangan migas baru dari hasil kegiatan eksplorasi,” ungkap Wisnu.

Saat ini, SKK Migas juga menindaklanjuti hasil penemuan lapangan migas hasil eksplorasi. Wisnu mengungkapkan, hal tersebut tercatat di dalam reserves replacement ratio yang mencapai 105% (2018) pada 45 persetujuan POD/POFD dengan jumlah cadangan sebesar 831.5 juta barel setara minyak. “Diharapkan tahun 2019 ini dapat tercapai melebihi 100%. Sebagai catatan hingga bulan April 2019 telah disetujui 9 POD/POFD dengan cadangan sebesar 115 juta barel setara minyak,” tegasnya.

Untuk ke depannya, SKK Migas berharap pengembangan lapangan dapat lebih bergairah dengan banyaknya insentif yang ditawarkan dalam paket PSC Gross Split, mulai dari lokasi lapangan, kedalaman dan kondisi reservoir, ketersediaan infrastruktur, kandungan bahan lain, berat jenis minyak, TKDN dan lainnya.(Rill)

Menkopolhukam Wiranto tegaskan ajak referendum Aceh bisa berdampak hukum. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menyebut adanya wacana referendum di Provinsi Aceh yang diserukan oleh mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjabat sebagai Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf tidak akan bisa terlaksana.

Bekas Panglima ABRI era Soeharto itu menegaskan bahwa ruang bagi daerah-daerah untuk melakukan referendum sudah tak berlaku lagi. Ia menyatakan semua peraturan yang mengatur tentang upaya referendum sudah tak ada dan dicabut oleh pemerintah.

"Jadi misalnya TAP MPR Nomor 8 tahun 1998 itu mencabut, lalu TAP MPR nomor 4 tahun 1993 tentang referendum. Itu MPR. Kemudian UU juga sudah dicabut, misalnya UU nomor 6 tahun 1999, itu mencabut UU nomor 5 tahun 1985 tentang referendum, itu dicabut," kata dia di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Jumat (31/5).

"Jadi ruang untuk referendum dalam hukum positif di Indonesia sudah tak ada, jadi enggak relevan lagi," ucapnya.

Selain itu, Wiranto menduga Muzakir kecewa karena pernah kalah di Pilgub Aceh pada tahun 2017 lalu dan Partai Aceh yang suaranya makin merosot dari gelaran pemilu ke pemilu.

"Ya sangat boleh jadi lah [karena pemilu], mungkin ada kekecewaan karena pilgub kalah, dan Partai Aceh kursinya merosot ya," kata Wiranto

Muzakir sendiri tercatat pernah maju pada gelaran Pilgub Aceh pada tahun 2018 lalu sebagai cagub.  Ia didampingi oleh Teuku Al Khalid yang diusung oleh koalisi Partai Aceh, Partai Gerindra, PKS dan PBB. Kala itu, Muzakkir-Teuku mengalami kekalahan dari Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah.

Wiranto mengungkapkan kursi Partai Aceh di Parlemen Aceh pada 2009 lalu misalnya hanya meraup 33 kursi. Sementara pada tahun 2014, kursi Partai Aceh merosot hingga 29 kursi.

"Sekarang kalau enggak salah tinggal 18 kursi. Sangat boleh jadi (karena pemilu) saya katakan," kata Wiranto.

Tak hanya itu, Wiranto pun menyatakan pihaknya akan menindak tegas pihak yang menyerukan referendum dari Indonesia. Ia menyebut tindakan itu akan diambil pemerintah melalui sanksi hukum tegas bagi pihak yang menyerukan hal tersebut.

"Kan sekarang yang bersangkutan sedang tak ada di Aceh, ya sedang ke luar negeri, tentu nanti ada proses hukum soal masalah ini. Jadi ketika hukum positif sudah tidak ada dan ditabrak, tentu ada sanksi hukumnya. Jadi biar aja lah," kata Wiranto.

Senada, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai seruan referendum Aceh yang disampaikan Muzakir hanya sebatas emosi lantaran kalah dalam Pemilu 2019. Moeldoko pun meminta seruan emosi itu tak perlu ditanggapi berlebihan.

"Emosi karena enggak menang. Terus, apalagi Partai Aceh juga enggak menang di sana, berkurang porsinya. Sehingga ada emosi," kata Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/5).

Moeldoko melanjutkan agar semua pihak menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Selain itu, kata Moeldoko, seluruh wilayah Tanah Air masuk dalam NKRI.

Mantan Panglima TNI itu kemudian menyebut seruan referendum oleh Muzakir juga hanya sebatas wacana. Namun, ia tetap mengingatkan bila sudah ada niat serius melakukan referendum akan ada risiko hukum yang bakal diterima.

"Tapi ingat, kalau sudah punya niat dan menuju keluar dari NKRI itu ada risiko yuridisnya. Tapi kalau hanya wacana atau mungkin bercanda ya," tuturnya.

Sebelumnya, isu referendum di Provinsi Aceh ini sempat diserukan oleh mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjabat sebagai dan Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Muzakir sendiri menjadi tim sukses pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Seruan itu dikatakan Muzakir dalam sambutannya pada peringatan wafatnya Wali Negara Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Muhammad Hasan Ditiro di Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5) lalu.

Pada kesempatan itu, Muzakir meminta Aceh referendum karena alasan kondisi keadilan dan situasi demokrasi di Indonesia tak menentu saat ini.

"Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja," ujar Muzakir.

Banda Aceh - Maraknya respon masyarakat dan tokoh-tokoh Aceh terkait wacana beberapa hari terakhir sempat menggemparkan jagat Nusantara.

Mantan Kabid Advokasi Forum Paguyuban Mahasiswa Pemuda Aceh (FPMPA), Delky Nofrizal Qutni mengatakan bahwa referendum hal yang wajar dan dibenarkan secara konstitusi bahkan tak ada larangan dalam UUPA dan undang-undang lainnya di Indonesia.

Dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3) UUD1945 yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. Sementara referendum itu adalah jejak pendapat.

"Jika kita lihat lebih secara mendasar, Referendum itu berasal dari bahasa Latin atau jajak pendapat adalah suatu proses pemungutan suara semesta untuk mengambil sebuah keputusan, terutama keputusan politik yang memengaruhi suatu negara secara keseluruhan, misalnya seperti adopsi atau amendemen konstitusi atau undang-undang baru, atau perubahan wilayah suatu negara. Pada umumnya, terdapat dua jenis referendum, yaitu referendum legislatif dan referendum semesta. Referendum legislatif dilakukan apabila suatu adopsi atau perubahan/pembaharuan konstitusi atau undang-undang mewajibkan adanya persetujuan rakyat seluruhnya. Sedangkan referendum semesta adalah sebuah aksi referendum yang diselenggarakan berdasarkan kemauan rakyat, yang didahului oleh sebuah aksi demonstrasi atau petisi yang berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas. Yang ingin dilakukan di  Aceh itu referendum seperti apa ya tinggal disesuaikan keinginannya seperti apa," paparnya.

Terkait referendum ini sendiri, kata Delky, sebenarnya tak ada larangan secara konstitusi. Toh dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1985
tentang Referendum sudah diatur sedemikian rupa. Jadi, wacana yang dilemparkan Mualem itu wacana konstitusional dan dibenarkan secara undang-undang RI sendiri. Referendum itu bagian proses demokrasi yang dibenarkan secara konstitusi di negeri ini," kata aktivis muda Barat Selatan ini.

Pada 2014 silam kita dari kalangan muda dan mahasiswa juga pernah menyampaikan usulan yang sama yakni "referendum". Kala itu, kita meminta legislatif Aceh melakukan referendum terkait 3 aturan turunan UUPA yang hingga Oktober 2014 belum juga diterbitkan. "Kala itu kita menyampaikan jika pada Februari 2015, 3 aturan turunan uupa itu juga tak diselesaikan maka mesti digalang referendum. Kala itu kita sempat ingin tawarkan minimal dilakukan referendum legislatif. Namun, pada 31 Januari 2015 pemerintah pusat telah menyelesaikan 3 turunan UUPA berupa 2 Peraturan Pusat(PP) dan 1(satu) Perpres. Jadi, tawaran referendumnya tak perlu lagi karena tuntutannya terjawab,"jelas mantan koordinator aksi FPMPA yang pernah menawarkan referendum terkait 3 aturan turunan UUPA pada 2014 silam.

