2020-01-26

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Baksos Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona corona Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan Hindia History Hotel Hukum Humor HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malaysia Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik Mudik Lebaran MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli PUSPA Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Jakarta - Universitas Indonesia (UI) mencetak sebanyak 3.955 wisudawan/wisudawati. Dari jumlah tersebut, 1.007 wisudawan/wisudawati berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Salah satunya Nurul Gusti Khatimah. Dara cantik ini meraih cumlaude dari Fakultas Kedokteran (FK) UI di usianya baru 19 tahun. Hebatnya lagi, si cantik Nurul sudah jadi asisten dokter.

Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan dirinya. Nurul mengaku berambisi menjadi seorang dokter. “Alhamdulillah, senang banget selama ini kayak perjuangan dari kecil hingga impian masuk FKUI juga tercapai. Emang cita-cita aku jadi dokter,” kata dia di Depok, Jawa Barat, Sabtu, 1 Februari 2020.

Dara kelahiran 7 Agustus 2000 itu juga mengatakan setelah lulus dirinya masih harusnya ikut koas atau asisten dokter, untuk selanjutnya internship (magang) di rumah sakit. Nurul ingin menjadi dokter spesialis dan berharap ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

“Dari awal memang aku sudah diarahkan orangtua buat masuk kedokteran. Karena, keluarga juga ada di bidang kesehatan. Mamah aku bidan, kakak aku dokter. Tapi di sisi lain aku juga punya ketertarikan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Menyembuhkan orang sakit itu buat aku sesuatu yang mulia," tutur dia.

Di mata Nurul, Indonesia masih membutuhkan dokter lebih banyak karena negaranya cukup luas dan memiliki jumlah penduduk yang lumayan besar. Selain itu, ia juga berharap fasilitas dunia kedokteran di Indonesia bisa lebih ditingkatkan lagi di masa depan.

Siap di mana pun

“Selain SDM (sumber daya manusia) yang merata, fasilitas juga harus lebih dilengkapi biar membantu kemudahan mendiagnosa dan terapi pasien yang terbaik,” kata Nurul, dengan nada optimis.

Ketika disinggung apakah siap jika harus mengabdi ke wilayah pelosok, Nurul menegaskan dirinya tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

“Kalau untuk sekarang aku masih mikir koasnya dulu. Tapi insya Allah siap,” tegas Nurul. Proses upacara ribuan wisudawan/wisudawati UI berlangsung di Gedung Balairung, Depok, Jawa Barat.

Sementara itu, Rektor UI Ari Kuncoro mengaku terus berkomitmen menjadi institusi pendidikan tinggi yang berkualitas, unggul, dan mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah pendidikan tinggi global. Hal ini dibuktikan dengan semakin diakuinya UI di tingkat internasional.

“Saat ini UI menempati peringkat 296 perguruan tinggi terbaik di dunia, dan peringkat 59 di Asia,” katanya. Ari menilai, perubahan disrupsi teknologi yang dinamis telah berpengaruh pada kehidupan manusia, terutama dalam cara kita melakukan komunikasi, dan hal tersebut juga mengubah peran dosen dan mahasiswa.

“Salah satu akibat teknologi bagi pendidikan tinggi adalah hilangnya dinding dan batas ruang kelas, kampus, wilayah bahkan negara yang pada gilirannya berdampak pada efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar,” tutur dia.

Ari mengatakan salah satunya yang berkembang dan semakin populer adalah metode Massive Open Online Courses (MOOCs) yang mampu menciptakan forum interaktif antara mahasiswa dan pengajar, sehingga membawa perubahan mendasar dalam cara seseorang memperoleh pengetahuan dan membawa dampak pada pengelolaan sistem pendidikan. | Viva

Facebook didenda hingga Rp7,6 triliun karena menggunakan fitur pengenalan wajah tanpa izin. Foto/Ist
MENLO PARK - Masih ingat ketika Facebook mulai menandai pengguna di foto pada tahun 2011? Itu adalah tahun ketika mereka mulai menguji perangkat lunak pengenalan wajah, tapi tanpa persetujuan siapa pun.

Tak lama setelah itu, sebuah kasus terhadap Facebook dimulai. Kemudian sengketa hukum secara resmi yang ditujukan kepada induk perusahaan Instagram dan WhatsApp itu dimulai pada 2015.

Laman GSM Arena menyebutkan, sejak itu kasus telah diangkat ke gugatan class action dan Facebook cukup yakin bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Karena itu, mereka penuh percaya diri untuk melakukan pembelaan diri.


Faktanya kini berubah dan sekarang Facebook harus siap menerima denda Rp7,6 triliun yang akan dibayarkan kepada kelompok penggugat dari Illinois, AS, yang memulai kasus tersebut. Menurut Juru Bicara Facebook, perusahaan ingin bergerak cepat mengatasi masalah ini, karena itu adalah kepentingan terbaik perusahaan dan pemegang saham.

Sejauh ini belum ada gugatan sama yang diajukan para pemilik akun Facebook di wilayah lainnya. Mereka tak terusik dengan fitur pengenalan wajah dari raksasa media sosial tersebut. | Sindonews

Ilustrasi
JAKARTA - Wakil Sekjen Partai Bulan Bintang (PBB) Solihin Pure mengaku tak habis pikir atas usulan anggota DPR Fraksi PKS asal Dapil Aceh I Rafli Kande kepada Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, agar menjadikan ganja sebagai komoditas ekspor pada saat rapat di Komisi VI DPR, Kamis (30/1) kemarin.

Menurut Pure, motivasi Rafli perlu didalami dan ditelusuri oleh pihak berwajib karena sampai detik ini ganja masih merupakan komoditas ilegal untuk diperjualbelikan, berdasarkan hukum positif yang ada.

Pure juga merasa usulan Rafli perlu didalami karena pemerintah sedang gencar-gencarnya memerangi segala jenis peredaran narkoba. Sementara Rafli malah menyampaikan usulan yang berseberangan dengan visi pemerintah dalam hal pemberantasan narkoba.

"Bukan asal menuduh dan menilai secara konspiratif, tetapi saya kira perlu didalami, ditelusuri apa motifnya. Siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang akan dirugikan," ujar Pure di Jakarta, Jumat (31/1).

Rafli sebelumnya menyebut alasan usulan ekspor ganja untuk menambah devisa negara. Terkait hal ini Pure mengingatkan, pihak yang paling pertama diuntungkan jika ganja dilegalisasi adalah para bandar dan pengedar.

"Kalau alasannya untuk mendongkrak pendapatan negara, saya pastikan Aceh atau bahkan Indonesia tidak akan pernah kaya dan sejahtera dari pajak ekspor ganja atau produk olahannya. Ekspor ganja itu malah lebih banyak mudaratnya," kata Pure.

Lelaki asal NTT ini kemudian mengingatkan, muslim diajarkan untuk mencari rezeki dengan cara yang halal dan thoyib, terlebih Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekkah, maka hal itu harus benar-benar menjadi pegangan.

"Kalau usulannya seperti ini (ekspor ganja), jangan heran kalau nanti muncul dugaan ada muatan kepentingan pihak tertentu di balik usulan itu," kata Pure.

Komisi VI diketahui menggelar rapat kerja dengan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Kamis kemarin. Rapat membahas perjanjian dagang ASEAN dengan Jepang. Dalam rapat Rafli mencontohkan Indonesia dapat saja kemudian mengekspor ganja.

"Misalnya, ganja ini. Entah untuk kebutuhan farmasi atau apa saja, jangan kaku lah, harus dinamis. Ganja ini tumbuhnya mudah di Aceh. Saya rasa ini ganja menjadi komoditas ekspor bagus. Saya nanti siapkan lahannya segala macam," kata Rafli. (jpnn)

AD alias MJ residivis kasus pembunuhan yang juga pelaku pemerkosa anak kandung dan anak tirinya yang masih di bawah umur roboh ditembak anggota Satreskrim Polresta Pontianak Kota. Foto iNews TV/Uun Y
PONTIANAK - AD alias MJ penjahat kelamin tega merudapaksa anak kandung dan anak tirinya yang masih di bawah umur.

Residivis kasus pembunuhan ini akhir ambruk roboh ditembak anggota Satreskrim Polresta Pontianak Kota, Kamis malam 30 Januari 2020.

Pelaku yang juga tersangka KDRT ini ditembak lantaran berupaya melakukan perlawanan dan melarikan diri.

Kanit Jatanras Satuan Reskrim Polresta Pontianak Kota Iptu Jatmiko menjelaskan, pelaku ditangkap di rumahnya di Gang Belitung Dua, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Pontianak Tenggara

“Pria yang terlibat kasus pembunuhan terhadap anggota TNI ini pun terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas Polisi,” kata Iptu Jatmiko, Jumat (31/1/2020).

Menurut perwira pertama Polri ini perbuatan biadabnya dengan mencabuli anak kandung dan anak tirinya yang masih di bawah umut hingga berulang kali.

“Bahkan perbuatan keji itu dilakukan pelaku sejak anak kandungnya duduk di bangku sekolah dasar sampai smp yang saat ini sudah berusia 13 tahun. Sedangkan anak tiri pelaku masih berusia 7 tahun,” ungkap Iptu Jatmiko.

