2016-03-27

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Kelompok Abu Sayyaf
StatusAceh.Net -  Kelompok militan Abu Sayyaf kembali beraksi dengan merampok dan menculik empat warga negara Malaysia.

Awalnya, kelompok bersenjata itu membajak kepal tunda (tug boat) berbendera Malaysia, "Massive 6", di perairan dekat Sabah, Jumat (1/4/2016). Terdapat 9 awak di dalam kapal milik Higline Shipping itu.

Dilansir dari AFP, gerombolan bersenjata itu kemudian menculik empat orang warga negara Malaysia. Sedangkan awak kapal lain, tiga warga negara Indonesia dan dua warga negara Myanmar dibebaskan.

Juru bicara militer Filipina, Felimon Tan mengatakan, Filipina segera melakukan verifikasi terhadap informasi penculikan itu.

"Apakah mereka diculik oleh Abu Sayyaf atau apa dibawa ke Filipina, kami belum mendapat informasi," kata Tan kepada AFP.

Sedangkan pimpinan kepolisian Sabah, Abdul Rashid Harun mengatakan bahwa pihaknya masih menelusuri apakah penculikan dilakukan di perairan Malaysia atau di perairan internasional.

"Areanya luas dan kami punya aset di sana. Jadi kami menginvestigasi apakah itu terjadi di perairan kami," kata Abdul Rashid.

Kelompok Abu Sayyaf beberapa waktu lalu membajak kapal tunda Brahma 12 dan menculik 10 WNI yang menjadi awak dalam kapal itu. Mereka meminta 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar sebagai tebusan.

Kelompok ini pernah beberapa kali menculik warga asing dan meminta tebusan, tetapi peristiwa penyanderaan terhadap WNI adalah pertama kalinya terjadi.  (Kompas)

Carlo Ancelotti © AFP
Sport - Carlo Ancelotti memberikan penilaian mengenai perbandingan kekuatan antara Real Madrid dan Barcelona. Kedua musuh bebuyutan itu akan bertemu akhir pekan ini dalam ajang la Liga.

Ancelotti bukan orang abru dalam persaingan antara dua raksasa Spanyol itu. Ia sempat menangani Madrid selama dua tahun dan kebanyakan pemain Madrid saat ini merupakan mantan anak buahnya.

Berbicara kepada Marca, Ancelotti memberikan penilaian mengenai kekuatan individu masing-masing pemain di kedua tim. Ancelotti bukan cuma membandingkan kemampuan mereka, tapi juga pentingnya setiap pemain itu.

Berikut adalah rangkuman perbandingan kekuatan yang dilakukan oleh Ancelotti. (bola.net)

Syamaun, dikeroyok karena menonton saluran Youtube. Foto: Darmansyah Muda
Aceh Barat - Syamaun Datok (60 Tahun), bekas kombatan dan anggota Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab), dikeroyok sekelompok pria hingga tak sadarkan diri. Kejadian tersebut Jumat malam, sekitar pukul 22.00 WIB.

Syamaun menurutkan kronologi pengeroyokan yang dialaminya di sebuah warung di Dusun Cot Lawang, Desa Drien Rampak, Kecamatan Johan Pahlawan. Saat tengah asyik menyeruput kopi, tiba-tiba, seorang pria yang dikenalinya bernama Si To menghampiri dan mengajaknya pindah ke seberang jalan, persis di Simpang BKKBN.

"Awalnya saya menolak. Saya bilang saya mau ngopi dulu. Saya bilang, ‘di sini saja kita ngobrol.’ Tapi dia terus memaksa. Sampai di tempat itu, saya dikerumuni sejumlah pria," kata Syamaun Sabtu (2/4).

Lantas seorang bernama Si Yong menanyakan alasan Syamaun menonton saluran Youtube tentang video pengakuan seorang wanita yang pernah berhubungan dengan salah seorang pejabat di Aceh Barat. Tak sempat memberikan penjelasan, Syamaun dihajar hingga pingsan. Dari banyak pengeroyok, Syamaun hanya mengenali dua orang.

"Jumlahnya saya tidak tahu. Saya hanya kenal dua orang, Si To dan Si Yong. Nama asli mereka saya juga tidak tahu,” ucapnya.

Saat siuman, Syamaun, dibantu warga di sekitar daerah itu, segera melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resor Aceh Barat. "Lalu saya dibawa ke rumah sakit untuk divisum," kata dia.

Menanggapi persoalan itu, Ketua Forkab Aceh Barat, Maturidi, membantah bahwa Syamaun adalah anggota Forkab. “Kalau anggota itu masuk dalam kepengurusan, sedangkan anak Forkab itu memang sebagai mantan kombatan yang secara otomatis tergabung dalam Forkab.”

Maturidi juga tak berani ikut campur, apalagi, sepengetahuan dia, persoalan ini adalah persoalan pribadi. Biar polisi saja yang menyelesaikannya. (Sumber: AJNN.Net)


Singkil - Sejumlah kaum ibu di Desa Gunung Lagan, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil menyandera eskavator atau beko sebagai bentuk protes kepada Pemkab setempat. Warga menolak tanah mereka dipakai untuk pelebaran jalan.

Para kaum ibu ini meminta pihak rekanan agar mengentikan pengerjaan proyek pelebaran jalan sampai adanya putusan pengadilan terkait status tanah.

Warga juga menuding Pemkab Aceh Singkil tidak menghormati proses peradilan dan rekomendasi dewan yang meminta pekerjaan pelebaran Jalan Singkil- Rimo, di Desa Gunung Lagan dihentikan sementara.

Akibat aksi ini, puluhan personil Satpol PP dikerahkan ke lokasi. Namun warga tetap bersikeras tidak mau tanah mereka dipakai untuk pelebaran jalan. (Sumber: acehvideo.tv)

Tim Polres Aceh Timur mengamankan Sayuti, tersangka pembunuh Nek Fatimah.
Aceh Timur - Polisi akhirnya berhasil menangkap tersangka pembunuh Nek Fatimah. Tersangka Sayuti alias Grandong,  23 tahun, warga Pante Panah, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, diringkus oleh polisi di Medan, Sabtu, 2 April 2016, sekitar pukul 15.00 WIB.

Penangkapan dilakukan tim Resmob  Polres Aceh Timur dipimpin Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu. Tersangka Sayuti kemudian dibawa ke Aceh Timur untuk proses penyidikan lebih lanjut.

"Penangkapan ini berawal dari laporan pengaduan terkait kasus pembunuhan itu kemarin. Pelaku melakukan pembunuhan dengan cara masuk ke dalam rumah korban dari pintu belakang. Pelaku mencekik korban sampai meninggal dunia, kemudian diikat tali di bagian leher korban. Pelaku juga menjarah harta korban seperti cincin dan kerabu," ujar Kapolres Aceh Timur melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu kepada portalsatu.com via telpon seluler.

AKP Budi menyebut semua harta korban yang diambi oleh tersangka—dan kini menjadi barang bukti—masih utuh atau belum sempat dijual. "Barang bukti berupa dua cincin seberat lebih kurang 3 mayam," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Fatimah atau Nek Faimah, 65 tahun, ditemukan meninggal dunia dalam kamar rumahnya di Gampong Pante Panah, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Jumat, 1 April 2016 sekitar pukul 08.30 WIB. Keluarga menduga korban tewas karena tindak kekerasan.

"Saya dapat informasi dari salah satu tetangga, bahwa tadi pagi wawak dibilang sudah meninggal. Secara pribadi saya tidak yakin karena kondisi wawak kemarin sore masih sehat saat bertemu dengan saya sekitar pukul 18.00 sore," ujar Jamaliyah, salah satu kerabat korban ketika diwawancarai portalsatu.com di ruang UGD RSU Zubir Mahmud

Jamaliyah mengaku terpukul dengan musibah tersebut. Dia menduga korban meninggal karena dibunuh. Pasalnya saat ditemukan, di leher Fatimah terdapat seutas tali.  "Seperti tali jemuran. Kemudian seluruh isi kamar sudah berantakan, setelah itu cincin yang wawak pakai sudah hilang di jarinya, kemudian juga pintu belakang rumah terbuka," kata Jamaliyah.

