2018-05-27

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Sidang gugatan Dewan Pers
JAKARTA - Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Abdul Kohar mempertanyakan lamanya proses administrasi yang dilakukan pihak Dewan Pers selaku tergugat Perbuatan Melawan Hukum untuk membuktikan legal standingnya sebagai pemberi surat kuasa kepada dua pengacaranya, Frans Lakaseru dan Dyah HP.

Hal itu dipertanyakan, dikarenakan setelah diberi waktu selama hampir dua minggu, kuasa hukum Dewan Pers masih juga belum menyerahkan dokumen yang diminta majelis hakim pada sidang sebelumnya, sebagai bukti bahwa Yoseph Adi Prasetyo memiliki legal standing untuk menunjuk keduanya sebagai kuasa hukum.
"Kenapa dokumen keabsahan tergugat begitu lama untuk bisa disiapkan?" tanya Ketua Majelis Hakim Abdul Kohar saat sidang ke-3 berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis, 31 Mei 2018.

Menjawab pertanyaan Majelis Hakim, Frans Lakaseru selaku kuasa hukum Dewan Pers menjelaskan bahwa kliennya selaku principal masih mengumpulkan dokumen untuk memenuhi permintaan hakim.

Sementara itu, Kuasa hukum penggugat Dolfie Rompas mengaku heran atas lamanya administrasi yang dilakukan pihak Dewan Pers untuk membuktikan bahwa Yoseph Adi Prasetyo memiliki legal standing untuk bertindak sendiri atas nama Dewan Pers menunjuk kuasa hukum.

"Jika mengacu pada hukum acara, seharusnya dalam tiga kali sidang tergugat tidak hadir atau tidak mampu menunjukan bukti memiliki legal standing dalam menghadapi gugatan ini maka hakim bisa memutuskan Verstek," ujar Rompas kepada awak media usai sidang.
Kendatipun demikian, Rompas mengaku pihaknya beritikad baik dan memberi kesempatan kepada kuasa hukum Dewan Pers untuk memenuhi permintaan dari Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Pusat sampai pada sidang pekan depan.

"Saya berharap Dewan Pers bisa ikut sidang agar semua permasalahan bisa terungkap dalam persidangan," tambahnya.

Sedangkan, Tondi Situmeang, kuasa hukum penggugat yang juga turut hadir dalam persidangan menambahkan, jika pihak kuasa hukum Dewan Pers tidak bisa membuktikan legal standingnya pada sidang pekan depan maka hakim berhak memutuskan untuk melanjutkan sidang dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi penggugat.
Menyikapi sidang kali ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke menganggap Dewan Pers sebagai lembaga yang tidak kredibel. "Ha-ha-ha.... Manajemen Dewan Pers abal-abal..." sebut Wilson.

Pada persidangan hari ini, lanjut Wilson, Kamis, 31 Mei 2019 di PN Jakarta Pusat, penasehat hukum Dewan Pers tidak mampu menunjukkan keabsahan kepengurusan yang membuktikan bahwa Yosef sah sebagai ketua Dewan Pers dan diberi kewenangan untuk menunjuk penasehat hukum mewakili Dewan Pers di pengadilan.

"Mereka sudah diberi waktu sepuluh hari sejak persidangan ke-2, Senin 21 Mei lalu, untuk melengkapi dokumen Dewan Pers agar legal standing mereka dapat diterima mewakili dewan pers. Hakim Ketua bahkan bertanya, mengapa lama sekali untuk bisa melengkapi bukti-bukti keabsahan yang diminta pengadilan? PH Dewan Pers meminta penundaan sidang hingga Kamis depan, 7 Juni 2018, untuk melengkapi (bahasa mereka mengumpulkan data-data) dewan pers. _Opo tumon rek...?_ Uang negara habis digunakan Dewan Pers untuk membiayai operasional lembaga itu secara serampangan, POLA MANAJEMEN ABAL-ABAL," imbuh lulusan PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 itu.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pers Republik  Indonesia (SPRI) Hence Mandagi ikut menyorot lamanya proses administrasi pembuktian legal standing penunjukan kuasa hukum Dewan Pers.

"Hari ini Dewan Pers membuktikan sendiri sebagai lembaga yang sangat tidak profesional. Bagaimana bisa dia (Red - Dewan Pers) mau mengurus wartawan, media, dan organisasi pers, sedangkan mengurus administrasi internal saja tidak becus," pungkasnya.

Sidang lanjutan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap Dewan Pers ini akan kembali dilanjutkan pada Kamis, 07 Juni 2018 mendatang. [Red/Rls]


BIREUEN- Dalam waktu tidak lebih dari 16 jam aparat Kepolisian Resort Bireuen berhasil meringkus serta menghadiahkan sebutir timah panas pada pelaku penusukan terhadap Herizal pemilik bengkel didesa Lhok Nga kutablang yang menghembuskan nafas terakhir di RSUD Fauziah Bireuen, Jumat (1/1/2018).

Pelaku tidak lain adalah Evandri (25) pemuda bisu diringkus oleh personil reskrim polres bireuen bersama personil polsek gandapura  di Jalan rabat Beton Persawahan Gampong Tingkeum Manyang, Kutablang Bireuen'


Petugas terpaksa melumpuhkan pelaku dengan sebutir timah panas di kakinya setelah berusaha melawan serta melarikan diri.

“Sudah sempat kita lakukan tembakan peringatan. Namun, masih melawan, terpaksa dilakukan pelumpuhan pada kaki sebelah kiri,” ungkap Iptu Riski Andrian SIK.

Kasat Reskrim mengatakan tersangka pelaku sempat dirawat di RSUD dr Fauziah, sebelum dibawa ke Mapolres Bireuen untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Sebelumnya diberitakan, Herizal, seorang pemilik bengkel las ketok meregang nyawa usai duel dengan maling di Desa Lhok Nga, Kecamatan Kutablang, Bireuen, Jumat (1/6/2018).

Herizal meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Fauziah Bireuen.(red/mercinews)


BIREUEN- Siapa sangka Herizal sang pemilik bengkel las ketok yang berada di Desa Lhok Nga kec. Kutablang Kab. Bireuen menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah sakit Umum daerah (RSUD) Dr. Fauziah Bireuen.

Herizal tewas beberapa saat setelah dirawat diruang unit gawat darurat RSUD Fauziah setelah beberapa bagian tubuhnya mengalami luka serius akibat ditusuk pisau oleh maling setelah sebelumnya terjadi perkelahian pada Jum'at (1/6/2018).

Kapolres Bireuen AKBP Riza Yulianti SIK mengatakan sebelumnya korban sempat terlibat perkelahian dengan seorang pria yang diduga adalah pencuri yang tertangkap basah oleh korban yang sedang menyantroni bengkel milik korban.

" Saat itu sekitar pukul 03:30 WIB korban hendak pulang ke rumah untuk makan sahur namun sebelum sampai ke rumah melihat seseorang sedang membobol bengkelnya,kemudian korban berteriak, korban sempat berkelahi dengan pencuri tersebut ", ungkap kapolres.

Namun naas sebelum warga lainnya tiba di lokasi, si pencuri menghunuskan pisau ke arah dada dan perut korban serta melarikan diri.

" Pelaku menusuk korban dengan pisau sebanyak tiga kali di bagian perut dan satu kali di bagian tengah dadanya," papar Kapolres Bireuen.
Dari kejauhan Husni adik korban sempat menyaksikan perkelahian korban dengan pencuri dan berusaha membantu  korban yang tersungkur dan bersimbah darah.

" Adik korban sempat mengejar pelaku dan menendang pelaku sehingga hasil tendangannya itu membuat ia mengenali secara jelas wajah pelaku. Namun karena korban meminta untuk dibawa ke puskesmas, maka ia membiarkan pelaku kabur," terang Kapolres.

Oleh karena luka yang diderita korban terlalu parah, kemudian oleh puskesmas di rujuk kerumahsakit fauziah bireuen namun naas bagi korban akhirnya menghembuskan nafas terakhir dirumahakit dengan luka tusukan tiga dibagian perut dan satu tusukan didada.(red)


Jakarta- Kementerian Perindustrian telah menjalankan program Santripreneur melalui pelatihan pengembangan unit usaha kopi olahan di Pondok Pesantren Al Ittifaq Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada Maret 2018. Dalam jangka waktu sebulan dari pelatihan tersebut, Koperasi Ponpes Al Ittifaq berhasil meningkatkan nilai jual produk kopinya.

“Sebelumnya Koperasi Ponpes Al Ittifaq hanya menjual kopi dalam bentuk ceri (buah) senilai Rp6.000 per kilogram (kg). Namun, setelah diberikan pembinaan dan fasilitasi mesin peralatan, saat ini mampu memproduksi kopi roasting dengan harga Rp250 ribu per kg,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, Kamis (31/5).

