2015-12-20

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Pembangunan areal Monumen Kapal di atas rumah, di Lampulo, Banda Aceh, NAD. Pemda berupaya mengembangkan sisa bencana tsunami menjadi obyek wisata.(Antara)
Banda Aceh -  Saiful Yusri (62) merupakan salah satu saksi mata yang selamat dari bencana tsunami Aceh pada 2004 lalu. Dia dan 30 warga Desa Lampulo, Banda Aceh lainnya selamat setelah berlindung di kapal ikan yang karam di atas atap rumah warga.

Minggu 26 Desember 11 tahun silam, Saiful bersama istri dan anaknya sedang berada di rumah saat gempa berkekuatan 8,9 skala Ricter tiba-tiba menguncang bumi Serambi Mekah. Saat itu warga berhamburan keluar rumah.

Saat mereka masih dibuat syok dengan goncangan gempa besar itu, tiba-tiba gelombang hitam dengan cepatnya datang dan menghempas permukiman warga."Saat itu semua warga panik dan berlarian dikejar gelombang tsunami, saya, istri, dan anak-anak saya terhempas air gelombang hingga terdampar di rumah Ibu Basyariah, dan kami naik ke lantai dua," kata Saiful Yusri di Banda Aceh, Sabtu (26/12/2015).

Namun air terus memenuhi rumah lantai dua itu hingga hampir mencapai atap. Karena terdesak, seorang warga mencoba membuka seng atap rumah itu. Lalu ke 30 warga yang berada di rumah itu naik ke atap.

"Saat itu kami sudah pasrah, satu sama lain sudah bersalam memohon maaf, yang ada di benak kami dunia sudah kiamat," ujar dia.

Namun, sambung Saiful, ketika dirinya telah benar-benar pasrah, tiba-tiba pertolongan itu datang. Sebuah kapal ikan tanpa kendali melaju menghampiri mereka. Hingga kapal sepanjang 30 meter tersebut akhirnya bertengger di atap rumah milik Basyariah.

Warga pun berbondong-bondong naik ke kapal. Saat menaiki bahtera itu, warga menemukan seorang awak kapal yang sedang tertidur lelap di sana.

"Selain kami 30 orang warga di sini, ternyata di atas kapal ada satu orang yang awak kapal sedang tertidur lelap. Begitu mengetahui kapalnya sudah berpindah dari pinggir pantai ke atap rumah warga, ia langsung panik dan terdiam," tutur Saiful.

Berkat pertolongan kapal ikan itu ketiga puluh warga dan awaknya selamat. Kini kapal tersebut diberi nama 'Kapal Nuh di atap rumah warga'.

Setiap bencana pasti ada berkah dan hikmah tersendiri. Begitu juga dengan Saiful Yusri, dia kini mendedikasikan dirinya untuk Kapal Nuh tersebut.

Saiful dengan setia mendampingi para wisatawan yang datang ke lokasi dan menceritakan kisah kapal pertolongan itu hingga bisa bertengger di atap rumah warga.

"Saya melakukannya tengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Kapal ini telah menolong saya, dan saya bercerita agar pengunjung mendapat hikmah tersendiri untuk kehidupannya setelah berkunjung ke sini," ujar Saiful.

Kini saban hari dia ada di Kapal Nuh yang telah dijadikan salah satu situs tsunami itu.

"Rezeki yang datang ada sendiri, tanpa meminta, sebagian wisatawan ada yang memberikan saya sumbangan, mungkin karena mereka puas mendengar cerita dan penjelasan saya mengenai kapal ini," kata Saiful.

Kapal Nuh ini juga memberi dampak ekonomi lebih pada warga sekitar. Mereka memanfaatkan ramainya kunjungan wisatawan dengan menjual suvenir dan makanan ringan.

"Masyarakat di sini sudah sadar wisata, dengan menjaga keamanan, kebersihan lokasi kapal ini, sebagian berjualan, ada yang jadi guide," ucap dia.

Saiful percaya, setiap bencana pasti ada hikmahnya. Termasuk tsunami Aceh 2004 lalu. Dia bertekad untuk terus memperbaiki hidupnya tanpa terus meratapi musibah 11 tahun silam.

Sumber: liputan6.com

Pria Turki yang hendak bunuh diri di jembatan Bosphorus (Yasin Bulbil/Turkish Presidential Press Office/AFP)
Istanbul - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berhasil membujuk seorang pria yang hendak bunuh diri. Rombongan Erdogan tak sengaja melintasi Jembatan Bosphorus di Istanbul, ketika melihat ada seseorang yang hendak melompat dari jembatan itu.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (26/12/2015), pria yang tidak disebutkan namanya itu tengah bersiap untuk melompat bunuh diri di jembatan yang menghubungkan bagian Turki bagian Eropa dengan bagian Asia, ketika rombongan Erdogan melintas usai salat Jumat (25/12).

Tayangan berita setempat menunjukkan rombongan Erdogan berhenti di tengah jalan ketika melihat pria itu tengah dibujuk oleh sejumlah personel kepolisian setempat agar mengurungkan niatnya.

Beberapa pengawal Erdogan lantas terlihat mendekati pria itu dan membujuknya untuk berbicara dengan Erdogan, yang menunggu di dalam mobil. Ketika pria itu bersedia berbicara dengan Erdogan, beberapa pengawal membawanya mendekati mobil dinas Erdogan yang berhenti di tengah jalan.

Pria itu berbicara sebentar dengan Erdogan yang tetap duduk di dalam mobil dan kemudian terlihat mencium tangan Erdogan, yang merupakan wujud hormat. Dilaporkan Dogan News Agency, pria itu kemudian dikawal ke tempat yang aman. Rombongan Erdogan pun melanjutkan perjalanan.

Polisi setempat sudah selama 2 jam berusaha membujuk pria itu agar mengurungkan niatnya bunuh diri. Pria itu meninggalkan begitu saja mobilnya di jembatan dan memanjat pagar pembatas.

Disebutkan juga oleh Dogan News Agency, bahwa pria itu sudah lama menderita depresi akibat masalah keluarga. Jembatan Bosphorus yang ikonik dan membentang pada ketinggian 64 meter itu, kerap dijadikan lokasi bunuh diri.(detik.com)

Foto: Pasca Tsunami Aceh 2004
 Oleh: Jasiran
 
StatusAceh.Net - Musibah Tsunami yang menimpa rakyat Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan bencana alam terbesar pada abad ini. Selain menyebabkan kehilangan dan kematian ratusan ribu jiwa, juga meninggalkan puluhan ribu anak yatim dan janda serta kerusakan infrastruktur yang parah. Tingginya angka kematian di aceh mencapai 236.116 jiwa (Serambi Indonesia, 19 Pebruari 2005).

Pasca tsunami masuknya lembaga NGO dan bantuan-bantuan sosial kemanusiaan yang memusatkan perhatian negara di dunia. Selain itu, masuknya budaya luar yang menggrogoti adat dan budaya aceh yang melanggar standar dan nilai masyarakat aceh.

