2019

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Jakarta - Senator DPD RI asal Aceh, H. Fachrul Razi, MIP mengecam keras pernyataan-pernyataan verbal yang disampaikan oleh Deni Siregar terkait rencana pelegalan poligami di negeri Serambi Mekkah, Provinsi Aceh. "Saya mengecam keras pernyataan-pernyataan Deni Siregar yang divideokan dan disebarluaskan kepada publik terkait wacana pelegalan poligami di Aceh," tulis senator muda jebolan pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia ini kepada Redaksi, Minggu, 14 Juli 2019.

Hal itu disampaikan Fachrul, demikian ia senantiasa disapa, merespon beredarnya video yang berisi pernyataan ulasan Deni atas rencana pelegalan poligami di Aceh. Sebagaimana diketahui bahwa dalam beberapa hari terakhir, kolumnis partisan Deni Siregar mengeluarkan video berisi sindiran dan cemoohan terhadap pemimpin dan masyarakat Aceh terkait wacana yang sedang hangat, yakni rencana penyusunan qanun (peraturan daerah) yang akan melegalkan lelaki di Aceh beristri lebih dari satu wanita.

“Kalau tidak paham dengan “Orang Aceh” yang memiliki budaya dan Islam yang kuat, sebaiknya pelajari dulu tentang Aceh, bukannya menuding Aceh dengan tuduhan tendensius,” tegasnya mengecam.

Dirinya menyimpulkan bahwa Deni Siregar sengaja membangun opini publik untuk menyerang harga diri orang Aceh dan menyebarluaskan secara sengaja. “Dengan pernyataan-pernyataan yang disebarluaskan melalui video itu, Deni telah menyerang secara brutal harkat dan martabat rakyat Aceh. Dia telah menghina kami bangsa Aceh, seolah-olah kami ini masyarakat barbar tidak beradab yang primitif dan hanya berpikir soal kawin-mawin," tambah Fachrul.

Dia berpendapat bahwa Deni punya agenda yang bertendensi buruk untuk membangun opini publik bahwa masyarakat Aceh adalah bangsa yang hina. "Deni Siregar dengan membabi-buta mencuplik segelintir pernyataan satu-dua orang Aceh dan kejadian lapangan, lalu menyimpulkan sesuatu seolah-olah seluruh rakyat Aceh yang lebih dari 5 juta orang itu bobrok dan sangat hina semua, ini pemikiran yang sangat dangkal, konyol, dan menyesatkan. Dia menyebarkan hoax yang tidak bisa ditolerir," kecam Fachrul yang terpilih kembali sebagai Senator DPD RI dari Aceh untuk periode kedua, 2019-2024 ini.

Fachrul yang juga Pimpinan Komite I DPD RI dan sering ditunjuk menjadi pimpinan delegasi saat Senator DPD RI melakukan kunjungan kerja keluar negeri itu mengingatkan Deni Siregar untuk berhenti membangun narasi-narasi biadab semacam itu yang justru bukan membangun peradaban tapi akan menumbuhkan antipati dan rasa benci bangsa Aceh terhadap pemerintah pusat. "Saya mendesak agar Deni berhenti menebar wacana busuk bernuansa kebencian terhadap bangsa Aceh. Bukan membangun peradaban yang baik, justru akan memunculkan wacana perlawanan dan permusuhan bangsa Aceh terhadap Indonesia," ujar Fachrul dengan mimik serius.

Terkait dengan peredaran video tersebut, Fachrul bersama komponen masyarakat Aceh lainnya sedang mempertimbangkan untuk memproses Deni Siregar ke jalur hukum. "Saya peringatkan Deni Siregar untuk meminta maaf kepada masyarakat Aceh dan seluruh rakyat Indonesia atas pernyataan-pernyataannya yang tendensius bernada hinaan terhadap Aceh. Kami sedang mempertimbangkan untuk membawa kasus hinaan yang bersangkutan terhadap kami bangsa Aceh ke ranah hukum," tegas mantan aktivis mahasiswa UI itu. (APL/Red)

StatusAceh - Seorang remaja 19 tahun bernama Dedi Kasih meninggal dunia setelah ditembak oleh oknum kepolisian di Aceh, Minggu (14/7/2019) di sebuah acara pernikahan.

Mirisnya, penembakan oleh oknum polisi di Desa Sidorejo, Kecamatan Gunung Meriah, Kabuten Aceh Singkil tersebut dilakukan saat korban Dedi Kasih tengah asyik berjoget di sebuah pesta pernikahan.

Awalnya, korban Dedi Kasih bersama sejumlah tamu berjoget bersama saat menyaksikan organ tunggal yang ditampilkan di acara pernikahan tersebut.

Namun, tanpa tahu sebabnya, beberapa tamu yang berjoget mulai saling senggol dan ricuh.

Suara letusan lantas terdengar, dan tubuh Dedi Kasih ambruk.

“Saya tidak tahu juga apa penyebabnya, ada yang tersenggol saat joget kemudian marah dan terjadi perkelahian, lalu kami dengar suara letusan senjata, dan saya lihat kawan saya sudah jatuh ke tanah dan berdarah,” jelas Ahmad (20), kerabat Dedi Kasih, dikutip TribunStyle.com dari Serambi Indonesia, Senin (15/7/2019).

Menurut Ahmad memang ada seorang anggota polisi meletuskan senjatanya dan mengenai bagian kepala korban.

Ahmad sendiri ragu tembakan itu merupakan tembakan peringatan.

“Sepertinya bukan tembakan peringatan itu, dalam kondisi terkejut saya dan seorang teman lain kemudian membawa korban ke rumah sakit, dengan sepeda motor,” tambahnya.

Sayangnya, setibanya di rumah sakit, pihak Rumah Sakit Daerah Singkil meminta korban dirujuk ke RS Medan untuk perawatan intensif.

Namun, nyawa korban tak tertolong dalam perjalanan.

Keluarga Korban Syok

Keluarga Dedi Kasih tak menyangka kerabatnya tewas tertembak oknum polisi dalam acara pernikahan.

Mereka mengaku syok mendengar kabar Dedi telah tewas.

Sartinah (56) ibu korban meminta pelaku dihukum seberat-beratnya.

Pasalnya, sang putra ditembak tanpa tahu kesalahannya.

“Kami tidak tahu apa kejadiannya, tiba-tiba sudah ada kabar meninggal, kata orang ditembak polisi, kami mau pelakunya juga harus dihukum yang setimpal,” ujar Sartinah.

Dedi meninggal dunia karena tertembak di bagian atas pelipis mata sebelah kanan.

Kapolres Aceh Singkil, AKBP Andrianto Argamuda, memastikan pelaku penembakan Dedi Kasih (19) penduduk Desa Sebatang, Gunung Meriah, diproses secara hukum.

Tersangka R yang merupakan oknum polisi sudah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan.

"Pelaku diproses, sedang dimintai keterangan. Termasuk berlanjut pemeriksaan saksi," kata AKBP Argamuda melalui sambungan telpon seluler, Minggu (14/7/2019).

Argamuda menyebutkan, berdasarkan pemeriksaan awal letusan senjata api terjadi ketika tersangka berusaha mengamankan keributan yang terjadi dalam pesta pernikahan di Desa Sidorejo.

Namun untuk memastikannya penyidik kepolisian sedang melakukan pendalaman.

Di sisi lain Kapolres menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga almarhum Dedi Kasih.

Menurutnya peristiwa itu sangat tidak diinginkan.

"Kami sampaikan duka cita mendalam. Saya dari Banda Aceh, mendapat informasi ini langsung pulang menuju rumah duka. Ini masih di perjalanan," pungkas Kapolres.

Jenazah Dedi sendiri telah dikebumikan setelah disemayamkan di rumah duka di Desa Sebatang, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil.

Sumber: Ttribunnews.com

Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh, Profesor Muhammad Andalas di RSUDZA Banda Aceh, Senin (15/7) (ANTARA / Irman Yusuf)
Banda Aceh - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam Banda Aceh, Profesor Muhammad Andalas menyebutkan, sebanyak 40 persen kematian ibu usai melahirkan disebabkan terlambat penanganan medis.

"40 persen kematian ibu usai melahirkan karena terlambat diketahui, terlambat dirujuk dan terlambat ditangani," kata Profesor Muhammad Andalas.

Pernyataan ini disampaikannya usai penyerahan, Brevet Spesialis Obstetri dan Ginekologi kepada empat Alumni Fakultas Kedokteran Unsyiah yaitu, Lutfi Nugroho, Imam Zahari, Rizka Aditya, dan Dian Paramita di RSUDZA Banda Aceh, Senin.

Menurut dia, angka kematian ibu hamil masih di atas yang diharapkan. Selain itu, keterbatasan sarana prasarana juga menjadi musabab meninggalkan ibu setelah melahirkan.

"Angka kematian ibu melahirkan 2017, 174 kasus dan pada tahun 2018 menurun menjadi 150 kasus," sebut dia.

Lebih lanjut ia berharap para pengambil kebijakan dapat menyediakan sarana prasarana yang memadai bagi ibu yang melahirkan guna mengoptimalkan pelayanan medis.

"Paling penting adalah sarana dan prasarana harus di siapkan dengan baik. Ada 93 dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) tersebar diseluruh rumah sakit se-Aceh," sebut Andalas.

Andalas juga mengingatkan para dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (SpOG) mengambil kebijakan yang tepat dan seusai sumpah dokter yang telah diucapkan.

"Jangan melakukan sesuatu yang rasanya belum mampu dan terus berkoordinasi dengan rekan sejawat yang sudah berpengalaman," pesan Andalas kepada empat juniornya.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainal Abidin (RSUDZA) Azharuddin menyatakan, dokter dituntut memiliki peran kesalehan sosial yang tinggi agar menjadi duta-duta kesehatan di lingkungan sekitar.

"Kekompakan sesama dokter sangat penting dan selalu berkoordinasi dengan rekan sejawat agar pelayanan yang diberikan ke pasien tepat dan cepat," demikian kata Azharuddin. | Antara

Pakistan and India, have agreed that a daily visa-free access for 5,000 pilgrims will be granted to visit Kartarpur Sahib Gurudwara in Pakistan for entire year. Foto/AP
ISLAMABAD - Pakistan and India, following the second round of bilateral talks at Wagah Border with Islamabad, have agreed that a daily visa-free access for 5,000 pilgrims will be granted to visit Kartarpur Sahib Gurudwara in Pakistan for entire year.

