2020-12-27

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Baksos Bambang Tri Banda Aceh Banjir Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona corona Covid-19 Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos dayah Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Film Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan Hindia History Hotel Hukum Humor HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malaysia Malware WannaCry Masjid Migas Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik Mudik Lebaran MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli PUSPA Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator sosial Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Turki Ulama USA Vaksin MR Vaksinasi Covid-19 vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

,


Lhokseumawe - Kreatif dan produktif, dimasa situasi covid 19 melanda, prajurit TNI Korem 011/Lilawangsa mampu manfaatkan lahan kosong menjadi tempat pengembangan bibit berbagai jenis tanaman, di Asrama TNI Korem 011/LW, Cunda, Kota Lhokseumawe, Kamis (31/12/2020).

Uniknya, hampir setahun sudah covid 19 melanda,  inilah yang dilakukan beberapa prajurit TNI ini, kembangkan ribuan bibit jenis tanaman keras, diantaranya, 4500 Bibit Durian, 2300 Alpukat 1100 Pinang 500 Mangga dan Bibit Kelengkeng sebanyak 200 batang.

Salah satu prajurit TNI produktif, Kopda Tomi mampu memanfaatkan waktu dan lahan yang ada sebagai tempat untuk budidayakan ribuan tumbuhan buah yang berstruktur keras dengan menargetkan sebanyak 100.000 berbagai jenis tanaman.

Kopda Tomi mengaku, cara ini merupakan idenya dalam menyalurkan bakat yang dimiliki, selain itu, dengan dukungan Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro, sehingga Ia termotivasi untuk meneruskan bakat yang dimiliki seprti pengetahuan cara membuat bibit tanaman buah agar menjanjikan hasilnya.

Kopda Tomi mengaku, kendala yang dihadapi selama pembibitan, apabila musim penghujan karena dapat merendam lokasi lahan yang rendah tersebut bersama bibit tumbuhan yang dikerjakannya, sehingga tumbuhan tidak dapat berkembang dan akan mati apabila terlalu lama terendam air.

Budidaya tanaman buah yang berstruktur keras ini, Ia hanya membutuhkan biji-bijian buah dari berbagai tumbuhan dan diolah menjadi bibit unggul yang nantinya akan siap tanam.

Diketahui, bahwa ribuan tumbuhan berbagai jenis tanaman ini nantinya akan diditribusikan ke Koramil yang berada di Kodim-Kodim jajaran Korem 011/Lilawangsa, kata Danrem.

Kemudian ribuan bibit tanaman ini akan ditanam oleh para Babinsa di tempat tugasnya masing-masing, serta dibekali cara membudidayakan tanaman buah yang dapat diteruskan kepada warga masyarakat binaannya dengan memanfaatkan waktu dan lahan yang tidak digunakan, pungkas Danrem.




Banda Aceh -
  Organisasi Front Pembela Islam (FPI) di Aceh tidak melakukan pelanggaran peraturan. Organisasi ini pun dinilai sama dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) lainnya.

Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali. Menurutnya, keberadaan FPI di Aceh biasa saja, sama dengan ormas lainnya.

"Tidak ada aksi atau kegiatan mereka melanggar aturan. Selain itu, tidak ada aktivitas FPI yang ditakutkan masyarakat," kata Tgk H Faisal Ali, Rabu (30/12/2020).

Dia juga mengatakan, FPI merupakan keluarga besar masyarakat Aceh. Kehadirannya tidak berbeda dengan ormas lainnya di Aceh.

"Masyarakat Aceh penuh ukhuwah, sangat toleran, dan memahami satu dengan yang lain," katanya.

Sementara terkait pembubaran FPI, Tgk H Faisal Ali yang akrab disapa Lem Faisal mengatakan, pemerintah tentu memiliki pandangan lain dalam membubarkan sebuah organisasi kemasyarakatan. Pembubaran FPI merupakan kewenangan pemerintah namun harus betul-betul sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Jangan sampai pembubaran sebuah organisasi kemasyarakatan hanya karena kebencian. Pembubaran harus sesuai aturan," kata Wakil Ketua MPU Provinsi Aceh tersebut.

Selain itu, Tgk H Faisal Ali juga mengingatkan pembubaran sebuah organisasi kemasyarakatan jangan sampai melahirkan kebencian di antara sesama umat dan anak bangsa. Sebab, kebencian itu hanya menimbulkan perpecahan.

"Pembubaran yang dilakukan harus betul-betul karena penegakan hukum. Pembubaran tersebut dilakukan karena pelanggaran hukum, bukan karena alasan lainnya," kata Tgk H Faisal Ali.

Artikel ini telah tayang di aceh.inews.id dengan judul " FPI di Aceh Tak Langgar Peraturan, Dinilai Sama dengan Ormas Lain ",


LHOKSEUMAWE
- Ketua Front Pembela Islam (FPI) Aceh Tengku Muslemmempertanyakan keputusan pemerintah yang membubarkan FPI.

"Menyikapi pelarangan FPI di wilayah hukum NKRI, kami FPI Aceh mempertanyakan atas dasar apa FPI dilarang? Sedangkan FPI bukan teroris dan bukan komunis. FPI tidak merorong Pancasila dan tidak merorong NKRI" ujar Ketua FPI Aceh Tengku Muslem. Rabu 30 Desember 2020.

Keberdaan FPI, kata dia, hanya berjuang untuk menegakkan keadilan dan tegaknya kebenaran di atas bumi pertiwi.