Menurut Gati, Ponpes Al Ittifaq Kabupaten Bandung memiliki potensi besar dalam pengembangan IKM kopi olahan. Ponpes tersebut memiliki kebun kopi seluas 30 hektare dan didukung dengan 130 hektare yang dimiliki alumni ponpes. “Setiap minggunya, kebun kopi mereka mampu menghasilkan 60 kg kopi dalam bentuk mentah,” ujarnya.

Saat ini, Koperasi Ponpes Al Ittifaq telah berhasil mengolah kopi mentah menjadi roast bean lebih dari 2kg per hari. “Dalam satu bulan, kopi roast bean yang dihasilkan mencapai 60kg yang dikerjakan oleh lima orang santri. Jadi, ada peningkatan nilai tambah produk,” lanjut Gati. Diprediksi pada bulan Juni dan Juli 2018, akan memasuki masa panen dan dapat menghasilkan jumlah kopi yang lebih banyak.

Mengenai strategi penjualan, Gati mengungkapkan, santri sering menawarkan kepada para tamu atau pengunjung ponpes yang setiap harinya bisa mencapai 100 orang. Selain itu dipromosikan melalui sosial media dan marketplace. “Mereka sudah memanfaatkan pasar online, dan sekarang sedang diurus izin edar makanan dari BPOM agar usahanya punya sertifikat dan pemasaran produknya bisa lebih luas lagi,” tuturnya.

Gati juga menyampaikan, pihaknya bakal memfasilitasi Koperasi Ponpes Al Ittifaq agar berpartisipasi melalui program e-Smart IKM. Hal ini sebagai salah satu langkah strategis untuk menuju implementasi revolusi industri 4.0 sekaligus memperluas pasar ekspor.

“Dalam mendukung industri 4.0, ponpes berperan strategis dalam memacu pertumbuhan industri di Indonesia dalam pemberdayaan UMKM melalui penguasan teknologi,” terangnya.

Hingga saat ini, sebanyak 1.730 pelaku IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM. Sampai tahun 2019, Kemenperin menargetkan dapat mengajak hingga 10 ribu pelaku IKM seluruh Indonesia untuk mengikuti lokakaryatersebut.

Maka itu, melalui program Santripreneur, Kemenperin terus berupaya mendorong penumbuhan dan pengembangan wirausaha industri baru. “Pondok pesantren diharapkan mampu mencetak entrepreneur berbakat yang tidak hanya bisa berdakwah kepada umat, namun juga menyejahterakan umat dalam menciptakan banyak lapangan pekerjaan,” jelas Gati.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, selama ini ponpes turut berperan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat sudah banyak yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit usaha baik skala kecil maupun menengah, bahkan ada yang memiliki inkubator bisnis.

“Ini tentu anugerah dari Allah SWT yang harus kita syukuri bersama. Potensi kita sangatlah besar dengan ditopang oleh banyaknya kampus dan pesantren di Indonesia yang tidak dimiliki oleh negara lain di dunia,” paparnya

Dengan perkembangan era digital saat ini, Menperin pun optimistis, para santri mampumenjadi agen perubahan yang strategis dalam membangun bangsa dan perekonomian Indonesia di masa mendatang. 

“Untuk itu, santri kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, baik agama maupun wirausaha. Mereka yang mayoritas generasi milenial, juga perlu menguasai teknologi terkini,” imbuhnya.(Red/Rls)


Jakarta- Kementerian Perindustrian terus berupaya melindungi industri bahan galian non logam dari serbuan produk impor. Misalnya, mendorong implementasi kebijakan non-tariff barriers (NTB) bagi industri keramik dan kaca yang memiliki potensi besar untuk unggul di pasar global.

“Daya saing industri kaca kita nomor satu di Asean, sementara industri keramik menempati peringkat kedelapan. Jadi, lewat NTB diharapkan impor tidak lagi mudah masuk tanpa lewat pengecekan atau verifikasi kualitas produk,” kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono pada Pembukaan Pameran Produk Industri Bahan Galian Nonlogam di Jakarta, Rabu (30/5).

Sigit menyampaikan, pihaknya juga telah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk keramik dan kaca. 

“Bersama asosiasi, SNI disusun dengan merujuk kepada standar internasional yang paling baik sehingga pasar dalam negeri terjaga dan supaya produk domestik bisa mudah diekspor,” tuturnya.

Guna menggenjot penyerapan pasar domestik dan ekspor, lanjut Sigit, Kemenperin meminta kepada produsen keramik dan kaca di dalam negeri agar terus melakukan efisiensi proses produksisambil meningkakan kualitas. “Caranya, menerapkan best practice dan menggunakanteknologi terkini sebagaiupaya memodernisasi pabrik sehingga dapat mengikutiselerakonsumen saat ini,” ungkapnya.

Langkah tersebut, menurut Sigit, sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0 dalam mendukung implementasi revolusi industri generasi keempat di Tanah Air. “Jadi,upaya peningkatan efisiensi dan kapasitas produksi industri harus dibarengi penggunaan internet of thingsatau robotic serta didukung dengan sistem logistik yang baik,” tuturnya.

Di samping itu, seiringmemperbaiki sistem produksinya, industri bahan galian nonlogam juga perlu memanfaatkan kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)yang memberikan kemudahan kepada industri nasional. Dalam hal ini,Kemenperin turut memfasilitasi untuk pemberian sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kemenperin pun telah mengajak sektor industri keramikdan kaca agar berpartissipasi mendukung program pendidikan vokasiyang link and match dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah sekitar pabriknya.“Hal ini dapat berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja lokal sekaligus juga meningkatkan kompetensi tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia industri sekarang,” imbuhnya.

Sigit menyebutkan, potensi pengembangan industri keramik di Indonesia masih prospektif karena salah satunya didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah dan tersebar di wilayah Indonesia. Sektor ini juga berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional, misalnya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 150.000 orang dan kapasitas produksi terpasangmencapai 490 juta m2.

“Apalagi dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkatdandengan adanya program pemerintah dalam peningkatan infrastruktur, pembangunan properti dan perumahan, diharapkan akan meningkatkan konsumsi keramik nasional,” paparnya.

Sementara itu, industri kaca merupakan salah satu sektor yang diprioritaskan dalam pengembangannya. Industri kaca nasional menempati posisi pertama di Asean sebagai produsen kaca lembaran terbesardengan kapasitas produksi terpasang mencapai 1.225.000 ton pertahun dan berkontribusi sebesar 47,5 persen terhadap produksi kaca lembaran dikawasan Asia Tenggara.

“Industri kaca mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10.000 orang.Sektor ini juga memiliki nilai tambah yang tinggi karena menghasilkan produk turunan yang bervariasi seperti kaca pengaman, kaca patri, glass block, kaca isolasi, dan glassware, serta digunakan untuk berbagai sektor lain seperti industri otomotif maupun bidang sektor lain seperti bangunan, properti dan konstruksi,” pungkasnya.(Red/Rls)

Banda Aceh — Pemerintah Aceh menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, di Halaman Kantor Gubernur Aceh, Jumat (01/06/2018) pagi. Upacara dipimpin oleh Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Upacara hari kelahiran Pancasila tahun 2018 ini merupakan yang kedua kali diadakan setelah keluarnya Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, yang juga menetapkan hari kelahiran Pancasila 1 juni sebagai hari libur nasional.

Turut hadir dalam upacara tersebut para pimpinan Forkopimda Aceh, para Asisten, Kepala Biro, serta Kepala SKPA dan pegawai di Sekretariat Daerah Aceh.

Presiden Joko Widodo dalam sambutan yang dibacakan Wagub Nova mengatakan, selama 73 Tahun Pancasila sudah menjadi bintang pemandu bangsa Indonesia. Selama itu pula, Pancasila sudah bertahan dan tumbuh di tengah kemunculan ideologi-ideologi lain yang berusaha menggesernya.

"Insya Allah sampai akhir zaman, Pancasila akan terus mengalir di denyut nadi seluruh rakyat Indonesia," ujar Presiden.

Presiden juga mengatakan, Indonesia adalah bangsa yang majemuk yang terdiri atas 714 suku dengan lebih dari 1.100 bahasa Iokal yang hidup di Iebih dari 17.000 pulau. Karena itu semua pihak harus terus menerus bersatu memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika.

"Kita harus bersatu dalam upaya kita untuk menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang besar dan bangsa pemimpin."

Selain itu, peringatan Hari Lahir Pancasila juga diminta untuk dimanfaatkan sebagai momen pengingat, momen pemacu dan momen aktualisasi nilai-nilai Pancasila.

Presiden juga mengajak para ulama dan tokoh agama, para guru dan ustadz, para politisi dan jajaran aparat pemerintahan, para anggota TNI dan Polri, para pekerja dan pelaku ekonomi, serta seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama mengamalkan Pancasila dalam keseharian kita. (Red)

Banda Aceh - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh menyediakan penukaran uang pecahan kecil mencapai Rp 2,1 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap penukaran uang menjelang lebaran Idul Fitri tahun 2018.

Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh Zainal Arifin Lubis kepada wartawan Kamis (31/5/2018) mengatakan, kebutuhan uang menjelang lebaran Idul Fitri tahun ini di Aceh diperkirakan mencapai Rp2,1 triliun.

“Dari dana Rp2,1 triliun, terdiri atas kebutuhan perbankan mencapai Rp1,3 triliun atau 60%, kebutuhan kas titipan di daerah sebesar Rp0,793 triliun atau 37%, dan kebutuhan penukaran di masyarakat/kas keliling sebesar Rp69 miliar atau 3%,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kebutuhan uang tahun 2018 ini diperkirakan naik sebesar 5% bila dibandingkan dengan tahun 2017 yakni sebesar Rp2 triliun.

Sementara data realisasi penukaran uang bersama tahun 2017 jumlah penukaran uang oleh masyarakat yang dilakukan di halaman Barata Plaza selama 10 hari mencapai Rp6,2 miliar, atau meningkat 15% bila dibandingkan tahun 2016 yang sebesar Rp5,3 miliar.

Selama ini, kata dia, BI telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan tambahan kepada masyarakat terhadap kebutuhan uang pecahan yakni dengan membuka pelayanan penukaran uang Rupiah di luar kantor BI dan perbankan.

“Hal itu dilakukan karena tingginya minat masyarakat terhadap kebutuhan uang pecahan kecil menjelang Idul Fitri,” ujar Kepala BI Perwakilan Aceh tersebut.

Untuk itu, BI mengajak perbankan Aceh untuk bekerjasama dalam melayani masyarakat, dengan membuka pelayanan penukaran uang Rupiah tersebut di halaman Barata Plaza Banda Aceh, dengan mengajak 5 bank yaitu BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Aceh Syariah, dan Bank Muamalat.

“Layanan penukaran uang Rupiah di halaman Barata Plaza dilakukan setiap hari Senin sampai Kamis, pukul 09.00–12.00 WIB, terhitung sejak tanggal 30 Mei sampai 8 Juni 2018,” sebutnya.

Kegiatan layanan penukaran bersama oleh BI dan Perbankan Aceh di bulan Ramadhan ini, tambah dia, merupakan hal yang rutin dilakukan setiap tahunnya, dengan pelaksanaan terakhir pada tahun 2017 di lokasi yang sama.

Selain pelayanan di halaman Barata Plaza, BI juga akan membuka loket penukaran khusus kepada masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri di Kantor Perwakilan BI Aceh.

BI juga menghimbau perbankan agar dapat memberikan layanan penukaran yang optimal kepada masyarakat, khususnya untuk pemenuhan uang pecahan kecil.

Terkait ketersediaan uang, kata Kepala BI Aceh ini, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok uang di BI mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan perbankan.(*)

Sumber: gatra.com

Banda Aceh - Sebagai pilar keempat demokrasi, media dan insan pers diharapkan mampu menjembatani kritik dan saran serta masukan dari masyarakat kepada pemerintah, karena kritik merupakan suplemen dan vitamin bagi pemerintah dalam menyelenggarakan pembangunan dan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, saat menjawab pertanyaan dari awak media, usai berbuka puasa bersama pada acara Silaturrahmi dan buka puasa bersama Wakil Gubernur Aceh dengan pimpinan media dan wartawan, di Meuligoe Wakil Gubernur, Kamis (31/5/2018) sore.

"Jangan pernah berhenti mengkritik. Jika kritiknya berhenti maka vitaminnya kurang. Tanpa kritik tentu tidak ada koreksi, tanpa koreksi maka proses pembangunan akan berjalan timpang," ujar Wagub.

Wagub menambahkan, masa-masa kelam tentang kebebasan pers telah berlalu. Ke depan, harus dipastikan pers punya koridor sendiri, bahwa program kerja pemerintah tidak akan berjalan maksimal tanpa pera pers

"Saya juga sudah menyampaikan kepada biro terkait untuk merumuskan program yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan profesionalitas wartawan serta membuat forum-forum yang mengadakan diskursus tentang manajemen perusahaan media.

“Jadi tidak semata-mata terus bergelut dalam dunia pers yang praktis, tetapi pemerintah juga harus terlibat langsung dalam menata manajemen perusahaan pers. itu merupakan obsesi kami, namun hal ini tentu saja butuh waktu. Modul-modul terkait ini tentu saja harus kita gali terlebih dahulu terutama tentu saja harus memuat kearifan lokal,” sambung Nova.

Wagub menambahkan, meski pers bersifat universal, namun kearifan lokal tentu harus diadopsi. Untuk itu, Wagub berjanji akan membicarakan hal ini dengan dengan perguruan tinggi agar memberi perhatian lebih pada bidang pendidikan jurnalisme.

Sebelumnya, dalam sambutan singkatnya, wagub menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam proses reformasi tahun 1998, karena dengan gerakan tersebut turut andil dalam memperjuangkan kebebasan persdi Indonesia.

“Alhamdulillah pasca reformasi di Indonesia, kebebasan pers di sudah semakin baik. Tentu kita harus berterima kasih kepada angkatan 98 yang telah berjuang mereformasi negeri ini. saya terobsesi ada kegiatan yang mempertemukan wartawan dengan anak-anak muda yang pada tahun 1998  lalu berdiri di garda terdepan dalam rangka memperjuangkan reformasi,” sambung Nova.

Dalam proses pembangunan, sambung Wagub, pers mempunyai pengaruh yang kuat di tengah masyarakat, karena sosialisasi formal yang ada di pemerintahan tidak cukup efektif untuk meninformasikan proses pembangunan yang sedang dilakukan pemerintah.

“Pers dan civil society adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari gerak pembangunan. Semoga kebebasan pers dan pers yang beretika dan profesional bisa langgeng dan terus kita pertahankan di Bumi Serambi Mekah ini,”

Aceh Marathon, Perpaduan Olahraga dan Wisata

Sementara itu terkait dengan pelaksanaan Aceh Marathon 2018 yang akan di gelar pada tanggal 29 Juli 2018 mendatang, Wagub berharap kegiatan tersebut memberikan imbas bagi kegiatan perekonomian masyarakat.

“Pemerintah tentu saja berharap Marathon ini setengahnya olahraga dan setengahnya pariwisata. Pemerintah tentu ingin agar Sabang dikunjungi oleh 5 ribu hingga 6 ribu wisatawan. Sehingga konsep kita untuk mengangkat ekonomi kerakyatan dalam setiap kegiatan besar yang kita lakukan dapat terwujud.”

“Perekonomian masyarakat harus benar-benar berdenyut, akomodasi, homestay dan hotel akan penuh. Kita tentu sajan berharap para wisatawan yang datang dapt membelanjakan uang sebanyak-banyaknya, sehingga masyarakat merasakan langsung imbas ekonomi dari kegiatanyang digelar oleh pemerintah,” imbuh Wagub.

Nova menambahkan, hingga saat ini sudah ada 10 negara yang telah mandaftar untuk ambil bagian dalam Aceh International Marathon 2018 yang akan digelar di Kota Sabang.

Tak hanya Full Marathon 42 Kilometer, Aceh Internasional Marathon 2018 juga akan diisi dengan Half Marathon 21 Kilometer, 10 Kilometer dan fun run 5 Kilometer, dengan total hadiah mencapailebih dari Rp 3 miliar. (Red)

Anak-anak loper koran. Foto: pinterest.com.
KOPI pagi di rumah kurang lengkap tanpa kehadiran koran. Dan koran tak bisa sampai ke rumah pembacanya tanpa jasa seorang loper koran. Selama ratusan tahun, loper koran telah memainkan posisi penting dalam bisnis media cetak dan menopang perekonomian banyak keluarga miskin. Mereka menghubungkan pekerja media cetak dengan para pembacanya dan menjadi salah satu pekerjaan sambilan bagi anak-anak untuk membantu orangtuanya.

Loper koran hadir kali pertama di New York, Amerika Serikat, pada 1833. Bruce J. Evensen dalam Journalism and the American Experience mencatat kerja loper koran tak lepas dari ide Benjamin Day, seorang penerbit surat kabar murah (penny press) bernama New York Sun.

Day telah bekerja seharian untuk menyebarkan edisi perdana New York Sun pada 3 September 1833. Dia terlalu lelah untuk melakukan hal serupa pada keesokan harinya. “Maka dia pasang iklan bagi para pengangguran untuk menjajakan surat kabarnya,” tulis Bruce. 

Seorang anak lelaki berusia 10 tahun membaca iklan tersebut. Dia mendatangi kantor New York Sun dan mengatakan kepada Day bahwa dia berminat menjuali surat kabar murah itu. Caranya dengan membeli beberapa eksemplar. Tapi ada harga diskon baginya sehingga dia bisa memperoleh keuntungan dari selisih harga diskon dengan harga jual kembali.

