2019-02-17

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Banda Baro - Kafilah Kecamatan Banda Baro sebanyak 40 orang yang dilepas oleh Bapak Camat Banda Baro Nawafil Mahyudha, S.STP didampingi Anggota DPR Aceh dari Partai Aceh Tgk. Tarmizi Panyang, Pimpinan Dayah Terpadu Darul Makrifah, Tokoh Muda Banda Baro Tajuddin, S.Sos, Muspika Kecamatan Banda Baro, Imum Mukim, Ketua KPA Tgk. Hasanuddin dan tokoh masyarakat lainnya.

Dalam sambutannya Bpk. Nawafil Mahyudha, S.STP berpesan "Kafilah Kecamatan Banda Baro tidak di berikan target muluk2, diharapkan mempertahankan prestasi oada MTQ sebelumnya.

Teungku Tarmizi Panyang pada kesempatan tersebut, menyampaikan "Semua Kafilah Kecamatan Banda Baro untuk menjaga kekompakan, fokus dan tetap semangat, keluarkan segenap kemampuan dan bawa nama baik bagi Banda Baro.

Ketua LPTQ Kecamatan Banda Baro Teungku Abdullah Wahi, S. Pdi mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yg telah berpartisipasi untuk kafilah Bnda Baro.

Tokoh muda Kecamatan Banda Baro, Tajuddin, S.Sos dalam kesempatan tersebut sangat berharap Kafilah Kecamatan Banda Baro tahun ini lebih berjaya, dan jangan patah semangat, tetap kompak dan Insya Allah kita bisa berjaya.(Rill)

INI jeritan hati seorang guru. Mungkin sekali juga jeritan hati seorang dosen dan orang tua. Mari kita hitung. Berapa lama mendidik seorang anak sejak dari taman kanak-kanak (TK) sampai berhasil menjadi sarjana.

Lalu masih harus berjuang lagi jika ingin menempuh strata S-2, kemudian naik lagi S-3. Itu semua mungkin memerlukan waktu minimal 20 tahun. Untuk berhasil meraih gelar profesor, seorang dosen bahkan perlu perjuangan lanjutan lagi. Bayangkan, betapa banyak biaya dan pengorbanan yang mesti dikeluarkan baik tenaga, pikiran, uang, maupun emosi.

Membayangkan itu semua maka sangat wajar kalau acara wisuda sarjana merupakan hari kegembiraan dan pelepasan dari semua lelah serta penantian panjang. Orang tua berbondong-bondong ke kampus untuk menyaksikan hari bersejarah itu. Para wisudawan mengenakan pakaian toga simbol kelahiran kembali sebagai seorang yang telah dewasa secara intelektual. Mereka berfoto ria untuk mengabadikan momen yang amat mahal dan langka dalam hidup seseorang.

Demikianlah, dengan bekal kesarjanaan, seseorang lalu menapaki jalan hidup serta karier lebih lanjut. Di antara mereka ada yang berkarier sebagai akademisi di lingkungan kampus dan ada pula yang berkarya di jajaran birokrasi pemerintahan ataupun di sektor swasta. Saya sebagai seorang guru, dosen, dan sementara ini dipercayai sebagai pimpinan universitas akhir-akhir ini dibuat sedih dan merenung membaca berita berbagai skandal korupsi yang dilakukan oleh mereka yang latar belakang pendidikannya sarjana, bahkan ada yang dikenal sebagai akademisi dan profesor.

Sungguh situasi ini membuat pilu. Sebagai seorang guru dan dosen pasti sedih, bertanya-tanya, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita? Secara teoritis-normatif seorang sarjana pasti tahu bahwa korupsi itu jahat, bagaikan virus yang akan merusak jaringan tubuh birokrasi yang berujung pada kelumpuhan. Birokrasibukannya bekerjaproduktif memajukan bangsa dan melayani rakyat, melainkan hanya menghabiskan APBN untuk membayar gaji bulanan dan biaya proyek yang jadi kenduri para koruptor.

Kami bertanya-tanya. Apakah pendidikan yang salah, atau mental pejabat kita yang sangat rapuh, ataukah sistem dan kultur birokrasi kita yang ganas dan akan menggilas siapa pun yang bergabung? Saya tidak tahu persis apa jawabannya. Namun, yang pasti hari-hari ini serasa melihat mendung hitam menutupi dunia kampus.

Kita ingin suasana di luar kampus memberikan inspirasi dan motivasi kepada mahasiswa bahwa jalan terbaik untuk meraih sukses adalah belajar keras, menjaga integritas, dan mengembangkan keahlian serta keterampilan komunikasi. Tetapi sangat memilukan, yang selalu saja menjadi sumber pemberitaan adalah drama politik, berita korupsi, mafia hukum, dan dunia selebritis. Saya selalu membayangkan, setiap tahun berapa puluh ribu sarjana diwisuda di seluruh Indonesia.

Tetapi bersamaan dengan itu selalu muncul kepedihan dan pesimisme mengingat sarjana yang kualitasnya bagus dan mudah memperoleh lapangan kerja yang ideal pasti jumlahnya minoritas. Lebih menyedihkan lagi kalau ternyata lapangan kerja yang dimasuki kulturnya busuk. Bertahun-tahun belajar untuk meraih sarjana agar memperoleh lapangan kerja, tapi sampai di tempat kerja, godaannya terlalu berat.

Teori dan etika yang dipelajari di sekolah dijungkirbalikkan. Yang jujur malah terpinggirkan. Yang edan yang kebagian. Begitu pun bagi aktivis mahasiswa yang semasa di kampus menggebu- gebu antikorupsi, ketika bergabung ke parpol atau birokrasi secara drastis berubah perilaku dan gaya hidupnya. Mereka berbuat persis seperti yang mereka kecam ketika sebagai aktivis mahasiswa.

Ada juga aktivis mahasiswa yang sudah pintar bermain “proyek”dan keterampilan itu dilanjutkan setelah jadi sarjana dan aktif di parpol atau birokrasi pemerintahan. Yang paling membuat kesal tentu saja jika aparat penegak hukum, khususnya polisi, jaksa, dan hakim, dengan seenaknya mempermainkan pasal undang-undang (UU) dan hukum sebagai medium untuk mengejar uang haram.

Langit hitam menutupi kampus. Serasa sia-sia menyelenggarakan pendidikan dengan biaya yang mahal kalau instansi lain malah merusak jerih payah guru dan dosen. Atau memang ada yang salah dalam sistem dan kultur pendidikan kita sehingga tidak melahirkan pribadi yang tangguh dengan keterampilan tinggi.

Begitu sulit panitia seleksi mencari komisioner yang andal, sesulit mencari sebelas pemain sepak bola kelas dunia dari dua ratus juta lebih penduduk Nusantara. Kita cukup puas dan bahagia dapat menikmati piala dunia. Hanya sampai di situ saja. Kita mengagumi sebuah negara demokratis, bebas korupsi, dan rakyatnya makmur. Sementara ini cukup hanya kagum saja dulu. (*)

Penulis: PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT (Rektor UIN Syarif Hidayatullah) Sumber:okezone.com

,
Aceh Besar – Keikutsertaan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dalam membantu petani merupakan upaya khusus membantu program pemerintah daerah dalam mensukseskan swasembada pangan yang diwujudkan melalui pendampingan langsung ke sawah di wilayah binaannya.

Hal itu lah yang terus dilakukan oleh Babinsa Koramil jajaran Komando Distrik Militer (Kodim) 0101/BS dengan membantu petani mulai dari proses penanaman sampai tanaman dapat dipanen.

Seperti dilakukan oleh Babinsa Desa Mane Dayah Serda Agus Marsudi Koramil 20/Darul Kamal terjun langsung ke sawah mendampingi petani, membantu memberikan pupuk tanaman padi, bertempat di Desa Mane Dayah Kecamatan Darul Kamal Kabupaten Aceh Besar, Jum’at (22/02/19).

Tujuan pemupukan ini yaitu untuk memberikan kesuburan terhadap batang tanaman padi dan sebagai langkah dalam mengurangi serangan hama tanaman padi. Pemupukan ini sebaiknya dilakukan secara serentak supaya penanggulangan hama padi bisa berjalan dengan efektif.

Bati Tuud Koramil 20/Darul Kamal Pelda Zulkarnaini saat dikonfirmasi mengatakan bercocok tanam padi di sawah menjadi aktifitas rutin dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan, karena hal itu juga merupakan salah satu mata pencarian mereka.

“Bagi para petani tentu sudah tidak asing dengan proses pemupukan padi, rata-rata mereka sudah paham bagaimana cara memberi pupuk dengan benar dan kapan jadwal padi diberi pupuk,” jelas Pelda Zulkarnaini.

Meskipun demikian, lanjutnya, ada beberapa petani yang belum begitu paham mengenai jadwal pemupukan padi. karena jika tidak sesuai dengan aturan yang benar, maka dapat berakibat kurang baiknya pertumbuhan tanaman padi.

“Untuk itu, perlu adanya pengawan Babinsa dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian, karena dengan adanya pendamping petani, supaya tanaman padi yang ditanam dapat tumbuh subur, sehingga akan memperolah hasil panen yang maksimal,” pungkas Pelda Zulkarnaini.(Rill)

Lhoksukon - Satuan Reskrim Polres Aceh Utara merilis ciri-ciri mayat yang ditemukan nelayan seunuddon telah membusuk ditengah laut perairan Aceh Timur kemarin.

Kapolres Aceh Utara melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholidiansyah mengatakan, dari hasil visum di Rumah Sakit Cut Meutia diketahui mayat tersebut berjenis kelamin laki-laki.