"Jika FPI kritis terhadap kebijakan pejabat yang tidak adil, apakah itu melanggar dengan Pancasila? Jika FPI ingin lahirkan pemerintah yang bersih dan pro Islam apakah itu merorong pancasila? Jika FPI tanpa henti membantu negara dalam setiap aksi kemanusiaan apakah itu sebuah upaya makar? Jika FPI menuntut penista agama di hukum seperti Ahok, apakah itu bahagian dari inteleran," ujar Tengku Muslim.

Ia pun habis pikir ketika sentemen pribadi diseret dalam urusan negara. Jika Indonesia negara hukum, kenapa hukum pilih kasih?

"Jadi kami atas nama FPI Aceh dan juga pimpinan Pesantren di Aceh sangat kecewa dengan kedhaliman ini, dan menurut kami ini salah satu upaya pembungkaman terhadap kebenaran dan juga pengkhianatan terhadap Islam dari penguasa negeri." tuturnya.

Dia menegaskan, kader FPI Aceh tidak akan goyah walaupun tidak bisa jalan seperti biasa, tetap siap patuh kepada komando Imam Besar Habib Rizeq Shihab (HRS). "Mereka (pemerintah) tidak bisa menghalangi rasa cinta kami kepada Ulama khususnya kepada HRS, bahkan bertambah rasa cinta kami kepada beliau," kata dia..

"Dan kami akan tetap tunggu keputusan DPP kemana dan apa yang akan didelarasikan. Mungkin dalam waktu dekat, akan ada arahan dari guru kami para habaib bagaimana jalan dan langkah yang harus kami berjuang," ujarnya. | Okezone


LHOKSEUMAWE - Menjelang pergantian tahun, tim gabungan Polres Lhokseumawe meningkatkan pengamanan dengan  melaksanakan patroli Cipta Kondisi di daerah rawan di wilayah hukum Polres Lhokseumawe, Rabu (30/12/2020).

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto SIk MH mengatakan, patroli tersebut melibatkan sejumlah personil Unit Reaksi Cepat (URC) Siagam Sat Sabhara Polres Lhokseumawe, Satlantas Polres Lhokseumawe dan beberapa anggota Dinas Perhubungan Kota Lhokseumawe.

"Tujuan dilaksanakannya patroli Cipta Kondisi menjelang tahun baru ini, yaitu untuk memberikan pelayanan, keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat. Karena itu, patroli tersebut di khususkan di daerah rawan tindak kriminalitas, lakalantas, kemacetan dan terjadinya begal," ujarnya.

Adapun rute yang menjadi sasaran patroli ini, kata Kapolres, yaitu di jalan Cunda, Kandang, Alue Awe, Buket Rata, Punteut, Bayu serta Seputaran wilayah hukum polres Lhokseumawe lainnya.

Dalam kegiatan ini, tambah Kapolres, anggota melakukan tindakan preventif, mengatur lalulintas, menciptakan suasana harmonis dengan masyarakat, mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan serta memberikan rasa aman.

"Anggota kita siap melayani, kapan pun, dimana pun. Namun, saya harapkan kepada masyarakat agar tetap waspada, apalagi menjelang pergantian tahun. Jika menemukan atau mengetahui adanya tindakan kriminalitas, begal serta terkait informasi yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtib), segera lapor ke petugas terdekat kita," pintanya.


LHOKSEUMAWE – Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto, SIk, MH kembali mengunjungi ulama kharismatik Aceh, yakni Waled Nu Samalanga dan Abiya Jeunieb, Rabu (30/12/2020). Kunjungan tersebut dalam rangka mempererat tali silaturrahmi.

“Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan dan diizinkan Allah SWT untuk melangkahkan kaki ke kediaman ulama kharismatik Aceh, Waled Nu Samalanga dan Abiya Jeunieb, kedatangan saya untuk mempererat tali silaturrahmi serta meminta keberkahan dan petuah dari pewaris nabi yang sangat kita hormati,” ujar Kapolres.



Menurut Kapolres, sosok ulama sangat dibutuhkan di tengah – tengah masyarakat. Sebab dengan doa-doanya ulama, apa yang dikerjakan Insya Allah akan lebih ringan, termasuk dalam mengemban tugas menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). “Maka itu, setiap ada kesempatan saya selalu datang ke ulama,” katanya.


Tengah hari ini saya tercenung di depan layar Youtube yang menayangkan tayangan jumpa pers Menko Polhukam Prof DR Moh Mahfud MD. Dalam tayangan jumpa pers tentang larangan berkegiatan Ormas FPI itu terlihat unik karena terkesan serbaterburu-buru dan tegang.

Kenyataan tersebut tampak jelas saat diakhir tayangan ada pernyataan dari Prof Mahfud bahwa jumpa pers kali ini tak ada forum tanya jawab. Ini memang tampak berbeda karena lazimnya karena Prof Mahfud suka dan piawai sekali berdebat untuk melayani pertanyaan para wartawan.

Uniknya, saat diumumkan tanggalnya kok ya di akhir tahun. Padahal setiap kali memasuki tahun baru ini ada peringatan tsunami Aceh. Bencana yang memakan korban hingga setidaknya hingga 250 ribu jiwa tersebut tepatnya terjadi pada pukul 08:58:53 WIB tanggal 26 Desember 2004.  Episentrumnya terletak di lepas pantai barat Sumatra, Indonesia. Guncangan gempa tersebut berskala 9,1–9,3 dalam skala kekuatan Momen dan IX dalam skala intensitas Mercalli.

Nah, menyaksikan tayangan jumpa pers Menko Polhukam tersebut, langsung saya tercenung sendirian. Ada apa ini? Hati saya galau dan bertanya-tanya.

Ya sembari terus memelototi arus media sosial dan mencoba menelusuri kepastian berita soal pembubaran FPI, maka tiba-tiba ingatan ini kembali terkenang pada peristiwa bencana tsunami yang  pada 26 Desember 2004 terjadi di Aceh.

