2019-01-06

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

GORONTALO - Peristiwa miris kembali terjadi di Gorontalo, pandangan politik tidak hanya berimbas bagi orang yang masih hidup bahkan terhadap orang yang telah meninggal dunia sekalipun.

Seperti yang terjadi di Gorontalo, diduga karena beda pandangan politik pada pemilihan caleg anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango, dua makam atas nama Masri Dunggio dan Siti Aisyah Hamsah yang merupakan kakek dan cucu itu terpaksa dibongkar oleh keluarganya untuk dipindahkan ke pemakaman yang lain.

Peristiwa pembongkaran makam ini terjadi di Dusun II Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, (12/1/2019), sekitar pukul 07.20 Wita.

Pihak pemerintah setempat bersama Bhabinkamtibmas dan kepolisian telah berupaya untuk memediasi antara kedua belah pihak yang berselisih. Namun, upaya mediasi tersebut menemui jalan buntu. Akhirnya dua kuburan tersebut diputuskan tetap dibongkar.

“Dia bilang berulang kali, Kamu kalau tidak memilih Iriani, kuburan ini segara pindah dan ini saya pagar. Kalau tetap tidak mau pilih, ada lagi yang mati tidak bisa dikubur sini,” kata keluarga almarhum, Abdul Salam Pomontolo.


Adapun nama Iriani yang disebut pihak keluarga, menurut informasi yang himpun merupakan saudari ipar dari pemilik tanah pemakaman yang hendak mencalonkan diri sebagai Caleg DPRD Kabupaten Bone Bolango. | SINDOnews.com

Gunungsitoli - Pemerintah Kota Gunungsitoli, melalui Kepala Desa Miga bersama aparat Desa dan beberapa  masyarakat yang didampingi oleh pihak Kepolisian resort Nias dan kodim 0213/Nias bagian Kantimmas dan Babinsa, melaksanakan penertiban barang-barang milik saudari Venny Gan dihotel wisma soliga, kamis (10/01). 

Untuk diketahui, Venny Gan adalah saudari kandung dari Tuan Ir. Philip Gan yang mengaku-ngaku pemilik tunggal hotel wisma soliga tersebut, kamis (10/01).

Penertiban barang-barang milik Venny Gan tersebut didasari dari pelaporan Philip Gan kepada Pemerintah Desa Miga. Yang kemudian Pemerintah Desa Miga melayangkan surat resmi kepada Venny Gan tertanggal 08/01 perihal pemberitahuan pelaksanaan  penertiban. 

Sungguh miris, pasalnya, penertiban yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Miga tersebut diwarnai dengan adu mulut atas ketidak terimanya saudari Venny Gan sebagai pemilik barang,  yang menilai Kepala Desa Miga melakukan perbuatan melawan hukum yang menggunakan kewenangan atas jabatan yang diembannya secara sewenang-wenang, tutur Vennya Gan yang notabenenya adalah seorang ahli waris dari pertapakan hotel wisma soliga dimaksud. 

"Penertiban atas barang-barang saya tersebut yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Miga adalah secara semena mena, beda hal-nya jika barang-barang saya tersebut menganggu kepentingan umum, urusan rumah tangga orang semestinya Kepala Desa menjadi penengah dan menjadi contoh yang baik ditengah-tengah warganya, tidak benar jika tindakan yang diambil oleh pihaknya tersebut seolah semudah membalikkan telapak tangan, saya mencurigai sesuatu yang terselubung sudah menutupi mata dan akal sehatnya" ungkap Venny Gan dihadapan wartawan dengan nada sedih. 

Terpisah, Kuasa Hukum Venny Gan Aldika Wau, SH. MH, mengatakan Penertiban hari ini diluar dari persetujuan klien saya dan tidak pernah diberikan izin oleh Venny Gan, seiring dengan paksaan kehendak secara sewenang-wenang oleh Pemerintah Desa Miga maka kita akan menempuh jalur hukum, karena beliau adalah salah satu ahli Waris dari Gandra Quin yang notabenenya memiliki hak atas wisma soliga tersebut, terlebih dalam putusan pengadilan jelas bahwa wisma soliga dibagi tiga, maka dari itu klien saya  memiliki hak sepertiga dari wisma soliga dimaksud, tutup Aldika Wau Optimis.

Kepala Desa Miga Ali Indra Tanjung kepada saat dimintai tanggapannya kepada Pewarta Media ini By bahwa penertiban ini dilakukan atas pengaduan dari pemilik usaha hotel wisma soliga adalah Philip Gan. Dasar kita adalah surat izin usaha yang telah disampaikan kepada saya, dan barang barang ini hanya kita tertipkan dan kita masukkan ketempat  yang layak, tidak ada yang namanya pegerusakan. (RED)

StatusAceh.Net -  "Saya dilarang melakukan pelanggaran hukum. Menerbitkan media massa itu melakukan pelanggaran hukum atau tidak?"

Dua penggal kalimat itu diucapkan Setiyardi Budiono, mantan pemimpin redaksi Obor Rakyat, kepada Tirto, Kamis (11/01/), kala diminta tanggapannya soal ancaman Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Yasonna mengatakan jika Setiyardi melanggar hukum, pihaknya akan menyetop cuti bersyaratnya.

Yasonna geram lantaran Setiyardi berencana menerbitkan tabloid lagi. Setiyardi menerima cuti bersyarat sejak Kamis (03/01) dan bakal menjalaninya hingga 8 Mei 2019. Sebelumnya, dia menjalani hukuman penjara atas kasus pencemaran nama baik dan penghinaan terhadap Jokowi lewat Obor Rakyat di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Pada Mei 2014 alias dua bulan sebelum Pilpres dihelat, Obor Rakyat terbit dengan headline "Capres Boneka". Lewat muatannya, sebagaimana dijelaskan Adam Tyson dan Budi Purnomo dalam "President Jokowi and The 2014 Obor Rakyat Controversy in Indonesia" (2016, PDF), Obor Rakyat membingkai Jokowi sebagai boneka yang harus menjalankan perintah PDIP dan melayani kepentingan Megawati, Ketua Umum PDIP. Sebagian tulisan tabloid itu juga menuding Jokowi sebagai Muslim yang menyimpang; keturunan Cina dan simpatisan komunis. 

Banda Aceh - Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) menilai alokasi anggaran perjalanan dinas dalam APBA Tahun 2019 sangat boros yakni mencapai Rp448 miliar lebih untuk perjalanan dalam dan luar negeri di jajaran pemerintah Aceh dan anggota DPR Aceh.

“Sejak ada dana Otsus, perjalanan dinas terus dilakukan setiap tahun tapi kita tidak melihat hasil yang signifikan dari perjalanan dinas itu khususnya yang ke luar negeri,” kata Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian, Kamis (10/1) di Banda Aceh.

Menurut dia, seharusnya perjalanan dinas khususnya ke luar negeri dijajaki perjanjian yang telah memiliki dasar kerjasama untuk Aceh.

“Jika baru menjajaki, saya pikir akan boros dan perjalanan itu akan sia-sia yang hanya menghabiskan anggaran saja, tanpa hasil yang pasti,”ungkapnya.

Lolosnya pagu anggaran di APBA 2019 karena lemahnya pembahasan anggaran di DPRA. “Kalau DPRA, kami lihat mereka sederhana saja, jika sudah ada dana aspirasi mereka anggap aman sehingga terkesan tidak peduli mata anggaran lain, karena ini dari dulu kami menolak dana aspirasi yang akan melemahkan pengawas dan peran DPRA sendiri," jelasnya.

Dana aspirasi ini merupakan usulan program berdasarkan pokok pikiran dan masukan anggota dewan yang muncul dalam pembahasan anggaran anggota DPRA bersama SKPA. Nama dana aspirasi pun berubah menjadi anggaran pokok pikiran (pokir) karena mendapat kecaman.

"Anggaran pokir tahun ini untuk tiap dewan Rp20 miliar sedangkan untuk tingkat pimpinan dapat Rp75 miliar. Pemerintah diharapkan dapat anggaran boros di APBA 2019 yang alokasinya lebih dimanfaatkan untuk pengentasan kemiskinan di Aceh," harapnya.

Meskipun APBA disahkan 31 Desember 2018 lalu, kata Alfian, menurut informasi yang diperoleh pada 3 Januari kemarin Sekda Aceh memanggil seluruh SKPA untuk memperbaiki Rencana Kerja Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

“Seharusnya selesai di Agustus 2018 lalu, kenapa setelah pengesahan ada perbaikan. Kita menduga ada masalah dalam perencanaan, dimana perencanaan belum selesai tapi dikejar untuk pengesahan anggaran atau tidak jatuh tempo pergub,” paparnya.

Menurut informasi, Plt Gubernur Aceh pun sudah mengintruksikan SKPA agar adanya perbaikan. Pihaknya pun berharap hal ini benar-benar diperbaiki, bukan hanya wacana untuk memperlihatkan ke publik ada perbaikan.

"Kami akan terus pantau kedepannya hal ini dari dokumen-dokumen anggaran Pemerintah Aceh,"pungkas Koordinator MaTA ini. | gatra.com

Jutaan jangkrik keluar dari lubang bawah tanah di sekitar Masjidil haram. (Foto: Twitter)
StatusAceh.Net - Sebuah fenomena langka terjadi di Masjidil Haram, kota suci Makkah, Arab Saudi. Jutaan jangkrik dan belalang entah dari mana datangnya "menginvasi" Masjidil Haram dan rumah-rumah warga.

Diberitakan media Gulf Business, fenomena mengejutkan itu terjadi sepanjang pekan ini. Sebelumnya, video dan foto jutaan jangkrik dan belalang di Masjidil Haram telah ramai dibagikan di media sosial.

Dalam video-video tersebut, terlihat jangkrik-jangkrik dan belalang berwarna hitam itu berada di lantai, tembok, dan tiang masjid. Bahkan banyak jangkrik itu yang merayap ke pakaian para jemaah.

Bunyi suara jangkrik terdengar nyaring dalam salah satu video. Seakan tidak terganggu dengan keberadaan jangkrik-jangkrik, beberapa jemaah masih terlihat duduk-duduk di lantai masjid.


Menurut seorang jemaah seperti dikutip media Arab, The National, Selasa (8/1) lalu, jangkrik memenuhi Masjidil Haram, bahkan sampai ke dekat Kakbah.

"Pada Sabtu malam saya salat di Masjid Suci dan serangga di mana-mana, masjid seperti mengundang mereka, tidak hanya di pekarangan, bahkan di sekitar Kakbah," kata warga, Abdulwhab Soror, 64.