“Mayat mengenakan celana training warna hitam ukuran S, kemudian baju hitam berkerah dengan resleting bermerk WM BEST, dan celana dalam warna hitam merk G&G.” ujar Iptu Rezki di ruang kerjannya. Jumat (22/2/2019).
kalung yang ada pada mayat


Ia menambahkan mayat juga menggunakan aksesoris kalung warna hitam berbahan karet silikon dengan mata dari kayu berbentuk mata tombak lonjong. Ciri-ciri lainnya mayat juga memilik tato dipunggung dan paha.

“Ada sejumlah tato dipunggung seperti bentuk kompas dengan 8 penjuru mata angin, kemudian sebuah tato besar ditengah punggung dan memanjang hingga ke punggung bagian bawah serat sebauh tato lain di bagaian paha sebelah kanan.” tutur Kasat Reskrim.

Ia menyampaikan kepada masyarakat apabila mengetahui ataupun mengenali ciri-ciri mayat seperti yang telah disebutkan agar melaporkan ke polisi terdekat atau ke Polres Aceh Utara.(Trb)

,
Lhokseumawe - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) yang bertanggung jawab atas operasi pertahanan Negara Republik Indonesia di Darat.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan organisasi TNI, Angkatan Darat membuka kesempatan kepada Pemuda-pemuda terbaik di seluruh pelosok Tanah Air Indonesia untuk menjadi Tamtama Prajurit Karier TNI AD th 2019.

Penerimaan prajurit yg merupakan program tahunan ini juga dilaksanakan oleh Ajenrem 011/Lilawangsa. Pendaftaran telah dibuka sejak 18 Februari 2019, dan para pemuda mulai berdatangan ke Ajenrem 011/Lilawangsa untuk mendaftarkan dirinya mjd Tamtama Prajurit Karier TNI-AD, ujar Kaajenrem 011 Mayor Caj Waryono, Jumat (21/2).

Selanjutnya Kaajenrem mengatakan, bahwa pendaftaran akan dibuka sampai dengan tgl 27 Februari 2019 di Ajen Korem 011/Lilawangsa, Jalan Iskandar Muda, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Persyaratan untuk mjd Tamtama PK TNI AD diantaranya; pria berusia minimal 17 th 9 bln, beijazah minimal SMP sederajat dgn tinggi badan minimal 163 cm. Disamping itu, calon juga harus sehat jasmani dan rohani.

Selanjutnya Kaajenrem 011 mengajak; mari para pemuda terbaik bangsa bergabung bersama TNI AD utk mengawal dan menjaga keutuhan dan keberkangsungan NKRI melalui Tamtama TNI AD. Segera daftarkan diri anda sebelum pendaftaran ditutup. Mjd TNI AD itu GRATIS, tidak dipungut biaya.(Laung)

Hilda Fauziah (18), remaja putri asal Kampung Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, dilaporkan hilang semenjak November 2018.
StatusAceh.Net - Seorang gadis cantik dilaporkan kabur dari rumahnya jelang hari pernikahan, karena diduga tak mau dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.

Informasi dihimpun, gadis bernama Hilda Fauziah berusia 18 tahun tersebut sudah 4 bulan menghilang.

Hingga saat ini sang gadis belum juga kembali ke rumahnya sehingga membuat kedua orang tuanya resah.

Bahkan sejauh ini pihak keluarga tidak mengetahui keberadaan Hilda Fauziah.

Hilda Fauziah (18), merupakan gadis cantik asal Kampung Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, dilaporkan hilang sejak November 2018.

Gadis cantik anak pasangan Sahik dan Ailah ini, diduga meninggalkan rumah karena menolak dinikahkan dengan pria pilihan orangtuanya.

 Saat dihubungi, Ibunya Hilda, Aila menuturkan, anaknya meninggalkan rumah sejak 4 November lalu, tepatnya dua pekan sebelum mau dinikahkan.

"Awalnya mau dinikahkan, dua minggu lagi menuju hari H, pernikahan yang direncanakan tidak terlaksana," tuturnya, Kamis (21/2/2019).

Ailah menduga, Hilda pergi tanpa pamit karena menolak dijodohkan, tapi tidak berbicara langsung kalau dirinya menolak dinikahkan.

Dia menuturkan, setelah kepergian Hilda, keluarga berupaya mencari keberadaannya namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda.

Upaya menghubungi teman sekolah Hilda belum membuahkan hasil.

Setelah mencari informasi kesana kemari, lanjut Ailah dirinya mencurigai anaknya pergi dengan seorang pria yang diduga pacarnya.

Informasi yang diperolah keluarga dari teman saat Hilda belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Kecamatan Pancatengah, Hilda berpacaran dengaan seorang lelaki.

"Setahu saya waktu di pesantren, anak itu kenal dan ada yang pengen orang Bandung" sebut Ailah.

"Nah kami curiga karena anak saya hilang, si lelaki itu juga tidak ada di pondok".

"Saya curiga tapi tidak ada bukti. Saya dapat informasi itu dari teman anak saya waktu di pondok," kata Ailah.

Selain meminta informasi dan bantuan kepada teman Hilda, keluarganya juga melaporkan hilangnya putri tercintanya tersebut kepada Kepolisian Polsek Pancatengah.

Kapolsek Pancatengah AKP Jonnaedi menuturkan, setelah menerima laporan, anggotanya langsung melakukan pencarian.

"Kita sudah lakukan cek pos melalui hpnya, ke temen temannya juga. Pokoknya setiap ada informasi baru, kita telusuri," Kata Jonnardi saat dikonfirmasi.

Diakui Jonnaedi, awalnya ditengah masyarakat muncul dugaan penculikan terhadap Hilda, namun setelah ditelusuri, Hilda meninggalkan rumah diduga akibat menolak dijodohkan oleh kedua orang tuanya.

"Karena tidak ada yang datang menculik, justru Hilda yang pergi karena menolak dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tua," kata Jonnaedi.

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Tak Mau Dijodohkan dengan Pria Pilihan Orangtuanya, Gadis Cantik Ini Sudah 4 Bulan Menghilang

StatusAceh.Net - Future Language And Art For Smart Students Of High School (FLASH) Allegiance 2019, salah satu kegiatan sangat baik untuk diikuti para siswa. Mereka diharapkan dapat menjadikan kegiatan tahunan ini sebagai sarana untuk mengembangkan diri.

Hal tersebut disampaikan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Sekda Aceh M Jakfar, saat membacakan sambutan tertulis Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, pada pembukaan acara Future Language And Art For Smart Students Of High School (FLASH) Allegiance 2019, di SMA Negeri Modal Bangsa, Kamis (21/2/2019).

“Kami menyambut baik FLASH Allegiance ini. kami menghimbau agar para siswa menjadikannya sebagai sarana untuk mengembangkan intelektualitas, nilai-nilai keislaman, serta wadah bagi para siswa yang menjunjung tinggi nilai sportivitas dalam bersaing,” ujar Jakfar.

Jakfar mengingatkan, bahwa IPTEK dan IMTAQ merupakan dua hal yang saling mengisi dan melengkapi dalam kehidupan. Sedangkan seni merupakan salah satu daya imajinasi siswa yang harus dikembangkan karena berpengaruh pada sifat kecerdasan manusia.

“Integrasi antara intelegensi, pengetahuan, dan kemampuan spiritual akan menjadikan hidup selaras, serasi dan seimbang. Dengan perpaduan tiga hal ini, maka generasi muda Aceh akan memiliki intelektualitas tinggi, dimensi imajinasi yang luas, serta kemampuan spiritual yang tinggi pula,” kata Jakfar.

Jakfar mengungkapkan, tantangan dunia global saat ini menuntut pengasahan dan pengembangan intelektualitas diri para siswa, namun tetap harus memperhatikan nilai-nilai keIslaman. Selain itu, dalam pengembangan intelektualitas di era globalisasi, kemampuan berbahasa asing khususnya bahasa inggris memiliki peranan yang mutlak dalam berkomunikasi.

Jakfar meniai bahwa Flash Allegiance 2019 merupakan suatu terobosan yang sangat cemerlang dari SMA Modal Bangsa. Pelaksanaan kegiatan ini diyakini akan mampu menjaring dan mengembangkan bakat siswa untuk bersaing secara sportif dalam menghadapi tantangan dunia global.

Kegiatan yang mengangkat tema ‘Modernisasi Kreasi dan Inovasi Karya Siswa Aceh dalam ruang lingkup IPTEK, IMTAQ, Bahasa dan Seni Bernilai Islami’ ini diikuti oleh 740 peserta dan diselenggarakan selama 6 hari (21-26 Februari). [Rill]

Sebuah video senam goyang pinggul emak-emak di atas sajadah salat dikecam netizen.
StatusACeh,Net - Sekelompok masyarakat dari Majelis Taklim Al-Huda berencana melaporkan Caleg PDIP untuk DPRD DKI, Doddy Akhmadsyah Matondang ke Bareskrim Polri. Ia dilaporkan terkait aksi senam goyang pinggul bersama emak-emak di atas sajadah yang viral di media sosial.

Hartini mengatakan, rencananya akan melaporkan Doddy ke Bareskrim Polri Kamis (21/2/2019) hari ini. Mereka mengecam aksi Doddy bersama rekan-rekannya yang telah menginjak-injak sajadah.

"Insyaallah besok (Kamis) pukul 13.00 WIB," ujar Hartini saat dikonfirmasi Suara.com, Rabu (20/2/2019).

Sebelumnya, sebuah video senam goyang pinggul emak-emak di atas sajadah salat mendapat kecaman dari netizen. Saking geramnya, banyak netizen mendoakan para perempuan yang tengah senam sembari menginjak sajadah terkena azab.