Korban selama ini hidup sebatang kara di rumah tersebut. Suaminya sudah lama meninggal dunia. Fatimah memang memiliki anak, tetapi jarang sekali pulang menjenguk ibunya. "Anaknya itu jualan di Keude Karona dan sudah berkeluarga," kata Jamaliyah.(Sumber: portalsatu.com)

Ilustrasi
StatusAceh.Net - Oknum perwira Kodam IV/Diponegoro berpangkat Kapten dilaporkan ke Detasemen Polisi Militer IV-5 Semarang oleh Sudaryono (52) warga Ngesrep, Banyumanik, Semarang, atas dugaan penganiayaan terhadap warga sipil tersebut.

Sudaryono yang ditemui saat melapor ke Detasemen Polisi Militer IV-5 Semarang, Sabtu (02/04/2016), mengatakan, penganiayaan terhadap dirinya, anak perempuannya, serta dua teman anaknya itu bermula dari tabrakan mobilnya dengan mobil terlapor di depan SPBU Ngesrep pada Jumat (01/04/2016) malam.

"Saya dan anak saya melaju dari arah barat, terlapor dari arah timur naik mobil BMW," katanya.

Sudaryono mengetahui laju mobil terlapor dengan posisi berlawanan dengan kondisi oling.

Ia kemudian berusaha mengurangi laju kendaraan sebelum akhirnya ditabrak dari depan.

"Mobil BMW itu melaju oling agak ke tengah, tiba-tiba langsung menabrak dari depan," katanya.

Sudaryono kemudian keluar mobil untuk meminta pertanggungjawaban pengemudi BMW merah marun bernomor polisi H 7648 WG tersebut, sementara mobil pajero yang dikendarainya dibawa menepi oleh putrinya Ajeng Sarinastiti (24).

Ketika meminta pertanggungjawaban pengemudi BMW yang diduga sebagai perwira provost Kodam IV/Diponegoro berinisial NH tersebut, Sudaryono mencium bau minuman keras.

"Kemungkinan besar mabuk," tambahnya.

Saat meminta pertanggungjawaban itu, korban tiba-tiba dipukuli dua orang berbadan tegap yang mengawal mobil BMW tersebut.

Tak hanya memukul Sudaryono, kedua pelaku juga menganiaya Ajeng serta dua temannya yang kebetulan melintas dan berusaha membantu.

Setelah menganiaya, terlapor bersama dua pria yang diduga anak buahnya tersebut kemudian langsung kabur.

Dari hasil penelusuran ke kantor Samsat diketahui BMW bernomor polisi H 7648 WG milik NH warga Asrama Brigif 5 Banyumanik.

Dalam laporannya, terlapor juga menyertakan hasil visum dari rumah sakit.

Para korban mengalami luka di wajah akibat penganiayaan itu.

Terpisah, Kepala Penerangan Kodam IV/ Diponegoro Kolonel Zainul Bahar yang dikonfirmasi belum menerima laporan penganiayaan tersebut.

"Coba saya cek dulu. Biasanya sudah diteruskan ke komandan satuannya," katanya.

Ia mempersilakan korban yang merasa dirugikan meneruskan perkara itu ke ranah pidana.(RIMA)

Oleh: Amriadi Al Masjidiy*
“Religiophobia merupakan ketakutan, kecemasan yang mengada-ada dan tidak berdasar, kepada agama, pemeluk agama dan atau organisasi agama. Mengaku masih beragama, tapi menolak bagian-bagian dalam agamanya yang tidak dia suka, bergegas mengambil bagian jika dia cocok.”

Istilah ini pertama kali saya temukan di page Tere Liye seorang novelis yang terkenal didunia sastra.

Mungkin kita pernah mendengarkan istilah “pemimpin kafir lebih baik dari pada pemimpin muslim tapi korup.” Hal ini tentu masuk dalam kategori ini, mereka menjelek-jelekkan tokoh Islam, yang ini ngomong doang dan yang ini korup, yang itu tidak mencerminkan keagamaannya dan seterusnya, yang intinya tokoh Islam, dan atau organisasi Islam itu jelek.

Supaya lebih simpel dipahami lagi saya ambil contoh baru-baru ini. kalau anda sering membaca media pasti kenal dengan isu Ahok, Yusril, Sandiaga Uno dan lain-lain. Ketika bicarakan Yusril mungkin sebagian kita langsung mengatakan “itu pengacara yang membela para korup, padahal buktinya tidak ada. Kalau ada pun statusnya pun masih “terduga”, namun buru-buru dibully.

Mencari kesalahan yang tidak wajar sebut saja dia memamerkan istrinya tanpa jilbab. Padahal itu biasa-biasa saja, namun karena dia membawa syariat Islam langsung bullying bertubi-tubi datang.

Ketika kita bahas Sandiaga Uno, ini juga sering dituduh sebagai mafia elit ada dibelakangnya.

Dan masih banyak lagi yang phobia terhadap tokoh politik Islam. Namun ketika anda mendengar nama Ahok dia langsung bilang keren karena berani mencaci maki rakyat bisa lihat video berikut. (https://www.youtube.com/watch?v=KN99w1MhHHI) Walaupun masih demikian sang Ahok masih mendapatkan pujaannya dari orang-orang yang phobia tadi. Mengaku beragama Islam tapi membuang bagian-bagian yang dia tidak suka dalam Islam itu.

Kepada bang Tere Liye terima kasih atas istilah Religiophobia, karena istilah simpel untuk
diingat. Jika hal ini tidak terjadi maka salah prediksi Rasulullah saw. yang menyatakan umatku bagaikan buih di lautan pada akhir jaman. Dan kini telah terbukti kebenaran Rasulullah saw.

Religiophobia yang terjadi saat ini, nabi kita Muhammad saw. telah memprediksikan semuanya.

Dan ini sebagai mukjizat nubuat Rasulullah saw. kepada umatnya yang hidup diakhir zaman.

Semoga kita segera tersadarkan, bahwa kita sekarang berada dipenghujungan umur dunia. Kita membela atau tidak Islam pasti akan menang dan jaya karena hal ini telah jelas dalilnya telah terbukti kejadiannya.

Dengan demikian tersentuh hati kita untuk tidak mengatakan “pemimpin kafir lebih baik dari
pada pemimpin muslim tapi korup.” Karena hal ini bisa Religiophobia, yang seolah-olah semua pemimpin muslim adalah korup yang mengharuskan untuk memilih pemimpin kafir. Dan hal ini bisa juga berakibat fatal, para akwat akan mengatakan suami kafir lebih baik dari pada suami muslim tidak setia dan seterusnya. Hal ini juga berlaku pada hal aqidah lain-lainnya.

*) Pemerhati isu-isu media.

Koordinator MaTA, Alfian. Foto:Ist
Banda Aceh - Kasus di RSIA yang telah merenggut nyawa seorang ibu dan bayi dalam kandungan dengan dugaan awal membiarkan pasien tanpa penanganan cepat, penting sekali dilakukan audit kinerja, sehingga publik mengetahui masalahnya dimana dan siapa yang seharusnya bertangungjawab dalam pelayanan terseut sehingga pasien tidak diterlantarkan begitu saja.

Gubernur Aceh harus serius menyikapi kasus ini sehingga tidak terulang kembali. Audit kinerja bisa Gubernur lakukan dengan meminta secara langsung kepada BPK RI Perwakilan Aceh atau Inspektorat Aceh. Selama dilakukan audit, publik dapat mengawasinya sehingga hasil audit yang dihasilkan nanti dapat terjawab atas harapan publik.

Kasus ini sudah menjadi perhatian publik Aceh saat ini, jadi Gubernur harus berani melakukan langkah yang serius. Jangan sampai kasus ini berakhir tanpa ketidakjelasan dan ini tantangan bagi Gubernur untuk membenah dan mengambil tindakan tegas terhadap siapa saja yang dinilai tidak bertangung jawab.

Selanjutnya hasil audit kinerja itu wajib diumumkan ke publik dan pemerintah wajib menindaklanjuti hasil audit tersebut sehingga publik mengetahuinya. Dimana kesalahan sebernarnya, kalau hanya melakukan pencopotan Direktu RSIA tidak cukup. Tapi dengan peristiwa ini, Gubernur juga perlu memastikan ke depan tidak terulang lagi.