Waktu itu, Saya datang ke sana pada pekan pertama bencana itu setelah melalui perjuangan panjang berebut tiket pesawat yang menuju Banda Aceh melalui Bandara Polonia, Medan. Di dalam pesawat garuda Garuda yang menuju Banda Aceh saya bertemu wartawan senior dan mentor saya, Hersubeno Arief. Dia yang kala itu sudah jadi host dan wartawan Metro TV terlihat sangat kaget karena saya duduk di bangku kelas eksekutif.

''Hebat benar kamu,'' kata Hersu sembari terkekeh sembari menepuk-nepuk pundak.

''Iya dong. Saya kan dibekali banyak uang mas,'' jawab saya bercanda sambil menujuk ke dalam tas. Lagi-lagi Hersu tertawa ngakak. Setelah itu berpisah karena dia harus duduk dibagian kursi belakang, sedangkan saya dibagian depan yang tak berdesakan karena berada di kelas bisnis.

Dan memang, beberapa saat sebelum mendarat di Banda Aceh saya ingat betul saat itu pemandangannya sungguh mengenaskan. Ibu kota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam porak poranda. Di udara tampak jelas puing kota yang berserak dan berubah menjadi rawa. Sebagian wilayah yang terkena tsunami masih tergenang sisa hempasan tsunani air laut.

Melalui jendela pesawat terbang udara terlihat berkilauan di atas bibir pantai yang terpapar tsunami. Pemandangannya persis seperti pemandangan hutan bakau yang gundul. Suasana ini kontras pada kunjungan saya ke kota atau wilayah ini sebelumnya yang terlihat sebagai wilayah padat namun di kelilingi perbukitan hijau.

Benar saja, ketika sudah mendarat, suasana horor kota Banda Aceh segera menyerobok mata. Puing berserakan. Aneka mobil nyangkut di pohon di pinggir jalan. Mayat bergelimpangan. Jalanan hitam berlumpur. Bau anyir di mana-mana. Kalau malam gelap gulita.

Suasana makin suram karena hujan sering kali turun. Untuk tidur nyenyak suatu kemewahan. Pendopo kantor gubernur di jadikan tempat menginap relawan hingga wartawan yang datang dari seluruh penjuru dunia. Semua tumplek seperti sarden dan ikan asin. Saya memilih tinggal di pinggiran kota Banda Aceh. Saya tidur di atas lantai dalam sebuah ruko bersama beberapa teman relawan dari Jawa. Di antara mereka ada sosok Rocker 80-an yang saat itu sudah jadi ustadz, Harry Moekti.

''Maaf ya kalau dulu bikin tergila-gila kamu dengan lagu 'Ada Kamu' hingga Lintas Melawai'. Ayo sekarang ngaji saja. Apalagi ini lagi di tengah bencana,'' kata Hari Moekti yang sampai sekarang masih saya ingat.

Memang, beberapa pekan kemudian suasana mulai pulih. Satu dua penduduk yang rumahnya tidak terkena tsunami mulai paham secara penuh bahwa wilayahnya terkena bencana yang sangat dahsyat.

Kala itu banyak orang yang masih trauma dan sedih akibat kehilangan sanak famili dalam sekejap. Tampak sekali mereka coba kuatkan hati. Warung gulai yang sangat terkenal di bilangan jalan Simpang Surabaya Banda Aceh kala itu yang semua tutup mulai buka kembali. Lumayan makin gampang cari makan gule aceh yang sedap yang konon dikasih sedikit daun ganja.

Meski begitu perbankan masih belum buka secara penuh. Telekomunikasi masih belum lancar. Saya kirim berita melalui telepon atau menumpang bila ada fasilitas faksimili di telepon umum di area yang tak terkena tsunami.

Meski begitu ada satu masalah yang sangat serius. Hal itu adalah soal evakuasi jenazah atau mayat yang masih terendam dalam air dan reruntuhan. Selama itu sebagian para korban itu hanya diletakan dan dikumpulkan di pinggir jalan seperti di kawasan yang menuju ke arah pantai Lhok Nga, bahkan hingga jalan protokol di dekat pusat kota.

Saya yang semula takut pada mayat dan terlebih bila berjalan melalui ruas jalan penuh tumpukan mayat itu pada malam hari, berangsur-angsur mulia hilang takutnya. Ini bukan karena jagoan, tapi karena ruas jalan itu satu-satu jalan untuk pulang liputan dari pusat kota di malam hari. Akibatnya, menjadi berani karena terbiasa. Istilah pepatah Melayunya: ala bisa karena biasa.

Beberapa waktu lamanya soal evakuasi jenazah masih belum ada penyelesaian. Ini makin rumit karena banyak mayat yang tertimbun di reruntuhan bangunan yang berair. Alhasil, banyak relawan jeri untuk mengambilnya dengan berbagai alasan dari soal psikologi, tenaga, hingga takut terkena bakteri.

Nah, di saat yang serba tanda tanya itu, muncul relawan dari Jakarta. Mereka datang naik kapal. Rombongannya jumlahnya banyak. Uniknya lagi mereka menyatakan datang untuk membantu bencana Aceh, terutama untuk mengangkat mayat yang masih berada di bawah reruntuhan bangunan. Dan saya mahfum, ini soal serius karena tak mudah dan berisiko tinggi.

Siapa rombongan relawan yang nekad mengangkat mayat itu? Jawabnya, mengejutkan ternyata para anggota Front Pembela Islam (FPI). Saya lebih terkejut karena nama ormas ini kala itu selalu terdengar negatif misalnya kerap dituding tukang bikin onar, 'grebeg sono grebeg sini'.