Pelaku, kata dia, dikenakan Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 dengan ancaman kurungan 15 tahun penjara. | Sindonews

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR, Rafli, mengusulkan agar ganja bisa menjadi komoditas ekspor. Politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari daerah asal pemilihan Aceh itu, tanaman ganja biasa dijadikan obat dan mudah tumbuh di Aceh. Sehingga ganja bisa menjadi komoditas ekspor yang bagus.

Ditanya wartawan mengenai hal ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan agar wartawan menanyakan hal tersebut ke yang mengusulkan.

"Tanya saja ke dia, tanya ke yang mengusulkan," ujarnya singkat di Jakarta, Jumat (31/1/2020). Baca: Ganja Diusulkan Anggota DPR Jadi Komoditas Ekspor, Ini Jawaban Mendag

Sementara itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, mengatakan harus ada pembahasan serius serta mekanisme yang tepat sebelum diwujudkan.

"Itu kan baru bahas usulan dari pembahasan. Jadi nanti teknisnya akan kita lihat aturan yang ada. Selama ini, (ganja) kan tidak diperbolehkan," jelas Mendag Agus. | Sindonews

BANDA ACEH - Pada tahun 2019, isu lingkungan hidup dan kehutanan di Aceh, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), menjadi isu yang dibahas publik. Kondisi hutan di Aceh menjadi perhatian publik karena pentingnya pelestarian lingkungan untuk kehidupan manusia. Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyebutkan bahwa laju kehilangan tutupan di Kawasan Ekosistem Leuser wilayah Aceh menurun pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018. Hal tersebut disampaikan pada konferensi pers Yayasan HAkA dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) di Banda Aceh 30 Januari 2020.

Konferensi pers yang dipimpin oleh Agung Dwinurcahya, GIS Manager Yayasan HAkA, TM Zulfikar dan Yakob Ishadamy mewakili YEL, mempresentasikan data hasil monitoring dari citra satelit meliputi seluruh provinsi Aceh dan kondisi gambut di Aceh, khususnya di Rawa Tripa - sebuah kawasan yang dulu dikenal sebagai Ibukota Orangutan di Dunia karena kepadatan populasinya. Citra satelit yang digunakan adalah Landsat, Sentinel, Planet dan bantuan peringatan dini kehilangan tutupan pohon GLAD alerts dari Global Forest Watch (GFW).

Agung menyebutkan bahwa laju hilangnya tutupan hutan di provinsi Aceh periode 2019 adalah sebesar 15.140 hektar[1]. Tahun 2019 ini tren kerusakan hutan Aceh relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 15.071 hektar. Angka itu kurang lebih seluas 2,5 x lipat luas kota Banda Aceh, seluas 14 ribu kali lapangan bola, dan diperkirakan 41 hektar hutan hilang di Aceh per harinya pada tahun 2019. Pada tahun 2019, di antara kabupaten-kabupaten yang angka laju tutupan hutannya tertinggi adalah Aceh Tengah (2.416 ha), Aceh Utara (1.815 ha) dan Aceh Timur (1.547 Ha). Secara umum, sekitar 60% hilangnya tutupan hutan yang terjadi di Kawasan Hutan (berdasarkan SK/MenLHK No. 103/Men-LHK-II/2015 maupun SK/MenLHK No. 580/Men-LHK II/2018), dan 40% lainnya terjadi di Areal Penggunaan Lain (APL).

KEL Aceh yang menjadi fokus area kerja HAkA juga tak luput dari analisis yang dilakukan. KEL Aceh mengalami penurunan angka laju tutupan hutan pada tahun 2019 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perhitungan tim HAkA menghasilkan angka tutupan hutan di dalam KEL Aceh sebesar 5.395 ha, menurun 290 ha dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Dalam 5 tahun terakhir Yayasan HAkA memantau tutupan hutan KEL via citra satelit, tahun 2019 adalah tahun terendah untuk laju deforestasi KEL,” sebut Agung. Penurunan angka kerusakan hutan juga terjadi di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) wilayah Aceh.

Tim HAkA juga menyebutkan bahwa titik api di Aceh 2019 mengalami penurunan. Data titik api ini diunduh langsung dari website FIRMS (Fire Information for Resource Management System), NASA. Terpantau 1.957 titik api dari sensor VIIRS di tahun 2019 ini, dimana di 2018 ada 3.128 titik api. Menurun lebih dari seribu titik api dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan jika analisis menggunakan sensor MODIS terpantau 255 titik api dibandingkan 482 di tahun sebelumnya. Ini membuktikan bahwa Aceh telah cukup berhasil mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 2019.

Kawasan Gambut di Aceh juga adalah concern penting dalam perlindungan lingkungan di Aceh. YEL, diwakili oleh TM Zulfikar dan Yakob Ishadamy, sebagai salah satu LSM yang aktif advokasi isu gambut, mempaparkan kondisi gambut terkini di Aceh dan inisiatif pemerintah dalam penyusunan Rencana Pengelolaan dan Perlindungan Ekosistem Gambut (RPPEG), yang akan menjadi pedoman instansi pemerintah di Aceh untuk masa depan ekosistem gambut. “Kawasan gambut sering luput dalam diskusi perlindungan lingkungan di Aceh, padahal lahan gambut mempunyai peran penting untuk menyerap karbon dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Inisiatif pemerintah untuk penyusunan RPPEG adalah langkah awal untuk masa depan gambut yang lebih baik di Aceh, dan YEL berkomitmen untuk mendukung pemerintah Aceh agar tercapainya tata kelola rawa gambut berkelanjutan di Aceh,” jelas Yakob.

Dampak dari berukurangnya tutupan hutan adalah salah satu faktor dari meningkatnya angka terjadinya bencana alam berupa banjir, longsor dan kekeringan di Provinsi Aceh. Tim GIS HAkA juga memantau dan memetakan bencana-bencana tersebut melalui kliping media online. Kejadian bencana banjir, longsor dan kekeringan pada tahun 2019 meningkat pesat. Angka bencana banjir dan longsor meningkat 87 kasus, menjadi 121 kasus dan kasus kekeringan meningkat 4 kasus menjadi 16 kasus pada tahun 2019. Banjir dan longsor terjadi di 22 Kabupaten dan kekeringan terjadi di 8 kabupaten. Kecamatan yang sering terjadi banjir dan longsor adalah Woyla Timur dan Badar. Sedangkan Darul Imarah dan Lhoknga adalah kecamatan yang paling sering mengalami kekeringan.

Walaupun angka kehilangan tutupan hutan relatif stabil namun dampak bencana alam yang dialami relatif meningkat pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018, HAkA dan YEL mengapresiasi upaya dan inisiatif instansi pemerintah di Aceh dalam upaya pelestarian dan pengelolaan kehutanan dan lingkungan hidup. Dua lembaga tersebut akan terus mendorong pelestarian Kawasan Ekosistem Leuser dan lahan gambut di Aceh karena pelestariannya akan memberi manfaat kepada masyarakat Aceh, melindungi sumber air dan berperan untuk mitigasi bencana. “Stabilnya angka kehilangan tutupan hutan di Aceh menjadi preseden yang baik. Namun, luas tutupan hutan Aceh terus berkurang, dan ini pertama sekali dalam sejarah dimana luas tutupan hutan Aceh menjadi di bawah 3 (tiga) juta hektar. Upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan hutan di Aceh harus ditingkatkan agar hutan Aceh tetap bisa menjadi sumber kehidupan untuk masyarakat Aceh,” tutup Badrul Irfan, sekretaris Yayasan HAkA.

Banda Aceh – Anggota DPRA Irwan Djohan mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh yang dinilai responsif terhadap penanganan mahasiswa Aceh, baik yang sudah kembali maupun yang masih berada di beberapa kota di Tiongkok pasca mewabahnya Virus Corona yang diyakini berasal dari Kota Wuhan Provinsi Hubei.

“Saya pikir apa yang sudah dilakukan Pemerintah Aceh sejauh ini, merupakan bukti respon yang luar biasa dibandingkan dengan pemerintah lainnya di Indonesia yang ada warga mereka di China tapi belum seresponsif Pemerintah Aceh,” kata Irwan Djohan.

Irwan menyampaikan hal tersebut saat berkunjung ke Dinas Sosial Aceh bersama rekannya sesama Anggota DPRA, Alidin Abu Abbas untuk meninjau Posko Informasi Pemerintah Aceh di Dinas Sosial Aceh, Kamis 30/1/2020.

Irwan menuturkan, sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap mahasiswa Aceh di Wuhan, setahunya Pemerintah Aceh sudah dua kali mengirimkan biaya logistik kepada mahasiswa Aceh di Wuhan agar mereka bisa bertahan dalam kondisi makanan yang minim dan harga-harga barang yang mahal.

Untuk diketahui, tahap pertama Pemerintah Aceh melalui Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengirimkan biaya Rp 50 juta untuk biaya hidup mahasiswa Aceh di Wuhan, selang beberapa hari kemudian Pemerintah Aceh melalui Dinsos Aceh kembali mengirimkan biaya senilai Rp 50.

“Itu sudah bukti yang luar biasa, kemudian Pemerintah Aceh juga membantu biaya pemulangan beberapa orang yang pulang ke Aceh,” katanya.

Selain itu, Irwan Djohan juga mengapresiasi langkah Pemerintah Aceh membuka Posko Informasi di Dinsos Aceh, sehingga setiap informasi dan pengaduan warga Aceh di Tiongkok bisa bisa disampaikan langsung ke posko ini.