As part of the agreement, Persons of Indian Origin (PIO), having overseas citizenship of India (OCI) identity cards will be allowed to use the corridor that will connect two key Sikh religious centres, Darbar Sahib in Pakistan's Kartarpur with the Dera Baba Nanak shrine in Gurdaspur, India.

Pakistan also assured India that it won’t allow pro-Khalistani elements, who seek to create a separate country for Sikhs, to use the corridor to support an anti-India movement. In May, India had raised concerns that Pakistan is promoting the interests of Khalistani groups under the pretence of creating a Kartarpur corridor.

Pakistan had previously insisted on allowing a maximum of 500 to 700 pilgrims a day with a fee, and it was not clear if the corridor would remain open throughout the year.

“Throughout the year, 5,000 pilgrims will be allowed to visit Kartarpur Sahib Gurudwara every day. Pakistan highlighted the infrastructural constraints on their side, and conveyed that they may be able to accommodate many of the Indian proposals in a phased manner," Foreign Minister Subrahmanyam Jaishankar clarified in a statement. “There should be no restrictions on the pilgrims in terms of their faith."

The Indian delegation also raised concerns over the possibility of flooding in Dera Baba Nanak and adjoining areas, located in Gurdaspur District in India's Punjab state near the flood plains of the Ravi River. Pakistan was urged to build a bridge on their side.

Pakistan agreed to build a bridge over the Ravi Creek on their territory at the earliest, said the Ministry of External Affairs, with India offering to make interim arrangements to guarantee the corridor is operational at the start of celebrations begin in November, for the 550th birthday anniversary of Guru Nanak.

Once the bridge is built, the corridor will connect the Darbar Sahib in Pakistan's Kartarpur with the Dera Baba Nanak shrine in Gurdaspur district and help in the visa-free movement of Indian Sikh pilgrims. The pilgrims will require just a permit to visit Kartarpur Sahib, an important Sikh shrine established in 1522 by the faith's founder Guru Nanak Dev.

The Indian Sikh community has hailed the latest development.

Manjinder Singh Sirsa, a politician and President of the Delhi Sikh Gurudwara Management Committee, expressed his gratitude over the news and thanked the delegates for their successful meeting with Pakistan.

The Indian delegation for the talks was led by the Home Ministry's Joint Secretary (Internal Security) SCL Das and the Foreign Ministry's Joint Secretary (Pakistan, Afghanistan and Iran) Deepak Mittal, while the 20-member Pakistani delegation was led by Mohammad Faisal, spokesperson of the Pakistani Foreign Ministry.

Meanwhile, in a statement, the Indian Home Ministry said, the construction work on a four-lane highway connecting Dera Baba Nanak from Gurdaspur-Amritsar Highway to the international border, was progressing in full swing. Over 50 per cent of the construction work has been completed on the four-lane Dera Baba Nanak-Kartarpur Highway, and the Highway will be completed by 30 September this year, an Indian news agency reported citing the Home Ministry officials on Sunday. | Sindonews

Jakarta - Mantan calon wakil presiden nomor urut 02 pendamping Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, menyatakan merasa terhormat jika diberikan kesempatan menjadi oposisi dari pemerintahan ke depan. Karena oposisi akan memberikan check and balance pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Saya betul-betul merasa terhormat kalau diberikan kesempatan menjadi oposisi yang terus mengontrol dan mengawasi kinerja pemerintah," kata Sandiaga saat acara “Young Penting Indonesia” di kawasan Kemang, Jakarta, Sabtu 13 Juli 2019.

Sandiaga menambahkan, akan ada beberapa koleganya yang kemungkinan masuk dalam kabinet Jokowi-Ma'ruf. Sehingga saat memberikan masukan untuk kemajuan Indonesia akan lebih mudah. 

Apalagi, dia mengenal Erick Thohir, yang digadang-gadang akan masuk kabinet, sudah sejak lama. Dan hubungan mereka berdua masih terjaga hingga kini, meski saat pemilu kemarin dalam posisi politik yang berbeda.

"Nanti apabila ada masukan saya bisa memberikan input kepada bro Erick langsung. Tanpa melalui birokrasi yang panjang," ujarnya.
   
Mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini enggan berkomentar banyak terkait pertemuan Jokowi dan Prabowo siang tadi.

"Mungkin mereka sudah mendengar mau ada pertemuan saya dengan bro Erick sore ini. Jadi mereka ketemuan duluan," ucapnya sambil tertawa. | Vivanews

Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Jakarta - Joko Widodo dan Prabowo Subianto bertemu di Stasiun Lebak Bulus MRT, Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) sebagai sinyal positif untuk rekonsiliasi dan menyatukan masyarakat yang selama ini terpecah.

Namun pertemuan tersebut mendapat preseden buruk oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Organisasi yang mendukung pasangan Prabowo-Sandi itu merasa tidak sejalan dengan pertemuan yang dilakukan Prabowo dengan Jokowi. Kepala Divisi Hukum (Kadivhum) PA 212 Damai Hari Lubis menyatakan bahwa organisasinya tidak lagi mendukung Prabowo.

“Atas peristiwa pertemuan PS (Prabowo Subianto) dan JKW (Jokowi) kami sampaikan kepada PS, selamat tinggal PS,” kata Damai dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/7).

Damai menambahkan, organisasinya akan tetap berjuang melawan pemerintah yang dinilainya berat sebelah dalam penegakan hukum. “Tajam ke bawah terhadap oposan, tumpul ke pendukung,” kata Damai.

Damai mengatakan, pertemuan Prabowo dengan Jokowi juga menyakiti perasaan umat. Sebab, Prabowo tidak pernah menyampaikan rencana pertemuannya tersebut baik kepada Pengurus PA 212 ataupun para ulama dan umat.

“Di luar konteks manfaatnya untuk umat, bangsa dan negara. Tapi tetap dirasa menyakiti kami komponen 212 dan umat, apalagi pernyataan dirinya (Prabowo) akan oposan, bila benar ambil langkah-langkah politik oposan dan dihubungkan dengan yang real (dilakukannya) ini, karena setahu kami, PS tidak atau belum sempat tabayyun dengan para ulama pendukungnya (ijtima ulama 1 dan 2)” kata Damai.

Tindakan Prabowo tersebut dianggap sudah tidak sesuai dengan organisasnya. Sebab menurut Damai, PA 212 masih tunduk dengan perintah ulama dan masih dibawah komandan Rizieq Syihab.

“Sekali lagi kami yang mewakili umat atau alumnus 212 yang masih konsiten kepada para ulama yang berijtihad di ijtima ulama 1 dan ke 2 ucapkan selamat tinggal PS,” kata Damai.

“Sejatinya bukan ulama yang tinggalkan dia, tapi dirinya yang berhenti sendiri dari gerak perjuangan ini sehingga tertinggal,” pungkas Damai.

Senada dengan Damai, Koordinator Humas Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin menyebut, pihaknya akan kembali ke langkah awal tanpa berpolitik.

"Tanpa partai kan politik sudah selesai nih ya, kita kembali lagi. Tinggal aspirasi kita sampaikan, kepada pemilih 02 tetap kita sampaikan, itu nanti kita tanggapi mereka terima atau tidak, tetap nanti ada di ijtimak ulama," ujar Novel saat dikonfirmasi kumparan.

Meski begitu, Novel tak serta merta menyatakan kalau pihaknya sudah benar-benar melepaskan diri dari Prabowo.

"Enggak bisa dikatakan begitu juga (melepaskan diri dari Prabowo), enggak bisa dipaksakan mau tidak atau enggak, tunggu keputusan (ijtimak ulama)," ucapnya. | Kumparan

Banda Aceh – Plt Gubernur Aceh Ir Nova Iriansyah MT dijadwalkan akan menghadiri dan menutup kegiatan Bhakti Sosial dan Jambore Tagana yang berlangsung pada 13-16 Juli 2019 di Kabupaten Aceh Jaya. Kegiatan yang dibuka oleh Bupati Aceh Jaya malam ini, Sabtu 13 Juli tersebut juga turut diikuti oleh beberapa satuan kerja perangkat Aceh (SKPA) dan sejumlah dunia usaha yang tergabung dalam Forum CSR Kessos Aceh.

Kegiatan dengan tema “Kiprah Nyata 15 Tahun Tagana Wujudkan Masyarakat Siaga Bencana” itu digelar di dua tempat terpisah, untuk bhakti sosial dilakukan di desa terisolir yaitu Desa Bintah, Kemukiman Pasie Tuebee, Kecamatan Tunom. Sementara untuk jambore dan apel siaga tagana akan dipusatkan di Taman Merorial Tsunami Aceh Jaya di Desa Dayah Baro, Kecamatan Krueng Sabee.

Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM mengatakan, bhakti sosial dan jambore tagana tersebut diikuti oleh seluruh tagana dari 23 kabupaten/kota di Aceh dengan agenda kegiatan, tagana masuk sekolah, tagana menjaga alam, donor darah, tagana saweu gampong, bantuan untuk penyandang disabilitas, tagana bhaksos bersama SKPA dan Forum CSR Aceh, serta apel siaga dan simulasi penanggulangan bencana.

“Pak Plt Gubernur Aceh akan hadir untuk meninjau Desa Bintah bersama rombongan SKPA, Forum CSR, dan Bupati Aceh Jaya. Setelah itu beliau akan menutup kegiatan pada apel siaga di Taman Merorial Tsunami sekalian pengukuhan Ketua Tagana Provinsi Aceh, serta penyerahan bantuan dan sertifikat pada pihak yang terlibat pada kegitan tersebut,” katanya Alhudri Sabtu (13/7/2019) pagi.

Menurut Alhudri, jambore tagana sebenarnya setiap tahun dilakukan baik di tingkat provinsi maupun nasional. Namun, untuk jambore tagana kali ini tidak lagi hanya sebatas memotivasi para relawan tagana dalam melayani dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak bencana, akan tetapi bagaimana kegiatan ini berdampak langsung kepada pemberdayaan masyarakat sekitar melalui kegiatan bhakti sosial.

“Karena itu bhakti sosial dengan beberapa SKPA, Pemkab Aceh Jaya, dan dunia Forum CSR Kessos ini untuk menyentuh daerah-daerah yang masyarakatnya belum atau kurang mendapat perhatian dari pemerintah, contohnya seperti di Desa Bintah Aceh Jaya itu,” ujarnya.