Melihat kondisi masyarakat aceh sebelum tsunami sangat mengedepankan nilai-nilai kebudayaan. Karakter masyarakat aceh pada saat itu belum terkontaminasi dengan budaya luar, sehingga tingkat kehidupan comunality dan kehidupan gotong royong tetap eksis.proses rekonstruksi sepatutnya juga disesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Selama ini kita mengenal Aceh sebagai salah satu daerah yang memegang teguh agama sehingga nilai-nilai agama seyogyanya menjadi dasar dalam setiap tindakan kebijakan. Selain dari itu karakter masyarakat aceh juga cenderung lebih lembut dan ramah sesuai dengat adat kebiasaan orang Aceh.

Kehidupan masyarakatAceh yang berada dalam lingkaran musibah tsunami, telah mengakibatkan semua masyarakat Aceh trauma dan dipenuhi dengan rasa ketakutan.Sebelumnya kita harus mengenal bagaimana karakter asli masyarakat Aceh sebelum tsunami dikenal dengan sikap militansi dan loyalitas.

Namun pasca tsunami terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap watak masyarakat Aceh lebih suka menerima ketimbang memberi hal ini lebih jelasnya banyak bantuan-bantuan sosial yang membuat karakter masyarakat Aceh malas.

Hal itu dapat di lihat maraknya para pengemis yang berkeluyuran di sejumlah ruas jalan di sekitar kota Banda Aceh. Kebanyakan dari mereka datang dari berbagai daerah di Aceh hanya untuk berprofesi sebagai tunawisma. Padahal tidak semua kalangan pengemis itu cacat fisiknya, tapi banyak juga dari mereka yang memiliki kesehatan jasmani untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

beberapa waktu lalu masyarakat Aceh di hebohkan dengan seorang pengemis yang membuka lapak judi berupa lembar botol dengan gelang dan memiliki aset kekayaan sebesar Rp.14,584 juta, 37 Ringgit Malaysia, satu paspor, sejumlah botol, puluhan gelang dan satu unit handphone.(Serambi Indonesia,29/7/15).

Alangkah baik nya pengemis itu ditampung oleh lembaga yang berwenang seperti dinas sosial untuk diberi pembinaan dalam bentuk pelatihan keterampilan/softkill bagi mereka.
Pada sisi lain, Masyarakat Aceh mengalami perubahan dalam berbagai bidang seperti sosial-budaya, ekonomi, infrastruktur dan lingkungan.

Terutama pada Perubahan sosial budaya terdapat pada pandangan masyarakat Aceh terhadap petuah atau kebiasaan-kebiasaan yang telah turun-temurun berlaku dalam masyarakat. Petuah atau kebiasaan yang dinamakan adat-istiadat (kebudayaan) itu kini mulai dikesampingkan oleh generasi muda kita dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang ekonomi jelas terlihat bahwa adanya peningkatan income perkapita daerah Aceh. Masuknya investor-investor dari luar ke tanah rencong untuk menanamkan saham mereka. Dengan demikian, ekonomi masyarakat Aceh bertambah jika dilihat pasca tsunami. Dibuktikan dari  Jumlah penduduk miskin di Aceh pasca tsunami, yakni pada tahun 2004 menurut BPS Aceh yang mencapai 28,4 %, perlahan-lahansetiap tahunnya mengalami penurunan, dan data terakhir BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di Aceh pada Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau 17,08 %.

Disitu terlihat adanya peningkatan ekonomi rakyat aceh semakin berkembang pasca tsunami. Namun, sangat disayangkan ketika banyaknya bantuan dan meningkatnya taraf perekonomian masyarakat Aceh. Pola pikir masyarakat kita sekarang sudah mulai terfokus pada ekonomi kapitalismeyang ikut melemah nilai-nilai adat dan tradisi sosial budaya masyarakat Aceh.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjaga tanah Aceh tercinta dengan penguatan akidah dan pendidikan moral sejak usia dini. Rekonstruksi karakter masyarakat Aceh juga harus didasari oleh kontrol sosial masyarakat. Pemerintah Aceh juga perlu perhatian penuh dan tanggung jawab atas dilema masyarakat Aceh 11 tahun yang lalu.

Selain itu, Peran serta dari masyarakat juga harus perlu dioptimalkan, sehingga penguatan karakter generasi muda yang sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku di Aceh terus terjaga dengan baik. Bahkan, keluarga pun perlu untuk memberikan pendidikan awal didalam keluarga dalam rangka terbinanya watak yang ideal terhadap norma-norma yang berlaku. Besok tepat pada tanggal 26 Desember 2015, Mari sama-sama kita mengenang kembali tragedi yang melanda rakyat Aceh pada peringatan 11 Tahun Tsunami.

Penulis : Jasiran Mahasiswa Sosiologi Fisip Unsyiah

Sekretaris Daerah Aceh, Dermawan MM menyerahkan santunan kepada anak yatim pada kegiatan tausiah dan zikir bersama untuk mengenang korban tsunami di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat 25 Desember 2015 malam.
Banda Aceh - Dalam rangka peringatan 11 tahun bencana Tsunami,  Pemerintah Aceh menyerahkan santunan kepada 426 anak yatim piatu se-Aceh.

Santunan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Sekretaris Daerah Aceh, Drs. Dermawan MM mewakili Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah pada acara Zikir Dan Doa Di Masjid Raya Baiturrahman, Jumat (25/12/2015) malam.

"Penyerahan santunan ini dapat kita selenggarakan berkat kerjasama antara Pemerintah Aceh dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Sosial, dan Pihak-pihak lainya" kata Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Aceh, Drs. Dermawan, MM.

"Atas nama Pemerintah Aceh, kami mengucapkan terimakasih kepada para sponsor, donatur, serta seluruh pihak atas terselenggaranya pemberian santunan ini. Mudah-mudahan segala amal kebaikan yang telah dilakukan, mendapat balasan terbaik dari Allah SWT," kata Sekda menambahkan.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur juga menghimbau masyarakat untuk jadikan momentum tsunami sebagai upaya evaluasi diri, membangun karakter dan menumbuhkan etos kerja sehingga dapat bangkit dari segala keterpurukan.

"Kita tidak boleh berada terus menerus dalam kesedihan dan meratap masa lalu, tanpa mempersiapkan diri menuju masa depan yang lebih baik. Bangkitlah Aceh dengan semangat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT," Pungkas Zaini Abdullah.

Acara Zikir dan Doa tersebut turut di isi tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Fauzi Saleh dan dihadiri oleh jamaah dari Banda Aceh dan sekitarnya.(Red)

Banda Aceh - Di balik tsunami Aceh 2004 silam, terdapat keajaiban. Yakni tidak hancurnya masjid diterjang gelombang tsunami yang tingginya bahkan mencapai 30 meter. Berikut pojoksatu.id rangkum masjid-masjid yang selamat dari terjangan tsunami. 

1. Masjid di Kuede Teunom

Wilayah Kuede Teunom terletak di 68 mil dari Banda Aceh. Pada saat tsunami menerjang hanya beberapa bangunan saja yang tersisa, salah satunya adalah masjid yang ada di Kuede Teunom. Meski terjadi sedikit kerusakan, namun masjid ini masih berdiri kokoh doantara bangunan-bangunan yang hancur disapu ombak tsunami.

