2018-12-16

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA


Jakarta – Ketua Sekretariat Bersama (Sekber) Pers Indonesia, Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA menyatakan prihatin atas fenomena main tahan yang dilakukan aparat terhadap jurnalis, seperti yang dilakukan terhadap wartawan Realitas, M. Reza oleh oknum di Polres Bireuen. Ia juga sangat menyesalkan hal tersebut terjadi.

“Atas nama Sekber Pers Indonesia, saya menyatakan sangat menyesalkan tingkah-pola oknum aparat yang main tahan terhadap wartawan atas delik aduan pemberitaan yang dimuat di medianya,” ujar Wilson kepada pewarta media ini melalui pesan WhatsApp-nya, Sabtu, 22 Desember 2018.

Aparat kepolisian, lanjut alumni PPRA-48 Lemhannas tahun 2012 ini, seyogyanya menjadi pengayom masyarakat, pembela kepentingan rakyat, bukan jadi centeng pengusaha bertameng undang-undang. “Polisi itu digaji rakyat, bukan pengusaha, isi perutnya disuapkan rakyat, bukan pengusaha dan penguasa. Semestinya polisi bekerja menegakkan hukum atas kejahatan yang dilakukan korporasi yang merugikan rakyat, dan perilaku menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan oleh aparat pemerintahan,” imbuh Wilson yang juga merupakan Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).

Sebagaimana diberitakan berbagai media daerah dan nasional, M. Reza ditahan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan atas aduan pimpinan PT. Takabeya yang menggunakan BBM bersubsidi. 

M. Reza diseret ke tahanan atas tuduhan melanggar UU ITE karena menyebarkan berita yang tentang dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan PT. Takabeya (atas penggunaan BBM Bersubsidi) di akun facebook miliknya. 

Berita terkait: http://m.beritahukum.com/detail_berita.php?judul=Beritakan+Dugaan+Kasus+BBM+Bersubsidi%2C+Wartawan+di+Bireuen+Ditahan+Polisi&subjudul=Kekerasan+terhadap+Wartawan

Menilik kasus tersebut, Wilson menyampaikan penilaiannya bahwa sungguh malang nasib warga masyarakat di negeri ini. Ketika kita – entah sebagai wartawan, pewarta warga, atau masyarakat awam biasa – menemukan kejanggalan dan/atau pelanggaran hukum yang dilakukan oleh korporasi, rakyat tidak punya kekuatan dan/atau kekuasaan untuk menghentikan pelanggaran tersebut. 

“Mau melaporkan ke aparat, sulit, bahkan hampir tidak mungkin. Jika dibiarkan, rakyat dirugikan selamanya,” keluh alumni pascasarjana bidang studi Global Ethics dari Univeritas Birmingham, Inggris itu.

Juga, lanjutnya, ketika masyarakat melaporkan dugaan pelanggaran oleh para pemilik perusahaan, melalui caranya masyarakat saat ini yakni melalui media massa, media sosial, media komunikasi berbasis aplikasi WhatsApp, dan sebagainya, dengan serta-merta si rakyat tersebut ditahan menggunakan aturan hukum Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). 

“Ini undang-undang sontoloyo, menjerat warga yang menyuarakan isi hati dan pikirannya sebagai manusia, aparat polisi sebenarnya dapat menjadi harapan publik untuk cerdas dan bijak menggunakan UU ITE itu, tapi apa daya, umumnya polisi kita 11-12 dengan UU ITTE, sama-sama sontoloyo,” urai Wilson yang merupakan trainer jurnalistik bagi ribuan TNI, Polri, guru, dosen, PNS, LSM, ormas, wartawan dan masyarakat umum itu, dengan nada kesal.

Lebih parah lagi, jelasnya lebih lanjut, ketika pengusaha berkait-kelindan dengan oknum penguasa. Warga semakin jadi bulan-bulanan oleh komplotan pengusaha-penguasa-aparat. “Saya dengar, pemilik PT. Takabeya Perkasa Grup, H. Mukhlis, A.Md, itu adalah adiknya Bupati Bireuen. Yah, kloplah sudah, sangat perkasalah perusahaan itu, lemah selemah-lemahnyalah kita-kita yang rakyat jelata ini,” kata Wilson.

Seperti banyak diketahui publik, berdasarkan hasil pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), H. Mukhlis, A.Md yang juga menjabat sebagai Ketua KONI Bireuen dan Ketua Dewan kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Bireuen terlibat dalam kasus korupsi Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh non-aktif – Red). Mukhlis merupakan orang yang membukakan rekening penampung uang Irwandi Yusuf (berita terkait: http://www.ajnn.net/news/mukhlis-adik-bupati-bireun-yang-buka-rekening-penampung-suap-irwandi-yusuf/index.html ).

“Heran ya, polisi lebih membela orang-orang yang terindikasi terlibat dalam konspirasi pejabat koruptif daripada warga yang telah berperan aktif menyuarakan ketidak-benaran perilaku oknum-oknum sontoloyo itu,” pungkas tokoh pers nasional yang getol membela warga yang terzalimi ini heran. (HWL/Red)


Jakarta – Perhelatan akbar yang dikenal dengan nama Reuni Alumni 212 telah usai. Lebih seminggu berlalu. Namun keramain pasca acara bernuansa religi di Monas itu masih meninggalkan hiruk-pikuk. Pasalnya, berbagai kalangan tergiring dalam pertikaian heboh soal kealpaan media-media nasional memberitakan kejadian yang dianggap sangat fenomenal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Sang Calon Presiden Prabowo Subiyanto harus turun gunung menyuarakan penolakannya atas sikap diam kalangan media nasional atas acara di hari Minggu, 2 Desember 2018 lalu.

Bagi saya, apa yang terjadi saat ini hanya sebuah penanda kecil – namun lebih jelas atau lebih kasat mata bagi orang kebanyakan – tentang “sosok buruk” wadah penyampai informasi publik yang disebut media itu. Mungkin masih belum cukup terang-benderang, tapi imparsialisme media massa yang selama ini menjadi keyakinan masyarakat luas penikmat informasi yang disajikan media massa, mulai disangsikan kebenarannya. Sunyinya pemberitaan 212 oleh media-media nasional, setidaknya telah membuka kesadaran baru bagi publik, bahwa sesungguhnya media adalah mahluk partisan. Kesadaran yang terlambat, memang.

Sebagai penganjur dan praktisi jurnalisme warga, saya tentu menikmati dengan amat nyaman kondisi ini. Dan, faktanya memang demikian. Secara tidak disadari, juga mungkin oleh Prabowo Subiyanto, bahwa ketidak-hadiran media-media yang selama ini dilabeli gelar “mainstream” tidak berpengaruh banyak terhadap proyek “penenggelaman” peristiwa besar 212 tersebut. Walaupun tidak diberitakan, apalagi diklankan, oleh media-media besar berskala nasional, namun Monas dan beberapa ruas jalan utama di sekitarnya bisa memutih dipenuhi jutaan umat manusia.

Pertanyaannya, dari mana jutaan orang –beberapa pihak menyatakan hanya beberapa ratus ribu – yang hadir ke Monas itu mendapatkan informasi tentang akan diadakannya acara tersebut? Lagi, “kehebohan” 212 tidak lantas tidak terjadi, baik pada saat berlangsungnya acara tersebut maupun setelahnya. Hampir semua orang ”informed” (baca: tahu) tentang peristiwa itu, bahkan beritanya melesat jauh hingga ke manca negara. Mengapa bisa demikian?

Dari manakah masyarakat dunia yang tidak terakses secara fisik ke lokasi Monas itu dapat mengetahui – bahkan hingga detil – kejadian yang semula diduga bernuansa politik tersebut?

Ternyata, era media massa konvensional yang menguasai ruang informasi publik selama ini telah hampir punah. Sistim jurnalisme jaman old telah digeser, perlahan dan santun namun pasti, oleh sistim jurnalisme baru yang lebih keren dikenal dengan jurnalisme warga. Media massa berbasis internet, seperti media online, media sosial, jejaring komunikasi telepon dan pesan tertulis berbasis aplikasi (WhatsApp, Line, Telegram, dan lain-lain), serta pola komunikasi massal varian baru semacam injeksi kode tertentu pada perangkat peralatan komunikasi, telah menjadi sistem komunikasi massa gaya baru. Sistem media massa jaman baheula, yang mengandalkan mesin cetak (press), layar lebar televisi dan radio ber-tower-pemancar tinggi, sebentar lagi terkubur habis.

Media massa “mainstream” telah bunuh diri massal, kata Harsubeno Arif. Kematian media-media partisan itu adalah sebuah kepastian.

Kembali ke soal pemberitaan tentang reuni 212 yang terlalaikan oleh media-media berskala nasional di atas. Bukankah sesungguhnya yang diharapkan dari peliputan media massa adalah tersampaikannya infromasi tentang sebuah kejadian dan/atau pemikiran narasumber? Jika demikian halnya, maka cukup menggelikan melihat banyak pihak sibuk berdebat saling menyalahkan terkait pola-laku para pemilik media nasional yang dianggap partisan, tidak netral, tidak independen itu.