Video tersebut berdurasi 45 detik disebar oleh akun Twitter @PanglimaHansip pada (18/2/2019). Dalam video itu tampak emak-emak tengah senam mengenakan pakaian ketat loreng hijau dan cokelat berpadu abu-abu.

Belakangan, diketahui aksi senam goyang pinggul itu terjadi di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu (17/2) lalu. Dalam aksi senam goyang pinggul itu juga diikuti oleh Doddy yang merupakan Caleg PDIP untuk DPRD DKI Jakarta.

Tak berselang lama video tersebut viral, Doddy pun langsung menyampaikan permohonan maaf lewat sebuah unggahan video di akun Instagram miliknya @doddyakhmadsyah. Melalui unggahan video di akun Instagramnya itu, Doddy menyampaikan permohonan maaf kepada para kiai, ulama dan umat muslim khususnya di wilayah Jakarta.

Doddy mengaku khilaf dan tanpa sengaja melakukan aktivitas di atas sajadah. Menurut pengakuannya sajadah tersebut berdasarkan keterangan dari pihak panitia setempat sudah tidak terpakai. | Suara.com

,
Aceh Besar – Personel Komando Rayon Militer (Koramil) 23/Kuta Malaka melaksanakan pembinaan fisik yang di pimpin oleh Serka Sony Santoso, bertempat di halaman Makoramil 23/Kuta Malaka Desa Lam Ara Cut Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar, Kamis (21/02/19).

Serka Sony Santoso mengatakan, bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menjaga dan memelihara kebugaran tubuh serta stamina tetap terjaga, sehingga setiap prajurit dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

“Dengan rutin kita melaksanakan pembinaan fisik, maka dapat membuat tubuh menjadi lebih prima, sehingga setiap tugas yang kita terima dapat terlaksana dengan baik” katanya.

Sebelum melaksanakan lari jalan, lanjutnya, terlebih dahulu dilakukan peregangan otot, supaya tidak kaku atau hal lain yang dapat membuat cedera tubuh saat melakukan lari ataupun kegiatan fisik lainnya.

“Untuk menghindari cedera, sebelum beraktifitas kita harus lakukan peregangan terlebih dahulu, supaya otot kita siap melakukan aktifitas lari atau olahraga lainnya,” imbuhnya

Setelah melaksanakan lari, tambahnya, dilanjutkan dengan kegiatan tambahan yaitu mengangkat barbel dan “pull up”, kemudian diakhir kegiatan baru dilaksanakan pelemasan.

“Gunanya kita melaksanakan pelemasan yakni supaya otot saat kita lari jadi lemas kembali dan tidak terjadi kram pada kaki,” pungkasnya.(Rill)

Balikpapan - Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo membuka Rakornas Implementasi Reformasi Birokrasi bagi Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia dan Rakernas Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) Tahun 2019, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu 20/02/2018.

Rakornas para Sekda tersebut diikuti oleh 25 Sekretaris Daerah, termasuk Pelaksana Tugas Sekda Aceh, Helvizar Ibrahim. Ada beberapa isu strategis yang dibahas dalam Rakornas tesebut. Di antaranya adalah percepatan reformasi birokrasi dan pencegahan korupsi.

Tjahjo Kumolo mengatakan, penegakkan hukum dan reformasi birokrasi sangat memberi pengaruh pada kepercayaan publik kepada pemerintah. Dalam arahannya itu, Tjahjo menyebutkan tugas Sekda tak lain membantu Kepala Daerah terpilih membangun wilayahnya. Sekda, ujar dia berperan penting dalam menjabarkan janji kampanye Kepala Daerah terpilih. 

"Janji kampanye adalah hutang politik. Sebab itu peran Sekda untuk juga mencermati perkembangan dinamika yang ada di daerah," kata Tjahjo.

Tjahjo menyebutkan, Sekda juga sangat berperan membantu Kepala Daerah mengambil kebijakan untuk melaksanaan tugas administratif kepemerintahan. Juga melakukan koordinasi ke seluruh perangkat daerah, yang diaplikasikan kepada pembinaan aparatur sipil negara.

"Membangun birokrasi yang efektif dan efisien. Untuk memperkuat ekonomi daerah. Dengan membangun tata kelola, itu perlu pencermatan yang baik. Itu peran Sekda," kata Tjahjo.(Rill)

Ilustrasi

TAKENGON- Baru beberapa waktu lalu napi lapas banda aceh kabur dalam jumlah ratusan, kini aksi kabur rame-rame juga terjadi di Rutan Klas IIB Takengon.

Sebanyak 11 narapidana (napi) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Takengon Kabupaten Aceh Tengah berhasil kabur dengan cara membobol atap plafon menuju ruang bendahara serta memecahkan kaca jendela.

Dari informasi diterima redaksi, aksi kaburnya ke-11 napi ini berlansung pada Kamis (21/2/2019) sekiranya pukul 03:00 WIB Dini hari.

Berikut nama-nama napi yang berhasil kabur dari Rutan Klas IIB Takengon.

1. Zuhri Bin Jamil, 35,Kp.Bale Kec. Lut Tawar Kab. Aceh Tengah kasus Narkotika

2. Kaslanto Bin Sumawardi, 22, Kp. Mekar Jadi Kec. Kute Panang, Kab Aceh Tengah, kasus persetubuhan

3. Ewin AG Bin M Nasir, 39,Kp Blang Kolak Asli Kec. Bebesen Kab. Aceh Tengah kasus Narkotika

4. Sukri Agus M.Taib,50 thn, Kp. Persiapan Boom Kec. lut Tawar Kab. Aceh Tebgah, Penyalahgunaan Narkotika

5.Dedi Setiawan Bin Bardan, 28,Kp. Bukit Tempurung Kec. Tanjung Rambug Kab. Aceh Tamiang, Perlindungan anak,pencurian dengan kekerasan

6.Yusriadi Bin Zainudin,37, Kp. Paya Jeget,Kec Pegasing Kab. Aceh Tengah, kasus Narkotika

7. Ikhwansyah Bin Ariskana,19,Kp Bener Kelipah, Kec. Bener Kelipah Kab. Bener Meriah, Kasus Perlindungan anak

8.Supri Arianto Bin Kamalludin,25. Kp. Damaran Baru Kec. Timang Gajah Kab. Bener Meriah, kasus Narkotika

9. Suardi Als Adi Andong Bin Jainuddin,33,Kp. Kuala Bengi Kec. Bebesen Kab. Aceh Tengah, Kasus Narkotika

10. Pauzi Bin Hamdan, 23. Kp. Muasara Pakat Kec. Pintu Rime Gayo Kab. Bener Meriah, Kasus Pembunuhan

11.Nurman Bin M Yusuf, 40, Kp. Sawang Lhokoksukon, Kasus Narkotika

Informasi yang lain menyebutkan para napi juga membawa kabur satu unit Laptop berisi data-data keuangan rutan takengon.

Hingga berita ini dilansir Karutan Klas IIB Takengon Sugiyanto yang dihubungi melalui sambungan telepon selulernya tidak bersedia menjawab panggilan redaksi meski telah dilayangkan beberapa pesan singkat baik SMS maupun Via WhatAps.(Red)

Lhoksukon - Dua nelayan asal Ulee Rubek Barat Kecamatan Seuneedon menemukan seorang mayat laki-laki yang terapung di perairan laut kawasan seneudon, Aceh Utara, Kamis (21/2) sekitar pukul 10:00 WIB.

Panglima Laot Seuneudon, Amir Yusuf saat dikonfirmasi mengatakan mayat itu ditemukan oleh dua orang nelayan Bustami Uma dan Asnawi Daud disaat mereka sedang melaut.

Menurut, Amir Yusuf awalnya mayat itu ditemukan dua orang nelayan dan kemudian diangkat dalam perahu, lalu dibalut ke dalam plastik dan dimasukkan kedalam fiber agar kondisi manyat tersebut tidak semakin hancur. Menginggat jarak dari penemuan mayat menempuh 7 jam ke bibir pantai.

Amir menambahkan diduga mayat sudah beberapa hari hanyut. Namun kita tidak belum mengetahui indentitas korban.“Mayat tersebut saat ini sudah dibawa ke Rumah Sakit Cut Meutia milik Pemda Aceh Utara untuk dilakukan Optosi,” Jelasnya.(TM)

Banda Aceh - Sakit adalah sebuah ujian yang diberikan Allah sesuai dengan kemampuan hambanya. Dan, salah satu obat yang mujarab adalah do'a dan kedekatan dengan orang-orang terkasih.

Pesan tersebut disampaikan oleh Ustadz Masrul Aidi, dalam tausyiah singkatnya pada acara Dzikir dan Do'a bersama Masyarakat Aceh untuk kesembuhan Ibu Ani Yudhoyono, yang di pusatkan di Aula Meuligoe Wakil Gubernur Aceh, Rabu (19/2/2019) malam.

"Sakit adalah ujian dari Allah. Sakit bukanlah persoalan, yang jadi persoalan adalah bagaimana cara kita menghadapi ujian itu. Mengunjungi saudara sesama muslim yang sedang sakit adalah kewajiban kita, karena keberadaan dan kebersamaan dengan orang yang dicintai merupakan salah satu penawar sakit. 

Namun karena jarak dan waktu, maka kita berkumpul bersama malam ini untuk mendo'a kesembuhan Ibu kristiani Herrawati Binti Sarwo Edhie Wibowo, istri dari Presiden RI ke-6, Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono," ujar Ustadz Masrul.
"Mudah-mudahan keikhlasan do'a kita malam ini akan diijabah Allah, dengan memberikan kesembuhan kepada Ibu Ani, dan memberikan nikmat sehat kepada kita semua," sambung Ustadz Masrul Aidi.

