2019-09-15

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Kelompok KKB di Aceh, Foto: Youtube
Bireuen - Tiga anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Abu Razak menyerahkan diri ke polisi. Mereka menyerahkan diri ke Polres Bireuen dan Polres Aceh Timur.

"Tiga anggota KKB yang menyerahkan diri yakni SF, 31; HS alias Apek, 35, dan AM alias Raider, 42," ujar Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Aceh, Kombes Pol Agus Sarjito dikutip dari Antara, Sabtu, 21 September 2019.

Dia menerangkan, SF dan HS menyerahkan diri ke Polres Bireuen, sedangkan AM menyerahkan diri ke Polres Aceh Timur. Mereka juga menyerahkan senjata api laras panjang.

"Dari tangan AM diamankan senjata api laras panjang AK-47 beserta sebuah magasen dan empat butir amunisi aktif," kata Agus.

Agus menuturkan, AM alias Raider adalah warga Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur. AM bekerja sebagai tukang batu dan menyerahkan diri pada Jumat dini hari, 20 September 2019.

"AM alias Raider menyerahkan diri setelah penggalangan oleh tim. Penggalangan agar menyerahkan diri juga dilakukan kepada keluarga dan seorang rekannya," ujarnya.

Sedangkan SF, warga Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, dan HS alias Apek, warga Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, menyerahkan diri di Polres Bireuen, Rabu dini hari, 18 September 2019.

"Keduanya ikut terlibat dalam kejahatan kelompok Abu Razak," ujar Agus.

Lima anggota KKB pimpinan Abu Razak terlibat kontak tembak dengan polisi di Keude Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Kamis, 19 September 2019, sekitar pukul 18.00.

Dalam insiden tersebut, empat anggota KKB tewas ditembak termasuk pimpinan kelompok, Abu Razak. Anggota kelompok lainnya yang tewas yakni Zulfikar, Hamni, dan Wan Neraka. Sedang anggota lainnya, Wan Ompong ditangkap.

Sebelum kontak tembak terjadi, Satgas KKB Polda Aceh mengikuti kelompok Abu Razak turun dari Bukit Cerana, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, menggunakan minibus menuju arah Banda Aceh. Satgas KKB mengejar hingga Keude Trienggadeng, Pidie Jaya, hingga terjadi kontak tembak.

Dari kelompok itu disita barang bukti senjata api laras panjang jenis AK56 lipat, senjata api laras pendek revolver, serta amunisi AK dan revolver kurang lebih 100 butir.

Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu menyebut kelompok kriminal bersenjata yang harus ditumpas. "Pemberontak, saya tidak suka mendengar (istilah) KKB -KKB, pemberontak," kata Ryamizard di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Yogyakarta, Selasa 13 Agutus 2019. | medcom.id

All passengers were later rebooked on the next flight to Dallas - Getty Images Photo: BBC
StatusAceh.Net - Dua pria Muslim di Amerika Serikat menuntut dilakukan investigasi setelah mereka mengklaim mendapat perlakuan "diskriminatif" karena beragama Islam, dalam penerbangan menuju Dallas.

Abderraoof Alkhawaldeh dan Issam Abdallah menuduh penerbangan tersebut dibatalkan karena awak kabin merasa tidak nyaman terbang bersama mereka.

"Itu adalah hari paling memalukan dalam hidup saya," kata Abdallah kepada para wartawan.

Dalam pernyataannya, maskapai American Airlines menyebut ada "kerisauan yang disampaikan seorang awak kabin dan seorang penumpang" sehingga penerbangan dibatalkan.

"American dan semua mitra regionalnya punya kewajiban untuk menerima dengan serius kerisauan keselamatan dan keamanan yang disampaikan awak kabin dan para penumpang," sebut pernyataan itu.
Apa yang terjadi dalam penerbangan tersebut?

Alkhawaldeh dan Abdallah menyampaikan tuduhan mereka dalam jumpa pers yang digelar Dewan Hubungan Amerika-Islam dan disiarkan melalui Facebook.

Pada 14 September lalu, kedua pria itu memesan tiket pesawat American Airlines yang dioperasikan Mesa Airlines dari Birmingham, Alabama, ke Dallas, Texas.

Mereka memesan tiket dan bepergian secara terpisah, tapi keduanya saling menyapa di pesawat dengan melambaikan tangan mengingat mereka berasal dari komunitas Muslim yang sama.

Tak lama setelah itu suara pengumuman menyebutkan penerbangan ditunda. Abdallah lantas pergi ke kamar kecil.