2. Masjid Baittrurrahim, ulee lheue


Masjid adalah masjid peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Masjid yang terletak di Kecamatan Meureksa, Banda Aceh ini pada saat tsunami tahun 2004 menerjang merupakan satu-satunya bangunan yang masih berdiri. Bangunan lain disekitarnya tersapu ombak yang naik menerjang daratan.

3. Masjid Rahmatullah Lumpu’uk

Madjid ini hanya berjarak 500 meter dari pesisir pantai. Dengan jarak sedekat itu masjid ini masih kokoh berdiri meski diterjang tsunami 2004. Masjid ini kemudian direnovasi dan mendapatkan suntikan dana dari bulan sabit merah untuk biaya renovasi.

4. Masjid Al Ikhlas Lhoknga

Masjid ini dijadikan tempat berlindung pada saat terjadinya musibah tsunami Aceh 2004. Ada saksi mata yang mengatakan bahwa pada musibah terjadi air yang menyerang daratan terbelah ketika akan menyentuh masjid ini.

5. Masjid Baitturrahman

Masjid ini tetap berdiri kokoh meski tsunami menerjang. Bahkan ketika air surut, masjid ini dijadikan tempat untuk meletakkan ribuan mayat. (PS)

Gapura menuju Pelabuhan Umum Krueng Geukueh di Blang Naleung Mameh (Foto: Suryadi Kawom)
Aceh Utara - Pembangunan Pintu Gerbang Pelabuhan Umum di Krueng Geukuh yang anggaranya Rp 485 Juta dari dana Otsus Aceh yang di kerjakan oleh CV. ATA INDOPUTRA asal Kota Langsa tersebut belum ada kejelasan dari pemerintah Kota terkait peralihan Nama Pelabuhan Krueng Geukuh Aceh Utara ke Pelabuhan Umum Kota Lhokseumawe.

Seperti yang kita lihat, pembangunan Gapura yang menunjukan arah pelabuhan tersebut memunculkan sikap kemarahan di kalangan masyarakat Aceh Utara yang menganggap aset daerahnya tanpa diketahui sudah di ambil oleh Pemkot Lhokseumawe.

Seperti pernyataan Heriadi warga Tambon Baroh Kecamatan Dewantara Jum'at, 25 Desember 2015. mengatakan pelabuhan tersebut pada mulanya dibangun oleh masyarakat di Krueng Geukueh dan juga menggali sungai hingga dijadikan nama pelabuhan tersebut Krueng geukueh(Sungai Digali).
(Foto: Suryadi Kawom)
Secara Historis, Pelabuhan tersebut mutlak milik Aceh Utara bukan milik Kota Lhokseumawe,

Heriadi juga menyayangkan jika peralihan Pelabuhan Umum Krueng Geukueh  ke Kota tidak di respon oleh Pemkab Aceh Utara.

Ditempat yang sama Muhammad Razali selaku putra daerah Krueng Geukueh mengecam atas tindakan pemerintah kota yang mengklaim pelabuhan tersebut milik Kota.

"Bagi kami masyarakat Krueng Geukueh ini perampasan secara nyata, tanpa diketahui aset Aceh Utara sudah menjadi milik Kota, dan juga menghilangkan sejarah Pelabuhan"tuturnya.

Sebelumnya, Gapura menuju jalan Pelabuhan Umum Krueng Geukueh  Aceh Utara dipertanyakan oleh sejumlah masyarakat sebagaimana di Gapura tersebut dituliskan Pelabuhan Umum Kota Lhokseumawe.

Tokoh masyarakat Krueng Geukueh Ilyas atau yang di kenal Komandan Liyah sangat menyayangkan peralihan nama Pelabuhan Krueng Geukueh menjadi Pelabuhan umum Kota Lhokseumawe,
(Foto: Suryadi Kawom)
Menurutnya, secara administrasi kawasannya Pelabuhan Krueng Geukueh berada di Kelurahan Krueng Geukueh dan Tambon Baroh Kecamatan Dewantara Aceh Utara dan apa alasannya Nama pelabuhan di alihkan ke Kota, tuturnya,

"Kami menginginkan Dinas dan dewan terkait memperjelas keberadaan Pelabuhan Umum Krueng Geukueh"pintanya.

Alamsyah yang juga tokoh masyarakat Krueng Geukueh menyatakan hal yang sama, dan meminta kejelasan wewenang aset Daerah dan jangan sampai kami masyarakat turun kelokasi dan menghapus nama di Gapura tersebut. tegas Alamsyah yang biasa di panggil Pak Alam.

Sementara Anggota DPRK Aceh Utara Saiful A.Md dari Komisi C Fraksi Partai Nasdem mengatakan, permasalahan nama pelabuhan sebelumnya sudah di sepakati oleh Dinas terkait dan juga Anggota DPRK Aceh Utara dari komisi B yang merekomendasi nama Pelabuhan krueng Geukueh menjadi "Pelabuhan Internasional Samudra Pasai".

Saiful sendiri terkejut ketika melihat nama Pelabuhan Krueng Geukueh tiba-tiba bertuliskan nama Pelabuhan Umum Kota Lhokseumawe dan dia sendiri juga tidak tau kenapa peralihan nama tersebut bisa terjadi.
(Foto: Suryadi Kawom)
"Secara historis pelabuhan tersebut masih milik Aceh Utara dan sampai saat ini PAD nya mengalir ke Kas Pemkab Aceh Utara"ujarnya.

Saiful juga menambahkan, jangan sampai aset Aceh Utara tanpa diketahui publik sudah beralih ke Kota, dan ini harus diperjelaskan oleh Dinas dan dewan terkait, apa alasannya dan kenapa nama Pelabuhan tersebut beralih ke Kota, sedangkan yang milik kota cuma jalan untuk melintasi alat transportasi, sedangkan pelabuhan sampai saat ini masih milik Aceh Utara.

"Kami mengharapkan Dinas dan Dewan terkait untuk meluruskan dan juga memperjelas kedudukan Pelabuhan tersebut agar tidak saling mengklaim dan juga untuk menghindari konflik perebutan aset kedepan"harapnya.

Reporter: Bustami

Aryos Nivada Pengamat Politik dan Keamanan Aceh
Banda Aceh - Aryos Nivada Pengamat Politik dan Keamanan Aceh dan Peneliti Jaringan Survey Inisiatif Penulis Buku Wajah Politik dan Keamanan Aceh menanggapi terkait Terjadinya kekerasan fisik berupa penamparan yang dilakukan anggota polisi Polres Aceh Timur terhadap Tgk Imum Mukhtar (45) dan Faisal (40), Keuchik Gampong Seunebok Bayu, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur. 


Tindakan itu menunjukan masih mengakarnya sikap arogansi dari aparat penegak hukum ketika berinteraksi dengan masyarakat maupun bertugas pada saat dilapangan.