Nama anak itu Barney Flaherty. Dia mulai bekerja keesokan harinya. “Menjadi yang pertama dari sekian ribu loper koran yang kemudian menjajakan dagangannya sepanjang terang hari dan tidur di jalanan kota pada malam hari,” lanjut Bruce.

Kemudian penerbit media cetak di Amerika Serikat mulai memperoleh pelanggan tetap. Keistimewaan pelanggan ialah mereka tak harus mencari koran di tepi jalan. Mereka hanya tinggal menunggu koran datang ke rumah. Di sini tugas loper koran mulai menyempit: tak perlu lagi menjajakan koran, melainkan mengantar koran ke rumah pelanggan.

Nama-nama sohor pernah tercatat sebagai loper koran pada masa kecilnya. Antara lain Harry S. Truman, presiden Amerika Serikat 1945-1953; Martin Luther King Jr., tokoh kesetaraan; dan Warren Buffet, pebisnis ulung. NBCnews menyebut loper koran telah menjadi ritus hidup bagi sebagian besar anak-anak di Amerika Serikat.

Loper Koran di Indonesia

Di Indonesia, kehadiran loper koran kali pertama belum terlacak secara pasti. Tapi mereka sudah berseliweran di kota-kota besar Hindia Belanda pada 1920-an.

Masa 1920-an menjadi masa tumbuh-kembang bisnis media cetak di kota-kota besar Hindia Belanda. Bisnis ini berkembang di kota lantaran orang-orang melek huruf latin lebih banyak berada di kota ketimbang di desa. Pemerintah kolonial pun lebih dulu membangun sekolah-sekolah di kota pada awal abad ke-20 ketimbang di desa.

Pertumbuhan jumlah orang melek huruf latin di kota mendorong peningkatan kebutuhan terhadap informasi. Media cetak menyediakan beragam informasi. Pada sisi inilah mereka butuh orang untuk menyalurkan informasi kepada pembacanya. Sementara pada sisi lain, ada orang juga butuh pekerjaan. Termasuk anak-anak sekolah.

R.H. Iskandar Suleiman, mantan murid Hollandsche Indische School (HIS) —setingkat sekolah dasar— di Batavia pada 1920, mengungkap kenangannya menyambi kerja sebagai loper koran. Dia butuh uang untuk biaya sekolah dan hidup keluarganya.

Iskandar berkarib dengan Sugimin, seorang siswa Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo) —setingkat SMP— di sekitar kediamannya. Dia tahu keseharian Sugimin di luar jam sekolah.

“Sugimin membiayai sekolahnya dari hasil keringatnya sendiri sebagai krantenloper (pengedar koran) Het Nieuws van den Dag tiap sore,” tulis Iskandar dalam “Dari Asuhan Nenek Sampai Berdiri Sendiri”, termuat di Prisma, No. 10, Oktober 1979.

Iskandar mengatakan kepada Sugimin bahwa dia butuh pekerjaan. Dia ingin jadi krantenloper selayaknya Sugimin. Keinginannya terkabul ketika Sugimin mengajaknya ke kantor penerbitan Het Nieuws van den Dag. Di sini dia mendapat pekerjaan dari koran tersebut sebagai krantenloper.

Iskandar bekerja mulai pukul 15.00, sepulang bersekolah. “Aku harus mengantarkan koran di daerah Menteng untuk 96 alamat, sebagian terbesar rumah orang Belanda,” tulis Iskandar. Dia kelar kerja pukul 20.00.

Selama mengantar koran, Iskandar banyak raih pengalaman suka dan duka. “Sukanya, karena aku dapat menerima imbalan hampir 10 perak sebulan (jumlah cukup besar pada waktu itu; dan dukanya, karena sering aku mendapat gangguan anjing galak dan omelan langganan, kalau koran agak lambat diantarkan),” tambah Iskandar. Beberapa kali juga dia kena hina teman-teman sekolahnya.

Iskandar tak ambil pusing soal hinaan teman-teman sekolahnya. Dia menjalani pekerjaan ini sampai duduk di bangku MULO. Fase ini jalan hidupnya mulai berubah. Seseorang menawarinya pekerjaan di percetakan.

Iskandar menerimanya dan kelak membuatnya tahu seluk-beluk pers hingga bisa menjadi redaktur majalah Muhammadi, organ bulanan Muhammadiyah.   

Cerita pekerjaan loper koran mengubah hidup seseorang juga dialami oleh Andi Hakim Nasution, mantan rektor Institut Pertanian Bogor 1978-1987.

“Dulu saya pernah jadi loper koran,” kata Andi dalam Femina Vol. 20, 1992. Dia ingat saat itu tahun 1947. Masa-masa sulit bagi banyak keluarga di Bogor lantaran situasi revolusi. Tapi dengan menjadi loper koran, dia bisa ikut membantu perekonomian keluarga.

Pengalaman lain menjadi loper koran datang dari Herlina Kasim ‘Si Pending Emas’. Dia sukarelawati pembebasan Irian Barat selama 1960-1965. Di Soasiu, Maluku Utara, Herlina mengupayakan penerbitan mingguan Karya.

“Mingguanku dimaksudkan sebagai alat di daerah ini untuk menggembeleng semangat rakyat menghadapi masalah Irian Barat,” tulis Herlina dalam Herlina Pending Emas.

Herlina merangkap jabatan sebagai pemimpin umum dan loper. “Repot juga bagiku. Di Soasiu tidak ada nama jalan dan nomor rumah, surat kabar ku antar pada orang yang kira-kira mau berlangganan,” lanjut Herlina. Tapi Karya kurang beroleh sambutan. Makin hari, makin merosot saja peminatnya. Biarpun Karya itu media cetak gratisan.

Bahkan Herlina kesulitan mencari orang yang mau menjadi loper koran. Dia membandingkan pekerjaan loper koran di Jakarta dengan di Soasiu. “Setahuku loper di Jakarta atau penjual-penjual koran mempunyai penghasilan yang baik dan merupakan kerja sambilan, ada yang sambil bersekolah,” catat Herlina.

Apa sebabnya orang Soasiu tak tertarik menjadi loper koran? Herlina bilang karena pekerjaan itu tidak dibayar, melainkan kewajiban kepada bangsa dan negara untuk turut membantu penyebaran gagasan pembebasan Irian Barat.

Kini loper koran berhadapan dengan persoalan baru: revolusi industri 4.0. Revolusi ini mengubah arah bisnis media dari cetak ke bentuk digital. Dan itu bakal mempengaruhi masa depan pekerjaan loper koran. Apakah mereka akan bertahan atau remuk digilas revolusi industri 4.0?.(*)

Sumber: historia.id

Pelaku Pembacokan Sadis Gadis Aceh Terciduk
Bireuen - Pembacokan gadis Bireuen bernama Firda Maisura (18) justru dilakukan tersangka Aulia (20), warga Desa Pante Gajah, Peusangan, Bireuen, di rumah orangtuanya pada Senin (28/5) malam.

Fakta baru ini terungkap setelah polisi menemukan lebih banyak barang bukti di dalam rumah tersangka daripada di Benyot, Kecamatan Juli lokasi korban ditemukan warga dalam keadaan bersimbah darah.

Kapolres Bireuen AKBP Riza Yulianto SE SH melalui Kasat Reskrim Iptu Riski Andirian SIK kepada Serambi, Rabu (30/5) mengatakan, tim penyidik yakin bahwa pembacokan dilakukan di rumah tersangka.

Bukti dan keterangan saksi mengarah ke sana, apalagi tersangka kemudian mengakuinya.

Sebelumnya sempat beredar informasi dan keterangan dari orang tua korban kepada wartawan bahwa korban dibacok tersangka di Benyot, Kecamatan Juli, Bireuen, bukan justru di Pante Gajah, Peusangan.

Kasat Reskrim menambahkan, sejumlah saksi di Benyot, Juli, kepada tim penyidik justru mengatakan, setelah tersangka meletakkan korban di jalan Gampong Benyot, tersangka balik arah dengan sepeda motor dalam kecepatan tinggi.

Dia tinggalkan Firda yang merupakan kekasihnya dan tercatat sebagai warga Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Menurut penyidik, saksi di Gampong Benyot tidak ada yang melihat tersangka membawa parang.

Parang justru ditemukan di rumah tersangka, Desa Pante Gajah, Peusangan, Bireuen.

Kemudian, tersangka membawa lari sepeda motor milik korban, lalu meletakkannya di depan MAN Peusangan.

Setelah itu tersangka sempat memesan mi di sebuah warung.

Berdasarkan kesaksian si penjual mi, tersangka tidak membawa parang ke warungnya.

“Sepeda motor justru dia letakkan di depan MAN, lalu ia memesan mi dan saksi tak melihat tersangka membawa parang,” ungkap Iptu Riski Andirian.

Bukti lain, ditemukan bercak darah yang cukup banyak tercecer di lingkungan rumah pelaku, sehingga tim penyidik memastikan bahwa korban dibacok di rumah tersangka, bukan di tempat lain.