Saat dia keluar, menurutnya, ada pramugari berdiri dekat pintu "seperti menguping".

Selanjutnya awak kabin memberitahu semua penumpang bahwa penerbangan dibatalkan dan mereka harus keluar dari pesawat.

Alkhawaldeh mengatakan dirinya mendengar seorang pramugari mengatakan kepada seorang penumpang bahwa langkah itu ditempuh demi alasan keamanan.

Sesaat setelah keluar dari pesawat, kedua pria itu didekati dua orang berpakaian bebas, beberapa petugas berseragam, dan belakangan seorang agen FBI.

Agen tersebut membawa Abdallah ke ruang tertutup dan disebut menanyakan nama dan pekerjaan Abdallah. Si agen juga disebut berkata koper Abdallah akan digeledah lagi.

Ketika Abdallah bertanya apa yang terjadi, si agen disebut berkata staf maskapai telah menghubungi polisi dan mengatakan mereka "tidak nyaman terbang" bersama Abdallah.

Alasannya, kata si agen kepada Abdallah, Abdallah "pergi ke kamar kecil dan menggelontorkan air dua kali".

Menurut Abdallah, si agen meminta maaf kepadanya kemudian mempersilakannya baik penerbangan susulan.

"Saya merasa (mereka saat itu) mendiskriminasikan saya atas dasar etnis dan agama saya," kata Abdallah.

Semua penumpang kemudian dipesankan penerbangan berikutnya ke Dallas.
Apa yang dikatakan pihak maskapai?

"Kami berkomitmen menyediakan pengalaman positif ke semua orang yang bepergian bersama kami," sebut American Airlines.

"Tim kami bekerja dengan Mesa untuk meninjau insiden ini dan kami telah menghubungi  Alkhawaldeh dan Abdallah untuk memahami lebih baik pengalaman mereka."

Maskapai tersebut dihadapkan pada sejumlah tuduhan perlakuan diskriminatif di masa lalu.

Awal tahun ini, maskapai tersebut meminta maaf karena disebut-sebut mengatakan kepada seorang penumpang perempuan untuk menyembunyikan pakaiannya menggunakan selimut.

Kemudian pada 2017, kelompok pelindung HAM warga non-kulit putih (NAACP), memperingatkan penumpang kulit hitam bahwa American Airlines "bisa saja menempatkan (penumpang) dengan sikap kurang ajar, diskriminatif, atau tidak aman".

Lhoksukon - Lembaga Bantuan Hukum Samudera Pase melakukan kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan Hukum kepada masyarakat, yang bertempat di Meunasah Gampong Baroh Kuta Batee, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (20/09/2019).

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 50 orang peserta itu mengangkat topik tentang Proses Penyelesaian Perkara Perdata Islam. Materi disampaikan oleh Presiden Direktur LBH Samudera Pase, Muzakir, S.H. Dalam pemaparannya, Muzakir menekankan kepada masyarakat bahwasanya mencegah permasalahan hukum jauh lebih baik dibandingkan menyelesaikan ketika permasalahan itu timbul karena itu akan relatif sulit.  
 
Oleh karena itu, ia menghimbau agar  masyarakat  mengindahkan  segala aturan baik aturan hukum Islam maupun aturan hukum negara dalam melakukan perbuatan hukum. Misalnya, dalam hal perkawinan, harus ada pencatatan di Kantor Urusan Agama, poligami harus ada izin dari Mahkamah Syar’iyah, Hibah harus ada akta hibah dan sebagainya. Sedangkan bagi warga yang telah melakukan pernikahan yang sah menurut hukum agama, namun tidak tercatat di KUA, maka solusinya adalah mengajukan isbat nikah ke Mahkamah Syar’iyah.

Selain itu, Muzakir juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan keberadaan peradilan adat yang diberi wewenang untuk menyelesaikan beberapa masalah hukum. 
 
“Hal ini mengacu kepada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat”. Praktisi hukum itu sangat mengharapkan agar peradilan adat senantiasa mengedepankan prinsip-prinsip keadilan demi mewujudnya penyelesaian yang komprehensif. Dalam beberapa kasus, meskipun telah diselesaikan di tingkat desa, namun masih memerlukan pengesahan dari negara untuk memperoleh legalitas atau kepastian hukum”.