“Saya juga mengapresiasi kawan-kawan media yang mengikuti dan memberitakan isu ini lebih luas. sehingga masyarakat yang ingin membutuhkan informasi saya kira akan lebih mengetahui kemana mereka harus mendapatkan informasinya,” kata Irwan.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri mengatakan, Pemerintah Aceh bersama DPRA akan terus mengupayakan yang terbaik terutama terhadap warga Aceh yang saat ini masih berada di Wuhan maupun yang di luar Kota Wuhan. Hingga saat ini pihaknya terus intens membangun komunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa Aceh di Tiongkok untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja.

“Intinya untuk adik-adik kita yang ada di Tiongkok kami akan terus berupaya yang terbaik seperti perintah Bapak Plt Gubernur Aceh bahwa kami tetap serius memperhatikannya. Insya Allah ini akan tertangani dengan serius nantinya,” tegas Alhudri,

Hingga saat ini, dari 64 mahasiswa Aceh di Tiongkok 13 diantaranya masih belum bisa keluar dari Kota Wuhan pasca Pemerintah Tiongkok mengisolasi kota tersebut, 8 orang diantaranya masih berada di Tiongkok dengan kota domisi yang berbeda, 3 orang sedang dalam perjalanan pulang menuju Aceh, dan 40 mahasiswa Aceh lainnya sudah berada di Aceh, bahkan beberapa diantaranya sudah tiba di Aceh sejak akhir Desember 2019 lalu.

“Untuk delapan mahasiswa Aceh yang di luar Kota Wuhan ini akan kita komunikasikan terus, kita akan cari terus datanya, nomor kontak mereka, intinya kita akan cari langkah secepatnya untuk bisa memulangkan mereka ke Aceh,” katanya.

Alhudri juga mengatakan, sejauh ini selain  dari mahasiswa belum diketahui adanya warga Aceh yang menjadi TKI di negara tirai bambu tersebut. “Jika ada warga Aceh yang belum terdeteksi silakan melapor ke posko kita di Dinas Sosial Aceh,” kata Alhudri. []


Jakarta - Baku tembak anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dengan kurir narkoba memakan korban.

Tiga kurir yang membawa sabu-sabu sebanyak 288 kilogram tewas dalam aksi baku tembak.

Jajaran Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menggagalkan kiriman narkoba jenis sabu jaringan internasional seberat 288 Kilogram.

 Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan upaya peredaran narkotika jenis sabu 288 kilogram (kg) di Kampung Gunung Batu, RT 02 RW 04 Desa Cijantra, Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

Tiga kurir berinisial GUN, AM dan IA ditembak mati karena berusaha melawan petugas saat ditangkap di kawasan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (30/1/2020).

Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sujana mengatakan, peristiwa tersebut bermula saat jajarannya mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya pengiriman narkoba dari Pelabuhan Merak ke Jakarta dengan menggunakan mobil boks.

Saat itu, polisi langsung melakukan penyelidikan dan membuntuti mobil tersebut.

"Saat diminta anggota berhenti, para pelaku terus melajukan kendaraanya.

Saat itu anggota langsung memberhentikan paksa," kata Nana di lokasi.

Namun saat dilakukan penangkapan, para kurir narkoba tersebut melakukan perlawanan dengan menembak ke arah petugas.

Saat itu terlibat aksi tembak menembak antara para pelaku dan petugas.

"Saat itu anggota langsung melakukan tindakan tegas terukur.

Satu langsung dibawa ke Rumah Sakit Kramat Jati namun di perjalanan meninggal dunia," katanya.

Dari hasil penangkapan pelaku, polisi berhasil mengamankan 288 kilogram yang dibungkus dalan wadah makanan.

"Diperkirakan untuk satu boks itu ada satu kilogram. Jadi total ada 288 kilogram," ungkapnya.

Saat ini, seluruh barang bukti dan mobil yang dikendarakan para pelaku telah dibawa ke Polda Metro Jaya.

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sujana menyebutkan sabu sebanyak 288 kg tersebut memiliki nilai yang fantastis jika dirupiahkan.

"Per gramnya Rp 3 juta, jadi kalau dirupiahkan sekitar Rp 864 M," kata Kapolda dalam konferensi pers yang ditayangkan Kompas TV, Kamis (30/1/2020).

"Ini suatu hal yang sangat besar," tambahnya.

Nana menegaskan, kepolisian berkomitmen untuk terus memerangi pengedaran narkoba.

"Kami, Polri, khususnya Polda Metro Jaya menyatakan perang terhadap narkoba," ungkap Nana.

Nana pun memastikan kepolisian akan terus meningkatkan upaya-upaya pemberantasan narkoba.

"Kami akan terus meningkatkan upaya-upaya sesuai komitmen kami untuk memberantas narkoba khususnya dari wilayah jajaran Polda Metro Jaya," kata Nana.

Diberitakan TribunJakarta.com sebelumnya, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya melupuhkan tiga kurir narkoba membawa sabu di Kampung Gunung Batu, RT 02 RW 04 Desa Cijantra, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Kamis (30/1/2020).

Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sujana menjelaskan, pihaknya mendapatkan informasi soal ada pergerakan kurir narkoba di jalan tol Km 23 Lippo Karawaci.

"Petugas menyisir Jalan Tol Jakarta-Merak. Hasil penyisiran mereka melihat ada mobil boks berkecepatan tinggi, kemudian petugas memerintahkan pengemudi menepi," sebut Nana dalam konfrensi pers.

"Tapi kendaraan itu malah tancap gas, hingga dipepet dan sempat senggolan dengan anggota," sambungnya.

Menurutnya, saat berhasil menepi, pelaku berupaya untuk melakukan perlawanan terhadap petugas.

"Saat didekati mereka menembak, untuk membela diri, karena yakin bawa sabu melakukan penembakan balasan dan terjadilah tembak menembak," kata Nana.

Dirinya menjelaskan, pelaku kemudian berupaya untuk melarikan diri, petugas pun melumpuhkan pelaku.

Nana menjelaskan, tiga pelaku yang dilumpuhkan dibawa petugas ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, tapi nyawanya tak bisa diselamatkan di jalan.

"Karena pendarahan meninggal dunia di jalan," katanya.

Kapolda mengapresiasi atas tangkapan yang berhasil dilakukan anak buahnya.

Nana mengatakan, tiga kurir pembawa narkoba jenis sabu yang dilumpuhkan diduga jaringan internasional.

"Kalau dilihat label, cap 555 ini jaringan internasional, jaringan Iran. Ini akan kami kembangkan, dari beberapa HP yang kami amankan akan dikembangkan," kata Nana dalam konferensi pers di lokasi, Kamis (30/1/2020).

Nana menjelaskan, sebanyak 288 kilogram sabu yang dibawa rencananya akan diedarkan di wilayah Ibu Kota Jakarta.

Selain sabu di dalam plastik, pihaknya juga mengamankan senjata api rakitan dan handphone milik pelaku.

Nana menjelaskan, tiga tersangka berinisial Gun, AM dan IA yang bersama-sama di dalam mobil boks. (Kompas.com/TribunJakarta)

Ketua LGN Dhira Narayana saat berdiskusi dengan masyarakat di Aceh terkait potensi industri ganja Aceh sebagai strategi pengentas kemiskinan, di Banda Aceh, Jumat (31/1/2020). (ANTARA/Khalis)
Banda Aceh - Direktur Eksekutif The Aceh Institute Fajran Zain menyatakan sebagai lembaga penelitian pihaknya ingin membuka pintu diskusi tentang legalisasi tanaman ganja di Aceh, mengingat ganja memiliki banyak kandungan positif sebagai bahan baku untuk berbagai produk.

"Selama ini stigma (ganja) itu adalah zat adiktif, narkoba, dan masuk dalam daftar BNN sebagai barang tidak boleh dikonsumsi," katanya di sela-sela diskusi publik potensi industri ganja Aceh sebagai strategi pengentasan kemiskinan, di Kamp Biawak, Kota Banda Aceh, Jumat.

Diskusi itu mengundang Prof Musri Musman sebagai peneliti pemanfaatan ganja untuk keperluan medis, pemerhati ganja Tgk Jamaica, serta Ketua Lingkar Ganja Nusantara (LGN) Dhira Narayana, yang diselenggarakan The Aceh Institute.

Fajran menyebutkan turunan dari penelitian Prof Musri bahwa ganja itu produktif. Berbicara soal ganja tidak hanya berhenti pada zat adiktif semata, tetapi tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk bernilai ekonomi.

"Seperti pengawet warna, parfum, zat-zat yang bagus untuk kesehatan serta berbagai dari sisi medis. Maka saya jadi bertanya apa dasar negara menjadikan ini ilegal," ujarnya.

Sebagai lembaga penelitian pihaknya wajib membuka ruang kepada publik untuk berdiskusi, meneliti, kajian, tentang potensi ganja sebagai pengentasan kemiskinan di Aceh. Meskipun, kata dia, pihak keamanan, BNN, serta sejumlah orang mempertanyakan tujuan dari diskusi yang dibuat tersebut.

"Ketika kami melansir ide diskusi ini juga ditelpon oleh pihak keamanan, BNN, banyak orang mempertanyakan maksud diskusi ini. Saya katakan ini adalah diskusi, terbuka, kajian, akademik, dan silahkan datang," katanya.