Menyangkut ada tidaknya keterlibatan orang lain dalam kasus itu, apalagi dilakukan di rumah tersangka, Kasat Reskrim mengatakan, tim penyidik sedang mendalami berbagai informasi dan melakukan cross-check informasi, keterangan tersangka, serta keterangan sejumlah saksi.

“Ada tidaknya keterlibatan orang tua tersangka dalam kasus ini masih dalam pendalaman tim penyidik,” ujar Kasat Reskrim Polres Bireuen, Iptu Riski Andrian SIK.

Sementara itu, tim penyidik Polres Bireuen masih memeriksa tersangka di Mapolres Bireuen tentang banyak hal, termasuk dugaan ada tidaknya perencanaan pembacokan, motif, maupun unsur lainnya sehingga aksi pembacokan terhadap korban terjadi di rumah orang tuanya.

Menyangkut kondisi korban selaku anak dari pasangan Tarmizi dan Nurjannah, tim penyidik belum memintai keterangan darinya karena ia masih dalam perawatan di Banda Aceh.

“Informasi yang kami peroleh, korban sudah membaik dan memerlukan waktu untuk lebih baik baru dapat kami mintai keterangan,” tambah Kasat.

Dalam kasus begal oleh sang pacar ini polisi mengamankan barang bukti dari rumah orang tua tersangka, mencakup: sebilah parang bergagang kayu yang terdapat bercak darah, kain sarung warna hitam motif garis putih yang juga terdapat bercak darah, jaket merah yang juga berdarah. Selain itu, celana kain panjang warna abu-abu yang juga terdapat bercak darah, handuk warna biru putih, lipstik merek Moca (ditemukan di samping rumah), dan handphone android merek Vivo yang terdapat bercak darah, diduga milik korban. (*)

Sumber: Tribunnews.com

Kapal Mavi Marmara yang diserbu pasukan Israel pada 2010 (Free Gaza Movement/ Wikipedia CC BY-SA 2.0)
StatusAceh.Net - Darah tertumpah di Mavi Marmara, Senin 31 Mei 2010. Sesaat setelah jarum jam menunjuk ke pukul 04.30, tentara Israel dari kesatuan elite Flotilla 13 menyergap kapal tersebut dari laut dan udara, mengoyak kedamaian di Laut Tengah dini hari itu.

Mavi Marmara yang jadi sasaran adalah bahtera terbesar dari enam kapal yang dikerahkan dalam misi Gaza Freedom Flotilla.

Iring-iringan itu berniat ke Gaza, untuk mengirimkan 10 ribu ton bantuan berupa makanan, obat-obatan, material konstruksi, kursi roda, dan lainnya ke wilayah yang menderita akibat blokade Israel sejak 2007.

Saat penyerbuan dilakukan, satu persatu tentara bertopeng turun dari helikopter, menuju dek kapal berbendera Turki itu, yang berada di wilayah perairan internasional atau 130 km di luar perairan teritorial Israel. Prajurit yang bersenjatakan senapan, granat kejut, dan gas air mata ditugaskan melancarkan serangan fajar pertama.

"Prajurit komando turun dari helikopter. Tak ada satupun di dalam kapal yang bersenjata," kata salah satu pelaut kepada CNN Turk.

Sementara itu, kapal jenis assault craft menyorot target dengan cahaya menyilaukan. Speaker besar dengan suara menggelegar dipakai untuk memberi peringatan, agar para aktivis menghentikan misi mereka.

"Atau, Israel akan mengambil semua tindakan untuk melaksanakan blokade," demikian suara bernada perintah yang diserukan lewat pengeras suara booming tannoy, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu 30 Mei 2018. Para aktivis, yang berasal dari 50 negara, tak berdaya melawan para serdadu Israel yang menyerang tiba-tiba.

"Tentara tiba-tiba melepaskan tembakan ke warga sipil tak bersenjata," kata pihak organisasi Free Gaza.

Insiden itu menewaskan 10 orang di pihak sipil, kebanyakan warga Turki. Sejumlah orang luka-luka, baik di pihak aktivis maupun tentara.

Riyad Mansour, Duta Besar Palestina untuk PBB mengecam serangan tersebut. Ia menuntut dilakukannya investigasi. "Untuk mengetahui siapa di pihak Israel yang memerintahkan pengerahan senjata ke warga sipil," kata dia.

Di sisi lain, pihak Tel Aviv berdalih, militernya atau Israel Defense Forces hanya berusaha mempertahankan diri.

"Mereka bukan aktivis perdamaian," kata Deputi Dubes Israel untuk PBB, Daniel Carmon. Ia mengatakan, para aktivis menggunakan kedok bantuan kemanusiaan untuk mengirimkan pesan kebencian dan untuk menyulut kekerasan.

Pihak Israel Defense Forces mengatakan, para tentaranya dihadapkan pada kekerasan yang "telah direncanakan" oleh para aktivis -- yang bersenjatakan batang logam, pisau, juga dua pistol yang dicuri dari prajurit Tel Aviv.

Insiden penyerangan terhadap Mavi Marmara memicu kecaman dari dunia. Peristiwa itu juga sempat membuat hubungan Turki dengan Israel diwarnai ketegangan. Baru belakangan ini, pada 2016, kedua negara kembali rukun.

Selain insiden Mavi Marmara, sejumlah kejadian penting dalam sejarah dunia terjadi pada tanggal 31 Mei.

Pada Jumat 31 Mei 1935, gempa dengan kekuatan 7,8 SR hingga 8,1 SR mengguncang Quetta, Balochistan, Pakistan. Sebanyak 45.000-60.000 nyawa melayang dibuatnya.

Pada 1970, gempa memicu tanah longsor yang mengubur Kota Yungay, Peru. Lebih dari 47.000 orang tewas.

Sementara, para 1962, arsitek 'holocaust' Adolf Eichmann dieksekusi gantung di Tel Aviv, Israel.| Lp6

Ilustrasi Kesultanan Aceh (Foto: Wikimedia Commons)
StatusAceh.Net - Kesultanan Aceh Darussalam merupakan kerajaan Islam terbesar di wilayah Aceh, setelah Samudera Pasai hancur. Kesultanan Aceh muncul ketika Samudera Pasai sedang kesulitan mempertahankan kekuasaannya di wilayah Aceh dan Selat Malaka, terutama ketika mereka mendapatkan serangan dari Majapahit, Portugis, serta munculnya Kesultanan Malaka yang berhasil mengambil alih jalur perdagangan di Nusantara.

Raja pertama Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Ali Mughayat Syah, yang diangkat pada 8 September 1507. Kesultanan Aceh sebenarnya sudah ada sejak tahun 1496, namun ketika itu statusnya masih berada di bawah Samudera Pasai. Setelah mengambil alih wilayah Samudera Pasai pada 1524, Kesultanan Aceh berubah menjadi penguasa baru di wilayah Aceh.

Kompleks istana Kesultanan Aceh dibangun di atas tanah bekas pemerintahan beberapa kerajaan Hindu Budha yang pernah berkembang di Aceh, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura.

Selain itu, juga ada kerajaan Islam yang pernah memerintah di sana sebelum kesultanan Aceh Darussalam, yaitu Kesultanan Lamuri. Pusat pemerintahan Kesultanan Aceh berada di Kutaraja, atau yang sekarang dikenal dengan Banda Aceh.

Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda, yang memerintah pada 1607 sampai 1636. Nama aslinya adalah Pangeran Perkasa Alam. Ketika diangkat menjadi raja yang ke-14, ia mendapat gelar Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam.

Sultan Iskandar Muda memimpin Aceh ketika kerajaan berada dalam situasi yang sulit, karena banyak muncul konflik di dalam pemerintahan. Tetapi dalam waktu yang cukup singkat, ia berhasil mengendalikan keadaan dan mengembalikan Aceh pada kondisi yang baik.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam mencakup hampir seluruh wilayah Aceh, termasuk Tamiang, Pedir, Meureudu, Samalanga, Peusangan, Lhokseumawe, Kuala Pase, dan Jambu Aye. Selain itu, ia dapat menguasai seluruh negeri yang berada di sekitar Selat Malaka, dan menguasai jalur perdagangannya. Berkat pencapaian itu, perekonomian Kesultanan Aceh berkembang pesat.

Mereka semakin dikenal oleh dunia setelah menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka. Semua pelabuhan penting di pantai barat dan pantai timur Sumatera berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

Kesultanan Aceh Darussalam tercatat pernah dipimpin oleh Sultanah atau ratu, selama 4 periode berturut-turut. Ratu pertama Kesultanan Aceh adalah Sultanah Safi al-Din Taj al-Alam, memerintah sejak 1641 sampai 1675.

Pemerintahan Sultanah Safi al-Din dipenuhi dengan berbagai konflik internal Istana, seperti beberapa upaya pemberontakan dari pejabat Istana yang tidak setuju dengan kepemimpinan Sultanah Safi al-Din. Mereka menganggap Kesultanan Aceh Darussalam tidak boleh dimpimpin oleh seorang perempuan.