Hei, wake up man… Jaman sudah berubah. Inseminasi dan penyebar-luasan informasi saat ini tidak lagi mengandalkan media-media yang “terlihat besar” itu. Justru, sesungguhnya wadah penyampaian informasi ke publik yang benar-benar besar – baik secara jumlah dan luasan maupun dalam hal penetrasinya – adalah media berbasis digital. Media cetak, televisi, dan radio, pada skala nasional maupun internasional sekalipun saat ini tidak lagi perlu dianggap “media masintream”. Gelar mainstream telah diakuisi oleh media-media berbasis digital dan/atau internet.

Pertanyaan berikutnya, apakah media massa berbasis digital dapat diandalkan dari sisi independensi dan netralitasnya? Tentu tidak seorangpun dapat menjamin hal tersebut terwujud dengan sendirinya. Perlu berbagai usaha yang fokus, serius, dan sitimatis dalam mengelola permedia-massaan nasional agar tujuan jurnalistik dapat tercapai tanpa mencederai independensi dan idealisme para palakon jurnalistik.

Namun demikian, dapat dipastikan bahwa jurnalisme warga mampu menciptakan sebuah sistim jurnalistik yang ideal sebagaimana diharapkan. Ketika kerja-kerja jurnalisme dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh semua warga, maka monopoli atas kepemilikan informasi faktual – yang setiap saat dapat dipalsukan oleh pihak tertentu – akan sulit berkembang. Jurnalisme warga juga menyediakan ruang yang luas bagi bertumbuhnya sitim jurnalisme yang jujur berbasis data empiris dan aktual karena publik sebagai pelakon jurnalisme merupakan sumber informasi primer, saksi mata atas sebuah kejadian.

Jurnalisme warga memiliki dinamika dan tantangannya sendiri. Problematika terberat adalah rendahnya pengetahuan dan wawasan para jurnalis warga. Latar belakang yang beragam, dengan tingkat kemelek-mediaan yang seadanya, serta kurangnya akses ke sumber peningkatan ketrampilan mengolah informasi menjadi kendala dalam menghasilkan karya jurnalisme warga yang baik dan berkualitas. Hal itu menyebabkan munculnya berbagai masalah dalam sistim penyebaran informasi di masyarakat, seperti distorsi informasi yang besar menyebabkan pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur, tidak jelas, dan tidak jarang berubah makna.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dipersiapkan program pemberdayaan masyarakat pewarta warga secara terencana, sistimatis, dan kontinyu. Penyediaan akses yang memadai terhadap fasilitas kegiatan jurnalisme bagi warga kebanyakan juga mesti dilakukan. Ketersediaan media berbasis digital, seperti media online, menjadi mutlak bagi sebuah sistim publikasi jurnalisme warga. Kreativitas dan inovasi dalam berkarya juga menjadi unsur penting dalam menghasilkan dinamisasi di dunia jurnalisme kita.

Tidak kalah pentingnya juga, perlindungan hukum terhadap setiap anggota masyarakat yang melaksanakan tugas insaniahnya: berpikir, berimajinasi, beraspirasi, berkata-kata dan berkarya, harus terjamin. Jurnalisme warga sebagai wadah dan sarana ampuh mencerdaskan kehidupan bangsa – mengutip alinea keempat pembukaan UUD 1945 – sudah pada tempatnya mendapat perhatian bagi semua pihak, terutama pemangku kekuasaan negara untuk diadopsi-integrasikan ke dalam sistim pendidikan dan pers nasional.

Segala peraturan perundangan yang selama ini menghambat berkembangnya kecerdasan berpikir analitik dan kritis harus segera dikuburkan. Kemerdekaan pers yang terbungkam oleh sebuah sistim jurnalisme konvensional yang otoriter dan cenderung feodalistik harus segera dibangkitkan dan ditegakkan. Kriminalisasi warga masyarakat penggiat jurnalisme warga yang marak belakangan ini harus segera dihentikan. Hanya dengan demikian, setiap pewarta warga dapat melakukan fungsi jurnalistiknya sesuai dengan kittah jurnalisme: Mewartakan Kebenaran Walau Langit Akan Runtuh, Bebas dari Kepentingan Apapun dan Siapapun. (WIL/Red)

Banda Aceh - Empat orang wanita asal pulau Jawa dan Sumatera yang mengaku sudah satu bulan tinggal dan menetap di pegunungan Gunung Salak, Kabupaten Aceh Utara, melaporkan kehilangan suami mereka ke Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) di Banda Aceh.

Para wanita itu menduga suami mereka ditangkap oleh tim Densus 88 Mabes Polri sejak 13 Desember 2018 lalu.

“Pengakuannya, suami mereka hilang sejak 13 Desember 2018, kemudian dua hari setelah itu mereka mendapat surat pemberitahuan penangkapan dari Densus 88 Mabes Polri terkait tindak pidana terorisme,” kata Safaruddin SH, ketua YARA kepada wartawan dalam konferensi pers, Kamis (20/12/2018).

Safaruddin menyebutkan, setelah mendapat laporan pengaduan dari empat wanita yang kehilangan suami secara bersamaan itu sejak Rabu (19/12/2018) kemarin, ia telah melakukan penelusurun ke Polda Aceh.

Namun jejak keberadaan suami mereka hingga kini belum menemui titik terang.
“Kemarin sudah saya telusuri ke kawan-kawan di Polda Aceh terkait kehilangan empat orang itu, di sana tidak ada informasi dan kejelasan terkait keberadaan mereka,” katanya.

Dari empat wanita yang mengadu ke YARA terkait kehilangan suami mereka, Safaruddin mendapat petunjuk dari dua surat pemberitahuan penangkapan dari Densus 88 Mabes Polri yang diterima keluarga mereka dua hari setelah hilang.

“Dari isi surat ini disampaikan bahwa mereka yang ditangkap terkait dugaan pelanggaran terhadap Undang-undang pemberantasan tindak pidana terorisme. Surat ini ditandatangani atas nama kepala Densus 88 Polri, Direktur Penyidikan Sentot Prasetiyo Sik, dan dari petunjuk surat ini kami pun tidak tahu harus mengakses ke mana,” sebutnya.

Terkait laporan itu, Safarudin mengaku sudah berkoordinasi dengan pengacara muslim di Jakarta untuk melakukan upaya praperadilan dan atau melaporkan kasus tersebut dalam waktu dekat ke Komnas HAM.

Sebab, yang paling penting saat ini bagi empat wanita itu adalah informasi dan kejelasan terhadap keberadaan suami mereka yang hilang.

“Yang paling penting sekarang bagi empat wanita ini adalah di mana dan seperti apa kondisi suami mereka. Kalau nanti memang ada pelanggaran proses hukumnya akan kita hadapi di pengadilan, karena aneh kasusnya kalau pun ditangkap seharusnya ada pemberitahuan yang jelas kepada keluarganya. Kalau seperti ini sangat melukai perasaan keluarganya," katanya.

Sementara itu, empat wanita yang melaporkan kehiilangan suaminya ke YARA masing-masing berinisial R, K, R, dan N. Mereka berharap agar segera mendapat informasi terkait keberadaan dan kondisi suaminya saat ini.

Mereka mengaku baru satu bulan tinggal di pegunungan Gunung Salak, Kabupaten Aceh Utara, dan ingin berkebun.

“Kami baru tinggal di Gunung Salak ingin berkebun dan hidup tenang, karena kalau di kota kan sudah sangat padat. Selama kami tinggal di situ, suami kami tidak melakukan aktivitas macam-macam, kenapa dituduh dan ditangkap. Kami pun tidak tahu siapa yang menangkapnya,” ujar N, saat ditanyai wartawan di kantor YARA Banda Aceh.(*)

Sumber: medan.tribunnews.com

Jakarta - Seorang perempuan, RK alias RN, caleg DPRD Kabupaten Kuningan dibekuk Satresnarkoba Polres Cirebon saat hendak mengedarkan sabu seberat 1 gram.

Ia ditangkap saat Satresnarkoba Polres Cirebon sedang melakukan Operasi Antik 2018 yang dilakukan mulai tanggal 22 November hingga 2 Desember.

Kasat Narkoba Polres Cirebon AKP Joni, mengatakan, caleg tersebut ditangkap awal Desember di pintu tol Ciperna.


Hasil Operasi Antik Polres Cirebon ditemukan sembilan kasus dengan 13 tersangka.

Barang bukti hasil operasi antik yaitu sabu seberat 2,74 gram, obat-obatan sebanyak 127 butir, dan uang hasil penjualan obat Rp 300 ribu.