 “Apa pun alasannya, termasuk pengejaran OTK bersenjata api di Aceh Timur sekalipun tidak dibenarkan sikap arogansi kepada masyarakat sipil yang tidak memiliki relasi terhadap target operasi”, tegasnya 

Jika tindakan kekerasan fisik berupa penamparan maupun bentuk lain dari kekerasan fisik tetap di lakukan aparat penegak hukum kepada masyarakat sipil, maka semakin terkikisnya kepercayaan dan kepedulian kepada institusi kepolisian dari ulah anggotanya. 


Seharusnya sikap humanis disaat melakukan operasi dilapangan wajib dilakukan. Sikap humanis sejalan dengan konsep reformasi kepolisian membangun trust building dan partnership building. 

Jangan sampai masih maraknya tindakan anggota di institusi kepolisian Aceh melakukan kekerasan fisik membangkitkan memory kelam masa konflik, dimana polisi menjadi aktor pelanggar HAM karena kekerasan fisik dan penghilangan nyawa masyarakat sipil di Aceh. 

Saya berharap sikap arogansi anggota kepolisian di Aceh harus dihilangkan dan menggantikan dengan sikap humanis. Serta tunduk terhadap regulasi ataupun peraturan ketika menjalankan operasi apa pun bentuk operasinya.

Redaksi: Bustami

Foto: Serambinews.com
Aceh Timur - Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, SH SIK MH, melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha SH mengatakan tidak benar terkait pemukulan terhadap Tgk Imum Mukhtar (45) dan Faisal (40), Keuchik Gampong Seunebok Bayu, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur oleh oknum aparat kepolisian. Jumat, 25 desember 2015.

"tidak benar ada pemukulan yang dilakukan oleh polisi jajaran kami yang lagi bertugas, cuma menanyakan keberadaan Kelompok bersenjata kepada orang yang berwenang di desa tersebut", tuturnya dengan singkat.

Sementara,  Tgk Imum Mukhtar kepada reporter statusaceh.net mengaku dirinya didatangi oleh sejumlah aparat kepolisian kerumahnya dan diseret ke sebuah warung bersama dengan Keuchik setempat yang menanyakan keberadaan kelompok bersenjata Din Minimi.

Menurut Mukhtar dirinya bersama Keuchik di sekap oleh aparat lebih kurang Satu jam tiga puluh menit, ditempat yang sama dan pertanyaan yang sama di ajukan oleh aparat kepada meraka, namun belum selesai bertanya tonjokan aparatpun menimpa di kepalanya.

"Kenapa pak Keuchik tidak melapor ada anggota Din Minimi disini, belum habis bertanya pukulan aparat pun terjun kekepalanya"tutur Mukhtar.

Setelah selasai bertanya kepada pak Keuchik aparat juga bertanya hal yang sama kepada saya sambil menampar kami berdua. ulasnya.


Reporter: Basri

Tgk Imum Mukhtar bersama Faisal  Keuchik Gampong Seunebok Bayu, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur
Aceh Timur - Terkait pemukulan terhadap Tgk Imum Mukhtar (45) dan Faisal (40), Keuchik Gampong Seunebok Bayu, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur oleh oknum aparat kepolisian berimbas kepada masyarakat sehingga desa tersebut sampai saat ini masih mencekam, Jumat, 25 desember 2015.

Tgk Imum Mukhtar kepada reporter statusaceh.net mengaku dirinya didatangi oleh sejumlah aparat kepolisian kerumahnya dan diseret ke sebuah warung bersama dengan Keuchik setempat yang menanyakan keberadaan kelompok bersenjata Din Minimi.

Menurut Mukhtar dirinya bersama Keuchik di sekap oleh aparat lebih kurang Satu jam tiga puluh menit, ditempat yang sama dan pertanyaan yang sama di ajukan oleh aparat kepada meraka, namun belum selesai bertanya tonjokan aparatpun menimpa di kepalanya.

"Kenapa pak Keuchik tidak melapor ada anggota Din Minimi disini, belum habis bertanya pukulan aparat pun terjun kekepalanya"tutur Mukhtar 
Setelah selasai bertanya kepada pak Keuchik aparat juga bertanya hal yang sama kepada saya sambil menampar kami berdua. ulasnya.

Sementara, Mukhtar pasca penyekapannya yang dilakukan aparat sampai saat ini tidak berani pulang kerumah, dikarenakan takut kepada aparat, bukan hanya Mukhtar, masyarakat gampong setempat banyak yang sudah meninggalkan desa dikarenakan trauma dengan tindakan aparat kepolisian yang melakukan penyisiran di desanya.

Tgk Imum Mukhtar juga menambahkan, setelah di introgasi disebuah warung sekitar jam 09:30 hingga jam 11:00 WIB Kamis malam (23/12) dirinya diperintahkan oleh Aparat kepolisian untuk melakukan pengemuman di Menasah dengan nada menghimbau kepada seluruh masyarakat bila melihat orang yang membawa senjata agar melaporkan ke pos terdekat.

Pengemuman tersebut disuruh ulangi hingga sepuluh kali oleh aparat, selesainya Tgk imum disuruh besok hari untuk melapor ke Polres Aceh Timur.

Tiba ke esokan Hari (Kamis, 24/12) Tgk Imum bersama Keuchik menuju Polres, namun lucunya orang Polrespun menanyakan kepada kami, ada apa kalian kesini, dan mau buat laporan apa? ujar Tgk Mukhtar.

Sampai berita ini di diturunkan, Pihak Polres Aceh Timur belum bisa di hubungi.

Reporter:: Bustami

(rakyataceh/atjehkutaraja.com)
Aceh Timur - Kasus pengejaran kelompok Din Minimi yang di lakukan oleh ratusan aparat kepolisian sampai saat ini belum juga membuahkan hasil tentang keberadaan dan juga penangkapannnya.

Namun dampak dari pengejaran Din Minimi tersebut mulai berimbas kepada masyarakat sipil, ya salah satunya terjadi di Seneubok Bayu Kecamatan Banda Alam Aceh Timur.

Seperti dikutip di AJNN.NET Tengku Imum dan Keuchik Desa tersebut ditempeleng oknum polisi karena tak memberitahukan keberadaan kelompok Din Minimi, Kamis (24/12) kemarin.

Informasi tersebut diperoleh AJNN dari Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Safaruddin yang mengaku mendapatkan laporan dari Mukim Keude dan Tengku Imum.

Menurut Safaruddin, peristiwa itu terjadi saat aparat kepolisian melintasi kampung mereka untuk memburu Din Mini.

"Namun karea tak diberitahu, mereka ditempeleng di depan umum,"katanya, Jumat (25/12).

Safar menyebutkan tindakan ini bukan yang pertama kali terjadi di Aceh khususnya terkait pengejaran kelompok Din Minimi.

"Beberapa bulan yang lalu kami melakukan investigasi ke Geureudong Pasee di kampung halaman Ridwan yang tewas ditembak di rumahnya, dari informasi masyarakat juga menyampaikan hal demikian, Keuchik sampai disuruh tiarap di aspal," katanya. 