Acara ini dikolaborasikan dengan Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXVI Mahasiswa Universitas Malikussaleh, di gampong tersebut. Armia, S.H., M.H. selaku Dosen Pembimbing Lapangan, memberikan apresiasi kepada Nova Indah Sari dan Ayu Azhari Mahasiswa Fakultas Hukum selaku peserta KKN yang menginisiasi kegiatan ini dengan mengundang LBH Samudera Pase serta mengkoordinasikan dengan aparat dan warga desa setempat. 
 
Dalam pengantarnya, Armia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembangunan hukum yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. 
 
“Kita berharap kepada LBH Samudera Pase semoga untuk terus memberikan kontribusi dalam pembangunan hukum. Pemberdayaan hukum kepada masyarakat juga sangat dibutuhkan. Ke depan ia mengharapkan, agar dilakukan juga kegiatan-kegiatan dalam bentuk lain, misalnya pelatihan kepada perangkat peradilan adat, serta pemberian konsultasi dan advokasi terhadap warga yang menghadapi masalah hukum”. Tutupnya.

ACEH UTARA - Meucat VC Gampong Meucat Kecamatan Nisam melumat Halilintar VC Sp. Rambong Kecamatan Nisam Antara, dengan skore telak 3-0 di Laga semifinal Open Turnament VolleyBall Muspika Nisam Cup Tahun 2019, yang dipentaskan Jum’at (20/09/2019), di Lapangan JVC Blang Dalam Baroh Kecamatan Nisam.

Meucat VC yang bermaterikan sejumlah pemain Bank Aceh, seperti Dekdi, Jali, Cecep, Pon Codet, dan Adi Bayor, membungkam Halilintar VC yang menurunkan pemain jemputan dari Kabupaten Bener Meriah, seperti Ariga, Arsad, Yani dan Tosser Leo Naldi.  

Laga yang disaksikan seribuan pasang mata ini, menjadi anti klimaks bagi Halilintar VC, dimana mereka begitu perkasa kala menyingkirkan tuan rumah JVC Blang Dalam Baroh pada pertandingan babak delapan besar. Namun dihadapan Meucat VC mereka tak berkutik, dan harus merelakan langkah mereka terhenti dibabak semifinal.

Meucat VC menghentikan langkah Halilintar lewat permainan apik, dan variasi serangan yang sulit ditebak. Adibayor, Jali dan Pon Codet begitu leluasa melepaskan smeshan keras, melewati blocking dari Ariga, Yani dan Arsad. 

Perolehan poin di pertandingan tiga set tersebut   25-20, 25-14 dan 25-17 untuk kemenangan Meucat VC.
Kemenangan Meucat VC memastikan mereka melangkah ke babak final, lawan mereka antara Bank Indonesia Lhokseumawe atau Trisakti VC Blang Mangat.

Pertandingan Sabtu (21/09/2019).
Pertandingan semifinal hari kedua, akan mempertemukan dua musuh bebuyutan yang sering bertemu di turnamen voli. Trisakti Blang mangat berhadapan dengan Bank Indonesia Lhokseumawe.

Trisakti yang bermaterikan sejumlah terbaik, seperti Dekpan, Rama Kuala Simpang, Bugek, Wanda, Fajri Solo, tosser Bongkeng dan libero muda Waki, akan ditantang oleh Bank Indonesia Lhokseumawe, yang diperkuat oleh Pepeng, Jefri, Saddam, Sada dan Tosser berpengalaman Surya Dharma.

Ketua Panitia Open Turnament Volleyball Muspika Nisam Cup Efrizal, SH melalui Humas, Publikasi dan Dokumentasi Tajuddin, S.Sos mengatakan, bahwa “Pertandingan ini pasti sangat menarik dan berimbang, melihat dari segi materi kedua tim, laga ini layak kita sebutkan final dini. Dan kami tak bosan – bosan mengajak penggemar voli, untuk hadir dan menjadi saksi, siapa yang lebih unggul dan berhak menggenggam tiket ke babak Final. Trisakti atau Bank Indonesia. 

MS (9), diduga mendapat perlakuan tak manusiawi. Selain dipaksa mengemis, bocah tersebut juga disiksa jika tidak membawa pulang uang hasil dari meminta-minta (Liputan6.com/Rino Abonita)
StatusAceh.Net - MS (9), diduga mendapat perlakuan tak manusiawi. Selain dipaksa mengemis, bocah di Aceh tersebut juga disiksa jika tidak membawa pulang uang hasil dari meminta-minta.