"Saya telah hidup di Makkah seumur hidup dan tidak pernah menyaksikan hal seperti ini," lanjut dia.

Jacky Judas, penasihat masalah lingkungan di WWF dan lembaga pelestari alam Emirates Nature, juga mengaku terkejut dengan fenomena ini. Dia tidak tahu pasti penyebabnya.

"Mungkin mereka lolos dari kandang peternakan jangkrik dan menyebar dalam jumlah besar, atau mungkin ada kondisi khusus yang mendorong peningkatan jumlah dan perkembangbiakan mereka. Tapi saya tidak tahu pasti," kata Judas kepada The National.


Warga mengeluhkan keberadaan serangga-serangga itu. Suara jangkrik yang berisik dianggap mengganggu tidur warga.

Pemerintah Kota Makkah membenarkan fenomena tersebut. Dalam pernyataannya, Pemkot Makkah menyebut serangga-serangga itu sebagai "belalang hitam" dan mengatakan jutaan jangkrik dan belelang itu dalam tahap migrasi.

Untuk membersihkan serangga-serangga tersebut, Makkah membentuk 22 tim yang terdiri dari 138 orang untuk membasminya. Mereka membawa sekitar 111 alat pembasmi.

Dalam berbagai foto dan video yang beredar, tim ini menyemprotkan asap di Masjidil Haram dan sekitarnya sehingga membuat jangkrik-jangkrik itu mati. Sementara petugas lainnya menyapu bangkai-bangkai serangga itu.

"Kami fokus di tempat-tempat reproduksi dan berkembang biak serangga, selokan, dan sumber air terbuka di lapangan sekitar Masjid Suci dan seluruh toilet di masjid," ujar pernyataan Pemerintah Kota Makkah. | Kumparan

Umbu TW Pariangu
Dosen FISIP Universitas Nusa Cendana

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

PUISI di atas ditulis oleh Soe Hok Gie, seorang aktivis Indonesia Tionghoa (1942-1969) yang dimuat di harian Sinar Harapan pada 18 Agustus 1973. Sengaja puisi tersebut dikutip untuk menunjukkan bahwa perlawanan terhadap bayang-bayang hitam kediktatoran termasuk korupsi, membutuhkan militansi juang dan pengorbanan yang besar. Ini tepat untuk menggambarkan realitas miris yang dialami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam mengeliminasi korupsi yang makin kuat “meremas” bangsa ini.

Meskipun operasi tangkap tangan (OTT) terhadap pejabat-pejabat tinggi terus gencar dilakukan oleh KPK, resistensi terhadap eliminasi korupsi juga terus mencuat. Rabu (9/1), teror bom terhadap KPK terjadi di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Perumahan Graha Indah, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat dan rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Jalan Kalibata Selatan, Jakarta Selatan, dengan waktu yang berbeda.

Di rumah Laode terdapat bom molotov yang ditemukan oleh sopirnya, Bambang, pada pukul 05.30 WIB. Botol tersebut berbentuk seperti lampu senter yang memiliki sumbu di mana terdapat nyala api. Sedangkan untuk rumah Agus, petugas keamanan rumah menemukan benda diduga bom berupa paralon yang dibungkus menyerupai bom, yang tergeletak di depan rumah.

“Gangs of Corruptors”

Teror terhadap KPK bukan baru kali ini. Jika dilacak jejak sejak awal berdirinya KPK, belum dua tahun bekerja, komisi antirasuah ini sudah diancam bom pada Januari 2006 yang saat itu diterima oleh sekretaris komisioner KPK bertepatan dengan kasus besar yang sedang ditangani KPK pada saat itu, yakni penyuapan hakim di Mahkamah Agung. Pada 2008, teror kembali mengguncang KPK pada Februari dan November.Pada 2009, kembali terjadi lagi teror bom persisnya pada Juli. Ancaman tak hanya ditujukan di kantor KPK saja, tetapi juga pada fungsional KPK seperti terjadi pada 2015. Rumah sejumlah pegawai KPK didatangi orang yang menemui anak dan istri. Mereka meminta agar suaminya berhenti menjadi pegawai KPK.
Seorang pejabat struktural KPK di bidang penyidikan juga pernah didatangi seseorang dari instansi asalnya yang berpangkat lebih tinggi untuk meminta segera mengundurkan diri dengan ancaman data keluarganya sudah diketahui oleh pejabat tersebut. Ada pula rumah salah satu penyidik KPK yang diancam bom, bahkan mobilnya dirusaki dengan cara disiram air keras hingga cat mobil terkelupas.

Bahkan lawyer pimpinan KPK Nursyahbani Kantjsungkana pada Februari 2015 pun memperoleh pesan teror bahwa di rumahnya sudah terdapat bom yang siap meledak. Setelah Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap polisi dan dijadikan tersangka terkait kasus memerintahkan kesaksian palsu di pengadilan, pimpinan KPK lain pun mulai ikut dilaporkan ke polisi.

KPK memang sejauh ini merupakan institusi yang garang dalam menangkap koruptor, sampai-sampai ia menjadi institusi paling terkenal di masyarakat (survei LSI dan ICW 8-24 Oktober 2018). Dalam sejarah penegakan hukum khususnya yang terkait dengan OTT, harus diakui, KPK merupakan lembaga yang paling getol melakukan OTT.Pada 2013 misalnya, ada delapan OTT yang dilakukan KPK dan beberapa di antaranya merupakan kasus “Big Fishes” oleh sosok-sosok “high ranking official” seperti Akil Mochtar (ketua MK), Prof Rudi Rubiandini (ketua SKK Migas), Fathonah yang kemudian melibatkan Luthfi Hasan Ishaq (makelar dari presiden PKS), Setyabudi Tedjocahyono dan Dada Rosada (wakil ketua Pengadilan Negeri Bandung yang melibatkan Wali Kota Bandung).

Sebanyak 91 kasus ditangani KPK sejak dua tahun UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) disahkan. Kasus korupsi terbanyak dilakukan oleh pemegang jabatan di legislatif dan swasta. Pada 2018 lalu KPK mencatat rekor 30 OTT dan tahun 2019 ini, 200 perkara menjadi target bidikan KPK.Tidak heran jika survei kuantitatif yang dilakukan Alvara Research Centre (20 April- 9 Mei 2018) menunjukkan adanya kepuasan publik terhadap kinerja KPK, yakni sebesar 78,8%. Meningkat 1,6% dibanding hasil survei pada Februari 2018 yakni 77,2%.

Namun yang terjadi, sejarah selalu berulang: setiap ada terobosan pengungkapan kasus besar oleh KPK, saat itu pula mulai muncul sikap resistensi dari para koruptor. Publik awam pun tahu dan sadar bahwa memberantas korupsi di republik ini seperti melempar sarang tabuhan yang selalu memicu amukan kawanan tabuhan, karena korupsi bukan saja dilakukan secara individu, namun juga secara kolektif, berjejaring, sehingga sedikit saja KPK “bergerak”, ia akan langsung berhadapan dengan solidaritas perlawanan balik para koruptor nan keji. Ada upaya grand design untuk menumpulkan taring KPK secara sistematis dan masif, mulai dari mempersoalkan dasar pembentukannya, cakupan kewenangannya, legalitas SDM-nya, stigmatisasi kelembagaan hingga kriminalisasi komisioner KPK.

Mungkin tak berlebihan ketika Tony Kwook (2015), mantan operation director of ICAC mengatakan, bahwa ada kalangan profesional tertentu yang menjadi bagian tak terpisahkan dari gangs of corruptors yang berusaha mencari-cari kelemahan untuk mendelegitimasi KPK. Bahkan, ada yang mengaitkan, getolnya KPK menangkap koruptor kelas teri dengan nilai korupsi kecil, membuat praktik korupsi sistemik di Tanah Air tak berkurang. Padahal menurut Tony, pemberantasan korupsi oleh KPK bisa maksimal jika dilakukan secara komprehensif, tidak hanya mengungkap kasus korupsi besar saja tapi juga yang kecil-kecil.

Pihak yang selama ini mengkritisi KPK semestinya paham, bahwa kerja KPK tidaklah sama dengan situasi di Singapura misalnya, yang indeks persepsi korupsinya berada di atas Indonesia, di mana masyarakat dan elitenya sudah benar-benar tertib dan sadar hukum, sehingga KPK-nya Singapura cukup hanya berfungsi sebagai watch dog, yang membelalakkan mata untuk menakuti para pejabat yang hendak korupsi (Deni, 2010).

Semakin Gigih

Contoh bagus sudah diperlihatkan KPK-nya Arab Saudi yang dipimpin Mohammed bin Salman yang beberapa waktu lalu yang menangkap sebelas pangeran dan puluhan pejabat aktif dan nonaktif di negara tersebut atas tuduhan korupsi. Hebatnya, langkah berani yang menggegerkan rakyat Saudi tersebut ditempuh oleh komisi yang baru dibentuk hitungan jam. Poinnya jelas, korupsi adalah musuh gigantis yang tidak bisa lagi disikapi dengan kelakuan teri, tetapi dengan “kerja gila”.

KPK harus terus didukung secara moral untuk menunaikan tugas mulia pemberantasan korupsi. Kita berharap teror yang dialami oleh KPK tidak meruntuhkan semangat, tapi justru semakin mengobarkan kegigihan dan konsistensi untuk menempuh “jalan sunyi” membersihkan negara ini dari perangai korupsi. Tim Kepolisian bersama Detasemen Khusus 88 Antiteror harus secepatnya mengungkap peristiwa tersebut untuk membuktikan bahwa penegakan hukum di negeri ini tidak kendur.

Adrian Little (dalam Democratic Piety: Complexity, Conflict and Violence, 2008) mengatakan bahwa korupsi, konflik, dan kekerasan selalu saling berkelindan dalam memproduksi kejahatan sistemik di sebuah negara. Ketika aspek penegakan hukumnya rendah atau lemah, sistematisasi korupsi sekaligus proses delegitimasi korupsi akan berlangsung.

Maka itu, kerja pemberantasan jelas korupsi bukan kerja anualitas, namun kerja yang membutuhkan “napas panjang”. Dan, publik termasuk pemerintah harus bersabar sembari terus menginjak gas dukungan kepada KPK seperti menambah sumber daya institusi, biaya, pengadaan teknologi canggih untuk menjamin akurasi penyidikan dan mengadvokasi, termasuk memberikan ruang selebar-lebarnya kepada masyarakat agar aktif berpartisipasi memberikan suplai informasi kasus-kasus korupsi kepada KPK. (*)

Opini ini di kutip dari Sindonews.com

Ilustrasi
Gowa - Siswi SMP di Kabupaten Gowa , Sulawesi Selatan , disekap teman lelaki yang dikenalnya melalui Facebook.

