2018-03-25

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

StatuAceh.Net - MRS (28), mucikari praktis prostitusi online di Kota Banda Aceh ternyata merupakan satu dari empat orang yang masuk ke daftar pencarian orang (DPO) pada kasus serupa.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Komisi VII DPR Aceh, Ghufran Zainal Abidin, usai melakukan rapat tertutup dengan stakeholder lainnya, di gedung dewan tersebut, Rabu (28/3) sore.

Dia mengatakan, dalam rapat itu, pertama pihaknya meminta kepada pihak kepolisian untuk menyampaikan kasus yang belakangan ini masih marak diberitakan.

Usut punya usut, ternyata kasus praktik prostitusi di ibu kota Aceh ini memang sudah lama diintai.

"Kita dapat informasi juga melalui Satpol PP dan WH bahwa ternyata salah satu mucikari yang ditangkap di The Pade Hotel adalah dari empat orang yang merupakan DPO," ungkap Ghufran.

Dia menyampaikan, saat ini masih ada tiga DPO mucikari yang belum tertangkap oleh pihak keamanan maupun Satpol PP dan WH.

"Jadi ada tiga mucikari lagi yang belum tertangkap," ungkapnya lagi.

Dia menegaskan, agar ketiganya tidak lagi dengan leluasa menjalani aksinya. DPRA mengajak pihak-pihak terkait untuk melakukan razia gabungan, termasuk dengan perangkat gampong.

"Kita akan memperketat melakukan razia gabungan kepada semua geucik. Karena ternyata tidak hanya dilakukan di The Pade Hotel, tetapi juga dilakukan di beberapa tempat penginapan yang lain," tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepolisian Resort Kota (Polresta) Banda Aceh berhasil mengamankan 8 orang diduga melakukan praktik prostitusi online di Hotel The Pade Aceh Besar, Rabu (19/3), lalu.

Orang itu di antaranya 7 orang diduga PSK, di antaranya, CA (24), DS (24), RR (21), dan IZ (23), merupakan warga Kota Banda Aceh. Sementara itu, AYU (28) adalah warga Aceh Singkil, RM (23), warga Bireuen, dan MJ (23), warga Aceh Tengah. Sedangkan MRS, selaku mucikari, adalah warga Sumatera Utara.| Akurat.co

Lhokseumawe – Tim Basket Ball Naga Sakti 113 JS Bireuen dinyatakan sebagai juara satu setelah menaklukan lawannya Tim Tuan Rumah Lilawangsa juara ke-2 pada pertandingan penutupan Turnamen Basket Ball Piala bergilir Danrem Cup Ke-7, Kamis (29/3/2018), di Lapangan Jenderal Sudirman Korem 011/Lilawangsa, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Sementara itu, juara ke-3 diraih tim Basket Ball Blora Aceh Utara, juara ke-4 dari Tim PJB Lhokseumawe, dan terpilih sebagai pemain terbaik Turnamen Basket Ball Danrem Cup 7 tahun 2018 oleh Febrian Riski dari Tim Lilawangsa, setelah mengikuti pertandingan yang digelar oleh Korem 011/Lilawangsa selama 1 (Satu Minggu) diikuti sebanyak Sembilan Club/Tim peserta Basket.

Penyerahan hadiah tersebut diserahkan oleh Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Korem 011/Lilawangsa Letkol Inf Suriya mewakili Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Agus Firman Yusmono kepada tiap perwakilan dari Tim pemenang yang turut disaksikan diantaranya, Koordinator umum Kasiter Korem 011/LW Letkol Inf Yogi Bahtiar sekaligus memimpin penutupan turnamen Basket Ball Danrem Cup 7, Bupati Aceh Utara di wakili oleh Sekda, Dandim 0103/Aut diwakili Kasdim,  Kajari, Bea cukai, BRI, Black Castle, PT Bohana Jaya Nusantara, para Kadisjan jajaran Korem 011/LW, para Kasi dan Pasi Korem 011/LW serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Agus Firman Yusmono yang dibacakan oleh Kasiter Korem 011/Lilawangsa Letkol Inf Yogi Bahtiar mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada segenap panitia dan pendukung atas keberhasilannya dalam menyelenggarakan turnamen basket ball dengan lancar dan sukses.

Besar harapannya, penyelenggaraan turnamen ini telah menjadi sarana silaturahmi yang baik di antara anggota tim basket ball dari seluruh tim yang turut menjadi peserta sekaligus kesempatan besar untuk memperoleh pengalaman bertanding dan mengasah agar lebih baik lagi di pertandingan berikutnya. Begitupun kepada warga masyarakat khususnya Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara sejatinya dapat menyaksikan sekaligus sangat diharapkan akan menggerakkan secara rutin melakukan untuk meningkatkan olahraga sebagai kebutuhan agar tetap sehat.

Selanjutnya, Danrem mengucapkan selamat kepada tim bola basket yang telah meraih juara dan menampilkan aksi terbaiknya selama mengikuti pertandingan, dengan harapan turnamen saat ini menjadi pemacu maupun inovasi dalam mengukir prestasi yang lebih baik di even-even berikutnya.

Begitupun tim bola basket yang saat ini belum meraih kemenangan, namun diharapkan para putra-putra penerus bangsa jangan berhenti dan teruslah berlatih, karena kekalahan adalah pelajaran menuju keberhasilan.

Diakhir sambutannya, Danrem berpesan kepada seluruh warga masyarakat yang ada di Wilayah jajaran Korem 011/Lilawangsa, mari bersama-sama menggalakkan kebiasaan berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat, karena berolahraga secara rutin merupakan kunci hidup sehat dan didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa dan raga yang kuat menuju insan yang produktif, pesan Danrem Agus Firman Yusmono.(Laung)

Jakarta - Presiden Joko Widodo siang ini bersilaturahmi dengan para pengelola dan nasabah Bank Wakaf Mikro di Istana Negara, Jakarta. Selain bersilaturahmi, Presiden ingin mengetahui kendala dan jalannya Bank Wakaf Mikro di lapangan.

Bank Wakaf Mikro diluncurkan dengan semangat membangun jiwa wirausaha di lingkungan pondok pesantren. Sampai dengan saat ini, telah berdiri sebanyak 20 Bank Wakaf Mikro di sejumlah daerah. Jumlah tersebut diharapkan akan semakin meningkat di masa mendatang.

Sebelum berdialog dengan para pengelola dan nasabah, Presiden Joko Widodo sempat melihat-lihat sejumlah "kios dadakan" yang ada di pelataran Istana Negara. Sejumlah nasabah Bank Wakaf Mikro memang berkesempatan untuk menunjukkan jenis usaha yang mereka jalankan dengan modal yang didapat.