 Selanjutnya Direktur YARA menyebutkan kondisi seperti ini mengingatkan akan Aceh pada masa konflik dulu, dan hal seperti ini yang kemudian menjadikan konflik semakin meluas dikarenakan orang-orang mulai takut kepada aparat kepolisian, dan memilih bergabung dengan kelompok sipil bersenjata agar mereka dapat melindungi diri dari arogansi aparat keamanan.

"Kami mengecam tindakan kepolisian yang bertindak arogan dan brutal terhadap masyarakat sipil, ini menunjukkan bahwa terjadi pelanggaran HAM secara sistematis dan massif terhadap warga Aceh," katanya kepada AJNN, Jumat (25/12)

YARA medesak Kapolda untuk bertanggung jawab dan menindak anggotanyayang bersikap arogan dalam melaksanakan tugasnya.

Menurut Safar tindakan kekerasan yang terjadi seperti di Desa Seunebok Bayu itu dapat menyulut api konflik dalam masyarakat Aceh yang masih trauma dengan situsi konflik pada pasca MoU Helsinki.

"Kami juga mendesak Gubernur, DPR Aceh agar memanggil Kapolda untuk mengevaluasi pelaksanaan operasi-operasi yang telah menelan korban jiwa di Aceh seperti penembakan Beuriujuek dan Ridwan yang terindikasi pelanggaran HAM. Jika pemerintah tidak bergerak melakukan tindakan preventif atas arogansi aparat keamanan dilapangan maka jangan salahkan ketika masyarakat bergerak menurut caranya sendiri," ujarnya.

Safar menyebutkan, berdasarkan informasi yang ia peroleh saat ini masyarakat setempat mulai mengungsi keluar meninggalkan desa mereka karena takut akan dipukuli oleh anggota polisi yang sedang mencari Din Minimi.

"Kondisi masya saat ini seperti 'pliek lam peunerah', terjepit kiri kanan, jika mereka melaporkan mereka akan ditembak oleh kelompok yang dikejar oleh polisi, sedangkan jika tidak melaporkan maka akan di pukuli oleh polisi,"katanya.

Direktur YARA mengatakan, kondisi seperti ini mengingatkan akan Aceh pada masa konflik dulu, dan hal seperti ini yang kemudian menjadikan konflik semakin meluas dikarenakan orang-orang mulai takut kepada aparat kepolisian, dan memilih bergabung dengan kelompok sipil bersenjata agar mereka dapat melindungi diri dari arogansi aparat keamanan. (Red)

Masjid Bujang Salim Dewantara@AP
BANGUNAN berkubah yang berada dijantung kota Krueng Geukueh sungguh indah dengan kontruksi bangunan menyerupai Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.  Warna-warni dengan lampu yang mengelilingi setiap dinding masjid pada malam hari menambah keindahan dan membuat siapa saja yang akan memasuki masjid itu serasa ingin berlama-lama.

Itulah Masjid Bujang Salim berdiri puluhan tahun yang lalu ditengah kota Kreung Geukueh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Bujang Salim nama yang unik dan tentunya mempunyai sejarah yang panjang sehingga sampai diabadikan untuk nama masjid besar tersebut. Bujang Salim adalah seorang Pahlawan Aceh (Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan). Teuku Rhi Bujang Selamat atau Bujang Salim Bin Rhi Mahmud (1891-1959).

Pantauan AJNN setelah berbincang-bincang dengan Ketua Badan Kenadziran Mesjid Tgk. Jalaluddin H.Ibrahim, Bujang Salim adalah seorang ulama yang keramat.

Beliau dilahirkan pada tahun 1891 di Nanggroe Nisam (Nisam, Kecamatan Keude Amplah, Kabupaten Aceh Utara). Sebagai putra Uleebalang Nanggroe Nisam, pada tahun 1912 beliau menyelesaikan kelas 5 (lima) pada Kweekschool dan Osvia di Bukit Tinggi ( Sumatera Barat) dan kemudian kembali ke Aceh. Selama 1 tahun berdiam di kutaraja ( Banda Aceh) untuk mempelajari dan mempraktekkan tata kepamong kerajaan. Kemudian pada tahun 1913 menjabat sebagai Zelfbsrtuurdier Nanggroe Nisam sampai 1920. Kemudian beliau dipecat dan difitnah oleh Belanda sehingga beliau dibuang ke Merauke (ujung pulau Indonesia)

"Betapa kejamnya Belanda karena mereka mengetahui bahwa Bujang Salim akan menentang sistem politik Belanda. Ia sampai diasingkan beberapa kali setelah dari Merauke ke Australia sampai dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1946 sampai dipersilahkan pulang ketempat asal Krueng Geukueh. Dan pada hari Rabu tanggal 14 Januari 1959 beliau meninggal dunia di Krueng Geukueh dan dikebumikan disitu juga," urai Jalaluddin.

Menurutnya, selama hidup beliau dikarunikan 8 (delapan) orang anak (1 dari isteri pertama di Krueng Geukueh), tetapi disangsikan tidak dapat pulang dari pembuanagan, lalu becerai. Sedangkan 7 orang lagi dari isteri kedua di Merauke.

Begitu beratnya perjuangan Bujang Salim sehingga nama beliau patut diabadikan. Bujang Salim juga berlatar belakang alim, santun. Sehingga penduduk yang berada di wilayah Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara dulu bahkan kini sepakat nama masjid megah dan menawan itu dinamakan dengan Bujang Salim.

Tak hanya masjid, nama Bujang Salim sangat tenar (terkenal) dikalangan masyarakat sampai dinamakan oleh PA (Partai Aceh) untuk wilayahnya Sagoe Bujang Salim (setingkat kecamatan).

Mulanya masjid ini berkontruksi kayu dengan ukuran 25x15 meter persegi. Namun seiring berjalannya waktu dengan bantuan perusahaan Raksasa yang berdiri disekitar Krueng Geukueh yaitu PT AAF dan PIM memberi bantuan untuk pembangunan masjid Bujang Salim mencapai  50 %. Akibat perluasan tersebut kini Masjid Bujang Salim berukuran 65x50 meter persegi. Bisa ditotalkan jumlah jamaah yang mampu ditampung mencapai 2.700 orang.

Adapun konsep pembangunan masjid ini langsung diambil dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Walaupun banyak orang yang mengatakan dua mesjid itu kembar, tetapi diantaranya tetap memiliki perbedaan. Masjid Baiturrahman memiliki 7 kubah , sedangkan Bujang Salim hanya mempunyai 5 kubah.

Masjid Agung ini juga sering sekali dijadikan tempat untuk pertemuan penting ulama dan umara level daerah bahkan nasional.(AJNN)

(Dari Kanan) Kapolsek Bukit RayaKasat Reskrim Polresta Pekanbaru dan   Kanit Reskrim Polsek Bukit Raya, bersama barang bukti 30 Kg Daun Ganja,
Riau - Jajaran Kepolisian Sektor Bukit Raya, Pekanbaru, Riau, Kamis (24/12/2015) sore, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sekitar 30 Kg daun ganja asal Provinsi Aceh. Ganja bernilai puluhan juta Rupiah ini diselundupkan melalui jasa pengiriman barang.