Korban disekap selama sebulan di rumah pelaku, Amrijal (20), di kompleks BTP Blok A/C Kota Makassar . Di sana, pelajar putri itu disetubuhi berkali-kali oleh pelaku.

Kasus tersebut terungkap setelah personel Polsek Bontonompo, Kabupaten Gowa menerima laporan dari keluarga NF, Rabu (9/1/2019) sekitar pukul 01.00 WITA.

Kapolsek Bontonompo Inspektur Satu Syahrir mengatakan, kasus penyekapan itu bermula saat korban berkenalan dengan pelaku di Facebook, November 2018. Setelah rutin berkomunikasi, mereka semakin akrab dan mencoba bertemu.

Akhirnya, setlah tiga pekan berkenalan di Facebook, Amrijal mencoba menemui korban pada Sabtu (1/12/2018).

Pertemuan itu dilakukan di depan SD Kaleanasappu, Desa Bontobiraeng Selatan, Kecamatan Bontonompo, dan pada pukul 14.00 WITA dibawa ke Makassar.

"Saat itu mereka baru kali pertama bertemu setelah perkenalan di FB. Lalu dengan menggunakan motor Suzuki Titan warna hitam pelaku membawa korban ke rumahnya," ujar Syahrir, Kamis (10/1/2019).

Selama sebulan, Amrijal menyekap NF di rumahnya. Bahkan, dia juga menyetubuhi remaja putri itu berkali-kali. Perbuatan bejat itu akhirnya dibongkar setelah polisi mengetahui rumah pria pengangguran itu di Kota Makassar.

Personel Polsek Bontonompo berhasil menangkap Amrijal dan menemukan korban di rumah tersebut. Pelaku langsung diamankan dan diserahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Gowa.

"Pelaku dan korban sudah kami amankan. Selanjutnya akan kami serahkan ke unit PPA karena ini menyangkut anak di bawah umur," katanya. | Suara.com

StatusAceh.Net - Andini, gadis kecil 14 tahun itu duduk di depan pintu rumah papan sederhana. Tubuh mungilnya menopang bayi berusia 4 bulan bernama Siaratul Jannah, sambil memberikan susu formula.

Sementara disamping kirinya, seorang bayi perempuan berusia 1 tahun 8 bulan bernama Purwanti, merengek menangis meminta susu. Panas terik, Kamis, 10 Januari 2019, membuat suara bayi tersebut semakin keras, seakan-akan mengundang tetangga untuk datang menghampirinya.

Dengan sabar dan telaten, Andini menjaga kedua bayi tersebut, dua adik kandungnya. Mereka, bertiga tinggal di sebuah rumah papan sederhana. Sangat sederhana, hingga rumah itu hanya menyisakan dua pintu dan satu jendela.

Gadis 14 tahun tersebut tak tergoda ajakan teman seusianya bermain-main. Ia lebih memilih menjaga kedua adiknya dengan penuh kasih sayang.

Saat ini, gadis kecil berhijab itu menanggung beban berat, lebih berat dari usianya saat ini, 14 tahun. Andini harus menjadi ibu, sekaligus bapak bagi kedua adiknya tercinta.

Status itu ia sandang usai sepekan silam, tujuh hari lalu, ia dan kedua adiknya ditinggal pergi sang ibunya menghadap sang khalik selama- lamanya. Ibunda tercinta, Ijaz tutup usia dalam usia 40 tahun, setelah mencoba melawan sakitnya Tubercolosis (TBC) akut.

Sementara bapak anak-anak malang itu, pergi, entah kemana. Tanpa kabar dan meninggalkan bocah malang itu sendirian mengarungi ganasnya kehidupan dunia.

RUMAH terbuat dari kayu inilah Andini dan kedua adiknya tinggal usai ditinggal meninggal ibunda tercinta dan ayahnya menikah lalu pergi entah kemana.

Mereka tinggal di Dusun Telayap, Desa Pangkalan Tampoi, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Di rumah papan sederhana tanpa cat itu, ketiga bocah malang tersebut dengan tabah menjalani hidup sehari-hari.

Tanpa bimbingan orangtua, tanpa pengawasan dan kasih sayang. Andini lah yang kini harus menjadi pembimbing dan pemberi kasih sayang untuk adik-adiknya nan malang. Single Paren, orangtua tunggal bagi adik-adiknya.

Faktor ekonomi semakin terhimpit, ditambah waktu luang semakin sempit, Andini terpasa melepas seragam sekolah. Ketika itu, tepat ia duduk di kelas VII SMP setempat, Andini memilih berhenti dan meluangkan waktu, cinta dan masa mudanya guna mengurusi kedua adik-adiknya yang manis.

Sepekan terkahir, mereka hanya tinggal bertiga. Siang malam, selalu bersama. Rumah seharusnya tempat bernaung dan canda, kini terasa begitu hampa. Sedih, pilu, duka, itulah pertama dirasakan ketika melihat rumah papan itu.

Andini tetap berusaha tersenyum, namun dibalik matanya ada duka mendalam. Pancaran wajahnya tak lagi gembira, dan lebih banyak diam daripada bicara.

Diusianya masih sangat belia, seharusnya bergembira, bersekolah dan melumat pelajaran demi pelajaran bersama teman-temannya. Namun, Andini harus rela, kuat, tabah dan ceria, demi kedua adiknya tercinta. Hanya kedua adiknya kini menjadi pelipur lara, setelah tidak ada lagi orangtua.

Dedi Azwandi, pegiat sosial setempat tak kuasa menahan lara ketika menceritakan kondisi Andini. Dengan suara terbata-bata, ia menceritakan kesdihan melihat kondisi ketiga bocah lucu harus menghadapi kenyataan pahit dan ujian serba berat tersebut.

"Andini bilang terlalu banyak kenangan di rumah itu untuk ditinggalkan," kata Dedi kepada RIAUONLINE.CO.ID.

Dedi, juga Wakil Ketua Yayasan Mualaf Center Riau mengatakan, ia telah berusaha mengajak ketiga anak perempuan itu ke Kota Pangkalan Kerinci, ibu kota Pelalawan. Jarak rumah Andini dan Pangkalan Kerinci ditempuh selama 4 jam perjalanan.

Namun, tutur Dedi, bagi Andini sangat berat meninggalkan rumah penuh dengan sejuta kenangan itu. Ia mengatakan, di Pangkalan Kerinci, nantinya Andini akan diasuh oleh keluarga siap menjaga mereka.

Andini juga akan melanjutkan pendidikannya karena semangat belajarnya luar biasa, sebelum akhirnya memilih meninggalkan bangku sekolah.

Saat ini, tutur Dedi, sejumlah pihak telah menyalurkan bantuan kepada keluarga itu. Andini juga dijamin sekolah oleh Badan Amil Zakat Sedekah Nasional (Baznas) hingga mencicipi pendidikan tinggi.

Namun, Andini lebih banyak diam itu masih belum bersedia meninggalkan rumah peninggalanya ibunya. "Dia semangat sekolahnya bagus, tapi lebih memilih menjaga adiknya. Kita sedang berusaha mencari solusi terbaik dan membujuk Andini agar bersedia pindah," lanjutnya.

Selain itu, Dedi juga berharap ada bantuan dari para tangan dermawan untuk membantu Andini dan adik-adiknya. Hanya bantuan itu yang dapat meringankan duka mereka bertiga. (*)

Sumber: riauonline.co.id

Banda Aceh - Persiraja Banda Aceh mulai bergerak mempersiapkan tim untuk menatap kompetisi Liga 2 musim 2019. Salah satu yang dipersiapkan adalah merekrut sang pelatih.

Sebelumnya, ada 10 kandidat calon pelatih yang telah diumumkan dan dipoling pada web resmi persiraja.id.

Selain 10 itu, ternyata tiga pelatih asing juga melamar untuk menjadi juru taktik tim berjuluk Laskar Rencong.

Ketiga pelatih asing yang melamar itu adalah Hans-Peter Schaller, Wanderley Machado, dan Esteban Guillen.

Pemegang lisensi UEFA Pro ini berasal dari Austria, pernah melatih timnas Laos pada 2011, dan menjadi asisten pelatih timnas Indonesia, Alfred Riedl pada 2016. Terakhir, Hans-Peter Schaller melatih Bali United (2017).

Kemudian ada Wanderley Machado, mantan juru taktik salah satu tim terbaik Indonesia, Persipura (2017). Pelatih berkebangsaan Brasil itu, juga pernah menangani Persiba Balikpapan dan Perserui Serui (2018).

Terakhir, pelatih yang melamar Persiraja yaitu Esteban Guillen asal Uruguay. Mantan pemain Timnas U-17 Uruguay itu, juga pernah merumput bersama salah satu tim kuat Amerika latin, River Plate (2002). Baru-baru ini Esteban Guillen baru saja selesai meramu tim asal Uruguay, Montevideo.

Kabar ini diperoleh Rakyat Aceh (Jawa Pos Group) dari Presiden Persiraja, Nazaruddin Dek Gam.

Dia mengapresiasi upaya ketiga pelatih asing tersebut untuk berkerjasama. Hal tersebut menunjukkan Persiraja merupakan salah satu tim yang memiliki potensi besar.

"Ini menunjukkan bahwa Persiraja merupakan salah satu tim di Liga 2 Indonesia yang dikelola dengan baik. Berkaca dari musim lalu, kita memiliki rasa kekeluargaan yang luar biasa. Selain itu, ekonomi klub stabil," tuturnya, Rabu (9/1).

Selain itu, Dek Gam melihat para manajemen punya tekad besar untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat Aceh, yang sangat berharap tim dengan sejarah panjang di Indonesia ini tembus ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.

"Persiraja dikelola dengan serius. Orang-orang bisa melihat dan menilai sendiri bagaimana kerja keras semua pihak untuk memenuhi target mulia itu. Namun tentu semuanya butuh proses. Maka, para pelatih di luar sana pun barangkali tertarik karena Persiraja punya target yang jelas," tutur pengusaha sukses ini.