Pelaku penganiayaan diduga Muhammad Ismail (39), dan Uli Grafita (38). Keduanya adalah ayah tiri dan ibu kandung korban sendiri.

Ketiganya tinggal di rumah kontrakan di Desa Tumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh. Bentuk penganiayaannya berupa memukul dan mengurung MS.

Ismail seorang wiraswasta, sementara istrinya ibu rumah tangga (IRT). Adapun MS, sudah lama putus sekolah, dan diduga menjadi mesin pencari uang bagi kedua orang tuanya.

MS kerap ditemui sedang mengemis di jalan dan sejumlah warung kopi Kota Lhokseumawe. Kepalanya dipukul serta tangannya diikat dengan rantai besi jika pulang dengan tangan hampa.

Seorang tetangga korban melaporkan perbuatan Ismail dan Grafita ke Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat. Keduanya pun digelandang ke kantor polisi sektor Banda Sakti, Rabu kemarin (18/9/2019).

"Pukul 16.15 WIB, korban dan yang diduga pelaku dibawa dan diserahkan ke Polres Lhokseumawe bagian Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) guna pemeriksaan lebih lanjut," jelas Kapolsek Banda Sakti, Iptu Irwansyah, dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Kamis.

Angka Kasus Kekerasan terhadap Anak di Aceh 

Banda Aceh – Fitri, bocah perempuan yang dikabarkan terlantar di kolong jembatan Lamnyong Banda Aceh dan kemudian dibawa ke Dinsos Aceh pada Rabu (18/9/2019) akhirnya berjumpa dengan keluarganya, Kamis (19/9/2019). Adalah Julianto (42 tahun) ayah dari Fitri yang bertandang ke Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Aceh bersama dua saudara kandungnya untuk menemuinya  Fitri, anak perempuan semata wayangnya.

Namun di kantor Dinsos, Anto, begitu dia akarab disapa tidak langsung dapat berjumpa dengan putrinya, karena sejak Rabu (18/19/2019) Fitri sudah dititipkan di panti asuhan anak atau UPTD Rumoh Sejahtera Aneuk Nanggroe (RSAN) milik Dinsos Aceh di Gampong Geugajah, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Anto baru bertemu putrinya selesai salat magrib di UPTD RSAN sepulang mereka dari Dinsos Aceh.

Di Dinsos, Anto bersama keluarga diberikan arahan dan bimbingan oleh Kasi Rehabilitasi Anak dan Lansia, Rita Mayasari bersama beberapa staf, dan pekerja sosial anak Dinsos Aceh.

“Teman-teman pekerja sosial kita di lapangan bekerjasama dengan Polsek Ingin Jaya, kemarin telah melakukan penulusuran ke beberapa titik petunjuk informasi, salah satunya dari seragam PAUD milik Fitri di dalam dus itu, dan informasi dari warga setelah membaca berita tentang Firi ini, dan akhirnya kita terhubunglah dengan Pak Anto ini,” kata Rita Mayasari.

Rita mengungkapkan, Anto bersama Firi selama ini hidup luntang-lantung lantaran tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, pekerjaan yang tetap, hingga tidak mempunyai kartu identitas baik itu kartu tanda penduduk maupun kartu keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan  sehari-hari, Anto bekerja sebagai buruh bangunan. Saat ini dia bekerja di Desa Ketapang dan tidur di tempat dimana dia bekerja. Dinsos dalam hal ini akan membantu mengadvokasi agar Anto memiliki identitas.

Anto yang diakui oleh keluarganya berasal dari Grong Grong Kabupaten Pidie terpisah dari keluarga sudah cukup lama, selama ini dia hidup merantau ke Medan dan baru terhubung dengan keluarga sejak sepuluh hari yang lalu, dan dengan isterinya sudah lama berpisah, sementara Fitri ikut bersama dirinya.

“Dari intelektualnya Bapak Anto ini rendah, sehingga dalam mengasuh Fitri dia teledor sehingga terpisahlah dan di temukan terlantar karena mereka tidak memiliki rumah tadi,” kata Rita. Karena intelektualnya yang rendah juga sedikit menghambat Rita berasama staffnya untuk mengorek informasi dari Anto.

“Anto juga banyak lupa, dia sendiri juga lupa umur anaknya berapa, dan kapan pastinya dia kembali ke Aceh dari Medan,” kata Rita.

Sementara Anto saat ditanya mengaku sayang pada anaknya dan berharap Dinsos Aceh dapat membantu menyekolahkan anak semata wayangnya itu. “Dibantu sekolah itu aja,” kata Anto yang lebih banyak diam.