Delky menambahkan, pada tahun 2017 Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) juga pernah menawarkan wacana referendum di depan sidang MK. "Jadi, referendum itu hal yang wajar dialam demokrasi ini," sebutnya.

Terkait adanya pihak yang melaporkan Mualem (Muzakir Manaf) karena melemparkan wacana referendum itu dinilai sebagai respon yang berlebihan akhibat kepanikan. "Jadi, wacana yang diutarakan Mualem itu kan dibenarkan secara undang-undang, jadi kenapa harus ada pihak yang panik dan main lapor sana sini. Wacana yang disampaikan itu kan wacana demokratis, kenapa harus risih. Kalau memang diperlukan ya lakukan saja, kan kita belum tau hasilnya seperti apa, referendum yang diwacanakan itu referendum semesta atau referendum legislatif. Tak perlu risih berlebihan lah jika konstitusi di Indonesia membenarkan jejak pendapat itu dilakukan sebagai bentuk upaya demokrasi, jadi tak perlu alergi dengan wacana itu," cetusnya.

Menurut Delky, biasanya isu-isu yang kental seperti ini akan diringi dengan propaganda memecah belah Aceh, misalkan munculnya isu pemekaran wilayah dan seterusnya. "Harapan kita masyarakat Aceh tetap kompak dan tak terpecah belah, masalah adanya perbedaan pendapat nanti tinggal disampaikan aspirasi dan pilihannya ketika jejak pendapat(referendum) dilakukan," imbuhnya.

Dia mengatakan, jika benar upaya referendum itu dilakukan maka hal itu bisa didaftarkan segera ke pihak terkait (Mendagri), sehingga upaya itu dapat dilakukan secara demokratis dan konstitusional. "Masalah itu datangnya dari Mualem atas dasar apa, Mualem kan punya dalil yang kuat, tinggal Mualem dan tokoh-tokoh Aceh yang mendukung upaya itu mendaftarkannya sesuai mekanisme dan aturannya,"lanjutnya.

Dia juga menyebutkan, kalau dikaitkan dengan pilpres, maka kita justeru melihat pasca pilpres itu salah satu daerah yang paling kondusif itu di Aceh. "Jadi, tak perlulah dikembangkan kemana-mana, anggap saja itu jalan tengah yang ditawarkan untuk solusi atas kondisi. Tinggal wacana itu direspon, karena pasti ada yang dirindukan, apa yang dirindukan oleh masyarakat Aceh ya tentunya masyarakat Aceh sendiri yang lebih paham,"ucapnya.

Pihaknya juga meminta pihak-pihak luar Aceh tidak terlalu jauh sampai-sampai ingin melaporkan Mualem karena itu hanya membuat wacana itu karena justeru tak elok dalam suasana saat ini. 

"Saya kira upaya-upaya seperti itu justeru semakin memperkeruh suasana alam demokrasi. Wacana yang dilemparkan oleh Mualem itu harus kita hargai, masalah nanti pilihan jejak pendapat itu hasilnya seperti apa kan kita semua belum tahu. Ini ide cerdas yang dilemparkan Mualem untuk membuka ruang demokrasi di bumi Aceh, masalah hasilnya kan nanti dilihat seperti apa, maka kerinduan rakyat Aceh itu cenderung pada pilihan yang mana kan juga belum diketahui. Inikan yang dilempar itu wacana, argumentasi dalam menyikapi situasi, tentunya dengan cara-cara demokratis yang dibenarkan oleh konstitusi,"tandasnya.[Rill]

Banda Aceh - Tanggapan Muhammad Nazar terkait isu referendum yang bergulir dinilai sebagai bentuk mulai terkikisnya nilai-nilai perjuangan ke-Acehan di dalam diri Muhammad Nazar.

Penilaian ini disampaikan oleh mantan Wakil Ketua Pemuda Aceh Selatan (PAS) Pajril Darmi kepada media, Jum'at, (31/05/2019) dini hari.

Menurut Pajril, ungkapan Muhammad Nazar "Bek Culok rakyat Aceh lam Mon Tuha" itu seakan menunjukkan referendum itu sebagai Mon Tuha" yang seakan-akan tak elok.

Hal ini dinilai secara tidak langsung Muhammad Nazar sedang mencoba meludah ke atas.

 "Seharusnya sebagai tokoh yang pernah ikut menggerakkan referendum Bang Nazar tak perlu menunjukkan sikap yang terlalu sensitif terkait isu referendum. Semestinya, beliau justeru memberikan masukan-masukan kepada rakyat agar referendum itu berjalan damai dan demokratis sesuai yang termaktub di dalam konstitusi," ujar pemuda asal Aceh Selatan itu.

Masih kata Pajril, dia (Muhammad Nazar-red) juga mengatakan rakyat sudah pintar menilai, supaya ke depan Aceh tak terjebak lagi dalam permainan genderang orang lain. "Ini pernyataannya akan menjadi tanda tanya di publik, terutama generasi sekarang, apakah dulu ketika 1999, Muhammad Nazar terjebak terjebak genderang orang lain? Sehingga bahasa referendum itu seakan membuatnya harus gelisah berlebihan,"tambahnya.

pajril juga mengherankan bahasa Muhammad Nazar yang menyebutkan Aceh dan Jawa siapkan diri menghadapi kemungkinan, tapi tidak mesti referendum. "Pernyataan itu benar-benar kontradiktif. Justeru hal itu akan menyeret publik untuk menganggap sepertinya yang ngomong itu bukan Muhammad Nazar yang Dulu. Justeru kami melihat Muhammad Nazar yang kini terlalu tinggi kepentingan politisnya kepada pemerintah pusat hingga mengabaikan suara kerinduan masyarakat Aceh, padahal suara itu pernah mengantarkannya kepada kursi orang nomor dua di Aceh,"imbuhnya.

Pajril menyebutkan, wacana Referendum yang ditawarkan oleh Mualem itu hendaknya direspon positif, tidak sensitif. "Itukan pendapat Mualem jadi harus dihargai, tinggal lagi bagaimana wacana tersebut dilakukan sesuai dengan konstitusi di negeri yang demokratis ini. Kita justeru berharap sebagai salah satu penggerak tuntutan Referendum pada 1999 tempo hari, Muhammad Nazar memberikan masukan-masukan agar wacana referendum tersebut berjalan baik dan kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi pada masa lalu," cetusnya.

Pajril melanjutkan, referendum itu kan jejak pendapat bukan konflik, jadi jangan disalah tafsirkan terlalu dini. "Wacana Referendum itu dilakukan untuk  untuk melihat keinginan rakyat Aceh itu cenderungnya seperti apa. Toh, di negara-negara dengan demokrasi maju seperti Swiss referendum itu dilaksanakan sampai 3-4 kali setahun, bahkan urusan tanduk sapi pun pernah direferendumkan di Swiss. Jadi jangan sensitif apa lagi alergi terhadap kata referendum karena cara itu dibenarkan di negara yang menganut sistem demokrasi termasuk Indonesia,"jelasnya.

Pajril meminta agar semua tokoh berumbuk, duduk untuk merespon dan merencanakan wacana referendum ini agar berjalan baik sesuai konstitusi dan tak melanggar nilai-nilai demokrasi. "Sudahlah hentikan spekulasi dan kepentingan pribadi, kita jawab kerinduan rakyat dengan memberikan kesempatan rakyat berpendapat melalui referendum," tandasnya.[Rill]

Teungku Chik di Tiro

StatusAceh.Net - Peran ulama di tanah air telah signifikan sejak lama. ‘Ulama’ adalah satu pengakuan dari umat akan bukan hanya karena ilmunya saja, tetapi juga karena kredibilitas, konsistensi dan perjuangannya. Aceh, adalah salah satu episentrum perjuangan ulama yang tak habisnya memberi hikmah. Salah satunya adalah Teungku Chik di Tiro, ulama yang diakui keilmuan dan konsistensinya memperjuangkan Islam di masa-masa Perang Aceh.