Alhudri menuturkan, bhakti sosial dilakukan di Desa Bintah bertujuan agar pihak SKPA terkait serta dunia usaha melalui Forum CSR Kessos dapat melihat langsung kondisi masyarakat setempat, dan apa yang dapat mereka bantu untuk pemberdayaan masyarakat di sana dalam menekan angka kemiskinan di Aceh.

Untuk itu, katanya, pemerintah baik dari provinsi atau dari Kabupeten Aceh Jaya serta dunia usaha seperti Bank Aceh, Pegadaian, dan Mifa akan bahu-membahu memotivasi, dan mengajak masyarakat dalam upaya mewujudkan acehhebat sesuai dengan visi-misi Pemerintah Aceh saat ini.

Salah satu contohnya adalah dengan menampatkan dana CSR dari dunia usaha untuk pembangunan MCK (mandi, cuci, kakus) di Desa Bintah, sehinga yang selama ini rumah-rumah di sana tidak memiliki MCK dengan program bhaksos dan jambore tagana ini mereka dapat memiliki MCK.

“Ini merupakan perintah Pak Plt Gubernur Aceh agar setiap even itu dapat menyentuh orang banyak, teruma saudara-saudara kita yang selam ini mugkin belum mendapat perhatian serius dari kita. Maka dengan dengan even-even ini dapat terjangkau dan dapat menekan angka kemiskinan Aceh,” kata punkas Alhudri.

Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM saat meninjau langsung rumah tidak layak huni warga Sikundo bersama Tim BPBA beberapa waktu lalu.
Banda Aceh – Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, dijadwalkan akan hadir melakukan peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan 39 unit rumah masyarakat komunitas adat terpencil (KAT) di Desa Sikundo, Kecamatan Pantee Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat pada Senin 15 Juli 2019. Selain pembangunan rumah KAT, pada kesempatan yang sama juga akan dilakukan penyalaan listrik dari PLN untuk Desa Sikundo.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM melalui Kasi Pemberdayaan Perorangan dan Keluarga Safwan S.Ag., M.Ag, Sabtu (13/7/2019).

“Pembanguna rumah KAT untuk warga Sikondo akan dilakukan peletakan batu pertama oleh Bapak Plt Gubernur Aceh pada 15 Juli 2019 nanti, sekaligus akan dilakukan penyalaan lampu listrik dari PLN,” kata Safwan. Menurut Safwan, PLN merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan KAT di Sikundo, sebab masayarakat di sana memang udah sangat lama belum dialiri listrik.

Safwan menuturkan,  pembangunan rumah KAT di Sikundo merupakan program Dinas Sosial Aceh melalui anggaran APBN Kementrian Sosial RI Tahun 2019. Penanganan KAT ini harus dilakukan secara terpadu, oleh karena itu Dinas Sosial Aceh yang berperan sebagai pembuka jalan mengundang intansi-intansi lain yang terlibat langsung dalam urusan pemberdayaan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan baik intansi pemerintah terkait, BUMN dan swasta dengan CSRnya.

Sebab, katanya, setiap intansi itu punya kewajiban untuk melakukan pemberdayaan masayarakat di daerah tertinggal. Hari ini Sikundo adalah daerah yang terisolir, jauh dari akses pelayanan publik, baik itu kesehatan, pendidikan, transportasi, apalagi informasi-informasi yang menyangkut dengan teknologi itu belum mereka rasakan.

Karena dia berharap, pada pencanangan dan peletakan batu pertama ini, semua Satuan Kerja Perangkat Aceh (KPA) yang ada di provinsi dan juga dunia usaha seperti PLN serta perusahaan-perusahaan swasta lainya juga ikut ambil bagian di dalam pemberdaan KAT ini.

“Harapan kita, dengan adanya kegiatan ini warga nasyarakat di sana, memiliki rumah layak huni, karena saat ini mereka tidak mempunyai rumah yang layak huni, kemudian mereka juga mendapatkan fasilitas-fasilitas umum lainnya seperti jalan menuju ke Sikundo sehingga transportasi mereka saat keluar dari desa itu lebih begus,” katanya.

Kemudian juga, pelayanan kesehatan agar masyarakat di sana dapat berobat secara medis, minimal ada bidan desa yang mau ditempatkan di sana, selain itu  jangkauan pelayanan kesehatan untuk ke Puskesmas, dan jika perlu ada petugas kesehatan yang  setiap bulannya bisa turun ke sana untuk melihat kondisi kesehatan masyarakat di sana.

Kemudian di sana mereka itu juga butuh air bersih, kita ingin ada SKPA terkait untuk pelayanan kesehatan mereka butuh air bersih begitupun sarana dan prasaran lingkungan. Sehingga mereka dapat merasakan seperti halnya yang dirasakan oleh masyarakat di daerah-daerah lain yang merasakan sentuhan-sntuhan dari pemerintah.

“Tujuannya agar masyarakat dapat merasakan kehadiran pemerintah di sana bahwa kita pemerinntah tidak tutup mata. Setelah di Sikundo kita juga akan menjajaki daerah terpencil lainnya di Aceh, tujuannya sama agar masyarakat merasakan kehadiran pemerintah,” tutup Safwan. [Rill]

Jakarta - Presiden Joko Widodo akhirnya bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Keduanya menjajal MRT yang naik dari Stasiun Lebak Bulus menuju stasiun Senayan, Jakarta Pusat. Saat tiba di Senayan, Jokowi dan Prabowo menyampaikan pernyataan di hadapan wartawan yang sudah menunggu sejak pagi.

Salah satu pesan penting yang mereka sampaikan adalah, jangan ada lagi penyebutan kubu 01 dan 02, maupun cebong dan kampret. Kini sudah saatnya semua pihak merajut persatuan dan kesatuan bangsa.

Jokowi mengatakan pertemuan antara dia dengan Prabowo menjadi pertanda tidak ada lagi persaingan dan harus bersatu demi membangun bangsa.

“Setelah kompetisi di Pilpres, kalau saya sebut adalah kompetisi yang keras baik di antara kami maupun di antara pendukung. Oleh sebab itu, usai Pilpres silaturahmi dengan saya dan Pak Prabowo dilakukan pada pagi hari ini. Saya sangat berterimakasilah sekali atas pengaturan waktu sehingga kami bertemu dengan Pak Prabowo,” ujar Jokowi di stasiun Senayan, Sabtu 13 Juli 2019.

Jokowi juga mengajak seluruh pendukungnya maupun pendukung Prabowo untuk saling berjabat tangan dan tidak ada lagi permusuhan. Jangan ada lagi saling hina, termasuk menyebut cebong dan kampret

“Para pendukung agar melakukan hal yang sama, karena kita sebangsa dan setanah air. Tidak ada lagi 01 dan 02. Tidak ada lagi yang namanya cebong dan tidak ada lagi yang namanya kampret. Yang ada adalah Garuda Pancasila,” ucap dia.

Jokowi menjelaskan, perdamaian ini sangat penting bagi sebuah bangsa. Menurutnya, persaingan di dunia sangat keras sehingga dibutuhkan kekuatan dari anak seluruh bangsa.

“Marilah kita rajut, kita gerakan kembali persatuan sebagai sebuah bangsa karena kompetisi di dunia sangat ketat, harus membangun negara ini,” kata dia.

Pesan yang sama juga diutarakan Prabowo. “Sudah lah, tak ada lagi sebutan cebong dan kampret. Kita semua adalah Merah Putih,” ucap Ketua Umum Partai Gerindra itu. | Vivanews

Tangerang - Petugas gabungan dari BNN Provinsi Banten dan BNN RI berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 150 Kg ganja kering dari Aceh ke Tangerang.

Dari pengungkapan ini, petugas berhasil menangkap dua orang kurir yang masing-masing berinisial F alias Bule dan IWN. Petugas pun, masih melakukan pendalaman terhadap kedua tersangka.

Kepala BNN Kota Tangerang AKBP Ade Andrian mengatakan, sekitar 150 Kg ganja kering itu dikemas dalam 150 paket. Dengan masing-masing paket seberat 1 Kg.

"Mereka kami tangkap di bengkel las, Jalan Husain Sastranegara, Benda, Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Ini masih kita kembangkan, masih berjalan," kata Ade di kantornya, Kota Tangerang, Jumat (12/7/2019).

Dijelaskan dia, pengungkapan ini berawal dari informasi yang didapatkan petugas, pada Selasa 9 Juli 2019. Dalam informasi itu, disebutkan ganja dikirim dari Aceh.

"Pada Selasa itu, didapat informasi, bahwa ada pengiriman narkotika jenis ganja dari Aceh menuju Tangerang, dengan menggunakan mobil Toyota Camry warna Silver yang sudah dimodif," ungkapnya.

Modifikasi dilakukan pada bagian bagasi dengan menggunakan pelat besi yang sudah dilas. Petugas pun langsung melakukan penelusuran terhadap info itu.

"Setelah dilakukan pengembangan, didapat rute yang digunakan kedua terangka. Yakni dari Pelabuhan Pangkal Balam, Provinsi Bangka Belitung, menuju ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara," sambungnya.

Mobil lalu diangkut dengan menggunakan Kapal KMP Sakura Expres. Kemudian, Tim BNN Provinsi Banten berkoordinasi dengan BNN RI, untuk melakukan penyergapan.

"Pada Rabu 10 Juli 2019, Tim BNN Provinsi Banten, bersama dengan BNN RI melakukan pengawasan di daerah Pelabuhan Tanjung Priok, sampai pada hari Kamis 11 Juli 2019 hingga sekitar pukul 01.00 WIB," paparnya.

Tengah malam itu, KMP Sakura Expres yang ditunggu akhirnya bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Petugas pun langsung masuk ke dalam kapal melakukan pemeriksaan.

"Tim kemudian melakukan pengecekan ke dalam kapal, dan menemukan mobil Toyota Camry seperti yang disebutkan dalam informasi tersebut. Di dalam mobil, ada dua orang tersangka," jelas Ade.

Saat dilakukan pemeriksaan, petugas tidak menemukan ganja yang dicari. Namun, setelah petugas melakukan pengecekan mobil dengan menggunakan anjing pelacak Unit K-9, ganja baru berhasil ditemukan.

"Dari hasil pengecekan tersebut, diduga ada narkotika di bawah bagasi. Kemudin Tim membawa mobil dan kedua tersangka ke bengkel las, di Kecamatan Benda, Kota Tangerang, untuk membukanya," terangnya.

Setelah sejam kemudian, petugas akhirnya berhasil membuka pelat besi bagasi mobil tersebut dengan cara digerinda dan berhasil menemukan 150 paket ganja tersebut.