Di situlah saya melihat dengan setengah tidak percaya. Tapi saya harus menemui mereka karena redaktur saya di Jakarta 'Mas Yoebal Ganesha' (kini menetap di Yogyakarta) menyuruh menemuinya.

"Kamu lihat itu dan tulis apa yang terjadi,'' perintahnya melalui sambungan telepon dari kantor redaksi Republika di Jakarta.

Akhirnya saya pun berangkat mencari rombongan FPI. Ternyata mereka tinggal di dekat pemakaman umum di kota Banda Aceh. Mereka tidur memakai tenda. Saya pun lihat sang Komandan FPI, seorang lelaki muda yang sekarang terkenal dengan nama Habib Rizieq Shihab.

Dan memang sebelumnya, sebagai jurnalis saya pernah bertemu di rumahnya untuk keperluan beberapa wawancara. Saya kala itu di terima Habib Rizieq di ruang tengah kediamannya yang ada di tengah kampung Petamburan, Jakarta.

Nah, pada saat itu bertemu lagi dengannya di dalam suasana bencana Tsunami Aceh dan uniknya di area pemakaman umum, tempat angota FPI kala itu berkumpul.

"Asalamualaikum. Apa kabar. Ente ada di Aceh juga,'' tanya  Rizieq kala itu yang masih saya ingat. Saya mengangguk mengiyakan dan memberi tahu bahwa di Banda Aceh sudah lumayan lama.

''Iya Bib liputan bencana,'' sahut saya. Dan tanpa memberi waktu bertanya malah saya balik bertanya.''Bib saya mau sholat Dhuhur nih. Eh apa boleh saya shalat dengan pakaian begini. Pakai celana yang hanya di sedikit di bawah lutut. Celana lain kotor kena najis semua,'' tanyaku.

Habib Riziek memandang ke arah saya sejenak. Saya memang pakai jaket parasut dan rangsel  dengan celana gunung yang panjangnya sedikit di bawah lutut. Penampilan saya memang seperti seorang 'alien' (makhluk luar angkasa).

Kebetulan di belakangnya memang ada bangunan mushola dan waktunya sudah tengah hari. Dia hanya senyum saja melihat pemandangan saya yang mungkin tampak 'ganjil' itu karena secara terus terang tetap ingin sholat meski dalam keadaan serba darurat. Dan saya ingat beli celana dan jaket itu di kios pakaian olah raga yang berada di pinggir kota Banda Aceh yang tak terkena tsunami.

''Boleh. Silahlam shalat saja. Tak apa-apa kok? Ini kan darurat. Kamu niat shalat saja sudah bagus,'' jawabanya. Saya mengangguk. Dia kemudian berjanji akan berbincang setelah shalat.
Laskar FPI saat itu lalu lalang di dekat kami. Beberapa peralatan evakuasai mayat dan kendaraan untuk mengangkutnya terlihat bersliweran. Berapa alat angkut diantaranya truk terlihat parkir di depan kompleks makam. Melalui alat inilah satu persatu anggota FPI mengangkut jenazah dari reruntuhan dan puin yang terkena air pasang dipinggir pantai.

Habieb Riziek teryata mau menunggu dengan sabar sampai saya usai shalat. Kami kemudian berbincang sembari duduk mengaso di emper halaman mushola.

''Sudahlah ente tulis sendiri kegiatan FPI di Banda Aceh. Apa yang kamu lihat dan rasakan tulis apa adanya saja,'' katanya ringan.

Kami pun berbincang cukup lama dengan banyak tema mengenai suka duka selama melakukan evakuasi atas ribuan jenazah para korban tsunami.

Selanjutnya 


Banda Aceh
- Pemerintah Aceh berencana membeli pesawat model pesawat N-219 dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Tujuannya untuk menjangkau daerah kepulauan yang ada di Aceh.

“Karena masih ada daerah yang sulit dijangkau, seperti di pulau-pulau. Sehingga mempermudah hubungan lebih baik di Aceh,” kata Sektaris Daerah Aceh, Taqwallah, Rabu, 30 Desember 2020.

Taqwallah menjelaskan, rencana Pemerintah Aceh membeli pesawat buatan dalam negeri itu, untuk kebutuhan transportasi perintis di Aceh. Selain itu Aceh membeli transportasi udara produk lokal tersebut, karena sangat menghargai karya cipta anak bangsa.

“Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menggunakan pesawat buatan negara kita sendiri,” ujar Taqwallah.

Diketahui, pesawat N219 yang diberi nama Nurtanio oleh Jokowi, adalah pesawat buatan lokal, kolaborasi antara PT Dirgantara Indonesia (DI) bekerja sama dengan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan).

 Selanjutnya


 Jakarta -
Sejumlah tokoh mendeklarasikan Front Persatuan Islam setelah Front Pembela Islam (FPI) dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Ketua Umum FPI Shabri Lubis dan Sekretaris FPI Munarman termasuk orang yang mendeklarasikan perkumpulan baru tersesebut.

Deklarasi Front Persatuan Islam disebut dilakukan untuk melanjutkan pergerakan perjuangan membela agama, bangsa, dan negara Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Kepada seluruh pengurus, anggota dan simpatisan Front Pembela Islam di seluruh Indonesia dan mancanegara, untuk menghindari hal-hal yang tidak penting dan benturan dengan rezim dzalim maka dengan ini kami deklarasikan Front Persatuan Islam untuk melanjutkan perjuangan membela Agama, Bangsa, dan Negara sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945," kata deklarator Front Persatuan Islam, Abu Fihir Alattas dalam keterangan resminya, Rabu (30/12).

