2021-04-18

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Baksos Bambang Tri Banda Aceh Banjir Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona corona Covid-19 Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos dayah Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Film Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan Hindia History Hotel Hukum Humor HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malaysia Malware WannaCry Masjid Migas Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik Mudik Lebaran MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli PUSPA Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebgram Selebriti Senator SMMPTN sosial Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tol Aceh Tsunami Aceh Turki Ulama USA Vaksin MR Vaksinasi Vaksinasi Covid-19 vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA


StatusAceh.Net -
Historiografi perempuan Aceh menempatkan inong balee sebagai ikon perlawanan perempuan. Secara harfiah, ia merujuk pada janda atau perempuan yang kehilangan suaminya akibat konflik. Dalam sejarah Aceh, ia juga merujuk pada tentara perempuan abad ke-17. 

Inong balee dinarasikan sebagai simbol kekuatan militer, politik, dan kultural. Pada abad ke-16, simbol militer dan politik diwujudkan dalam aksi perlawanan dan diplomasi melawan Portugis. Sedangkan, simbol kultural mengkristal dalam pewarisan keberanian pejuang perempuan pada masa perang melawan Belanda sepanjang 1873-1912. 

Representasi atau personifikasi yang terkenal dari inong balee yang paling terkenal adalah Laksamana Keumalahayati. Gelar Laksamana yang disandangnya menguatkan posisi Keumalahayati, bukan hanya sebagai pejuang, tetapi juga sebagai pemimpin. Masyarakat Aceh menempatkan Keumalahayati sebagai pahlawan—pada November 2017, Presiden Joko Widodo pun menentapkannya secara resmi sebagai pahlawan nasional. 

Historiografi tentang Keumalahayati telah banyak ditulis, di antaranya oleh Solichin Salam, Ibrahim Alfian, dan Rusdi Sufi. Meski begitu, eksistensi Keumalahayati sebenarnya masih sumir karena minimnya sumber sejarah. Sebelum Keumalahayati menjadi subjek penelitian sejarah, nama dan kisahnya lebih dulu tersua dalam karya sastra. Adalah Marie van Zeggelen (1870–1957) yang telah mengabadikan kisah Keumalahayati dalam roman berjudul Oude Glorie (Kemuliaan Masa Lalu). 

Elsa Clavé-Celik dalam artikel “Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants History in Aceh (17th-20th c.)” yang terbit di jurnal Archipel (2014) menyebut, van Zeggelen adalah istri seorang serdadu Belanda yang pernah ditugaskan ke Aceh. Kemungkinan besar, van Zeggelen mendasarkan romannya pada tradisi lisan tentang sang laksamana. Meski begitu, roman yang terbit pada 1935 ini kemudian menjadi “sumber” pertama dan utama tentang Keumalahayati yang sering dikutip oleh beberapa sejarawan. Jennifer Dudley dan Rusdi Sufi, misalnya, pernah keliru menyebut van Zeggelen sebagai “sejarawan Belanda”. 

Pendapat Clave-Celik itu diperkuat oleh catatan peninggalan John Davis, seorang penjelajah asal Inggris yang mengunjungi Aceh pada 1599. Catatan Davis menyebutkan bahwa Kesultanan Aceh memang memiliki seorang laksamana perempuan. Namun, Davis tidak pernah menyebut namanya secara spesifik sehingga sulit dikonfirmasi. Dan lagi, tak ada sumber Belanda dari masa itu yang menyebut nama Keumalahayati. 

“Terlepas dari eksistensinya yang masih diperdebatkan, Keumalahayati tetap hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat Aceh. Dia tidak diragukan lagi adalah satu-satunya laksamana yang namanya, asli atau bukan, terus hidup dalam ingatan,” tulis Clave-Celik.

Baca Selanjutnya >>>


StatusAceh - Ada banyak hal menarik tentang Indonesia yang membuat orang asing jatuh cinta. Seperti model cantik asal Prancis bernama Tiphaine Poulon, yang jauh-jauh pergi ke Aceh pada 2018 lalu untuk belajar agama Islam dan budaya lokalnya.

Tak di sangka, di Aceh pula ia bertemu jodohnya, Amal. Baginya, Amal adalah sosok lelaki yang dicintainya tanpa syarat, tanpa alasan. Kala itu Amal adalah pembimbingnya masuk Islam.