"Tadi di depan (pelataran Istana Negara) saya lama berbincang-bincang dengan nasabah Bank Wakaf Mikro yang memamerkan produknya," kata Presiden memulai sambutannya.

Ia menceritakan dialog antara dirinya dengan seorang nasabah Bank Wakaf Mikro yang berjualan gorengan. Dari dialog tersebut, diketahui bahwa sebelum memperoleh model usaha dari Bank Wakaf Mikro, sang nasabah hanya mampu menjajakan dua jenis makanan saja. Namun, setelahnya, ia mampu melakukan diversifikasi produk dengan menjajakan lebih banyak jenis makanan.

"Ini memang kita ingin mengembangkan ekonomi rakyat yang berada di lingkungan pondok pesantren. Tapi memang sekarang ini baru buka 20, ini akan tambah lagi 20. Rencananya setelah ini kita evaluasi sehingga kita bisa membuat perbaikan-perbaikan," Presiden menjelaskan.

Hal yang serupa dengan penjual gorengan juga ditemui Presiden saat menyambangi kios lainnya. Salah satu nasabah lain yang ditemui Presiden mengaku bahwa dengan modal usaha yang diperoleh dari Bank Wakaf Mikro, ia mampu membuka jenis usaha baru yang berbarengan dengan usaha yang telah ia jalankan sebelumnya.

"Ini, yang seperti ini yang kita inginkan. Jangan sampai sudah dapat pinjaman malah tidak dapat tambahan apa-apa. Harus semuanya dipakai untuk modal usaha," ucap Kepala Negara.

Untuk diketahui, mengutip siaran pers Otoritas Jasa Keuangan tanggal 14 Maret 2018, hingga awal Maret ini, 20 Bank Wakaf Mikro yang sudah dibentuk telah menyalurkan pembiayaan ke 2.784 nasabah. Kepada para nasabah itu, Bank Wakaf Mikro telah mengeluarkan pembiayaan sebesar Rp2,45 miliar.

Skema pembiayaan melalui Bank Wakaf Mikro adalah pembiayaan tanpa agunan dengan bagi hasil setara 3 persen. Selain itu, dalam skema pembiayaan Bank Wakaf Mikro juga disediakan pelatihan dan pendampingan serta pola pembiayaan yang dibuat per kelompok atau tanggung renteng.(Rill)

Banda Aceh - Masyarakat diminta menghindari berita bohong atau hoax dengan melakukan tabayyun; yaitu meneliti dan meyeleksi berita-berita yang beredar serta tidak tergesa-gesa dalam berkesimpulan hingga jelas permasalahannya.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, H. Mulyadi Nurdin Lc, MH saat mengisi pengajian rutin yang digelar Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh, Lingke, Banda Aceh, Rabu 28 Maret 2018, malam.

Dalam penjelasannya, Mulyadi Nurdin mengutip Al Quran Surat Al Hujurat ayat 6, yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Untuk itu, lanjut Mulyadi Nurdin, melakukan tabayyun (cek dan ricek) terhadap berbagai isu yang berkembang di era digital ini sangat penting agar tidak terjadi fitnah yang berujung pada rusaknya persaudaraan dan kehidupan sosial lainnya.

Lebih lanjut, Mulyadi Nurdin menjelaskan, berita hoax sebenarnya telah berkembang jauh pada zaman-zaman dahulu, termasuk ketika zaman Rasulullah saw.

“Bahkan istri Rasulullah saw, Siti Aisyah ra, pernah menjadi korban berita hoax yang sempat menghebohkan kaum muslimin ketika itu,” ujar Mulyadi Nurdin.

Mulyadi Nurdin lantas menjelaskan peristiwa munculnya berita hoax yang menimpa Siti Aisyah yang bahkan membuat Rasulullah tak berdaya melawan fitnah tersebut.

Saat itu Ummul Mukminin Aisyah Ra. diisukan telah berselingkuh dengan Shafwan ibn Muaththal. Di satu sisi Nabi sangat sayang pada Aisyah dan berpikir bahwa tak mungkin Siti Aisyah melakukan tindakan tercela tersebut. Tapi di sisi lain, Nabi juga tak berdaya menghadapi isu tersebut yang menyebar luas.

“Akibatnya sampai membuat sikap Nabi terhadap Aisyah berubah. Nabi bersikap dingin terhadap Aisyah,” ujar Mulyadi menceritakan kisah yang membuat Aisyah cukup bersedih.

Efek negatif berita hoax yang menimpa istri Rasulullah tersebut bahkan baru bisa teredam dengan turunnya wahyu dari Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al Quran Surat An Nur, ayat 11-20.

Untuk itu, Mulyadi Nurdin meminta semua pihak untuk membentengi diri dari pengaruh berita bohong dengan melakukan tabayyun terhadap isu-isu yang berkembang.(Rill)

StatusAceh.Net - Perempuan kelahiran Aceh ini sebuat saja namanya Ira tak henti-hentinya geleng-geleng kepala saat bercerita mengenai perilaku suaminya.

Ira menyebut maraknya prostitusi via online penyebab rumah tangganya berantakan.

Wanita berumur 32 tahun itu memang tak sudi nama lengkapnya, maupun nama suaminya, dipublikasi.

Tapi ia ingin masyarakat Aceh tahu betapa batinnya sebagai seorang istri remuk redam gara-gara suaminya terlibat prostitusi online selama sepuluh tahun.

Kepada Serambi Indonesia, Ira bercerita mengenai dampak prostitusi online yang baru-baru ini dibongkar jaringannya oleh Polresta Aceh.

“Prostitusi online itu sangat berbahaya. Jaringannya luas, mencakup seluruh provinsi di Indonesia. Mereka juga membentuk rayon-rayon, tak terkecuali di Aceh. Saya sama sekali tak menyangka suami saya yang berstatus PNS terlibat jaringan prostusi online ini. Gajinya banyak terkuras untuk itu,” kata Ira kepada Serambi di sebuah gedung berlantai dua di Jalan Teungku Imuem Luengbata, Banda Aceh, Rabu (28/3/2018) petang.

Ira ditemani ibu kandungnya saat datang ke gedung itu. Tapi ketika wawancara hendak dimulai, ibunya pamit dan menunggu di luar.

Di sebuah bilik kaca seukuran 3x4 meter tinggallah Serambi bersama Ira, didampingi seorang psikolog.

Dalam dua bulan terakhir, Ira sering konsultasi pada psikolog tersebut karena batinnya benar-benar terguncang.

Ira syok begitu tahu suaminya selingkuh bahkan sering ‘tidur’ dengan wanita penghibur yang diordernya melalui situs online.

Baik Ira maupun suaminya, sebut saja namanya Agam (37), sama-sama kelahiran Aceh.

Mereka bahkan berasal dari kabupaten yang sama di blahdeh Seulawah.