Lebih jauh, dirinya bersama manajemen akan mempertimbangkan lamaran para pelatih yang sudah masuk. Semua akan berembuk, mempelajari secara seksama, visi dan misi setiap pelatih. Kemudian akan dicocokkan dengan Persiraja. Setelah itu baru diputuskan apakah dipilih atau tidak.

Sedangkan bagi 10 calon pelatih yang sudah diumumkan sebelumnya, seperti Akhyar Ilyas, Alfredo Vera, Heri Kiswanto, Ricky Nelson, Anwar, Marwal Iskandar, Ansyari Lubis, Simon Pablo Eslissetche, Hendro Susilo dan Abdul Rahman Gurning, juga sudah dibangun komunikasi. Nantinya Persiraja akan memutuskan pilihan siapa yang paling layak menahkodai Persiraja pada tahun 2019. | JPNN

Aceh Besar - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, meminta Tentara Nasional Indonesia membangun fasilitas penunjang aktifitas prajurit dan masyarakat di pulau-pulau terluar. Dengan demikian, soliditas dan kerjasama antara-masyarakat dan TNI semakin terjalin dengan baik.

"Saya mohon bantuan TNI-Polri untuk mengetuk hati pihak berwenang di tingkat nasional untuk memerhatikan pulau-pulau terluar," kata Nova saat lepas sambut Komandan Lanud Sultan Iskandar Muda di Lanud SIM Blang Bintang, Kamis 10/1/2019.

Nova mengatakan, fasilitas di pulau terluar seperti di Pulau Rondo Sabang sangat minim. Dengan pembangunan infrastruktur, paling tidak nelayan khususnya dari Sabang bisa merapat. Jika memungkinkan bahkan pemerintah bisa membangun pemukiman warga sehingga hubungan baik TNI dan Rakyat semakin baik sebagai Motto TNI:  Bersama Rakyat TNI Kuat. Apalagi, ujar Nova, letak geografis Aceh sangat strategis dan sudah pasti sangat membutuhkan penjagaan dan pemantauan intensif agar tidak ada yang berani mengusik kedaulatan Indonesia.

Danlanud SIM sebelumnya dijabat Kolonel NAV Idrastanto Setiawan. Kini matra udara TNI di Aceh tersebut akan dipimpin oleh Kolonel PNB Hendro Arief Herianto. Nova Iriansyah menyebutkan, TNI AU di bawah pimpinan Idrastanto sudah menjalankan tugas dengan baik. Dapat dilihat dari kkunjunga VVIP presiden, kunjungan VIP, hingga penerimaan tamu penting di bandara SIM zero insiden.

"Saya yakin bapak Hendro akan meneruskannya," kata Nova.

Idrastanto Setiawan dalam sambutannya, mengatakan selama ia menjabat yaitu satu tahun, ia merasakan sinergitas yang sangat baik antar TNI-POLRI dan pemerintah Aceh. "Sinergitas di Aceh luar biasa. Saya merasa semangat kekeluargaan dan soliditas TNI Polri dan pemerintah sangat luar biasa," kata Idrastanto.

Idrastanto menyebutkan, sinergitas tersebut menjadi modal pembangunan untuk menuju Aceh hebat dalam menjawab tantangan yang ada. Dukungan pemerintah, ujarnya, menjadikan TNI AU lebih siap dan maksimal dalam memberikan dukungan operasi, khususnya operasi pesawat tempur dalam menjaga wilayah udara khususnya di Aceh. Ke depan, kata dia, TNI akan terus menguatkan aalutsista dan dengan bantuan pemerintah Aceh, Lanud SIM semakin siap menjadi Lanud Tipe A.

Idrastanto mengatakan, potensi kedirgantaraan di Aceh sungguh luar biasa. Beberapa waktu lalu, tim ahli Kementerian Pertahanan telah melakukan survey untuk melihat lokasi alternatif untuk pemindahan industri pertahanan.

Aceh, dikatakannya, sangat cocok melihat panjang landasan yang mencapai 3.000 meter, airnav, asvec dan pertamina yang dilaporkan cukup siap. Traffic udara di Aceh dilaporkan juga cukup minim. "Untuk pemindahan industri pertahanan ke Aceh, hanya perlu pembangunan hanggar saja," kata Idrastanto.

Sementara Hendro Arief Herianto, meminta dukungan semua pihak selama bertugas di Aceh. Ia berharap bisa meneruskan kebijakan yang telah dimulai oleh Idrastanto dan berbuat untuk kemajuan Aceh dan Lanud SIM menjadi lebih baik.(Rill)

Barang bukti prostitusi online Vanessa Angel. (Suara.com/Achmad Ali)
Jakarta - Kepolisian Daerah Jawa Timur memamerkan barang bukti kasus prostitusi online Vanessa Angel . Di antara barang bukti yang dibungkus adalah sekotak kondom dan celana dalam ungu Vanessa Angel .

Namun celana dalam ungu Vanessa Angel tidak begitu terlihat. Gelaran barang bukti itu dilakukan di Polda Jawa Timur, Kamis (10/1/2019).

Barang bukti itu dibungkus dalam plastik bening dengan tulisan 'Indonesian National Police'. Ada lebih dari 5 pastik yang membungkus barang bukti itu.

Tak hanya kondom sekotak milik Vanessa Angel yang disita Kepolisian Jawa Timur dalam kasus prostitusi online yang membeli artis dan model. Selain Vanessa Angel, Avriellya Shaqila juga sempat ditangkap.

Paling tidak Polda Jawa Timur menyita 5 barang bukti prostitusi online Vanessa Angel . 5 barang bukti prostitusi online Vanessa Angel adalah sebuah telepon seluler, dan sebuah sprei warna putih.

Selain itu sekotak alat pengaman kontrasepsi (kondom) merk sutra, sebuah kacamata merk tempord warna coklat dan sebuah celana dalam warna ungu.

Polda Jatim mengungkap kasus prostitusi online setelah melakukan penggerebekan terhadap sebuah hotel bintang lima di Surabaya, kemarin. Selain Vanessa Angel, polisi juga membekuk soerang model Avriellya Shaqila.

Dalam bisnis lendir itu, kedua artis itu diduga dibayar Rp 80 juta dan Rp 25 juta untuk sekali kencan.

Kekinian, polisi baru menetapkan 2 tersangka dalam kasus prostitusi online itu. Mereka adalah mucikari, ES (37) dan TN (28).

Sumber: suara.com

Takengon - Pasien penderita gangguan jiwa mengamuk saat dirawat di ruangan rawat kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Dia lalu membakar ruangan tersebut hingga menghanguskan sejumlah fasilitas di dalamnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Rabu (9/1/2019) malam tadi, sekira pukul 22.00 WIB. Ulah sang pasien sakit jiwa itu membuat panik paramedis dan orang-orang sekitar. Parahnya lagi, pelaku ikut terbakar akibat aksinya.

“Api berhasil dipadamkan BPBD Aceh Tengah. Dari laporan yang saya terima dari kepala pelaksana BPBD Aceh Tengah, satu orang korban mengalami luka bakar,” ujar Dadek, Kamis (10/1/2019).

Pelaku mengalami luka bakar hingga 50 persen di sekujur tubuhnya dan kini masih dirawat. Belum diketahui apa penyebab pria itu mengamuk hingga nekat membakar ruang kejiwaan RSUD Datu Beru.

Saat peristiwa terjadi, majanemen RSUD Datu Beru langsung melaporkan kepada BPBD Aceh Tengah. Petugas langsung menanggulangi kebakaran sehingga hanya sempat membakar satu ruangan dan tidak menjalar ke ruangan lain. | Inews

Polisi, TNI bersama sejumlah warga mengevakuasi jasad Yulizar yang ditemukan di Waduk Lhokseumawe. Foto: Istimewa
Lhokseumawe - Warga Gampong Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, dikejutkan dengan temuan mayat perempuan yang mengapung di Waduk Pusong-Keude Aceh, Lhokseumawe, Kamis, 10 Januari 2019, sekitar pukul 06.30 WIB.

Informasi diperoleh portalsatu.com, mayat tersebut teridentifikasi atas nama Yulizar (45), warga Gampong Simpang Empat, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kapolsek Banda Sakti Iptu Arief Sukmo Wibowo, mengatakan, berdasarkan keterangan dari suami korban, Herman (50), istrinya itu keluar dari rumah sekitar pukul 06.00 WIB, dengan menggunakan becak tujuan waduk untuk olahraga jalan pagi. Lalu, sekitar pukul 06.30 WIB, Herman mendapat informasi dari masyarakat bahwa ada penemuan mayat di Waduk Pusong-Keude Aceh.

"Selanjutnya warga melaporkan kejadian tersebut ke polsek, ada mayat perempuan yang mengapung di waduk tersebut. Kemudian anggota (polisi) langsung mendatangi lokasi kejadian dan melihat benar adanya sesosok mayat yang terapung di air dengan menggunakan baju daster warna kuning dalam posisi telungkup," kata Arief dikonfirmasi portalsatu.com.

Setelah itu, lanjut Arief, jasad korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia, Lhokseumawe, guna dilakukan visum. Menurut informasi diperoleh, korban sebelumnya mengalami stroke selama empat bulan dan masih dalam masa penyembuhan. Sedangkan penyebab korban meninggal dunia masih dalam penyelidikan.

Dari foto-foto diperoleh portalsatu.com tampak proses evakuasi jasad korban itu dilakukan anggota Polsek Banda Sakti, Koramil 16 Banda Sakti, dan sejumlah warga setempat.(*)

Sumber:  portalsatu.com

StatusAceh.Net - Sebuah lelucon akan lebih terasa dekat, ia memanggil rasa haru, bangga dan bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Mungkin, karena itulah Abu Nawas terasa begitu akrab. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan dengan perkasa, tercipta jarak. Jarak untuk kagum dari jauh, berusaha paham dengan arif. Dan untuk itu Abu Nawas hadir menampilkan ironi, membuka pintu menuju arif. Tak heran ia menjangkau siapa saja.

Dalam kisahnya kita belajar kebijaksanaan dengan riang, bahwa hati dengan ringan kita mengetahui bahwa yang suci tak sebegitu menggetarkan, bahwa yang berkuasa perlu mendengarkan si pandir. Lelucon menemukan sesuatu yang luhur bukan sekedar kotoran yang terserak, setidaknya ia memberi arti.

Abu Nawas lahir dari sejarah bukan dari ketiadaan. Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang). Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Khalifah Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Hidup dimasa gemilang pemerintahan Harun Al-Rasyid, dengan cara kacau balau mampu menolong atau sekaligus mengalahkan Khalifah dalam setiap masalah.