Traktat Sumatera tahun 1871 adalah awal dari satu bencana di Aceh yang akan mengobarkan perang hebat selama lebih dari 40 tahun. Arogansi Belanda yang menolak kedaulatan Kesultanan Aceh lewat Traktat Sumatera berujung beberapa insiden yang terjadi di perairan Aceh. Satu jalan perundingan yang diajukan Belanda dan permintaan untuk mengakui kedaulatan Belanda dijawab dengan penolakan tegas oleh Sultan Aceh. (Ibrahim Alfian: 2016)

Penolakan Sultan atas permintaan Belanda dianggap sebagai satu deklarasi perang. Padahal sikap Sultan hanyalah merespon kesewenangan Belanda. Penolakan Sultan Aceh ini dianggap oleh Belanda yang diwakili F.N. Nieuwenhuyzen, sebagai deklarasi perang. Pada 26 Maret 1873, Belanda akhirnya mengumumkan pernyataan perang kepada Kesultanan Aceh. (Ibrahim Alfian: 2016)

Pada 31 Maret 1873, kapal perang Citadel van Antwerpen melepaskan meriam ke sebuah benteng di pantai Aceh. Perang Aceh pun pecah. Saat menginjakkan kaki di daratan Aceh, meski ditembak dengan 12 kali letusan Meriam, pasukan Belanda tetap mendarat di Aceh. Rencana yang dipimpin oleh Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler seakan tampak mudah. Mereka akan mendarat di muara sungai Aceh, kemudian menuju ke keraton tempat kediaman Sultan, serbu lalu kuasai. Sehingga Aceh akan mereka kuasai. (Paul van t’Veer: 1985)

Kala itu Kesultanan Aceh sudah melewati masa jayanya. Banyak daerah di sekitar pusat kekuasaan dikuasai oleh para penguasa lokal (Uleebalang). Uleebalang-uleebalang ini menjadi satu penguasa yang menguasai jalannya arus perdagangan. Sultan hanyalah satu kekuatan simbolik yang menyatukan Aceh. (Ibrahim Alfian: 2016)

Meski demikian, hal-hal seperti ini tak diketahui oleh Pasukan Belanda saat itu. Satu persoalan penting dari ekspedisi ini adalah sebenarnya tentara kolonial tak tahu apa-apa tentang Aceh. Gambaran Keraton Aceh beserta denahnya hanya mengandalkan satu Buku Saku Ekspedisi Aceh. (Paul van t’Veer: 1985)

Buku ini ternyata memberikan informasi yang bertabur kesalahan. Minimnya pengetahuan mereka tentang Aceh dan Kesultanannya ditandai dengan kesalahan mereka mengira bahwa Masjid Raya (sekarang Masjid Baiturrahman) adalah pusat Kesultanan Aceh. (Paul van t’Veer: 1985)

Serbuan pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Kohler ini berujung petaka. Setelah beberapa hari berperang, pasukan Belanda dapat menguasai Masjid Raya Kutaraja. Tetapi Masjid ini pun akhirnya mereka tinggalkan. Pada 14 April 1873, Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Kohler kembali merangsek menguasai Masjid Raya. Kedatangan Pasukan Kohler disambut teriakan pejuang aceh yang mengerikan, kumandang kalimat la ilaaha illallah bergema dan peluru yang menyalak dari senapan-senapan mereka. (Ibrahim Alfian: 2016)

Satu peluru menembus dada Jenderal Kohler membuat pasukan penjajah memilih mundur dan tiga hari kemudian mereka mengundurkan diri ke pantai. Pada 23 April 1873 mereka angkat kaki dari Aceh. Mewariskan 45 mayat tentara mereka (termasuk 8 opsir) serta 405 orang luka. (Ibrahim Alfian: 2016)

Kekalahan ini disambut duka di Belanda. Jenderal Kohler ditangisi oleh Kerajaan Belanda. Namun Pemerintah Kolonial Belanda tidak menyerah. Enam bulan kemudian, ekspedisi kedua dikirimkan ke Aceh. Kali ini lebih besar dan massif dari yang pertama. Belanda memberangkatkan Angkatan Laut dan Daratnya dengan kekuatan dua kali lipat dari ekspedisi pertama. (Paul van t’Veer: 1985)

Sebanyak 18 kapal perang bertenaga uap, 7 kapal uap Angkatan Laut, 12 barkas, 2 kapal peronda yang dipersenjatai, 22 kapal pengangkut dengan alat-alat pendarat dipimpin Letnan Jenderal Johannes Van Swieten menerobos kembali. Target mereka tetap sama. Penguasaan pusat Kesultanan Aceh. Strategi menguasai pusat kekuasaan termasuk menaklukkan Sultan Aceh dalam pikiran pemerintah kolonial berarti jatuhnya Aceh ke tangan mereka. (Ibrahim Alfian: 2016 dan Paul van t’Veer: 1985)

Pasukan Belanda kemudian mendarat di Kampung Leu’u, dekat Kuala Gieng, Aceh Besar pada 9 Desember 1873. Persiapan yang lebih baik membawa pasukan Belanda pada satu keunggulan. Perlawanan yang dipimpin oleh Tuanku Hasyim, keluarga dari Sultan Aceh, Imam Lueng Bata dan T. Nanta Setia, tak mampu menghalau mereka.

Masjid Raya kemudian jatuh ke tangan Belanda pada 6 Januari 1874. Setelah bertempur hampir dua bulan, pada 24 Januari 1874 Belanda akhirnya dapat menguasai ‘Dalam’ atau Keraton. Mereka kemudian menghentikan agresinya dan berharap dapat membuat persetujuan dengan Sultan Aceh. Namun 5 hari kemudian, Sultan Aceh Mahmud Syah wafat. (Ibrahim Alfian: 2016)

Wafatnya Sultan Aceh membuat pemerintah kolonial merevisi taktik mereka. Mereka tak lagi berharap penerus Sultan mau bekerja sama. Mereka mengabaikan Putra Mahkota Sultan yang nantinya diwakili Mangkubumi, Habib Abdurrahman Az-Zahir. Van Swieten pun memilih untuk menjalankan sendiri otoritas di Aceh. Rencana ini akhirnya membentuk wilayah administratif Aceh Besar (Groot Atjeh) yang merupakan bekas pusat kekuasaan Kesultanan Aceh. (Martijn Kitzen: 2012)

Wilayah di luar Aceh Besar disebut Onderhoorigheden (Depencies/Ketergantungan). Wilayah ini berupa wilayah pesisir negeri-negeri kecil yang dikuasai penguasa lokal Uleebalang yang tak terlalu terikat pada Sultan. Tentu saja hanya sebagian Uleebalang di pesisir Aceh ini yang mau menerima Belanda.

Sebagian lainnya, menolak kehadiran Belanda. Dinamika ini akan membuat Pemerintah Kolonial semakin sulit bergerak ketika pengaruh ulama yang sebelumnya tidak diperhitungkan, semakin membesar. Di sinilah kehadiran ulama menggelorakan jihad fi Sabilillah melawan Belanda membuat rakyat Aceh memberikan perlawanan hebat terhadap Belanda.

Peranan Teungku Chik di Tiro

Salah satunya adalah Teungku Chik di Tiro. Peranannya dalam perang Aceh, khususnya tahun 1874 hingga 1891 tak dapat dikesampingkan. Nama besar keluarga Di Tiro dimulai dari Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut. Seorang ulama yang memimpin Dayah Tiro. Dayah ini terletak di Gampong Tiro, di kiri dan kanan Sungai Pidie. Pidie telah lama menjadi satu pusat Pendidikan Islam di Aceh. Rakyat Aceh mengirimkan anak-anak mereka ke Pidie agar mendapatkan Pendidikan Islam.

Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin kemudian menyerukan agar orang-orang Pidie melakukan perang Sabil ke Aceh besar. Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin pun mengangkat salah satu anggota keluarganya, yaitu Syaikh Muhammad Saman sebagai tangan kanannya untuk membantu mengerahkan rakyat berperang sabil melawan Belanda. (Paul van t’Veer: 1985)

Kelak, keputusan mengangkat Syaikh Muhammad Saman ini menjadi keputusan yang tepat. Pasca wafatnya Teungku Chik di Tiro Muhammad Amin, Syaikh Muhammad Saman menjadi penggantinya dan dikenal sebagai Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman. Ayah Muhammad Saman adalah Teungku Syekh Abdullah dari Kampung Garot. Ibunya adalah Sitti Aisyah, kakak dari Teungku Muhammad Amin Dayah Cut. (Ismail Jakub: 1960)

Kepemimpinan Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman sebagai ulama menjadi satu kedudukan penting di masyarakat Aceh. Bersama Sultan, dan Tuanku Hasyim, ia sangat berpengaruh di rakyat Aceh untuk menggelorakan jihad fi sabilllah. (Ibrahim Alfian: 2016)

Jadi Buronan Belanda

Pengaruh Teungku Chik di Tiro semakin meningkat sejak tahun 1882. Hal ini dapat dilihat dari satu instruksi rahasia oleh pemerintah Hindia Belanda yang memerintahkan Gubernur Jenderal Aceh untuk memberi hadiah bagi orang yang sanggup menyerahkan pemuka Aceh seperti Teungku Chik di Tiro, hidup atau mati, sebesar 1000 dollar. (Paul van t’Veer: 1985)

Apa yang menyebabkan Belanda begitu bernafsu menghabisi Teungku Chik di Tiro? Hal ini karena begitu efektif dan masifnya dakwah Teungku Chik di Tiro. Lewat kenduri-kenduri, ia menyebarluaskan ajakan perang sabil dan memerangi kaphe (kaum kuffar), red. Lewat kenduri pula ia memperoleh berbagai informasi. (Ibrahim Alfian: 2016)

Dakwah Teungku Chik di Tiro bukan menyasar rakyat jelata Aceh saja, tetapi juga mengingatkan para uleebalang dan keuchik yang telah berpaling kepada Belanda agar kembali ke jalan perang sabil. Penyampaian surat-surat ini biasanya didelegasikan kepada para pemimpin agama seperti Teungku Polem di Njong, Teungku Awe Geutah di Peusangan, dan lainnya.

Salah satunya adalah suratnya kepada semua uleebalang, Imum, wakil, keuchik termasuk Teuku Baid, uleebalang dari Tujuh Mukim. Teungku Chik di Tiro Muhammad dalam suratnya mengajak para pemimpin itu dengan surah Ali Imran ayat 104 yang berbunyi:

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada makruf dan mencegah dari yang munkar.”

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman kemudian melanjutkan:

“Hai Teuku Baid yang hulubalang Tujuh Mukim itu tiada ayak kami bahwasanya tuan-tuan itu setengah daripada hulubalang Raja Aceh dan imam kami Muslimin, padahal hanya dipertanggung oleh Allah Ta’ala pada Negeri Tujuh Mukim seperti timbangan Syar’i yang betul dan dipenyata akan tuan dalil yang nyata Qur’an dan Hadith dan Kitab. Jika tuan berbuat adil pada hukum maka beroleh pahala akan diri tuan dan akan kami ikut tuan dan jika tuan fasiq dan tuan zalim tiada tuan ikut seperti syari’at maka yang di kami Insya Allah beroleh pahala dan yang melarat itu atas tuan sahaja maka takut olehmu hai Teuku Baid bahwa di-peulamah [diperlihatkan] oleh Allah Ta’ala pada hari kiamat di hadapan raja-raja orang Islam jadi engkau sehina-hina manusia dan serugi-ruginya manusia.” (Ibrahim Alfian: 2016)

Pada akhirnya Teungku Chik di Tiro meminta T. Baid agar mengikuti Allah dan Rasul-Nya seta mengikut kaum muslimin dan memintanya agar membuat benteng-benteng untuk menghadapi Belanda.

Peringatan Teungku Chik di Tiro

Kepada Teuku Nek Meuraksa ia mengawali suratnya dengan menyebut dirinya seorang ‘fakir’ dan bernama”…Haji Syeh Saman Tiro, seorang hamba yang berjihad pada jalan Allah di dalam negeri Aceh dar as salam wal aman.” (H.C. Zentgraaff: 1983)

Ia mengingatkan pada mereka agar takut kepada Allah. “Allah! Allah! Takutilah Allah dan janganlah tuan-tuan meninggal sebelum menjadi orang-orang yang beriman.”

“Janganlah tuan-tuan sampai tertipu oleh kekuasaan kaum kafir, dengan harta mereka, dengan persenjataan-persenjataan mereka serta serdadu-serdadu mereka yang baik dibandingkan dengan kekuatan kita, milik-milik kita, persenjataan-persenjataan kita dan kaum muslimin, karena tidak ada yang berkuasa, yang kaya dan tidak ada yang memiliki balatentara yang terbaik selain Allah S.w.t. Yang Mahakuasa dan tidak ada yang dapat memberikan kekalahan dan kemenangan selain Allah S.w.t Rabbal ‘alamin.” (H.C. Zentgraaff: 1983)

Kenyataannya, himbauan Teungku Chik di Tiro bukan saja pada kaum Muslimin di wilayah yang belum dikuasai Belanda. Pada wilayah yang telah dikuasai pun ia terus mengingatkan. Pertama, bahwa telah diwahyukan tanda-tanda kemenangan dengan mundurnya orang-orang kafir. Kedua, mereka yang berada di daerah pendudukan yang seagama hendaklah meninggikan agama Islam, berbuat baik, mencegah hal-hal yang munkar dan memerangi orang-orang kafir. (Ibrahim Alfian: 2016)

Ketiga, Imam Mahdi telah lahir di Sudan dan sedang memerangi musuh-musuhnya. Keempat, orang-orang yang telah dengan buktinya yang nyata membelot, hendaknya diperangi, sementara kaum Muslimin yang berada di daerah yang diduduki Belanda supaya benar-benar menjadi saudara kaum Muslimin dan hendaklah bermusyawarah, bermufakat dalam hal menguatkan agama dan membunuh mereka, merampok dan menjarah harta mereka, menipu dan mendustakan mereka dengan sekuat tenaga yang ada. Kelima, dengan izin Allah, orang-orang kafir akan dikalahkan dan melarang kaum muslimin untuk bersikap ragu, karena kaum yang meragu bukan bagian dari kaum muslimin.(Ibrahim Alfian: 2016)

Nasihat Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman ini bahkan bukan hanya ditujukan pada kaum Muslimin, tetapi pada orang-orang Belanda. Beliau mengirim surat pada penguasa Belanda di Kutaraja. Pada tahun 1885, atau 12 tahun setelah pecahnya perang, Syaikh Saman dengan percaya diri menulis surat pada Residen Belanda di Kutaraja. Dalam surat itu ia menyatakan;

“Jika boleh tuan-tuan masuk agama Islam dan menurut syari’at nabi itulah yang terlebih baik atau tuan-tuan sejahtera dunia dengan tiada aib keji lari pontang-panting tiap-tiap sawah, selokan, hutan dan jalan dan yang terlebih jahat lagi itu siksa akhirat, dalam neraka jahanam dengan hukum Tuhan yang amat kuasa maka jika tuan-tuan masuk Islam sama-sama orang Aceh maka kami harap kepada Tuhan seru sekalian alam terpelihara daripada nyawong [nyawa] dan darah dan [h]arta dan megah dan terpelihara daripada aib keji tangkap dibawa ke mana-mana atau terbunuh dengan kehinaan barangkali jika tuan-tuan dengar dan turut seperti nasihat kami ini dapat untung baik dapat kemegahan jadi tuan akan kepala kami dan dapat harta.” (Ibrahim Alfian: 2016)

Surat ini tak ditanggapi pejabat Belanda. Tiga tahun kemudian Teungku Chik di Tiro mengirimkan kembali surat peringatan kepada Belanda seraya mengingatkan bahwa Belanda sudah sekitar 16 tahun memerangi negeri Aceh, dan yang mereka dapatkan hanya uang kompeni yang habis, pedagang yang miskin, dan rakyat Aceh yang syahid serta kampung-kampung yang binasa.