Menikah pada akhir tahun 2005 atas dasar saling mencintai dan mendapat restu dari orang tua masing-masing.

Tapi hanya sekitar tiga tahun Agam yang bergelar magister dan PNS di sebuah SKPA itu menyertai istrinya.

Setelah itu, tahun 2008 ia bukan lagi suami yang setia.

“Awalnya ia coba-coba ikut jaringan prostitusi online. Teman sekantornya yang mengajak. Temannya itu pun sudah menikah, tapi masih doyan ‘jajan’. Alhasil, suami saya kecanduan. Ia jajan mulai dari Jakarta, Bandung, Solo, Medan, hingga Banda Aceh. Taksiran saya tidak kurang 50 wanita panggilan via online yang sudah ditidurinya selama sepuluh tahun,” kata Ira.

Permainan kotor suaminya itu terungkap saat Ira memergoki sebuah chattingan suaminya dengan seorang wanita di handphone sang suami.

Karena nadanya vulgar, Ira menginterogasi suaminya.

Lantaran terus didesak, alhasil Agam mengaku bahwa ia memang pernah tidur dengan perempuan tersebut.

“Saya shock mendengar pengakuan itu,” kata Ira.

Suaminya berdalih bahwa ia ‘jajan’ karena sedang bersyahwat dalam perjalanan dinas ke luar Aceh, sedangkan istrinya berada di kota lain.

Ira yang tak bisa menerima pengkhianatan suaminya itu akhirnya memilih pisah rumah.

Tapi itu tak lama. Bidan negeri ini akhirnya memilih berdamai dengan keadaan, semata-mata demi anak mereka.

Pasangan ini dikaruniai dua anak. Yang sulung laki-laki berumur 11 tahun, adiknya perempuan, 8 tahun.

Nah, si sulung itu mengancam akan bunuh diri jika ibunya tak kembali ke rumah, Hati Ira pun luluh.

Ia mengira suaminya berubah. Pergi ke mana-mana tak perlu lagi terlalu ia curigai.

Tapi pada Mei 2017, Ira mendapati fakta yang mengejutkan saat membuka hp maupun laptop suaminya.
Di hp ada nomor yang ia blokir. Lalu nomor itu disalin Ira ke hp-nya.

Diam-diam dihubungi dan diselidiki Ira. Ternyata nomor itu milik seorang pria germo.

Selain itu, laptop suaminya yang diperiksa Ira menunjukkan bahwa situs prostitusi di jaringan internet laptop itu pernah diakses sang suami.

Situs tersebut bernama “Semprot Underground”.

Sekilas itu situs biasa.

Tapi begitu diklik pada menu lain-lain, langsung ketahuan bahwa situs itu adalah situs prostitusi online.

“Banyak wanita seksi yang ditawarkan di situ. Lengkap dengan nama panggilan, domisili, umur, tinggi dan berat badan, bahkan nomor behanya,” kata Ira.

Saat dikonfirmasi untuk kedua kalinya, Agam kembali mengaku kepada sang istri bahwa dia tak bisa meninggalkan kebiasaan lamanya itu.

Bahkan ia berterus terang pernah tidur lagi dengan wanita Tionghoa, Jawa, Ambon, dan lain-lain.

Karena sangat terpukul, Ira kembali meninggalkan rumah.

Tapi tak lama berselang ia terpaksa kembali ke rumah karena didesak anak sulungnya, lagi-lagi dengan ancaman bunuh diri jika Ira tak pulang.

Ira juga tak sampai hati menggugat cerai suaminya karena khawatir masa depan anaknya jika tanpa sosok ayah dan si suami bisa dapat sanksi berat di kantor jika dibeberkan Ira kelakuannya.

Sambil berdamai dengan keadaan, Ira akhirnya mempelajari lebih jauh bagaimana jaringan Semprot Underground itu beraksi.

Dari hasil penelusuran tahulah Ira bahwa situs tersebut dioperasikan oleh seorang germo perempuan kelas kakap di Jakarta.

Jaringannya luas ke seluruh Indonesia.

Member asal Aceh yang tergabung dalam jaringan itu beberapa kali pernah mengorder wanita penghibur dari kawasan Jabodetabek untuk didatangkan ke Aceh.

Setelah melayani para pemesan di beberapa hotel Banda Aceh, wanita itu pun kembali ke Jakarta.

Di Aceh, member dari Semprot Underground, kata Ira, bermukim di Banda Aceh, Bireuen, Lhokseumawe, hingga Langsa.

Mereka sering menginformasikan di akun tersebut alamat salon-salon di Banda Aceh yang aman dijadikan tempat ngumpul.

“Tapi saya belum temukan adanya hubungan mereka dengan kelompok prostitusi online yang baru-baru ini terungkap di sebuah hotel di Aceh Besar,” kata Ira.

Lima semprot
Dari penelusurannya lebih lanjut ke situs tersebut, kata Ira, tahulah dia bahwa komunitas Semprot Underground memiliki beberapa sandi bagi user pemula hingga senior.

Sandi tersebut adalah ‘semprot awal’,‘adik semprot’, ‘semprot sejati’ ‘guru semprot’, dan ‘dewa semprot’.

Di situs itu juga ada informasi tentang tarif per transaksi.

Rp 2 juta untuk wanita berumur hingga 25 tahun, Rp 600.000 untuk yang berusia 30-an, dan Rp 400.000 untuk yang berusia di atas 40 tahun.

Tarif perawan juga ada.

Kalau gadisnya cantik dibanderol 20-30 juta rupiah, tapi jika kurang menawan tarifnya hanya 10-15 juta.

Ira yakin, selain berhubungan dengan wanita-wanita lacur, suaminya pun pernah menggarap perawan yang diorder secara online.

“Uang di rekening suami saya pernah berkurang banyak. Saya curiga itu ia gunakan membayar perawan,” kata Ira.

Terlepas dari kemarahannya kepada sang suami, kini Ira merasa ada perubahan positif pada diri lelaki itu.

“Dia sudah shalat lima waktu sehari semalam. Tampak lebih sayang kepada anak-anak. Dan asal dia tugas ke luar kota sekarang dia wajibkan saya ikut mendampingi. Dulu justru dia lebih senang kalau saya tidak ikut,” ungkap Ira. (yarmen dinamika)

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Ira: Gara-gara Online,Suamiku Tiduri 50 Wanita,

Banda Aceh - Kementerian Kesejahteraan Mahasiswa (KESMA) Badan Eksekutif Mahasiswa Unsyiah melaksanakan acara Sosialisasi Pelayanan Internal Kampus Rabu, 28 Maret 2018 kemarin, yang bertempat di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Acara yang dihadiri oleh 150 orang peserta ini mengangkat tema “Pentingnya Kesehatan Untuk Generasi Berprestasi”. 