Saat itu zaman keemasan dimana emas diucapkan lebih banyak dibandingkan gandum, membongkar kebiasaan lama memandang kekayaan dan milik, melimpahnya emas juga merupakan sesuatu yang salah, ketika demand dan supply tidak berjalan dengan semestinya, pada akhirnya disebuah kota besar, dalam pasar yang ramai, tak banyak yang tahu. Di balik kekuasaan seorang Sultan itu ada apa? Dan ada siapa? Mengingatkan bahwa seorang Khalifah paling gemilang sekalipun membutuhkan masukan dari seorang pandir yang nakal.

Alangkah malang jika sebuah negeri dipimpin oleh mereka yang suka berpura-pura, lain dimulut lain dihati. Namun kemalangan yang melebihi hal itu adalah kesediaan masyarakatnya menerima penipuan itu dengan ikhlas. Maka kemalangan apa yang mampu melebihi hal ini.

Karena itu sosok Abu Nawas akan selalu kita kenang, ketika kita lelah dengan omong kosong politik. Ketika cerdik pandai duduk, diam, terhenyak, melihat masa kini bagai masa kini, melainkan masa silam yang cacat. Bersama Abu Nawas kita mengetahui bahwa pemegang kuasa tak lebih manusia biasa yang bisa salah, dan kekuasaan itu ternyata tidak terlalu membuat gentar asal kita menanggapi dengan humor, karena manusia siapapun ia sanggup menerima yang asyik, dengan bersahaja karena hampir tak ada satu pun menjauhi yang asyik, lucu, nakal dan tak terduga.

Politik Abu Nawas bukanlah hal yang luar biasa akbar, ia memberi nasehat bukanlah fatwa hukum, disitulah lahir kedalaman kearifan. Sebuah politik kehidupan berupa repetisi yang berulang tiap kali di seluruh hari, menunjukkan hidup ini bagai sebuah kebetulan yang tak jelas arahnya dan seolah absurd. Namun didalamnya tersimpan sesuatu yang arif, bahwa politik, sebagai panggilan, sebenarnya adalah panggilan yang muram, sedih dan dalam kesedihan itu seharusnya kita bertugas. Dalam lelucon dan senyuman, paradoks. Karena tertawa adalah hal yang paling terindah di dunia, jika kita paham akan estetika.

Mungkin, Ketika itu yang agung sebenarnya tak teramat menggetarkan dan tak teramat berarti lagi. Humor dan ironi lebih menyelamatkan dibanding impian akan kekuasaan dan kejayaan semata. Di mana manusia menemukan luhur dalam hidup, membebaskan akal praktis dari untung-rugi semata.(*)

Sumber: Tengkuputeh.com

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah mengidentifikasi 84 nomor telpon yang diduga digunakan orang yang mengaku-gaku dari KPK alias KPK gadungan.Di antaranya ada yang sangat mirip dengan nomor telepon KPK, namun berbeda di kode awal, yakni +02 021 2557 8300, +0212557830, +622125578300, +2125578300, +012125578300

"Kami pastikan nomor-nomor tersebut tidak berasal dan bukan nomor KPK, walaupun ada kesamaan angka. KPK mengimbau agar masyarakat waspada dan berhati-hati," ujar Juru bicara KPK, Febri Diansyah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/1/2019).

Dia menjelaskan modus yang digunakan KPK gadungan dalam setiap kali menjalankan aksinya, yakni menanyakan identitas korban secara lengkap, mulai dari nama, alamat hingga nomor KTP.

Lalu, KPK gadungan memberitahukan atau memperingatkan korban telah menyalahgunakan pembukaan rekening sejumlah bank di Kota Balikpapan. Padahal berdasarkan pengakuan salah satu korban, dirinya tidak pernah melakukan pembukaan rekening di kota tersebut.

Pelapor pun menginformasikan KPK gadungan tersebut mengaku atas nama Ika Putri Lestari dan Muhammad Bambang Saputra.

"Saat menelepon, KPK gadungan menyampaikan informasi kepada Korban bahwa di rekening milik korban terdapat uang masuk senilai Rp16 miliar yang diduga terkait dengan pencucian uang, selanjutnya oknum tersebut menawarkan korban untuk membantunya melaporkan hal tersebut ke Polda Metro Jaya," ata

Febri mengungkapkan ada korban yang akhirnya mentransfer uang kepada pelaku. "Ada pelapor yang sudah mentransfer uang sesuai dengan permintaan oknum, seperti Rp 14 juta, Rp1 juta, Rp350.000," sambungnya.

Febri mengimbau masyarakat untuk menghubungi Call Center 198 atau telepon pengaduan masyarakat 021-25578389 jika ada pihak yang mengaku dari KPK.

"Jika ada perbuatan yang sifatnya mengancam, pemerasan agar dilaporkan segera ke aparat penegak hukum setempat," tuturnya. | Sindonews

StatusAceh.Net - Tiga buah piring keramik bermotif abad pertengahan pecah, vas kecil berbentuk stroberi terbelah dua, lempengan CD berisi lagu dangdut, India, dan beberapa film berserakan ke bawah meja. Isi bufet tampak berantakan bak kapal pecah.

"Saat itu, ibu sempat bersih-bersih pascagempa yang berlangsung menitan. Saya dan keluarga sebelumnya keluar ke halaman semua," Bonol (30) mengawali kisahnya, kepada Liputan6.com, Rabu, 9 Januari 2019, malam, di sebuah warung kopi, sudut kota Meulaboh, Aceh Barat.

Dia mengaku sempoyongan hingga terasa isi perut mau keluar sesaat setelah gempa berkekuatan 9,1 skala Richter itu mengguncang Aceh. Ketika itu, dia berusaha menenangkan diri dengan bersandar ke beton teras rumah sambil menutupi mulutnya, menampakkan gelagat seseorang yang ingin muntah.

"Tidak, kami tidak langsung masuk ke rumah. Ada empat rumah di situ, di samping rumah juga ada lorong, ada rumah lagi. Di halaman yang menjadi halaman empat buah rumah berderetan, kami berkumpul. Kami bercerita, dan bertanya-tanya soal kabar gedung roboh dan menimpa orang, tubuhnya terbelah dua di dekat gardu polantas," tutur Bonol.

Saat sedang bercakap-cakap di halaman rumah, ayah Bonol menceletuk soal cerita yang pernah disampaikan oleh neneknya, dulu sekali. "Kalau ada gempa seperti ini, kata orangtua, air laut naik ke daratan atau kami sebut smong," dia mengulang ucapannya yang saat itu tidak mengenal kosa kata tsunami.

"Tentu saja kami tidak menganggap serius apa yang dikatakan ayah. Setelah gempa, masuk lagi ke dalam rumah, ayah memperbaiki becak, ibu merapikan dan membersihkan rumah, abang kembali ke dapur, masak mi, saya sendiri sedang bersiap mau ke luar, namun saat itu, saya tunggu orang yang pinjam sepeda saya pulang," sambungnya.

Pria lulusan ilmu politik itu menjelaskan serinci mungkin, soal tempat tinggalnya, yang tidak jauh dari pinggir pantai. Dengan memanjat beton lapangan sepak bola bisa langsung ke bibir pantai. Namun, sebelumnya, harus menyeberangi dua buah jalan besar.

Dulu, Bonol sering berlarian di jalan tersebut, sambil menghindari kendaraan untuk memungut bola yang terlempar ke luar lapangan, dengan masih mengenakan sepatu bola, yang mengeluarkan bunyi khas saat pool sepatu menyentuh lantai. Masa-masa itu, sangatlah menyenangkan, setidaknya, bagi Bonol.

"Saat itu, ada desas desus orang-orang berkumpul di pinggir pantai, karena ikan-ikan, katanya, berlompatan ke darataan. Bisa jadi, orang-orang menganggap fenomena yang tidak lazim itu sebagai berkah. Banyak yang kegirangan, memungut ikan untuk dibawa pulang," kata Bonol.

Sayangnya, kata dia, ikan-ikan itu tidak pernah berlompatan ke daratan, tetapi air laut surut sehingga membuat karang-karang di laut bermunculan. Orang-orang tidak tahu, di belakangnya, ada lumpur hitam bercampur belerang yang sedang menuju ke daratan dengan kecepatan penuh menerjang pesisir Aceh.

Sabung Nyawa Sang Tetangga

"Aiiiiiiiiiiiiirr," ayahnya berteriak, tepat setelah Bonol mendengar bunyi persis saat sebuah tendem roller melindas aspal, dan mengeluarkan suara seperti guntur. Belakangan dia tahu, itu adalah bunyi air bah yang sedang menghantam apa pun yang ada di depannya.

Lumpur kecokelatan yang tingginya melewati pucuk pohon mangga di belakang rumah Bonol terlihat begitu jelas. Orang-orang berteriak histeris, ketakutan, sambil berlarian, sebagian menangis.

"Aku dan ibu, berlarian ke arah sebuah sekolah, lalu terus berlari dan berjalan, istirahat, diulang lagi. Ayah dan abang tidak tahu. Kami menyesak bertelanjang kaki di kerumunan. Aku dan ibu, mukjizat tidak kena air. Padahal awalnya, kami seperti kejar-kejaran dengan air. Aku melihat sendiri air laur cokelat di belakang rumah," tutur lelaki yang doyan bergelayutan dari warung kopi ke satu warung kopi ini.

Bonol dan ibunya sempat bertahan satu malam di rumah seorang pimpinan pesantren di Desa Leuhan. Sambil menyesakkan nasi putih tanpa lauk yang dia dan ibunya makan pada pagi itu, Bonol meneteskan air mata, mengingat pagi sebelum tragedi itu terjadi, semuanya baik-baik saja.

"Saat itu, sedihnya menyesakkan dada. Kau mau tahu. Kayak lagu Seventeen, yang judul 'Kemarin' itu, persis kali perasaan aku. Sakit kali, sumpah. Mau teriak rasanya. Kok kayak mimpi ya. Segitulah dunia. Tuhan bisa dengan sekali empas saja, langsung merengek kita," ucapnya.

Pada hari lain, belasan tahun kemudian, setelah tragedi gempa dan tsunami 26 Desember 2004 di Aceh terjadi, ayah Bonol menceritakan detik-detik seorang tetangga menyelamatkan nyawanya. Kala itu, ayahnya terjepit oleh sebuah pagar beton setelah digulung ombak.