Selain ganja, petugas juga mengamankan 1 unit Toyota Camry, 3 unit HP, 2 buah kartu ATM, dan uang tunai Rp317 ribu. Sementara tersangka dijerat dengan pasal berlapis UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. | Sindonews

,
Aceh Besar – Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 12/Montasik Sertu Samsul Sugito turut menghadiri kegiatan Gerakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Tikus di Balai Pertanian Desa Bung Tujoh Kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar, Kamis (11/07/19).

Babinsa Desa Bung Tujoh mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi serangan sejumlah hama di sawah khususnya hama tikus, dikarenakan serangan hama tikus sering kali terjadi setiap musim tanam padi.

“Ini adalah upaya kita untuk kurangi serangan hama di sawah khususnya tikus. Karena hama tikus ini kerap kali muncul setiap musim tanam padi, apalagi mendekati panen padi tiba,” ujarnya.

Terkait hal itu, tambahnya, peran serta TNI AD khususnya Babinsa, memburu hama tikus merupakan pendampingan kepada petani, sebagai tindak lanjut MoU antara TNI dengan Kementrian Pertanian sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional.

“Selain itu, keikutsertaan Babinsa juga sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani demi tercapainya program pemerintah dalam hal ketahanan pangan nasional,” imbuhnya.  

Foto: Enam pucuk senjata api laras panjang dan pistol diserahkan warga dari beberapa kabupaten di Aceh ke pihak TNI (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Enam pucuk senjata api laras panjang dan pistol diserahkan warga dari beberapa kabupaten di Aceh ke pihak TNI. Senjata tersebut diduga bekas konflik yang selama ini disimpan masyarakat.

Senjata serbu tersebut terdiri dari dua pucuk AK-56, M1A1 carbine, SS1, M16 masing-masing satu pucuk serta sepucuk pistol. Selain itu,ratusan amunisi di antaranya 261 butir amunisi SS1, tujuh butir amunisi AK dan lima butir amunisi pistol juga diserahkan.

"Ini penggalangan yang dilakukan oleh Kodam Iskandar Muda di Provinsi Aceh. Senjata ini diserahkan masyarakat dari Aceh Timur, Aceh Utara dan beberapa kabupaten lain," kata Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko kepada wartawan di Makodam IM, Jumat (12/7/2019).

Teguh menjelaskan senjata sisa konflik tersebut selama ini disimpan masyarakat. Penggalangan senjata dilakukan oleh tim intelijen dan Babinsa. Mereka mengajak masyarakat yang masih memiliki senjata api untuk menyerahkannya ke pihak keamanan.

"Kami menerima penyerahan senjata dari masyarakat dengan bukti bahwa dengan seperti ini masyarakat sudah semakin sadar bahwa Aceh sudah aman," jelas Teguh.

Menurutnya, penggalangan tersebut dilakukan TNI untuk mencegah penyalahgunaan senjata. "Ini juga sebagai bukti bahwa Aceh sudah benar-benar aman sehingga masyarakat tidak perlu melindungi dirinya karena sudah aman," ungkapnya.

Pangdam mengimbau masyarakat yang masih memiliki senjata api untuk menyerahkan ke pihak keamanan baik TNI maupun polisi. Dia berjanji tidak memproses hukum warga yang menyerahkan secara sukarela.

"Kalau memang menyerahkan dengan kesadaran saya akan jamin mereka aman," ungkapnya.

Seperti diketahui, ini merupakan kali ketiga penyerahan senjata dalam tahun ini. Pada 3 Januari lalu, dua warga menyerahkan delapan pucuk senjata ke TNI. Selain itu, pada 15 Mei lalu sebanyak 12 pucuk senjata berbagai jenis juga diserahkan ke TNI. | Detik.com

StatusAceh.Net - Menjelang pagi tanggal 11 Februari 1899, tepat hari ini 119 tahun lalu, kabar duka itu membuat Cut Nyak Dhien tercenung. Suaminya, Teuku Umar, gugur dalam pertempuran mendadak melawan pasukan Belanda di pinggiran Meulaboh.

Cut Nyak Dhien tentu saja amat berduka, namun ia menolak larut dalam kesedihan. Ia pernah mengalami situasi serupa di masa lalu saat meratapi kematian suami sebelumnya, Ibrahim Lamnga, yang juga tewas di tangan penjajah, pada 29 Juni 1878.

Kali ini, Cut Nyak Dhien tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menangisi orang yang sudah tiada. Ia tak mau pengorbanan Teuku Umar sia-sia. Cut Nyak Dhien bertekad melanjutkan perjuangan suaminya sampai tetes darah terakhir.

M.H. Szekely-Lulofs dalam Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh (1948) menuliskan fragmen ini dengan amat menyentuh. Sambil memeluk Cut Gambang, anak satu-satunya dari Teuku Umar yang mulai menangisi kepergian sang ayah, Cut Nyak Dhien berucap dengan suara gemetar: “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid!” Cut Nyak Dhien sesungguhnya sempat heran mengapa Umar bisa terbunuh.

Ia tahu, suaminya adalah ahli strategi ulung dan jarang bertindak gegabah. Apalagi Meulaboh merupakan kampung kelahiran Umar, pastinya ia sudah amat memahami medan. Kecurigaan Cut Nyak Dhien pun muncul. Ada pengkhianat yang memberikan bocoran kepada musuh.

Berperang Sejak Belia

Teuku Umar lahir di Meulaboh tahun 1854. Ayahnya, Teuku Achmad Mahmud, adalah seorang uleebalang (kepala daerah). Sementara ibundanya berasal dari lingkungan istana kerajaan di Meulaboh. Dalam buku Ensiklopedi Pahlawan Nasional yang disusun Julinar Said dan kawan-kawan (1995) disebutkan, dari garis ayahnya, Teuku Umar berdarah Minangkabau (hlm. 14).

Antara keluarga Teuku Umar dengan tanah rencong memang terikat terjalin kedekatan sejak dulu. Umar keturunan Datuk Makhudum Sati orang kepercayaan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang diberi wewenang untuk memimpin wilayah Pariaman di Sumatera Barat sebagai bagian dari Kesultanan Aceh kala itu (Ragil Suwarna Pragolapati, Cut Nya Dien, Volume 1, 1982:130).

Sejak 1873, saat Perang Aceh mulai berkobar, Teuku Umar turut mengangkat senjata untuk mengusir kaum penjajah dari Serambi Mekkah. Kala itu, usianya baru 19 tahun. Keberanian dan ketangkasannya membuat pamor Umar muda melejit. Bahkan, pada umur sebelia itu, ia sudah dipercaya menjadi kepala kampung atau keuchik gampong.

Teuku Umar menikahi Cut Nyak Dhien pada 1880. Sebelumnya, Umar sudah punya dua istri, yakni Nyak Sofiah, anak seorang uleebalang yang dinikahinya pada 1874, kemudian kawin lagi dengan Nyak Mahligai, putri salah satu pemimpin rakyat Aceh yang disegani, Panglima Sagi XXV Mukim. Kendati begitu, Teuku Umar tetap memberanikan diri untuk melamar Cut Nyak Dhien.

Muchtaruddin Ibrahim (1996) dalam buku berjudul Cut Nyak Din menuliskan bahwa Umar memang sangat mengagumi sosok perempuan pemberani yang juga masih kerabatnya itu (hlm. 38). Pernikahan Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien disambut dengan gembira dan dirayakan dengan upacara yang cukup meriah.

Kabar ini pun didengar oleh pemerintah Belanda di Kotaraja, Banda Aceh. Mereka menyadari bahwa pernikahan itu sama halnya dengan penggabungan dua kekuatan besar yang berpotensi membahayakan.

Gerak “Liar” Teuku Umar Teuku Umar bukan hanya pejuang yang tangkas dalam berperang. Ia juga seorang yang sangat cerdas meskipun tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Taktik dan manuvernya yang tak terduga dan mengejutkan seringkali membuat orang heran sekaligus bingung, termasuk istrinya sendiri, Cut Nyak Dhien.

Tahun 1883, Teuku Umar berdamai dengan Belanda. Ia bahkan masuk dinas militer Belanda. Gaya Umar ini bertolak belakang dengan karakter istrinya, Cut Nyak Dhien. Hingga akhir Perang Aceh kelak, Dhien tidak sudi takluk kepada bangsa asing yang telah menginjak-injak tanah kelahirannya. Namun, dengan terpaksa, ia menyetujui langkah Umar kendati terus mengikuti gerak-gerik suaminya itu.

Pada 1884, sebuah kapal milik Inggris terdampar di perairan Aceh. Kapal bernama Nesisero (atau Nisero) beserta kapten dan seluruh awak kapalnya itu disandera oleh penguasa kawasan tersebut, Teuku Imam Muda Raja Teunom (Ibrahim, 1996: 48).

Raja Teunom meminta tebusan dalam jumlah besar jika ingin para tawanan beserta kapalnya dibebaskan. Gubernur Aceh, Laging Tobias, panik karena persoalan ini telah memperburuk hubungan Belanda dengan Inggris.

Maka, Teuku Umar diminta untuk segera mengatasi masalah ini lantaran Belanda enggan membayar tebusan. Umar yang sesama orang Aceh diharapkan bisa melunakkan Teuku Imam Muda Raja Teunom.

Teuku Umar pun berlayar dengan 32 orang anak buahnya dan pasukan Belanda ke Teunom. Prof. Dr. M. Dien Madjid (2014) dalam buku Catatan Pinggir Sejarah Aceh: Perdagangan, Diplomasi, dan Perjuangan Rakyat, menyebutkan, dalam perjalanan, para prajurit Belanda itu dibunuh, senjata mereka pun dirampas.

Belanda juga semakin berpolemik dengan Inggris karena gagal membebaskan para sandera. Inggris terpaksa membayar 100.000 ringgit sebagai tebusan dan Belanda harus mencabut blokade terhadap Pelabuhan Teunom (hlm. 215). Lain lagi dengan versi Muchtaruddin Ibrahim (1996). Seperti dikutip dari buku Cut Nyak Din, dalam perjalanan pulang setelah dari Teunom –meskipun belum berhasil membebaskan sandera– terjadi perselisihan antara pihak Umar dengan kapten kapal Belanda yang membawa rombongan itu (hlm. 48).