30 Kg daun ganja siap edar tersebut dikemas rapi dengan menggunakan lakban kuning. Menurut informasi dari kepolisian, daun haram itu rencananya akan dikirim si pengedar ke Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, melalui Kota Pekanbaru.

"Barang ini dikirim dari Aceh ke Pekanbaru. Dari Pekanbaru selanjutnya dikirim lagi via jasa pengiriman barang, dengan tujuan Kota Palembang," sebut Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, AKBP Sugeng Putut Wicaksono, Jumat (25/12/2015) pagi.

Masih menurut Putut, ganja tak bertuan ini terendus jajarannya, yang sore itu memperoleh informasi, kalau ada barang terlarang berjumlah fantastis, yang akan keluar dari Pekanbaru. "Kita bergerak ke tempat jasa pengiriman travel dan berhasil mengamankan (ganja) sebelum dikirim," ulasnya.

"Jadi pihak jasa pengiriman ini curiga dengan paket tersebut lalu menghubungi kepolisian. Setelah diperiksa ternyata isinya daun ganja. Sudah kita amankan di Polsek Bukit Raya. Kita masih selidiki siapa pemiliknya," tambah dia saat dihubungi GoRiau.com.

Atas temuan 30 Kg daun ganja tak bertuan ini, Polresta Pekanbaru rencananya akan berkoordinasi dengan kepolisian di Aceh, untuk menyelidiki siapa orang yang mengirimkan barang tersebut. "Dipaket itu juga tertera nama si pengirim dan alamatnya. Ini akan kita kembangkan," singkat Wakapolresta.(goriau.com)

Banda Aceh - Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil akan berkunjung ke Aceh, untuk menghadiri seminar nasional 11 tahun tsunami di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, besok.

Pria yang akrab disapa Kang Emil bukan orang asing di Aceh. Dia adalah perancang arsitektur Museum Tsunami Aceh yang kini jadi satu di antara situs wisata paling banyak dikunjungi wisatawan di Banda Aceh.

Kabag Humas Pemerintah Kota Banda Aceh, Marwan mengatakan, selain Kang Emil, Wali Kota Bogor Bima Arya juga hadir. “Ridwan Kamil dan Bima Arya dipastikan akan hadir ke Banda Aceh,” ujarnya, Jumat (25/12/2015).

Selain dua wali kota dari Pulau Jawa, seminar terbuka untuk umum ini juga diisi oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal yang akan mempresentasikan ‘Banda Aceh Menuju Kota Tangguh’ kemudian Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal.

Selain seminar, kata Marwan, juga digelar Pameran Foto Tsunami di Museum Tsunami Aceh hingga 27 Desember nanti. Kemudian peluncuran dan bedah buku ’Civilization of Light’ karya fotografer Bedu Sani.

Sementara itu, sejumlah wartawan di Aceh akan menggelar Malam Renungan 11 Tsunami Aceh, Jumat (25/12) malam ini. Acara bertajuk “Mengenang Sahabat” dipusatkan di Pelataran Warkop Sekber, Banda Aceh. Acara diisi dengan khanduri thon (tradisi kenduri mengenang arwah), doa bersama, santunan anak yatim, testimoni wartawan korban tsunami, penampilan syair dan puisi refleksi tsunami.(OKZ)

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar peringatan 11 tahun tsunami yang dipusatkan di Masjid Rahmatullah Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar pada tanggal 26 Desember mendatang.
 
Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi MSi menyebutkan, peringatan tsunami yang dipusatkan di Masjid Rahmatullah pada tahun ini bukan tanpa alasan, mengingat kawasan Lampuuk adalah salah satu daerah terparah hantaman gelombang tsunami dan telah banyak mendapat perhatian masyarakat internasional.
 
"Masjid Rahmatullah adalah satu-satunya bangunan yang berhasil selamat dari gelombang Tsunami. Masjid dengan desain dan arsitekturnya yang indah ini juga telah menjadi satu-satunya masjid yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik nusantara maupun wisatawan asing lainnya khususnya wisatawan Malaysia di kawasan wisata pantai Lampuuk," jelasnya.
Reza menambahkan, peringatan tsunami yang mengusung tema “Memajukan Negeri Membangun Masyarakat Siaga Bencana” juga diharapkan tidak hanya semata hanya untuk berkumpul, mengenang, bernostalgia dan berakhir begitu saja.
 
"Ada nilai-nilai dari setiap kegiatan peringatan tsunami yang perlu kita sampaikan ke masyarakat, yakni seperti refleksi, apresiasi, mitigasi dan promosi agar," sebutnya.
 
Hal senada juga disebutkan Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh Rahmadhani MBus, selain upacara peringatan tsunami dengan menggelar zikir bersama dan tausyiah, kita berharap masyarakat juga dapat memahami empat filosofi dalam menyadari peringatan tsunami.
 
"Dengan adanya refleksi, kita terus berusaha menghindari perilaku lupa akan kejadian masa lalu yang pernah terjadi di Aceh. Peringatan tsunami juga menjadi momentum penting untuk selalu mengingat dan mengenang kembali keikhlasan, dukungan dan solidaritas yang pernah diberikan masyarakat global," jelas Rahmadhani.
 
Hal lainnya yang tidak boleh dilupakan, sebut Rahmadhani, masyarakat Aceh harus mampu bersahabat dengan bencana untuk mitigasi.
"Mempelajari karakteristik bencana dan membangun kesadaran dan kewaspadaan diri menuju budaya siaga bencana menjadi sebuah keniscayaan dalam upaya mengurangi segala risiko bencana yang ditimbulkan. Dengan demikian pariwisata tsunami di Aceh menjadi media efektif dalam rangka memperlihatkan kepada masyarakat global, khususnya kepada wisatawan tentang kekuatan, ketahanan dan ketabahan masyarakat Aceh selama Tsunami," tutupnya.***
Penulis: Rahmadhani, M.Bus (Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh)
 
Salam,
Pengelola @iloveaceh & ILATeam

Banda Aceh - Gubernur Aceh, Zaini Abdullah mengintruksikan kepada bupati/walikota di seluruh Aceh agar seluruh masyarakat berpartisipasi dalam mengenang 11 tahun tsunami Aceh, salah satunya dengan cara mengibarkan bendera merah putih selama tiga hari.
Instruksi Gubernur Aceh ini bernomor 360/28193 tanggal 4 Desember 2015. Bendera Merah Putih itu dikibarkan mulai 25 – 27 Desember 2015 hanya untuk mengenang 11 tahun musibah gempa dan tsunami di Aceh.

Kepala Biro Humas Aceh, Frans Dellian membenarkan surat tersebut. Dikatakannya pengibaran bendera merah putih hanya dilakukan selama tiga hari untuk mengenang 11 tahun tsunami Aceh.
Selain pengibaran bendera merah putih, Gubernur Aceh meminta setiap SKPA dan instansi agar melakukan pemasangan spanduk dan baliho terkait 11 tahun tsunami Aceh.