Ia bertanya tidakkah Belanda memikirkan semua akibat itu. Sekali lagi ia mengajak Belanda untuk masuk Islam. “Tuan Besar masuk agama Islam mengucap dua kalimah syahadat. Insya Allah sampailah tuan dunia akhirat, sempurna dunia dapat kerajaan [memerintah] dengan senang, boleh tuan Besar perintah atas Negeri Aceh ini…”(Ibrahim Alfian: 2016)

Surat Teungku Chik di Tiro sendiri akhirnya dibalas oleh Gubernur Sipil dan Militer di Aceh, Hendri Karel Frederik van Tejin. Van Tejin mengakui bahwa ia ingin perang segera berakhir karena banyaknya korban dan kehancuran. Ia berharap Teungku Chik di Tiro dapat membina kesejahteraan rakyat Aceh. Namun ia menolak menyambut ajakan masuk Islam, sebab menurutnya Belanda tidak melakukan perang agama di Aceh. Ia malah berharap bertemu dengan Teungku Chik di Tiro. (Ibrahim Alfian: 2016)

Balasan van Tejin ditolak Teungku Chik di Tiro. Dengan tegas ia mengatakan bahwa tidak mungkin ada perdamaian selama orang kafir masih di negeri Aceh. Menteri Jajahan Belanda, Levinus Keuchenius turut bereaksi atas ajakan masuk Islam ulama besar Aceh tersebut. Ia memerintahkan agar Van Tejin menjawab ajakan itu dengan mengutip surat Al-Baqarah 257 yang menyebutkan tak ada paksaan dalam agama Islam. Sekali lagi, Ia mengatakan bahwa pemerintah Belanda menginginkan adanya keadilan, kedamaian dan kesejahteraan di Aceh. (Ibrahim Alfian: 2016)

Teungku Chik di Tiro menolak jawaban pemerintah Belanda ini. Pada 24 April 1889, ia menjawab lewat surat bahwa jawaban bahwa Belanda menignginkan kedamaian tidaklah masuk akal. Ia bahkan mengibaratkan hal itu bertolak belakang seperti siang dan malam, matahari dan bulan, munafik dengan mukmin. Ia kemudian menjawab bahwa ia berharap pada Allah Belanda akan binasa. (Ibrahim Alfian: 2016)

Arsitek Jihad di Aceh

Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman adalah ulama cerdas yang tak bisa dibohongi oleh retorika dan muslihat kata-kata pejabat Belanda. Ia bukan saja ulama yang disegani, tetapi juga arsitek jihad fi sabilillah di Aceh. Kedudukannya menjadi sangat penting. Ketika kepemimpinan perang dipimpin oleh Mangkubumi Habib Abdurrahman az-Zahir, dukungan ulama-ulama terutama Teungku Chik di Tiro menjadi sangat berarti. (Anthony Reid: 2005)

Pun ketika Abdurrahman az-Zahir akhirnya menyerah kepada Belanda, Sultan Aceh memberi kewenangan kepemimpinan pada Teungku Chik di Tiro. Oleh Sultan Aceh Muhammad Daud Syah ia diberi stempel ‘chap shikureueng.’ Stempel ini memberinya kedudukan sebagai pemimpin agama tertinggi di negeri itu.  (Anthony Reid: 2005)

Pengaruhnya memang tak tertandingi oleh ulama-ulama lain di Aceh. Sejarawan Anthony Reid menyebutnya ahli teori dan strategi perang suci yang cerdas. Sementara, Henri Carel Zentgraaff, jurnalis yang pernah menjadi tentara Belanda di Aceh menyebutnya sebagai orang yang mengorganisir perang sabil. Zentgraaff menilai seruan Teungku Chik di Tiro berdampak besar pada rakyat Aceh. (H.C. Zentgraaff: 1983)

Seruan Teungku Chik di Tiro pada pejabat Belanda menurut Zentgraaff “…ia dirumuskan persoalannya dengan sederhana sekali: Menganut agama Islam dan hidup berdamai dengan orang-orang Aceh atau diusir dari daerah itu secara kekerasan dengan ancaman: masuk neraka di akhirat.” (H.C. Zentgraaff: 1983)

Zentgraaff memang tidak salah. Bagi Teungku Chik di Tiro perlawanan terhadap kaum kaphe (kafir) bukanlah pilihan melainkan satu keharusan. Tawaran Belanda untuk berdamai dan menawarkan kedudukan sebagai mufti tak dipedulikannya. (Ibrahim Alfian: 2016)

Ia semakin berperan dalam perang Aceh ketika Habib Abdurrahman az-Zahir menyerah pada pemerintah Belanda. Sebagai ulama yang diangkat oleh Sultan sebagai pemimpin agama, membuat pengaruh Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman semakin menghujam ke rakyat. Sejak 1878, ia mendirikan basis perlawanan gerilya di Keumala. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya berkeliling di pantai Utara dan di Aceh Besar. (Ibrahim Alfian: 2016)

Ia berkeliling ke berbagai wilayah mengobarkan semangat agar rakyat melakukan jihad fi sabilillah memerangi kaphe penjajah. Lewat kenduri-kenduri ia menyerukan perlawanan. Bahkan seruan perlawanan ini disisipkan melalui hikayat seperti Hikayat Perang Sabil yang berisi kisah-kisah kepahlawanan dan ganjaran akan amal jihad. Kepada kaum muslimin yang tak bertempur Teungku Chik di Tiro mengumpulkan zakat untuk membiayai perlawanan kaum muslimin. (Ibrahim Alfian: 2016 dan H.C. Zentgraaff: 1983)

Ia juga memberi imbalan pada kaum muslimin yang berhasil merebut senjata dari kompeni. Satu hal yang paling penting, ia adalah otak di balik penyerangan-penyerang terhadap pos-pos militer Belanda. Kelompok mujahid di bawahnya asuhannya mendapat pelatihan berat yang menekankan pada latihan-latihan keagamaan. (Anthony Reid: 2005)

Menerkam Taktik Defensif Belanda

Taktik Belanda pada satu dekade pertama kehadiran mereka, memang lebih mementingkan strategi yang defensif. Mereka lebih memilih menguatkan wilayah yang mereka kuasai dan bertahan pada pos-pos mereka.(Martijn Kitzen: 2012)

Memang ada serangan-serangan oleh pasukan Belanda yang dilakukan keluar wilayah pertahanan mereka. Seperti misi-misi brutal yang dipimpin Van der Heijden. (Paul van t’Veer: 1985) Namun secara keseluruhan, pada satu dekade lebih, strategi Belanda tetap berporos pada  strategi ‘konsenterasi lini,’ dan membuat mereka tidak agresif mengejar para geriliyawan Aceh. Sebaliknya, pos-pos pertahanan Belanda menjadi bulan-bulanan geriliyawan Aceh. (Ibrahim Alfian: 2016)

Pada tahun 1886 saja misalnya, lebih dari empat kali pos-pos Belanda diserbu pejuang Aceh di bawah Teungku Chik di Tiro. Setahun kemudian, lebih dari 400 orang pasukan Chik di Tiro berhasil menembus pertahanan Belanda. (Anthony Reid: 2005)

Gubernur Van Tejin dalam laporannya tahun 1887 menyatakan bahwa sebagian rakyat di Aceh Besar telah menyerah dan kembali pada kehidupan mereka semula. Laporan itu menyebutkan bahwa perlawanan-perlawanan di Aceh Besar hanya dilakukan oleh 150 orang pengikut Teungku Chik di Tiro dan anaknya Teungku Muhammad Amin. Teungku Muhammad Amin memang tak sehebat ayahnya dalam ilmu agama, namun ia menjadi pemimpin militer yang handal. (Ibrahim Alfian: 2016)

Pejuang Aceh membagi dirinya menjadi beberapa kelompok, melakukan serangan-serangan ke depan konsenterasi lini, menembaki pos-pos dan melakukan serangan-serangan sabotase terhadap transportasi Belanda, menyerang patroli, menyabotase jalur kabel telepon, rel kereta, menghancurkan jembatan-jembatan. (Ibrahim Alfian: 2016)

Klaim van Tejin ialah pejuang Aceh membebani penduduk setempat untuk memberi mereka makan. Van Tejin menganggap rakyat Aceh tidak menyukai mereka dan ingin agar pejuang di bawah Teungku Chik di Tiro segera pergi dari kampung mereka. Maka Belanda mengira kelompok yang bergabung di bawah ulama besar dan keluarganya ini hanyalah perampok dan orang-orang berbahaya yang memadukan nafsu merampok dengan perang melawan orang kafir, bukan karena keyakinan mereka mengusir Belanda dari tanah air mereka. (Ibrahim Alfian: 2016)

Di sinilah kita dapat melihat ketidaktahuan van Tejin akan pengaruh Islam di Aceh. Perang geriliya tidak mungkin dapat terlaksana tanpa bantuan penduduk setempat. Justru nyawa perang tersebut terletak dari suplai dan dukungan penduduk setempat yang seringkali mengandalkan logistik dari rakyat setempat.