Abu menilai Keputusan Bersama 6 pimpinan Kementerian/Lembaga Negara terhadap pembubaran FPI telah melanggar konstitusi dan bertentangan dengan hukum. Pasalnya, secara Keputusan Bersama tersebut tidak memiliki kekuatan hukum baik dari segi legalitas maupun dari segi legitimasi.

"Kami pandang adalah sebagai bentuk pengalihan issue dan obstruction of justice (penghalang-halangan pencarian keadilan) terhadap peristiwa pembunuhan 6 anggota Front Pembela Islam dan bentuk kedzaliman yang nyata terhadap Rakyat," kata dia.

Adapun, terdapat 18 nama deklarator yang mendirikan Front Persatuan Islam. Selain Abu, terdapat nama eks Ketua Umum FPI, Ahmad Shabri Lubis dan eks Sekretaris Umum FPI, Munarman.

Deklarator lain adalah Awit Mashuri Haris Ubaidillah, Idrus Al Habsyi, Idrus Hasa,n, Ali Alattas, Ali Alattas, I Tuankota Basalamah, Habib Syafiq Alaydrus, Baharuzaman, Amir Ortega, Syahroji, Waluyo,Joko

Lalu terdapat nama Luthfi, Habib Abu Fihir Alattas ,Tb. Abdurrahman Anwar dan Abdul Qadir Aka.

Menko Polhukam Mahfud Md menyebut FPI sebagai organisasi terlarang dan tak lagi memiliki legal standing baik sebagai ormas maupun organisasi biasa.

Setidaknya ada enam alasan yang mendasari pelarangan tersebut di antaranya untuk menjaga eksistensi ideologi dan konsensus bernegara, isi anggaran dasar FPI dianggap bertentangan dengan UU Ormas, FPI disebut belum memperpanjang Surat Keterangan Terdaftar sebagai Ormas dan, sejumlah pengurus serta anggota FPI terlibat terorisme juga tindak pidana lain.

Atas keputusan itu, tim kuasa hukum FPI mempertimbangkan langkah hukum. Saat ini proses pengkajian sedang ditempuh. Salah satu upaya hukum yang mungkin dilakukan adalah menggugat putusan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). FPI juga langsung membuka peluang untuk berganti nama.  | CNN Indonesia


Jakarta -
Front Pembela Islam (FPI) dikenal sebagai ormas garis keras yang sering melakukan sweeping ke tempat hiburan malam sebelum dibubarkan. Namun, ormas ini juga tercatat melakukan sejumlah kegiatan kemanusiaan.

Momen paling ikonis adalah saat FPI terjun langsung ke Aceh, ketika provinsi itu diterjang tsunami pada 2004. Imam Besar FPI Rizieq Shihab bahkan turun gunung membantu para korban tsunami di sana.

Anggota laskar FPI disebar di penjuru Aceh. Salah satu aksi utama FPI saat itu adalah mengevakuasi jenazah yang berserakan di jalanan.

Sejumlah media memberitakan FPI bekerja sama dengan TNI dalam membersihkan Masjid Baiturrahman, 14 Januari 2005. Mereka mempersiapkan masjid terbesar di Aceh itu untuk Salat Jumat berjamaah.

Pada 2018, FPI juga tercatat melakukan aksi kemanusiaan pada dua bencana alam. FPI terjun ke Palu saat gempa bumi berujung tsunami.

Tim yang dipimpin Ketua DPP FPI bidang Kemanusiaan, Habib Ali Al Hamid berfokus mengevakuasi korban gempa di Palu. Selain itu, FPI juga menyalurkan bantuan logistik, seperti sembako, selimut, dan terpal.

"Permudah saja lembaga apapun di sini yang bisa membantu. Hoaks itu urusan belakangan," kata kata Ali Al Hamid menjawab isu miring keterlibatan FPI dalam aksi kemanusiaan, 8 Oktober 2018.

Ormas besutan Rizieq Shihab itu kembali terjun ke lokasi bencana pada Desember 2018. Saat itu, mereka melakukan pertolongan pada korban tsunami di Banten.

Kala itu, masyarakat di pesisir Banten sempat terisolasi. Jalan yang biasa digunakan warga luluh lantak oleh berbagai material yang diempas gelombang laut.

Bantuan baru datang dua hari usai kejadian, Senin, 24 Desember 2018. Namun, laskar-laskar FPI sudah sampai ke lokasi dan memberi bantuan seadanya sejak Minggu pagi.

"Yang pertama datang itu FPI karena di sini banyak pesantren," kata salah seorang warga bernama Eli di Sumur, Pandeglang, Senin sore 24 Desember 2018.

Pada 2019, FPI juga ikut membantu korban gempa Ambon. Tim relawan Hilal Merah Indonesia Front Pembela Islam (HILMI- FPI) Sulawesi Tengah membuat pipa air untuk menyalurkan air ke 3.000 KK dan 17.000 jiwa di lokasi pengungsian.

Tahun ini, ormas Islam itu juga menggelar sejumlah aksi kemanusiaan. Salah satunya upaya penyemprotan disinfektan ke rumah warga yang dilakukan FPI Poso.

Kini FPI telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang. Pemerintah tidak memperbolehkan FPI menggelar kegiatan. Selain itu, lambang dan atribut FPI tidak boleh lagi beredar.