Di Aceh Tengah, surat gubernur itu sudah diteruskan hingga kecamatan. Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin mengeluarkan himbauan agar masyarakat di Aceh Tengah dapat berpartisipasi dan mengibarkan bendera merah putih setengah tiang selama tiga hari mengenang 11 tahun tsunami Aceh.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Aceh menyelenggarakan kegiatan 11 tahun tsunami Aceh dengan Tausiah, Doa dan Dzikir bersama yang dijadwalkan, Sabtu (26/12/2015) pukul 09.00 wib di Desa Meunasah Masjid, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. 
(*)

Masyarakat Aceh mendesak penerbitan Qanun Jinayah
Banda Aceh - Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyetujui tiga rancangan qanun (Raqan) menjadi Qanun Aceh pada Sidang V di Banda Aceh, Rabu (23/12) malam. "Ketiga qanun ini nantinya akan ditetapkan oleh Gubernur Aceh dan diundangkan oleh Sekretaris daerah Aceh dalam lembaran Aceh," kata Ketua DPRA Muharuddin di sela-sela penutupan persidangan V DPRA.

Ketiga Raqan itu masing-masing Qanun Aceh tentang Pembagian Urusan Pemerintahan yang Berkaitan dengan Syariat Islam Antara Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan Kabupaten/Kota. Qanun Aceh tentang Pembinaan dan Perlindungan Aqidah, Perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
Ia mengharapkan melalui perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Aceh.

Pihaknya juga berharap dengan pengesahan Qanun tentang Pembagian Urusan Pemerintahan yang Berkaitan dengan Syariat Islam Antara Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan Kabupaten/Kota dapat merespons lebih cepat pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

Muharuddin menambahkan dengan disahkannya Qanun Aceh tentang Pembinaan dan Perlindungan Aqidah diharapkan menjadi produk hukum yang dapat membentengi warga Aceh dari upaya-upaya penyesatan dan pendangkalan akidah sebagaimana yang marak terjadi di Aceh beberapa waktu terakhir.

Gubernur Aceh Zaini dalam sambutan tertulis dibacakan Asisten II Azhari berharap Qanun Aceh yang telah disetujui bersama antara Gubernur Aceh dan DPR Aceh dapat segera diselesaikan dengan tepat waktu dalam Klarifikasi oleh Kementerian Dalam Negeri. Sehingga Qanun Aceh tersebut dapat diimplementasikan untuk kepentingan Pemerintahan Aceh dan rakyat Aceh.

Sumber : Antara


StatusAceh.Net - Tahun 2015, Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati sebanyak dua kali. Yaitu, pada tanggal 3 Januari 2015 lalu (12 Rabiulawal 1436 Hijriah) dan 24 Desember 2015 (12 Rabiulawal 1437 Hijriah). Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan penanggalan Masehi dan tahun Hijriah.

Ketika kelahiran Rasulullah SAW terjadi berbagai mukjizat tanda kebesaran Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul terakhir. Di mana sebelumnya tidak pernah ada pada Nabi-Nabi sebelumnya.

Rabiul Awal, pada 24 Desember 2015. Diperingati oleh seluruh umat Muslim yang ada Di Dunia, dan bagi Nabi Muhammad SAW tidak ada yang paling berharga baginya selain umatnya.

“Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa alihi Washahbihi Wasallim”

Tentara Gajah dan Gempuran Burung Ababil
Rasulullah SAW lahir pada tahun gajah, karena tepat dengan penyerangan pasukan Abrahah dari Yaman ke Kabah, Mekah, Arab Saudi. Penyerangan tersebut timbul lantaran Raja Abraha merasa kesal Kabah dikunjungi banyak orang. Akhirnya tentara Abraha memasuki wilayah Mekah dengan leluasa karena keadaan kota itu sedang sepi.

Ternyata Allah SWT menyelamatkan Kabah dengan mengutus burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil dari Neraka Jahanam dengan paruhnya. Kerikil tersebut selanjutnya dijatuhkan tepat di kepala para pasukan Abraha hingga tembus ke badannya hingga tewas mengenaskan. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Al Quran surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5).

Pada masa itu lahir junjungan Semesta Alam yang diberi nama “Muhammad”. Baginda Nabi yang Mulia ini lahir dalam keadaan Yatim karena ayahnya telah wafat saat dia berada di kandungan ibundanya.

Suara Mukjizat dari Kabah

Di saat Rasulullah SAW lahir, terdengar suara dari Kabah yang berbunyi “Katakanlah telah datang kebenaran (Islam) dan tidak akan memulai kebatilan, juga tidak akan mengembalikan kekufuran.”

Ibunda Nabi Selalu Bersemangat
Mukjizat lainnya terjadi pada diri Aminah, Ibunda Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan Muslimah pada umumnya yang merasa letih dan kepayahan saat mengandung, maka hal ini tidak dirasakan oleh Aminah sendiri.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitabnya, ‘Qishashul Anbiyya’, bahwa selama mengandung Rasulullah SAW, dalam mimpinya ia senantiasa didatangi para Nabi-Nabi terdahulu (dari Nabi Adam AS hingga nabi Isa AS), dari sejak bulan pertama, yakni bulan Rajab hingga kelahirannya di bulan Rabiul Awal.

Bulan pertama, didatangi oleh Nabi Adam AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya tersebut akan menjadi pemimpin agama yang besar.

Bulan kedua, didatangi oleh Nabi Idris AS yang mengatakan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya tersebut akan mendapat derajat paling tinggi di sisi Allah SWT.

Bulan ketiga, didatangi oleh Nabi Nuh AS yang menuturkan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat.

Bulan keempat, didatangi oleh Nabi Ibrahim AS yang mengungkapkan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh pangkat dan derajat yang besar di sisi Allah SWT.

Bulan kelima, didatangi oleh Nabi Ismail AS yang membeberkan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki kehebatan dan mukjizat yang besar.

Bulan keenam, didatangi oleh Nabi Musa AS yang menerangkan kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memperoleh derajat yang besar di sisi Allah SWT.

Bulan ketujuh, didatangi oleh Nabi Daud AS yang menyatakan, kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan memiliki Syafaat dan Telaga Kautsar.

Bulan kedelapan, didatangi oleh Nabi Sulaiman AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya itu akan menjadi penutup para Nabi dan Rasul.

Bulan kesembilan, didatangi oleh Nabi Isa AS yang berkata kepadanya bahwa anak yang dikandungnya tersebut akan membawa Al Quran yang diridhai Allah SWT.

Semua Nabi yang datang selalu berpesan, agar kelak jika sudah lahir mereka memberi nama anaknya dengan nama “Muhammad”. Hal tersebut nampaknya terbesit di hati Abdul Muthalib, sang kakek yang kemudian memberinya nama Muhammad.
Padahal di kalangan kaum Quraisy nama tersebut begitu asing dan biasanya lebih memilih nama-nama dari leluhur mereka. Namun, sang kakek memiliki alasan lain, “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat.” ungkapnya.

Datangnya Tamu Agung Penghuni Surga
Ketika proses kelahiran Nabi Muhammad SAW, Ibunda Aminah didatangi oleh para penghuni Surga. Mereka membantu proses lahirnya Nabi Muhammad SAW. Ada dua wanita yang jadi perhatian Aminah, mereka memberi salam dan menyebut dirinya Asiya (istri Raja Firaun) dan Maryam (ibu Nabi Isa AS).