Tidak ada negosiasi dalam membenah pelayanan publik, harus terukur dan standar melayani. Menyangkut polisi sedang melakukan penyelidikan dalam kasus dimaksud, MaTA meminta pihak kepolisian harus transparan, jangan ada yang ditutupi. Harus diusut siapa pun terlibat, karena ini soal hukum, rasa keadilan keluarga korban dan masyarakat. Jadi publik menunggu langkah dan hasil kerja polisi dalam mengungkapkan kasus tersebut secara adil.  

Dalam hal itu, salah satu yang penting dipastikan oleh penyidik polisi dalam pengungkapan kasus tersebu adalah apakah dr Ulfa pada saat kejadian tersebut benar-benar berhalangan hadir karena sakit menderita diare? Polisi penting memastikan pengakuan tersebut.[rill]

Oleh: Amriadi Al Masjidiy*
Dari beberapa tulisan saya di media online sebelumnya, banyak mendatangkan pertanyaan mengenai Bank Sampah. Mulai dari sistematika sampai ke legalitas menjadi pertanyaan mereka. Pada kesempatan kali ini saya hanya membahas sebagian dari pertanyaan-pertanyaan mereka terhadap Bank Sampah.

Rujukan yang saya gunakan disini adalah Bank Sampah Pelopor Mandiri yang dulunya dikenal dengan Bank Sampah Safa Mandiri. Bank Sampah itu merupakan suatu system pengelolaan sampah secara kolektif yang mendorong masyarakat untuk berperan aktif di dalamnya.

Di Bank Sampah kita mengelola dan mengolah sampah menjadi berkah menghilangkan masalah. Menurut kami di Bank Sampah Pelopor Mandiri Sampah itu sebagai Aset, komoditas, potensi, serta menjadikan sampah sebagai solusi. “Waste for Improvement, Trash for Emendation.”

Konsep Bank Sampah "Pelopor Mandiri" berbeda dengan Bank Sampah "konvensional" yang cenderung kapitalistik serta materialistik yang telah ada selama ini. Hal ini tentu berbeda dengan Bank Sampah yang berkarakter holistic dan semangat spiritual serta sosial (gotong royong) dan juga penerapan iptek tepat guna ramah lingkungan serta ramah finansial yang berupa sistem ekonomi kerakyatan anti ribawi.

Selama ini sampah selalu dipahami sebagai material yang tidak berguna. Padahal, Sampah dapat kita ubah menjadi berkah. Kita dapat menabung dengan menggunakan sampah untuk sekolah, menabung sampah untuk aqiqah, menabung sampah untuk khitanan, menabung sampah untuk qur’ban, menabung sampah untuk umroh dan menabung sampah untuk haji.

Sehingga bersama Bank Sampah kita dapat mewujudkan lingkungan menjadi bersih dan sehat serta sejahtera yang penuh dengan keberkahan. 

Menurut Unilever dalam buku “Sistem Bank Sampah…” ada 5 langkah sukses mendirikan Bank Sampah yaitu; Sosialisasi awal, Pelatihan teknis, Pelaksanaan sistem, pemantauan dan evaluasi serta pengembangan.

Sosialisasi awal yaitu memperkenalkan apa itu Bank Sampah kepada RT/RW dan warga
setempat agar bisa bersama mendirikan Bank Sampah. Setelah disetujui bersama lahkah

berikutnya pelatihan teknis yang berupa bagaimana sistem bank sampah?, bagaiman mengelola sampah?, bagaimana manajemennya?, bagaimana pembukuannya? dan seterusnya. Setelah pelatihan teknis Bank Sampah harus berjalan langsung, dengan membuat data registasi perserta, buku tabungan administrasi dan buku tabungan nasabah. Buku tabungan nasabah bisa juga tidak diperlukan jika dalam hal ini ada teknis IT yang bisa diakses langsung melalui Smartphone Nasabah dan tentu hal ini akan memudahkan. Dalam masalah ini bisa dilihat gambar diatas sebagai contoh dari Bank Sampah Pelopor Mandiri dan sudah barang tentu bisa disepakati sampah apa saja yang diterima atau tidak oleh bank Sampah.

Setelah Bank Sampah berjalan, jangan lupa untuk dievaluasi. Evaluasi bisa berupa pendapatan, bisa juga burupa masalah dengan lingkungan dan lain-lain. Jika mendapatkan  masalah tentu harus dicarikan solusi bersama dengan musyawarah. Untuk pengembangan bisa dengan mengurus legalitas koperasi, simpan pinjam dan unit usaha lainnya.

Mekanisme dalam Bank Sampah hanya menerima sampah yang telah terpilah dari rumah tangga, kemudian baru di setor kepada Bank Sampah dengan ditimbang jumlah sampah dan kemudian di catat dalam buku tabungan, baik dalam tabungan administrasi maupun dalam buku tabungan nasabah. Sampah yang sudah terkumpul dari nasabah silahkan untuk berkreasi, bisa berupa kerajinan tangan, kompos, energi dan juga tentunya bisa diangkut ke pengepul untuk dijual.

*) Pengurus Bank Sampah Pelopor Mandiri dan Team BOS Consulting Kota Bekasi (BOS- Berkah Oleh Sampah dan Berkah Olah Sampah)

Manajer Bergek, Iwan Setiawan. Suryadi KTB
Meulaboh – Organizer Korser Begek melalui CV. Aceh Mediatama Indonesia, mengatakan akan menggugat ke jalur hukum, Jika Pemerintah Aceh Barat melarang konser Bergek diadakan di kabupaten setempat.

Pernyataan akan mengugat pemerintah disampaikan CV. Aceh Mediatama Indonesia, Didi Maulana, Kamis (31/3/2016) kemarin usai beraudiensi ke DPRK Aceh Barat. Didi menyesalkan sikap DPRK mengeluarkan kebijakan dengan sepihak. Rekomendasi pelaranagan tanpa mengkonfirmasi pihak panitia. Dia mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

“Kami mempertanyakan DPRK apa dasar pelarangan ini, dan jika konser dilarang kami menggugat Pemerinta Aceh Barat ke jalur Hukum, saya sudah mendapat izin dari kepolisian’. Ujar Didi Maulana.

Sejauh ini, pelarangan konser tersebut sudah menjadi hasil Kesepakatan dari pertemuan DPRK Aceh Barat dengan ulama dan DPRK Aceh Barat telah resmi menggeluarkan Rekomomendasi Pelarangan diadakan Konser Bergek di Aceh Barat.

Korser yang rencana dilaksanakan Lapangan Cut Nyak Dien, Kecamatan Kaway XVI, dilarang DPRK karena dinilai dapat membawa dampak buruk terhadap penerapan syariat Islam di Aceh Barat.

“Minta Maaf Dek, Rekomendasi ini kami keluarkan berdasarkan hasil musyawarah DPRK Aceh Barat dengan tokoh-tokoh Ulama. Rekomendasi ini tidak bisa kami tarik lagi. Ini sudah menjadi harga mati. Sebut Ketua DPRK Aceh Barat Ramli SE, dalam pertemuan dengan manajemen Korser Bergek. [Sumber: acehtrend.co]

Aceh Timur - Fatimah (65) tahun ditemukan tewas di rumahnya, di Dusun Bahagia, Desa Pante Panah, Kec. Pante Bidari, Kab. Aceh Timur, Jum’at (01/04/16).

Jasad korban pertama kali ditemukan oleh Nurmala (40) warga tetangga yang sengaja datang ke rumah mengantar bubur. Sekitar pukul 07.00 WIB pagi tadi tersebut, Nurmala yang akrab disapa Mala menemukan rumah dalam kondisi sepi.

“Mala mengantar bubur, rumah dilihat dalam kondisi sepi. Pintu terkunci, namun, Mala masuk lewat pintu belakang yang memang sudah terbuka,” ujar Razali warga tetangga yang mengaku sempat dipanggil saat penemuan mayat Fatimah oleh Nurmala.