Meskipun mendapat banyak pertentangan dan rintangan ketika memimpin, Sultanah Safi al-Din terbilang sukses membangun kerajaan Aceh. Sultanah Safi memerintah Aceh selama 34 tahun hingga ia wafat pada 1675. Sama seperti masa pemerintahan ayahnya, Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh masa Sultanah Safi berhasil menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh sehingga berbagai bantuan selalu datang ketika kesultanan Aceh mengelami kesulitan.

Selain itu, tercatat bahwa Kesultanan Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, agama, hukum, seni budaya, dan ilmu pengetahuan.

Memasuki abad ke-18, Kesultanan Aceh Darussalam mulai memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan. Belum ada lagi sosok pemimpin yang dapat membangkitkan Kesultanan Aceh, ditambah banyak bangsa asing yang semakin kuat pengaruhnya di wilayah Sumatera. 

Pada awal abad ke-20, Kesultanan Aceh sudah benar-benar tidak dapat mempertahankan kekuasaannya. Belanda kemudian memanfaatkan keadaan itu berkat informasi yang didapat dari Snouck Hugronje, seorang peneliti Belanda yang meneliti tentang Aceh.

Akhirnya, Belanda melakukan stategi pemecahan di dalam kubu rakyat Aceh, yaitu antara kaum ulama dengan keluarga kerajaan. Ketika itu banyak masjid dan madrasah yang dibakar oleh pasukan penjajah. Belanda akhirnya berhasil menguasai seluruh wilayah Aceh setelah Sultan Muhammad Daud menyerah pada 1903.

Sumber : Gustama, Faisal Ardi. 2017. Buku Babon Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Yogyakarta : Brilliant Book

Dikutip dari kumparan.com

Dirresnarkoba Polda Lampung Kombes Shobarmen (kiri) dan Wadirresnarkoba AKBP Wika Hardianto menggelar ekspose kasus jaringan ekstasi, Kamis, 31 Mei 2018.
Lampung - Sekitar 1.500 pil ekstasi yang disita Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung berasal dari Aceh.

"Jadi ada orang yang memesan dari salah satu daerah di Aceh," ungkap Dirresnarkoba Polda Lampung Kombes Shobarmen, didampingi Wadirresnarkoba AKBP Wika Hardianto, dalam ekspose, Kamis, 31 Mei 2018.

Masih kata dia, pola kerja jaringan ini sangat tertata rapi. "Jadi setelah dikirim dari Aceh, kemudian ada orang yang menampung di sini. Oleh penampung diedarkan ke kaki-kakinya. Jadi banyak jaringan kecil-kecil," tuturnya.

Salah satu penampung barang haram itu adalah Riki Jamal, warga Panjang, yang diringkus di sebuah kontrakan di belakang Hotel Grand Praba.

"Dari hasil pengakuan pelaku, ngakunya baru sekali. Tapi, ini perlu ditanyakan kembali," ucapnya.

Shobarmen menambahkan, barang tersebut bukan milik Riki. "Barang ini bukan miliknya. Ada bos lagi di Cipinang," tutupnya.

Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung berhasil membongkar jaringan peredaran pil ekstasi di Provinsi Lampung.

Dari hasil pengungkapan ini, Ditresnarkoba mengamankan satu orang kaki tangan jaringan pengedar wilayah Bandar Lampung dengan barang bukti 1.500 butir pil ekstasi siap edar. | lampung.tribunnews.com

Lhoksukon – Kecelakaan maut terjadi di Jln Medan-Banda Aceh tepatnya di gampong Pulo Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Kamis, 31 Mei 2018. Insiden tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkiyan Milyardin melalui Kasat Lantas Iptu Sandy Titah Nugraha kepada StatusAceh.Net mengatakan kecelakaan tersebut berawal dari Mobil toyota rush B 1782 cvi Melaju dari Arah Banda Aceh Menuju arah Medan dengan kecepatan sedang.

Sesampai nya di Gampong Pulo mobil tersebut ingin memotong 1 unit Avanza yang ada di depan sehingga melebar ke arah kanan jalan dari berlawanan arah.

“Ketika memotong mobil Avanza di depannya ada tronton dengan jarak yang terlalu dekat hingga menabraknya, .dan 1 unit sepmor vario BK 2329 PAV di belakan Rush ikut menabraknya,” kata Kasat Lantas Iptu Sandy Titah Nugraha.
Adapun data korban kecelakaan :

Pengendara sepmor Sertu M. Akbar Harahap anggota Yonif Raider 113/JS mengalami Patah kaki sebelah kiri dan memar bagian kepala dan Astika (22) mengalami luka ringan yang saat ini sudah dibawa ke rumah sakit Kesrem Lhokseumawe

Sedangkan pengemudi Mobil Toyota Rush, Suriyanto, (45) warga Blok 5 Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara meninggal dunia, Emi Sunarti, (42) , Nadimah (35) mengalami luka ringan dan Hafip balita yang berusia tiga tahun itu mengalami patah kaki sebelah kanan.

Sementara pengemudi Truck Tronton, Anwar, (45) warga  Dayah Kecamatan Matang Gelumpang 2, Bireuen, dan  Zainul Patar (25) Kernet, warga Blangtupat Kecamatan Muara Satu Lhokseumawe mengalami luka ringan.

“Untuk korban dari mobil toyota Rush telah di evakuasi ke RS Cut Mutia Lhoksuemawe dan saat ini kejadian kecelakaan tersebut telah di tangani oleh pihak Satlantas Polres Aceh Utara,” tegasnya.(*)

Becak listrik karya mahasiswa Unsyiah. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
Banda Aceh - Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) meluncurkan inovasi dengan menciptakan becak listrik Type BC-L01. Pembuatan becak itu merupakan atas hasil kerja sama dengan pihak PLN wilayah Aceh.

Wakil Dekan I Fakultas Teknik Unsyiah, Iskandar, mengatakan becak listrik itu dibuat Tim Malem Diwa Unsyiah yang terdiri dari mahasiswa, laboran serta para dosen.

Becak listrik tersebut mampu berjalan dengan kecepatan maksimum 40 km/jam, dan menempuh jarak sejauh 35 – 40 km dengan beban. Untuk daya listrik yang digunakan pada becak menggunakan baterai 12 Volt sebanyak 5 unit.

“Keunggulan dari becak listrik hasil karya mahasiswa ini ialah green energy, ergonomics design dan innovative design," sebut Iskandar saat peluncuran Becak Listrik di depan Kantor Pusat Administrasi (KPA) Unsyiah, Kamis (31/5).

Selanjutnya, becak listrik tersebut akan diserahkan kepada persatuan becak mesin yang ada di Banda Aceh untuk disosialisasikan. Sebelumnya Tim Malem Diwa  Unsyiah telah menciptakan beberapa produk inovasi baik mobil listrik Malem Diwa 0.1, maupun mobil tenaga surya. 

“Semua inovasi itu juga telah berhasil meraih prestasi dari berbagai kompetisi baik dalam mapun luar negeri,” imbuhnya.

Sementara itu, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal menyampaikan, inovasi becak listrik tersebut merupakan hasil kerja sama antara Unsyiah dengan PLN Wilayah Aceh. Pihak PLN memberikan dukungan dana sementara proses pembuatan becak listriknya dilaksanakan oleh Tim Malem Diwa Unsyiah.

“Unsyiah berterima kasih atas kepercayaan PLN terkait kerja sama ini. Karena bagaimana pun juga trust inilah yang paling bernilai,” ujar Samsul saat memberikan sambutan.

Menurut Samsul, inovasi becak listrik ini merupakan bagian dari pengabdian Unsyiah kepada masyarakat. Karena itu, ia berharap becak listrik tersebut bisa menjadi model transportasi yang ramah lingkungan khususnya untuk masyarakat di kota Banda Aceh.

“Unsyiah sangat mendukung inovasi seperti becak listrik ini, karena yang paling penting kita bisa menghasilkan sesuatu bermanfaat untuk masyarakat,” tuturnya.

Di sisi lain, Samsul juga menilai mobil listrik ini juga sangat mendukung dunia periwisata di Aceh. Menurutnya para turis sangat tertarik pada produk-produk yang original dari suatu daerah.

Sementara itu, General Manager PLN Wilayah Aceh, Jefri Rosiadi, menceritakan  bahwa rencana menciptakan becak mesin telah dilaksanakan oleh PLN dan Unsyiah selama tiga bulan, mulai dari desain hingga pembuatannya. Becak listrik type BC-L01 ini adalah tahap awal.

“Ini merupakan launching type pertama, nanti akan ada type kedua. Yang saat itu akan lebih kita sempurnakan lagi,” ujarnya.

Jefri menilai, becak listrik yang diciptakan oleh Tim Malem Diwa Unsyiah ini sangat potensial untuk dipasarkan. Alasannya, selain ramah lingkungan, becak listrik ini juga sangat efisien.