Menurut dia, jika Pemerintah Aceh cermat dalam melihat potensi tanaman ganja di daerah Serambi Mekkah ini, tidak tertutup kemungkinan pascadiskusi itu pemerintah akan menindaklanjutinya sebagai hal positif.

"Kita buka keran diskusi dulu. Penelitian baru satu kami temukan, bukan tidak mungkin ada kajian lain tentang ganja yang memang positif," katanya.

Dhira Narayana menilai bisa saja tercapai bahwa ganja sebagai alat untuk memberantas kemiskinan. Menurutnya kalau masyarakat dan petani dilibatkan langsung dalam proses industri ganja tersebut.

Kata dia, ketika ganja dilegalkan dan akan diekspor maka tentu tidak dalam bentuk bahan baku mentah, tetapi harus sudah menjadi sebuah produk.

"Itu harus langsung melibatkan masyarakat, itu saya jamin akan mengentaskan kemiskinan di Aceh. Jadi masyarakat atau petani tidak boleh dijadikan, dalam tanda kutip saya pakai budak-budak pertanian," katanya. | ANTARA

Anggota Komisi 1 DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sukamta. (Foto: Tagar/Fernandho Pasaribu)
Jakarta - Usul anggota Komisi VI DPR PKS Rafli terkait ganja jadi komoditas ekspor saat rapat kerja antara Komisi VI DPR dengan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto kemarin, merupakan cerminan keprihatinan PKS untuk mengurangi angka kemiskinan di Aceh.

Hal itu diutarakan anggota Komisi I DPR Fraksi PKS Sukamta terkait penjelasan yang diterimanya dari Rafli. Rafli, kata dia, memiliki keprihatinan lebih terkait angka kemiskinan yang ada di kampung halamannya.

"Dia mengatakan usulannya itu berangkat dari keprihatinannya yang mendalam melihat kondisi masyarakat Aceh yang terbelit kemiskinan serta ada potensi untuk keluar dari masalah itu," kata Sukamta kepada Tagar, Jumat, 31 Januari 2020.

Sukamta menjelaskan, selama ini kebanyakan orang menyalahgunakan ganja sehingga berdampak buruk bagi masyarakat. Tanaman yang banyak tumbuh di Kota Aceh Sumatera Utara itu kemudian menjadi haram karena masuk dalam kategori Narkotika Golongan I. "Tetapi masih dikelola dengan cara yang salah," ujarnya.

Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh pada 2019, jumlah penduduk Aceh yang masih berada di bawah kemiskinan mencapai 15,01 persen atau 810 ribu orang. Kenyataan itu menjadikan Tanah Rencong sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Sumatera.

Kepala BPS Aceh Wahyudin mengungkapkan sejumlah faktor mendasari Aceh masih terbelit angka kemiskinan tinggi. Menurut dia, kucuran dana desa maupun otonomi khusus (otsus) untuk Serambi Makkah belum merata dan tepat sasaran.

Dia mencontohkan besarnya alokasi dana untuk Aceh berbanding terbalik dengan angka kemiskinan. Pada 2019, Aceh mendapat kucuran dana desa sebesar Rp 4,95 triliun ditambah dana otsus sebesar Rp 8,35 triliun.

"Anggaran yang ada di kita cukup besar, kita punya dana otsus yang cukup tinggi, dana desa cukup tinggi, tetapi mungkin keterjangkauan belum merata, sasaran mungkin belum begitu tepat," kata Wahyudin kepada Tagar di Banda Aceh, Rabu, 15 Januari 2020.

Usul Bergulir di Istana

Usul yang menggelinding di DPR itu kini sedang didalami Istana. Juru bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi) Fadjroel Rachman mengatakan pemerintahan akan mempelajari lebih dahulu untuk memberikan tanggapan lebih jauh.

"Kami tidak ingin memberikan pendapat langsung, sebelum mencoba mempelajarinya secara lebih," ucap Fadjroel di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 31 Januari 2020.

Seperti diketahui, dalam rapat kerja antara Komisi VI DPR dengan Mendag Agus, anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Rafli mengatakan ganja memiliki potensi ekspor yang besar dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan farmasi.

Di Aceh, mengingat tanahnya yang subur, ganja juga mudah ditanam. Menurutnya, klaim ganja berbahaya hanya merupakan konspirasi global.

"Jadi ganja ini ini adalah konspirasi global, dibuat ganja nomor satu bahayanya. Narkotika yang lain dibuat nomor sekian-sekian, padahal yang yang paling sewot dan gila sekarang masuk penjara itu bukan orang ganja. Orang yang pakai sabu bunuh neneknya, pakai ekstasi segala macam," kata Rafli di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 30 Januari 2020.  | Tagar.id

Kolase foto Warung Mie Aceh Pasar Baru, Korban Abadi Bangun, dan Petugas dari Polsek Medan Baru di lokasi kejadian
Medan - Abadi Bangun (42) tewas setelah terlibat perkelahian dengan karyawan Kafe Delicious Mie Aceh Pasar Baru, Medan, Sumut, pada Rabu (29/1/2020) pukul 02.20 dini hari WIB.

Abadi Bangun (42) diketahui sebagai seorang Mandor Angkutan Umum Rahayu di Jalan Bahagia, Kelurahan Titi Rantai, Kecamatan Medan Baru.

Kejadian berawal saat Abadi Bangun bersama rekannya, Jery, mendatangi warung Mie Aceh yang berada di samping Kafe Delicious Mie Aceh pada Rabu (29/1/2020) pukul 01.30 WIB dini hari.

Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing mengatakan, Awalnya, Korban meminta nasi goreng di warung tersebut.

Penjaga warung memintanya bersabar dan melapor terlebih dahulu ke pemilik warung.

"Karena Korban tidak Terima, lantas dia memecahkan kaca steling warung tersebut.

Kemudian, korban bersama Jery pergi menuju Jalan Jamin Ginting Simpang Pasar III (lokasi pengutipan Angkot Rahayu)," tutur Martuasah.

 Di Simpang Pasar III, Abadi Bangun dan Jery bertemu Heru Gunawan Kaban sekira pukul pukul 02.05 WIB.

Lalu, Abadi Bangun dan Jery meminjam sepeda motor Heru Gunawan Kaban, dengan alasan pulang ke rumah untuk mengganti baju yang sudah basah karena merasa dingin.

Setelah tiba di rumahnya di Jalan Bahagia Gang Budi Utomo, ia meminta uang sebesar Rp 20 ribu rupiah kepada Hendri Kapri dengan alasan lapar dan akan membeli makan.

Selanjutnya Abadi Bangun (korban) bersama Jery kembali bergerak menuju warung Mie Aceh Pasar Baru.

Sekira pukul pukul 02.20 WIB, korban bersama Jery kembali mendatangi warung Mie Aceh Pasar Baru dan langsung mengancam karyawan Mie Aceh Baru dengan menggunakan parang.

"Karena kondisi terancam, karyawan tersebut meminta tolong kepada pemilik Kafe Delicious Mie Aceh Pasar Baru, Mahyudi menyambangi korban dan menanya apa yang terjadi," sambung Martuasah.

Situasi memanas dan terjadilah perkelahian.

Mahyudi mengambil kayu broti dan langsung memukul korban.

Perkelahian pun semakin menjadi-jadi, sehingga karyawan Kafe Delicious Mie Aceh Baru ikut memukuli korban hingga terkapar di jalan Pasar Baru.

Jery yang melihat korban dipukuli, langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor menuju rumah korban dan menyampaikan bahwa korban telah dipukuli di Kafe Delicious Mie Aceh Pasar Baru.

Sekira pukul 02.30 WIB, Hendri Kapri, Jery, dan 3 orang rekannya tiba di lokasi dan sudah melihat korban terletak di tengah Jalan Pasar Baru.

Kemudian Hendri Kapri dan kawan-kawannya membawa korban ke Rumah Sakit Siti Hajar, Medan.

Dokter Jaga langsung membawa korban ke Ruang IGD untuk mendapatkan perawatan.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata korban sudah meninggal dunia.

"Berdasarkan keterangan dokter jaga di Rumah Sakit Siti Hajar, usai dilakukan pemeriksaan, korban sudah meninggal dunia," ungkap Martuasah Tobing.

Oleh perkelahian yang berujung pada kematian, Abadi Bangun mengalami luka robek pada bagian kepala bagian sebelah kiri sebanyak dua luka, luka robek pada bagian kepala sebelah kiri sebanyak satu luka, lebam pada perut bagian bawah sebelah kiri, lebam pada punggung tangan kiri, lebam pada pipi wajah sebelah kiri, dan mulut serta telinga mengeluarkan darah.

Jenazah pun dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk dilakukan visum.

Pada pukul 03.50 WIB, sekitar 20 orang pemuda yang merupakan teman-teman korban mendatangi Cafe Delicious Mie Aceh Pasar Baru.

Mereka langsung melakukan pengerusakan Cafe Delicious Mie Aceh Pasar Baru.

Kaca pecah, Kursi, dan meja rusak.

"Istri korban, Eva Sihombing (40) telah membuat laporan resmi," kata Martuasah.