Rita menambahkan, untuk sementara Fitri akan tetap diasuh oleh panti asuhan anak Dinsos Aceh hingga kondisi keluarga Anto membaik baru Fitri diserahkan kembali kepada keluarga. Namun Rita mengingatkan, kendatipun Fitri saat ini diasuh di panti asuhan Rita berharap Anto juga tetap harus menjenguk anaknya di sana.

“Yang pertama kita intervensi krisisnya dulu, bahwa Fitri sudah aman dan kebuhan dasarnya sudah terpenuhi, untuk sekolahnya kita siapkan dulu identitasnya seperti akte karena dia belum memiliki akte, setelah identitasnya lengkap baru kita sekolahkan di sekolah terdekat di sana termasuk psikologisnya akan kita cek karena kita tidak fahan bagaimana masa lalu dia di Medan,” jelas Rita.[]

Banda Aceh - Pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Aceh Abu Razak (53) tewas bersama tiga anggotanya dalam baku tembak dengan polisi. Razak pernah dua kali mendekam di penjara karena kasus kriminal bersenjata dan terakhir kabur dari bui pada 2017 lalu.

"Nama aslinya itu Tun Sri Muhammad Azrul Mukminin Al-kahar Alias Abu Razak Bin Muda Abdul Muthali. Dia pernah beberapa kali terlibat dalam kasus kriminal bersenjata di Aceh," kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Ery Apriono saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (20/9/2019).

Sepak terjang Razak dalam memanggul senjata bermula saat dia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1999 silam di wilayah Batee Iliek, Bireuen. Razak muda kala itu bertugas sebagai tukang servis atau memperbaiki senjata.

Semasa konflik GAM dengan Pemerintah Indonesia, dia bergerilya. Setelah penandatanganan damai di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005, Razak kembali ke masyarakat. Dia bekerja serabutan sebagai pekebun dan pernah menjadi petani tambak.

Namanya kembali muncul pada 2008 saat mengancam warga negara asing (WNA) di Aceh Barat menggunakan senjata api. Saat itu, dia melarang WNA melakukan penambangan di wilayah Meulaboh.

Tak lama berselang, dia dibekuk polisi. Setelah menjalani persidangan, Razak divonis satu tahun enam bulan penjara dan mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Salemba di Jakarta Pusat.

Bebas dari bui pada 2010, Razak kembali ke Aceh. Namun saat itu, warga Dusun Cinta Alam, Desa Cot Trieng, Kecamatan Kuala, Bireuen ini tidak memiliki pekerjaan tetap.

Lima tahun berselang, Razak bergabung dengan KKB pimpinan Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi (DM). Kelompok ini diketahui pernah membunuh dua intel Kodim 0103 Aceh Utara yaitu Sertu Indra dan Serda Hendri pada Maret 2015 lalu.

Sejak saat itu, kelompok Din Minimi paling diburu polisi dan TNI. Sebulan kemudian, Razak ditangkap personel Polda Aceh pada Jumat (10/4/2015) sekitar pukul 13.00 WIB saat berada di Desa Cot Tarum Kecamatan Kuala Jeumpa Kabupaten Bireuen.

Sementara Din Minimi akhirnya menyerahkan diri kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso pada Desember 2015. Sedangkan Razak diproses hukum dan didakwa dengan pasal kepemilikan senjata api.

Barang bukti dalam kasus tersebut di antaranya tiga pucuk senjata api laras panjang jenis AK 56, satu pucuk senjata api jenis RPD, satu pucuk pistol FN, serta satu pucuk pelontar jenis GLM.

Dalam persidangan di Pengedilan Negeri Lhoksukon, majelis hakim memvonisnya dengan hukuman 5 tahun 6 bulan penjara pada Senin 11 Januari 2016 lalu. Dia dijerat dengan Undang-undang Darurat No 12 Tahun 1951. Razak pun mendekam di LP Klas IIA Lhokseumawe.

Dua tahun menjalani hukuman, Razak kabur dari penjara pada 18 September 2017 sekitar pukul 16.00 WIB. Dia melarikan diri setelah mengelabui petugas piket.

Kaburnya Razak berawal saat dirinya meminta izin kepada petugas jaga untuk melihat dan membantu bekerja di galeri hasil kerajinan napi di depan Lapas tersebut.