Saat itu, ayahnya dapat merasakan ujung besi tajam dari kawat yang ada di pagar menusuk pahanya. Dia tidak bergerak sedikit pun, matanya mulai berkunang-kunang, dan mulutnya megap-megap.

Seorang lelaki yang dikenalinya sebagai tetangga melintas. Melihat ayah Bonol, lelaki yang sedang berusaha menyelamatkan diri di antara derasnya air itu kembali, lalu mengangkat pagar beton yang mengimpit ayah Bonol.

"Mukjizatnya, saat itu, ketika ayah saya tenggelam dan diimpit pagar, itu airnya tinggi seleher. Tapi, kok ya si tetangga itu, ukuran airnya seperti sepinggang saja. Seolah memang takdir. Padahal, air sangat deras, tapi dia mau selamatkan orang lain," Bonol mengulang kisah ayahnya yang selamat dari amuk tsunami.

Karena Nyanyian 'Emak'

Hal yang paling disesalkan ayah Bonol karena tidak siap siaga setelah gempa. Jika saja dia menuruti 'nanga-nanga' yang pernah dituturkan oleh nenek Bonol, bisa jadi, barang-barang berharga masih bisa diselamatkan.

"Tapi, saat itu, ayah juga sudah curiga, ketika ada yang bilang, orang-orang memungut ikan di laut. Tapi, terlambat sadar. Sadar waktu air laut sudah menyapu daratan," kata Bonol.

Ketika itu, bala mengambil korban hingga ratusan ribu jiwa. Gelombang raksasa terjadi setelah gempa bumi di bawah laut, sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatera, pukul 07.59 waktu setempat.

Gempa bumi berlangsung selama 10 menit. Menurut berbagai perhitungan, kekuatan gempa saat itu mencapai 9,1 sampai 9,3 pada skala Richter, dan merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir setelah gempa bumi di Chili berkekuatan 9,5 skala Richter yang terjadi pada 1960.

Aceh adalah salah satu wilayah terdampak paling parah. Korban jiwa saat itu mencapai 130.000 jiwa. Angka ini tidak termasuk jumlah korban di negara lain yang juga terdampak, seperti Sri Lanka, India, dan Thailand.

Namun, di balik itu semua, Pulau Simeulue adalah anomali. Pulau yang berada kurang lebih 150 kilometer dari lepas pantai barat Aceh ini, memiliki angka korban meninggal yang sangat sedikit, dibanding wilayah lainnya.

Dari sekitar 78.000 penduduk di kepulauan itu, korban meninggal tidak sampai sepuluh orang. Para korban pun, disebut-sebut meninggal bukan karena tidak bisa menyelamatkan diri dari gulungan tsunami, akan tetapi faktor sakit dan tertimpa runtuhan gempa.

Minimnya jumlah korban jiwa dinilai tidak logis. Ini mengingat, Pulau Simeulue terletak hanya sekitar 60 kilometer dari episentrum gempa berkekuatan 9,1 skala Richter tersebut.

Usut punya usut, masyarakat Simeulue terselamatkan oleh nyanyian yang sering disenandungkan oleh orangtua terdahulu. Masyarakat di Pulau Simeulue tidak mengenal istilah 'tsunami' tapi 'smong', yang sering disebut di dalam 'nanga-nanga'.

Salah satu bunyi 'nanga-nanga' tersebut, yakni:

Kilek, suluh-suluhmo, Lai’ (bubuk) kedang-kedangmo, Linon uak-uakmu, Smong dumek-dumekmo.

Artinya, 'kilat sebagai suluh (penerang) mu. Petir jadi gendang-gendangmu. Gempa jadi ayunanmu. Tsunami jadi permandianmu'.

Cerita tutur 'smong' ini menjadi kearifan lokal. Diteruskan dari generasi ke generasi, jauh, sebelum tragedi gempa dan tsunami di Aceh terjadi.

'Smong' terjadi pada 1907. Bencana tersebut terjadi pada Januari pukul 14.00 waktu setempat, berpusat di Salur, Mukim Bakudo Batu, Kecamatan Teupah Barat, Simeulue.

Karena itu, tak lama setelah gempa terjadi masyarakat di kepulauan Simeulue bergegas ke dataran tinggi. Mereka sudah memprediksikan akan terjadi gelombang raksasa yang dikenal sebagai 'smong'.

Atas hal ini, United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) memberi penghargaan UN Sasakawa Award kepada orang-orang Simeulue pada 12 Oktober 2005. Penghargaan itu diberikan di Bangkok, Thailand.

Selain itu, kosakata smong ikut memperkaya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi terakhir atau Edisi V. Dari 127.036 lema, terdapat 250 lema yang diserap dari bahasa Aceh, termasuk di dalamnya, kosakata 'smong'.

"Tapi, yang paling disayangkan, itu hanya menjadi keping budaya, hanya budayawan yang tahu, mayoritas orangtua saat ini mana tahu smong, maksudku dengan aspek adatnya, tahunya ya, habis gempa hati-hati tsunami. Atau lihat apa info BMKG. Sonar alami tidak lagi," ujar pria yang lahir pada di pulau yang punya julukan 'Simeulue Ate Fulawan' atau Simeulue Berhati Emas.

Sumber: liputan6.com

JENDERAL Abdul Haris Nasution dan Ahmad Yani bersitegang. Mereka berbeda pandangan dalam berbagai soal. Mulai dari cara pendekatan terhadap Presiden Sukarno, korupsi di tubuh TNI, hingga gaya hidup. Hubungan keduanya merenggang sejak Yani menggantikan Nasution sebagai Kepala Staf AD pada pertengahan 1962.

 “Sikap saya yang ingin meneruskan aksi anti korupsi di AD seringkali ia (Yani) kritik,” kata Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. “Maksud saya mendaftarkan milik kekayaan juga ia kritik, karena akan membawa ketegangan-ketegangan intern nantinya.” Menurut Nasution, sejak 1963, antara dia dan Yani tak pernah lagi saling berkonsultasi.

Perseteruan Nasution dan Yani jadi rahasia umum di Markas Besar (Mabes) AD. Beberapa asisten Yani memainkan peran sebagai perantara. Mereka antara lain Brigjen D.I. Pandjaitan (Asisten IV) dan Mayjen Djamin Gintings (Asisten II). Seperti Nasution, Pandjaitan dan Gintings adalah perwira tinggi yang berasal dari Sumatera Utara.

Dalam memoarnya yang lain, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru, Nasution mengungkap sosok jenderal yang lain. Dia menyebutkan peran Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto. Soeharto kerap menjadi mediator dirinya dengan Yani.

“Justru Jenderal Suharto-lah yang lebih sering datang kepada saya. Dan ia sering berbicara dengan saya mengenai soal-soal AD,” ujar Nasution.    

Kenangan Masa Lalu

Soeharto sebenarnya berada pada posisi kurang enak. Pengalaman pahit pernah dirasakannya kala menghadapi Yani dan Nasution. Pada 1959, Nasution mencopot Soeharto dari kedudukan panglima Divisi Diponegoro karena terbukti melakukan barter ilegal dan bisnis penyelundupan. Nasution hampir saja menyeret Soeharto ke pengadilan mahkamah militer. Niat itu urung dilakukan karena Letnan Jenderal Gatot Subroto, wakil Nasution, menyarankan agar Soeharto “disekolahkan” ke Seskoad sebagai hukuman.

Persinggungan serupa juga terjadi dengan Yani. Soeharto tak termasuk dalam barisan jenderal lingkaran dalam Yani. Pada 1963, Soeharto dan Yani bersilang pendapat mengenai masalah struktur organisasi yang pantas bagi Kostrad. Kostrad yang dipimpin Soeharto pun hanya sebatas pasukan cadangan.

“Soeharto berdiri di sudut dengan perasaan yang diremehkan oleh kelompok Yani yang berkuasa. Kalau Nasution menilai Soeharto sebagai oportunis sejak zaman revolusi, Yani atau orang-orang sekitar Panglima Angkatan Darat kabarnya menilai Soeharto sebagai ‘Jenderal Bodoh’,” kata pengamat politik-militer dan guru besar Universitas Pertahanan Salim Haji Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto.

Dalam hal intelektualitas dan gaya hidup, Soeharto lebih cenderung kepada Nasution. Soeharto jarang terlihat menghadiri resepsi-resepsi yang diselenggarakan oleh kelompok Yani padahal dia punya akses ke Markas Besar. Kendati demikian, relasi Soeharto dengan Yani masih terbilang aman. Setidaknya Yani masih memperhitungkan Soeharto sebagai perwira senior yang layak dihormati.

“Pak Yani menetapkan Pak Soeharto sebagai orang kedua di TNI-AD tanpa ada keputusan tertulis. Jadi setiap Jenderal Yani pergi ke luar negeri Pak Soeharto yang ditetapkan mewakili pimpinan TNI-AD,” kata sesepuh TNI AD Sayidiman Suryohadiprodjo kepada Historia.  

Misi Mediasi

Sekira awal 1965, Soeharto bersama beberapa perwira senior sowan kepada Nasution. Mereka berembuk dan saling melobi. Menurut sejarawan Robert Elson, kunjungan tersebut tampaknya sebagai upaya membujuk Nasution untuk mengubah sikap kritisnya terhadap Sukarno.

Setelah menerima petuah dari Nasution, Soeharto menggelar pertemuan dengan para jenderal dari kubu Yani pada 13 Januari 1965. Soeharto tak sendirian dalam menghadapi orang-orang Yani. Sebanyak empat jenderal yang netral turut mendampingi. Mereka antara lain: Achmad Sukendro, Sarbini Martodihardjo, Basuki Rachmat, dan R. Sudirman.

“Soeharto dan teman-temannya tampak mewakili pandangan Nasution terhadap orang-orang Yani,” tulis Elson dalam Suharto: Sebuah Biografi Politik.

Dalam memoarnya Kesaksianku Tentang G30S, Soebandrio, wakil perdana menteri I merangkap ketua Badan Pusat Intelijen (BPI) menyebut pertemuan di Mabes AD tersebut dihadiri dua belas jenderal. Dua kubu ini merumuskan gagasan untuk mempersempit perselisihan antara Yani dan Nasution.

 “Sebenarnya Nasution dan Yani juga diundang dalam pertemuan itu, namun keduanya sama-sama tidak datang. Mereka diwakili oleh penasihat masing-masing. Alhasil, pertemuan penting itu tidak mencapai tujuan utamanya, karena mereka yang berkonflik tidak datang sendiri dan hanya diwakili,” kata Soebandrio.