12 Saksi Telah Diperiksa

 Aparat kepolisian melakukan penyelidikan terkait duel maut yang menewaskan Abadi Bangun (42), warga Jalan Bahagia, Gang Budi Utomo, No 163, Kelurahan Titi Rantai, Kecamatan Medan Baru.

Selanjutnya >>>

Banda Aceh - Kerusakan hutan di Aceh masih terjadi selama 3 tahun terakhir. Luas tutupan hutan terus menyusut, meskipun angkanya stabil, tetapi angka bencana meningkat. Pembalakan liar dan alih fungsi hutan menjadi pemicu utama kerusakan hutan di Tanah Rencong.

Berdasarkan data dari Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), luas tutupan hutan di Aceh yang tersisa sekarang pada 2019 seluas 2.989.212 haktar. Setiap tahunnya terus mengalami penyusutan, meskipun setiap tahunnya laju kerusakan mengalami stabil, namun kerusakan hutan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah Aceh sekarang untuk terus menekan angka penghancuran lingkungan.

Luas tutupan hutan pada 2017 lalu masih mencapai seluas 3.019.432 hektare, kemudian pada 2018 lalu kembali menyusut menjadi 3.004.352 hektare. Penyusutannya pada 2019 ini terjadi 41 hektare terjadi setiap harinya. Baik itu ada pembukaan lahan baru, perambahan hutan maupun pembukaan pertambangan tanpa izin.

Laju hilangnya tutupan hutan di Serambi Makah setiap bulannya selama 5 tahun ini mengalami penurunan atau relatif stabil kehilangan tutupan hutan. Pada 2015 lalu kerusakan hutan seluas 21.056 hektare atau setiap bulannya hutan rusak seluas 1.755 hektare.

Sedangkan pada 2016 lalu hutan rusak seluas 21.060 atau setiap bulannya rusak mencapai 1.755 hektare. Pada 2017 angka kerusakan mulai menurun hanya 17.820 hektare, pada 2018 kembali turun seluas 15.071 hektare. Kendari data kerusakan 2019 mengalami sedikit kenaikan seluas 15.140 hektare.

"Angka itu kurang lebih seluas 2,5 kali lipat luas kota Banda Aceh, seluas 14 ribu kali lapangan bola, dan diperkirakan 41 hektare hutan hilang di Aceh per harinya pada tahun 2019," kata GIS Manager Yayasan Hutan (HAkA), Agung Dwinurcahya, Kamis (30/1) di Banda Aceh.

Kata Agung, data ini diperoleh menggunakan Citra Satelit Lansat 8, Sentil 2, Planet dan Google Earth. Hasil kerusakan masih terus terjadi setiap bulannya akibat pembalakan liar dan alih fungsi hutan.
1 dari 1 halaman

Kabupaten Aceh Tengah penyumbang terbesar terjadi penyusutan tutupan hutan sejak 2018 mencapai 1.924 hektare. Pada 2019 Aceh Tengah masih menduduki peringkat pertama terjadi kerusakan hutan mencapai 2.416 hektare. Disusul peringkat kedua Kabupaten Aceh Utara (1.815 ha) dan Aceh Timur (1.547 Ha).

Secara umum, kata Agung, sekitar 60 persen hilangnya tutupan hutan yang terjadi di Kawasan Hutan, berdasarkan SK/MenLHK No. 103/Men-LHK-II/2015 maupun SK/MenLHK No. 580/Men-LHK II/2018), dan 40 persen lainnya terjadi di Areal Penggunaan Lain (APL).

Kondisi yang sama juga terjadi dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Aceh mengalami kerusakan. Meskipun pada 2019 mengalami sedikit penurunan kerusakan di sana. Angka kerusakan pada tahun 2018 adalah sebesar 5.685 Ha, mengalami penurunan pada 2019 sebesar 5.395 ha, menurun 290 ha dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Dalam 5 tahun terakhir Yayasan HAkA memantau tutupan hutan KEL via citra satelit, tahun 2019 adalah tahun terendah untuk laju deforestasi KEL," sebut Agung.

Sementara itu Sekretaris Yayasan HAkA, Badrul Irfan menjelaskan, dampak dari berkurangnya tutupan hutan meningkatnya angka bencana alam di Aceh. Seperti banjir bandang, longsor dan kekeringan.

Kejadian bencana pada 2019 cenderung meningkat pesat. Angka bencana banjir dan longsor meningkat 87 kasus, menjadi 121 kasus dan kasus kekeringan meningkat 4 kasus menjadi 16 kasus pada tahun 2019.

Banjir dan longsor terjadi di 22 Kabupaten dan kekeringan terjadi di 8 kabupaten. Kecamatan yang sering terjadi banjir dan longsor adalah Woyla Timur dan Badar. Sedangkan Darul Imarah dan Lhoknga di Kabupaten Aceh Besar adalah kecamatan yang paling sering mengalami kekeringan.

"Walaupun angka kehilangan tutupan hutan relatif stabil namun dampak bencana alam yang dialami relatif meningkat pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018," ungkapnya.

Stabilnya angka kehilangan tutupan hutan di Aceh, sebutnya, menjadi preseden yang baik. Namun, luas tutupan hutan Aceh terus berkurang dan ini pertama sekali dalam sejarah luas tutupan hutan Aceh menjadi di bawah 3 juta hektare.

"Upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan hutan di Aceh harus ditingkatkan agar hutan Aceh tetap bisa menjadi sumber kehidupan untuk masyarakat Aceh," tutup Irfan. | Merdeka.com

Petugas melakukan evakuasi mayat di Jalan Ahmad Yani, No. 53, Gampong Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh pada Rabu, 29 Januari 2020. (Foto: Tagar/Istimewa)
Banda Aceh - Kepolisian Sektor (Polsek) Kuta Alam dibantu Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh melakukan evakuasi terhadap salah seorang mayat di kawasan Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Mayat tersebut ditemukan oleh warga di sebuah rumah di Jalan Ahmad Yani, No. 53, Gampong Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh pada Rabu, 29 Januari 2020.

Kondisi rumah korban dikelilingi dengan teralis besi, hal ini membuat akses evakuasi sulit dilakukan.

Kepala Kepolisian Sektor Kuta Alam, Inspektur Polisi Satu Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan, korban yang bernama Abdul Rahman alias Cutung, 83 tahun, itu ditemukan oleh keluarga dalam posisi tergeletak di lantai tiga rumah miliknya.

"Pada saat ditemukan oleh salah satu keluarganya bernama Soewandi, kondisi korban dalam keadaan sudah meninggal dunia dilantai tiga dan butuh pertolongan untuk dilakukan evakuasi,” kata Dizha dalam keterangannya kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis, 30 Januari 2020.

Dizha menjelaskan, berdasarkan dari keterangan para saksi bahwa korban Cutung sudah dua hari tidak keluar dari rumahnya. Saksi Soewandi merupakan keponakan korban. Ia mendapat kabar tersebut dari tetangga korban bernama Koh Amin dan Aken.

“Tetangganya bilang bahwa korban sudah dua hari tidak terlihat seperti biasa di rumahnya,” ujar Dizha.

Ia menjelaskan, penemuan tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. Lalu, pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara dengan memasang garis police line di sekitar area penemuan mayat tersebut.

"Setelah dilakukan olah TKP, korban dinyatakan meninggal dunia dalam posisi tergeletak di lantai tiga rumahnya, namun setelah dilakukan pemeriksaan kondisi korban tidak ditemukan tanda kekerasan, jadi korban meninggal secara wajar dengan faktor usia yang sudah tua,” katanya.

Disebutkan Dihza, korban saat ditemukan dalam kondisi berpakaian lengkap dan sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Korban diperkirakan sudah lebih dari satu hari meninggal dunia.

“Kondisi rumah korban dikelilingi dengan teralis besi, hal ini membuat akses evakuasi sulit dilakukan,” ujar Dizha. | Tagar.id

WASHINGTON - Serangan rudal Iran ke pangkalan militer Irak pada awal Januari lalu memang gagal membunuh seorang pun tentara Amerika Serikat. Namun, aksi militer itu menyebabkan 50 tentara AS mengalami cedera otak akut.

Jumlah itu meningkat dari 16 orang yang disebutkan Pentagon sebelumnya. Presiden Donald Trump dan beberapa pejabat tinggi lain pada awalnya mengatakan bahwa serangan Iran 8 Januari tidak menewaskan atau mencederai satu pun anggota militer AS.

"Sampai hari ini, 50 personel AS sudah didiagnosis" mengalami cedera otak akut, kata juru bicara Pentagon Letnan Kolonel Thomas Campbell dalam pernyataan.

Pernyataan tersebut berisi keterangan soal personel cedera dalam serangan di pangkalan udara Ain al-Asad di Irak barat. Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh penderita gegar otak biasanya termasuk pusing, pening, sensitif pada cahaya serta mual.

Sebanyak 31 dari 50 tentara itu dirawat di Irak dan telah kembali bertugas, termasuk 15 di antaranya yang didiagnosis baru-baru ini, kata Campbell.

Delapan belas dari 50 personel tersebut telah dibawa ke Jerman untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Satu dari mereka dibawa ke Kuwait dan sudah bertugas lagi, katanya.

"Itu gambaran saat ini dan jumlahnya mungkin bisa berubah," kata Campbell.

Menurut data Pentagon, sejak tahun 2000 sekitar 408.000 personel militer telah didiagnosis mengalami gegar otak.