Namun saat azan salat Asar berkumandang, beberapa napi yang bekerja di galeri depan Lapas langsung masuk ke dalam. Sementara Razak tidak masuk dan setelah dicek melalui CCTV ditehui Razak sudah menghilang dari lokasi.

Polisi kemudian memasukkannya dalam daftar pencarian orang (DPO) Polres Lhokseumawe dengan nomor DPO/81/IX/2018/Reskrim Polres Lhokseumawe. Dua tahun buron, Razak kembali muncul sebagai pimpinan kelompok kriminal bersenjata.

Dia dan anggota kelompoknya diketahui menculik seorang warga Bireuen bernama Baital pada Kamis (12/9) lalu sekitar pukul 14.30 WIB. Korban disekap di kawasan Bukit Cerana Desa Ie Rhob Timu Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen.

"Akibat perbuatannya korban mengalami kerugian Rp 30 juta. Setelah dilepas korban membuat laporan ke polisi dan pelaku kita buru," jelas Ery.

Penyelidikan terhadap kelompok pimpinan Razak dilakukan. Pada Kamis (19/9) polisi menguber Razak dan anggotanya saat sedang dalam perjalanan ke Banda Aceh menggunakan mobil Avanza berpelat BL-1342-R.

Ketika berada di kawasan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, personel Satgas penindakan KKB menyergap mereka. Kontak tembak terjadi sekitar 30 menit. Razak dan tiga anggotanya Wan Neraka, Zulfikar, dan Hamdi tewas terkena timah panas. Sementara seorang pelaku, Wan Ompong, kini ditahan di Polres Bireuen.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Aceh Kombes Agus Sarjito, mengatakan, Razak dan kelompoknya terlibat penculikan serta pemerasan menggunakan senjata api. Polisi saat ini masih menyelidiki jumlah anggota kelompok tersebut.

"Iya, mereka pelaku penculikan sama ancam merampok duitnya. Mereka melakukan pemerasan dan ngancam pake senpi panjang," kata Agus saat dikonfirmasi detikcom.

Sumber: detik.com

ACEH UTARA - Turun dengan sejumlah pemain bayaran seperti Udin Robot, Sulu, Panyang, Tosser berpengalaman Faizil Play dan Libero handal Doyok ditambah Fajar pemain yang dijemput dari Kota Medan, mereka dibuat tak berkutik dengan skore telak 3-0 oleh Trisakti Vc Blang Mangat Kota Lhokseumawe, yang diperkuat, Dekpan, Abon, Rama, Wanda, Bugek, Fajri Solo tosser muda Bongkeng dan libero tangguh Waki.

Pertandingan yang disaksikan seribuan pasang mata ini tersaji di Laga tunda babak delapan besar Open Turnament VolleyBall Muspika Nisam Cup Tahun 2019, yang dipentaskan Kamis  (19/09/2019), di Lapangan JVC Blang Dalam Baroh Kecamatan Nisam.

Ketangguhan Trisakti VC yang di asuh oleh Geuchik Ishak Daud, sudah tampak diawal set pertama, dengan mengandalkan smesh jumping dari Rama, yang susah di passing oleh pemain Raja VC membuat pundi-pundi poin Trisakti terus bertambah, ditambah cemerlang spiker mereka Dekpan yang hari ini pantas dinobatkan sebagai Man of the match dipertandingan hari ini. Pemain yang baru saja memperkuat Tim Pora Kabupaten Aceh Utara, begitu sulit dibendung, baik itu smeshan maupun penempatan bolanya. Set ini dikuasai oleh Trisakti Vc dengan skore mencolok 25-16.

Set Kedua, Raja VC mencoba bangkit, namun usaha yang dilakukan Fajar, Sulu dan Udin Robot selalu dikandaskan oleh pemain Trisakti yang bermain displin, tenang dan penuh semangat. Beberapa kali smeshan yang dilakukan oleh Fajar membentur blocking sempurna pemain Trisakti. Dan pemain Raja Vc banyak melakukan kesalahan mendasar sendiri, Set ini mereka kalah dengan skore 15-25.

Set Ketiga, Trisakti yang unggul 2 set, tidak memberikan sedikitpun ruang bagi pemain Raja VC untuk mengembangkan permainan, mereka terus saja menekan dengan smeshan-smeshan keras Dekpan, Fajri Solo, Bugek dan Abon. Set ketiga ini dimenangkan oleh Trisakti dengan skore 25-19.
Dengan kemenangan ini Trisakti Vc melangkah ke babak semifinal, menemani  Meucat VC Nisam, Halilintar VC Nisam Antara, Bank Indonesia VC Lhokseumawe.