Sementara itu, Ustadz Zul Arafah yang juga menyampaikan Tausyiah singkat, dalam kesempatan tersebut mengingatkan seluruh hadirin tentang pentingnya silaturrahmi dan berbagi sebagai salah satu kunci mengikat ukhuwah.

"Kita berkumpul malam ini bukan sebuah kebetulan tapi semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Kesempatan ini mari kita jadikan sebagai sarana bersilaturrahmi, sembari mendo'akan agar Allah mengangkat sakit dari tubuh Ibu Ani," ujar Ustadz Zul Arafah.

Sementara itu, Istri Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Dyah Erti Idawati, dalam sambutannya turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas antusiasme dan kehadiran masyarakat di Meuligoe Wakil Gubernur, untuk memberikan semangat dan mendo'akan kesembuhan Ibu Ani.

"Terimakasih kepada bapak dan ibu yang telah berhadir dalam rangka mendo'akan kesembuhan orangtua kita, yaitu Ibu Ani Yudhoyono. Harapan kita tentunya Ibu Ani Yudhoyon yang saat ini sedang berjuang, Insya Allah seluruh proses pengobatan dilancarkan oleh Allah, semoga do'a kita malam ini di ijabah oleh Allah," kata Dyah Erti.

Sebelum do'a bersama, Dyah Erti memberikan santunan kepada anak yatim dan makan malam bersama.

Sebagaimana diketahui, Ibu Ani Yudhoyono divonis menderita kanker darah atau leukemia, atas rekomendasi tim dokter kepresidenan RI, sejak 2 Februari lalu Istri Presiden ke-6 RI tu telah menjalani perawatan di Singapura.(Rill)

Lhoksukon - Alfinur Rizki, pelajar kelas 3 MAN ditemukan meninggal dunia dihilir sungai Keureto tepatnya di gampong Siren Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Kamis (21/2/2019). Sebelumnya 2 hari yang lalu korban dilaporkan tenggelam dihulu sungai saat sedang berenang bersama teman-temannya.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Matangkuli Iptu Sudiya mengatakan jasad korban pertama kali ditemukan Zulfahmi, (18).

“Saksi Zulfahmi datang kesungai yang berada dibelakang rumahnya untuk mandi bersiap berangkat sekolah. Saat mengambil air dengan timba untuk menggosok gigi saksi melihat sosok tubuh manusia yang mengapung.” ujar Iptu Sudiya Karya.

Ia menambahkan, Saksi yang kaget menemukan mayat, lantas kembali lagi kerumah sambil teriak minta tolong “ada mayat disungai”, hingga datang dua saksi lain menarik jasad korban ke daratan.

“Jasad korban telah dievakuasi setelah orang tua korban datang memastikan bahwa mayat yang ditemukan adalah Alfinur Rizki. Dalam kasus ini pihak kelurga menolak korban untuk divisum.” pungkas Iptu Sudiya.


BAPANAS- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Belitung bekerjasama dengan Pengurus Kabupaten Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Belitung menggelar Sosialisasi Pemilih Pemula bagi anggota PPI Kabupaten Belitung Senin (18/02) di Aula Kantor Dinas Pemuda & Olahraga Kabupaten Belitung. 

Kegiatan yang diikuti oleh Anggota PPI angkatan 2017 dan 2018 ini dihadiri oleh Komisioner KPU Divisi Sosialisasi & SDM Abdul Gofur, S.Pd dan Komisioner Divisi Hukum & Pengawasan Herry Nurjaya, SH.

Kegiatan Sosialisasi Pemilih Pemula ini menyasar para pemilih di Usia 17 – 22 Tahun. Selain memberi wawasan tentang bagaimana cara menggunakan hak pilih, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan politik kepada generasi muda. 

KPU berharap, Anggota PPI yang ikut serta dalam kegiatan tersebut bisa menjadi agen sosialisasi tentang pentingnya menyalurkan hak pilih bagi masyarakat khususnya dikalangan para pelajar dan komunitas tempat mereka bersosialisasi. 

Sehingga kita bersama sama memiliki kepentingan dan tanggung jawab untuk mensukseskan pemilu serentak tahun 2019.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Kabupaten PPI Belitung, Yovie Agustian Putra, A.Ma.Pust menekankan penting dan berharganya nilai 1 suara Hak Pilih dalam menentukan masa depan bangsa Indonesia. Politik hari ini menjadi perbincangan hangat di tengah proses menuju Pemilihan Umum 2019. 

Perkembangan media juga memengaruhi masyarakat sebagai pemilih dalam menerima informasi terkait para Peserta Pemilu. Jangan sampai para pemilih pemula ini merasa minder untuk hak suaranya sehingga enggan datang ke TPS, apalagi menukar hak suaranya dengan nominal yang tak ada nilainya sama sekali. 

Tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai pendidikan politik bagi generasi muda agar mereka maksimal menyalurkan hak suaranya, harap yovie.

Sementara itu Komisioner KPU Belitung Abdul Goful, S.Pd menjelaskan Anggota PPI dipilih sebagai salah satu sasaran Sosialisasi Pemilih Pemula karena usia mereka masuk dalam kategori terlebih lagi mereka berasal dari berbagai sekolah sehingga mampu menjadi agen yang meneruskan informasi sosialisasi tentang Pemilu. 

Diharapkan selesai mengikuti kegiatan ini mereka bincang-bincang dengan temannya, mereka meng-upload aktivitas ini di medsos mereka dan sebagainya, sehingga informasi terkait Pemilu 2019 bisa tersebar dan masyarakat dari segala lapisan bisa menggunakan hak pilihnya, ujar Gofur.

Dalam materi yang disampaikan selain menjelaskan tata cara mencoblos, juga dilakukan sosialisasi pemilih pindah dan pemilih khusus atau pemilih yang menggunakan KTP elektronik karena tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Selanjutnya dilakukan simulasi pencoblosan dengan mengenalkan berbagai bentuk surat suara kepada para peserta.

Seraya menambahkan, Saat ini KPU Belitung tengah gencar melaksanakan sosialisasi ke semua basis- basis seperti basis pemilih perempuan, pemilih pemula, pemilih muda, disabilitas, komunitas, basis keluarga, basis warga internet, basis marginal, keagamaan, dan basis yang berkebutuhan khusus. Kami datang ke sekolah – sekolah, dan Alhamdulillah mereka sangat antusias. 

Tentu harapan kami semua Lapisan masyarakat Kabupaten Belitung menggunakan Hak Pilihnya pada pemilu serentak tanggal 17 April 2019 mendatang, Ujar Gofur didampingi Komisioner Herry Nurjaya, SH.(Red/Rls)

StatusAceh.Net - Seorang mahasiswi di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Malang, berhasil ditangkap anggota Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polsek Singosari, di wilayah jajaran Polres Malang. Sedangkan mahasiswi tersebut ditangkap karena telah melakukan pencurian uang, sebesar Rp 130 juta, di sebuah Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlahiyah, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Hal ini dibenarkan, Kapolsek Singosari Kompol Untung BR, Rabu (20/2), saat dihubungi melalui telepon selulernya, jika pihaknya telah melakukan penangkapan terhadap seorang mahasiswi yang saat ini berkuliah di salah satu PTN di Kota Malang, bernama Siska Zumrotul Fauziah (22), warga Desa Selobagus, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Sedangkan penangkapan mahasiswi tersebut, berdasarkan laporan dari pengurus Ponpes Al Ishlahiyah, serta rekaman CCTV yang sempat viral di media sosial (medsos).

“Kami berhasil mengamankan tersangka, dan juga mengamankan barang bukti, diantaranya berupa Copy Rekaman CCTV, satu unit Hand Phone (HP), satu unit sepeda motor dengan Nomor Polisi (Nopol) S 4683 HX, kartu ATM Bank BCA, dan uang tunai sebesar Rp. 146 juta, yang kita duga dari hasil kejahatan,” ungkapnya.

Menurut Untung, pihaknya berhasi menangkap tersangka Siska, hal itu berdasarkanlaporan Nomor  LP/ 53/ II  2019/ Jatim/ Res.Mlg/ Sek. Singosari, tanggal 13 Pebruari 2019. Sehingga dari laporan itu, maka pihaknya melakukan penyelidikan dan akhirnya berhasil melakukan penangkapan terhadap tersangka di tempat persembunyiannya di wilayah Kabupaten Tuban. Sedangkan dalam penggeledahan yang kita lakukan, pihaknya berhasil menemukan dan menyita barang bukti yang terkait dengan tindak pidana tersebut.

“Dan kini tersangka dan barang bukti, saat ini sudah kami amankan di Polsek Singosari, hal itu guna untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan, serta untuk kepentingan pengembangan lebih lanjut,” paparnya.

Dijelaskan, kejadian itu sebelumnya telah diketahui seorang saksi yang merupakan Santriwati di ponpes tersebut bernama Dhea (17), pada Rabu (13/2), pukul 13.00 WIB, yang saat itu akan membuka lemari yang berisi uang tunai, sebesar Rp 130 juta, dan kunci lemari yang awalnya di taruh diatas lemari itu tidak ada. Karena mengetahui kunci lemari telah hilang, saksi melapor kepengurus ponpes.