Setelah kejadian tersebut, Teuku Umar tidak kembali ke kubu Belanda, melainkan pulang ke markas rakyat Aceh yang dipimpin Cut Nyak Dhien. Kepulangan Umar membawa tambahan persenjataan dan barang-barang berharga yang dirampas dari kapal Belanda. Ada kemungkinan, orang-orang Umar juga menghabisi lawan-lawannya di kapal itu.

Belanda Tertipu Lagi

Kembalinya Teuku Umar disambut gembira sekaligus lega oleh Cut Nyak Dhien dan rakyat Aceh yang dipimpinnya. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 14 Juni 1886, Teuku Umar memimpin pasukannya menyergap kapal Hok Canton yang ternyata juga milik Inggris. Umar menyerbu kapal tersebut karena dicurigai mengangkut senjata yang akan dijual secara ilegal. Inggris pun lagi-lagi dibuat marah dan mendesak Belanda untuk menuntaskan masalah ini. Belanda, demi memperbaiki hubungan dengan Inggris setelah kegagalan sebelumnya, terpaksa bersedia membayar tebusan kepada Teuku Umar sebesar 25 ribu ringgit (Mardanas Safwan, Teuku Umar, 2007: 22).

Kekuatan finansial pasukan Aceh pun bertambah lagi. Namun, pada 1893, Umar dan 15 orang panglimanya tiba-tiba menyerahkan diri kepada Belanda. Tak pelak, Cut Nyak Dhien terkejut sekaligus malu bahkan marah dengan kelakuan suaminya itu. Namun, Umar pastinya sudah punya siasat khusus. Belanda ternyata masih percaya kepada Umar dan menerimanya kembali.

Sosok Umar memang amat berharga dan sangat berpengaruh. Terlebih, menurut Ibrahim Alfian (1987) dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912, dikutip dari tulisan Dr. Razali Muhammad Ali berjudul “Strategi Muslihat Pahlawan Aceh” (Serambi Indonesia, 2016), Umar dan para pengikutnya mengucapkan sumpah setia kepada Belanda. Teuku Umar pun diperintahkan memimpin ratusan prajurit Belanda bersenjata lengkap untuk menumpas perlawanan rakyat Aceh.

Sekali lagi, Umar menunjukkan kepiawaiannya dalam bersiasat. Di depan mata Belanda, ia tampak benar-benar melawan rakyatnya sendiri, namun yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Bahkan, lagi-lagi Belanda dipecundangi. Pasukan Umar membawa lari 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg mesiu, 5000 kg timah, uang tunai, dan peralatan perang lainnya, untuk menambah kekuatan rakyat Aceh (S.M. Dumadi, Mengenal Pahlawan Nasional Kita: Teuku Umar, 1975: 34).

Gugurnya Teuku Umar

Tertipu dua kali membuat Belanda sangat geram terhadap Teuku Umar. Bahkan, perkara ini berujung dengan pemecatan Christoffel Deykerhoff, Gubernur Aceh yang menjabat sejak 1892. Penggantinya, Jacobus Augustinus Vetter, memberikan ultimatum untuk menyerahkan kembali semua yang dilarikan Umar. Namun, peringatan itu tidak digubris.

Pasukan Teuku Umar sendiri semakin kuat setelah bergabung dengan pasukan Panglima Polem pada 1898. Dua pahlawan besar dari tanah rencong ini bersama-sama menghadap penguasa Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), untuk menyatakan sumpah setia.

Di kubu lawan, Belanda sedang sibuk menyusun rencana untuk menghentikan sepak-terjang Teuku Umar, sekaligus demi membalas dendam. Gubernur Aceh pengganti Vetter yang bertugas sejak 1898, Joannes Benedictus van Heutsz, memutuskan untuk melancarkan serangan besar-besaran demi menghabisi Umar. Serbuan membabi-buta yang dilancarkan Belanda membuat pasukan Teuku Umar terdesak dan harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit untuk menghindari serangan. Perjuangan kali ini sangat berat dan melelahkan.

Banyak anak buah Umar yang meninggal karena keletihan, kelaparan, hingga sakit. Belum lagi medan yang sulit ditambah gangguan dari binatang-binatang liar nan buas. Hingga akhirnya, sampailah Teuku Umar dan pasukannya di suatu daerah permukiman. Umar bersyukur karena pasukannya bisa sejenak beristirahat dan mengisi perut. Namun, perjalanan harus segera dilanjutkan. Tujuannya adalah Meulaboh, kota kelahiran Umar.

Ternyata, ada yang berkhianat. Ada yang melaporkan kepada Belanda saat pasukan Umar beristirahat. Berkat informasi itu, van Heutsz memerintahkan pasukannya untuk mengejar Umar, sementara ia sendiri menunggu di Meulaboh dengan pasukan lainnya (Safwan, 2007:72).

Betapa terkejutnya Umar setibanya di Meulaboh tengah malam tanggal 11 Februari 1899 itu. Di kampung halamannya sendiri, ia disambut tembakan gencar. Pasukannya tidak berkutik karena dari belakang pun menyusul rombongan lawan.

Dalam situasi terjepit dan dihujani peluru, Teuku Umar kena tembak, gugur di tempat. Pang La’ot, ajudan setianya, bersusah-payah menyelamatkan jenazah sang pahlawan untuk dibawanya pulang menghadap Cut Nyak Dhien. Kepada Pang La’ot, di depan jasad suaminya, Cut Nyak Dhien berucap lantang meskipun tetap menahan duka.

"Di tempat itu, arwah Umar akan menyertai kita. Dari sana jugalah kita akan memenuhi tugas-tugas kita seperti yang biasa dilakukan Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi orang kafir, Pang La’ot!” Cut Nyak Dhien bersumpah, tidak akan menyerah kepada Belanda demi menuntaskan dendam Teuku Umar dan membebaskan rakyat Aceh dari belenggu penjajahan.

“Selama aku masih hidup, kita masih memiliki kekuatan, perang ini akan kita teruskan! Demi Allah!”

Catatan: Naskah ini pernah tayang pada 11 Februari 2018 di Tirto.id, pada edisi Mozaik 11 Februari 2019, redaksi mengunggah ulang dengan minor penyuntingan.

Sumber: Tirto.id

Polisi menghadirkan dua tersangka pelaku pelecehan seksual di pesantre, AI (45) dan MY (26), di Mapolres Lhokseumawe, Aceh, Kamis (11/7/2019). | Rahmad /Antara Foto
Lhokseumawe - Kepolisian Resort Lhokseumawe mengungkap kasus pencabulan terhadap 15 santri laki-laki di bawah umur di sebuah pesantren. Pencabulan diduga dilakukan oleh AI (45) pemimpin pesantren dan MY (26) adalah guru pengajian.

Kedua tersangka terancam hukuman cambuk 90 kali karena dijerat dengan Qanun No 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, Namun menurut Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KPPA) Aceh, Muhammad AR, kedua tersangka seharusnya dijerat dengan pasal berlapis termasuk dipenjara.

Muhammad beralasan para tersangka bisa mencari "mangsa" lain setelah menjalani hukuman cambuk dan bebas.

"Kalau hanya cambuk tidak adil, tapi harus tindakan berlapis. Karena kalau pakai hukum cambuk setelah itu bebas, dia tidak malu lagi setelah itu cari mangsa lain," ujar Muhammad dihubungi jurnalis, Kamis (11/7/2019).

Menurut Muhammad, kejadian pencabulan di pesantren tersebut terjadi karena tidak ada pengawasan dari pihak luar. Pimpinan dan guru pesantren, kata dia, secara pribadi atau lembaga harus diawasi.

"Pengawasnya bisa dari Dinas Syariat Islam atau Majelis Permusyawaratan Ulama," tutur Muhammad.

Selama ini, lanjut dia, banyak kasus pelecehan seksual terhadap santri karena tidak ada pengawasan. "Sebenarnya bisa mengawasi setidaknya satu kali dalam sepekan harus menjumpai anak-anak, apakah ada masalah atau tidak.

Atau mereka yang punya masalah dibawa ke psikolog," tutup Muhammad.

Kepala Kepolisian Resort Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan menuturkan kedua tersangka diduga melakukan pelecehan seksual terhadap para santri saat mengajar mengaji. Sementara ini baru lima santri yang telah melapor ke kepolisian.

Dari hasil pengembangan, kepolisian mengungkapkan ada korban 10 santri lain. Sehingga total korban 15 santri laki-laki, semua berusia di bawah 14 tahun.

"Sementara yang sudah dilakukan pemeriksaan ada lima santri yang menjadi korban. Total semua santri yang mendapat perlakuan cabul dari pelaku berjumlah 15 orang," kata Ari Lasta kepada Beritagar.id, Kamis (11/7).

Menurut Ari Lasta, pelecehan seksual diduga terjadi sejak September 2018 hingga kedua tersangka ditangkap beberapa hari lalu.

Tersangka AI (45) melakukan pelecehan seksual terhadap korban R sebanyak lima kali, L sebanyak tujuh Kali, D sebanyak tiga kali, T lima kali, dan A tiga 3 kali. Sementara MY (26) melakukan pelecehan seksual terhadap korban R sebanyak dua kali.

Ari Lasta menyebutkan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan orang tua korban yang masuk kepada kepolisian pada Sabtu, 29 Juni 2019. Dari keterangan awal yang didapat oleh penyidik, korban R menyebut pelecehan seksual terhadapnya dilakukan oleh MY, guru mengajinya di pesantren.

"Kasus ini langsung dikembangkan dengan melakukan pemeriksaan kepada korban yang masih anak-anak dengan memperhatikan psikologisnya serta melakukan gelar perkara hingga akhirnya kedua tersangka ditangkap dan ditahan," kata Ari Lasta.

Kedua tersangka dikenakan pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat dengan ancaman hukuman cambuk paling lama 90 kali atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan.

Hukuman untuk kasus pelecehan seksual di Aceh diatur dalam Qanun No 6 tahun 2014 tentang Hukum Jinayat pada Bagian Keenam tentang Pelecehan Seksual.

Ada dua pasal yang mengatur hukuman pelaku pelecehan seksual. Pertama, Pasal 46 berbunyi, "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan jarimah pelecehan seksual, diancam dengan 'uqubat ta’zir cambuk paling banyak 45 (empat puluh lima) kali atau denda paling banyak 450 (empat ratus lima puluh) gram emas murni atau penjara paling lama 45 (empat puluh lima) bulan".

Sementara Pasal 47 khusus mengatur pelecehan seksual terhadap anak-anak. "Setiap orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah pelecehan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 terhadap anak, diancam dengan 'uqubat ta’zir cambuk paling banyak 90 (sembilan puluh) kali atau denda paling banyak 900 (sembilan ratus) gram emas murni atau penjara paling lama 90 (sembilan puluh) bulan," bunyi pasal tersebut.