Iran menembakkan rudal-rudalnya ke Ain al-Asad sebagai balasan atas pembunuhan yang dilakukan AS terhadap jenderal utama Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani, melalui serangan pesawat nirawak di bandara Baghdad pada 3 Januari. (antara/jpnn)

Ustad Abdul Somad (UAS) mendapat gelar profesor dari Universitas Islam Sultan Sharif Ali (Unissa) Brunei Darussalam. Foto IG UAS
PEKANBARU - Ustad Abdul Somad (UAS) mendapat gelar profesor dari Universitas Islam Sultan Sharif Ali (Unissa) Brunei Darussalam. Dai kondang, asal Pekanbaru, Riau mendapat gelar profesor tamu (visitor profesor) di Brunei Darusalam. (Baca: Ustaz Abdul Somad Gugat Cerai Istrinya di PA Bangkinang Riau)

"Kita tentunya bangga, UAS mendapatkan gelar itu dari universitas di Brunei. Gelar itu sangat layak diberikan kepadanya. UAS itu memiliki ilmu akademik diatas rata-rata," kata sahabat UAS, Ronny Riansyah, Rabu (29/1/2020).

Dai yang belum lama ini meraih gelar doktor dari Negara Sudan dengan nilai cum laude ini juga memberikan kuliah umum di kampus Islam Sultan Sharif Ali, Brunei.

"Tidak sembarangan orang bisa meraih gelar doktor di luar negeri. Kalau di Indonesia gelar profesor merupakan raihan tertinggi seseorang dalam akademisi. Salut buat UAS," kata Ronny yang pernah sama mengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Suksa Riau.

Dalam postingan UAS di akun instagram UAS menuliskan Anugrah Visiting Profesor kepada UAS dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (Unissa).

Dalam IG nya, UAS juga mengupload surat dari UNISSA terkait pemberian gelar profesor tersebut. Dia juga mengunduh sejumlah foto bersama pihak Universiti Islam Sultan Sharif Ali. | Sindonews

Bupati Bogor, Ade Yasin saat foto bersama dengan PNS Kabupaten Bogor yang baru dilantik, Senin (27/1/2020). Foto: ANTARA/M Fikri Setiawan
Bogor - Sebanyak 577 CPNS di Kabupaten Bogor, Jabar, resmi menyandang status sebagai PNS. Dari jumlah itu, 126 merupakan PNS yang sebelumnya merupakan tenaga honorer K2.

Mereka dilantik Bupati Bogor Ade Yasin di Gedung Tegar Beriman Cibinong, Senin (27/1).

Ade Yasin berpesan agar para PNS baru itu bisa bekerja dengan baik dan dispilin.

"Intinya (PNS) harus bisa menempatkan diri dan waktu. Kalau waktunya istirahat silakan, jadi jangan mencuri waktu dengan alasan belum sarapan. Itu kan justru membuang waktu," ujarnya kepada awak media usai acara pelantikan.

Ade mengaku geram dengan kelakuan sejumlah oknum PNS yang kerap kabur ataupun tidak di kantor meski saat jam kerja. Padahal, menurutnya, perilaku buruk beberapa bawahannya itu selalu terpantau dari kursi bupati.

"Jangan disangka bupati tidak tahu, pimpinan tidak tahu. Kami sudah sampaikan termasuk untuk mendisiplinkan pegawai yang suka kabur atau kelayapan saat jam kerja. Semua terpantau,” beber politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Dia eminta 557 PNS yang baru dilantik untuk melangkah cepat dengan mewujudkan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Bogor, Ade Yasin-Iwan Setiawan.

Ade Yasin berharap, para PNS hasil seleksi CPNS tahun 2018 itu dapat mendorong program-program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

“Ini yang terkadang yang mengkhawatirkan menjadi PNS, justru displinannya menjadi berkurang setelah menjadi PNS, PNS baru dan PNS lama lebih sulit mengatur PNS lama, karena itu sudah menjadi budaya. Jangan sampai ada yang menolak tugas,” sebutnya.

Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Bogor, Zulkifli menyebutkan bahwa 577 PNS itu berasal dari 451 pelamar umum, dan 126 dari tenaga honorer K2. (antara/jpnn)

Penulis Prof. M. Yudhie Haryono, PhD (kiri) bersama Ketum PPWI Wilson Lalengke, usai ngodis (ngopi sambil diskusi), Depok, 27-1-2020.
TAK perlulah aku keliling dunia. Untuk tahu bahwa kita berkhianat pada masa lalu. Untuk mengerti bahwa kita merusak janji proklamasi. Untuk menyadari bahwa kita menghancurkan konstitusi. Untuk memahami bahwa kita menternak virus korupsi.

Betapa bodoh kita jika harus keliling dunia hanya untuk tahu tumpang-tindihnya aturan, kroditnya akses layanan publik, dan kehancuran hukum.

Betapa naifnya kita jika harus keliling dunia agar paham bahwa proses pra-pendaftaran untuk memulai usaha saja diatur oleh sembilan undang-undang, dua peraturan pemerintah, empat peraturan presiden, dan 20 peraturan menteri. Akibatnya, untuk memulai usaha saja membutuhkan banyak biaya, waktu, dan prosedur yang harus dilalui.

Singkatnya. Kita membunuh kaum miskin, melindungi kaum kaya. Memariakan kaum bodoh, membahagiakan kaum cendekia. Ya itulah republik kita kini.

Biarkan aku di sini. Menyaksikan kalian berkuasa dengan muslihat yang sama. Dari para pengkhianat dajjal di dunia. Dan, untuk semua penderitaan ini, tak perlulah aku keliling dunia. Sungguh tak perlu. Karena aku tak mau jauh dari indonesia tanah pusaka. Aku tak sudi mengkhianatinya!

Dunia boleh mentertawa. Atas semua kebusukan kita-kita. Dunia tak ingin melihat kita bahagia. Dunia ingin kita terus berduka. Saat semua yang kita punya dirampasnya: diambil semena-mena, diperkosa seperlunya.

Indonesia kini melawan pancasila. Walau di tempat yang kalian anggap tak biasa. Walau di tanah kelahirannya. Walau di syorga purba saat dupa-dupa dan doa-doa diaurakan intensitasnya. Dalam pilu yang berulang kini biarkanlah aku bernyanyi. Biarkan aku berlari berputar menari di sini. Biarkan aku revolusi. Sampai mati. Agar teriakku lebih berdentum keras dari dalam kubur nanti.

Kini. Pancasila dikhianati di antara buku dan rindu. Habis sepah dijarah.

MELAGU. Tentang apa yang telah dilupakan. Maka kini kutanya, siapakah engkau gerangan. Engkau yang menjadi "omongan" dan candaan di antara mereka yang berkuasa. Engkau bukan putri dari kayangan. Engkau digali dari dalamnya indonesia purba: atlantik dan nusantara. Engkau yang jemarinya begitu cantik-lentik. Engkau yang membuat hatiku tergelitik. Engkau seperti kupu-kupu yang menari dalam pikiranku. Engkau yang diucapkan tanpa dipraktekkan.

Mendengarmu bagai mendengar suara berdenting; bagai gemuruh dawai gitar yang cemerlang; bagai piano gerza yang mengalun bergantian merdu; bagai tsunami aceh yang menggentarkan tetapi melagukan indah namamu. Setiap kuberseru, yang kusebut hanya namamu. Pancasila di hari minggu. Pancasila di Indonesia.

Indonesia dan pancasila yang lucu. Dikhianati tetapi dirindui. Aku membutuhkan satu orang yang jujur, tapi Indonesia memberiku sepuluh orang munafik. Aku membutuhkan sepuluh orang pemberani, tapi Indonesia memberiku seratus orang penakut. Aku membutuhkan seratus orang cerdas, tapi Indonesia memberiku sejuta orang jahil.

Aku membutuhkan sejuta orang pemimpin, tapi Indonesia memberiku semilyar penipu. Rasanya bergaul denganmu yang ada hanya jiwa munafik, penakut, jahil dan penipu yang bangga dengan karakter dan mental buruk rupa itu.

Engkau memang lucu dan lugu. Sebab hati dan jiwamu tuna nalar. Persis para penghuni istana. Kerjanya kini ukur, gadai dan jual tanah di mana-mana plus kapan saja. Tak peduli pikiran dan perasaan warganegara.

Aku tak berdaya. Entah mengapa. Aku tak mengerti. Entah di mana. Apa yang kurasa. Apa yang kupikir. Setrilyun lalu gugup. Kini rindu yang tak pernah begitu hebatnya. Aku tau kau bisu dan buta tapi kumencintaimu lebih dari yang kau tau. Dan, kau takkan pernah tau. Sebab kau munafik dan penipu. Kaulah indonesia kini.

Engkau marah pada masa lalu. Lalu, aku persembahkan hidupku untukmu. Engkau dendam dengan waktu. Lalu, kurelakan hatiku padamu. Engkau benci takdir kelam. Lalu, kau membisu, diam seribu bahasa. Engkau sakit luar dalam. Lalu, hati kecilku bicara tentang kasih sayang dan pemberontakan. Tentang postkolonial dan triasekonomika.

Engkau memang belagu. Menyanyi dan kirim doa tiap hari. Tapi, baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Kaki-kakikupun remuk redam. Tangan-tanganku patah berantakan. Lalu, kau buat pecah seluruh hatiku. Semua jiwaku. Tanpa sisa. Tanpa warisan buat tetangga. Apalagi anak-cucu.