Setelah itu, lanjut Untung, para pengurus sepakat membongkar paksa pintu rak lemari, namun setelah di bongkar paksa diketahui uang operasional yang berada dilemari sudah tidak ada atau hilang. Kemudioan para pengurus ponpes melaporkan ke pengelola Yayasan Pondok dan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Singosari. “Dengan kejadian ini, maka pelaku pencurian itu, kami jerat pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang tindak pidana pencurian dengan ancama hukuman maksimal 5 tahun kurungan penjara,” pungkasnya. | Harianbhirawa.com

Lhoksukon -  Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Utara, Rabu (20/2/2019) mengelar lomba baca puisi kepada pemilih pemula atau siswa tingkat SMA sederajat se kabupaten Aceh Utara di gedung panglateh Lhoksukon.

Ketua KIP Aceh Utara Zulfikar melalui Ketua devisi sosialisasi pendidikan pemilih, partisipasi masyarakat dan SDM Muhammad Usman mengatakan kreasi pentas seni ini dengan lomba baca puisi ini diikuti sebanyak 31 siswa tingkat SMA sederajat di Kabupaten Aceh Utara, sedangkan 5 diantara peserta Laki laki dan 26 lainnya peserta perempuan.

“Para pesertaakan membacakan tiga judul puisi karya Teungku Mahdi Idris  yang telah disiapkan KIP dengan judul pesta rakyat, demokrasi dan tahukah tuan, mereka (peserta) akan dinilai oleh para dewan juri, “kata Muhammad Usman

Dia Menyebutkan,, jumlah total hadiah lomba puisi tersebut mencapai Rp 5.800.000 plus sertifikat, untuk juara I Rp 1.500.000, juara II Rp 1.200.000 dan Juara III Rp 1.000.000, sedangkan harapan I Rp 800.000, harapan II Rp 700.000 dan harapan III Rp 600.000.

“Selain kepada peserta yang mendapatkan juara pertama hingga harapan, kepada para peserta lain juga akan diberikan hadiah hiburan dan serifikat, karena mereka sudah ikut andil dalam mengikuti acara ini,” terangnya.

Menurutnya, melalui kegiatan kreasi pentas seni  atau lomba baca puisi ini tingkat pemilih pemula, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya pemilih pemula  dalam menyukseskan pemilu serentak 2019.

“Kami harapkan pemilih pemula yang hadir dalam kreasi pentas seni ini bisa membagikan semangat kepada yang lain dalam rangka mengajak para pemilih, untuk beramai ramai ke TPS untuk memberikan hak pilih atau suara pada 17 April 2019 mendatang.”pungkasnya.[RRI]

Ilustrasi
Lhokseumawe - Wartawan harian waspada di Kota Lhokseumawe Zainuddin mengatakan pada Senin (18/2), sekira pukul 16.00 Wib,  dirinya diancam oleh Fadli, seorang napi narkoba di Lapas kota tersebut. Pengancaman itu dilakukan via handphone seluler.

Menurutnya, Fadli merupakan TNI Kodim 0103/Aceh Utara yang dipecat karena tertangkap sebagai bandar sabu itu  langsung membentak dan menuding wartawan Waspada selama ini kerap membocorkan atau melaporkan tentang dirinya yang pernah sering keluar masuk penjara dengan alasan berbelanja barang kantin dalam penjara. 

Tidak hanya itu,  Fadli juga merasa sakit hati lantaran aktifitasnya pernah terbongkar dengan barang bukti sebuah foto sedang liburan dan berwisata di Kota Sabang bersama petugas Lapas Lhokssumawe pada tahun 2014 lalu. 

Fadli mengaku dirinya tahu wartawan Waspada yang telah membongkar aktifitasnya keluar penjara dari informasi petugas dan pejabat Lapas Lhokseumawe yang memberikan nomor kontak wartawan Waspada. 

Beruntungnya kasus ancaman itu sempat terekam jelas percakapannya dengan handphone wartawan Waspada dalam bahasa Aceh yang kasar. 

"Kamu yang suka menelpon pejabat Banda Aceh tentang saya sering keluar dan berwisata.  Sekarang saya tidak lagi kelola kantin penjara karena kau haramjaddah. Awas kamu kuhajar. Ayo datang kemari di depan lapas biar ku hajar, " kata Zainuddin seraya mengutip ancaman Fadli via seluler. 

Padahal, satu jam sebelum Fadli mengancam,  Wartawan Waspada baru saja usai melakukan konfirmasi dengan Kakanwil Kemenkum Ham Aceh Agus Toyyib terkait perkembangan kasus napi teroris kabur dan sipir tertangkap transaksi narkoba oleh Polda Aceh. 

Ironisnya,  Agus merasa kaget mengetahui adanya Napi Fadli yang mengancam wartawan karena mendapat bocoran identitas dari oknum Lapas Lhokseumawe. 

Namun, Kakanwil Kemenkum Ham Aceh Agus Toyyib mengakui Fadli mungkin dulu pernah sering keluar penjara, tapi dalam beberapa bulan ini tidak lagi bisa keluar. 

Begitu pun Kalapas Lhokseumawe Nawawi juga membenarkan Napi Fadli sebelumnya sering keluar secara ilegal,  tapi sekarang sudah tidak lagi. 

Berdasarkan informasi yang diterima dari Lapas Lhokseumawe  Fadli mantan TNI sejak 7 bulan lalu tidak dibenarkan keluar Lapas untuk belanja barang kantin. 

Bahkan Kalapas Lhokseumawe Nawawi  melarang keras napi tersebut keluar dengan ancaman apabila diketahui keluar Lapas akan dipindahkan ke UPT lain.

Untuk mengantisipasi hal itu,  Agus juga meminta Wartawan Waspada membantu informasi pantaua tentang adanya pengeluaran napi secara ilegal di Lapas Lhokseumawe. 

"Mohon Pak Zai bantu memantau apakah pengeluaran2 secara ilegal masih terjadi idak di lapas lhokseumawe. Misalnya saat Fadli lagi keluar, infokan ke saya, " pintanya. 

Terkait kasus pengancaman tersebut,  Kakanwil Kemenkum Ham Aceh Agus Toyyib meminta Kalapas Lhokseumawe Nawawi untuk mengecek kejadian ancaman tersebut. (TM)

LHOKSUKON – Kepolisian Resor Aceh Utara melalui jajaran Polsek Langkahan mengungkap kasus penggelapan sepeda motor dengan modus pinjam.

Kini tersangka berinsial NS, 21 tahun warga Gampong Tanjong Dalam Kecamatan Langkahan, Aceh Utara dengan barang bukti kejahatan 1 unit sepeda motor Honda Vario milik korban telah diamankan di Polsek Langkahan untuk proses hukum.

Honda Vario tersebut merupakan milik Musliadi, (41) warga Gampong Rambong Dalam Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Langkahan Ipda Samsul Bahri, berdasarkan laporan korban pihaknya melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan pelaku beberapa waktu lalu, (14/2/2019).

“Saat pertama diamankan, pelaku mengaku sudah menggadaikan motor korban ke temannya, selanjutnya malam tadi kita lakukan pengembangan ke kawasan Sawang dan berhasil menemukan barang bukti di belakang rumah saudara YS.” ujar Ipda Samsul, Rabu (20/2/2019).

Ia mengatakan, saudara YS sendiri tidak berada ditempat saat Polisi datang kerumahnya, dan diduga telah melarikan diri.

“Modus pelaku dalam kasus ini awalnya pinjam motor pada korban, namun hingga seminggu pelaku menghilang tanpa ada kabar, kemudian korban buat laporan dan kita tindak lanjuti dengan menangkap pelaku.” pungkasnya.(Trb)

Lhokseumawe - Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Lhokseumawe, Dedi Irvansyah, mengungkapkan, ada sebanyak 15 kelompok Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) yang tesebar di wilayah pesisir timur Provinsi Aceh.

Dedi menyebutkan, terdapat sekitar empat hingga lima kelompok gajah yang tersebar di hutan-hutan Aceh Timur dan Tamiang. Sedangkan di Aceh Utara terdapat tiga kelompok. Sementara Aceh Tengah, Bener Meriah dan Kabupaten Bireun diperkirakan sekitar empat kelompok.

“Sedangkan di wilayah Pidie Jaya dan Kabupaten Pidie terdapat dua kelompok gajah,” kata Dedi, Rabu (20/2).

Pihaknya terus melakukan pemantauan di beberapa wilayah tersebut, menurut Dedi dalam satu kelompok Gajah Sumatra terdapat 15 hingga 20 ekar gajah.

“Di wilayah Aceh Utara diperkirakan sudah mulai muncul tiga kelompok lagi, kita dapatkan dari hasil pemantauan di kawasan Cot Girek, Matangkuli hingga Langkahan,” ungkapnya.

Sementara di sisi lain berdasarkan pantauan dan laporan dari masyarakat terhadap gangguan tanaman perkebunan diperkirakan ada kelompok lain lagi di wilayah tersebut.

“Kemungkinan dalam kelompok gajah yang kita pasang GPS ada yang memisahkan diri karena ada betina lain yang sudah dewasa dan membentuk kelompok sendiri. Pembentukan kelompok ini juga dapat berkaitan dengan mencari makanan,” jelas Dedi.

Dia mengatakan populasi Gajah Sumatera, baik di wilayah utara dan timur maupun di wilayah barat serta selatan Provinsi Aceh, diperkirakan sekitar 800 ekor.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan terlihat banyak betina yang sudah melahirkan anak di kelmpoknya.

Sumber : Mi’raj News Agency (MINA)

Aceh Besar - Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Direktorat Narkotika Deputi Bidang Pemberantasan bekerjasama dengan BNN Provinsi Aceh, Polda Aceh, Polres Aceh Besar, Kodim 0101/BS Aceh, memusnahkan tanaman ganja seluas 1 hektare di Pegunungan Meuree, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Banda Aceh (19/2/2019).