Dari keterangan Razali menjelaskan, tubuh korban ditemukan terlentang diatas ranjangnya sendiri dengan kondisi dijerat mengunakan tali dari kain yang diikatkan pada salah satu tiang ranjang. Warga juga menemukan, dimana, sejumlah isi lemari terburai keluar. “Sepertinya di acak-acak, seperti dicarikan sesuatu benda,” tambahnya.

Selain leher terikat (Terjerat), tangan dan kaki korban dikatakan mengangkang. Atas temuan tersebut, Nurmala dikabarkan shok dan berhasil meminta pertolongan warga sekitar.

Dugaan sementara, Fatimah merupakan korban penganiayaan dan pembunuhan. Dari keterangan Razali, Fatimah selama ini hanya tinggal sendiri dirumahnya, anak semata wayangnya telah berumah tangga dan tinggal ditempat sendiri.

Meskipun menjanda, korban dikatakan termasuk salah satu orang memiliki harta benda dilingkungannya. “Kami menduga korban dirampok,” tukas Razali, menambahkan, kejadian ini secapatnya dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

Hingga saat ini, tim indentifikasi Polres Aceh Timur sedang melakukan oleh TKP di tempat kejadian perkara tersebut. Penyelidikan ini turun disaksikan oleh ratusan warga yang hadir melayat ketempat korban.(Efendi/Beritalima.com)

Banda Aceh -- Proses seleksi calon anggota Komisi Informasi Aceh periode 2016-2020 yang dilakukan oleh Tim Seleksi KIA kini memasuki tahapan penting, yaitu masuk tahapan wawancara. Tahapan ini penting untuk dibuka dan publik bisa melihat serta mendengarkan tahapan tersebut secara langsung guna mengetahui calon-calon yang memiliki pengetahuan, wawasan dan keterampilan dalam tahapan tersebut.

Sebelumnya Tim Seleksi sudah melakukan verifikasi dan pengumuman calon yang lulus administrasi dan kemudian diikuti dengan tahapan ujian tulis, maka tahapan psikotes, dinamika kelompok serta wawancara menjadi fase yang sangat menentukan. Berdasarkan pengumuman Tim Seleksi pada Kamis, 31 Maret 2016, dari 52 peserta diumumkan 25 nama yang lulus ujian seleksi tertulis secara otomatis akan bersaing kembali secara ketat sehingga lulus pada tahapan uji psikotes, dinamika kelompok dan wawancara.

Mencermati hal tersebut, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mendesak Tim Seleksi KIA untuk membuka kepada publik tahapan penting tersebut, khususnya tahapan wawancara yang dilakukan langsung oleh Tim Seleksi. Ini sebagai upaya melahirkan Komisi Informasi Aceh yang dipercaya oleh publik, maka sudah sepatutnya proses wawancara yang dilakukan oleh Tim Seleksi juga dibuka kepada publik.  

Wawancara secara terbuka dipandang sangat penting untuk memastikan para calon yang nantinya akan lulus dan dikirimkan untuk mengikuti tahapan akhir yaitu uji kelayakan dan kepatutan (fit and propert test) di DPRA benar-benar calon yang memiliki kapasitas dan integritas yang baik. Sebagai Komisi yang dibentuk dengan semangat keterbukaan maka sudah sepatutnya pula Tim Seleksi membuka forum wawancara tersebut sebagai forum yang dapat dihadiri dan dipantau secara langsung oleh publik.

Dengan membuka kepada publik maka cara demikian merupakan upaya cerdas dari Tim Seleksi periode kali ini yang kemudian dapat memperkecil intervensi atau adanya calon Komisioner “titipan” dari pihak-pihak tertentu. Apabila ini dilakukan akan menjadi pembelajaran berharga bagi Aceh bagaimana mekanisme seleksi Komisioner yang dilakukan bukan “di ruang gelap” melainkan secara terbuka dapat dihadiri oleh publik.

MaTA berpendapat bahwa dengan sudah diumumkannya nama-nama calon yang lulus seleksi ujian tulis maka semakin kuat potensi terjadinya segala bentuk intervensi dari siapa pun yang dapat mempengaruhi keputusan Tim Seleksi hingga pada tahapan memastikan 10 hingga 15 nama kandidat yang akan diuji kelayakan dan kepatutatnya oleh Komisi I DPRA. Oleh sebab itu, penting bagi Tim Seleksi untuk membuka proses wawancara dimaksud sehingga publik juga dapat mendengar langsung tanggapan para calon atas masukan/tanggapan publik atas rekam jejaknya.

Kepada Tim Seleksi kami meminta untuk berani melakukan terobosan ini sebagai bagian untuk memastikan lahirnya para komisioner terbaik untuk menjadi punggawa KIA Periode 2016-2020 demi mewujudkan keterbukaan informasi di Aceh yang lebih baik ke depan.[Riil]

Kepala Puskesmas Armansyah.SKM.MSM sedang mengakat berkas keluar ruangan untuk merapikannya.
Nisam - Pasca  Dilantik, Armansyah.SKM.MSM yang  kini menjabat sebagai Kepala Puskesmas di kecamatan Nisam, Aceh Utara melakukan pembenahan dengan peningkatan disiplin para pegawai dan juga mengadakan hari Jum'at bersih di lingkungan Puskesmas tersebut.

Amatan Reporter StatusAceh.Net, Jum'at, 1 April 2016 sekitar jam 09:00 WIB, Armansyah sudah mulai menyiagakan para pegawai di Puskesmas dengan agenda gotong royong atau pembesihan di dalam ruangan dan juga lingkungan puskesmas di Nisam.

"Ini adalah agenda rutin setiap seminggu sekali dengan melaksanakan program Jum'at bersih,"ujarnya.

Armansyah yang dilantik pada tanggal 18 Maret 2016, ingin melakukan pembenahan dan juga membangun kedisiplinan termasuk pelayanan bagi masyarakat Nisam, baginya sekarang Nisam adalah rumahnya, dan kesehatan masyarakat harus di utamakan.

Pemuda asal Kecamatan Dewantara tersebut terlihat sangat tegas dan mudah bergaul dengan pegawai di lingkungan Puskesmas.

"Saya akan bekerja semaksimal mungkin, memberikan pelayanan prima sesuai dengan standar SOP kepada masyarakat Nisam itu tugas saya, "ungkapnya.

Selain hal tersebut, Arman juga menjelaskan peningkatan pelayanan ambulance juga harus sesuai dengan standar yaitu 2x24 jam dengan sistem piket dan tanggung jawab penuh untuk menjemput an mengantar pasien yang membutuhkan.

Sementara terakait kinerja bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT), Arman menjelaskan sampai saat ini dari 29 gampong ada 25 bidan PTT yang tesebar di kecamatan Nisam bekerja dengan baik dan bisa melaksanakan tugasnya dengan aturan.

"InsyaAllah, bidan PTT saat ini berkerja dengan baik dan juga melaksanakan tugasnya sesuai aturan,"tambahnya.(*)

Foto kegiatan Juma'at Bersih: 








Laporan: Bustami

Kapolda NAD Irjen Pol Husein Hamidi  
Aceh Tamiang- Kapolda NAD Irjen Pol Husein Hamidi Tegaskan situasi keamanan Lapas kuala simpang Kab. Aceh Tamiang telah berhasil dikendalikan dan aman.

(Baca: Dipicu Kalapas Keluarkan Kata Kotor,Ratusan Napi Kuala Simpang Mengamuk Tuntut Kalapas Di Copot)

Dimana sebelumnya sejak pagi Jumat (01/4/2016) pukul 09:00 WIB ratusan narapidana di lapas tersebut mengamuk serta merusak sejumlah fasilitas lapas yang berujung pembakaran. Bahkan para napi juga menuntut Plt Kalapas di copot dinilai telah mengeluarkan kata kotor untuk napi.

“ LP Kuala Simpang sudah aman,situasi sudah terkendali setelah anggota kita jajaran polres Aceh tamiang terobos dan bubarkan kerumunan napi” ujar Kapolda Aceh kepada Reporter saat dihubungi Via Handphone selulernya Jumat (01/3/2016).

Menurut kapolda pihaknya telah menerjunkan ratusan personil aparat polres aceh tamiang bersenjata lengkap untuk mengendalikan situasi kerusuhan di LP Kelas IIB Kuala Simpang tadi pagi.