"Saya jatuh cinta padanya. Cinta yang tidak bersyarat. Dan ketika kamu sudah terlanjur mencintainya, maka kamu tidak akan pernah berhenti mencintainya," ungkap Tiphaine.

Meski sempat LDR lantaran Tiphaine harus meneruskan studinya di Paris, ia tak berpaling dari Amal, Bunda. Begitu lulus dalam program studinya. Ia kembali ke Aceh dan menikah dengan Amal.

"Saya lulus dan pergi ke Indonesia lagi," tulisnya dalam postingan tersebut.

Tak cuma belajar agama Islam dan menjadi seorang mualaf, Tiphaine selalu bersemangat untuk bisa ikuti kebiasaan orang Indonesia, Bunda. Belum lama, ia unggah video suami dan dirinya menyangkul sawah.

Tiphaine juga merekam kegiatan sehari-hari masyarakat di desa suaminya. Ia mengaku, selama 'karantina' di Indonesia karena tak bisa mudik ke Paris, ia belajar menjadi orang Indonesia.

"Belajar jadi orang Indonesia sesungguhnya. Cinta kalian, orang Indonesia," tulisnya di video TikTok-nya @tiphainepln6.

Di video sebelumnya, bule Prancis ini cerita bagaimana awalnya ia tertarik dengan Islam di Aceh. Apa alasan Tiphaine tertarik Islam? Baca kelanjutannya di halaman berikut ya, Bunda.

Selama di Aceh, Tiphaine Poulon dengan tekun mempelajari Islam. Menurutnya, Islam yang diajarkan padanya di Aceh sangat berbeda. Hal tersebut ia bandingkan dengan ajaran Islam yang ia peroleh dari teman-teman muslimnya di Prancis.

"Setiap hari saya belajar sedikit demi sedikit tentang Islam," ujarnya.

"Dan waktu itu saya merasa sangat berbeda dengan apa yang coba diajarkan teman-teman muslim Prancis kepada saya," tuturnya.

Selama kunjungannya di Aceh, Tiphaine mengaku, dirinya mencoba untuk mengikuti budaya yang ada. Bahkan, ia juga menutupi rambut menggunakan selendang atau hijab untuk pertama kalinya demi menghormati masyarakat di sana.

"Saya menutupi rambut saya dengan selendang untuk pertama kalinya untuk menunjukkan hormat saya kepada masyarakat Aceh," katanya.

Ternyata yang membuatnya beda dalam belajar agama Islam di Aceh selama ini adalah sosok Amal yang membimbingnya. Kenapa? Baca kelanjutannya di halaman berikut.

 Selanjutnya >>>


Banda Aceh - Sebuah kafe di Banda Aceh disegel petugas Satpol PP dan Wilayatul Hisbah (WH) dan Polresta Banda Aceh.

Penyegelan dilakukan karena kafe tersebut memfasilitasi live music atau konser tanpa protokol kesehatan (prokes).

"Penyegelan dilakukan karena banyak yang dilanggar pemilik tempat pelaksanaan konser amal, dan ini viral di media sosial," kata Kepala Satpol PP dan WH Banda Aceh Heru Triwijanarko, dilansir Antara, Kamis (22/4/2021).

Kafe itu juga membuat konser dengan berjoget, sehingga melanggar seruan Forkopimda Banda Aceh tentang kegiatan selama bulan Ramadhan.

Mereka juga mengabaikan Qanun (peraturan daerah) Nomor 11 Tahun 2002 tentang syiar Islam, serta melanggar protokol kesehatan. Bahkan, juga tidak memiliki izin usaha.

"Prokes juga diabaikan, melanggar Perwal (Peraturan Wali Kota) Nomor 51 Tahun 2020 tentang penegakan hukum disiplin protokol kesehatan. Terus juga tidak punya izin usaha lagi," ujarnya.

Pihak Polresta Banda Aceh juga memanggil 11 pekerja kafe untuk diminta keterangan lebih lanjut.

"Ke-11 orang sudah dibawa ke Polresta untuk dimintai keterangan, karena ada kemungkinan itu masuk pidana," kata Heru.