Dalam keterangan pers BNN pada Rabu (20/2/2019), kegiatan ini di pimpin langsung oleh Kasubdit Narkotika Sintetis, Kombes Pol Iwan Eka Putra.

Ladang ganja dengan total luas kurang lebih 1 hektare ini berawal dari informasi masyarakat kemudian ditindaklanjuti oleh petugas BNN melalui proses penyelidikan kurang lebih satu hingga dua minggu untuk kemudian dimusnahkan.

Dari hasil penyelidikan tim, didapati ladang ganja yang siap panen dengan tinggi sekitar 75 - 300 sentimeter, dengan tingkat kerapatan tanaman sekitar  1 -hingga 4 batang per meter persegi dan berada di ketinggian sekitar 286 meter di atas permukaan laut yang 1 batang tanaman ganja tersebut dapat menghasilkan ganja basah sebanyak 650 gram.

Dengan begitu, tim gabungan ini berhasil memusnahkan tanaman ganja yang siap panen sebanyak kurang lebih 15 ton ganja basah.

Tim gabungan yang berjumlah 70 personil ini berkendara sekitar 2 jam melalui Kota Banda Aceh ke Kecamatan Indrapuri dan kemudian meneruskan waktu sekitar 45 menit dengan berjalan jalan kaki dari titik akhir kendaraan berhenti.

Medan yang cukup berat menjadi tantangan tersendiri bagi para personil tim gabungan untuk dapat mencapai titik ladang ganja.

Terkait penemuan ladang ganja untuk pertama kalinya di Tahun 2019 ini, Kombes Pol Iwan Eka Putra selaku Kasubdit Narkotika Sintetis Deputi Bidang Pemberantasan BNN mengatakan, agar seluruh masyarakat di Indonesia khususnya Aceh Besar untuk tidak lagi menanam tanaman ganja.

Karena ganja dengan kandungan zat THC (Tetra Hydro Cannabinol) di dalamnya ini merupakan tanaman yang dilarang, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang masih menanam maka akan dipidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Sumber: Tribunnews.com

Banda Aceh - Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Syahrial, mengatakan PT Tusam Hutani Lestari diambil alih Prabowo Subianto pada saat Indonesia dalam kondisi krisis moneter. Namun Syahrial tidak tahu Prabowo dapat uang dari mana untuk membelinya.

"Pada saat itu mereka punya tunggakan kepada negara atas pinjaman dana reboisasi. Jadi di saat krisis moneter aset-aset utang itu diperhitungkan semua. Jadi perusahaan kala itu mungkin diambil alih oleh Prabowo," kata Syahrial kepada wartawan saat ditemui setelah mengikuti rapat di Banda Aceh, Aceh, Rabu (20/2/2019).

Syahrial mengaku tidak tahu persis Prabowo membeli langsung dengan pihak perusahaan atau lewat BPPN. Status lahan saat itu juga bukan hak guna usaha (HGU), melainkan hak penguasaan hutan (HPH).

"Statusnya bukan HGU, tapi HPH, dikuasai izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan dan tanaman," jelasnya.

Perusahaan Tusam Hutani Lestari sudah menanam kayu di sana sejak 1993. Syahrial mengaku belum mengetahui kapan kayu-kayu di sana dapat ditebang, mengingat saat ini di Aceh belum ada industri pengolah pinus.

"Yang paling sesuai adalah untuk bahan baku kertas kraf. Saat ini untuk menjalankan roda usaha mereka, baru menyadap getah kebetulan cukup bernilai. Itu yang dijalankan untuk menghidupi perusahaan tersebut," ungkapnya.

Sementara itu, terkait moratorium logging yang dikeluarkan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada 2007, itu hanya berlaku untuk izin usaha atau hutan alam. Sedangkan untuk hutan tanaman, jelas Syahrial, hingga kini belum pernah ada moratorium.

Menurut Syahrial, dalam konsesi PT Tusam Hutani Lestari, tidak ada tanaman serai. Hal itu karena lokasi perusahaan berada di wilayah Bener Meriah dan sebagian Gunung Salak di Aceh Utara.

"Di areal ini bukan kawasan tanaman serai yang ada hanya di Gayo Lues. Hanya saja barangkali, areal PT Tusam ini sebagiannya status berubah dari hutan produksi menjadi HPL. Seperti di Ketol, wilayah ini ditanami masyarakat dengan komoditi tebu. Ini masih menjadi permasalahan di lapangan yang belum terselesaikan karena status lahannya HPL," bebernya.

Syahrial mengungkapkan tidak ada aktivitas perambahan hutan yang terjadi di kawasan perusahaan tersebut.

"Aktivitas di sana saat ini adalah mereka menyadap getah. Pinus yang ditanami dulu sudah besar itu yang mereka ambil hasilnya. Jadi di sana saat ini hanya ada aktivitas penyadapan getah," ungkap Syahrial.

Sedangkan terkait perizinan, lahan yang dimiliki Prabowo tidak bermasalah.

"Kalau uangnya dari mana saya tidak tahu. Yang jelas, beliau menginvestasikan," katanya. | Detik.com

Lhokseumawe - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Rabu (20/02) gelar diskusi publik mengenai titik kritis pemilu 2019 di gedung Cut Meutia Kampus Bukit Indah Lhokseumawe.

Diskusi publik tersebut menghadirkan tiga pemateri, yaitu mantan Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Provinsi Aceh, Ridwan Hadi, Direktur Jaringan Survei Inisiatif, Aryos Nivada dan dosen antropologi Fisip Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya. Adapun moderator diskusi Ayi Jufridar yang tak lain mantan anggota KIP Aceh Utara.

Pada sambutannya, sekretaris UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Unimal, Riyandi Praza, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari tanggung jawab Unimal terhadap problem kebangsaan, salah satunya adalah momen demokrasi elektoral seperti Pemilu. Acara dibuka oleh pembantu Rektor Bidang Kerjasama Luar, Dr. Juli Mursyida dan dihadiri oleh dosen, aktivis LSM, Relawan Demokrasi, aktivis mahasiswa, dan pers.

Dalam kesempatan itu, Teuku Kemal menyebutkan Indonesia berada pada fase transisi demokrasi yang tidak terlalu mengembirakan. Hoax dan black campaign yang menguat selama ini menyerang aspek sentimentil dan primordial pemilih. Isu SARA dieksploitasi sedemikian rupa sehingga memengaruhi pandangan masyarakat awam.

Di sisi lain para penyelenggara pemilu masih terperangkap pada isu-isu yang bisa memperkeruh hubungan. “KPU dan Bawaslu masih sering berseteru dalam penafsiran tentang UU Pemilu sehingga tidak sehat sebagai proses penyelenggaraan pemilu yang seharusnya konstruktif”, kata Kemal tentang hubungan Bawaslu dan KPU yang kerap tidak sejalan.

Di akhir presentasi, Teuku Kemal menyimpulkan, "Siapapun presidennya Isu-isu krusial tetap masih terjadi seperti penangangan masalah kejahatan masa lalu, rekonsolidasi aktor-aktor demokrasi, politik agraria yang belum menyejahterakan petani dan nelayan, masa depan energi, reindustrialisasi 4.0, politik ekonomi terutama di sektor riil dan ekstraktif dan isu keutuhan NKRI, pluralisme, dan multikulturalisme."

Sementara Ridwan Hadi, yang sekarang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Aceh tersebut melihat pemilu 2019 dari perspektif hukum dan perundang-undangan.

Menurutnya ada empat potensi pelanggaran hukum Jika DPT bermasalah dan terabaikan akan memegaruhi pada hak konstitusional warga negara. “Negara akan rugi karena hasil kerja yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan dan akan mengarah kepada kemerosotan demokrasi”, ungkap Ridwan.

Sementara di titik kritis tahapan pendistribusian logistik dan kekurangan surat suara juga bisa menjadi masalah lainnya. Problem ini mulai menguat pada momen pemilu kali ini dan diperlukan pola antisipasi yang tepat.

Aryos Nivada pada kesempatan itu membahas titik kritis kepemiluan dari perspektif keamanan dan politik, yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, ketertiban, penegakan hukum dan ketentraman masyarakat. Pengaruh gejolak politik nasional di Pilpres 2019 bisa berpotensi memengaruhi politik lokal Aceh.

"Logika rasionalnya, jika caleg maupun elite partai pengusung kedua kubu kandidat presiden memainkan isu SARA, bisa menyebabkan keamanan terganggu dan membahayakan keselamatan bangsa.

Tingkat kriminalitas setiap menjelang pemilu di Aceh cenderung meningkat yang mempengaruhi situasional keamanan. Mencermati kemungkinan kriminalitas yang terjadi di tahun politik lebih diwarnai intimidasi, tindakan kekerasan fisik, perusakan alat peraga, penyebaran kampanye hitam, dan lain-lain.

Dari hasil survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2018, menemukan tiga daerah yang tingkat penyebaran informasi bohong atau hoaxs sangat tinggi yaitu Aceh, Jawa Barat, dan Banten. Dari total 116,034,389 penduduk berdasarkan data BPS tahun 2010, LIPI mengambil sampel 1800 responden (200 orang di setiap provinsi) dengan kelompok usia mulai dari 17 hingga 64 tahun, dan menemukan kegawatan ternyata terjadi di ujung pulau Sumatera.