“Kalau dihitung-hitung nge-charge hanya lima jam, dan hanya membutuhkan Rp 6 ribu – 10 ribu kalau dibandingkan dengan bensin atau Pertamax. Jadi memang sangat efisien,” ujar Jefri.  | Kumparan

Lhokseumawe - Satu unit mobil penumpang (Mopen) L300 hilang kendali hingga menabrak empat kios milik warga di Jalan Medan-Banda Aceh Gampong Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu Kota Lhokseumawe. Rabu (30/5/2018). akibatnya satu orang pedagang yang sedang berjualan meninggal dunia.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Lantas AKP Yasnil Akbar Nasution mengatakan, kronologis kejadian bermula mobil L300 datang dari arah timur dengan kecepatan tinggi sedang menuju barat. Tiba-tiba sepeda memotong dari depan sehingga pengemudi hilang kendali dan membanting stir ke kiri jalan hingga menabrak empat kios milik warga setempat.

“Baharuddin (42) pengemudi L300 tersebut menabrak empat kios. Zakaria (44) yang sedang berdagang disalah satu kios tersebut meninggal dunia akibat terseret oleh mobil tersebut beserta satu unit sepeda motor miliknya yang sedang terparkir,”imbuhnya

AKP Yasnil mengimbau kepada seluruh pengendara dan pengguna jalan, supaya lebih berhati-hati dalam mengendarai kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Utamakan keselamatan diri sendiri dan juga penumpang jika itu mobil angkutan umum. Apalabila merasa lelah atau ngantuk lebih baik istirahat terlebih dulu.

Ia juga mengingatkan agat masyarakat agar mematuhi rambu-rambu lalu lintas serta melengkapi perlengkapan kendaraan seperti kaca spion, helm serta menggunakan sabuk pengaman.

Sementara itu Kapolsek Muara Satu, AKP Ahmad Yani, menambahkan, empat kios yang ditabrak yakni milik Abdul Manaf (59), Sufiadi (34), Syarbaini 60.

” Satu orang korban jiwa yakni an. Zakaria meninggal di TKP, Zakaria dalam posisi terhimpit dibawah mobil tersebut dan terseret. Sementara tiga penjaga kios lainnya tidak mengalami luka.”sebutnya

Usai laka lantas supir tersebut bergegas meninggalkan lokasi laka lantas dengan menyerahkan diri ke Polsek Muara satu untuk menghindari amukan massa.

“Barang bukti kenderaan langsung kita amankan ke Polsek Muara satu dan kasus ini akan ditangani unit laka lantas, kerugian materil diperkirakan mencapai hingga Rp 20 juta,” pungkasnya.(*)

Peserta zikir Tarekat Naqsabandiyah di Aceh. (Anadolu Agency/Khalis Surry)
StatusAceh.Net - Tiga orang meninggal dunia saat mengikuti suluk atau zikir Tarekat Naqsabandiyah di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Jumlah peserta yang meninggal ini dilaporkan bertambah dua dari sebelumnya satu orang.

Petugas medis dari Dinas Kesehatan Rejang Lebong yang bertugas di klinik perguruan Tarekat Naqsabandiyah di Desa Suka Datang, Asri mengatakan peserta suluk yang meninggal dunia di RSUD Curup tersebut adalah Umar Farruk (30) asal Way Kanan Lampung, dan Sumarno (56) yang berasal dari Belitang, OKU Timur, Sumatera Selatan.

"Kedua jamaah tersebut sebelumnya sempat dirujuk ke RSUD Curup karena sakit dan membutuhkan penanganan yang serius akibat penyakit gula darah dan lambung. Jenazah sudah diantar ke pihak panitia daerah masing-masing," katanya seperti dilaporkan Antara, Kamis (31/5).

Sebelumnya peserta suluk Tarekat Naqsabandiyah yang meninggal dunia pada pelaksanaan suluk gelombang pertama ini adalah Katinem (53), warga Desa Sungai Belida, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Wakil Ketua Umum Tarekat Naqsabandiyah Rejang Lebong, M Eddy Rusman ditemui di perguruan Tarekat Naqsabandiyah di Desa Suka Datang, Kecamatan Curup Utara, Selasa, mengatakan, dari 486 peserta suluk gelombang pertama, mendiang Katimen meninggal dunia pada Senin (28/5) siang sekitar pukul 12.25 WIB atas nama Katinem (53).

Selain adanya korban meninggal dunia yang mengikuti kegiatan zikir selama 10 hari 10 malam dalam setiap bulan Ramadhan ini juga lima orang lainnya dikembalikan ke daerah asalnya karena sakit, dan ada juga yang meminta dipulangkan karena tidak sanggup mengikutinya.

"Berdasarkan hasil diagnosa dari petugas medis RSUD Curup diketahui korban meninggal dunia karena mengidap penyakit gula darah dan hypertensi," ujarnya.

Katinem, kata dia, awalnya masih sehat, cuma mengeluh sesak napas dan kemudian berobat di klinik yang ada di peguruan Tarekat Naqsabandiyah, namun kemudian dirujuk ke RSUD Curup dan setengah jam dirawat meninggal dunia. Jenazah sudah dikembalikan ke daeranya.

Sementara itu untuk lima orang lainnya yang dipulangkan oleh panitia suluk, tambah dia, karena menderita sakit atau tidak sanggup mengikuti kegiatan ini antara lain Sri Indah warga asal Way Kanan, Provinsi Lampung. Dedi Irawan, warga Kota Lubuklinggau, Sumsel.

Pelaksanaan suluk atau zikir bersama yang dilaksanakan oleh pengajian tassawuf Tarekat Naqsabandiyah Rejang Lebong tahap pertama ini dilakukan selama 10 hari Ramadhan atau pada 19-29 Mei 2018 dengan peserta sebanyak 486 orang yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air. (CNN)

Motor listrik Liion GP Foto: Pool (ndtv)
StatusAceh.Net - Mahasiswa di University of Twente, Belanda, meluncurkan motor superbike bertenaga listrik yang dinamakan Liion GP. Motor listrik itu akan digunakan tim balap motor listrik pertama dari universitas di Belanda itu/

Diberitakan NDTV, tim yang dinamakan Electric Superbike Twente benar-benar dirancang dan diproduksi oleh mahasiswa. Liion GP menunjukkan seberapa cepat kendaraan listrik.

Setidaknya 15 mahasiswa membuat desain, menguji, dan membuat motor lisstrik ini. Motor listrik dirancang hanya dalam sembilan bulan.

Kini, serangkaian tes akan dilakukan selama beberapa minggu ke depan sebagai persiapan untuk kompetisi MotoE di Inggris dan Belanda.

"Kami mengambil pendingin udara yang diperlukan dan ergonomis menjadi pertimbangan. Kami juga ingin menciptakan sepeda motor yang akan menarik bagi penggemar motor. Saya pikir kami telah berhasil datang dengan desain yang hebat," kata Penanggung Jawab Desain, Bram Norp.

Liion GP menggunakan motor listrik yang terintegrasi dengan rangka. Hal itu membuat penghematan ruang, membuat frame lebih rigid, dan memungkinkan penambahan kapastitas baterai.

Baterai, sistem elektronik, rangka, dan fairing dikembangkan di kampus. Diperkirakan, kecepatan motor listrik ini bisa mencapai 250 km/jam.

"Sungguh menakjubkan betapa banyak yang telah dicapai tim dalam waktu sangat singkat!" kata Manajer Tim, Tim Veldhuis. | detik.com

StatusAceh.Net - Pemerintah Israel kemarin mengumumkan larangan masuk bagi pelancong berpaspor Indonesia sebagai bentuk balasan atas keputusan pemerintah Indonesia yang menangguhkan visa warga Negeri Bintang Daud.

Indonesia sendiri mengeluarkan keputusan tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina yang dibantai oleh pasukan Israel di perbatasan Jalur Gaza pekan lalu.

Namun, aksi balasan ini rupanya sudah diperkirakan oleh pihak Indonesia. Sebab, pemerintah tahu bahwa setiap negara memiliki kebijakan tersendiri khususnya mengenai aturan imigrasi.

"Kita tahu mengenai langkah tersebut, tetapi kita juga harus memaklumi bahwa setiap negara memiliki kebijakan masing-masing terkait pemberian fasilitas visa. Mau memberikan atau tidak," kata Wakil Menteri Luar Negeri RI, AM Fachir, di Kementerian Luar Negeri, Kamis (31/5).

Meski langkah Israel dapat diprediksi, namun ada dampak yang dihasilkan dari aksi pelarangan ini. Bulan-bulan ini adalah waktu kaum Nasrani untuk berziarah ke Yerusalem.

Sejumlah tour Muslim pun memasukkan Yerusalem dan mengunjungi Masjid Al-Aqso dalam paket wisata religi. Biasanya satu paket dengan Mesir dan Yordania.