Pertandingan Jum’at (20/09/2019).
Ini merupakan laga hari perdana babak semifinal Antara Meucat Vc Nisam yang diperkuat oleh pemain Bank Aceh, seperti Dekdi, Jali, Cecep, Pon Codet, Adi Bayor dan Odi, akan berhadapan dengan Halilintar Vc Sp. Rambong Nisam Antara dengan pemain jemputan Dari Kabupaten Bener Meriah, seperti Ariga, Arsad, Yani dan Tosser handal Leo Naldi.

Ketua Panitia Efrizal, SH melalui Humas, Publikasi dan Dokumentasi Tajuddin, S.Sos “empat tim yang lolos ke babak semifinal, merupakan tim dengan pemain terbaik, dan dari wilayah yang berbeda. Dan ini tentu akan menampilkan permainan yang menghibur, serta mereka akan menjaga gengsi dari masing-masing daerah. Seperti kita ketahui bersama tim yang lolos dari Kecamatan  Nisam Antara diwakili oleh Halilintar Vc, Kecamatan Nisam menyisakan Meucat VC, dan dari Kota Lhokseumawe diwakili Bank Indonesia VC dan Trisakti VC.” kata Taju.(*)


PIDIE JAYA –Aceh –Sebanyak 5 anggota Kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang berada dikawasan Trieng Gadeng, Kabupaten Pidie Jaya, berhasil dilumpuhkan, tiga diantaranya tewas terkena timah panas dalam baku tembak dengan polisi, Kamis (19/9).

Ketiga yang tewas yakni anggota KKB tersebut berinitial Abu Razak, Zulfikar dan Hamni,satu diantaranya kritis yakni Wan Neraka yang dilarikan ke Rumahsakit terdekat sedangkan Wan Ompong berhasil diamankan oleh personil ke Polres Bireun dari lokasi kejadian.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan oleh petugas satu unit AK-56 lipat,satu unit senpi revolver dan amunisi sebanyak 100 butir.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Siregar peristiwa tersebut. Tapi kata dian keterangan lengkapnya akan disampaikan oleh pihak kepolisian daerah (Polda) Aceh. “Iya memang ada kontak di sana. Nanti kalau untuk jelasnya biar Polda yang mengeluarkan statmennya,” ujar Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar kepada wartawan, Kamis (19/9) malam.

Sementara itu, Direktur Ditreskrimum Polda Aceh, Kombes Pol Agus Sarjito, menyatakan dari kejadian itu, terdapat empat pelaku meninggal dunia. “Empat orang pelaku meninggal dalam kontak tembak. Mereka KKB yang meras dan ngancam pakai senpi panjang,” ungkap Agus.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh informasi lanjut terkait peristiwa kontak senjata antara polisi dan kelompok kriminal di Pidie Jaya ini.(Red)

Banda Aceh - Kaukus Peduli Aceh (KPA) menyayangkan pembahasan persoalan bendera Aceh yang dilakukan oleh ketua Komisi I DPRA, Ketua Banleg DPRA, Ketua Fraksi PA dan sejumlah elit DPRA hanya diikuti oleh pejabat sekelas kepala seksi dan kasubdit, bukan menteri atau dirjen yang memang punya kapasitas dan kewenangan kuat sehingga punya solusi untuk persoalan polemik bendera Aceh.

"Kasihan para elit DPRA yang menggaung-gaungkan memperjuangkan persoalan bendera Aceh jika sampai di kementerian hanya bertemunya dengan pejabat sekelas kasubdit dan Kasi. Seharusnya minimal kan ketemu sekelas, Menteri, Dirjen atau selemah-lemah iman sekelas direktur, sehingga ada solusi kongkret persoalan bendera Aceh, bukan hanya sebatas persoalan arsip surat menyurat," ungkap Koordinator Koalisi Peduli Aceh (KPA) kepada media,  Kamis (19/09/2019).

Menurut Hasbar, secara tidak langsung kapasitas para delegasi DPRA yang hadir terlalu dianggap enteng sehingga cukup disambut dan diikuti oleh pejabat selevel itu.