Di Aceh, perbuatan tindak pidana atau jarimah yang hukumannya terdapat dalam Qanun Jinayat maka pelaku dijerat dengan Qanun Jinayat. Sementara bagi non-muslim, diperkenankan untuk memilih dijerat dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) ataupun Qanun Jinayat.

Tindak pidana yang diatur dalam Qanun Jinayat adalah khamar (minum minuman memabukkan), maisir (perjudian), khalwat (berduaan dengan pasangan tidak sah), ikhtilath (bermesraan dengan pasangan tidak sah), zina, pelecehan seksual, pemerkosaan, qadzaf (menuduh orang lain zina tanpa bukti), liwath (sesama jenis laki-laki), dan musahaqah (sesama jenis perempuan).

Sumber: beritagar.id

Ilustrasi
Bireuen - Tiga perusahaan internasional akan berinvestasi di bidang hulu minyak dan gas (migas) di lepas pantai Bireun, Pidie Jaya, dan Pidie, Provinsi Aceh. Ketiga perusahaan migas internasional tersebut yakni yakni Repsol, Premier Oil dan Mubadala Petroleum.

"Ketiga perusahaan internasional tersebut nantinya akan berinvestasi tepatnya di wilayahkerja Andaman I, II, dan III pada perairan Selat Malaka," kata perwakilan Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) Wilayah Sumbagut, Yanin Kholison di Bireuen, Kamis (11/7).

Pernyataan itu disampaikannya di sela-sela kuliah umum Pengenalan Industri Hulu Migas di Universitas Almuslim dengan turut menghadirkan pembicara dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).

Ia menjelaskan Repsol telah selesai melakukan seismic 3D di Andaman III dan rencananya pada tahun 2020 akan segera melakukan pengeboran, sementara Premier Oil dan Mubadala masih dalam tahap joint study di Wilayah Kerja Andaman I dan Andaman II.

Humas BPMA, Achyar Rasyidi dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan bahwa kegiatan hulu migas akan berkontribusi pada penciptaan multiefek ekonomi bagi masyarakat Bireuen. "Hadirnya tiga perusahaan internasional yaitu Mubadala Petroleum, Repsol, dan Premier Oil akan membuka lapangan kerja baru dan ini juga akan ikut mendukung program pemerintah daerah untuk mengurangi angka pengangguran," katanya.

BPMA akan memastikan bahwa operasi perusahaan Migas akan membawa kemajuan bagi Aceh dan pengeboran Repsol bisa berkontribusi bagi ekonomi lokal di masa mendatang. | Republika.co.id

Banda Aceh- Ketua DPA Partai Aceh H. Muzakir Manaf menunjuk Pemimpin Redaksi Tabloid Modus H. Muhammad Saleh sebagai Juru Bicara, menggantikan Syardani M. Syarif. Hal ini disampaikan oleh Jubir Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Azhari Cage, melalui rilis yang diterima aceHTrend, Rabu (10/7/2019).

Azhari mengatakan, H. Muzakir Manaf (Mualem), mengangkat dan menetapkan, H. Muhammad Saleh, SE., sebagai Juru Bicara/Ketua Departemen Pencitraan DPA, Partai Aceh Periode 2018-2023.

Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK), Nomor: 078/KPTS-DPA/VII/2019, tanggal 8 Juli 2019, yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal DPA Partai Aceh, H.Muzakir Manaf-H. Kamaruddin Abubakar. H. Muhammad Saleh mengantikan, Syardani M. Syarif (Tgk Jamaika).

“Ketua DPA Partai Aceh, mengucapkan terima kasih kepada Tgk Jamaika atas dedikasi dan pengabdiannya selama ini,” kata Azhari Cage, yang juga Wakil Ketua III/DPA Partai Aceh.

Kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada H. Muhammad Saleh, tak lepas penilaian H.Muzakir Manaf sebagai Ketua KPA dan Ketua Umum DPA Partai Aceh terhadap peran dan dedikasinya sejak 2016 hingga saat ini.

Selain itu, tak lepas dari kemampuan (kualitas) serta profesionalitas, terutama dari aspek komunikasi maupun lobi yang dimiliki Muhammad Saleh.

“Atas berbagai pertimbangan tersebut, Mualem mengajak Muhammad Saleh untuk membantu dan bersama-sama dalam jamaah Partai Aceh. Dia diberi tugas serta tanggungjawab sebagai Juru Bicara,” jelas Azhari Cage.

Tak hanya itu, sebagai Ketua KPA/DPA Partai Aceh, Mualem sangat memahami sosok Muhammad Saleh. Baik sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII) hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta wartawan yang sarat pengalaman. “Dia juga sebagai aktivis 1998 Aceh yang ikut mendorong lahirnya proses perdamaian Aceh.

Sebagai sosok yang komunikatif, Muhammad Saleh juga dinilai memiliki jaringan luas dengan berbagai kalangan di Aceh maupun nasional. Ini tak lepas dari posisinya sebagai mantan Anggota Tim Penasihat Presiden RI BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid (Gusdur) 2000-2021, di bawah kepemimpinan almarhum H. Usman Hasan. Salah satu tugasnya ketika itu adalah, meretas jalan damai untuk Aceh.

“Mualem berharap, kehadiran Muhammad Saleh dapat memberi warna baru dan memperkuat citra Partai Aceh, sebagai partai lokal yang lahir dari rahim MoU Helsinki, 15 Agustus 2019,” ucap Azhari Cage.

Secara politik, bergabungnya Muhammad Saleh sebagai Juru Bicara Partai Aceh, membuktikan bahwa Partai Aceh semakin menjadi partai terbuka untuk berbagai elemen rakyat Aceh.

Itu sebabnya, PA tetap membuka diri bagi seluruh kalangan di Aceh untuk bersama-sama memikirkan nasib dan masa depan Aceh serta kesejahteraan rakyat Aceh, termasuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), menjadi lebih baik. “Muhammad Saleh mewakili unsur profesional yang bergabung ke Partai Aceh,” sebut Azhari Cage. | Acehtrend

Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai poligami tidak dilarang tetapi harus memiliki syarat-syarat yang berlaku. Salah satunya yaitu izin dari istri.

Hal tersebut juga menurut dia berlaku untuk rencana pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Syariat untuk mengesahkan qanun atau peraturan daerah bertajuk Hukum Keluarga yang di dalamnya mengatur tentang pernikahan antara satu laki-laki dengan beberapa perempuan (poligami).

"Poligami tidak dilarang, jangan lupa, tetapi ada syaratnya. Syaratnya tidak mudah. Yaitu harus ada izin istri. Ada istri enggak mau kasih izin suaminya kawin lagi kan sulit. Saya kira kalau bikin qanun juga seperti itu," kata JK di Kantornya, Jalan Merdeka Utara, Rabu (10/7).

Dia menjelaskan tidak mungkin peraturan daerah bertentangan dengan UU Perkawinan. Dalam peraturan tersebut ada menjelaskan bahwa boleh berpoligami asalkan izin istri. Hal tersebut terdapat pada UU Perkawinan Bab 1 tentang Dasar Perkawinan.

Pada pasal 3 ayat 2, yang berbunyi pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Pasal 4 ayat 1 yaitu dalam hal seorang suami akan beristri lebih dari seorang, sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 ayat (2) Undang-undang ini, maka ia wajib mengajukan permohonan kepada Pengadilan di daerah tempat tinggalnya.

Pengadilan pun akan memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristri lebi dari seorang apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan tidak dapat melahirkan keturunan. Sebab itu JK menilai qanun tidak boleh bertentangan pada undang-undang tersebut.

"Karena tidak mungkin qanun bertentangan dengan undang-undang perkawinan yang ada. Undang-undang perkawinan berbunyi itu. boleh asal ada izin istri tidak mudah," kata JK. | Merdeka.com

,
Aceh Besar – Dalam rangka menggalakkan pola hidup sehat bagi masyarakat di wilayah binaan, Kodim 0101/BS melalui Koramil wilayah Kabupaten Aceh Besar membangun ratusan jamban bagi keluarga yang kurang mampu.

Seperti dilaksanakan personel Koramil 11/Darul Imarah yang sedang membangun jamban di rumah keluarga Bapak Junaidi masyarakat Desa Bayu Kecamatan Darul Imarah Kabupaten Aceh Besar, Rabu (10/07/19).

Komandan Kodim 0101/BS Kolone Inf Hasandi Lubis, S.I.P mengatakan, bahwa sasaran yang ditentukan pada pembangunan jambanisasi tersebut merupakan hasil dari survey di lapangan dan koordinasi Babinsa dengan Geuchik desa setempat.

“Sasaran kita tentukan berdasarkan hasil survey dan koordinasi dengan Geuchik desa setempat. Tentu dengan beberapa kriteria yaitu warga yang penghasilannya di bawah rata-rata Upah Minimum Kerja (UMK) dan punya jamban,” paparnya.

Tidak hanya sebagai bentuk kepedulian TNI, lanjutnya, hal ini dapat juga memberikan edukasi masyarakat supaya membudayakan pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan.

“Selain bentuk kepedulian TNI, dengan di buat jamban bisa berikan edukasi masyarakat supaya budayakan pola hidup sehat dan sanitasi lingkungan serta tidak ada lagi yang buang “hajat” di sungai,” ujar Dandim.

Ilustrasi
Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) dugaan tipikor di Kepulauan Riau. Salah satu yang diamankan dalam operasi itu adalah kepala daerah.

"Iya, ada kegiatan tim penindakan di Kepri," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Rabu (10/7).

Namun, Febri belum menjelaskan lebih lanjut soal sosok kepala daerah yang ikut diamankan dalam operasi senyap tersebut. Febri mengatakan Tim saat ini masih berada di lapangan. Sejauh ini belum ada informasi lebih rinci mengenai giat operasi senyap yang telah dilakukan KPK tersebut.

"Nanti info lanjutan akan di-update lagi, tim masih di lapangan," ujar Febri. | CNN

Lhoksukon - Forum koordinasi pemerintah daerah (Forkopimda) Kabupaten Aceh Utara bersama organisasi masyarakat menyerukan agar wanita di bawah usia 17 tahun yang tidak didampingi orangtua dilarang berkeliaran di malam hari.