Polres Cirebon akan terus melakukan pendalaman terdahap jaringan narkoba tersebut, apakah termasuk jaringan lokal atau provinsi. (*)

Sumber: tribunnews.com

StatusAceh.Net - Mencermati terjadinya kasus penindasan terhadap warga muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China, (kelompok minoritas di Republik Rakyat China) oleh pemerintah setempat, dengan ini Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat menyampaikan pernyataan sikap:
  1. Amat menyesali dan mengutuk dengan keras terjadinya perlakuan diskriminatif terhadap sesama manusia yaitu dengan menjadikan kelompok muslim Uighur sebagai sasarannya.
  2. Tindakan penahanan dan penyiksaan terhadap warga muslim Uighur tanpa proses hukum yang berkeadilan oleh Pemerintah Beijing merupakan tindakan sewenang-wenang yang melanggar Hak Asasi Manusia, apalagi sekadar didasarkan pada tuduhan teorisme. Sekalipun dilakukan atas dasar kehendak melakukan pencegahan dari kemungkinan terjadinya tindakan terorisme, cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan terhadap muslim Uighur tetap tidak bisa dibenarkan berdasarkan rasa kemanusiaan universal. 
  3. Syarikat Islam memahami bahwa persoalan muslim Uighur sebagai entitas yang bermukim di Provinsi Xinjiang adalah menjadi kewenangan/otoritas hukum Pemerintah Republik Rakyat China dalam pengaturannya. Oleh karena itu meminta kepada Pemerintah Republik Rakyat China agar menghentikan segala praktik yang memperlakukan sesama manusia dengan cara-cara kekerasan demi melindungi sekaligus memberikan perlakuan yang manusiawi, adil, dan beradab terhadap entitas muslim Uighur. 
  4. Pimpinan Pusat/Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam atas dasar kemanusiaan dan jalinan persahabatan antara negara Republik Indonesia dan Republik Rakyat China meminta kepada Pemerintah Republik Indonesia agar melakukan pendekatan persuasif kepada Pemerintah Republik Rakyat China untuk pernyataan keprihatinan bangsa Indonesia atas nasib muslim Uighur dan menengarai permasalahan ini demi terbebaskannya entitas muslim Uighur dari perlakuan yang tidak adil.

Billahi fie sabiilil haq.
Pimpinan Pusat / Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam

    Dr. Hamdan Zoelva, S.H, M.H. / Ketua Umum
    Idham Hayat, S.H. / Sekretaris Jenderal
Sumber: KUMPARAN

Makassar- Musyawarah Besar Keluarga Mahasiswa (MUBES KM) ke XIV Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pejuang Republik Indonesia (FKM-UPRI) Periode 2018-2019 merupakan wadah pengambilan keputusan tertinggi dalam lembaga kemahasiswaan pada tingkat fakultas di UPRI. MUBES KM ini juga merupakan ajang untuk menggodok kunstitusi Keluarga Mahasiswa yang akan di gunakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DEPERMA) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM-FKM UPRI) selama satu periode kepengurusan. Kegiatan pembukaan MUBES KM di selenggarakan di Aula FKM UPRI yang akan dilaksanakan selama tiga hari 19-21 Desember 2018.

Muhammad As’ad menyatakan dalam sambutanya “MUBES XIV juga merupakan simbol dari berjalannya roda organisasi pada tingkat Faklutas di FKM UPRI. Dengan adanya MUBES, ini akan melahirkan pelanjut organisasi untuk kepengurusan selanjutnya”. Ungkapnya

Dalam MUBES juga tempat untuk memaparkan Laporan Pertangung Jawaban (LPJ) pengurus BEM FKM UPRI kepada pengurus DEPERMA FKM UPRI dan selanjutnya Laporan Pertanggung Jawaban DEPERMA FKM UPRI kepada Keluarga Mahasiswa FKM UPRI.

Di MUBES KM FKM UPRI XIV Periode 2018-2019 kali ini secara formalnya kita bertarung ide kita yang murni untuk membahas konstitusi KM FKM UPRI Makassar dan hasil dari pada itu dan juga akan melahirkan pemimpin yang melanjutkan roda organisasi lembaga di FKM UPRI Makassar.

Di sisi lain Presiden BEM FKM UPRI Nostan Maran menyatakan dalam sambutanya “harapan kami dari lembaga BEM FKM UPRI Makassar Periode 2018-2019 kepada ketua lembaga terpilih nanti, terus mempermantap proses kaderisasi yang baik kepada generasi, sehingga generasi kita mampu membikin perubahan yang lebih baik lagi di lembaga mahasiswa FKM UPRI yang kita semua cintai ini”. Ucapnya

MUBES XIV KM FKM UPRI di hadiri oleh dewan senior yang menyempatkan hadir di antaranya Muhammad Arsyad dan Berno R Ngarong Menang yang merupakan alumni FKM UPRI, yang selanjutnya di buka oleh Bapak Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKM UPRI. (Hilman)


SAWANG- Gedung Mushola  SMA Negeri 1 Sawang nyaris hangus dilalap si jago merah, Kamis (20/12/2018).

Terbakarnya mushola tersebut diketahui warga sekitar pukul 14:00 WIB setelah melihat adanya asap yang mengepul dari atas kubah mushola.

Dari pantauan  reporter, warga yang berada di sekitar sekolah SMA Negeri 1 Sawang lansung bahu-membahu berupaya memadamkan api yang mulai membumbung tinggi dengan menyiramkan air menggunakan ember dan peralatan apa adanya.

Namun usaha warga tidak membuahkan hasil,sesaat kemudian mobil kebakaran tiba dan lansung memadamkan api.

Akibat kebakaran gedung mushola tidak dapat di pergunakan lagi untuk beribadah.

Dari sejumlah warga yang berada di lokasi menduga penyebab kebakaran gedung mushola akibat pembakaran sampai ranting dan dahan yang kering yang berada tepat disamping gedung mushola.

“ Saya api pertama itu berasal dari sampah ranting dan dahan kering yang dibakar disamping mushola terus membesar membakar kayo plafon mushola “,ungkap amaliah warga yang berada dilokasi saat kebakaran terjadi.

Sementara itu Kapolsek Sawang Iptu Zahabi yang ditemuiditemui dilokasi kejadian menyampaikan belum mengetahui sumber api,pihaknya akan menyelidikinya.

“ Sampai saat ini kita belum mengetahui penyebab kebakaran,masih kita selidiki penyebabnya “,ujar kapolsek. (Red)

Banda Aceh - Pemuda Gampong Bitai, Jaya Baru, Banda Aceh menangkap sepasang remaja yang sedang indehoi, di salah satu rumah di desa itu, Kamis dini hari (20/12/2018).

Ketua Pemuda Gampong Bitai, Ihsan mengatakan, keduanya merupakan warga Kabupaten Pidie.

"Yang pria berinisial Sf (19), berasal dari Gampong Garot Cut, Indra Jaya; dan pasangan wanitanya, Kh (18) warga Gampong Kramat Luar, Sigli," kata Ihsan.

Sf tercatat sebagai salah satu mahasiswa di universitas di Banda Aceh. Sementara Kh diketahui selama ini bekerja di Shopping Center.

Keduanya ditangkap di kediaman kakak sepupu Kh di Bitai. "Jadi kakak sepupu Kh itu berdomisili di Bitai," katanya.

Ihsan mengatakan, menjelang dini hari, Sf mendatangi rumah tersebut menggunakan sepeda motor. Sepeda motornya itu diparkir di rumah tetangga sepupu Kh.

Lantas Sf mengendap-endap masuk melalui jendela kamar yang di dalamnya ada Kh.

Pemuda setempat, kata Ihsan, sempat menanyakan kepada tetangga sepupu Kh ihwal sepeda motor yang diparkir di halaman rumah mereka itu.

Namun, kata Ihsan, warga itu mengaku tak mengetahui sepeda motor itu milik siapa.

Para pemuda lalu menyelidiki di sekitar lokasi. Mereka mendapati salah satu jendela rumah sepupu Kh itu dalam keadaan terbuka.

"Pemuda menyaksikan keduanya melakukan hubungan layaknya suami istri," kata Ihsan.

Usai melampiaskan nafsu birahinya, Sf lantas keluar dari jendela. "Saat itulah dia ditangkap oleh pemuda," katanya.

Keduanya lantas digelandang ke meunasah setempat.

"Mereka mengaku telah melakukan hubungan badan sebanyak dua kali malam itu," kata Ihsan.

Warga lantas menyerahkan keduanya ke WH Banda Aceh untuk proses hukum lebih lanjut.(*)

Sumber: Beritakini.co

Medan - Oknum Polres Tanjung Balai dan seorang warga negara Malaysia terlibat jaringan sindikat peredaran narkoba internasional.

Kedua pelaku ditangkap Sat Narkoba Polres Tanjung Balai pada Selasa (18/12/2018).

Salah satu tersangka yang diamankan oleh Polres Tanjungbalai ‎pada pengungkapan kasus narkoba jaringan internasional dengan barang bukti sabu seberat 15 kilogram, diduga kader Partai Golkar di Kota Tanjungbalai, AGUSYANTO als AGUS (AG/36) yang merupakan Ketua ‎Golkar Kecamatan Tanjung Balai Selatan.

Dilaporkan AG diamankan Satuan Reserse Narkoba Polres Tanjungbalai bersama dua pelaku lainnya, yakni DP (30) warga Dusun I Desa Sipaku area, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, NF (23) warga Jalan Teratai Sungai Kajang Baru, Tanjung Karang, Selangor, Malaysia.