Kelompok Yani menolak mengembangkan sikap yang lebih berjarak terhadap Sukarno. Pertemuan berakhir dengan kesepakatan untuk menyelenggarakan seminar AD. Seminar yang digelar di Seskoad pada April 1965 itu menghadirkan 200 perwira AD. Seperti pertemuan sebelumnya, Yani dan Nasution juga absen di sana. Namun seminar itu melahirkan doktrin baru yang diberi nama Tri Ubaya Cakti. Isinya berupa tiga doktrin TNI yang terdiri dari keamanan nasional, kekaryaan, dan pembangunan. Dari doktrin itu diperoleh masukan bahwa TNI berhak memberikan saran dan tugas politik tak terbatas kepada presiden.

Menurut Soebandrio, Soehartolah pencetus doktrin Tri Ubaya Cakti sekaligus mempolitisasi konflik Yani dan Nasution. Doktrin itu menimbulkan kecemasan baru di kalangan elite politik dan masyarakat intelektual yang mengkhawatirkan supremasi militer. Dengan begitu, semakin jelas bahwa AD mempertahankan politik negara dalam negara seperti yang sudah dirintis oleh Nasution.

“Ini juga berarti bahwa Kubu Nasution menang terhadap Kubu Yani yang didukung oleh Presiden Soekarno, "kata Soebandrio. “Namun akhirnya Soeharto membangun kubu sendiri.”  
 
Sumber: Historia.id

StatusAceh.Net - Alunan suara takbir menggemah mengiringi pelepasan jemaah umrah yang dilakukan Bupati Langkat Ngogesa Sitepu bersama Bupati Langkat terpilih Terbit Rencana.

Sebanyak 143 melepas jemaah umroh di Masjid Agung Kota Madya Binjai, Rabu (9/1).

Jemaah umrah yang akan bertolak ke tanah suci, terdiri dari enam orang anggota Korpri Pemkab Langkat bersama 35 orang bilal mayit dan penggali kubur Langkat, dimana biaya pemberangkatkan oleh Bupati Langkat terpilih priode 2019-2024.

Sedangkan 102 orang lainnya berasal dari Medan, Binjai dan Langkat berangkat melalui dana pribadi.

Bupati Langkat, Ngogesa mengingatkan agar jamaah umrah selalu menjaga kesehatan, agar dapat menjalankan ibadah umroh dengan baik. Ia memohon kepada jemaah tetap saling menjaga satu sama lainnya, dan terpenting berusaha khusyuk ibadah dan berdoa.

"Kami semua yang ada disini mendoakan, agar kiranya semua jemaah selalu diberi kesehatan dalam menjalani setiap rukun dan syarat umroh," ujarnya.

Selain itu, Ngogesa juga mendokan, agar jemaah umroh semuanya, tetap dalam kondisi sehat sampai kembalinya lagi tanah air, tidak kurang sesuatu apapun. Ngogesa juga menitipkan doa kepada jemaah ketika berada di tanah suci.

"Tolong doakan agar Langkat semakin sejahtera dan makmur, serta masyarakatnya tetap memiliki akhlak mulia, dan diberi generasi taqwa yang dijauhkan dari akhlak tercela," harapannya.

Bupati Langkat terpilih, Terbit Rencana di kesempatan yang sama, juga mendoakan, semoga dengan banyaknya jemaah umroh asal Langkat, dapat memberikan keberkahan bagi bumi bertuah ini, dan Langkat selalu dalam penjagaan Allah SWT. Dirinya juga berharap agar jumlah jamaah baik yang umroh maupun berhaji asal Langkat semakin bertambah di setiap tahunnya.

"Harapannya setiap tahun semakin bertambah yang menunaikan rukun ibadah, umrah dan haji. Sehingga Langkat selalu dijauhkan dari marabahaya, baik bencana alam, perpecahan umat dan petaka lainnya," harapnya.

Terbit Rencana juga sembari memohon agar jemaah umroh mendoakan dirinya agar nantinya, diberi kemampuan untuk mengelola Langkat dengan baik, hingga semakin maju dari berbagi aspek pembangunan.

Ustad Irfan Yusuf selaku pimpinan PT Saka Cahaya Pratama yang memberangkatkan jemaah umroh, mengucapkan terima kasih kasih kepada Ngogesa dan Terbit Rencana serta kepada para jamaah umroh atas kepercayaan menggunakan travelnya.

"Semoga mendapatkan kelancaran dan kenyamanan di perjalanan, serta selamat sampai tujuan,"pungkasnya. (*)

Sumber: medan.tribunnews.com

Papua - Aparat gabungan TNI dan Polri kembali terlibat baku tembak dengan Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Kali ini baku tembak terjadi di Sinak, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Rabu (9/1) sekitar pukul 08.56 WIT.

Satu anggota TNI terkena tembakan dalam peristiwa ini. Sementara dari kubu KKSB, satu orang disebut tewas. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Mohammad Aidi membenarkan insiden tersebut.

Anggota TNI yang terluka dalam kontak senjata itu diketahui bernama Praka Subhan Razak. Dia terluka di bagian lutut kanan dan lengan kanan.

"Memang benar ada baku tembak hingga melukai satu anggota TNI atas nama Praka Subhan Razak dan satu KKSB tewas tertembak," kata Kol Inf Aidi, dikutip Antara.

Namun Aidi enggan belum bisa menjelaskan secara rinci atas peristiwa tersebut. Sebab hingga kini belum ada data lengkap tentang insiden tersebut.

"Belum ada data lengkapnya," ujar Aidi.

Mantan Waasintel Kodam XVII Cenderawasih itu mengatakan, korban akan dievakuasi ke Timika, namun belum diketahui kapan evakuasi dilakukan. | Antara

,
Lhokseumawe – Sebanyak 74 prajurit TNI yang akan berdinas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di jajaran Korem 011/Lilawangsa mengikuti pembekalan dan pelatihan kewirausahaan, di perternakan Pak Ulis, Simpang Keramat, Aceh Utara, Rabu (9/01).

Mukhlis Azhar yang sering disapa Pak Ulis, memang sudah dikenal sebagai tokoh yang peduli dengan dunia Usaha Mandiri khususnya di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Namun menjadi pemateri pelatihan para calon Babinsa, Pak Ulis bertujuan memberikan gambaran tentang pengetahuan usaha mandiri diantaranya peternakan kambing kepada para prajurit TNI yang akan berdinas sebagai Babinsa.

Berbagai Usaha Mandiri yang ditekuni Pak Ulis hampir semuanya dikatakan berhasil, termasuk usaha ternak sapi yang sampai saat ini dapat dikatakan sebagai contoh dalam mengembangkan usaha para calon Babinsa nantinya dapat memahami dan mengerti proses pengelolaan peternakan kambing baik kesehatan hewan itu sendiri hingga mampu memproduksi sekaligus mengaplikasikan kepada masyarakat desa, katanya.

Sementara itu, Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Purmanto  mengatakan, kepada seluruh calon Babinsa dengan mengikuti pelatihan ini, diharapkan dapat menjadi pembekalan dan memiliki pengetahuan umum diantaranya usaha ternak kambing secara terpadu, serta dapat menghitung dan membuat komposisi pakan ternak yang baik.

“Pelatihan ini nantinya menjadi pembekalan yang bermanfaat dan akan kalian kembangkan dalam membantu usaha masyarakat di Desa-desa tempat kalian bertugas nantinya, umumnya di masyarakat luas dalam mengaplikasikannya, sehingga inilah yang disebut Profesionalisme TNI untuk Rakyat”, pungkas Danrem Kolonel Inf Purmanto.

Kegiatan turut dihadiri antara lain, Kasrem 011/LW Letkol Inf Sunardi Istanto, para Kasi dan Pasi Korem 011/LW, serta puluhan Calon Babinsa. (Rill)

Banda Aceh - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, meminta Perguruan Tinggi vokasi yang ada di Aceh untuk 'mencetak' lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja. Permintaan itu disampaikan Nova saat menerima audiensi dari Politeknik seluruh Provinsi Aceh, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa (8/1/2019).

Ada beberapa Perguruan Tinggi vokasi di Aceh di antaranya Politeknik Aceh, Politeknik Indonesia Venezuela, Politeknik Aceh Selatan, Politeknik Kutaraja dan Politeknik Negeri Lhokseumawe.

“Kalau full of skill harus menyediakan lapangan kerja, saya cenderung ingin ada penciptaan lapangan kerja, karena ada investment dari Aceh sendiri. Saya minta politeknik juga mengajarkan enterpreneurship agar dapat menciptakan lapangan kerja bukan mencari lapangan kerja. Nanti anak seperti ini (mampu ciptakan lapangan kerja) yang akan saya rekrut untuk mengembangkan sumber daya di Aceh,” kata Nova.

Nova mengatakan, terkait pengembangan pendidikan vokasi di Aceh dukungannya jelas seperti yang tertuang dalam visi misi Irwandi-Nova. Meskipun demikian Pemerintah Aceh tidak dapat mencampuri secara langsung pendanaan  Perguruan Tinggi Negeri Politeknik di Aceh, sebab kewenangan terhadap Perguruan Tinggi diatur oleh Pemerintah Pusat berdasarkan undang-undang yang berlaku.

Oleh karena itu, agar pengembangan pendidikan vokasi tidak mangkrak, ia berharap pihak politeknik mampu berinovasi mencari berbagai sumber pendanaan selain dari APBA. Misalnya, menggunakan skema kerjasama dengan pihak swasta seperti yang telah dilakukan Rumah Sakit Umum Zainal Abidin.

Pada kesempatan itu, Nova mengimbau agar politeknik dapat memberikan masukan secara rutin kepada pihaknya. Kemudian ia mengajak semua pihakbekerja secara baik dan berintegritas serta loyal dalam membangun Aceh.
Sementara Perwakilan Politeknik seluruh Provinsi Aceh, Yuhanis Yunus memaparkan dalam memengembangkan suatu negara selain dari sumber daya alam, sumber daya manusia dari bakat dan skill sangatlah penting. Kemampuan tersebut, ujarnya, bisa diperoleh melalui pendidikan vokasi. Menurutnya, pendidikan vokasi berbeda dengan universitas karena 70 persen adalah praktik sementara teori hanya 30 persen.

“Kita berharap pendidikan vokasi dapat membantu kerja Pemerintah Aceh untuk periode 2017- 2022. Sampai dengan Februari 2018 Presiden masih sangat antusias membahas terkait pendidikan  vokasi. Pendidikan vokasi diharapkam mampu untuk menggerakkan beberapa sektor motor ekonomi Indonesia. Di antaranya manufaktur, kesehatan, ekonomi digital, wisata,pekerja migran serta agribisnis,” ujar Yuhanis.