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan kata sambutan dari Rinaldi Romar selaku ketua pelaksana dan pembukaan acara dibuka oleh Drs. Muhammad Nasir Ibrahim selaku Kepala Biro Kemahasiswaan.“Sosialisasi ini sangat bagus untuk mahasiswa Unsyiah, karena jika ada keluhan atau ketidak puasan mahasiswa kita dapat mengetahui melalui SPIK ini dan prosedur apa saja yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa jika terjadi kecelakaan” ujar Drs. Muhammad Nasir Ibrahim

Acara ini terdiri dari dua sesi, yaitu sesi formal dan sesi talk show. Dimana pada sesi talk show diisi oleh bapak Dr. Dian Adi Syahputra, SpBA selaku Direktur Rumah Sakit Prince Nayef yang memaparkan tentang perkembangan pelayanan Rumah Sakit untuk Mahasiswa Unsyiah. Beliau menjelaskan bahwa RS Prince Nayef Unsyiah adalah rumah sakit milik Unsyiah sebagai pusat layanan kesehatan mahasiswa Unsyiah selama mereka menyelesaikan studinya diperguruan tinggi negeri dan menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah disepakati. Bukan hanya di RSPN tetapi disemua rumah sakit kita harus pahami prosedurnya” ucapnya.

Pemateri kedua dihadiri oleh bapak Hamdani, AKS selaku Kepala Asuransi Bumiputera Muda yang memaparkan tentang asuransi kecelakaan untuk mahasiswa Unsyiah. 

Beliau menjelaskan “Asuransi Kecelakaan Diri Syariah MAHASISWA adalah asuransi yang ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada Mahasiswa, khususnya dari risiko-risiko kecelakaan diri dan meninggal dunia biasa dengan kontribusi asuransi yang sangat terjangkau”. 

Pada kesempatan kali ini  SPIK juga menghadirkan Rival Perwira selaku Ketua Bidang Kesejahteraan Mahasiswa Unsyiah untuk menuntaskan masalah-masalah atau keluhan mahasiswa kepada RS Prince Nayef dan Asuransi Kecelakaan untuk mahasiswa Unsyiah, dimana "KESMA sendiri merupakan garda terdepan dalam memecahkan masalah yang terjadi pada mahasiswa" pungkasnya.(Rill)

StatusAceh.net - Samsul Bahri, warga Gampong Matangkeh Kecamatan Pirak Timu ditemukan tewas meregang nyawa di kebun milik seorang warga Gampong Leupe, kecamatan yang sama.

Pemuda berusia 25 tahun ini ditemukan tewas oleh pemilik kebun, Tarmizi (38) di kebunnya sekitar pukul 19:30 WIB, Rabu (28/3/2018) kemarin.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Matangkuli IPTU Sudia Karya mengatakan korban diduga tersengat kawat listrik pengaman kebun.

“Berdasarkan laporan yang kita terima, korban tersengat arus listrik di kebun milik Tarmizi. Korban diduga tersengat melalui kawat yang dihantarkan arus listrik. Biasanya kawat ini digunakan petani untuk mengamankan kebun dari serangan hama babi dan sejenisnya,” tutur Kapolsek Matangkuli.

Dijelaskan, pada waktu yang telah disebutkan di atas, Tarmizi kaget mendapati korban tergeletak di kebun  miliknya. Ia lalu memanggil serta 3 orang rekannya, Umar, Mansur dan M. Adi ke lokasi kejadian.

Dibantu ketiga rekannya, Tarmizi kemudian mengangkat mayat Samsul Bahri ke pondok di kebun tersebut sebelum digotong ke rumahnya.

“Setelah tiba di rumahnya, Tarmizi lalu melaporkan peristiwa ini ke Kapospol Pirak Timu” ujar Kapolsek.

Mendapati laporan temuan mayat, Polres Aceh Utara yang dipimpin kasat Reskrim IPTU Rizky Kholidiansyah didampingi kasat intelkam mendatangi TKP.

Tim INAFIS Polres Aceh Utara sudah memasang garis polisi di lokasi temuan mayat serta melakukan visum terhadap jenazah korban.

“Korban telah dibawa pulang ke rumah orang tuanya di desa Matangkeh. Saat ini, penyidik Polres Aceh Utara sedang memintai keterangan saksi dan mengumpulkan bukti-bukti serta memeriksa secara intensif pemilik kebun untuk melengkapi administrasi penyidikan” kata Iptu Sudia karya.| AO

Banda Aceh – Perbaikan sektor ekonomi dan demokrasi, pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur adalah bukti keberhasilan perdamaian Aceh, yang telah berjalan 13 tahun. Namun untuk merawat perdamaian, masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Salah satunnya adalah pengungkapan kebenaran atas kasus–kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Mulyadi Nurdin, pada acara silaturrahmi dengan peserta Diskusi Dua Dekade Keadilan Transisional di Asia, di Meuligoe Gubernur Aceh, Selasa (27/3/2018) malam.

“Tahun ini masa perdamaian Aceh akan memasuki tahun ke 13. Tak bisa dipungkiri sudah banyak kemajuan yang telah kita capai. Namun, kita jangan langsung berpuas diri karena masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dituntaskan untuk merawat perdamaian ini. Salah satunnya adalah pengungkapan kebenaran atas kasus pelanggaran HAM masa lalu,” ujar Gubernur.

Gubernur menambahkan, dalam sebuah proses transisi keadilan, pengungkapan kebenaran ini adalah sebuah hal yang mutlak karena sejarah akan terus berjalan berdasarkan logika waktu dan alamiah. Dalam perjalanan sejarah itu, ada potensi untuk terjadinya pengulangan atas peristiwa yang terjadi di masa lalu kalau masalah tersebut tidak dituntaskan dengan seadil-adilnya.

“Oleh sebab itu membongkar masa lalu merupakan sebuah keniscayaan untuk menjaga dan merawat masa depan yang lebih baik. Dengan memahami masa lalu, kita semakin berhati-hati melangkah ke depan demi menjaga agar sejarah buruk itu tidak terulang kembali,” sambung Irwandi.

Meski demikian, dalam konteks pengungkapan kasus pelanggaran masa lalu, Aceh masih harus banyak belajar dari beberapa negara lain dan dari para akademisi yang berpengalaman dalam kerja-kerja demokrasi di berbagai negara.

“Benar bahwa di Aceh telah hadir Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang bertugas mengungkap kebenaran di masa lalu. Meski demikian KKR Aceh sama sekali belum berpengalaman dalam melakukan tugas-tugas ini,” imbuh Gubernur.

Di samping itu, sambung Gubernur, berbagai tantangan lain juga banyak dihadapi para petugas KKR Aceh, antara lain, daya ingat masyarakat yang lemah, pengungkapan bukti, dan proses klarifikasi fakta.