Diketahui, DP merupakan anggota Polri berangkat Brigadir bertugas di Polres Tanjungbalai‎. Para pelaku diamankan aparat kepolisian di berbagai lokasi di Kota Tanjungbalai.

Ketua DPD Golkar Kota Tanjungbalai, M Syahrial membenarkan anggotanya diamankan polisi diduga terlibat dalam kasus narkoba tersebut.

‎"Ya benar, saya sudah langsung perintahkan sekretaris untuk mengambil tindakan. Kita akan langsung plt kan dulu," kata Syahrial, Kamis (20/12/2018).

Syahrial menjelaskan bahwa Partai Golkar selalu tegas bagi seluruh kader mereka yang terlibat pelanggaran hukum dan juga narkoba. Karenanya, mereka tidak akan mentolerir bentuk-bentuk keterlibatan kader dengan kasus-kasus tersebut.

Syahrial yang juga menjabat sebagai Wali Kota Tanjungbalai, bahwa Partai Golkar tidak main-main dan menindak tegas kepada kader yang terlibat dalam penyelanggunaan narkoba.

"Itu sudah menjadi komitmen partai," tegas Syahrial.

Oknum Polres Tanjung Balai dan seorang warga negara Malaysia terlibat jaringan sindikat peredaran narkoba internasional. Kedua pelaku ditangkap Sat Narkoba Polres Tanjung Balai pada Selasa (18/12/2018).

Penangkapan dilakukan di dua lokasi berbeda. Berawal dari ditangkapnya oknum Satintelkam Polres Tanjung Balai inisial Brigadir DP bersama dua rekannya inisial A warga Jalan Mayor Umar Damanik, Kelurahan Pantai Burung, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai.

Kemudian, seorang warga negara Malaysia inisial NF BIN R warga Jalan Teratai Sungai Kajang Baru 45500 Tanjung Karang Selangor Malaysia. Ia ditangkap di Jalan Cokroaminoto, Kecamatan Kisaran Barat, Asahan.

Informasi yang di peroleh, ketiganya ditangkap saat mengendarai mobil dari Tanjung Balai menuju Kota Medan.

Saat diperiksa, petugas tidak menemukan barang bukti. Namun, dari hasil pengembangan, petugas berhasil menemukan satu mobil lainnya.

Mobil ini di curigai membawa narkotika di Jalan Lintas Sumatera, persisnya di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan.

Saat akan ditangkap, para tersangka yang ada di dalam mobil berhasil kabur. Dari pemeriksaan di dalam mobil petugas berhasil menyita 15 bungkus teh Cina diduga berisi sabu.

Menurut informasi, sabu tersebut dikirim dari Malaysia melalui jalur laut dan akan di distribusikan di sejumlah daerah di Kota Medan.

Oknum polisi diduga bertugas mengawal pengiriman barang haram tersebut dari Tanjung Balai ke Medan.

Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari kepolisian terkait penangkapan oknum polisi dan warga negara Malaysia yang diduga jaringan pengedar narkoba.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tribun-medan.com kronologi penangkapan ini:
Selamat Sore Izin melaporkan :

Perihal : Penangkapan anggota Polri an. DICKY PURWANTO NRP
88031024 jabatan Brigadir Sat Intelkam Polres Tanjung Balai Kesatuan Polres Tanjung Balai oleh Sat Narkoba Polres Tanjung Balai

TKP.
1.Jalan CokroAminoto Kec. Kisaran Barat Kab. Asahan
2.Jalan Lintas Sumatera Simpang Pasar I Desa Perkebunan Suka Raja Kec. Simpang Empat Kab. Asahan

Tersangka :
Nama : DICKY PURWANTO
T.lahir : Medan, 17 Maret 1988
Pekerjaan : POLRI
Agama : Islam
Alamat : Dusun I Desa Sipaku Area Kec. Simpang Empat Kab. Asahan
(BRIGADIR SAT INTELKAM POLRES TANJUNG BALAI)

Nama : AGUSYANTO als AGUS
T.lahir : Cunda, 16 Mei 1982
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Alamat : jl. Mayor Umar Damanik LK. IV Kel. Pantai Burung Kec. Tanjung Balai Selatan Kota Tanjung Balai

Nama : NUR FAMIZAL BIN RAMDAN
T.lahir : Selanggor , 21 November 1995
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Warga Negara : Malaysia
Alamat : jl. Teratai Sungai Kajang Baru 45500 Tanjung Karang Selangor Malaysia

Waktu ditemukan
Selasa, 18 Desember 2018, sekitar pukul 19.30 WIB.

Barang Bukti :

1. 15 (Lima belas) bungkus plastik Merek GUANYINWANG dengan breathing rata-rata 1000 gram per bungkusnya
2. 3 (tiga) buah Tas ransel Warna hitam
3. 1 (satu) unit Mobil merek VITARA Warna Putih BK 1686 SA
4. 1 (satu) unit Mobil Merek Inova Warna Hitam BK 1565 TW
5. 1 (satu) unit HP merk Nokia warna hitam
6. 1 (satu) unit HP merk Strawberry warna putih hitam
7. 1 (satu) unit HP merk Oppo warna merah hitam
8. 1 (satu) unit HP merk Samsung warna putih

Kronologis Singkat Penangkapan :

1.Berdasarkan informasi dari masyarakat yg layak dipercaya yg mengatakan bahwa ada 2 (dua) unit mobil yg diduga membawa narkotika jenis shabu2 dari Kota Tanjung Balai menuju Kota Medan

2.Atas informasi tersebut, dipimpin oleh Kasat Res Narkoba dan KBO, Team Opsnal Sat Res Narkoba melakukan pengejaran dan berkoordinasi dgn Sat Reskrim Polres Asahan. Selanjutnya di Jln. Cokroaminoto Kisaran mobil Suzuki Vitara BK 1686 SA berhasil diamankan oleh personil Sat Res Narkoba dan Sat Reskrim Polres Asahan. Didalam mobil ditemukan 3 (tiga) TSK tsb diatas, dilakukan penggeledahan badan, pakaian dan mobil, namun tidak ditemukan BB narkotika. Selanjutnya ketiga TSK tsb diatas diamankan ke Sat Res Narkoba Polres Tanjung Balai utk dilakukan interogasi

3.Hasil interogasi terhadap TSK diperoleh informasi bhw mobil pembawa shabu2 adalah mobil yg tadinya berada dibelakang mereka yg mereka kawal yaitu Toyota Kijang Innova BK 1565 TW yg dikemudikan oleh RIO (DPO) dan AL (DPO). Selanjutnya personil Sat Res Narkoba berupaya melakukan pencarian terhadap mobil tsb

4. Pd sktr pkl 02.00 WIB diperoleh informasi dari masyarakat bhw melihat mobil tsb yaitu Toyota Kijang Innova BK 1565 TW terparkir tanpa pengemudi di Jalinsum Simpang Pasar I Desa Perkebunan Sukaraja, Kec. Simpang Empat, Kab. Asahan. Selanjutnya personil Sat Res Narkoba membawa ketiga TSK ke lokasi ditemukannya mobil. Kemudian setibanya di lokasi penemuan mobil dgn didampingi 2 warga masyarakat setempat, TSK diperintahkan untuk membuka mobil tsb dan didalam mobil ditemukan 3 (tiga) tas ransel warna hitam dan setelah dibuka isinya oleh TSK berisi 15 (lima belas) bungkus teh cina warna hijau merk Guanyinwang yg diduga berisi narkotika jenis shabu2 dgn berat total keseluruhan sekitar 15 (lima belas) kilogram. Kemudian ketiga TSK dan BB diamankan ke Sat Res Narkoba Polres Tanjung Balai

Berikutnya personil Sat Res Narkoba melakukan interogasi lanjutan terhadap ketiga TSK dan TSK menerangkan bahwa :

1. Pd sekitar pkl 19.30 WIB TSK Agus Yanto menjemput TSK Dikki Purwanto di Jln. Teuku Umar Tanjung Balai, lalu keduanya menaiki mobil Ayla menuju ke daerah Selat Lancang ke rumah RIO (DPO), sesampainya disana TSK Agus Yanto dan Dikki Purwanto bertemu dgn RIO dan berpindah ke mobil Toyota Innova BK 1565 TW. Lalu ketiganya menujur doorsmeer dekat rumah RIO, disitu RIO dan Agus Yanto mengangkat 3 (tiga) buah tas ransel yg berisi diduga narkotika jenis shabu2 ke dalam mobil Toyota Innova dgn disaksikan oleh Dikki Purwanto

2. Selanjutnya ketiganya bergerak menuju ke Simpang Kawat Asahan. Setibanya Simpang Kawat, ketiganya berhenti dan bertemu dengan mobil Suzuki Vitara warna putih, yang mana didalamnya ada TSK Nur Famizal Bin Ramdan dan AL (DPO). Kemudian TSK Agus Yanto dan Dikki Purwanto turun dari mobil Toyota Kijang Innova dan berpindah menaiki mobil Suzuki Vitara. Selanjutnya AL (DPO) turun dari mobil Suzuki Vitara dan berpindah ke mobil Toyota Kijang Innova