Van Tejin tak pernah memahami motivasi jihad fi sabilillah rakyat Aceh. Menurut sejarawan Aceh Teuku Ibrahim Alfian dalam karyanya Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1913 pengikut Teungku Chik di Tiro adalah orang-orang miskin yang datang dari Pidie, Gigeng, bahkan Tanah Gayo yang tidak mempunyai harta apa-apa dan tidak akan kehilangan apa-apa. Mereka hanya mengikuti petunjuk ulama yang menyerukan kemuliaan jihad fi sabilillah dan ganjaran yang akan diterima oleh mereka. (Ibrahim Alfian: 2016)

Takdir Allah menentukan nasib Teungku Chik di Tiro. Pada 15 Januari 1891, Teungku Chik di Tiro wafat. Tersiar kabar bahwa beliau diracun oleh anaknya sendiri, Teungku Muhammad Amin. Namun kabar itu sendiri tak dapat dibuktikan kebenarannya. Tampaknya itu merupakan propaganda yang dihembuskan pemerintah kolonial. (Ismail Jakub: 1960) Lagipula hal ini tentu bertolak belakang dengan kenyataan bahwa ayah dan anak ini bahu-membahu berjihad di Aceh.

Mengutus Snouck Hurgronje


Wafatnya ulama besar ini membuat Belanda membutuhkan satu petunjuk tentang dampaknya bagi rakyat Aceh. Pemerintah kolonial akhirnya mengutus Snouck Hurgronje ke Aceh untuk mengumpulkan informasi untuk mengetahui sikap para ulama setelah wafatnya Teungku Chik di Tiro. Selain itu penyelidikan ini berfungsi untuk mencari tahu bagaimana pengaruh para ulama dan jalan apa yang ditempuh Sultan Aceh untuk memenuhi kehendak para ulama. (Ibrahim Alfian: 2016 dan Paul van t’Veer: 1985)

Snouck Hurgronje yang melakukan studi di Aceh sejak 16 Juli 1891 sampai 4 Februari 1892 kemudian memberi informasi yang amat berlimpah mengenai rakyat Aceh dan pengaruh Islam pada mereka. (Paul van t’Veer: 1985) Informasi ini yang kemudian mengubah jalannya peperangan di Aceh dengan kombinasi militer dan orientalisme.

Kepemimpinan perang diambil alih oleh Teungku Chik Muhammad (Mat) Amin. Ketiga putra Teungku Chik di Tiro lainnya; Teungku Mayet, Teungku di Buket, dan Teungku Lam turut pula meneruskan perjuangan ayahnya. (H.C. Zentgraaff: 1983)

Perjuangan bahkan bukan saja diteruskan oleh anak-anak beliau, tetapi juga oleh para cucu dan kerabatnya. Belanda membunuh Teungku Mat Amin di tahun 1896. Dalam pertempuran hebat di Benteng Aneuk Galong yang menjadi basis Teungku Mat Amin, putra Teungku Chik di Tiro tersebut akhirnya gugur di tangan pasukan Marsose. Zentgraaff mengisahkan pertempuran hebat itu yang menurutnya;
“Orang-orang Aceh bertempur seperti singa, di antaranya ada yang lebih suka dikubur hidup-hidup di dalam api yang menyala-nyala daripada harus menyerah kalah.” (H.C. Zentgraaff: 1983)

Teungku Lam gugur diterjang peluru Belanda. Teungku di Buket gugur di bulan Mei 1910 setelah diserbu Marsose.Teungku Mayet juga gugur di Bulan September 1910 disergap Marsose, setelah mereka mendapatkan petunjuk dari keluguan putra Teungku Mayet yang berusia enam tahun. Anak itu lahir dan besar di hutan belantara. Belanda terus memburu keluarga dan keturunan Teungku Chik di Tiro lainnya. (H.C. Zentgraaff: 1983)

Teungku Chik Ma’at, anak Teungku Mat Amin yang gugur di Aneuk Galong tahun 1896 menjadi generasi ketiga Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman yang diburu oleh Belanda. Cucu Chik di Tiro ini akhirnya syahid setelah disergap Marsose. Perburuan ini dilakukan setelah Belanda mencoba menawarkan perdamaian dengan Teungku Mat Amin. Tawaran itu ditolak mentah-mentah. (H.C. Zentgraaff: 1983)

Zentgraaff mengenang penutupan perburuan generasi ketiga Chik di Tiro tersebut dengan mengatakan:

“Demikianlah  keinginnannya itu telah terpenuhi: syahid seperti ayahnya. Kematiannya itu telah mengakhiri suatu kisah para ulama Di Tiro, yakni kelompok orang-orang kuat yang tak kenal damai, yang telah menghina kita dengan menjewer telinga kita pada masa-masa kita berada dalam keadaan lemah. Mereka itu telah gugur seperti mereka hidup: gagah dan tak gentar sewaktu tantara kita memperoleh kembali kepercayaan dirinya.”(H.C. Zentgraaff: 1983)

Keluarga dan keturunan Teungku Chik di Tiro adalah bukti tiga generasi syuhada yang hidup dalam jihad fi sabililah di Perang Aceh. Kebesaran nama keluarga di Tiro tentu tak akan bisa dilepaskan dari sosok Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman, satu ulama, mujahid yang tak kenal kompromi dan hidup teguh dalam mengenggam Islam sebagai prinsip dan landasan perjuangannnya.

Sumber: Kiblat.net

StatusAceh.Net - Ada apa dengan Aceh? Pertanyaan ini mengemuka hari-hari ini. Tiada angin tiada hujan dan terindikasi dengan soal persaingan pemilu dan pilpres 2019, tiba-tiba mendadak ada permint referendum itu dikatakan Muzakir Manaf alias Mualem.

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

Menariknya ucapan ini dikatakan langsung oleh Mualem pada acara terbuka berbuka bersama tikih penting Aceh. Acara itu beruoa peringatan Kesembilan Tahun (3 Juni 2010-3 Juni 2019), wafatnya Wali Neugara Aceh, Tgk. Muhammad Hasan Ditiro  Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5) malam kemarin.

Pidato Mualem ini jelas sesuatu yang serius meski beragam analisanya. Pejabat pemerintah dan politisi Aceh misalnya menghargai itu  sebagai hak berendapat. Pejabat tinggi nasional yang ada di Jakarta pun begitu.

Menhan mengatakan Mualem tak usah macam-macam karena itu soal baru yang mengancam negara NKRI dan bisa berakibat munculnya kasus konflik seperti dahulu. Mendagri mengatakan pernyataak itu berlebihan karena semua hak dan kewenangan sudah diberikan kepada Aceh.

Namun apa pun jadinya, fantasi  yang ada di kepala saya tentang konflik Aceh sewaktu ditetapkan sebagai daerah Operasi Militer dan sebelum ada perjanjian damai bangkit. Masjid terbayang suasana kekerasan hingga serbuan tentara di Lhok Seumawe pada menjelang tahun 2000-an. Saya melihat langsung  banyak sekali korban yang menyeaski rumah sakit kala itu  akibat indisen perempatan Tjuanda, penyerangan Kampung Kandang, hingga terbunuhnya banyak tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka sempat ketemu dengan saya, misalnya Sofyan Dawood yang jenaka serta ke mana-mana pakai kaca mata hitam atau Ahmad Kandang yang pendiam. Tragis memang.

Selain itu saya juga simak cerita  dari rekan jurnalis senior yang sempat ketemu Tengku Bantaqiyah di hutan pedalaman Aceh sebelum tertembak. Katanya, sosok juga lucu, menarik, sekalgus  penuh kharisma. Dia seorang taat beribadah dan hidup kesehariannya sangat sederhana

Teguh bercerita bila anak pasukan Bantaqiyah selalu dia diperintahkan menjalani amalan agama tertentu dalam surau di pedalaman ketika berjuang. Bantaqiyah juga serius melakukan wirid setiap shalat, terutama setelah shalat Maghrib sampai datangnya waktu Isya. Dia selama itu tak pernah ke luar dari tempat duduk shalatnya.

‘’Untuk sampai ke tempat Tgk Bantaqiyah saya perlu sampai dua malam. Letalnya sangat susah di pedalaman Aceh Barat. Saya ke sana dipandu kurir dan harus berjalan kaki naik turun gunung dan masuk hutan,’’ kata Teguh mengenakan. Setelah bertemu, lanjutnya Tg Bantaqiyah tertembak dalam operasi yang dilakukan TNI.

GSelain itu saya juga sempat saksikan betapa berat dan penuh emosi para warga Aceh menjelang dan ketika perjanjian damai. Di pedalaman kampung di Aceh Utara saya saksikan ibu-ibu menangis ketika para juru damai yang terdiri dari orang Indonesia, asing, dan Aceh melakukan simbolisasi perdamaian dengan memotong senjata, termasuk memotong senjata serbu yang legendaris milik GAMi, yakni senapan AK 47.