"Menyatakan FPI adalah organisasi yang tidak terdaftar sebagai ormas sebagaimana diatur dalam undang-undang sehingga secara de jure telah bubar sebagai ormas," ujar Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward Omar Sharif Hiariej, Rabu (30/12). | CNN Indonesia


Teks dan foto : 
Untuk mencegah banjir, proyek pembangunan saluran primer tahap dua sumber anggaran Otsus 2020 senilai Rp 6, 8 Miliar di Gampong Mon Geudong Kec. Banda Sakti Kota Lhokseumawe telah rampung dikerjakan, Selasa (29/12).


Lhokseumawe :  Pelaksanaan proyek pembangunan saluran primer tahap dua sumber anggaran Otsus 2020 senilai Rp 6, 8 Miliar di Jalan Tando Gampong Mon Geudong Kec. Banda Sakti Kota Lhokseumawe telah rampung dikerjakan oleh  PT. jasa Kubina Cemerlang. 

Meski  pembangunannya sudah tuntas dikerjakan sesuai kontrak kerja, namun sayangnya kondisi bangunan yang serba tanggung itu ternyata belum bisa beroperasi secara normal. 

Karena untuk dapat difungsikan sesuai harapan maka masih membutuhkan pembangunan lanjutannya tahap ketiga. 

Hal itu diungkapkan Kadis PUPR Kota Lhokseumawe Safaruddin, Selasa (28/12), terkait proyek di Jalan Tando tersebut masih belum sempurna secara utuh dan belum dapat berfungsi sesuai harapan. 

Dikatakannya, proyek Otsus itu merupakan pekerjaan tahap dua dengan satu paket untuk pembangunan saluran primer sepanjang 200 meter, 10 Box Control dan pengaspalan. 

Kadis juga membantah tentang adanya info miring yang menduga proyek Otsus 2020 itu sudah 100 persen melakukan penarikan anggarannya, tapi belum tuntas dilaksanakan. 

Padahal perlu diketahui proyek itu rampung sesuai target, yang disesuaikan dengan nomor kontrak 16 - kont/ BM/ otsus - lsm/IX/ 2020 tanggal kontrak 4 sep 2020, dan  mati kontrak pada 12 Desember tahun 2020 anggaran Rp 6.865.000.000. 

Namun bila melihat hasil pekerjaan dilapangan, tampak pemandangan saluran primer terkesan bangunannya belum menutupi sepanjang saluran setempat.  Karena target dan volume proyeknya memang hanya dikerjakan sebatas tahap dua. 

Sedangkan untuk pembangunan lanjutan pada tahap tiga, akan diajukan kembali pada anggaran otsus tahun 2021 mendatang dan belum diketahui nilai anggaran yang pasti. 

Dijelaskannya, dengan adanya pembangunan saluran itu maka tando yang berada diujung saluran tidak lagi dapat difungsikan dan diganti dengan pembangunan saluran primer tersebut. 

Disebutkannya, saluran primer itu juga berfungsi sebagai pencegah banjir dan dapat menyerap genangan air agar cepat surut. 

Saluran itu juga menampung pembuangan air dari saluran primer lainnya yang berada di Jalan Merdeka dan saluran skunder dari beberapa desa yakni Kutablang, Teumpok Teungoh dan Mon Geudong. 

Maka melalui saluran di Jalan Tando Gampong Mon Geudong itulah pembuangan air akan diteruskan ke Waduk Raksasa di Keude Aceh.  

“ Saluran  tersebut bermanfaat untuk mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya banjir. Namun baru selesai dikerjakan untuk tahap kedua dan masih membutuhkan pembangunan lanjutan tahap tiga agar menjadi sempurna,” ujarnya. 

,


Lhokseumawe -
Evi Susanti (48) warga Dusun Chik Mahmud, Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Senin (28/12/2020), seorang Janda yang dikarunia 4 Anak menerima bantuan bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari TNI Korem 011/Lilawangsa.

Sejak suami meninggal dunia satu tahun lalu. Evi Susanti harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya yang masih membutuhkan perhatian dirinya.

Tidak memiliki kemampuan khusus. Evi mengaku hanya bisa bekerja sebagai tukang cuci, bahkan penghasilannya tidak mencukupi untuk kebutuhan rumah tangganya, namun harus tabah dalam menjalani kehidupan ini dengan tawaqal, selain terus berusaha demi anak-anak, tak lupa berdoa memohon Ridho Ilahi, ungkapnya.

"Saya tidak menduga dan membayangkan Allah mengabulkan Doa-doa saya dan anak. Alhamdulillah melalui Pak Danrem Sumirating Baskoro memperbaiki membangun rumah kami, bahkan anak saya Riki ingin menjadi TNI, tadi Riki sampaikan kepada Pak Danrem", ungkapnya sambil tersedu.

Diketahui, Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Sumirating Baskoro, Senin (28/12/2020), Pagi, menyerahkan bantuan Hasil program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kepada warga kurang mampu warga Dusun Chik Mahmud, Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Danrem menyerahkan bantuan Rumah tersebut dengan disaksikan Kasrem 011/LW Letkol Czi M. Ridha Has, para Kasi Korem 011/LW, Danposramil bersama Sekcam, Babinkamtibmas, Tuha Peut serta masyarakat Desa Alue Awe yang hadir.

Danrem Baskoro mengatakan, bahwa bantuan program Rehab RTLH merupakan bantuan sosial kemanusian kepada kaum duhafa warga kurang mampu yang membutuhkan, bertepatan memperingati HUT Ke-64 Kodam IM, katanya.

Selain itu, Danrem akan berusaha membantu Riki Kusnaldi (18), putra kedua dari Ibu Evi susanti, yang berkeinginan menjadi seorang prajurit TNI.