Selanjutnya kata husein,pihaknya akan melakukan penyelidikan dan mengusut motif kerusuhan yang berakibatkan pengrusakan maupun pembakaran sejumlah fasilitas lapas kuala simpang.

Sementara itu Plt Kalapas Kuala Simpang Tri Budi sampai berita ini dilansir belum dapat dihubungi oleh Reporter untuk melakuka  konfirmasi terkait kerusuhan para napi di LP Kuala Simpang hari ini.


Reporter: T. Sayed Azhar

Banda Aceh - Jelang penutupan masa pendaftaran peserta Pekan Pemuda Remaja Cinta Masjid Indonesia (PERTAMA) pada 5 April 2016, BKPRMI Banda Aceh kembali mengingatkan para Keuchik se Banda Aceh untuk membantu mengirimkan peserta utusan masjid dan meunasah yang ada di gampong, minimal tiga orang. Demikian ungkapan Ustad Mulia Rahman, MA selaku Ketua Panitia PERTAMA, Kamis (31/3) usai bersilaturrahmi dengan pihak Kemenag Banda Aceh.

Masa pendaftaran Pertama, sebut Mulia, berdasarkan surat yang beredar ke Kantor Keuchik se Banda Aceh,  berlangsung sejak 5 Februari hingga 5 April 2016. Untuk calon peserta PERTAMA sudah waktunya mendaftarkan diri. “Kuota peserta PERTAMA untuk Banda Aceh, kita berikan 270 orang, sedangkan jumlah peserta PERTAMA dari seantero Aceh, kita targetkan mencapai 330 orang,” sebut Mulia yang juga Instruktur Nasional BKPRMI tersebut.

Untuk pendaftaran peserta, sebut Mulia, syarat yang kita tentukan begitu mudah. Selain mengisi formulir PERTAMA, peserta juga disyaratkan memiliki keahlian tersendiri dalam pengembangan diri serta berusia 16 hingga 35 tahun. “Untuk setiap peserta kita syaratkan juga membayar infaq kegiatan. Bagi pemuda remaja masjid se Kota Banda Aceh, nilai infaq sebesar Rp. 100.000,-/orang sedang untuk pemuda remaja masjid seantero Aceh, infaq dikenakan sebesar Rp 250.000,-/orang,” ujar Ketua Panitia PERTAMA yang mengusung thema berhimpun memakmurkan masjid menuju model masyarakat marhamah.

Hal lain mengenai kepesertaan PERTAMA, Mulia berharap agar para Keuchik di Banda Aceh dapat membantu membiayai kepesertaan PERTAMA yang berasal dari gampong yang asal peserta. Sementara bagi pemuda remaja masjid se Provinsi Aceh yang ingin ikut serta diminta untuk berkoordinasi dengan BKPRMI Kabupaten dan Kota yang ada. “Kegiatan PERTAMA kita arahkan untuk memotivasi diri para pemuda dan remaja agar slalu mencintai masjid dan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ummat,” sebut Mulia menambahkan.

Sementara itu, Nazaruddin Ibrahim SE selaku SC PERTAMA, memastikan bahwa acara ‘cinta masjid’ tersebut akan berlangsung di 16 gampong yang ada di Kecamatan Meuraxa Banda Aceh. Acara PERTAMA akan dipadukan dengan rangkaian kegiatan Rakernas BKPRMI, Rakornas LPPDSDM dan Kegiatan LMD II Regional I Sumatera. “PERTAMA ini akan jadi ‘branded’-nya Kota Banda Aceh memakmurkan masjid yang bersinergi dengan kegiatan shubuh keliling DKMA, Safari Dakwah Dai Perkotaan serta acara kemasjidan lainnya,” jelas Nazaruddin mantan Anggota DPRA periode 2009-2014 lalu.
Menurut Nazar, sejumlah mata acara sedang dipersiapkan panitia. Termasuk pula persiapan akomodasi untuk peserta yang ditempatkan di rumah-rumah penduduk serta gedung aset gampong yang ada. “Secara kasat mata, persiapan sudah kian matang. Kita doakan tidak ada kendala apapun dalam acara PERTAMA 2016 ini,” sebut Nazar. (Rill)

Jakarta - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh ikut serta dalam pameran tahunan Deep & Extreme Indonesia yang dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata RI Arief Yahya, Kamis (31/3/2016) di JCC Plenary Hall Senayan Jakarta.

Setelah membuka pameran Deep & Extreme Indonesia, Arief Yahya beserta rombongan juga berkunjung ke sejumlah stand.

Ia memberikan apresiasi kepada stand Aceh yang tampil keren dengan suguhan kopi kepada pengunjung, ditambah lagi dengan ikon gunung Leuser yang menjadi ikon Aceh Tenggara.

"Standnya keren, suguhan kopi gratis kepada pengunjung juga menjadi daya tarik sendiri," sebutnya yang didampingi Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi.

Arief juga menyebutkan, pontensi keberagaman Aceh perlu dukungan dari masyarakat untuk mempromosinya.

"Aceh banyak memiliki keberagaman potensi wisata, khususnya ekowisata Gunung Leuser yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Perlu dukungan untuk terus melakukan promosi dan kesiapan masyarakat dengan adanya potensinya tersebut tentunya," jelasnya disela-sela mencicipi kopi Arabika Gayo.

Sementara itu, Kadisbudpar Aceh Reza Fahlevi juga berharap even pameran seperti Deep & Extreme ini bisa menjadi salah satu bentuk promosi potensi wisata di Aceh.

"Kita akan semakin serius dengan adanya even seperti ini, tentunya Aceh sebagai daerah tujuan wisata harus mampu didukung oleh semua elemen dalam rangka menarik minat wisatawan. Terlebih pembanguna prasarana, konektivitas, serta layanan harus sinergi kita berikan untuk mendukung promosi wisata di Aceh," tuturnya.

Tahun ini, Deep & Extreme Indonesia mengangkat tema keunggulan wisata alam dari masing-masing daerah yang memamerkan sejumlah destinasi yang berhubungan dengan aktivitas diving dan pertualangan.

Dalam pameran tersebut turut serta sejumlah tour operator dan penyedia layanan akomodasi, seperti Keliling Aceh, Gadeng Wisata, Zalyan Travel, Pasir Putih, Benggala, Pulau Weh Dive, Garuda Indonesia, The Pade Resort, Monster Divers, dan Tirta Rubiah Divers serta Soelthan Koffie.(Rill)

Ilustrasi
Kuala Simpang- Dikabarkan LP Kelas IIB Kuala Simpang Kab. Aceh Tamiang Rusuh,ratusan napi mengamuk didalam lapas,Jumat (01/4/2016) sekitar pukul 09:00 WIB.

Setelah pihak petugas lapas melakukan apel pagi dan membuka kamar hunian,tidak lama kemudian ratusan napi lansung berkumpul dilapangan dan  mengamuk.

Napi yang berjumlah ratusan mulai melakukan penyerangan terhadap petugas namun petugas berhasil menyelamatkan diri.

Informasi yang diterima BPN, Para napi mulai merangsek kearah halaman kantor lapas dan melakukan tindakan anarkis yakni melempari petugas dan fasilitas lapas.

Informasi yang berhasil diterima dari seorang petugas ratusan napi mulai melakukan pembakaran ruang kamtib lapas kuala simpang sedangkan pihak kepolisian saat ini telah berada diluar lapas kuala simpang belum berhasil masuk karena para napi melempari batu kearah petugas.

Mengamuknya ratusan narapidana di lapas kuala simpang dipicu oleh komunikasi Plt Kalapas yang tidak baik kepada narapidana  yakni mengeluarkan kata kotor kepada salah seorang napi.

Berawal kemarin Kamis (31/3/2016) salah seorang istri napi yang membezuk ingin membuang air kecil,saat ditunjukkan toilet oleh napi yang juga suaminya tiba-tiba dihardik oleh Plt Kalapas Tribudi dengan kata-kata kotor sehingga membuat napi tersebut dan lainnya  merasa tersinggung dan mengamuk.