Saat itu, di tepi ladang sebuah kampung yang terpencil yang dijadikan tempat upacara perdamaian dan landasan helikopter, para ibu dengan membawa anak-anak menyaksikan salah satu bagian acara perdamaian dengan berlinang air mata.

’’Saya tak terima-saya tidak terima. Senjata itu dibeli dari uang kami orang Aceh,’’ kata para ibu saat itu. Di situlah harti saya bergidik dan melihat ‘kilatan api perlawanan’ yang ada di dalam diri dan mata mereka. Di situ saya teringat sosok Cut Nyak Dien pejuang Aceh yang meninggal dalam pengasingan Belanda di Jawa Barat yang legendaris itu. Betapa teguh dan berani sikap para ibu itu.

Sama dengan Teguh saya pun khawatir dengan situasi yang muncul belakangan. Untuk menuliskan kegundahan hatinya saya menjadi paham bila menulis begini. Apalagi dia saat itu orang dari Jakarta yang diberi tugas mengurus sebuah koran yang terbit di Aceh. Teguh tahu persis risiko yang berulang kali dialaminya sebagai orang yang disebut sebagai ‘orang Jawa’. Nyawa jadi taruhan.

Kali ini melalui laman media sosial dia pun khusus menulis tentang Aceh yang ditujukan kepada saya yang juga mengalami tragedi konflik Aceh secara langsung. Dia menulis begini:

“Saya bermimpi mengunjungi Aceh bersama Muhammad Subarkah.  Sepanjang perjalanan membaca HC Zentgraff (buku ini menuliskan kisah seorang Morsase selama bertempur di Aceh), mampir di Pesantren Tano Abe, membaca karya Hamzah Fansuri, seraya membayangkan berapa lama Dennys Lombard berada di perpustakaan tertua di Asia Tenggara itu.

Ingin saya katakan ke Muhammad Subarkah bahwa saat orang Jawa masih sibuk berdebat soal keris berliuk atau tidak, orang Aceh sudah punya perpustakaan. Lalu juga bersama pergi ke Gayo, menikmati kopi luwak di pinggir Danau Laut Tawar, sebelum ekosistem lahan basah itu kini mengecil dan jadi empang.

Kita ke Singkil, mampir ke Pesantren yang membesarkan nama Abdurauf Asy Singkili. Atau ke Beutong Ateuh , bernostalgia di meunasah Teungku Bantaqiah. Balik lagi ke Banda Aceh, dan selfi di lokasi Jenderal Kohler terbunuh saat menyerbu Kutaraja, kota yang kini bernama Banda Aceh.”

Yang paling membuat saya bergidik ketika dia menyarankan agar baca tulisannya bertajuk 'Peutjut yang Sunyi, Perang Aceh yang Terlupa'. Dia ingin bercerita mengenai sebuah arena pemakaman Belanda yang berada di tengah Kuta Raja (Banda Aceh).

“Peucut itu bukan sekadar pemakaman serdadu Hindia-Belanda, tapi saksi bisu kehebatan rakyat Aceh melawan serdadu Belanda. Ribuan serdadu Belanda dimakamkan di sini, dan nama-nama mereka tertera di gerbang Peucut. Dengan sejenak membaca nama-nama di gerbang itu, pengunjung akan tahu betapa serdadu Hindia-Belanda yang bertempur di Aceh terdiri dari berbagai suku; Jawa, Ambon, dan lainnya,’’ tulis Teguh.

Ketika membaca tulisan ini saya jadi teringat pernyataan Prof Henk Schulte Nord Holt dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) tentang perang Aceh. Katanya, kini hampir tidak ada generasi Belanda (jangan-jangan orang Indonesia juga,red) saat ini yang mengidentifikasi diri dengan Perang Aceh,

"Orang Belanda lebih sibuk dengan isu perbudakan di masa lalu, karena banyak keturunan budak yang tinggal di Belanda. Perang Aceh hanya dilihat sebagai tindakan tidak benar secara politikk. katanya.

Di situ ada juga pernyataan dia yang memiriskan hati:” Perang Aceh adalah lonceng besar yang akan terus berbunyi dan memekakan telinga!”

Nah, masihkan semua main-main dengan soal Aceh yang serius ini. Sebab, selain Aceh daerah istimewa lain seperti Jogjakarta dan Papua wilayah ini juga pernah meminta referendum ketika ada soal serius dengan Jakarta.

Maka belajarlah dan jangan lupakan sejarah. Ingat, tak ada yang baru di bawah sinar matahari!

Sumber: Republika.co.id

LHOKSUKON – Sakit hati lantaran batal nikah, Zul (21) warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara lantas menyebar foto dan video syur milik kekasihnya melalui media sosial di akun Facebook.

Akibat perbuatannya, kini Zul harus mendekam di balik jeruji besi.

“Proses hukum terhadap tersangka telah masuk tahap 2, berkas perkaranya sudah lengkap, hari ini tersangka dan barang bukti sudah kita serahkan ke jaksa.” ujar Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah.

Ia menjelaskan, tersangka Zul ditangkap pihaknya pada 10 April lalu, setelah pacarnya, M (22) warga Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara melaporkan pelaku ke Polisi pada 24 Januari 2019.

“Korban dan pelaku awalnya berkenalan melalui Facebook dan selanjutnya berpacaran, hingga dalam hubungan yang berjalan terjadi kirim mengirim foto dan video tanpa busana diantara keduanya.” tutur Iptu Rezki.

Saat hubungan yang terjalin mulai berjalan tidak baik, tersangka yang menyimpan foto dan video korban lantas menyebarkan koleksinya ke beberapa teman korban melalui massenger.

“Pelaku bermaksud mempermalukan korban pada teman-temanya.” pungkas Iptu Rezki.

Atas perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 45 Ayat (4) Jo Pasal 27 Ayat (4) Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman penjara maksimal 6 tahun. (Red)

Jakarta - Duta Aceh, Fajar Maulidi, berhasil menjadi juara Voice of Ramadhan (VOR) GTV dan berhak atas hadiah Rp 50 juta.

Fajar, berasal dari Aceh Jaya, tampil sangat meyakinkan dalam babak grand final, Rabu (29/5/2019) siang yang disiarkan live dari Studio GTV Jakarta.

Kemenangan Fajar Maulidi menambah deretan juara duta Aceh dalam dunia tarik suara, setelah awal bulan ini Faul atau Fauzul Abadi dari Bener Meriah menjuarai Liga Dangdut (LIDA 2) Indosiar.

Fajar Maulidi, santri di Dayah MUDI Mesra Samalanga dan alumni pesantren terpadu Insyafuddin Banda Aceh, berucap syukur atas prestasi gemilang yang diraihnya.

"Alhamdulillah. Syukur kepada Allah. Dan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan baik langsung maupun tak langsung," ujar Fajar seusai menerima hadiah.

Pemuda yang lahir pada 3 Oktober 1994 ini, memiliki nama lengkap Teungku Muda Fajar Maulidi kelahiran Aceh Jaya. Dia satu-satunya duta Aceh yang lolos dalam ajang pencarian bakat lagu lagu religi gambus hingga jadi juara.

Fajar memperlihatkan keunggulan dalam membawakan lagu-lagu religius sepanjang seleksi yang sangat ketat. Ia dipuji banyak kalangan, termasuk Nissa Syabian, saat keduanya tampil sepanggung di GTV.

Juri Voic of Ramadhan antara lain Ustadz Zaki Mirza, Melly Guslaw, Syahrul Gunawan juga memujikan kemerduan suara Fajar saat membawakan lagu-lagu religius.

Koordinator "Dukung Fajar" Maturudi, mengucapkan terima kasih karena Fajar akhirnya tampil maksimal dan keluar sebagai juara. Maturudi yang sebelumnya mendampingi Nyak Sandang, pemilik obligasi Seulawah RI-OO1, mengatakan, bahwa Fajar benar-benar sebuah fajar dari bumi Aceh dalam dunia seni vokal.

Pada penampilan pamungkas Fajar Maulidi, ikut disaksikan dua anggota DPRK Aceh Aceh Jaya, M Jamin dan Rusla, SE, MSi selaku ketua dan sekretaris komisi B DPRK Aceh Jaya.

Sumber: aceh.tribunnews.com

Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean
BANDA ACEH -- Menjadi heboh di media sosial terkait pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA PA) Muzakir Manaf alias Mualem yang menginginkan dilaksanakannya referendum atau hak menentukan nasib sendiri di Aceh.