Alam Bergemuruh

Alam bergemuruh saat sang Baginda Rasulullah SAW hadir ke dunia. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Maulid Ad diba’iy Lil Imam Abdur Rahman Ad-Diba’iy hal 192 dan 193

Sesungguhnya (pada saat kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, red), Arasy seketika gentar hebat luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya, dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah SWT dengan mengucapkan; Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah SWT.”

Padamnya Api Kaum Majusi
Kaum Majusi yaitu agama atau kepercayaan yang menggunakan api sebagai sesembahan. Api ini tidak pernah padam selama ribuan tahun. Namun demikian, api mereka tiba-tiba padam saat Nabi Muhammad SAW lahir. Para penganut Majusi berusaha mencoba menyalakan apinya, tapi tetap tidak menyala.

Dalam A’lamun Nubuwwah, bahwa Abu Ayyub Ya’la bin Imran An Nahli meriwayatkan dari Makhzum bin Hani’ Al Makhzumi dari ayahnya, ia berkata,

“Pada malam dilahirkannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bergetarlah istana Kisra hingga sebanyak empat belas balkonnya runtuh, api Persi pun padam padahal selama seribu tahun belum pernah padam, dan air danau Sawah mengering. Hal itu membuat Kisra ketakutan, lalu ia memakai makhkotanya dan duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian ia mengumpulkan menteri-menteri dan para pembantunya lalu menceritakan mimpinya tersebut. Kemudian berkatalah Al Mubidzan, “Adapun saya sendiri, semoga Allah Ta’ala memperbaiki urusan raja, saya melihat dalam mimpi saya ada unta-unta berat yang menuntun kuda-kuda mahal mengarungi sungai Dijlah lalu mereka menyebar di negeri-negeri kita. Kisra bertanya, “Apa arti semua itu hai Mubidzan?”

Ia menjawab, “Sebuah peristiwa besar yang datang dari penjuru Arab.”

Maka Kisra menulis surat perintah kepada An Nu’man bin Al Mundzir, “Kirimkan kepadaku seseorang yang mengetahui agar aku bisa bertanya padanya apa yang aku inginkan.”

Maka menghadaplah Abdul Masih bin ‘Amr bin Nafilah Al Ghassany. Sesampainya di hadapan Kisra ia lalu diberitahu tentang peristiwa yang terjadi. Kemudian ia berkata, “Wahai raja, sesungguhnya ilmu tentang hal itu ada pada paman saya. Ia tinggal di bagian timur negeri Syam. Namanya Suthaih.

Kisra berkata, “Datangi dia dan tanyalah dengan apa yang telah aku kabarkan kepadamu lalu bawalah jawaban itu kepadaku.”

Singkat cerita, Abdul Masih pun bertanya tentang keanehan yang dilihat oleh Kisra dan Al Mubidzan. Selanjutnya ia berkata, “Hai Abdul Masih, jika telah banyak tilawah (tilawah Alquran), diutus seseorang dari Tihamah (tempat kelahiran Nabi), ada banjir di lembah Samawah, mengeringnya danau Sawah, dan padamnya api Persi, maka Syam bukan lagi negeri Syam bagi Suthaih…..” Lalu ia pun meninggal.” (Imam Al Mawardi Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Al Habib Al Bashri Al Baghdadi, A’lamun Nubuwwah halaman 182-183)

Berhala Langsung Bersujud


Ketika Nabi Muhammad SAW lahir berhala yang selama ini disembah mendadak bersujud. Hal ini diriwayatkan oleh Abdul Muthalib yang berkata, “Sewaktu ku berada di dekat kabah, patung berhala yang ada di dalam kakbah tiba-tiba jatuh tersungkur dari tempatnya dalam bentuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Aku juga mendengar suara dari dinding kakbah, ‘Nabi terpilih telah lahir yang akan menghancurkan orang-orang kafir, dan membersihkan aku dari beberapa patung berhala, serta memerintahkan untuk menyembah kepada Dzat Yang Merajai Alam ini.”

Salam Kicauan Burung yang Merdu
Seolah memberi salam atas kelahiran manusia yang ditunggu-tunggu, burung-burung di atas langit Mekah sibuk bersaut-sautan berkicau merdu saat kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Jin, Iblis dan Setan Tak Bisa Mencuri Berita

Saat sebelum Nabi Muhammad lahir setan atau iblis senantiasa mencuri berita dari langit untuk dibagikan kepada tukang sihir. Namun, pada malam mulia kelahiran Baginda Rasulullah SAW mereka tidak lagi bisa mencuri rahasia tersebut. Para setan atau jin dihadapkan dengan panah api setiap kali akan mencuri berita.

Setan-setan ini kemudian berkumpul dan menginformasikan keganjilan tersebut kepada Iblis.

“Dahulu kami bisa naik ke langit, tetapi hari ini kami telah dilarang untuk naik”

Iblis menjawab, “Menyebarlah kalian di muka Bumi, dari barat sampai timur, dan perhatikan dengan seksama apa yang sebenarnya telah terjadi!”

Usai menyebar ke penjuru dunia sampailah mereka ke Kota Mekah. Di sana tampak seorang bayi yang sedang dikelilingi para Malaikat dan memancarkan sinar dari dalam dirinya yang mencuat ke atas langit. Para malaikat pun sibuk memberi salam kepada junjungan alam tersebut.

Kemudian setan-setan itu kembali menghadap Iblis, sambil menceritakan semua apa yang telah mereka saksikan itu.Maka Iblis pun berteriak dengan suara yang sangat keras.

“Aaaaah, telah keluar “Ayatul ‘Alam” dan rahmat bagi Bani Adam, karena itulah kalian telah dicegah untuk naik ke langit, tempat pandangannya dan pandangan umatnya!!”(konfr)

PEMAIN Club Sepakbola Dunia, Arda Turan merupakan pemain muslim di klub terkenal Barcelona. Sebagai seorang muslim, Turan juga ikut merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, yang jatuh pada hari Kamis (24/12/15).

Namun, Perayaan Maulid Nabi kali ini hanya terpaut satu hari dengan perayaan hari Natal umat Kristiani. Menanggapi hal tersebut, Turan menulis sebuah pesan menarik dalam akun Twitter-nya.

Dalam postingannya di Twitter, mantan pemain Atletico Madrid itu berharap agar umat muslim di seluruh dunia selalu dinaungi kebahagiaan dan kedamaian.

“Saya berharap semua umat Islam di seluruh dunia mendapat berkah yang berlimpah. Di kesempatan ini, saya juga berharap agar semua pihak selalu diberikan kedamaian dan kebahagiaan,” demikian tulis Turan, seperti dikutip dalam Bola.net, Rabu (23/12/15).

Turan didatangkan oleh Barcelona dari Atletico di bursa transfer musim panas lalu. Namun demikian, ia baru bisa bermain di paruh kompetisi kedua lantaran tim Catalan masih terkena embargo transfer dari FIFA. (Islampost)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.