Sampai berita ini dilansir kerusuhan napi masih berlansung dilapas kuala simpang,Ratusan napi masih berkumpul dilapangan lapas meminta agar Plt Kalapas Tribudi di copot

Sementara itu kakanwilkumham Aceh Suwandi SH,MH membenarkan kerusuhan sedang berlansung dan dirinya sudah mendapatkan laporan.

“ Ya,saya sudah mendapatkan laporannya,ini saya dan kedivpas serta pejabat kanwilkumham aceh dala  perjalanan dari banda aceh ke kuala simpang,kalau penyebabnya kita belum jelas lagi,nanti saya kabari ya” ungkap Suwandi yang mengaku sedang menuju lapas kuala simpang.

Reporter; T. Sayed Azhar

Ahmad Dani bersama Irwandi Yusuf ketika mendarat di Bandara Malikussaleh Aceh Utara.
Banda Aceh - Ketua Seuramoe Irwandi Pusat (Irwandi Yusuf For Aceh 1) menghimbau kepada para seluruh relawan di wilayahnya masing-masing untuk segera mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai antisipasi pencalonan Irwandi Yusuf sebagi Calon Gubernur Aceh 2017-2022 nantinya melalui jalur independen. 
 
Hal tersebut disampaikan Ahmad Dani kepada reporter StatusAceh.Net, Kamis, 31 Maret 2016, walaupun Irwandi Yusuf telah mendaftarkan diri melalui Partai NasDem belum tentu akan mencalonkan diri dari partai tersebut. 
 
"Saya cuma menghimbau kepada para seluruh tim relawan untuk mengumpulkan KTP khususnya bagi masyarakat yang mendukung Irwandi Yusuf, ini sebagai antisipasi kalau nantinya mencalonkan diri melalui jalur independen,"ujarnya. 
 
Dani mengharapkan kepada para relawan untuk tidak memaksa masyarakat atau menipu masyarakat dengan berbagai janji apapun disaat meminta kartu indetitasnya, bagi tim relawan yang berada di wilayah kabupaten dan kota masih diharapkan bekerja keras semaksimal mungkin dengan penuh keikhlasan dan kejujuran tanpa membohongi masyarakat untuk mengumpulkan KTP. 
 
Menurut Dani, Irwandi Yusuf sampai saat ini belum menyampaikan bahwa dirinya akan mencalonkan diri melalui jalur independen, tapi bagi relawan harus mempersiapkan hal-hal yang diperlukan nantinya sebagai bentuk antisipasi, jika jalur politik berubah, sudah tentu Irwandi Yusuf harus mendaftar melalui jalur independen. paling tidak kita harus memenuhi jumlah persen KTP yang di butuhkan oleh pihak penyelenggara Pilkada Aceh, karna hal tersebut merupakan salah satu syarat untuk bisa lolos melalui jalur tersebut. 
 
"Sampai saat ini belum ada sinyal tentang keputusan tersebut, tapi ini sebagai bentuk persiapan tim relawan jika nantinya Irwandi Yusuf memilih jalur Independen,"tuturnya. 
 
Laporan: Bustami

Kelompok Abu Sayyaf
StatusAceh.Net - Kepulauan di bagian selatan Filipina adalah rumah untuk pantai pasir putih nan indah dengan penduduk yang ramah tamah.

Seharusnya kawasan ini menjadi tempat indah untuk berwisata, tetapi pemerintah Australia malah melarang warganya pergi ke sana setelah seorang warganya bernama Warren Richard Rodwell diculik pada 2011 oleh kelompok Abu Sayyaf.

Kelompok ini kemudian mengeluarkan tuntutan uang tebusan dan setelah 15 bulan disandera, Rodwell akhirnya dibebaskan.

Pada 2014, sepasang warga Jerman juga diculik oleh Abu Sayyaf. Tahun lalu, empat orang yang terdiri dari dua pria Kanada, seorang Norwegia dan seorang Filipina juga diculik saat liburan. Sudah enam bulan mereka dalam penculikan.

Setelah itu, kelompok yang sama memenggal seorang sandera asal Malaysia.  Pekan lalu, mereka membajak kapal pengangkut batu bara dari Indonesia dan menculik sepuluh WNI di dalamnya, lalu sebagaimana biasa, meminta uang tebusan.

Menurut news.com.au, Abu Sayyaf biasa menculik orang demi mendapatkan uang tebusan. Tujuannya adalah untuk mendanai perang guna mendirikan sebuah provinsi Islam di Filipina.

Laman media utama Australia itu melanjutkan, Kelompok Abu Sayyaf adalah adik bayi dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tapi tidak pernah diketahui siapa pemimpinnya.

Menurut Profesor Mark Turner dari Universitas NSW, Canberra, Kepulauan Abu Sayyaf beroperasi di daerah-daerah tidak bertuan, nyaris tanpa hukum.  Di daerah tak bertuan ini, senjata begitu mudah didapatkan.

Sejak kemunculannya pada awal 1990-an, Abu Sayyaf dikaitkan dengan Alqaeda. Tapi tahun lalu mereka bersumpah setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

"Pada 1990-an, kelompok ini dimotivasi oleh agama dengan ingin mendirikan khilafah," kata Profesor Turner seperti dikutip news.com.au.

Turner melanjutkan, "Namun tujuan mereka itu semakin hari semakin tidak jelas. Mereka malah menjadi terkenal karena menculik orang."

Menurut Turner, tujuan utama Abu Sayyaf adalah uang dan tidak lebih dari bandit. Mereka akan terus tawar menawar soal uang tebusan sampai mereka setuju. Namun mereka tak segan mengeksekusi sandera jika tuntutan tak terpenuhi.

"Negosiasi biasanya dimulai dari harga perdana yang diminta Abu Sayyaf yang besar sekali, tapi lewat negosiasi harga bisa turun," kata Turner. Namun dasar kesepakatan mengenai harga kerap tidak pernah jelas.

Warren Rodwell sendiri akhirnya dibebaskan setelah melewati negosiasi panjang yang juga akhirnya menurunkan nilai uang tebusan yang diminta Abu Sayyaf.

Awalnya Abu Sayyaf meminta uang tebusan sebesar 2 juta dolar AS kepada keluarga Warren Rodwell.  Akhirnya setelah lama disandera Rodwell dibebaskan dengan uang tebusan jauh lebih rendah, yakni 100 ribu dolar AS.

Dari fakta itu, Turner yakin kesepuluh WNI yang diculik Abu Sayyaf akhirnya dibebaskan tanpa luka sedikit pun.

Cuma itu bisa saja memerlukan waktu bertahun-tahun, kata news.com.au. (rol/konfr)

Ilustrasi pengawasan laut Aceh
Banda Aceh - Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkum HAM) Aceh berupaya memperkuat pengawasan orang asing melalui pemerataan pembentukan tim Pengawasan Orang Asing (Pora) dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkum HAM Aceh Samadan, di Meulaboh, Kamis, mengatakan, dari enam Kantor Imigrasi membawahi 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh semuanya telah terbentuk tim Pora, hanya saja masih ada yang belum lengkap.

"Pemantauan orang asing kita lakukan bisa secara administratif, bisa juga operasi lapangan. Kemudian pada daerah kepulauan terluar yang belum ada kantor dan petugas Imigrasi seperti Simeulue, itu diperkuat dengan tim pora,"katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan usai rapat tim pora Kabupaten Nagan Raya di Kantor Imigrasi Kelas II Meulaboh yang dihadiri seluruh perwakilan instansi terkait dalam rangka memperkuat koordinasi tim pengawasan orang asing di Aceh.

Samadan menyebutkan, sejauh ini keberadaan orang asing terbanyak berada di Kota Banda Aceh karena merupakan pusat ibu kota provinsi sekaligus pusat pendidikan, sehingga kalangan yang mendominasi adalah kunjungan pelajar asing.

Dia memperkirakan jumlah orang asing terdaftar berada di Aceh hingga Maret 2016 capai 1.000 orang, 300 diantaranya di wilayah Banda Aceh sementara wilayah kerja Imigrasi kelas II Meulaboh hanya berkisar 18 orang.

"Tapikan tidak semua orang asing datang ke Aceh itu terdaftar di kantor Imigrasi, kalau asing datang ke Indonesia melalui jalur resmi Bandara Soekarno-Hatta misalkan, jadi mereka tidak ada kewajiban melapor kemari,"jelasnya.