"Dhasil riset Jaringan Survei Inisiatif pada 2018, ditemukan fakta bahwa 52% pemuda kesulitan dalam membedakan antara berita hoax dan bukan. Alasan mengapa kesulitan membedakan hoax 49% menjawab karena mendapatkan berita dari sumber yang tidak terpercaya dan 40% menganggap berita tersebut bermanfaat padahal berita palsu," ulasnya saat seminar.(Rill)

Jakarta – Difasilitasi Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Perwakilan Masyarakat dan aparatur Desa Bunin dan Desa Damaran Baru serahkan dokumen usulan hak pengelolaan hutan desa (HPHD) ke Kementerian Lingkungan Hidup  dan Kehutanan melalui Dirjen Perhutanan Sosial dan Kerjasama Lingkungan (PSKL) pada hari Rabu 20 Februari 2019.
Penyerahan dokumen tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena kesiapan semua dokumen persyaratan usulan hutan desa bersarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup  dan Kehutanan Nomor P.83 tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial. Selain dokumen, usulan ini diserahkan karena keyakinan dan kesiapan masyarakat untuk melakukan penjagaan dan pengelolaan kawasan hutan sehingga dapat memastikan keberlanjutan dan keberadaan hutan di Desa mereka.

Mustakirun, Keuchik Gampong (Kepala Desa) Bunin, Kecamatan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur menyampaikan bahwa permohonan pengeloalaan hutan desa ini merupakan keinginan masyarakat gampong Bunin dalam menjaga kelestarian hutan secara mandiri, apa lagi sejak dahulu masyarakat tidak mengetahui bahwa kawasan hutan yang saat ini dimanfaatkan dan dikelola masyarakat adalah hutan negara.

“Permohonan ini kami sampaikan kerena kami ingin menjaga dan mengelola hutan kami secara mandiri, dari dulu kami beraktifitas di dalam kawasan hutan lindung dan hutan produksi Bunin tapi kami tidak tahu kalau hutan itu milik negara”

Selain itu Petue Kampung (Badan Pengawas Desa) Damaran Baru, Nuzul Alfiandi meyampaikan penyerahan dokumen yang difasilitasi Yayasan HAkA ini merupakan langkah tepat yang diambil dalam melakukan penyelamatan hutan di Kampung Damaran Baru, apa lagi Kampung Damaran Baru merupakan daerah kawasan rawan bencana banjir bandang sehingga diharapkan pengelolaan mandiri ini dapat memastikan hutan di kampung Damaran Baru tetap terjaga dan lestari.

“Kami sangat senang ketika mendengarkan bahwa Yayasan HAkA mau memfasilitasi kami untuk menyerahkan dokumen permohonan usulan hutan desa. Ini merupakan pilihan tepat yang kami ambil untuk memastikan hutan kami tetap terjaga, apa lagi kampung kami masuk kedalam zona merah kawasan rawan bencana banjir bandang”

Crisna Akbar Program manager SeTAPAK Yayasan HAkA menyebutkan usulan hak pengelolaan hutan desa ini dilakukan untuk memastikan agar masyarakat dapat melakukan pengelolaan kawasa hutan melalui pemanfaatan hasil hutan non kayu dan melakukan kegiatan wisata alam untuk dapat menunjang ekonomi masyarakat dalam kawasan hutan sehingga dapat mencegah terjadinya perambahan hutan. Berdasarkan pertemuan yang telah dilakukan perambahan hutan yang dilakukan oleh individu masyarakat dikarenakan faktor ekonomi. Selain itu besar harapan dengan adanya hutan desa ini masyarakat dapat menjaga hutan mereka sehingga dapat memastikan ketersedian air bersih untuk masyatakat luas dan dapat  meinimalisir konflik yang terjadi didalam kawasan hutan.

Adapun luas hutan yang di mohon oleh masyarkat Damaran Baru untuk menjadi hutan desa adalah 400 Ha yang berada dalam kawasan hutan lindung, sementara masyarakat Bunin mengusulkan 1189 Ha hutan lindung dan 1951 Ha Hutan Produksi untuk dikelola dan dijaga.(Rill)

StatusAceh.Net - Pada 13 Oktober 1945, para pemuda etnis Tionghoa dari Seutui, Peunayong, dan daerah sekitar Banda Aceh, berkumpul kemudian berkonvoi ke Ulee Lheu untuk menyambut masuknya Sekutu dan tentara Koumintang dari China.

Sepanjang jalan mereka mengolok-olok pejuang kemerdekaan dengan spanduk, dan poster provokatif, “Tentara kami akan mendarat di sini, mereka prajurit-prajurit pilihan.” Pemuda China sangat mendukung masuknya Sekutu ke Aceh setelah Jepang kalah. 

Sebaliknya, rakyat Aceh tidak menginginkan hal tersebut. Ribuan rakyat Aceh membuat pertahanan di sepanjang pantai. Dan sampai beberapa hari kemudian tentara Koumintang dari China yang disebut-sebut akan masuk Aceh bersama tentara Sekutu tidak pernah tampak batang hidungnya. Sejak itu sentimen anti China di Aceh mulai bangkit.

Untuk meredam hal itu, tokoh muda China di Jakarta, Injo Beng Goat pada 23 Oktober 1945 menulis surat khusus kepada masyarakar etnis Tionghoa di seluruh Indonesia. Kopian surat itu juga dibagi-bagikan kepada masyarakat etnis Tionghoa di Aceh.

Injo Beng Goat merupakan mantan redaktur surat kabar Keng Po yang terbit di Jakarta. Ia beberapa tahun mendekam dalam penjara ketika Jepang berkuasa. Dalam suratnya, ia menyerukan agar etnis Tionghoa ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan Belanda dan sekutunya.

Lhokseumawe – Rektor Universitas Malikussaleh, Dr Herman Fithra ST MT, menggelar silaturahim dengan kepala desa dan tokoh masyarakat di desa lingkungan Kampus Universitas Malikussaleh di Aula Cut Meutia Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe, Selasa (19/2/2019). Rektor mendapatkan banyak masukan dan saran dari kepala desa lingkungan.

Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, Herman menjelaskan kampus Unimal terletak di wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe, persisnya di Reuleut, Blang Pulo, Uteunkot, dan Lancang Garam.

“Saya memohon bantuan kepada keuchik dan orang tua kami yang ada di sekitar kampus, untuk menjaga semua potensi di Unimal. Seluruh aset yang ada adalah milik kita bersama, bukan milik Rektor, bukan milik dosen atau mahasiswa,” ujar Herman Fithra di hadapan keuchik dan tokoh masyarakat. 

Rektor Unimal juga menyebutkan perguruan tinggi tersebut memiliki banyak potensi yang bisa dimanfaatkan warga desa di lingkaran kampus. Potensi yang ada di gampong bisa diberdayakan dengan sumber daya yang dimiliki Unimal melalui berbagai program pelatihan.

Dana gampong dan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) yang ada saat ini, bisa mendapatkan asistensi atau pedampingan dari sumber daya yang ada di Unimal.Demikian juga dengan sumber daya lain yang ada bisa dimanfaatkan untuk mengangkat potensi gampong.

“Tapi kalau bantuan dana, mungkin tidak bisa karena dana yang dimiliki Unimal juga sangat terbatas,” ungkap Herman mengingatkan.

Dia juga menyebutkan rencana kerja sama dengan Pemkot Lhokseumawe untuk memberikan beasiswa satu orang di satu gampong di wilayah Lhokseumawe. Bentuk kerjasama tersebut sedang dibahas dan diharapkan sudah bisa berjalan pada 2020 mendatang.(Rill)

Banda Aceh - Pernyataan Cawapres Sandiaga Uno dan Koordinator Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi, Dahnil Azhar seputar pengelolaan lahan Capres Prabowo Subianto di Aceh, memberikan kesan bahwa kubu Paslon Nomor 02 mencoba berlindung di balik nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Hal ini diungkapkan Politikus PDIP Ramond Dony Adam.

"Saya sebagai orang yang pernah merasakan hidup pada masa konflik Aceh, sangat menyayangkan ucapan Cawapres 02 Sandiaga Uno dan Koordinator Jubir BPN Dahnil Anzar Simanjuntak. Kubu paslon 02 terkesan sedang mencoba berlindung di balik nama GAM, atas ratusan ribu hektare tanah yang sudah dikuasai oleh Pak Prabowo selama ini," kata Ramond dalam keterangannya, Selasa (19/2).

Caleg PDIP Dapil Aceh I ini menuturkan, PT Tusam Hutani Lestari merupakan perusahaan yang dimiliki Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo.

Ramond menilai, Dahnil Anzar terkesan merendahkan mantan kombatan GAM, dengan seolah menarik mereka untuk ikut melawan Jokowi.

"Mantan kombatan GAM bukanlah alat yang bisa dipermainkan sesuai kepentingan politik kalian. Mantan kombatan GAM adalah mereka yang cerdas dan berwibawa telah berani berjuang untuk mengubah nasib rakyat Aceh hingga seperti sekarang ini," lanjutnya.

Lanjutnya, pernyataan Sandiaga bahwa mantan kombatan HAM memanfaatkan lahan milik Prabowo tidak tepat. Lantaran berdasarkan pengakuan sejumlah mantan kombatan yang ditemui, mereka lebih memilih untuk mengurus pesantren di daerah pedalaman. Ada juga yang memilih sebagai petani sambil berkebun.

"Sandiaga Uno juga ngawur bicara tentang lapangan kerja di lahan yang dikuasai Pak Prabowo. Meningkatkan ekonomi siapa? Bahkan masih banyak mantan kombatan GAM yang kehidupannya saat ini masih jauh dari kata cukup," terangnya.

Dia meminta Sandiaga untuk menghentikan mengkaitkan masyarakat Aceh dengan Pilpres 2019. "Soal klaim bahwa perusahaan Prabowo banyak membuka lapangan kerja untuk masyarakat Aceh, Pak Sandi silakan berkampanye bergaya sinetron yang penuh dengan drama itu, tapi tolong jangan manfaatkan orang Aceh apalagi para mantan kombatan. Saat ini Aceh aman dan tentram, sekalipun di tahun politik seperti ini," lanjut Ramond.