3. Kemudian di mobil Suzuki Vitara ketiga TSK (Agus Yanto, Dikki Purwanto dan Nur Famizal Bin Ramdan) berada di depan beriringan utk mengawal mobil Toyota Kijang Innova yg membawa tas tas ransel berisi shabu2 yg dikendarai oleh RIO (DPO) dan AL (DPO)

4. Setibanya di Jln. Cokroaminoto Kisaran, mobil Suzuki Vitara ditangkap oleh personil Polres Tanjung Balai dan Polres Asahan, sementara mobil Toyota Kijang Innova balik melarikan diri ke arah ke Jalinsum Rantau Prapat

5.Selanjutnya Team Opsnal Sat Res Narkoba melakukan pengembangan dgn melakukan pencarian terhadap RIO dan AL, namun pd saat dilakukan penggerebegan tidak ditemukan dirumahnya dan tetap dilakukan pencarian

Sumber: tribun-medan.com

Presiden Joko Widodo didampingi pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim tiba di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (6/9/2018). ANTARA FOTO/Syaiful Arif/ama
Jakarta - Politik Indonesia mungkin tak akan bisa dilepaskan dari pernyataan-pernyataan kontroversial para aktornya. Selalu ada pernyataan sejenis ini hampir setiap hari.

Kali ini, pernyataan tersebut keluar dari Ketua Dewan Penasihat Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) Asep Saifuddin Chalim saat berpidato dalam acara Deklarasi JKSN Wilayah DKI Jakarta di Istora Senayan.

Rabu (29/12/2018) kemarin, di depan ribuan orang, Asep mengajak seluruh umat Islam dan khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU) memilih Joko Widodo dan Ma'ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilihan Presiden 2019.

"Jika ada orang muslim yang memilih presiden bukan Jokowi, maka jangan salahkan ketika [disebut] telah menginjak kepalanya Islam. Karena kiai Ma'ruf Amin adalah kepalanya Islam. Beliau adalah ketua MUI [Majelis Ulama Indonesia]," ujarnya.

Ketika mendengar itu, beberapa wartawan yang meliput menggelengkan kepala, tanda heran. Sementara Khofifah Indar Parawansa, tokoh perempuan dan NU yang juga hadir, hanya cengar-cengir.

Deklarasi JKSN DKI Jakarta memang dimaksudkan untuk memberikan dukungan terhadap Jokowi- Ma'ruf. Yang hadir mencapai ribuan orang. JKSN merupakan jaringan organisasi relawan yang digerakkan Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur terpilih, yang juga sekaligus menjabat Dewan Pengarah.

Asep Saifuddin juga menegaskan bagi warga NU yang tidak memilih petahana berarti sama saja menginjak-injak kepala NU.

"Jika ada orang NU yang tidak memilih Jokowi, jangan salahkan ketika mereka dikatakan sungguh mereka menginjak kepalanya NU. Jangan salahkan itu. Karena apa? Karena kiai Ma'ruf Amin adalah kepalanya NU," katanya.

Medan - Upaya penyeludupan 15 kilogram ganja kering dari Medan ke Pekanbaru, Riau oleh dua pelajar asal Aceh berhasil digagalkan Satrekrim Polsek Medan Timur, Senin (17/12/2018) kemarin.

M. Nawir Akbar (18) dan Zikrul (19) warga Dusun Haji Patan Desa Lapang Barat Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh ditangkap petugas di Jalan Tritura setibanya dari Provinsi Aceh.

"Keduanya baru tiba di Medan dengan menumpang bus," kata Kapolsek Medan Timur, Kompol M.Arifin, Kamis (19/12/2018).

"Penangkapan berawal dari kecurigaan personel Satreskrim Polsek Medan Timur dengan kedua tersangka membawa tas ransel. Petugas curiga dengan keduanya yang membawa tas ransel," sambungnya.

Masih kata Arifin, kecurigaan petugas membuahkan hasil. Saat di periksa dua tas milik pelaku ditemukan 15 bal berisi ganja kering.

"Saat diperiksa, tas pertama berisi 7 kg ganja dan tas kedua berisi 8 kg ganja dan total 15 kg," ungkap Arifin.

Kedua oknum pelajar asal Aceh yang diduga sebagai kurir narkoba tersebut diboyong ke Polsek Medan Timur untuk proses lanjut.

Kepada petugas, kedua remaja ini mengaku di perintah oleh seseorang untuk mengantarkan narkotika jenis ganja tersebut ke Pekan Baru, Riau dengan imbalan Rp 400 ribu perkilonya.

"Pengakuan keduanya disuruh oleh bandar narkoba inisial PON( buron) dan sudah di bayar Rp 1 juta sebagai ongkos," tutup Arifin.

Sumber: tribun-medan.com

Ilustrasi
Jakarta - Pemerintah merencanakan membuka penerimaan pegawai kontrak atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) pada Januari 2019.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB), Syafruddin menyampaikan rekturmen atau penerimaan pegawai kontrak (P3K) tersebut dapat diikuti oleh seluruh masyarakat, sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

Berdasarkan informasi yang ada, salah satu syarat yang ditentukan adalah usia calon peserta.

Batas usia minimal calon pegawai kontrak (P3K) adalah 20 tahun dan maksimal satu tahun sebelum batas usia pensiun untuk jabatan tertentu.

"P3K terbuka untuk seluruh profesi ahli yang dibutuhkan secara nasional dan sangat berpeluang untuk tenaga honorer yang telah lama mengabdi, juga bagi para diaspora yang kehadirannya dalam birokrasi diharapkan dapat berkontribusi positif bagi Indonesia," kata Syafruddin seperti dikutip Serambinews.com dari Kompas.com, Kamis (20/12/2018).

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pada awal Desember 2018.

Peraturan ini memungkinkan masyarakat dapat menjadi aparatur sipil negara (ASN), meskipun bukan melalui proses rekrutmen calon pegawai negeri sipil atau CPNS.

P3K dapat mengisi jabatan fungsional (JF) dan jabatan pimpinan tinggi (JPT) tertentu sesuai kompetensi masing-masing.

Dua fase

Deputi SDM Aparatur Kementerian PAN RB, Setiawan Wangsaatmaja mengungkapkan, jadwal penerimaan pegawai kontrak 2019 menurut rencana akan dibagi menjadi dua fase rekrutmen.

"Fase pertama dilaksanakan pada pekan keempat pada bulan Januari 2019," ujar Setiawan.

Sementara, fase kedua akan diselenggarakan setelah pemilihan umum (Pemilu) yang akan berlangsung pada bulan April 2019.

Rekrutmen P3K juga akan dilakukan melalui seleksi, di mana terbagi menjadi dua tahap yaitu seleksi administrasi dan seleksi kompetensi.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana menjelaskan, teknis penyusunan kebutuhan P3K akan sama dengan teknis penyusunan kebutuhan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Nantinya, instansi mengusulkan kebutuhan formasi ke Kementerian PAN RB.

Selanjutnya, BKN akan memberikan pertimbangan teknis terkait kebutuhan formasi tersebut.

"Kebutuhan formasi tersebut juga disesuaikan dengan ketersediaan alokasi belanja pegawai daerah yang tidak lebih dari 50 persen," ujar Bima.

Dari informasi yang diterima Kompas.com, disebutkan bahwa pada tahun 2019, pemerintah akan kembali membuka rekrutmen CPNS.

Pembukaan CPNS ini diklaim untuk memenuhi kebutuhan pegawai, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan, karena pada tahun depan banyak pegawai yang memasuki usia pensiun.(*)

Sumber: Kompas.com

Ibn Battuta dan Sultan Muhammad Ibtaglib.
SETELAH berlayar dua puluh lima hari, kami mencapai Pulau al-Jawa. Itu pulau dari mana kemenyan Jawa mendapatkan namanya. Kami melihat pulau itu dari jarak yang jauhnya setengah hari berlayar. Pohonnya banyak. Itu termasuk kelapa, palem, cengkeh, gaharu, papaya, jeruk manis, dan kapur barus.

Begitu nukilan kesaksian Ibn Battuta ketika berlabuh di Kerajaan Samudra Pasai di Aceh, dalam Rihla Ibn Battuta. Abu Abdullah Muhammad Ibn Battuta lahir di Maroko pada 1304 M masa Dinasti Marinid.

Dalam periwayatannya itu, Ibnu Battuta menyebut Pulau Sumatra dengan Jawa. Menurut Ross E. Dunn, sejarawan dari San Diego State University, dalam Petualangan Ibnu Battuta, itu hal yang umum digunakan pada zaman pertengahan. Misalnya, penjelajah Italia, Marco Polo menyebut Sumatra sebagai Jawa yang kecil.