Perempuan juga tidak dibenarkan berkeliaran pada malam hari, tanpa didampingi suami atau mahramnya. Aturan ini baru saja dideklarasikan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di Masjid Agung Lhoksukon, Rabu, 10 Juli 2019.

Seruan bersama ini bertujuan menegakkan Syari’at Islam di Bumi Malikussaleh, agar penerapan hukum Islam di Aceh Utara berjalan secara kaffah.

Ketua Forum Silaturrahmi Ormas Aceh Utara, Waled Abi Sirajuddin mengatakan, wacana ini nantinya akan dijadikan qanun oleh pemerintah setempat. Hal itu agar memiliki kekuatan hukum tetap.

“Dengan adanya peraturan seperti ini akan mampu membawa Aceh Utara menjadi lebih baik, khususnya dalam bidang pendidikan moril. Jika ini berjalan sesuai harapan maka Aceh Utara akan menjadi kabupaten percontohan,” ujarnya.

Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib mendukung seruan tersebut. Namun, imbauan itu harus dijalankan secara benar, sehingga aturan ini nantinya berdampak positif.

"Ini baru sebatas seruan. Kita imbau agar wanita tidak keluar malam hari jika tak didampingi mahramnya atau orangtuanya,” kata Thaib.

Pihaknya sangat yakin deklarasi dan seruan ormas itu akan didukung penuh oleh lapisan masyarakat. Hal ini didasarkan atas kekhawatiran bersama akan kondisi anak-anak Aceh Utara pada masa mendatang.

Untuk menjalankan aturan itu, Pemkab Aceh Utara menempatkan 10 orang polisi syariah (Wilayatul Hisbah) dan Satuan Polisi Pamong Praja di setiap Kecamatan. | Viva

BANDA ACEH- Jenazah Tgk Abdi Mukassaf tiba di tanah kelahirannya di Gampong Blang, Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie, Senin siang 8 Juli 2019.

Almarhum Tgk Abdi Mukassaf adalah menantu dari Waled Nurzahri (akrab disapa Waled Nu) yang semasa hidup adalah pimpinan dayah Mudi Mekar yang berada di Jati Mekar, kecamatan Jatiasih Kota Bekasi.

Jenazah almarhum tiba di Bandara SIM sekitar pukul 11.00 Wib setelah menempuh perjalan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menggunakan Batik Air.

Setiba di Bandara SIM, Jenazah disambut langsung oleh Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM yang diwakili oleh Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Rohaya Hanum, turut didampingi oleh istri almarhum dan juga keluarga lainnya.

Kemudian, jenazah langsung diberangkatkan menggunakan ambulance Dinas Sosial Aceh menuju Kabupaten Pidie, Meski sebelumnya direncanakan janazah Almarhum dipulangkan ke Bireuen, namun keluarga meminta dikebumikan di desa kelahiran almarhum.

Dari bandara, Jenazah langsung di antar menuju mesjid desa setempat untuk dishalatkan. Prosesi shalat jenazah, langsung dipimpin oleh Abu Ishak Lam Kawe yang tiba tidak lama saat jenazah tiba di desa tersebut.

Sebelumnya, saat proses serah terima jenazah kepada keluarga, Rohaya Hanum dalam sambutannya mengatakan, pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh selalu merespon setiap laporan masyarakat yang diterima, baik berkaitan dengan pemulangan jenazah maupun masalah sosial lainnya.

“Saya atas nama pribadi dan pemerintah Aceh dalam hal ini diwakili oleh Dinas Sosial turut berduka cita atas meninggalnya salah satu putra terbaik Aceh, yang selema ini menjadi penerang bagi umat,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu juga, Rohaya Hanum meminta maaf kepada keluarga almarhum, jika dalam pelayanan pemulangan jenazah ada hal yang kurang berkenaan dimata keluarga.

Selain mengurus semua kebutuhan biaya untuk pemulangan jenazah, Dinas Sosial Aceh juga menyerahkan sumbangan yang diterima langsung oleh ahli waris almarhum[]

ACEH TIMUR- Adalah Aliyah, wanita asal Gampong Aceh, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur bersama suami sudah lama menetap di Jakarta. Ibu dari enam anak ini dalam kurun waktu dua tahun ke belakang  mengidap penyakit Lupus.

Penyakit Lupus kerap menyerang kaum hawa, yaitu  peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh itu sendiri. Penyakit seperti ini disebut juga  penyakit autoimun.

Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.

Pada kondisi normal, sistem imun akan melindungi tubuh dari infeksi. Akan tetapi pada penderita lupus, sistem imun justru menyerang tubuhnya sendiri. Penyebab terjadinya lupus pada seseorang hingga saat ini belum diketahui. Sejauh ini, diduga penyakit yang lebih menyerang wanita dibandingkan dengan laki-laki ini dipengaruhi oleh beberapa faktor genetik dan lingkungan.

Tepat sebelum jam 06.00 Wib pagi Senin 8 Juli 2019, Aliyah mengalami gangguan sel darah, dan Allah berkehendak lain, pagi itu Aliyah meninggal dunia. Dalam waktu tergolong singkat, prosesi pemulangan jenazah segera diselesaikan.

Masih dalam hari yang sama, Pukul 22.00 Wib, Jenazah Aliyah tiba di bandara SIM Blang Bintang dengan pesawat Garuda, sebelumnya pada pukul 15.00 WIB suami almarhumah bernama Abdul Mukhti bersama anaknya lebih dulu mendarat di bandara SIM.

Setibanya jenazah Aliyah disambut langsung oleh Kepala Seksi (Kasi) Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Rohaya Hanum mewakili kepala Dinas Sosial Aceh Drs. Alhudri MM, begitupun satu unit ambulance Dinsos Aceh telah diparkir dengan baik didepan cargo bandara. Peti jenazah Aliyah tiba di cargo yang kemudian langsung diberangkatkan ke gampong Aceh, Idi Rayeuk, Aceh Timur, turut mendampingi tim Dinas Sosial Aceh yaitu Abdul Mukhti bersama anaknya.

Rohaya Hanum saat setelah menyelesaikan proses administrasi cargo, kepada suami almarhumah Aliyah, ia berpesan agar sabar dan selalu tabah dalam menerima ujian yang paling berat dalam kehidupan keluarga besar Abdul Mukhti.

“Saya atas nama pemerintah Aceh, kami turut beruduka cita atas meninggal istri dari Abdul Mukhti,” ujar Rohaya.

Abdul Mukhti sendiri bersama anaknya tamoak sedih dan tak sanggup membendung air matanya, wajar, wanita hebat yang selama ini menjadi harapan besar keluarganya kini telah pergi selamanya.

Syahdan, setiba jenazah di kediamannya di Aceh Timur, sudah ditunggu oleh sejumlah keluarga dan anak-anaknya, tangis haru kembali tak terbendung saat pintu ambulance dibuka dan peti jenazah diturunkan.

Jenazah tiba pada Selasa subuh, 9 Juli 2019 yang diatar langsung oleh tim Dinas Sosial Aceh.

Dihadapan keluarga almarhumah, Dinas Sosial Aceh juga menyerahkan sumbangan duka, bukan hanya itu, Dinsos Aceh juga menyerahkan bantuan berupa beras dan sembako lainnya untuk membantu keluarga tersebut yang tergolong kurang mampu.

Bareskrim Polri rilis kasus penyelundupan 50 kg sabu
Jakarta - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menggagalkan upaya penyelundupan narkotika jenis sabu di beberapa wilayah. Salah satunya, petugas penyelundupan sabu seberat  50 kilogram di jalur Lintas Sumatera.

Wakil Direktur Narkoba Bareskrim Polri Komisaris Besar Polisi Krisno Siregar menyampaikan, pembawa 50 kilogram sabu itu merupakan jaringan asal Malaysia-Bengkalis-Pekanbaru-Jakarta.

"Mereka masuk lewat Lintas Sumatera, mobil Xenia plat BK artinya dari Medan, menuju sana. Sempat kejadiannya dinihari pukul 01.00 WIB sampai 04.00 WIB pagi, sempat terjadi kejar-kejaran di jalan tersebut," kata Krisno di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 9 Juli 2019.

Krisno merinci, pengungkapan tersebut berawal dari pengadangan mobil pembawa sabu pada 18 Juni 2019 di kawasan Bengkalis, Riau. Namun, kendaraan tersebut berhasil lolos.

Penyidik mendapat informasi dari warga bahwa ada sejumlah barang bukti sabu yang dibuang dari mobil tersebut ke selokan. Pengejaran dilakukan hingga kendaraan tersebut ditemukan di dalam hutan.

Pada 19 Juni 2019, tim berhasil meringkus satu tersangka berinisial JO yang bersembunyi di dalam hutan. Pengembangan pun berlanjut hingga penyidik menangkap RO yang menyerahkan diri lantaran dibujuk oleh JO.

Pada 21 Juni 2019, tim meringkus tersangka AW di sebuah hotel kawasan Pekanbaru, Riau. Dia mengaku akan membawa sabu dari Pekanbaru ke Jakarta dengan dibantu tersangka lainnya, KTR dan DN.

Penyidik pun menciduk KTR dan DN di dalam sebuah bus yang berada di Jalan Lintas Timur, Indragiri Hulu, Riau. Selanjutnya, petugas segera menangkap tersangka WW yang mengendalikan di Jakarta.

"Ini yang pertama, 22 kilogram sabu dan 10 ribu butir ekstasi di Bengkalis, Riau. Ada enam tersangka yang kami tangkap berkelanjutan," kata Krisno.

Dari rangkaian penangkapan tersebut, penyidik sampai kepada informasi ada jaringan narkoba Malaysia-Dumai-Medan yang sedang beraksi di sekitar Pelabuhan Dumai.

Tim pun melakukan penyisiran kendaraan dan orang yang dicurigai sebagai pemain narkoba itu. Masuk Jumat 28 Juni 2019, penyidik melakukan pengadangan sebuah mobil di Jalan Raya Gatot Subroto, Kota Dumai, Riau.

Kendaraan tersebut berupaya menerobos dan terjadi aksi kejar-kejaran di jalur Lintas Sumatera tersebut. "Mobil yang kami kejar sempat terbalik dan meledak. Beruntung yang bersangkutan (tersangka) hidup," kata Krisno.

Saat digeledah, tersangka berinsial AK membawa 50 kilogram sabu yang dipecah dalam tiga buah tas.