Meskipun demikian, dalam mengembangkan pendidikan vokasi di Aceh pihaknya kerap dihadapkan berbagai tantangan. Seperti terbenturnya dengan regulasi yang tidak memberikan wewenang kepada pemerintah daerah agar dapat terlibat langsung dalam pendanaan pengembangan Perguruan Tinggi Negeri vokasi di Aceh.

Yuhanis mengatakan, citra vokasi sebagai salah satu pendidikan unggulan dapat menjadi salah satu pendidikan untuk membangun  Aceh yang lebih baik. Selain itu, ia berharap mahasiswa lulusan pendidikan vokasi yang memiliki skill dapat memajukan Kawasan Industri Aceh di Ladong dan KEK di Lhokseumawe.(Rill)

,
Lhokseumawe – Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Purmanto yang diwakilkan Kepala Staf Korem (Kasrem) 011/Lilawangsa Letkol Inf Sunardi Istanto memeriksa seluruh fisik kendaraan personel TNI Korem 011/Lilawangsa termasuk kelengkapan dokumen kendaraan tersebut.

Pemeriksaan kendaraan termasuk kelengkapan dokumen seperti SIM dan STNK bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik kendaraan dinas oprasional secara langsung sehingga mendukung kelancaran tugas sehari-hari.

Kasrem “Semua kita cek, mulai kelengkapan pribadi personel itu sendiri, kendaraan dinas baik kebersihan hinga mesin dan roda yang utama harus tetap diperhatikan, ini juga merupakan cermin kedisiplinan bagi pengendara khususnya prajurit TNI dan memberi contoh kepada masyarakat yang terus kita laksanakan demi kelancaran dalam melaksanakan tugas di lapangan,” katanya di Lapangan Jenderal Sudirman Korem 011/Lilawangsa, Rabu (9/1/2019) pagi.

Sementara itu, saat melakukan pemeriksaan kendara, Kasrem yang didampingi Kasilog Letkol Inf Mujamil beserta para perwira Korem 011/Lilawangsa turut mengecek langsung dan mengendarai kendaraan dinas tersebut untuk memastikan dan lebih meyakinkan apakah benar kendaraan itu dalam keadaan sehat, bahkan Kasrem periksa lebih detail setiap kendaraan dan menanyakan kepada deriver masing-masing kendala dan kerusakan kendaraan dinas tersebut sehingga dapat diketahui dalam dukungan perbaikan nantinya.(Rill)

Serang - Tindak kekerasan fisik yang dikakukan oleh pelaku berinisial FR terhadap Adit pada hari Jum'at, 16 September 2018 lalu, akhirnya menemui titik terang. Berkat kerja keras tim Unit Reskrim PPA Polres Serang, Brigpol Wardiman, dan kawan-kawan, pelaku berhasil ditetapkan sebagai tersangka pada tanggal 22 Desember 2018.

"Atas perkembangan ini, kami pihak keluarga korban berterima kasih, dan berharap agar proses penegakan hukum dalam rangka memberikan rasa keadilan kepada korban terus dilanjutkan," ujar Nursopyan, paman Adit yang notabene telah yatim-piatu sejak kecil, yang mengasuh Adit selama ini,
Selasa (8/1/2019).

Informasi terkait penetapan tersangka kepada FR disampaikan penyidik Wardiman kepada keluarga melalui pesan WA kepada Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, pada 7 Januari 2019 kemarin. "Ini info dari pak Wardiman, Penyidik Unit Reskrim PPA," demikian Wilson melalui pesan WA-nya kepada keluarga korban.

Dalam pesan WA penyidik tersebut, Wardiman menjelaskan secara lengkapnya sebagai berikut:

"Atas nama inisial FR sudah kita panggil dan sudah kita mintai keterangan sebagai TERSANGKA, namun dalam hal ini tidak dilakukan penahanan karena umur yang bersangkutan 16 thn, dan ancaman pidana yang dikenakannya 5 thn. Berdasarkan Pasal 32 ayat (2) huruf b UU No 11 Tahun 2012, yang bisa ditahan itu jika melakukan pidana dengan ancaman 7 thn penjara, sedangkan untuk perkara ini ancamannya cuma 5 thn penjara. Nanti kita lihat rekomendasi dari BAPAS yang telah melakukan penelitian terhadap tersangka, sebagaimana di atur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf C UU RI No. 11 Thn 2012, apakah rekomendasinya ke DIVERSI atau tidak. DIVERSI sendiri diatur dalam pasal 6 s/d pasal 15 UU RI No. 11 Thn 2012."

Selang beberapa hari sebelum mendapatkan info terkait penetapan tersangka terhadap FR, tiga orang anggota keluarga tersangka FR datang mengunjungi keluarga korban. Hadir dalam kesempatan itu TN selaku orang tua FR, dan dua orang kawannya yang salah satunya adalah Ketua RT kp. Leuwi Limus, Ds. Pabuaran, Kec. Cikande, Kab. Serang, Banten, (tempat tinggal keluarga pihak tersangka). Dalam kunjungannya ke pihak keluarga korban, TN dan kawan-kawan bermaksud musyawarah, agar masalahnya bisa diselesaikan dengan jalan kekeluargaan saja.

Musyawarah itu tidak menemukan kesepakatan. Dalam negosiasinya, pihak keluarga pelaku menanyakan sejumlah nominal dana sebagai bentuk tanggung jawab. Dan ketika nominal itu disampaikan, pihak keluarga pelaku merasa keberatan.

"Sebenarnya pihak keluarga korban tidak menentukan berapa nominal yang harus dikeluarkan oleh pihak keluarga tersangka sebagai bentuk tanggung jawabnya. Namun akibat kejadian yang disebabkan oleh tersangka, kini keluarga korban terjerat utang untuk biaya operasi luka bacok yang diderita korban Adit," jelas Nursopyan kepada keluarga tersangka.

Maksudnya, imbuh Nursopyan, kalau pihak keluarga tersangka ingin bertanggung jawab dan membantu, pihak keluarga korban hanya diminta bantu melunasi utang biaya operasi/pengobatan korban saja. "Nominalnya itu sudah tertulis di kwitansi pinjaman dana penyembuhan Adit akibat dibacok anaknya keluarga tersangka. Jika mereka mau selesaikan utang pembiayaan operasi dan pengobatan Adit, urusan dengan pihak korban dianggap selesai," ujar Nursopyan yang juga adalah Ketua PPWI Banten itu.

Senada dengan Nursopyan, Yeyet, ibu angkat Adit menyatakan bahwa dalam kesedihan melihat derita bacok keponakannya itu, dirinya menganggap hal ini sebagai kecelakaan.

"Saya sudah menganggap ini adalah kecelakaan, tapi saya tidak mau dikejar utang lagi," ujar Yeyet pasrah.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Adit, siswa sebuah SMP di Jawilan, Kabupaten Serang, Banten, menjadi korban salah sasaran, dibacok oleh FR, siswa salah satu SMK swasta di Cikande, Kabupaten Serang, beberapa bulan lalu. Luka bacok cukup parah, korban dilarikan ke rumah sakit, dan harus menjalani operasi. Dalam keterangannya, pihak rumah sakit menyatakan bahwa sabetan bacokan benda tajam nyaris mengenai paru-paru korban.

"Ya sudah begini saja pak, saya bukan sedang berjualan hingga harus ditawar-tawar terus. Toleransi dari kami sudah cukup, rasa sakit kami dapat, materi keluar banyak, sampai motor saya juga terjual untuk biaya segala-gala. Dan kalau bapak tidak bisa bantu, tidak apa-apa. Saya tetap terima kalau semua ini ujian buat kami, dan berarti bapak tinggal berurusan dengan hukum saja. Dan saya yakin kalau hukum itu tidak buta," kata Yeyet kepada keluarga tersangka. (Red)

Suasana evakuasi jenazah Sutinem (60), pelaku yang mengakhiri nyawanya dengan menggantung diri di pohon petai di Kampung Burni Bius, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah, Selasa (8/1/2019).(KOMPAS.som/ IWAN BAHAGIA SP)
Aceh Tengah - Seorang nenek bernama Sutinem (60), warga Kampung Burni Bius, Kecamatan Silihnara, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, ditemukan tewas di kebun kopi milik salah seorang warga sekitar, Selasa (8/1/2018).

Sehari sebelum kejadian, salah seorang anak korban sempat melaporkan peristiwa orang hilang ke Polsek Silihnara, dan meminta warga sekitar untuk mencarinya.

"Anak korban melaporkan bahwa ibunya sudah dua hari tidak pulang ke rumah, sehingga dipimpin Reje (Kepala Desa) pencaharian terhadap Sutinem dilakukan sekitar pukul 20.30-23.00 WIB, namun hasilnya nihil. Karena hujan deras, pencarian pun dihentikan," kata Kasat Reskrim Polres Aceh Tengah AKP Agus Riwayanto Diputra SIK, Selasa (8/1/2018).

Esoknya, puluhan warga kembali melakukan pencarian pada pagi hari. Sekitar pukul 08.30 WIB, akhirnya korban ditemukan tak bernyawa di perkebunan kopi milik tetangga korban dengan kondisi tali terikat di leher dan sudah terputus dari batang petai.

"Korban kemudian dievakuasi dengan ambulans ke rumah sakit oleh personel Polsek Silihnara, termasuk kapolsek dan wakapolsek untuk divisum," jelas Agus Riwayanto.

Kakek Zainal Gantung Diri Hasil penyelidikan polisi, sementara ini disimpulkan bahwa korban menggantung dirinya menggunakan tali nilon plastik yang diikatkan di batang pohon petai.

"Setelah diperiksa di RSU Datu Beru, hasil visum menyatakan bahwa korban murni gantung diri, karena pada saat diperiksa tidak ada ditemukan bekas luka di bagian tubuh korban, kecuali di leher, dengan kondisi mengeluarkan kotoran dari dubur," ungkap Agus Riwayanto.

Sementara itu berdasarkan informasi yang diperoleh Kompas.com, Sutinem memang dikenal suka pergi sendiri apabila ada masalah. Bahkan sebelum menghilang, korban diketahui sempat bertengkar dengan anak kandungnya di rumah, sampai akhirnya korban pergi dari rumah dan bunuh diri.

Baca Selengkapnya
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.