Engkau memang dahsyat. Seperti matahari. Dikejar seluruh dewa. Kencing di tiap kota. Jajakan ide dan senyum. Bokong kerinduan Nikita kau kalahkan juga. Kini, semoga aku memahami sisi hatimu yang beku. Mengerti jiwamu yang rusak binasa. Membaca cara berpikirmu yang delusif. Hingga suatu saat datang keajaiban hingga kaupun waras kembali.

Kini aku mencintaimu lebih dari yang kau mengerti. Kini aku merindukanmu lebih dari yang kau sadari. Kini aku menyayangimu lebih dari yang kau tangisi. Saat revolusi belum selesai. Saat buruh-buruh belum merdeka. Saat anak-anak miskin butuh beasiswa.(*)

Jakarta - Pelaksana Tugas Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ali Fikri menjelaskan kriteria kasus yang berpotensi dihentikan penanganannya. Hal ini mencuat usai Ketua KPK Firli Bahuri menjalani rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR.

"Ada beberapa perkara yang itu sisa perkara tahun sebelumnya. Kita mengumpulkan kemudian kita membaca ulang, analisis lebih jauh terkait sekian perkara yang memang tidak ditemukan bukti permulaan yang cukup sehingga ada kepastian penyelidikan perkara itu dihentikan," kata Ali di Gedung Merah Putih, Jakarta, Senin (27/1).

Ali menampik bila niatan penghentian sejumlah kasus ditangani KPK adalah imbas dari UU KPK yang baru. Dia menegaskan, sebelum ada UU revisi pun KPK bisa menghentikan pengusutan kasus dugaan korupsi bila memang tidak ditemukan bukti permulaan yang cukup.

"Karena ini perkara kan penyelidikan. Sejak UU belum diubah untuk penyelidikan oleh KPK memang bisa dihentikan. Kecuali penyidikan. Kalau saat ini UU No 19 Tahun 2019 memang ada peluang untuk bisa dihentikan dengan syarat tertentu," jelas Ali.

Ali menambahkan, penghentian sebuah kasus bertujuan memberi kepastian. Harapannya, agar seorang yang masuk ke ranah penyelidikan KPK mendapat status yang jelas bila tersangkut masalah rasuah.

"Jadi untuk beri kepastian terkait perkara lama merupakan sisa tunggakan perkara lama. Perkaranya apa saja nanti kita sampaikan saat ini belum ada," ujarnya.

KPK 'Pulangkan' 4 Pegawainya

Ali Fikri juga membenarkan ada sejumlah jaksa yang bertugas di komisi antirasuah dikembalikan ke instansi asalnya. Menurut dia, hal itu lumrah terjadi karena formasi kebutuhan instansi.

"Saya terima terkait informasi itu, setahu saya ada. Saya tadi udah konfirmasi ke biro SDM, kalau memang dibutuhkan untuk kembali di sana ya itu kebutuhan organisasi di sana, kita enggak bisa menolak," kata Ali.

Terkait kapan jaksa tersebut resmi dikembalikan ke instansi asal dari KPK, Ali mengaku belum tahu. Menurut dia surat keputusan terkait belum diterbitkan.

"Masih (hari ini) bekerja di sini. Suratnya saya cek belum ada," lanjut dia.

Ali melanjutkan, total ada 4 pegawai yang 'dipulangkan' KPK. Dua tim jaksa yang dikembalikan. Dan dua lagi adalah pegawai yang masa tugasnya habis di KPK. "Jadi ada empat," terang Ali.

Guna mengisi kekosongan itu, Ali mengatakan KPK akan diperkuat 6 orang jaksa yang ditugaskan oleh pihak Kejaksaan Agung. Ali meyakini mereka adalah jaksa terpilih yang telah melewati seleksi ketat dalam mengemban tugas penuntut umum.

Terkait isu jaksa-jaksa 'dipulangkan' KPK disebabkan karena pernah memeriksa Firli yang diduga melanggar kode etik kala menjabat sebagai deputi penindakan, Ali enggan membenarkan dan enggan berspekulasi lebih jauh.

"Ini kan kadang ada persepsi semacam itu, tapi sekali lagi saya ulangi, karena terkait dengan kebutuhan induknya, terkait pegawai yang dipekerjakan pada KPK sehingga harus balik lagi ke sana," tegas Ali.

Sumber: Liputan6.com

Lhoksukon - Puluhan masyarakat Gampong Trieng Pantang Kecamatan Lhoksukon Aceh Utara melakukan unjuk rasa ke Kantor Kecamatan setempat, Senin (27/1/2020) pukul 09.30 WIB, mereka menuntut Kejari Lhoksukon untuk memberikan penangguhan penahanan terhadap Keuchik mereka Hasanuddin.

Pengunjuk rasa yang diramaikan ibu-ibu ini disambut Camat Lhoksukon Saifuddin SE dengan mengajak perwakilan massa untuk melakukan mediasi diruangan kerja Camat.

Kepada pihak muspika, perwakilan pengunjuk rasa, Iskandar menuntut Muspika untuk membantu mengambil satu keputusan melakukan penangguhan penahanan terhadap Geuchik Gampong Trieng Pantang AB.

Menurutnya, Pemerintahan di Gampong Trieng Pantang tanpa adanya Keuchik tidak akan berjalan secara baik, maka dari itu untuk segera dilakukan penangguhan penahan terhadap Keuchik mereka.

Menanggapi hal ini, Camat didampingi Kapolsek Lhoksukon menyampaikan Permasalahan ini akan dilakukan dengan cara musyawarah di Kantor Kecamatan Lhoksukon dengan mengundang perwakilan aparatur Gampong Tring Pantang, Perwakilan dari Kejaksaan dan Tokoh dari Kecamatan Lhoksukon serta di fasilitasi oleh muspika Kecamatan Lhoksukon.

“Musyawarah akan dilaksanakan di Kantor Kecamatan lhoksukon agar perwakilan dari masyarakat Trieng Pantang tidak membawa massa yang banyak cukup membawa 4 orang perwakilan saja,” imbaunya.

Camat lhoksukon mengharapkan kepada Warga Gampong Trieng Pantang agar menghargai proses hukum yang sedang berjalan.

Sementara itu, mengamankan aksi unjuk rasa ini Polres Aceh Utara mengerahkan 47 personel dipimpin Kabag Ops AKP Iswahyudi. Aksi unjuk rasa berakhir setelah massa membubarkan diri pada pukul 11.30 waktu setempat.

Banda Aceh - Kobaran api membakar Hotel 61 dan restoran cepat saji A&W di Jalan T.Panglima Polem, Banda Aceh, Senin sore (27/1/2020).

Pantauan Waspadaaceh.com, kebakaran ini juga menerbangkan debu ke sekitar lokasi dan beberapa ratus meter dari lokasi. Bahkan debu beterbangan hingga ke daerah Rex, Peunayong, atau sekitar Jalan SR Saifatuddin.

Asap hitam tampak membumbung di udara, di atas restoran dan hotel yang terbakar tersebut. Sementara para petugas terlihat berusaha memadamkan api, dengan mengerahkan dua mobil Damkar ke lokasi kebakaran yang berada di pusat kota Banda Aceh itu.

Hingga petang tadi, belum diperoleh informasi penyebab kebakaran dan jumlah kerugian akibat kebakaran yang terjadi saat azan Ashar tersebut. Belum ada laporan adanya korban jiwa akibat kebakaran itu. | waspadaaceh.com

Tersangka pedagang orangutan dan barang bukti yang diamankan petugas Kementerian LHK dan Polda Aceh di Gayo Lues. Ist
Banda Aceh - Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum) KLHK, melalui Seksi Wilayah I Balai Gakkum Wilayah Sumatera, menahan DP (23 tahun) pedagang satwa dilindungi.

Petugas juga mengamankan satu ekor orangutan sebagai barang bukti, dan dari tangan DP ditemukan peralatan berupa celurit serta parang, dalam operasi pengamanan di Dusun Aruldeng, Desa Pining, Gayo Lues, Aceh, baru-baru ini.

Pelaku DP saat ini sedang menjalani proses pemeriksaan. Adapun penangkapan ini, berawal dari informasi yang disampaikan masyarakat.

"Kami berterima kasih kepada masyarakat yang sudah menyampaikan informasi dan menghargai kepedulian masyarakat yang ikut mengawasi perburuan maupun perdagangan satwa dilindungi. Kami menghimbau semua pihak untuk tidak terlibat dalam perburuan dan perdagangan satwa dilindungi, seperti orangutan yang populasinya semakin menurun," kata Kepala Balai Gakkum Sumatera, Eduward Hutapea di Banda Aceh, dikutip dari laman resmi KLHK, Minggu (26/1/2020).

Karena kondisi orangutan yang diamankan dalam keadaan lemah dan stres, petugas membawanya ke Karantina Orangutan Sumatera, di Batu Mbelin, Sibolangit, Sumatera Utara untuk perawatan. Petugas masih berkoordinasi dengan Polda Aceh untuk proses penegakan hukum selanjutnya.

"Orangutan adalah satwa yang secara genetika paling mirip dengan manusia dibandingkan dengan satwa lainnya semakin terancam keberadaanya, saya kira ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melindunginya," kata Eduward Hutapea.