Atas perbuatannya, para tersangka terancam hukuman maksimal pidana mati atau kurungan penjara seumur hidup. | Vivanews

BNNP, Polda dan Bea Cukai Sumut memaparkan dua WNA Malaysia dan tiga pengedar berikut barang bukti 6 kg sabu di Kantor BNNP Sumut, Jalan William Iskandar, Medan Estate, Kabupaten Deliserdang, Selasa (9/7/2019).(Foto/SINDOnews/M Andi Yusri)
MEDAN - Penyelundupan 6 kilogram (kg) narkotika jenis sabu-sabu melalui jalur laut di Perairan Selat Malaka wilayah Indonesia berhasil digagalkan petugas Tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional Propinsi (BNNP) Sumatera Utara (Sumut), Polda Sumut dan Kanwil Bea dan Cukai Sumut. Dua warga negara (WN) Malaysia turut dibekuk.

Kepala BNNP Sumut, Brigjen Pol Atrial mengatakan, penyelundupan narkotika dari tangan dua WNA Malaysia berhasil digagalkan."Dua WN Malaysia yang berhasil diamankan yakni YBL (55), dan OCP (56), warga Kuala Kurau, Perak, Malaysia," terangnya di Kantor BNNP Sumut, Jalan Williem Iskandar, Pasar V Barat I, Medan Estate, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Selasa (9/7/2019).

Dikatakan Atrial, barang haram ini nantinya akan diterima oleh tiga WN Indonesia, yang diduga akan diedarkan di Medan juga berhasil diamankan petugas."Ketiganya masing-masing pasutri AV (32) dan RS (30), warga Perumahan Pinang Baris Permai, Medan, serta SR (29), warga Perumahan Bayu Mas Indah, Jalan Pasar III Tapian Nauli, Medan," ungkapnya.

Atrial menjelaskan YBL dan OCP ditangkap tim gabungan di Perairan Gosong Siguna-guna, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, saat berada di atas speedboat pada Senin (1/7/2019) sekitar pukul 23.00 WIB. Petugas menemukan 6 kilogram sabu-sabu di dalam speedboat yang digunakan kedua WN Malaysia. "Mereka juga mengamankan dokumen milik YBL dan OCP, serta 2 unit handphone," jelasnya.

Dari pemeriksaan diketahui, OCP berperan sebagai tekong. Sementara YBL bertugas menyiapkan dan mengatur serah terima barang. Keduanya mengaku sabu-sabu dibawa dari Pantai Kurau, Perak, Malaysia. Mereka mendapat perintah dari Mr X yang berada di Malaysia. 

"Penangkapan itu kemudian dikembangkan. Petugas melakukan control delivery narkotika itu ke Medan. Mereka menangkap seorang kurir penerima barang, yakni AV di Kamar 201 Penginapan Jangga House, Jalan Sei Tuan, Medan pada Jumat (5/7/2019) sekitar pukul 22.30 WIB. RS merupakan istri AV juga diringkus, karena diduga turut terlibat," pungkas Atrial. [Sindonews]

Aceh Besar – Komandan Kodim 0101/BS Kolonel Inf Hasandi Lubis, S.I.P mewakili Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) menghadiri penanaman 3.000 bibit tanaman Mangrove di Desa Lamnga Kecamatan Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar, Selasa (09/07/19).

Penanaman tersebut dilakukan dalam rangka Gerakan Nasional Peduli Mangrove yang mengusung tema “Mangrove Lestari, Lingkungan Asri, Masyarakat Sejahtera”

Dandim 0101/BS disela-sela kegiatan mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan seperti ini, karena selain untuk menjaga kelestarian alam, penanaman ini juga dapat memberikan kontribusi keamanan khususnya di wilayah pesisir.

“Kami sangat dukung kegiatan seperti ini, karena selain kelestarian alam terjaga, hal ini juga dapat berikan kontribusi keamanan khususnya di wilayah pesisir dengan mengurangi dampak dari abrasi, badai dan angin siklon,” ujarnya.

Hal itu dikarenakan akar dari tanaman Mangrove tersebut mampu mengikat dan memperkuat struktur tanah sehingga tanah menjadi kuat dan kokoh tidak mudah longsor.

“Selain itu manfaat penting lainnya yang tidak begitu diketahui masyarakat yakni manfaat ekologis berperan juga dalam mengurangi zat pencemar udara dan penghasil oksigen melalui proses fotosintesis,” imbuhnya.

Penanaman tersebut diikuti 190 orang dari berbagai unsur diantaranya Balai Pemantapan kawasan hutan (BPKH) wilayah XVIII, Balai pengolahan hutan produksi (BKSDA), Balai Pengolahan Hutan Produksi (BPHP), Personel BPDASHL Krueng Aceh, Kelompok Formaslima dan Masyarakat Pemerhati Lingkungan. 

Juga turut dihadiri Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 0101/BS Mayor Inf Issukandar, S.Ag, Danramil 05/Mesjid Raya Mayor Inf Kristianto P.P.W, Camat Mesjid Raya Akbar Mubarak S.STP, Kapolsek Mesjid Raya Iptu Ading Surya Diningrat, Geuchik Desa Lamnga, Personel Koramil 05/Mesjid Raya dan Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVII PD Iskandar Muda Ny. Hasandi Lubis beserta Pengurus.

Jakarta - Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri [SBMPTN] telah diumumkan. Di antara 168.721 peserta yang lolos seleksi, ada banyak nama yang familier dengan dunia olahraga, seperti Ronaldo dan Valentino Rossi.

Dengan merujuk pelaksanaan SBMPTN 2019, maka peserta yang ikut adalah siswa kelahiran akhir 90-an dan awal 2000-an. Karena itu tak salah bila ada sejumlah nama yang memakai nama-nama pemain bintang.

Salah satu nama siswa yang lolos adalah Ronaldo. Bila merujuk waktu kelahiran, maka Ronaldo yang jadi referensi adalah Ronaldo Brasil yang saat itu tengah fenomenal bersama Brasil, Inter Milan dan kemudian Real Madrid.

Total ada 61 nama peserta yang lolos seleksi yang menggunakan nama 'Ronaldo' dalam nama lengkap mereka.

Bukan hanya Ronaldo, nama-nama bintang sepak bola yang tengah tenar di akhir 90-an dan awal 2000-an pun turut hadir dalam daftar seleksi siswa yang lulus di SBMPTN.
Foto: SBMPTN
Nama 'bintang sepak bola' lain yang turut hadir dalam pengumuman SBMPTN adalah Syahrul Zidane As Sidiq, Deardo Beckham Damanik, Owen Rahadian Sundau, Figo Azzam de Fitrah, Erix Cantona, Aditya Rivaldo, Batistuta Dewa Ramadhan, Gabrielle Ricky Batistuta Hadiyanto, Adelia Totti Kartikasari, dan Abdul Rizki Zanetti.

Untuk tiap nama di atas, tak hanya terdapat 1-2 orang saja, melainkan banyak siswa lainnya.

Di periode tahun kelahiran anak-anak tersebut, Zidane tengah berjaya bersama Prancis dan Real Madrid, David Beckham melejit bersama Manchester United, Eric Cantona baru saja pensiun dengan status sebagai Raja Manchester.

Nama mantan gelandang Man United, Ryan Giggs, juga terdapat dalam daftar peserta yang lulus perguruan tinggi negeri tersebut.
Foto: SBMPTN
Sementara itu Gabriel Batistuta adalah dewa gol di Liga Italia, Francesco Totti adalah 'pangeran muda' AS Roma, dan Javier Zanetti adalah ikon inter Milan. Ada pula peserta lulus lainnya yang memakai bintang Milan dan Juventus, Andrea Pirlo.

Tak hanya itu, masih ada sejumlah anak yang mengenakan nama 'Maradona' dalam nama lengkap mereka, seperti Mirda Maradona Saputra, dan Mario Maradona.

Bukan hanya nama bintang sepak bola, nama pebalap top Valentino Rossi juga ada dalam daftar siswa yang lolos SBMPTN.
Foto: SBMPTN

Di awal 2000-an, sosok Valentino Rossi adalah sosok fenomenal. Ia disebut sebagai ikon baru MotoGP sepeninggal Mick Doohan yang pensiun.

Dari dalam negeri, juga terdapat nama Bambang Pamungkas yang identik dengan nama bomber Persija Jakarta. Di tahun 2001, Bambang Pamungkas baru saja membawa Persija Jakarta juara.

Pengumuman lengkap hasil SBMPTN bisa dicek di sini.

Tim BKSDA Aceh mengamati pohon pisang tertimpa kabel listrik di Gampong Seurkey, Kecamatan Langkahan, yang diduga sebagai lokasi awal matinya gajah karena tersengat arus listrik, Senin (8/7/2019). (ANTARA/HO/KSDA Wil I Lhokseumawe)
Lhoksukon - Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengevakuasi kerangka gajah yang ditemukan di Gampong (Desa) Seureukey, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang diduga mati tersengat arus listrik.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Lhokseumawe, Kamarudzaman di Lhokseumawe, Selasa mengatakan, gajah yang mati itu hanya menyisakan tengkorak tanpa kulit dan daging.

"Tim sudah mengevakuasi kerangka gajah mati ke Kantor KSDA Wilayah l Lhokseumawe kemarin sore (Senin), dan yang ditemukan tersisa di lokasi hanya tengkorak gajah," kata Kamarudzaman.

Hasil identifikasi pihaknya, sambung Kamarudzaman, gajah itu mati sekitar satu bulan lalu dan diduga kuat tidak ada unsur kesengajaan yang dilakukan manusia.

Menurutnya, gajah tersebut mati diduga saat memakan pohon pisang, yang kebetulan ada kabel listrik bertegangan tinggi jatuh menimpa pohon pisang itu, karena lokasinya berada di pingir jalan.

"Hasil identifikasi yang dilakukan tim, gajah itu mati diduga tersengat arus listrik, kalau kita lihat bukan ada kesengajaan, dan lokasi penemuan berada di pinggir jalan," sebut Kamarudzaman.

KSDA Wilayah I Lhokseumawe berharap, semua pihak untuk ikut berpartisipasi dengan melaporkan ke pihaknya, jika ke depannya mengetahui ada satwa langka dilindungi yang alami hal serupa dan kecelakaan lainnya.

"Kita sangat berharap peran serta partisipasi masyarakat dalam menjaga habitat satwa langka yang dilindungi, salah satunya dengan memberi laporan bila kejadian serta hal-hal seperti ini terjadi lagi," demikian Kamarudzaman.

Kerangka gajah itu pertama kali ditemukan warga setempat, kemudian kabar itu diberitahukan ke BKSDA. 
| ANTARA
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.