"Alhamdulillah rumah ibu Evi sudah terbangun dan sudah layak digunakan bersama Anak-anaknya. Insha Allah kita akan berusaha bersama menuntun anaknya (Riki) yang ingin menjadi seorang TNI, nanti kita latih, daftarkan, termasuk cek kesehatannya agar terpenuhi persyaratan untuk mengikuti Tes calon prajurit TNI", tutur Danrem.

Sementara itu, Riki Kusnaldi (18) seorang pelajar Kelas 3 SMK Pelayaran, Ia mengaku, keinginan menjadi TNI sejak kecil, bahkan Almarhum Ayah nya menginginkan itu menjadi seorang prajurit TNI.

"Dari kecil Riki ingin sekali jadi TNI, Riki juga di Sekolah pelayaran sering mengikuti kegiatan seperti militer, termasuk pernah jadi Pasukan Paskibraka", ungkapnya.


LHOKSEUMAWE - Polres Lhokseumawe memberikan piagam penghargaan Bintang Satya Bhayangkara kepada personil TNI - Polri dam tokoh masyarakat yang berdedikasi menjaga serta memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukum Polres Lhokseumawe, Senin (28/12/2020).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto SIk MH. Adapun daftar penerima penghargaan dimaksud adalah sebagai berikut :

Penerima piagam tanda kehormatan bintang satya bhayangkara nararya personel Polres Lhokseumawe.

Personel Babinsa Koramil 07/Meurah Mulia yang selalu aktif membantu  tugas Polri dan bersinergitas dengan Bhabinkamtibmas dalam menyelesaikan setiap permasalahan di gampong sesuai qanun pemerintah aceh atas nama Serda Aliyanto.

Personel Babinsa Koramil 23/Nisam yang membantu tim opsal sat reskrim  polres Lhokseumawe dalam melakukan penyelidikan keberadaan Silah  Kayee selaku pelaku utama curanmor dalam operasi sikat tahun 2020 atas nama Serda Azwar Efendi.

Bhabinkamtibmas Polsek Syamtalira Bayu, Bripka Herryadi mendapat penghargaan atas kinerja dan kegigihannya sebagai petugas Bhabinkamtibmas kec Syamtalira Bayu kab. Aceh Utara proaktif dan cepat tanggap dalam menyelesaikan permasalahan di gampong secara Polmas dan membantu unit Reskrim Polsek Syamtalira Bayu dalam penyidikan tindak pidana.

Kemudian, Bripka Fachrurrazi, S.Sos dan Brigadir Andi Sunardi personel bag ren Polres Lhokseumawe mendapat penghargaan atas prestasi dan kegigihannya dalam memperjuangkan zona integritas menuju WBK/ WBBM Polres Lhokseumawe oleh

Personil Bag Ops juga mendapat penghargaan Alatas dedikasi, kinerja, loyalitas dan kedisipilinan terhadap tugas yang diemban guna keberhasilan pelaksanaan operasi kepolisian, menyiapkan administrasi operasi guna mencapai tujuan yang diharapkan bagi kemajuan organisasi di bagian operasi dan pelaporan kegiatan Polres Lhokseumawe ke Polda Aceh.

Selanjutnya, Briptu Roza Liani, Briptu Merlin Roselli dan Brigadir Nanda Ariadi atas dedikasi kinerja dan kegigihannya dalam melaksanakan pengisian aplikasi BLC periode 01 November s.d. 30 November 2020 sebagai juara 1, 2, dan 3 jajaran Polres Lhokseumawe.

Sedangkan tokoh masyarakat dan tokoh agama yang berprestasi dalam membantu tugas kepolisian di wilkum polres lhokseumawe, yaitu:

Abdul Gani, Keuchik Desa Batuphat Timur, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Abdul Gani membantu tugas Polri dalam hal mengungkap pelaku tindak pidana seperti kasus pencurian, kasus narkoba, khalwat dan lain-lain serta selalu cepat tanggap dan selalu siap membantu Polri dalam hal keperluan tugas Polri dalam menjaga Kamtibmas.

Kemudian, Tgk Adami, sekdes Batuphat Timur.yang bersama Polri memberantas balapan liar di kawasan Desa Blang Pulo, membantu Polri dalam memberikan segala bentuk informasi untuk kepentingan Kamtibmas, dan ikut turun langsung bersama polri dalam mensosialisasikan  protokol kesehatan covid-19 kepada masyarakat di wilayah kecamatan Muara Satu.


LHOKSEUMAWE -
Kapolres Lhokseumawe, AKBP Eko Hartanto SIk MH menyerahkan penghargaan kepada personil TNI, Polri dan tokoh masyarakat, acara tersebut berlangsung di halaman Mapolres Lhokseumawe, Senin (28/12/2020).

Penghargaan diberikan kepada personil Polres Lhokseumawe, Bhabinsa dan Tokoh masyarakat yang telah berdedikasi membantu memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) dalam situasi dan kondisi apapun.

Dalam sambutannya, Kapolres Lhokdeumawe mengucapkan  terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh personil Polres Lhokseumawe, personil Kodim 0103/Aceh Utara dan tokoh masyarakat atas pengabdian dan kerja kerasnya selama ini yang telah berhasil melakukan langkah-langkah preventif dan pengabdian tanpa pamrih kepada kesatuan dan masyarakat dengan berhasil menyelesaikan permasalahan-permasalahan tindak pidana yang terjadi di wilkum polres  Lhokseumawe serta upaya dalam meningkatkan pelayanan publik sehingga dapat mengharumkan nama baik TNI - Polri di masyarakat.