“Namun semua itu tidak boleh membuat KKR Aceh menyerah. Lembaga ini harus terus bekerja secara maksimal, sehingga tugas dan tanggungjawabnya dapat dijalankan dengan baik, sehingga hasilnya mampu memberikan rasa keadilan kepada masyarakat.”

Gubernur menyadari, bahwa tugas dan tanggungjawab Komisioner KKR Aceh sangat berat, sebab isu yang ditanganinya merupakan isu yang sangat sensitif di masyarakat. Apalagi kasus-kasus pelanggaran HAM ini sangat erat kaitannya dengan hukum dan keadilan.

Oleh sebab itu, Gubernur mengajak semua pihak untuk terus memberikan dukungan kepada KKR Aceh agar lembaga ini dapat bekerja dengan baik. Selain itu, partisipasi para pegiat demokrasi Aceh dan dukungan dari seluruh pegiat demokrasi dan HAM terhadap KKR Aceh tentu akan disambut dengan tangan terbuka.

“Kita juga cukup bangga, sebab banyak negara lain yang menjadikan Aceh sebagai model perdamaian yang layak mereka adopsi. Mereka telah berkunjung ke Aceh dan mempelajari setiap tahap perdamaian yang berlangsung di daerah ini,” tambah Gubernur.

Sebagaimana diketahui, banyak negara-negara yang saat ini sedang berkonflik datang dan belajar konsep perdamaian Aceh. selain itu, Banyak pula peneliti asing yang menjadikan Aceh sebagai laboratorium untuk mempel ajari cara-cara penyelesaian konflik yang damai.

“Semoga berbagai kegiatan ilmiah, dan pertukaran pengalaman yang telah berlangsung selama ini dapat mendorong semangat KKR Aceh, sehingga upaya pengungkapan kebenaran sebagai bagian dari sistem Keadilan Transisi dapat berjalan baik, sehingga perdamaian Aceh dapat kita andalkan sebagai model bagi perdamaian dunia,” pungkas Gubernur Aceh.

Untuk diketahui bersama, puluhan praktisi, akademisi dan para komisioner Komisi Keadilan Transisi atau Komisi Kebenaran di tingkat regional yang terdiri atas Filipina, Thailand, Sri Lanka, Nepal, Kamboja, Bangladesh, Myanmar, Timor Leste dan Indonesia yang tergabung dalam Transitional Justice Asia Network  berkumpul di Aceh untuk berbagi pengalaman.

Dalam pertemuan silaturrahmi ini, para peserta juga menggelar diskusi dengan juru runding Gerakan Aceh Merdeka, Bahtiar Abdullah dan Munawar Liza Zainal. Kegiatan ini diprakarsai oleh Asia Justice and Rights (AJAR), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh dan LBH Banda Aceh. (Rill)


MEDAN- Sebanyak dua orang warga asal Aceh dan satu warga Medan berhasil diamankan oleh Personel Lalu Lintas Polsek Kualuh Hulu, Polres Labuhanbatu, Rabu (28/3/2018) .

Dari ketiganya Polisi Lalulintas berhasil menyita  13 kilogram sabu dan 20.000 butir ekstasi.

Tiga orang berhasil ditangkap yang dua di antaranya adalah warga Aceh masing-masing MA (40) selaku sopir warga Gampong Kubu, Kecamatan Pusangan Siblah Krueng, Bireuen; dan H (34) warga Dusun Ujong Belang, Gampong Alue Bulu Dua, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur. Satu lainnya adalah  M (39) warga Jalan Pancing Gang Melunjo, Medan.

Ketiganya diamankan sekira pukul 03.45 di Jalinsum Pos Lantas Terpadu Desa Siamporik, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labura, Sumatera Utara.
Informasi yang dihimpun, ketiga kurir ini sedang melaju mengendarai Minibus Daihatsu Senia. Mereka rencananya hendak ke Pekan Baru.

Saat akan melintas di Jalinsum Pos Lantas Terpadu Desa Siamporik, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labura, petugas yang sedang melakukan razia, menghentikan laju kendaran mereka.

Saat petugas meminta sang sopir menunjukkan surat-surat kendaran, pelaku menunjukkan gelagat yang mencurigakan.

Polisi lalu meminta ketiganya keluar dari mobil. Sang supir juga diminta untuk membuka pintu belakang mobil.

Benar saja, petugas mendapatkan tas jinjing yang saat dibuka berisi barang haram tersebut.

Ditemukan 17 bungkus terdiri dari 4 bungkus diduga pil ekstasi berisikan total sebanyak 20.000 butir, dan 13 bungkus diduga narkoba jenis sabu.

Untuk proses lanjutan serta pengembangan ketiganya beserta barang bukti diamankan oleh pihak kepolisian setempat.(Red/BT)


LHOKSEUMAWE - Sebagian besar warga Kota Lhokseumawe yang tinggal dikawasan yang berstatus endemis yang menuai wabah Demam Berdarah di Kecamatan Banda Sakti mengeluhkan keberadaan dua wanita berseragam medis bergentayangan disetiap rumah dan  memaksa warga membeli 3 bungkus abate seharga Rp10 ribu. 

Dua wanita berpakaian serba putih yang berprilaku seperti petugas dari Puskesmas  itu bergentayangan di salah satu daerah kawasan endemis di Desa Teumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Keduanya mendatangi setiap rumah warga untuk menjajakan barang dagangannya berupa obat abate untuk anti nyamuk. 

Salah seorang ibu rumah tangga Jalan Angsana Desa Teumpok Teungoh Zahra mengatakan sekira pukul 08. 30 wib, dua wanita tersebut mendatangi kediamannya dan menjajakan 3 bungkus abate yang harus dibayar senilai Rp10 ribu. 

Salah satu wanita tampak sebagai pembawa barang dan satu wanita lagi membawa buku catatan yang akan menulis nama dan alamat warga yang telah membeli 3 bungkus abate yang  dikemas rapi dalam ukuran kecil. 

Keduanya tampil dalam kondisi seakan-akan sedang terburu-buru membagikan obat abate 2018 yang wajib dibeli oleh setiap rumah warga. Sehingga warga yang merasa tertekan dan takut bermasalah terpaksa membelinya.


Akan tetapi, Zahra mengaku, ironisnya bila ada warga yang menolak membeli obat abate maka kedua wanita itu justru menjadi arogan dan menyesali sikap warga yang dianggap pelit serta tidak suka hidup sehat. 

“ Ada tetangga saya yang mengaku tidak punya uang  untuk membeli obat abate. Tapi kedua wanita itu tetap memaksa dan menyarankan agar meminjam uang pada tetangga untuk bisa membeli obat abate.  Warga dipaksakan harus membeli dan mereka akan marah kalau kita tidak membelinya,” terangnya. 