Calon Anggota DPR tersebut juga menilai pernyataan Dahnil Anzar yang mengklaim Prabowo punya kontribusi besar terhadap rekonsiliasi Aceh dengan cara pendekatan ekonomi, tidak berdasar.

Sebelumnya, Gubernur Aceh non-aktif Irwandi Yusuf membenarkan bahwa Prabowo memiliki lahan yang cukup luas di provinsi tersebut. Irwandi tidak heran jika Jokowi mengetahui dan memiliki data bahwa Prabowo memiliki lahan yang luas. Sebab, Jokowi pernah bekerja di Bener Meriah.

"Pak Jokowi lebih tahu sebab Pak Jokowi kerja di sana juga dulu, di Bener Meriah. Pokoknya di sana tiga tahun dia dengan Pak Prabowo di bidang pinus hutan industri, pinusnya dipakai untuk bahan 'paper' (kertas), ada pabrik kertas di sana. Jadi, memang terjadi penebangan tapi minim penanaman," ungkap Irwandi di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Dilansir Antara, Senin (18/2).

Namun menurut Irwandi, pabrik kertas tersebut punya masalah. "Sudah bermasalah, pabriknya bermasalah, hutannya bermasalah, masih ada penebangan-penebangan, tahun pertama dan kedua, tapi kuhentikan, kok banyak ditebang tapi yang lama-lama ditebang kok masih botak, tidak ditanam, mau diajukan perpanjangan izin, tidak aku teken," ungkap Irwandi.

Polemik pemanfaatan tanah Prabowo di Aceh ini berasal dari Sandiaga yang menyebutkan, lahan seluas 120.000 hektare di Aceh Tengah itu digunakan eks aktivis GAM.

"Lahan kepemilikan Prabowo di Aceh banyak digunakan eks aktivis GAM untuk meningkatkan perekonomian," kata Sandiaga, saat acara dialog kewirausahaan OKE OCE di Karawang, Senin (18/2).

Menurut Sandiaga, wajar jika seorang warga negara menguasai konsesi lahan hutan milik negara. Apalagi tujuannya untuk kepentingan masyarakat sekitar. "Saya menilai hal yang wajar, dengan kepemilikan lahan konsesi hutan untuk kepentingan kesejahteraan, dengan membuka lapangan kerja," jelasnya.

Sementara itu, Dahnil Anzar menjelaskan para kombatan GAM banyak yang memanfaatkan lahan Prabowo.

"Jadi teman-teman kombatan Aceh itu merasa terbantu dengan lahan yang di HGU kan kepada Pak Prabowo, ingat itu bukan milik Pak Prabowo, Tapi beliau malah membayar, kira-kira begitu," kata Dahnil di Media Center Pemenangan Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Senin (18/2). | Merdeka.com

StatusAceh.Net - Belasan penumpang dilarikan ke puskesmas setelah bus mereka tumpangi bertabrakan dengan truk tronton di kawasan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar.
    
Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Besar AKP Vifa Fibriana di Aceh Besar, Selasa, mengatakan, kecelakaan terjadi Selasa (19/2) pukul 09.00 WIB. Tidak ada korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.
    
"Korban 14 orang, 12 penumpang dan dua sopir. Semua korban luka ringan serta dievakuasi ke Puskesmas Saree, Aceh Besar," kata AKP Vifa Fibriana.
    
Kendaraan yang terlibat tabrakan yakni Bus BE Arafah dengan nomor polisi BL 7711 AA dan mobil barang truk tronton BK 9960 CO. Kedua kendaraan terlibat tabrak berlainan arah.
    
Tabrakan terjadi di tikungan jalan nasional Banda Aceh -Sigli, Gampong Suka Mulia, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar.
    
Korban yang dievakuasi ke puskesmas yakni sopir bus M Hasan (63) warga Gampong Jijim, Kecamatan Keumala, Pidie, Aceh. Dan sopir truk Muhammad Syah (54) warga Gampong Palong, Kecamatan Glumpang Baro, Pidie.
    
Sedangkan korban dari penumpang bus yakni Miswardi (14), Nuraini (35), Saniah (40), Salammah (60), semuanya warga Gampong Ie Masen, Kecamatan Muara Tiga, Pidie.
    
Kemudian, Nurlaili, Sri Wahyuni (25), Maimunah (60) Indatul (50), warga Gampong Blang Raya, Kecamatan Muara Tiga, Pidie. Fakhruddin (42) dan Muklis (42), warga Glee Cut, Kecamatan Muara Tiga, Pidie.
    
Serta Cut Nazar Rika (23), mahasiswi warga Gampong Cot Nuran, Kecamatan Keumala Pidie, dan Saidah (70), ibu rumah tangga, warga  Gampong Suka Jaya, Kecamatan Muara Tiga, Pidie.
    
AKP Vifa Fibriana menyebutkan tabrakan berawal ketika bus melaju dari arah Sigli menuju Banda Aceh. Sedangkan truk sebaliknya dari arah Banda Aceh menuju Sigli.
    
Setiba di tikungan Gampong Suka Mulia, bus diduga hendak mendahului sebuah mobil barang di depan yang belum diketahui nomor polisinya.
    
"Saat memotong, bus masuk ke lajur kanan jalan. Sedangkan truk tronton berada di kanan jalan, sehingga tabrakan tidak terhindarkan," pungkas AKP Vifa Fibriana. | Antaranews

StatusAceh.Net - Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Joni Suryawan membantah kubu calon presiden Prabowo Subianto terkait pengelolaan lahan di Aceh. Mereka marah atas pernyataan yang diduga mengandung fitnah.

Joni menanggapi pernyataan Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Sebelumnya Dahnil menyebut lahan yang dikuasai Prabowo di Aceh Tengah saat ini dikelola oleh mantan kombatan GAM.

Joni kaget ketika mendengar kabar tersebut. Dia pun mempertanyakan siapa kombatan yang dimaksud Dahnil, serta di mana lahan yang diserahkan itu.

"Tunjukkan di mana lahannya, jangan jadi fitnah. Enggak enak juga dengan masyarakat kalau begini caranya. Kami membantah itu. Kami enggak pernah terima," kata Joni kepada CNNIndonesia.com, Senin (19/2).

Mantan Komandan Peleton Raja Muda Daerah III, Linge, Aceh Tengah, itu mengatakan sejumlah eks tentara GAM geram dengan klaim kubu Prabowo. Atas pernyataan Dahnil itu, beberapa anggota Joni ribut menanyakan hingga muncul kecurigaan di antara mereka karena seolah menerima lahan dari Prabowo.

"Sebagian besar marah, karena memang mereka enggak pernah menerima," ujar Joni.

Dia mengatakan selama ini orang-orang bekas petempur GAM mengelola tanah warisan orang tua masing-masing. Bahkan tanah yang dijanjikan pemerintah usai perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005, juga tak pernah diterima para kombatan.

"Dalam poin reintegrasi disebutkan menerima lahan pertanian, dan jaminan sosial. Persoalannya sampai hari ini lahan itu enggak pernah ada," katanya.

Joni menduga Prabowo menguasai lahan di Aceh sejak lama. Dia menjelaskan sejak 1980-an sebelum konflik pecah, banyak lahan di Aceh telah dikuasai para pengusaha dari luar wilayah Serambi Mekah itu.

Situasi ini yang menurut Joni mendorong para putra asli daerah angkat senjata untuk bergerilya ke hutan. Warga setempat tak lagi memiliki tanah adat karena telah dikuasai para pengusaha.

"Salah satu hal yang memotivasi kami waktu itu berangkat bergerilya, berperang, adalah penguasaan lahan-lahan adat Aceh oleh pengusaha dari luar Aceh," katanya.

Pimpinan Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, organisasi mantan para kombatan, juga membantah pernyataan Dahnil. Wakil Ketua KPA Abu Razak telah mengecek hal ini.

"Lahan Prabowo memang ada, kami akui. Tapi masalah dikelola oleh kombatan itu tidak benar, itu fitnah. Saya terkejut mengetahui berita itu," kata Razak.

Dia mengatakan para eks kombatan mempertanyakan lahan yang diklaim kubu Prabowo itu. Sejumlah pimpinan KPA di wilayah juga telah ditanya terkait hal ini. Namun mereka tidak ada yang mengetahui klaim Dahnil tersebut.

"Juru bicara pemenangan Pak Prabowo itu (bicara) tidak ada fakta bahwa lahan itu dikelola oleh kombatan," ujar Sekretaris Jenderal DPA Partai Aceh itu.

Sebelumnya, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut lahan yang dikuasai Prabowo di Aceh Tengah seluas 120 ribu hektare telah dikelola mantan kombatan GAM. Karena hal itu, kata Dahnil, Prabowo mengklaim dirinya sebagai patriot lantaran tanah hak guna usaha (HGU) Prabowo digunakan sepenuhnya untuk masyarakat.

"Kombatan-kombatan GAM di Aceh itu banyak memanfaatkan tanah-tanah itu atas izin Pak Prabowo," kata Dahnil di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Pernyataan itu menanggapi data yang disebutkan Joko Widodo saat debat capres kedua yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Saat itu Jokowi menyebut Prabowo memiliki lahan seluas 120 ribu hektare di Aceh Tengah, serta di Kalimantan Timur seluas 220 ribu hektare.

Menanggapi hal ini, Prabowo pun mengakui soal kepemilikan lahan tersebut. Namun, dia menjelaskan status kepemilikan lahan itu adalah hak guna usaha atau HGU. | CNN
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.