"Atas keberhasilan ini, kita merasa bangga karena  memiliki personil TNI - Polri serta masyarakat  yang selalu siap membantu dalam segala situasi maupun kondisi yang terjadi sehingga dengan ini pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat  dapat terjaga dengan baik.  untuk itu, sudah selayaknya Polres Lhokseumawe memberikan reward/penghargaan kepada para personil dan tokoh masyarakat yang berprestasi dan berdedikasi tinggi," ujarnya.

Adapun prestasi keberhasilan yang diberikan reward tersebut, yakni piagam tanda kehormatan Bintang Satya bhayangkara Nararya. Penghargaan ini diserahkan kepada personil Kepolisian atas dedikasi kebijaksanaan dan kemampuan serta ketabahan, melampaui panggilan kewajiban yang harus disumbangkannya dan tidak pernah melakukan pelanggaran selama berdinas di kepolisian.

Kemudian,    personil Babinsa Koramil 07/Meurah Mulia yang selalu aktif membantu Polri dan bersinergi dengan Bhabinkamtibmas dalam menyelesaikan setiap permasalahan di desa sesuai dengan qanun Pemerintah Aceh, personil babinsa Koramil 23/Nisam yang membantu penyelidikan keberadaan pelaku utama curanmor dalam Ops Sikat tahun 2020, personil Bag Ren, atas prestasi dan kegigihannya dalam memperjuangkan zona integritas menuju WBK / WBBM Polres Lhokseumawe.

Selanjutnya,     personil Bhabinkamtibmas Polsek Syamtalira Bayu, yang proaktif dan cepat tanggap dalam menyelesaikan permasalahan di desa binaan secara Polmas dan membantu unit Reskrim Polsek Syamtalira Bayu dalam penyidikan tindak pidana, personil Bag Ops, atas dedikasi kinerja, loyalitas dan kedisiplinan terhadap tugas guna keberhasilan pelaksanaan setiap operasi dan pelaporan kegiatan Polres Lhokseumawe, personil Sat Lantas, atas dedikasi kinerja dan kegigihannya dalam melaksanakan pengisian aplikasi BLC periode 1 November sampai dengan 30 November dan yang terakhir kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama atas dedikasinya dalam membantu tugas kepolisian dalam menyelesaikan permasalahan di wilkum Polres Lhokseumawe.

Pada kesempatan tersebut, pria nomor satu di jajaran Polres Lhokseumawe ini mengucapkan selamat kepada penerima penghargaan dan berharap ke depan agar prestasi dimaksudkan dapat lebih ditingkatkan lagi.

"Saya juga berharap dengan prestasi yang diraih oleh rekan-rekan kita ini dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan lainnya, sehingga semakin terpicu untuk selalu memberikan dampak positif dan meningkatkan citra sinergitas TNI - Polri  dalam pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara," pinta Kapolres.


Lhokseumawe -
Kapolres Lhokseumawe dan sejumlah anggota ikut sumbang darah (donor) dalam aksi donor darah massal "Aksi Peduli Bersama Wartawan" yang berlangsung di Sekretariat Bersama (Setber) Jurnalis Pase, jalan Pase Gampong Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe, senin (28/12/2020) pagi.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, S.I.K, M.H mengatakan, kegiatan seperti ini sangat bagus. Bahkan, Kapolres mendukung ide dan gagasan rekan media karena turut membantu menambah stok darah di Aceh Utara.

"Saya mendukung ide dan gagasan rekan-rekan semua untuk membantu saudara kita karena stoke darah di Aceh Utara minim. Inilah langkah nyata kita untuk berempati memiliki rasa sosial yang kepada masyarakat terkait permintaan darah yang ada di Lhokseumawe dan Aceh Utara," ujarnya.

Kemudian untuk antisipasi H-3 menjelang tahun baru, kata Kapolres, Kepolisian akan melakukan antisipasi mencegah kerumunan saat Natal dan tahun baru. "Kami akan melakukan patroli, razia dan penindakan bila ada kerumunan karena ini dapat menjadi cluster baru terkait covid-19," katanya.

Namun, lanjutnya, sampai saat ini H-3, situasi aman dan terkendali. Kendati demikian, satu pos pengamanan, satu Pos pelayanan dan 7 pos terpadu telah didirikan guna melayani masyarakat yang akan melakukan liburan ke tempat wisata dan menghimbau agar petugas menjaga protokol kesehatan dengan ketat serta pemilik toko wisata dapat mematuhinya.

Sementara Koordinator Aksi Rahmad YD mengatakan, aksi sosial donor darah didorong oleh keprihatinan rekan-rekan jurnalis Aceh Utara dan Lhokseumawe atas persediaan darah di UDD PMI yang menipis pada akhir tahun 2020.

"Kami berkordinasi dengan kawan-kawan jurnalis media cetak, televisi, radio, media online, serta beberapa lembaga lainnya, melakukan donor darah untuk membantu memenuhi kebutuhan darah," ujarnya, di sela-sela kegiatan donor.

Selain itu, melalui aksi donor darah ini para jurnalis hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat, bahwa donor darah di masa pandemi COVID-19 masih cukup aman dan bisa dilakukan karena tetap memberlakukan protokol kesehatan.

"Selama donor, baik petugas maupun kawan-kawan jurnalis yang mendonorkan darahnya tetap menjalankan protokol kesehatan.  Kita berharap aksi ini dapat membantu sesama dengan menodonorkan darah bagi yang membutuhkan.  Mari jadikan donor sebagai gaya hidup dan membantu sesama," imbuhnya.

Hadir dalam kegiatan donor, Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto, Dandim 0103 Aceh Utara Oke Kistiyanto, sejumlah personel kepolisian, prajurit TNI dan ibu PKK Desa Blang Panyang .  Selain itu juga hadir pendonor dari komunitas serta masyarakat.(Rill)

loading...

Contact form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.