Sebelum melalui Selat Malaka, Ibnu Battuta tinggal selama enam tahun di Delhi, India. Sultan Muhammad bin Tughlug yang memerintahkannya melakukan pelayaran hingga ke Tiongkok untuk membalas kunjungan delegasi dari Dinasti Yuan. Perintah ini yang membawanya ke Samudra Pasai pada akhir musim dingin 1345-46.

Dalam perjalanannya, kapal Ibn Battuta berhenti sekali di sebuah tempat yang dia sebut Barah Nagar. Ini mungkin sebuah negara kecil bagi suku etnik Indo-Cina di sepanjang pantai sebelah barat Myanmar. Pemberhentian kedua di pelabuhan bernama Qaqula. Pelabuhan itu, menurut Dunn, mungkin terletak di suatu tempat di sepanjang Pantai Tenasserim, di sisi sebalah barat Semenanjung Malaka.

Jung itu kemudian berlayar ke arah selatan lalu menelusuri sepanjang Pantai Malaka dan memasuki mulut selat itu. Setelahnya, ia berlabuh di pelabuhan Kerajaan Samudra di Sumatra.

“Sebuah kota pergantian kapal yang terletak pada salah sebuah sungai yang mengalir ke bawah dari pegunungan liar di daerah pedalaman sebelah barat laut,” jelas Dunn.
Peta perjalanan Ibn Battuta di Asia Tenggara dan Tiongkok 1345-1346 (Ross E. Dunn)
Sumatra sebenarnya tidak asing bagi pelawat itu. Sejarawan LIPI, Taufik Abdullah mengatakan, Ibnu Battuta telah mengenal Sumatra sejak masih berada di Calicut, India. Dalam kisahnya, dia bercerita bagaimana hilir mudiknya pedagang dari Sumatra ke kota dagang itu.

Ketika akhirnya berkunjung ke Samudra, Ibnu Battuta bercerita tentang Sultan al-Malik al-Zahir (II) yang ingin memperluas wilayah kekuasaan Islam. "Negaranya merupakan negara yang masuk Islam paling awal di wilayah itu sebagaimana para sejarawan telah sanggup menemukannya," tulis Dunn.

Sang sultan, kata Ibnu Battuta, banyak melakukan perang demi keyakinan agama. Sultan juga dikisahkan selalu ingin berdiskusi tentang masalah keagamaan dengan para ulama. Sultan yang ditemui Ibnu Battuta kemungkinan merupakan keturunan ketiga dari penguasa muslim yang telah ada beberapa tahun sebelum tahun 1297 M.

Taufik menjelaskan, pada salah satu inskripsi batu nisan di kompleks pemakaman raja Samudra Pasai, dalam bahasa Arab dikatakan bahwa kubur ini kepunyaan tuan yang mulia Sultan Malik Az-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama Muhammad bin Malik al-Shalih yang wafat pada malam Ahad, dua belas bulan Zulhijjah 726.

“Makam Malik za-Zahir ini terdapat di sebelah makam ayahnya, Malikul Saleh, sang pendiri dinasti Samudra Pasai,” kata Abdullah.

Itu ditegaskan oleh sumber tertulis lain, seperti Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu. Pun sesuai dengan kesaksian pelawat Italia, Marco Polo yang datang pada 1293, masa ketika kesultanan itu baru dilahirkan.

“Ini menunjukkan secara pasti tentang telah berdirinya sebuah pusat kekuasaan Islam di akhir abad ke-13 M. Jadi ini seusia dengan Kerajaan Majapahit di Jawa bagian timur waktu itu,” jelas Taufik.

Ibnu Battuta mencatat hanya tinggal dua pekan di Samudra. Namun, menurut Dunn mungkin lebih lama lagi. Pasalnya, dia tak juga berangkat ke Tiongkok sampai kira-kira April 1346 ketika musim barat daya dimulai dan kapal-kapal yang bertujuan ke Kanton biasanya meninggalkan selat.

Ketika akan berlayar pergi dari Samudra, Ibnu Battuta bercerita kalau Sultan al-Malik al-Zahir memberikan kehormatan kepadanya dengan melengkapi persediaan makanan pada sebuah jung. Sang sultan malahan juga mengirim seorang pejabat istananya untuk memberikan pelayanan yang baik pada acara-acara makan di kapal.

Menurut Ibn Battuta perjalanan dari Sumatra ke pantai di Tiongkok Selatan ditempuh lebih sedikit dari empat bulan. Itu walaupun waktu berlayar yang normal adalah sekira 40 hari.

Dalam perjalanannya pulang dari Tiongkok ke India, Ibn Battuta rupanya mampir sekali lagi di Samudra untuk mengganti kapal. Dia kembali mengunjungi istana Sultan Malik al-Zahir selama beberapa minggu. Ketika itu sultan baru saja pulang berperang dan membawa banyak tawanan perang.

Bukan Pelawat Arab Pertama

Ibnu Battuta hampir seluruh hidupnya berkelana di dalam batas yang disebut Dar al-Islam. Ungkapan ini berarti negeri-negeri yang penduduknya mayoritas Muslim atau paling tidak raja-raja dan para pangeran yang memerintah mayoritas muslim dan memberlakukan syariat atau hukum fikih Islam.

Ibnu Battuta merupakan pengelana pertama yang mengunjungi seluruh dunia Islam yang dikenal waktu itu. Mulai dari Maghribi di Afrika, Tangiers di Maroko ke Jazirah Arab, sampai ke Asia Kecil di wilayah yang disebut para pelacong barat sebagai Bulan Sabit yang Subur, lalu ke anak benua India, dan ujung Pulau Sumatra hingga ke Tiongkok.

Dari sisi politis, Samudra adalah pos luar paling akhir dari Dar al-Is-lam. Menurut Dunn, sekalipun kota lainnya di sebelah selatan sepanjang pantai Sumatra telah mengembangkan permukiman komersial, tak ada negara muslim merdeka yang diketahui eksistensinya di sebelah timur Samudra sebelum pertengahan abad ke-14.

Di luar itu, Taufik menjelaskan, Ibnu Battuta bukanlah orang Arab pertama yang memberitakan Nusantara. Ketika dia berkunjung, pengetahuan para ahli geografi dan pelayar Arab tentang wilayah Kepulauan Nusantara telah cukup memadai.

Umpanya, Pulau Zabag sebagai daerah kekuasaan Maharaja. Ia sudah sejak abad ke-7 M muncul dalam tradisi penulisan para geograf Arab. Mereka menyebut Zabag untuk Pulau Sumatra. Meski sudah dikenal para geograf Arab, hanya Ibnu Battuta yang menceritakan hasil kunjungannya sendiri. Sebelumnya hanya berdasarkan cerita para pedagang. Para geograf kemudian mengulasnya berdasarkan kitab yang telah ditulis sebelumnya.

“Barulah pada akhir abad ke-16 pelayar Arab menghasilkan dua tulisan pendek tentang Samudra Hindia,” kata Taufik.

Kendati begitu, Dunn berkomentar, kisah perjalanan Ibnu Battuta ke Tiongkok diceritakan singkat dan skeptis. Petualangannya dari Maladewa ke Benggala, Sumatra, Tiongkok, dan kembali ke Maladewa hanya mencakup enam persen dari Rihla.

Namun paling tidak, Rihla tetaplah berdiri sendiri sebagai catatan perjalanan muslim tentang Asia Timur. Ibn Battuta menjelajah kurang lebih 29 tahun dengan mencapai 120.700 km. Ibn Battuta pun dijuluki Penjelajah Terbesar Sepanjang Masa.(*)

Sumber: Historia.id

Banda Aceh - Organisasi paguyuban mahasiswa daerah adalah organisasi yang beranggotakan mahasiswa yang berasal dari suatu daerah yang sama dan memiliki tujuan yang sama. Organisasi mahasiswa daerah diharapkan menjadi sarana kontribusi para anak rantau untuk daerahnya, tentu dengan fokus pada pembangunan daerah.

Hal ini disampaikan oleh mahasiswa asal kecamatan Sawang kabupaten Aceh Selatan, Muhammad Hasbar Kuba kepada media ini, Rabu (19/12/2018) malam.

Hasbar menjelaskan, di dalam organisasi mahasiswa daerah terdapat banyak sekali kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat salah satunya yakni bakti sosial atau yang lebih dikenal dengan kata baksos yaitu salah satu kegiatan wujud dari rasa kemanusiaan antara sesama manusia. Bakti sosial antar warga yang dilakukan oleh mahasiswa adalah untuk mewujudkan rasa cinta kasih, rasa saling menolong, rasa saling peduli mahasiswa kepada masyarakat luas yang sedang membutuhkan bantuan. 

"Sebagai Mahasiswa Aceh Selatan yang kuliah di Banda Aceh, saya menyesalkan ketidakaktifan  organisasi paguyuban Mahasiswa Aceh Selatan(HAMAS) sejak beberapa tahun silam. Saya menilai HAMAS sekarang hanya dipergunakan untuk kepentingan golongan tertentu tidak lagi berperan sebagai organisasi independen Mahasiswa Aceh Selatan. Ini sangat miris dan memprihatinkan tentunya, masih di organisasi mahasiswa sudah rusak secara moril, bagaimana jika diberi mandat kekuasaan yang lebih besar, tentunya akan menimbulkan bencana yang lebih besar," bebernya. 