Sementara itu, Kadis Kesehatan Kota Lhokseumawe Said Alam dan Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe dr Herliza gagal dikonfirmasi Waspada setelah mendatangi Kantor Dinas Kesehatan di Jalan Samudera Kecamatan Banda Sakti ternyata tidak berada ditempat serta tidak mengangkat layanan telepon selulernya. (red/Za)

StatusAceh.Net - Dalam dua pekan terakhir masyarakat Aceh diramaikan oleh informasi kepemilikan Surat Pernyataan Utang/Pinjaman oleh Negara atau Obligasi dari seorang warga Lamno, Aceh Jaya yang bernama Nyak Sandang. Obligasi yang memiliki nilai nominal 100 rupiah tersebut disebut-sebut merupakan pinjaman Pemerintah Pusat untuk membiayai pembelian Pesawat RI 001.

Informasi tersebut awalnya viral di media sosial, hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa Nyak Sandang selama ini menjalani kehidupan yang sangat memperihatinkan. Publik menilai hal tersebut adalah fakta yang ironis. Bagaimana mungkin seorang yang sangat berjasa bagi negara, kehidupannya sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Belakangan Nyak Sandang di undang oleh Presiden Jokowi ke Istana Negara. Beliau dijanjikan dapat naik haji pada tahun ini juga. Sebelum berhaji beliau ditawarkan untuk umrah terlebih dahulu. Bahkan saat beliau sakit, Presiden Jokowi meminta tim dokter kepresidenan dan para dokter spesialis di RSPAD Gatot Subroto untuk memberi perawatan terbaik.

Itikad baik dari Bapak Presiden Jokowi tersebut patut kita apresiasi. Pak Jokowi telah menunjukkan sikap bahwa negara hadir untuk menghargai sumbangsih Nyak Sandang kepada Republik ini. 

Namun dalam beberapa hari ini, banyak warga lainnya yang turut mengaku dan menunjukkan bukti kepemilikan dokumen yang sama dengan Nyak Sandang. Malah nilai nominal dari sejumlah obligasi yang mereka tunjukkan jauh lebih besar dibandingkan milik Nyak Sandang. Ada yang 1.500 rupiah, 4.500 rupiah, bahkan ada yang 8.600 rupiah.

Untuk itu kami berharap agar Pemerintah dapat berlaku adil kepada semua pemilik obligasi tersebut. Semuanya harus mendapat perhatian yang sama. Tak boleh terhenti hanya pada Nyak Sandang seorang. Kalau itu yang terjadi, kita khawatir akan memantik kecemburuan dan rasa ketidak adilan bagi pemegang obligasi lainnya. Jangan sampai kasus ini berujung dengan gugatan kepada pemerintah.

Bila perlu, Pemerintah Aceh berinisiatif membuka saluran pengaduan dan melakukan upaya pendataan. Agar para pemilik obligasi dapat dikelola secara terorganisir. Dokumen-dokumen tersebut nantinya dapat diidentifikasi dan di verifikasi kepemilikan serta keasliannya. Agar tidak ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi dengan memalsukannya.

Kemudian Pemerintah Aceh dapat meneruskan aspirasi para pemilik obligasi kepada Pemerintah Pusat. Kompensasi seperti apa yang diinginkan oleh pemilik obligasi. Tentu dapat dirumuskan bersama. Kemudian baru di negosiasikan dengan Pemerintah Pusat.

Terkait informasi bahwa penerbitan obligasi tersebut untuk membiayai pembelian pesawat RI 001, kami menilai sejauh ini belum dapat terkonfirmasi kebenarannya. Sejarah mencatat, Soekarno datang ke Aceh dan meminta kepada Tgk. Daud Beureueh agar masyarakat Aceh membeli sebuah Pesawat untuk Republik pada Juni 1948.

Pembelian pesawat itu sendiri dilakukan pada Oktober 1948. Bahkan pada November 1948, Wakil Presiden Moh. Hatta telah berkunjung ke Kutaraja dengan menggunakan pesawat jenis DC 3 Dakota tersebut. Sementara dokumen obligasi yang di pegang para ahli waris saat ini, umumnya tercatat diterbitkan pada tahun 1950.

Namun bukan berarti surat pinjaman tersebut bukan dokumen asli yang dikeluarkan oleh negara. Bisa saja surat obligasi tersebut baru diserahkan 2 tahun kemudian setelah dananya dikumpulkan pada tahun 1948. Kemungkinan lainnya, masyarakat saat itu memang membeli obligasi tersebut dari pemerintah. Namun dalam pemahaman awam, itu adalah bentuk sumbangan untuk negara. Mengingat pada awal-awal kemerdekaan Pemerintah Soekarno sangat gencar menerbitkan surat utang untuk membiayai jalannya pemerintahan dan pembangunan.

Terlepas dari semua hal diatas, kami mendorong Pemerintah agar merespon dengan cepat terkait hak-hak para pemilik obligasi tersebut. Adalah kewajiban negara untuk melunasi hutang pemerintah kepada warganya yang telah berjalan hampir 70 tahun. Pemerintah harus membuka mata, ternyata ada banyak Nyak Sandang - Nyak Sandang lainnya yang sedang menanti perhatian yang sama.(Rill)

StatusAceh.Net - Aparat pemerintah daerah Aceh terus gencar memberantas aksi prostitusi. Namun, prostitusi di Aceh ibarat jamur yang akan terus tumbuh meski berkali-kali dipangkas. Prostitusi berkembang seiring dengan zaman yang terus berubah.

Sistem prostitusi sekarang mulai berkembang. Tak hanya berkumpul di suatu tempat atau mangkal namun mulai merambah dunia online yang bisa diakses dengan canggihnya perkembangan teknologi.

Terbongkarnya jaringan prostitusi online di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar beberapa waktu lalu  menjadi salah satu buktinya. Meski marak di online, tak lantas menghilangkan praktik esek-esek itu hilang di Provinsi paling ujung Sumatera ini. Bahkan, masih ada yang yang terang-terangan menawarkan jasa pada pria hidung belang.

Baca Selanjutnya

,
Aceh Besar – Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Pasheu Beutong Koramil 11/ Darul Imarah Serda Ritno memberikan pengarahan kepada adek-adek pramuka dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 dan 3 Kota Banda Aceh, berlokasi di Desa Pasheu Beutong, Darul Imarah, Aceh Besar, Minggu (25/03/18).

Dihadapan adek-adek pramuka itu, Serda Ritno mengatakan, dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan, hendaknya adek-adek dapat menjadikan dirinya sebagai seorang anggota pramuka baik dan juga sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki disiplin yang tinggi, jiwa korsa serta tidak terpengaruh dari Narkoba.

“Mari kita ciptakan bahwa anggota pramuka sebagai generasi penerus bangsa yang memiliki disiplin yang tinggi, jiwa korsa dan bebas dari Narkoba,” kata Serda Ritno.