Penangkapan bermula dari informasi masyarakat yang menyampaikan ada warga Desa Pining, Gayo Lues, Aceh, memiliki dan berupaya menjual (menawarkan) orangutan hidup. Kemudian petugas menelusuri lokasi dan menyergap para pelaku.

Kemudian, satu orang pelaku yaitu DP berhasil ditangkap, sedangkan satu pelaku lainnya melawan dan melarikan diri. Saat ini petugas masih mencari pelaku yang kabur. Petugas mengamankan pelaku ke Banda Aceh untuk dimintai keterangan dan berkoordinasi dengan Polda Aceh perihal proses penegakan hukum selanjutnya.

Pelaku dikenakan Pasal 21 Ayat 2 Huruf a Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Jo. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, dengan ancaman pidana penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.| Harianhaluan.com

Mahasiswa asal Aceh yang kini berada di Wuhan, China. (Dok/Fadil)
Banda Aceh - Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, telah menginstruksikan pembentukan Posko terkait penyebaran virus Corona di dunia, dan menunjuk Koordinator T. Ahmad Dadek (Asisten II), Alhudri (Kadinsos Aceh), Hanif (Kadiskes), Sunarwadi (Kalak BPBA) dan Junaidi (Kadishub).

Plt Gubernur Aceh akan memimpin langsung Task Force untuk krisis ini, kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Syaiful Abdul Gani (SAG), dalam jumpa pers di Banda Aceh, Minggu (26/1/2020). Lewat posko itu, kata SAG, masyarakat bisa memastikan bahwa kontak pemerintah Aceh dengan masyarakat di Wuhan dan kota lain di China, terus terjalin.

“Kita juga mencoba memastikan bahwa logistik masyarakat Aceh di Wuhan bisa terjamin. Jika ada kesempatan untuk evakuasi maka kita harapkan mereka segera dikeluarkan dari sana,” kata SAG, menanggapi permintaan para mahasiswa asal Aceh yang sedang kuliah di Wuhan, yang minta kepada pemerintah untuk segera dipulangkan ke Aceh.

SAG mengatakan, pihaknya terus membangun komunikasi dengan Kedutaan Indonesia di China dan dengan masyarakat atau mahasiswa Aceh, terutama yang tinggal di Wuhan.

Plt Gubernur Aceh, kata SAG, juga sudah berkomunikasi dengan Alfi, salah seorang mahasiswa yang masih terisolasi di Kota Wuhan, China. Plt Gubernur mengatakan, ada 12 mahasiswa Aceh yang terpantau masih berada di Wuhan, dan 11 orang di kota lain di China.

Berikut daftar 12 nama mahasiswa yang kini masih berada di Wuhan, China, sebagaimana dirangkum dari Fadil, salah seorang mahasiswa yang berada di Wuhan, dan dari Humas Pemerintah Aceh.

1. Fadil – CCNU, Wuhan – Aceh Utara
2. Siti Mawaddah – Huda, Wuhan – Sigli
3. Alfi Rian – WUT, wuhan Aceh Utara
4. Ory Safwar – CCNU, Wuhan – Banda Aceh
5. Siti sahara – WHUT, Wuhan – Aceh Tenggara
6. Hayatul-HUST, Wuhan Lhoksumawe
7. Maisal- HUST , Wuhan – Aceh Besar
8. Jihadullah -WHU, Wuhan, Banda Aceh
9. Ita Kurniawati- WHU, Wuhan – Nagan Raya
10. Agus – Zhongnan, Wuhan- Sabang
11. Intan Maghfirah – JISU CC – Banda Aceh – saat ini di Wuhan
12. Sapriadi – JISU CC Meulaboh – saat ini di Wuhan

Mahasiswa Aceh yang berada di kota lain di China (di luar kota Wuhan);

1. Muhammad Sahuddin-NNU Nanjing, Aceh Barat
2. Desi – CC Changchun – Banda Aceh
3. Yuliafitria- Nanchang University
4. Rizki Rinanda – Tianjin Aceh Besar
5. Fiqhi Nahdhiah Makhmud – ZJNU, Jinhua, Aceh Tengah
6. Putri Kumala Rizki Rani-Xuzhou, Jiangsu – Aceh Besar
7. Nadlia Ariyati- ZJNU, Jinhua, Zhejiang
8. Aisyah Protonia Tanjung- ZJNU, Jinhua, Hangzhou – Aceh
9. Geunta-JISU-Changchun Aceh Utara
10.Mirna – BIT – Beijing Aceh Tengah
11.Ulfi Maulida- Beijing Banda Aceh.


Aceh Timur- Ormas LAKI (Laskar Anti Korupsi) DPC Aceh Timur terus membuat pengawasan anggaran dana pemerintah yang di luncurkan ke kabupaten Aceh Timur, apakah dana tersebut bersumber dari APBN/APBA juga anggaran pendapatan daerah?

Takut karena salah,berani karena benar, pepatah ini pantas dialamatkan pada Mahdi kepala sekolah SMAN 1 Indra Makmu Aceh Timur, saat Ormas (LAKI) pada saat mengklarifikasi  seputar alokasi dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) tahun 2018-2019, Kepsek ini bukanya memberikan klarifikasi, terhadap laskar antikorupsi indonesia ini pada pesan WhaatsApp nya.

Sebaliknya terkesan takut dan langsung memutus komunikasi dengan cara memblokir WhatsAp, ungkap saiful anwar sebagai perwakilan pengurus kabupaten aceh timur.

Cara yang di pertontonkan yang mengaku sebagai pemimpin dunia pendidikan ini, semakin mencurigakan, bahwa tudingan dugaan praktek korupsi di dana pendidikan semakin tidak terbantahkan.

Dugaan mark up terhadap alokasi dana BOS tahun ajaran 2018-2019 agaknya perlu disikapi banyak pihak khususnya penegak hukum, dengan tujuan penyelamatan uang pendidikan dari tangan oknum pendidik bermental “maling”.

Sumber melalui surat elektronik atau email yang diterima LAKI, mengatakan, praktek dugaan korupsi di SMAN 1 Indra Makmu yang di tuding di motori oleh oknum kepsek, telah merugikan keuangan negara cukup besar dan harus diungkap dan diproses hukum.

Kata sumber lagi, pada tahun 2018 SMAN 1 Indra Makmu mendapatkan kucuran dana BOS pada Triwulan satu Rp.124.600.000,triwulan dua Rp.249.200.000, triwulan tiga Rp.121.240.000, triwulan empat Rp.101.080.000.

Lebih jauh sumber membeberkan, semua anggaran kegiatan yang didanai BOS tidak terlepas dari praktek penggelembungan, contoh yang paling menonjol itu Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler,Pemeliharaan dan Perawatan Sarana dan Prasarana Sekolah, Pengelolaan Sekolah, ini semua mark up, kegiatan yang lain pun tidak luput, dengan cara-cara ini kepala sekolah mengeruk keuntungan, kata sumber yang tidak mau disebut identitasnya tersebut.

Pengembangan Perpustakaan
Rp.2.662.500,Rp.23.810.750,Rp.2.662.500.Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler
Rp.9.970.000,Rp.57.190.000,Rp.33.304.450,Rp.8.686.000
Kegiatan Evaluasi Pembelajaran
Rp.47.476.250,Rp.11.952.250,Rp.6.355.000,Rp.3.922.500

Pengelolaan Sekolah,Rp.2.589.000,Rp.8.220.000,Rp.3.675.000,Rp.12.587.700.Pengembangan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan, serta Pengembangan Manajemen Sekolah Rp.32.895.750,Rp.58.240.000,Rp.8.400.000,Rp.8.400.000.Langganan Daya dan Jasa Rp.13.680.000,Rp.3.825.000,Rp.17.740.250. Pemeliharaan dan Perawatan Sarana dan Prasarana Sekolah
Rp.29.006.500,Rp.76.107.000,Rp.63.018.050,Rp.49.743.550

Pada tahun 2019 SMAN 1 Indra Makmu mendapatkan kucuran dana BOS pada Triwulan satu Rp.110.600.000,triwulan dua Rp.221.200.000,triwulan tiga Rp.110.600.000,triwulan empat Rp.124.600.000.

Pengembangan Perpustakaan
Rp.65.374.200,Rp.23.397.000,Rp.21.755.000.Dana Pembelian Buku
Rp.65.374.200,Rp.23.397.000,Rp.21.755.000.Penerimaan Peserta Didik Baru Rp.15.705.000, Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler Rp.14.079.000,Rp.10.000.000,Rp.16.853.250,Rp.16.886.000.Kegiatan Evaluasi Pembelajaran Rp.28.698.000,Rp.18.667.050,Rp.5.936.2500. Pengelolaan Sekolah
Rp.19.834.500,Rp.40.667.250,Rp.38.034.500,Rp.25.346.500.

Pengembangan Profesi Guru dan Tenaga Kependidikan, serta Pengembangan Manajemen Sekolah Rp.8.400.000,Rp.13.479.500,Rp.12.029.000,Rp.12.392.500.Langganan Daya dan Jasa Rp.120.000,Rp.9.720.0000,Rp.29.720.000
Pemeliharaan dan Perawatan Sarana dan Prasarana Sekolah,Rp.39.468.500,Rp.47.587.000,Rp.14.350.000,Rp.18.500.000. (Rls)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.