Tempat usaha itu tidak akan dibuka sampai mereka mengurus semua izin usaha yang telah ditentukan, serta harus bersedia mematuhi peraturan syariat Islami. | Suara.com

 

BANDA ACEH – Baru-baru ini beredar video yang menunjukkan sejumlah pria dan wanita berjoget bareng di sebuah cafe di Kota Banda Aceh.

Muda mudi tersebut mengadakan konser musik pada malam hari di bulan Suci Ramadhan.

Dalam video yang beredar di media sosial dan grup WhatsApp, tampak sejumlah pria dan wanita yang mengenakan baju hitam berjoget-joget dibarengi alunan musik.




Muda-mudi yang diduga sebagai mahasiswa tersebut berjoget tanpa mengenakan masker dan tidak menjaga jarak.

Tampak pula seorang wanita berjoget sambil mengayunkan tangan ke atas dengan berdiri di atas kursi.

Pria dan wanita yang terdiri dari belasan orang itu berjoget bak konser besar yang dihadiri artis ibukota.

Mereka tampak loncat-loncat dengan menggerakan tangan ke atas sambil mengeluarkan yel-yel “yeee aaaa”

Berdasarkan infromasi yang diterima Serambinews.com, Kamis (22/4/2021), itu terjadi di sebuah cafe di seputaran Simpang Lima Banda Aceh.

Cafe tersebut hanya berjarak ± 750 meter dari Masjid Raya Baiturrahman.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (21/4/2021) malam atau setelah warga Kota Banda Aceh usai melaksanakan ibadah shalat Tarawih.

Selanjutnya >>>


Banda Aceh - Narkotika jenis sabu seberat 80 kilogram disita Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kantor wilayah (Kanwil) Bea Cukai Aceh. Sabu tersebut berasal dari Thailand yang akan menuju Aceh.
 
Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh, Safuadi, mengatakan penangkapan dilakukan Subdirektorat Narkotika, Subdirektorat patroli laut (pengendali operasi laut jaring sriwijaya) dan satuan petugas kapal patroli BC 30001 di Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh.  
 
"Saat penangkapan ditemukan empat buah karung berisi masing-masing 20 bungkus sabu, dengan total barang diperkirakan seberat 80 kilogram," kata Safuadi, Kamis, 22 April 2021. 

Safuadi mengungkapkan, awalnya diperoleh informasi sabu berasal dari Thailand akan diselundupkan melalui jalur laut. Kapal yang digunakan sebagai transportasi tersebut adalah kapal 'Medan Jaya' berjenis oskadon.
 
Baca: 2 Terdakwa Penyelundup Sabu di Tangerang Dituntut Mati
 
"Sedangkan tersangka yang berhasil ditangkap berjumlah empat orang," ujarnya.
 
Safuadi meyebutkan, empat tersangka terdiri dari satu orang pengendali komunikasi dan tiga Anak Buah Kapal (ABK) berinisial A, K, P dan M. Identitas empat tersangka masih dalam proses penyelidikan.
 
"Di radar kapal BC 30001 terlihat sebuah kapal nelayan sedang menuju ke daratan Idi Rayeuk. Seketika pada saat itu dilakukan pengejaran terhadap kapal berjenis oskadon," ucapnya.
 
Selama proses pengejaran, Safuadi menjelaskan, tersangka terlihat sedang membuang barang dari kapal, namun tidak terlihat karena gelap. Kemudian dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku telah membuang barang tersebut ke laut.
 
"Barang yang telah dibuang ke laut pada saat pengejaran berlangsung sebelum dilakukan penghentian adalah dua buah karung yang diduga berisi methamphetamine beserta alat komunikasi berupa telepon genggam," ungkapnya.
 
Kemudian, Tim laut dengan kapal BC 30001 berhasil menemukan barang-barang yang diduga methamphetamine yang diakui oleh ABK kapal oskadon sebagai barang yang dibuang ke laut pada saat pengejaran berlangsung.
 
"Terhadap barang bukti dan tersangka telah dibawa ke BNN RI di Jakarta untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. Adapun perbuatan para tersangka diancam dengan hukuman maksimal berupa hukuman mati sesuai UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika," jelasnya. | Medcom.id

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.