Dikatakan, hal itu dapat dilakukan dengan adanya kesadaran dan semangat di dalam diri masing-masing, untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki disiplin, jiwa korsa dan bebas dari Narkoba.

“Pentingnya kesadaran untuk ciptakan generasi penerus bangsa yang disiplin, berjiwa korsa dan bebas dari Narkoba, sehingga dimasa mendatang dapat melahirkan calon pemimpin bangsa yang baik,” imbuh Serda Ritno.

Sementara itu, Mulhadi HS, S.Pd selaku pembina Pramuka di SMK Negeri 2 Banda Aceh mengungkapkan, bahwa dirinya sangat senang dengan hadirnya Babinsa untuk memberikan semangat dan motivasi bagi adek-adek pramuka.

“Kami sangat senang dengan hadirnya Babinsa, yang dapat memberikan semangat dan motivasi bagi adek-adek pramuka disini,” tutur Mulhadi HS, S.Pd.(Rill)

,
Aceh Besar – Pelaksanaan kegiatan Pra TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler Ke 101 di wilayah Kodim 0101/BS hingga saat ini masih berlangsung, kali ini anggota Satuan Penugasan (Satgas) bersama warga melaksanakan gotong royong merapikan tanah dan membersihkan bagian kanan kiri jalan, berlokasi di Desa Aneuk Glee, Indrapuri, Aceh Besar, Senin (26/03/18).

Komandan Koramil 17/Jantho Kapten Inf Juari, S.Sos selaku Koordinator pembukaan jalan mengatakan, bahwa anggota Satgas bersama warga Desa Aneuk Glee beramai ramai merapikan tanah yang berada dipinggiran jalan, supaya saat Alat Berat (Alber) jenis Buldozer bekerja tidak merusak bagian pagar kebun millik warga.

“Melihat tanah bekas dorongan dari Buldozer yang ada pinggir jalan sulit terjangkau, maka kami bersama warga berupaya menarik tanah tersebut ke tengah jalan, supaya mudah untuk diratakan kembali Buldozer,” kata Kapten Inf Juari.

Lebih lanjut Kapten Inf Juari, S.Sos mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk melaksanakan gotong royong ini, sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan lancar.

“Berkat semangat dari para warga, sehingga pekerjaan ini dapat berjalan dengan lancar, diharapkan pekerjaan pembukaan jalan bisa tepat pada waktunya,” imbuh Kapten Inf Juari.(Rill)


TANAH DATAR- Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui intruksi Seketaris Daerah, Hardiman, menindak lanjuti permintaan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanah Datar.

Terkait resahnya beberapa warga Jorong Nan IV, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Ameh, yang diduga sudang mengangkangi Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tanah Datar Nomor 1 Tahun 2016. Tentang Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi.

Base Transceiver Station atau disingkat BTS adalah sebuah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator.

Akhirnya awak media ini mendapat informasi, bahwa adanya pertemuan pembahasan Menara Tower BTS tersebut yang bertempat di Aula Setda Kantor Bupati Tanah Datar Jumat (23/3) sekira pukul 14.00 WIB.

Pada saat itu, media ini mencoba lakukan liputan langsung ke ruangan rapat tersebut. Namun, tak disangka ketika awak media ini masuk, disambangi oleh salah seorang oknum pegawai berinisial “MD” yang berada di dalam ruangan rapat. Sembari merangkul, dia (Oknum PNS) mengarah wartawan KaDe bernama Elvis (37) untuk keluar dari ruangan itu.

“Siapa kau, undangan rapat kau mana? Di sini lagi rapat, kau mengganggu saja!” Kata oknum tersebut saat mendorong lalu menutup pintu ruangan.

Tak hanya itu, awak media juga mendapat tekanan, karena disuruh pergi, padahal kala itu wartawan sedang bertugas.

 “Kalau kamu tidak pergi, awas ya!!” hardiknya sembari berkata kotor.

Ketika media meminta surat atau bukti tertulis yang menyatakan rapat tersebut merupakan rapat tertutup, namun sikap Oknum ASN ini tetap menjawab dengan arogan.

“Aku gak mau tahu, kalau kau tidak senang, silahkan laporkan kemana saja kau mau. Kutunggu!!”, tantang oknum itu membalas sambil meludah ke arah wartawan dan pintu ruangan itupun tertutup sudah.

Elvis yang merasa tidak senang dengan perlakuan salah satu oknum ASN di Kabupaten Tanah Datar ini, langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tanah Datar dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor :STPL/53/III/2018/SPKT,” terang elvis kepada kabardaerah.com. Minggu (26/3).

Saat dikonfirmasi kepada Sespri Setda Tanah Datar yang bertugas saat itu mengatakan, bahwa tidak ada perintah terhadapnya bahwa rapat tersebut adalah rapat tertutup. (Red/Rls)

Ketum PPWI Wilson Lalengke S.Pd. M.Sc. MA
StatusAceh.Net— Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA angkat bicara terkait masalah dugaan sikap arogan dan pelecehan terhadap wartawan yang dilakukan oleh oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial “MD” yang bertugas di Instansi Penanaman Modal Pelayanan Satu Pintu dan Tenaga Kerja (PMPTSP-Naker) Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat baru-baru ini.
Ketua Umum PPWI amat menyesalkan dan prihatin atas fenomena masih banyaknya oknum pegawai pemerintah, yang pakaian seragam dan kehidupan anak-istrinya dibiayai oleh rakyat, bersikap dan perpola-laku arogan.

"Sangat tidak pantas bagi orang yang isi perutnya dibiayai masyarakat berlaku tidak sopan, bahkan melecehkan warga yang membiayai hidupnya,” katanya.

Ditegaskan, terhadap oknum PNS pelaku pelecehan terhadap wartawan dan masyarakat agar diberi pembinaan oleh atasannya. "Pimpinan yang bersangkutan harus memberikan teguran, pembinaan mental dan etika, serta penegakkan disiplin pegawai negeri sipil yang notabene adalah pelayan masyarakat,” tegasnya.

Diharapkan kepada polisi, lanjut Wilson, yang menerima pengaduan wartawan atas perbuatan tidak menyenangkan dari oknum PNS tersebut untuk memproses kasusnya.

"Saya mendesak agar polisi bekerja secara profesional menangani masalah ini," harapnya.

Wilson yang juga alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 juga menyampaikan kepada aparat keamanan, terutama aparat Kepolisian, agar senantiasa memberi bantuan perlindungan kepada para wartawan dalam melaksanakan tugas peliputan atau investigasi.

“Jika ada laporan dari rekan wartawan atas perilaku menyimpang dari oknum warga maupun oknum PNS di lokasi peliputan, semestinya segera ditindaklanjuti. Bantu semua pihak mencari solusi damai dengan cara memediasi kedua belah pihak,” sebutnya.