Menurut mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Ar Raniry ini, organisasi HAMAS  tersebut dibangun untuk kepentingan bersama, dan jabatan di oraganisasi itu bukanlah jabatan seumur hidup.

" Ini kan sudah kayak orde baru kesannya, periodesasinya sudah  lewat ingin berkuasa terhadap organisasi mahasiswa, padahal bukan lagi mahasiswa. Sebagai mahasiswa, kita mendesak Pengurus HAMAS yang lalu bisa bertanggung jawab untuk melaksanakan Mubes guna meregenerasi HAMAS kembali dan mengobati HAMAS dari kevakuman yang telah merusak regenerasi kepengurusan," tambahnya.

Sangat disayangkan, kata Hasbar, pengurus HAMAS periode 2015-2017 yang SKnya telah habis pada 2017 silam, namun tidak kunjung melaksanakan mubes hingga Sekarang akhir 2018. Hal ini laksana penyakit yang diturunkan dari pimpinan organisasi HAMAS sebelumnya yang mempertahankan kekuasaannya hingga 2019. Laksana pepatah mengatakan, buah itu tak bakal jauh jatuh dari batang nya.

"Jika mubes tidak dilakukan hingga 2019 berarti pengurus HAMAS periode 2014-2016 sudah membunuh 3 generasi untuk berproses di HAMAS . Ataukah memang Aceh Selatan sudah tidak butuh HAMAS lagi?," Cetusnya.

Menurut Hasbar, jika memang Mubes HAMAS sudah tidak lagi bisa dibuat, kendatipun anggaran yang dialokasikan untuk HAMAS di pemerintah tiap tahunnya tetap ditarik, lebih baik organisasi itu dibubarkan saja.

"Kita bubarkan saja HAMAS kalau begitu, daripada begini tidak ada kejelasan dari pengurus. Kan itu namanya habis-habisin uang daerah saja,  sementara justru manfaatnya jangankan untuk masyarakat untuk mahasiswa saja terkesan nihil. Agar lebih afdhol dan tidak jadi boomerang dan cacat sejarah bagi generasi ke depannya, cukup jadikan hamas itu kenangan dan bubarkan saja. Penyakit HAMAS itu sudah stadium 4, ketimbang hidup membebani generasi berikutnya, membebani pembiayaan daerah, labih baik dibubarkan saja," tandasnya.[Rill]

Banda Aceh - Taufik Mauliansyah (50) tak pernah berhenti mendoakan istri dan anak pertamanya yang meninggal dunia saat tsunami menerjang Aceh hampir 14 tahun lalu.

"Setiap hari saya mendoakan dia dan anak pertama saya ... bahkan saya sudah mencari ke mana-mana sampai ke Jakarta, dan setiap tahunnya pada tanggal 24 Desember saya datang ke rumah yang dulu untuk mendoakan mereka," kata Taufik, kepada wartawan di Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Penantian Taufik selama hampir 14 tahun tersebut akhirnya berakhir dengan penemuan jasad istrinya, Sri Yunida, pada Rabu (19/12) pagi.

Jasad Sri adalah satu dari 45 jasad yang ditemukan di satu liang di Dusun Lam Seunong, Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. Jasad Sri bisa diidentifikasi karena di kantung jenazah ditemukan SIM C.

Jasad-jasad ini ditemukan oleh para pekerja yang sedang membangun rumah subsidi.

Mauliansyah, kepala bagian humas Pemerintah Kota Banda Aceh, kehilangan enam orang anggota keluarga. Pada 26 Desember 2004, ia dan keluarganya berada di rumah di Desa Kajhu, yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari bibir pantai.

"Ketika gempa dan gelombang air laut datang, saya spontan menarik anak kami satu-satunya dan membawanya lari. Namun karena arus air yang begitu dahsyat, ia terlepas dari tangan saya," tutur Taufik dengan nada serak. Kedua pipinya basah dengan linangan air mata.

Selain anak dan istri, ia juga kehilangan empat anggota keluarga lain. Ia menjadi satunya-satunya orang di keluarga intinya yang selamat, sementara yang lain dinyatakan hilang.

Taufik mengatakan sangat terpukul dengan kehilangan istri dan anak satu-satunya.

"Karena waktu itu saya hanyalah PNS dengan jabatan staf biasa, baru menikah dan memiliki satu orang anak, jadi masih sangat membekas bagaimana rasanya merangkak perlahan dengan kondisi ekonomi yang lemah," kenang Taufik.

Hingga saat ini, Taufik baru menemukan jasad istrinya sedangkan lima anggota keluarganya yang menjadi korban gempa dan tsunami masih belum ditemukan. Ia masih berharap agar mereka juga ditemukan.

Mimpi dua malam
Dari 45 jasad yang ditemukan, 24 diantaranya berjenis kelamin laki-laki, 16 perempuan, dan lima lainnya merupakan jasad bayi.

Awalnya ditemukan 16 mayat, namun setelah pemuda dan warga Dusun Lam Seunong melakukan penggalian lebih dalam, 29 mayat ditemukan.

Salah seorang pekerja, Ogi (26), mengatakan sebelum penemuan jasad korban tsunami, para pekerja selama dua malam berturut-turut bermimpi melihat sosok perempuan dan anak yang meminta pertolongan karenan kedinginan.

"Beberapa di antara kami bermimpi, ada perempuan dan anak yang kedinginan, mereka meminta tolong ke kami," kata Ogi.

Ternyata, saat melakukan penggalian untuk pembuatan safety tank pada rumah pertama, mereka menemukan tulang dalam kantung mayat.

Samuel, pemuda setempat, mengatakan sebelumnya tidak ada yang mengetahui bahwa pada lokasi perumahan subsidi terdapat kuburan massal. Karena pada dan setelah gempa dan tsunami menerjang, semua warga sekitar lari sejauh mungkin untuk menyelamatkan diri.

"Saya bahkan lari jauh sampai ke Jantho dan hampir semua kami yang berada di kampung ini baru kembali satu tahun setelah tsunami. Itu pun masih dalam kondisi yang mencekam dan begitu menakutkan," kata Samuel.

Ia mengatakan dari 45 jasad yang ditemukan, hanya lima yang bisa diindentifikasi karena terdapat Kartu Tanda Pengenal (KTP) di dalam kantong jenazah.

Di 40 kantong lainnya, tidak ditemukan apa pun yang bisa membantu identifikasi.

Hingga Rabu malam, 40 jasad telah dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum Dusun Lam Seupung, setelah sebelumnya dilakukan pemandian dan pengkafanan oleh warga setempat. | BBC Indonesia



TANJUNGPANDAN- Sebagai wujud kepedulian terhadap almamater yang membesarkannya, para alumni yang tergabung dalam Ikatan Alumni SMK Negeri 1 Angkatan 2001 menggelar aksi solidaritas antar sesama alumni. 

Kegiatan dalam wadah ikatan alumni ini sebagai ajang silaturahmi antar sesama angkatan 2001 yang saat ini sudah bergelut di bidang pekerjaannya masing – masing. 

Selain itu juga untuk menyatukan potensi para alumni agar bersama-sama ikut ambil bagian dalam pembangunan di Sekolah yangdulu pernah menjadi tempat menimba ilmu.

Aksi kali ini berhasil menggalang dana sebesar Rp. 12.000.000 untuk membantu pembangunan Mushola di SMK Negeri 1 Tanjungpandan. Penyerahan secara simbolis dilaksanakan di SMK Negeri 1 Tanjungpandan Rabu (19/12) oleh perwakilan Alumni Yahya kepada Pantia Pembangunan Mushola Suhaima. 

“Kalau dilihat dari jumlah kebutuhan memang tidak akan mencukupi namun bantuan ini hanyalah sebagai kepedulian dari kami para alumni terhadap sekolah,” Ujar Yahya.

Seraya menambahkan bantuan yang diserahkan ini merupakan dana swadaya dari rekan – rekan Alumni 2001. “Mudah-mudahan saja apa yang saat ini kami berikan kepada sekolah bisa mempercepat pembangunan yang saat ini sedang dikerjakan pihak sekolah,” ungkap Yahya yang kesehariannya menjabat sebagai Kades Perawas Kecamatan Tanjungpandan.

Sementara itu Koordinator Ikatan Alumni SMK Negeri 1 TP Endang Meidiansyah, S.AP menyampaikan terimakasih kepada seluruh yang terlibat dan mendukung pengggalangan dana ini baik moril maupun materil. 

Menurutnya, ini sebagai langkah awal untuk sama – sama bergerak ikut berpartisipasi dalam kemajuan dunia pendidikan khususnya Almamater yang telah membesarkan dan mendidik kita.