"Sebenarnya terkait hal itu sudah disampaikan oleh menteri agama. Namun yang pasti ada aturan internasional yang mengatur hal tersebut," pungkas Fachir. | Merdeka.com

Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan, ketatnya persaingan telah membuat sejumlah Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (KUMKM) gagal dalam pengelolaan atau manajemen usaha sehingga menurunya produktivitas dan membuat KUMKM rugi atau bahkan bangkrut. Untuk mencegahnya, langkah pembinaan dan dukungan bagi KUMKM harus terus ditingkatkan.

“Langkah ini perlu menjadi perhatian kita, sebab usaha Koperasi dan UKM ini memiliki pengaruh sangat besar dalam menentukan denyut nadi ekonomi bangsa kita,” kata Nova saat membuka Sosialisasi dan Bimtek Program Inklusif Lembaga Pengelola Dana Bergulir- Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, Menengah   (LPDB- KUMKM) di Hotel Grand Nanggroe, Rabu (30/05/2018).

Secara total kata Nova, sektor Koperasi dan UKM berkontribusi 55,56 persen untuk PDRB nasional. Khusus untuk Aceh, sektor ini menjadi pemegang kendali ekonomi rakyat dengan daya serap tenaga kerja mencapai 85 persen. Di Aceh terdapat sekitar 3.600 Koperasi aktif dan lebih dari 90 ribu unit UMKM.

“Jadi bisa dibayangkan betapa besarnya pengaruh KUMKM bagi kesejahteraan masyarakat di Aceh,  wajar jika perhatian kita untuk pengembangan sektor KUMKM ini perlu ditingkatkan demi suksesnya pembangunan Aceh,” ujar Nova.
Nova menjelaskan, salah satu kendala yang kerap dialami oleh sektor KUMKM di Aceh adalah masalah permodalan atau akses pembiayaan, karena tidak banyak lembaga keuangan tertarik melirik sektor tersebut.

Di tengah kesulitan permodalan itu lanjut Nova, kehadiran Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang dibentuk Pemerintah pada tahun 2006 sebenarnya sangat diharapkan dapat membantu pengembangan usaha KUMKM di Aceh.
Di bawah kepemimpinan manajemen yang baru kata Nova, LPDB berupaya menjadikan LPDB lebih inklusif dengan memperkuat kemitraan dengan dinas-dinas terkait, sehingga penyaluran dana bergulir tersebut dapat disalurkan ke daerah.

“Pemerintah Aceh tentu saja menyambut dengan antusias kehadiran LPDB yang inklusif ini. Dinas Koperasi dan UKM yang ada seluruh Aceh pasti siap bekerjasama dengan LPDB-KUMKM dalam menjalankan program tersebut,” ujar Nova seraya berharap kehadiran program LPDB ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh.

Nova menyampaikan, untuk menjalankan program LPDB-KUMKM di Aceh , terdapat beberapa mekanisme dan aturan main yang harus dipahami. Kegiatan Sosialisasi sekaligus bimbingan teknis dilakukan untuk memahami program Inklusif LPDB-KUMKM tersebut agar siap dijalankan di Aceh.

Sementara itu, Direktur Utama LPDB-KUMKM, Braman Setyo mengatakan, manfaat dari pengalokasian dana bergulir LPDB-KUMKM yaitu, berkembangnya koperasi dan UMKM sehingga memberukan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat, pengurangan pengangguran dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejak tahun 2008 sampai 2017, LPDB kata Braman telah menyalurkan dana  sebanyak 21,6 milyar di Aceh.

Pada tahun 2017 lalu, LPDB telah mengalokasikan anggaran dana bergulir sebesar 40,35 milyar untuk KUMKM di Aceh, namun realiasinya belum ada.
“Kami berharap kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis yang kita lakukan menjadi perhatian khusus bagi dinas yang membidangi koperasi dan ukm di Aceh untuk meningkatkan peran dalam merekomendasikan KUKM potensial diwilayah binaannya,” kata Braman.(Rill)


SERUWAY- Seorang warga Desa Sentang Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang menyerahkan sepucuk senjata api jenis FN lengkap dengan satu magazin yang berisi 5 butir peluru

Senjata api ini diduga peninggalan masa konflik diserahkan pada Polsek Seruway melalui Datok Penghulu Desa Matang Sentang  Boimin bin Marno (44), Selasa (30/5/2018).

Penyerahan senjata api jenis FN ini oleh warga tersebut disaksikan lansung oleh Iswandi seorang petugas Babinkamtibmas Polsek Seruway.

Kapolsek Seruway Ipda M. Rizal menceritakan kronologis penyerahan senjata api jenis FN beserta satu magazin berisi 5 butir peluru yakni berawal Mr. X pada hari minggu (27/5/2018) sekiranya pukul 17:00 WIB melaporkan kepada datok penghulu desa sentang jika dirinya telah menemukan senjata api.

Menurut warga tersebut,dirinya menemukan senjata api FN di tambak desa Kuruk Tiga Ujung yang kemudian diserahkan kepada datok penghulu yang kemudian menghubungi petugas polsek yang juga Babinkamtibmas kemudian diserahkan lansung pada Kapolsek Seruway di Mapolsek setempat.

" Kami sangat mengapresiasikan langkah yang diambil oleh warga desa sentang dan kami himbau kepada masyarakat seruway baik yang masih menyimpan atau memiliki ataupun menemukan senjata api tanpa izin untuk segera menyerahkan pada polsek, Insya Allah tidak akan ada proses hukum ",Himbau Ipda m. rizal.

Untuk langkah selanjutnya senjata api jenis FN Merk RCF Made In Taiwan beserta satu magazin berisi lima peluru aktif diamankan di Mapolsek Seruway.

Redaksi: T. Sayed Azhar


Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan menggelar sidang ke-3 gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap Dewan Pers yang diajukan oleh dua organisasi wartawan, yakni Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI) dan Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) pada Kamis (31/5/2018) sekira pukul 10.30 Wib. Demikian disampaikan Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI), Heintje Mandagi kepada wartawan yang disebar melalui grup Whatsapp "Menggugat Dewan Pers", Rabu (30/5/2018).

Baca juga: Dewan Pers Langgar Konstitusi, Berpotensi Kriminalisasi Pers

"Kami mengajak rekan-rekan sekalian untuk hadir pada Sidang ke-3 gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap Dewan Pers pada besok hari Kamis, 31 Mei 2018 jam 10.30 wib di PN Jakarta Pusat. Dengan ini kami mengharapkan kepada para rekan-rekan pers sekalian untuk hadir memberi dukungan dan meliput langsung sidang ini," ungkap Heinjte.

Ketua Umum SPRI inj juga meminta agar rekan-rekan wartawan menyebarkan pesan tersebut agar dapat diketahui seluruh  insan pers yang ada di Indonesia. "Mohon diviralkan ke teman-teman pers," pinta Heintje.

Dijelaskannya, dasar perkara adalah kebijakan dan aturan Dewan Pers yang mewajibkan semua wartawan ikut Uji Kompetensi Wartawan-UKW, lewat Lembaga Sertifikasi Profesi bentukan Dewan Pers (bertentangan dengan pasal 18 Undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan), dan mewajibkan Perusahan Pers diverifikasi oleh Dewan Pers (seperti SIUP era Orba).

Kedua kebijakan ini berpotensi mengancam wartawan yang belum ikut UKW dan media yang belum diverfikasi dapat dikriminalisasi. "Terbukti Dewan Pers sering membuat rekomendasi kepada pengadu agar meneruskan perkara pers ke aparat kepolisian berdasarkan pertimbangan bahwa wartawannya belum ikut UKW dan medianya belum diverifikasi," imbuh Heinjte.

Gugatan ini, lanjut dia, bertujuan untuk melindungi kebebasan pers agar wartawan tidak terkena jerat hukum dalam menjalankan tugas jurnalistik. "Dengan ini kami mengharapkan kepada para rekan-rekan pers sekalian untuk hadir memberi dukungan atau meliput langsung sidang ini," ujarnya penuh harap.

Diberitakan sebelumnya, sidang lanjutan gugatan PMH Dewan Pers diwarnai protes oleh kuasa hukum penggugat (SPRI dan PPWI), Dolfie Rompas, terhadap legal standing tergugat Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo sebagai pemberi kuasa kepada dua orang kuasa hukum untuk mewakili tergugat menghadiri sidang pada Senin (21/5/2018) lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kuasa hukum penggugat, Dolfie Rompas mempertanyakan surat pleno Dewan Pers (DP) yang memilih Yosep Adi Prasetyo sebagai Ketua Dewan Pers yang hanya ditanda-tangani oleh tergugat seorang diri, padahal seharusnya ikut ditanda-tangani oleh seluruh anggota Dewan Pers.

“Selain itu statuta Dewan Pers tidak dicantumkan bahwa Ketua Dewan Pers bisa bertindak ke dalam maupun keluar untuk kepentingan hukum, sehingga penunjukkan kuasa hukum seharusnya ditanda-tangani oleh seluruh anggota Dewan Pers,”  kata Rompas kepada awak media usai persidangan. (Red/Rls).
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.