Didampingi Kepala Kantor Imigrasi Kelas II-B Meulaboh Ian F Markos dijelaskan, keberadaan orang asing di pulau terluar Aceh seperti Kabupaten Simeulue karena memiliki potensi wisata, demikian juga kabupaten lain yang memiliki nilai jual strategis yang membuat orang asing datang berkunjung.

Dia mengakui aktivitas orang asing setiap hari tidak sepi di provinsi paling ujung barat Indonesia itu, akan tetapi dengan kehadiran mereka tidak harus diasumsikan negatif, bila berwisata dan membantu pengembangan ekonomi pasti diterima.

Terlebih lagi di tengah era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pemerintah pusat telah membuka cran dan memberi kemudahan akses kunjungan wisatawan masuk, namun kondisi itu juga tetap disesuaikan menurut Undang-Undang keimigrasian.

"Yang harus kita antisipasi adalah kegiatan menyimpang dari Undang-Undang Keimigrasian, karena itu kita berharap tim pora ini terus melakukan koordinasi secara berkelanjutan dan tim pora kita targetkan terbentuk dan lengkap menjangkau semua seluruh kawasan,"katanya menambahkan.(OKZ)

kelompok Abu Sayyaf
Jakarta - Pemerintah Filipina menolak tawaran bantuan militer dan polisi Indonesia untuk operasi penyelamatan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso menilai, penolakan itu karena tingginya harga diri Filipina.

"Ya mereka mungkin harga diri, reputasi jadi pertimbangan segala macam," kata Sutiyoso di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (31/3/2016).

Menurut dia, ada kemungkinan, Indonesia akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Filipina. Sebelumnya, Armed Forces of The Philippines (AFP) beralasan, angkatan bersenjata negara lain tak bisa masuk ke negaranya tanpa perjanjian khusus.

"Ya, kalau ada penyanderaan di sini ya kita selesaikan sendiri, makanya itu perlu koordinasi," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Namun, pasukan elite Angkatan Laut Detasemen Jalamengkara (Denjaka) dan kapal perang telah disiapkan untuk membebaskan 10 WNI awak kapal Brahma 12 yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina.

Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan, jajarannya menerima komando dari Panglima TNI untuk menyiapkan kapal.

"(Denjaka) Ada. Kegiatan ini sudah direncanakan Mabes TNI. Kami mengikuti instruksi Panglima TNI," kata Ade Supandi di Padang, Rabu 30 Maret 2016.(liputan6.com)

Nelayan asal Aceh Tamiang dalam penahanan pemerintah Malaysia. Foto: istimewa
StatusAceh.Net - Panglima Laot Aceh Miftahuddin meminta maaf. Dia mengaku salah saat mengatakan nelayan Aceh yang ditangkap di Malaysia adalah penyelundup. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan itu bukan ditujukan kepada empat nelayan yang ditangkap di Malaysia.

Menurut Miftahuddin, tudingan penyelundup itu ditujukan kepada sejumlah orang yang mengaku nelayan di kawasan Aceh Tamiang, Langsa dan Aceh Timur. Padahal mereka, kata Miftahuddin, adalah penyelundup bawang merah.

“Saya minta maaf. Informasi mengenai tertangkapnya nelayan itu telat saya terima,” kata Miftahuddin kepada AJNN, Kamis (31/3).

Sebelumnya, Miftahuddin mengatakan keempat nelayan tradisional asal Aceh Tamiang yang ditangkap pihak berwenang Malaysia belum tentu nelayan. Menurut dia, status Jasliandi (36), M Yamin (26), Aditia (23), dan Abdullah (17), harus bisa saja hanya sebagai penyelundup barang.

“Belum bisa dipastikan (mereka) nelayan atau bukan. Mereka menangkap ikan, kemudian terseret arus. Seharusnya mereka membawakan alat cukup pada saat menangkap ikan,” kata Miftahuddin.

Pernyataan ini menuai kecaman. Keluarga Jasliadi, kepada Ketua Badan Perwakilan KNPI Malaysia, Muhammad Yasar, mengatakan kecewa dan sedih atas pernyataan miring tersebut. Yasar juga mengatakan pernyataan itu dapat merunyamkan upaya hukum yang kini tengah dirintis Pemerintah Aceh dan KBRI di Malaysia. (*)

Baca selengkapnya di AJNN.NET

Jakarta - Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah bersama Wali Nanggroe Malik Mahmud Alhaytar, Kamis (31/3/2016) bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi, Mustafa Ibrahim Al Mubarak di Kedubes Arab Saudi Jakarta.

Secara khusus Dubes Mustafa Ibrahim bahkan mengajak Gubernur Zaini Abdullah naik ke mobilnya, saat menuju Kantor Kedubes Saudi Arabia di Jalan HR. Rasuna Said, selepas menghadiri acara di Aula Kantor Kementerian Agama.

Wali Nanggroe bersama rombongan Aceh lainnya yang juga hadir pada acara serupa, kemudian naik mobil terpisah menuju kantor Kedubes Arab Saudi. .

Perbincangan dengan Dubes Saudi antara lain menyinggung soal pengibaran bendera bulan bintang di Arab Saudi beberapa waktu lalu. (Sumber: serambinews.com)

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah bersama Asisten III Pemerintah Aceh, Syahrul bertemu Direktur RSIA, drg. Erni Ramayani saat melakukan inspeksi mendadak di Rumah Sakit Ibu dan Anak, Banda Aceh, Rabu (30/3).
Banda Aceh – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, berjanji akan menindak tegas jika dalam penyelidikan terbukti terjadi kesalahan atau kelalaian medis yang mengakibatkan meninggalnya pasien Suryani beserta anaknya, Selasa (29/3) lalu.

Hal tersebut disampaikan oleh Pria yang akrab disapa Doto Zaini itu, saat melakukan inspeksi mendadak ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh, (Rabu, 30/3/2016).

“Jika ada kesalahan ataupun kelalaian medis, pasti akan kita tindak dengan tegas,” ujar Doto Zaini.

Gubernur akan segera meminta kronologis kejadian kepada pihak rumah sakit mengenai ihwal meninggalnya Suryani  beserta anaknya serta dan status medis yang bersangkutan.

 “Ini kejadian sangat fatal yang mengakibatkan ibu dan anak meninggal, harus ada yang bertanggung jawab,” ujar gubernur tegas.

Tiba dirumah sakit pada jam 11 pagi, Zaini Abdullah langsung meninjau ke ruang bersalin, di mana pasien sempat dirawat sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Zainal Abidin dan meninggal dunia bersama anaknya setelah operasi.

Gubernur Zaini mengungkapkan, dirinya mendapat informasi yang simpang siur terkait kejadian tersebut. Oleh karena itu, Gubernur meminta Direktur RSIA bersama tim medis untuk menyusun data medis dan kronologis yang akurat sehingga dapat diketahui letak permasalahannya.

Gubernur yang hadir bersama Kepala BKPP Aceh, Drs. Zulkifli Ahmad, Asisten Administrasi Umum, Syahrul, SE, M.Si, Kadispora Aceh, Dr. Iskandar Zulkarnain dan sejumlah SKPA lainnya langsung mengadakan pertemuan tertutup bersama direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak, Erny Ramayani.

Dari pertemuan tersebut diperoleh informasi bahwa pasien meninggal karena penanganan medis yang terlambat.

“Kita akan lihat apa tindakan yang harus kita lakukan setelah penyelidikan, kita akan lihat sebab dan musabab meninggalnya pasien” kata Zaini Abdulah. (Rill)

Gubernur Aceh, dr. H. Zaini Abdullah bersama Asisten III Pemerintah Aceh, Syahrul bertemu Direktur RSIA, drg. Erni Ramayani saat melakukan inspeksi mendadak di Rumah Sakit Ibu dan Anak, Banda Aceh, Rabu (30/3).
Banda Aceh -- Gubernur Aceh, dr. H. Zaini  Abdullah, menyebutkan, penerapan hokum jinayah dapat menurunkan kejahatan. Hal itu telah terbukti di beberapa Negara, seperti di Arab Saudi. Karena itu, gubernur meminta, Mahkamah Syariah Aceh dapat menerapkan hukum jinayah secara tegas.