Kedepan kami juga akan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan kegiatan – kegiatan lainnya seperti seminar kenakalan remaja dan bahaya narkoba bagi siswa – siswi di SMK Negeri 1 TP. Tentunya kami berharap silaturahmi yang sudah terjalin ini tetap terjaga, baik antar sesama alumni maupun dengan pihak sekolah. 

“Ddulu kita pernah sama – sama membangun mimpi disini, tidak ada salahnya sekarang kita kembali lagi sebagai bentukrasa syukur atas apa yang sudah kita dapatkan,ungkap Endang yang kesehariannya berdinas di Lapas Kelas IIB Tanjungpandan.(Red/yopie)

Banda Aceh - Jenazah korban tsunami yang dikubur secara massal ditemukan di dusun Lamseunong, Gampong Khaju, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Rabu (19/12/2018).

Total ada 45 jenazah yang ditemukan, dengan rincian 25 jenazah jenis kelamin laki-laki dan 20 perempuan.

Dari jumlah itu, empat jenazah di antaranya telah diketahui identitasnya. Empat jenazah itu masing-masing Mariam Husin, warga Ule Jurong Baroh, Simpang Tiga, Pidie; Sri Yunida SH, warga Perum Pola Blok F Desa Kajhu; Faizal Reza, warga Idi; dan Burhanuddin warga Lambada Lhok, Kecamatan Baitusalam.

“Ini diketahui dari kartu identitas seperti KTP dan SIM yang ditemukan bersama jenazah,” kata Kepala Pelaksana BPBA, T Ahmad Dadek, Rabu (19/12/2018), saat meninjau lokasi temuan jenazah.

Kata dia, satu jenazah atas nama Sri Yunida telah diambil oleh pihak keluarga. Sementara 44 jenazah lainnya akan dikuburkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berada di Gampong Kahju.

“Menurut informasi yang didapat dari perangkat gampong, seluruh jenazah korban tsunami itu akan dikafankan dan akan dikuburkan di TPU yang ada di Kajhu,” kata Dadek.

Lebih lanjut dikatakan, saat ini satu unit alat berat masih menggali tanah di lokasi temuan mayat korban tsunami itu.

“Belum ada data yang akurat, kemungkinan akan ditemukan karena masih dalam proses penggalian,” tambah Dadek.

Diketahui, penemuan puluhan jenazah korban tsunami 2004 silam itu berawal saat para pekerja menggali septic tank di lokasi pembangunan rumah milik warga.

Kuburan massal ini tidak diketahui oleh masyarakat sekitar dikarenakan pada saat bencana tsunami terjadi warga asli Desa Lamseunong, Khaju, 85 persennya menjadi korban. Daerah tersebut merupakan salah satu daerah terparah. (*)

Kades Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jatim, Suhartono (kanan bertopi) dieksekusi jaksa Kejari Kabupaten Mojokerto menuju lapas Kelas IIB Kota Mojokerto, Rabu (19/12/2018). SINDONews/Tritus Julan
MOJOKERTO - Meskipun dijebloskan ke penjara, tak membuat gentar Kepala Desa (Kades) Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Suhartono. Dia tetap mendukung pasangan calon Presiden-Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).

Suhartono tetap tersenyum meski menjadi penghuni sel tahanan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Klas IIB Mojokerto, Rabu (19/12/2018). Dia divonis dua bulan penjara lantaran melakukan pelanggaran pemilu.

Terdakwa kasus pidana pemilu itu dieksusi jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto pukul 13.00 WIB. Setelah dijemput di kediamannya, kades berpenampilan nyentrik yang akrab disapa Nono itu langsung dilakukan penahanan.

Dari kantor Kejari Kabupaten Mojokerto di Jalan RA Basuni, Sooko, Suhartono dibawa ke Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kota Mojokerto. Saat dieksekusi, Suhartono masih mengumbar senyum.

Seakan tanpa beban, Suhartono yang biasanya bungkam di hadapan awak media, mendadak memberikan keterangan seputar kasus hukum yang menjeratnya itu. Kepada awak media, dia mengaku siap menjalani hukuman yang dijatuhkan kepadanya itu.

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto, Hendra Hutabarat, menjatuhkan vonis 2 bulan penjara dan denda Rp6 juta subsider 1 bulan kurungan. Suhartono terbukti bersalah melanggar Pasal 490 juncto Pasal 282 UU RI No 7 tahun 2017 tentang Pemilu.

"Kita konsekuen saja. Saya jalani apa adanya sesuai dengan hukum yang berlaku. Saya bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan," kata Suhartono, saat di Kejari Mojokerto.Dia membenarkan jika dirinya mencabut upaya banding atas vonis majelis hakim yang dijatuhkan kepadanya. Pencabutan sebagai bentuk tanggungjawab atas apa yang dilakukannya, tanpa ada intervensi dari pihak mana pun.

"Kita tidak mau bertele-tele. Intinya, kita bertanggungjawab, gitu aja. Tidak ada intervensi," papar kades yang pernah membuat gempar di dunia maya dengan videonya yang tidur di atas uang jutaan rupiah.

Kendati harus menjadi penghuni Lapas Klas IIB Mojokerto, namun tak menyiutkan langkah Nono untuk tetap memberikan dukungannya kepada paslon Prabowo-Sandi. Nono mengaku tetap akan mendukung capres nomor urut 2 itu. "Tidak ada (perubahan dukungan). Tetap, tetap Prabowo-Sandi yang saya dukung," tukasnya sembari tersenyum. | Sindonews

StatusAceh.Net - Kecantikan wanita Uighur itu tersohor ke seluruh stepa dan Pegunungan Tian Shan. Dia dikenal sebagai selir Rong dari Xinjiang. Sebagian memanggilnya selir wangi karena tubuhnya sangat harum.

Sejumlah sumber menyebut nama aslinya adalah Nur Ela Nurhan. Istri dari seorang panglima perang suku Uighur yang dikalahkan tentara Kekaisaran Qing. Nur diculik dan dipersembahkan untuk Kaisar Qianlong di Peking, penguasa seantero China yang memerintah dari tahun 1735 hingga 1795.

Melihat kecantikan Nur, Kaisar Qianlong jatuh cinta seketika. Dibangunnya sebuah istana dengan taman yang mirip dengan suasana di Xinjiang, kampung halaman sang putri. Tak cuma itu, Kaisar juga membangun sebuah masjid dan bangunan lain bergaya Uighur agar wanita cantik itu merasa betah tinggal di sana.

Namun rupanya semua perhatian Kaisar Qianlong tak membuat Nur alias Selir Rong luluh. Dia tak pernah membuka hatinya untuk Qianlong. Dia juga tak pernah mau ditiduri seperti selir-selir lainnya.

Suatu hari Kaisar yang mabuk masuk ke kamar Selir Rong dan mencoba melampiaskan napsunya. Namun Selir Rong mengeluarkan belati yang dia sembunyikan. Dia melukai tangan Kaisar dan membatalkan niat pria itu.

Melukai Kaisar pada zamannya adalah pelanggaran yang sangat berat dan pelakunya pasti dihukum mati dengan cara sadis. Namun Qianlong memaafkan Selir Rong karena rasa cintanya.

Ibu Suri Kaisar yang mendengar cerita itu marah luar biasa. Dia khawatir suatu saat Selir Rong membunuh Kaisar. Maka ibunda Qianlong ini meminta agar Kaisar menghukum mati Selir Rong. "Atau jika tidak mau melayani Kaisar, pulangkan saja dia ke Xinjiang," kata Ibu Suri.

Dalam Buku Dinasti Qing, Sejarah Para Kaisar Berkucir 1616-1850 yang ditulis Michael Wicaksono dan diterbitkan Elex Media Komputindo, digambarkan akhir tragis nasib Selir Rong.

Saat Kaisar sedang melakukan sembahyang tahunan, Ibu suri memanggil Selir Rong ke istananya. Dia memerintahkan seluruh puri ditutup rapat dan dijaga ketat. Bahkan jika ada, Kaisar pun tak diizinkan masuk.

Ibu Suri bertanya, apa sebenarnya keinginan Selir Rong?

Jawabannya hanya sepatah kata. "Mati," kata Selir Rong sambil berlinang air mata.

Ibu Suri mengabulkan permintaan itu. Dia memberi selendang putih dan membawa Selir Rong ke ruangan kosong di sebelah selatan istana. Selir Rong berlutut dan mengucapkan terima kasih sebelum mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya.

Seorang Kasim atau pelayan istana yang mengetahui kejadian itu segera berlari ke Kuil Langit tempat Kaisar Qianlong bersembahyang. Qianlong berlari menuju kediaman Ibu Suri namun terlambat. Selir Rong sudah meninggal.

Kaisar memerintahkan jenazah selir kesayangannya itu diurus dengan baik dan dimakamkan khusus di Paviliun Taoran, di sebelah selatan Peking.

Versi yang berkembang di Masyarakat Uighur sedikit berbeda. Sang Putri tak mati bunuh diri, tapi tewas karena diracun oleh Ibu Suri dan selir-selir Kaisar yang iri padanya. Akhir kisah Selir Wangi ini tak kalah tragis. (*)

Sumber: Merdeka.com
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.