Ditambahkan, jika tidak dapat dicapai kesepakatan damai antara mereka, lakukan tindakan penegakan hukum bagi semua pihak yang dinilai melakukan pelanggaran hukum, harus diproses lebih lanjut ke penegakkan hukum sesuai aturan hukum yang berlaku.

"Upayakan memediasi para pihak yang berperkara, jika tidak dicapai kata damai, harus diproses sesuai aturan hukum yang berlaku," ucap Ketua Umum PPWI kepada media ini melalui pesan WhatsApp-nya, Minggu malam (25/03/2018) saat dimintai tanggapannya atas persoalan sikap arogansi dan pelecehan yang terjadi terhadap Wartawan di Ranah Minang baru-baru ini. (Red/Rls)

 Senator Fachrul Razi Anggota DPD RI Asal Aceh
Jakarta - Potensi Indonesia bubar tahun 2030 sebagai pernyataan Prabowo harus menjadi keseriusan elit politik di pemerintahan dan parlemen hari ini karena tidak ada yang tidak mungkin dalam konstelasi politik Internasional hari ini. Ujar Senator Fachrul Razi, Anggota DPD RI Asal Aceh pada (24/3). 

Fachrul Razi,  via whatsapp mengatakan negara kita harus di selamatkan atau akan menjadi wujud nyata kehancuran negara. apalagi kedaulatan kita semakin melemah dimata internasional disisi lain nilai rupiah semakin melemah. 

Elit harus bersatu menyelesaikan masalah ini secara serius. Optimis penting, tapi bukan optimis yang dibungkus oleh kepentingan asing yang pada akhirnya memghamcurkan bangsa kita sendiri. Apalagi perkembangan teknologi mengakibatkan era digital menjadi alat baru untuk menghancurkan sebuah bangsa.

Terakhir ditambahkan Fachrul Razi, ada  9 indikator kehancuran Indonesia menurut Senator DPD RI Asal Aceh. Dalam hal tersebut diantaranya;

1. Melemahnya konsolidasi elit dan disisi lain juga menunjukkan konsolidasi demokrasi semakin melemah dan ini ancaman demokrasi Indonesia. Masyakarat Indonesia semakin pecah bahkan DPD RI sebagai representatif daerah semakin melemah wewenangnya. perlu dicatat bahwa melemahnya DPD RI maka akan mengakibatkan melemahnya NKRI. Muncul banyak kelompok dan kepercayaan sosial baik horizontal maupun vertikal semakin melemah.

2. Tekanan Internasional untuk Indonesia semakin kuat baik secara ekonomi maupun hukum. Lihat saja kasus penguasaan freeport di Papua dan sumber daya alam lainnya. Bahkan masalah Aceh juga belum selesai. Serta disisi lain perubahan sistem hukum Indonesia yg dipengaruhi kepentingan asing semakin masif dan sistematis. Bahkan RPJP Indonesia bernuansa kepentingan asing. 

3. Kekuatan koorporasi politik yang mempengaruhi kebijakan politik indonesia semakin kuat. negara kita diatur oleh uang para pemilik modal. 

4. hutang luar negeri Indonesia yang mencapai lebih dari 4000 Triliun. ini menunjukkan Indonesia darurat hutang.

5.  Narkoba dan komunisme baru menjadi musuh dan ancaman indonesia dan ini sudah merusak generasi muda. Secara ekonomi, lemahnya kekuatan ekonomi generasi muda sekarang di daerah. Pengangguran tinggi dan nilai kompetisi yang tinggi. 

6. Sipil society dan elemen mahasiswa semakin di lemahkan oleh rezim saat ini. perpecahan dimana mana. semua dilakukan dengan design yang sistematis. Saya meminta mahasiswa dan pemuda bangkit dan bergerak. Bahkan rahasia negara bisa di bobol oleh kecanggihan teknologi yang dikuasai oleh asing. 

7. Kelompok Islam dan tokoh beragama semakin terancam baik secara keamanan maupun kebebasan dalam menegakkan nilai nilai agama secara kaffah sebagaimana dilindungi oleh Pancasila.

8. Kelembagaan politik juga semakin melemah dan menunjukkan neo patriarki partai yang menguasai perpolitikan Indonesia. diperparah dengan neo dinasti politik era modern dan penguasaan media oleh beberapa kelompok.

9. Terakhir adalah  korupsi di Indonesia semakin kuat dan penegakan hukum semakin lemah. sementara permasalahan di daerah banyak yang tidak selesai. lemah nya komitmen pusat dalam menjaga perdamaian dan perhatian terhadap daerah khususnya di daerah pasca konflik. sehingga munculnya kekecewaan baru oleh masyarakat di daerah terhadap pemerintah pusat.

Sembilan indikator ini menurut Fachrul Razi adalah tantangan Indonesia menuju 2045. Tahun 2030 menurutnya adalah puncak kehancuran yang akan terus berlanjut sampai 2045. 

“Percayalah, sebenarnya Indonesia tidak akan hancur sampai kapanpun kecuali dihancurkan oleh elit-elit politik itu sendiri. Wahai elit dan pemimpin hari ini, bersatulah atau Indonesia akan menuju the failed state (negara gagal) karena ulah kalian,” tutup nya kesal.(Red/Rls)


StatusAceh.Net- Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo bertolak menuju Provinsi Kalimantan Selatan dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan RJ-85 melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, Minggu, 25 Maret 2018 sekira pukul 12.10 WIB.

Setelah menjalani penerbangan selama 1 jam 35 menit, pesawat yang membawa Presiden dan Ibu Iriana bersama rombongan tiba di Pangkalan TNI AU Syamsuddin Noor, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan pada pukul 14.45 WITA.

Dalam kunjungan ke Provinsi Kalimantan Selatan kali ini, Presiden akan menghadiri acara Haul ke-13 ulama karismatik asal Martapura, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang berpulang pada 10 Agustus 2005 dalam usia 63 tahun.

Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari atau Guru Sekumpul lahir di Tunggul Irang, Martapura, 11 Februari 1942.

Haul tersebut rencananya akan digelar dan dipusatkan di kawasan Musala Ar-Raudhah, Kelurahan Sekumpul, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.

Presiden dan Ibu Iriana beserta rombongan akan bermalam di Kota Banjarbaru guna melanjutkan kegiatan kunjungan kerja keesokan harinya. 

Turut mendampingi Presiden dan Ibu Iriana dalam penerbangan menuju Provinsi Kalimantan Selatan adalah Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, Staf Khusus Presiden Johan Budi, Sekretaris Militer Presiden Marsda TNI Trisno Hendradi dan Komandan Paspampres Mayjen TNI (Mar) Suhartono.(Red/Rls)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.