“Kita akui mungkin masih perlu penyempurnaan. Karena itu pemikiran dan inovasi hakim di Mahkamah Syariah sangat kita nantikan,” kata gubernur dalam sambutan yang dibacakan Asisten I Sekretariat Daerah Aceh, Dr. Muzakkar A. Gani, S.H, M.Si., di acara pengambilan sumpah dan pelantikan jabatan tujuh Ketua Mahkamah Syariah Kabupaten dan Kota di Aula Mahkamah Syariah Aceh, Rabu (30/03).

Gubernur atas nama Pemerintah Aceh mengucapkan selamat atas pelantikan tersebut. Gubernur berharap, dengan promosi jabatan itu dapat mendorong semakin tegaknya syariat Islam di Aceh.

Ketujuh Ketua Mahkamah Syariah Kabupa/Kota adalah Drs. A. Karim, yang diangkat sebagai Ketua Mahkamah Syariah Takengon, Dr. Jakfar S.H., M.H., sebagai Ketua Mahkamah Syariah Sigli, dan Drs. H. Bakti Ritonga, S.H., M.H., sebagai Ketua Mahkamah Syariah  Kuala Simpang. Sementara Drs. Zulfar diangkat sebagai Ketua Mahkamah Syariah Kita Sabang, Drs. Khoiruddin Harahap M.H., sebagai Ketua Mahkamah Syariah Bireun, Drs. Indra Suhardi, M. Ag., sebagai Ketua Mahkamah Syariah Tapaktuan dan Drs. Said Safnizar, M.H., sebagai Ketua Mahkamah Syariah Idi Aceh Timur.

Ketua Mahkamah Syariah Provinsi Aceh,Drs. H. Jufri Ghalib, S.H., M.H., menyebutkan para pimpinan yang baru dilantik mengemban tanggungjawab menjaga Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta syariat Islam. Mereka diwajibkan untuk bekerja untuk kesejahteraan rakyat.

"Anda dilantik di hadapan para saksi. Di samping disaksikan diri sendiri dan yang hadir, ini juga disaksikan oleh Allah yang Maha Esa. Tuhan mengetahui apa yang tampak dan yang tersimpan dalam hati. Tanggungjawab anda kepada manusia dan Allah," ujar Jufri Ghalib berpesan kepada para Ketua Mahkamah Syariah Kabupaten/Kota. "Anda semua haruslah jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan," ujarnya lagi.

Selain melantik tujuh ketua baru, di aula Mahkamah Syariah juga digelar acara seremoni pengantar tugas Wakil Ketua Mahkamah Syariah Provinsi Aceh, Drs. H. M. Jamil Ibrahim S.H., M.H., MM., yang akan diangkat menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Agama Manado.

Jufri Ghalib, menyebutkan para hakim tinggi yang pernah bertugas di Mahkamah Syariah punya peluang dan kesempatan untuk menjadi wakilnya menggantikan M. Jamil. "Tentunya harus lulus fit and properties."

Pindahnya M. Jamil diakui sebuah kehilangan besar bagi Mahkamah Syariah Aceh.  "Keluarga besar (MS) kehilangan satu tiang besar yang menopang berdiri kokohnya Mahkamah Syariah Provinsi Aceh. Hari ini kita tinggal tonggak," ujar Drs. Rafiuddin S.H, M.H, Hakim Tinggi Mahkamah Syariah  memberi kiasan.

M. Jamil yang dipindahtugaskan menjadi Ketua Pengadilan Tinggi Manado dikenal sebagai sosok yang murah senyum, dan tak pernah marah. Rafiuddin menyebutkan, sebagai karib dan rekan kerja, M. Jamil meninggalkan kesan indah selama berkarir di DS Aceh. Sosok M. Jamil dikenal suka berpantun. Pada akhir pengantar tugas tersebut, Rafiuddin menghadiahi M. Jamil dengan beberapa bait pantun.

M. Jamil menyebutkan, sebagai pegawai negeri, mutasi dinas tersebut adalah tugas dan pegawai wajib mengikuti. "Banyak faedah dan hikmah dari hijrah ini. Dengan hijrah ini semoga saya bisa melahirkan pribadi yang lebih bersih," ujar M. Jamil. (Rill)

Ketua TP PKK Aceh, Hj. Niazah A. Hamid, menyaksikan penyerahan alat peraga dari Dr. Nurfishah kepada Direktur TNCC sebagai pusat Educational Theraphy saat mengikuti Seminar Anak Berkebutuhan Khusus yang di selenggarakan The Nanny Children Center di Sultan Selim II Banda Aceh, Rabu (30/3)
Banda Aceh - Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berhak memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa normal lainnya sehingga mereka dapat mengembangkan potensi diri secara optimal dengan pola pendidikan inklusi yang telah dikembangkan oleh Pemerintah.

Hal tesebut disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Aceh, Hj. Niazah A. Hamid saat membuka Seminar Internasional tentang Educational Therapy untuk anak yang berkebutuhan khusus di Gedung Aceh Community Centre (AAC) Sultan Selim II, Banda Aceh, Rabu (30/3).

Menurut Niazah, keberadaam sistem pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang selama ini diperuntukkan khusus kepada anak-anak berkebutuhan khusus atau difabel tanpa disadari telah membangun tembok pemisah antara anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya yang menikmati pendidikan umum seperti di SMU, SMK dan lainnya.

“Tanpa kita sadari, kehidupan anak-anak berkebutuhan khusus saat ini menjadi terpisah dengan masyarakat normal lainnya karena sistem pendidikan SLB telah menghambat terjadinya interaksi sosial mereka dalam masyarakat normal. Akibatnya, kelompok difabel menjadi komunitas yang terasingkan dari dinamika sosial di masyarakat,” ujar Niazah yang juga akrab dengan panggilan Ummi.

Kondisi ini menurut Ummi Niazah diperburuk dengan terkucilnya pergaulan anak-anak ABK yang keluarganya terkadang sibuk, sehingga perhatian kepada anak kurang maksimal dan menjadikan hubungan kurang harmonis antara orangtua dan anak.


“Banyak masyarakat dewasa ini malah merasa keberadaan ABK bukan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya sehingga perkembangan anak ABK ini kian terhambat,” katanya.

Untuk mencegah berkembangnya situasi seperti ini, Ummi Niazah berharap sistem pendidikan dengan pola inklusif yang telah dikembangkan oleh Pemerintah dapat menjadi solusi sehingga terjadinya proses transformasi pengetahuan tanpa hambatan-hambatan khusus kepada setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan.

Dengan adanya sekolah yang menerapkan pola inklusi, Ummi Niazah optimis masa depan anak berkebutuhan khusus akan lebih baik, karena sekolah ini membekali anak untuk bisa hidup mandiri dalam hidupnya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
 
Sekolah dengan pola pendidikan inklusif bukan saja dapat merubah persepsi masyarakat terhadap ABK, tapi juga dapat memecahkan hambatan lainnya seperti hambatan etnik, gender, status sosial, kemiskinan dan lain-lain,” kata Ummi Niazah.

Meski demikian, Ummi Niazah mengatakan pola pendidikan inklusi ini belum dapat berjalan dengan maksimal karena terbatasnya jumlah dan kapasitas guru ahli di bidang pendidikan inklusif.

“Akan tetapi, saya bersyukur mendengar ada beberapa seperti Yayasan Rumah Kita Indonesia dan The Nanny Children Center (TNCC) yang telah mencoba menerapkan bentuk educational therapy sebagai alternatif bagi orangtua, guru dan praktisi dalam mendidik anak  berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya terapi seperti ini, ia berharap dapat mendorong pola pendidikan inklusif berjalan efektif dan lebih mudah, sehingga peran keluarga dan sekolah menjadi lebih optimal dalam mendukung pola belajar anak.

Acara Seminar Internasional tentang Educational Therapy untuk anak yang berkebutuhan khusus tersebut turut menghadirkan pemateri dari ahli bidang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, Dr. Norfishah Mat Rabi dari Universiti Sain Malaysia dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai lembaga pendidikan anak-anak seluruh Aceh.(Rill)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.