Adapun isu yang kembali dihembus mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut mengguncang nasional di tengah masalah Pilpres yang cukup panas belakangan ini.

Sejumlah tokoh politik nasional juga ikut menanggapi hal tersebut.

Pantauan Serambinews.com di media sosial Twitter, Selasa (28/5/2019), kata Aceh mendadak menjadi trending topic, yang dipenuhi dengan pembahasan tentang referendum Aceh.

Komentar para netizen juga beragam, ada yang mempertanyakan, mendukung, dan ada yang mengingatkan bahwa ini peringatan bagi Pemerintah.

Isu referendum ini awalnya mencuat dalam acara Haul Wali Nanggroe Paduka Yang Mulia Tgk Muhammad Hasan Ditiro yang dilaksanakan Partai Aceh, Senin (27/5/2019).

Dalam rekaman video yang banyak beredar, Mualem sapaan akrab Muzakir Manaf mengatakan, bahwa keadilan dan demokrasi di Indonesia sudah tak jelas dan diambang kehancuran.

"Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” kata Mualem yang disambut tepuk tangan para peserta yang hadir.

“Karena, sesuai dengan Indonesia, tercatat ada bahasa, rakyat dan daerah (wilayah). Karena itu dengan kerendahan hati, dan supaya tercium juga ke Jakarta. Hasrat rakyat dan Bangsa Aceh untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Mualem lagi yang kembali disambut tepuk tangan lebih riuh.

"Kita tahu bahwa Indonesia, beberapa saat lagi akan dijajah oleh asing, itu yang kita khawatirkan. Karena itu, Aceh lebih baik mengikuti Timor Timur, kenapa Aceh tidak,” ujar Mualem.

Pernyataan Mualem yang juga Ketua Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Aceh dan Dewan Penasihat BPN Prabowo-Sandi kemudian menjadi viral di media sosial.

Apalagi dua senator Aceh, Fachrul Razi dan Rafli Kande juga mendukung dan siap memperjuangkan hal itu di Jakarta.

Tak hanya tokoh lokal, komentar juga datang dari tokoh nasional, salah satunya Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean.

Ia mengingatkan Pemerintah Pusat agar tidak menganggap sepele wacana referendum ini.

"Pernyataan REFERENDUM Aceh jangan dianggap sepele oleh pemerintah. Pernyataan ini akan memicu pernyataan sama dari daerah lain. Tunggu saja..!!
Jangan tanya kenapa, jawabannya karena kalian REJIM PEMERINTAH PALING TIDAK ADIL," tulis Ferdinand di akun twitternya.

Komentar politisi partai Demokrat yang juga Juru Bicara Badan Pemenang Nasional (BPN) Prabowo-Sandi langsung mendapat banyak tanggapan.

Pantauan Serambinews.com hingga pukul 02.30 WIB, cuitannya itu sudah diretwet sebanyak 1.891 kali dan disukai 5.911 dan terus bertambah.

Selain Ferdinand, komentar juga datang dari Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Dahnil Anzar Simanjuntak.

Melalui akun Twitternya Ia meminta rakyat Aceh bersabar dan Indonesia harus tetap utuh.

"Sbg orang yg lahir dan pernah bersekolah di Aceh, sy berharap rakyat dan tokoh Aceh bersabar. NKRI artinya Aceh ada didalamnya. Keadilan hrs diperjuangkan memang, jangan pernah menyerah dan surut nyali," tulis Dahnil.

Dikutip dari Wikipedia.org, Dahnil memang lahir di Aceh tepatnya di Aceh Tamiang pada 10 April 1982 lalu.

Dahnil merupakan seorang dosen, aktivis, ekonom, dan pemerhati kebijakan publik, pengusaha dan politikus.

Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah sejak 24 Desember 2014 menggantikan Saleh Partaonan Daulay setelah terpilih dalam Muktamar XVI Pemuda Muhammadiyah di Asrama Haji, Padang, Sumatra Barat, 23 November 2014.

Ia juga menjabat sebagai President Religion for Peace Asia and Pacific Interfaith Youth Network (RfP-APIYN) periode 2014–2019.

Dan saat ini, dia ditunjuk sebagai Koordinator Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Sumber: Serambinews.com

Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menilai, tuduhan terhadap mantan Danjen Kopassus Mayor Jenderal (Purn) Soenarko sebagai salah seorang yang menyelundupkan senjata kurang tepat.

Ryamizard mengatakan, dalam profil keprajuritannya, Soenarko yang kini sudah ditangkap oleh aparat keamanan, terkenal suka perang dan sering turun di beberapa lokasi konflik.

Dia juga tidak percaya, senjata yang disebut sebagai selundupan itu. Dia meyakini bahwa senjata yang disebutkan itu sebagai barang selundupan adalah senjata hasil rampasan.

"Saya rasa bukan penyeludupan ya, senjata sudah ada dari dulu. Kan dia perang terus itu orang. Tim-Tim, di Aceh, mungkin senjata rampasan di situ," kata Ryamizard di Istana Negara, Jakarta, Rabu 29 Mei 2019.

Ryamizard tidak mengetahui kasus apa yang dituduhkan. Meski aparat keamanan menyebut ada keterlibatannya dalam aksi rusuh pada 21-22 Mei 2019 lalu. Kalaupun ada rencana seperti itu, menurutnya itu suatu yang tidak baik.

Persoalan ini tidak terlepas dari masalah politik terutama Pilpres 2019. Ryamizard mengatakan harusnya semua pihak menunggu hasil KPU. Kalau memang ada kecurangan, maka bisa digugat dengan melampirkan sejumlah bukti kecurangan yang dituduhkan itu.

"Mudah-mudahan Ramadan ini beres semualah, harapan kita semua kan. Tidak boleh terjadi, saya tidak suka terjadi kerusuhan. Mudah-mudahan enggaklah, cukup kemarin itu ya," katanya. | Vivanews

Bus antar provinsi yang dilepmar batu di lintasan Banda Aceh-Medan tepatnya di KM 134 Simpang Paru Keude, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. (Foto: Istimewa)
Pidie Jaya - Tiga remaja ini, entah apa motifnya melempari bus antar provinsi yang melintas di jalur Banda Aceh-Medan, tepatnya di KM 134 Simpang Paru Keude, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Senin dini hari.

Dengan menggunakan batu, ke tiga remaja IS, AL dan MS melempar bus yang dikemudikan Junaidi (42), warga Gampong Tanjung Ulim, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Sebelumnya, Junaidi mengemudikan bus membawa sejumlah penumpang dari Aceh hendak ke Medan, Sumatera Utara. Saat bus berbadan besar itu berjalan, sebuah bunyi keras terdengar di bagian kanan badan bus.

Merasa ada sesuatu yang tak beres, Junaidi pun memperlambat laju bus dan baru berhenti di Pasar Gampong Paru Keude, berjarak 100 meter dari lokasi bus seperti dilempar sesuatu.

Junaidi turun untuk melihat sisi kanan bus. Benar saja, kaca pecah di bagian atas dan ditemukan satu batu di dalam bus. Junaidi pun bergegas menuju kantor polisi terdekat. Memberitahu peristiwa yang dia alami.

Tak jauh dari bus berhenti, sejumlah remaja berkeliaran. Para penumpang dan sopir menduga mereka lah yang melemparkan batu tadi.

Petugas kepolisian dari Reskrim Polres Pidie dibantu Polsek Bandar baru pun turun melakukan penyelidikan. Remaja yang tadinya berkeliaran sekitar 100 meter dari lokasi pelemparan batu coba diinterogasi.

"Dilakukan tahapan interogasi terhadap delapan orang anak laki-laki yang dicurigai sebagai pelaku. Dari hasil interogasi tiga dari delapan remaja tersebut terbukti melempar bus dan kita amankan," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Aceh Kombes Pol Agus Sartijo kepada Tagar, Selasa 28 Mei 2019 kemarin.

Tiga remaja nakal itu merupakan warga Gampong Paru Keude, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Mereka bertiga masih pelajar setingkat SMP.

Akibat kenakalan itu, mereka bertiga harus berurusan dengan kepolisian. "Pelaku bersama barang bukti satu buah batu yang diduga digunakan oleh mereka saat melakukan pelemparan bus kita amankan," pungkasnya. [tagar.id]
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.