"Kita khawatir memang tidak ada jadwal pembahasan itu dengan menteri, tapi karena untuk kebutuhan anggaran SPPD dan atau anggaran anggota DPRA di penghujung jabatan saja, makanya asal ketemu saja sudah, terlepas itu hanya sebatas ketemu dengan pejabat yang tidak punya kewenangan kuat untuk mengambil keputusan terkait solusi. Kasihan kan kalau jumpanya cuma dengan eselon III dan IV, dimana Marwah wakil rakyat Aceh jika kesannya disambut sebelah mata demikian, atau memang itu dianggap wajar untuk kapasitas wakil rakyat yang berangkat, ini perlu dipertanyakan," jelasnya.

KPA juga menyebutkan, pernyataan dalam pertemuan itu bisa saja beda, tapi karena yang mengungkapkan ke publik adalah pihak perwakilan DPRA maka yang munculnya versi DPRA.

"Apa rekomendasi dan hasil resmi yang tertulis atau minimal notulensi hasil pertemuan itu kan juga seharusnya ditunjukkan kepada publik, inikan tidak. Sehingga, kita melihat pertemuan itu hanyalah asal ada saja untuk menutupi kesalahan DPRA yang terlalu lama membiarkan Qanun itu begitu saja," imbuhnya.

Menurut KPA, seharusnya DPRA bisa bertemu dan membahas langsung dengan Plt Dirjen OTDA, karena pejabat dengan sekaliber  Dirjen OTDA pada Agustus lalu juga membenarkan adanya surat Kementerian Dalam Negeri melalui keputusan Mendagri nomor 188.34-4791 Tahun 2016 tanggal 12 Mei 2016 telah membatalkan dan mencabut beberapa pasal dalam Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang bendera dan lambang Aceh.

"Seharusnya DPRA lakukan gugatan ke PTUN atau langsung jumpa presiden, minimal Mendagri lah jika tujuannya untuk memperjelas kedudukan Qanun Bendera Aceh. Tapi jika cuma untuk mencari fisik surat, sarannya sech cukup ke bagian umum atau arsip dan sejenisnya. Namun, lagi-lagi semua yang dilakukan DPRA itu tidak membuahkan solusi, sehingga terkesan amhanya sebagai dalih dan sensasi kepada publik," katanya.

KPA berharap anggota DPRA yang baru dilantik ke depan lebih punya Marwah dalam memperjuangkan polemik bendera ini serta harus ada solusi. "Bayangkan saja selama 6(enam) tahun Qanun nomor 3 itu tidak ada titik terangnya. Bahkan hingga habis masa jabatan pihak DPRA yang mendengung-dengungkannya. Sudahlah, kegagalan itu jangan lagi terulangi oleh DPRA yang baru, harus disegerakan solusi bukan sebatas sensasi. Bayangkan, berapa banyak energi dan uang rakyat yang sudah terkuras sementara hasilnya nihil tanpa kejelasan. Rakyat sudah lelah terus dikibuli dan diprovokasi tanpa hasil sama sekali," tegasnya.

Masih menurut KPA, semakin cepat persoalan bendera dan simbol Aceh ini selesai semakin baik bagi rakyat Aceh. "MoU Helsinki dan UUPA itu, tidak hanya persoalan simbol dan bendera, ada persoalan yang juga sangat penting, yakni bicara tentang kesejahteraan rakyat Aceh. Kalau DPRA ke depan masih sibuk dengan membangun opini tanpa solusi tentang bendera, maka rakyat akan jenuh dan muak, lalu rakyat tak lagi peduli dengan persolan UUPA dan MoU Helsinki yang merupakan kesepakatan perdamaian. Dampaknya MoU Helsinki dan UUPA akan jadi lembaran-lembaran kenangan saja, karena pasal-pasal penting lainnya kurang dipedulikan sementara wakil rakyat sibuk memainkan opini bendera saja tanpa ada titik terangnya," pungkasnya.

Banda Aceh- Sejumlah delegasi Jabatan Penerangan dari Malaysia datang ke Aceh dalam rangka studi banding terkait perkembangan Kelompok Informasi Gampong (KIG) di Kota Sabang. Rencananya, studi banding tersebut akan berlangsung selama 2 hari, 19 -20 September 2019.

Kedatangan delegasi Jabatan Penerangan Malaysia itu didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang disambut langsung oleh Kepala Dinas  Komunikasi, Informatika dan Persandian Aceh, Marwan Nusuf.

Marwan mengatakan, terpilihnya kota Sabang sebagai tempat studi banding delegasi Jabatan Penerangan Malaysia ke Indonesia itu telah melalui seleksi ketat dari Kementrian Kominfo Republik Indonesia.

"Selama ini kinerja pemerintah Aceh dan juga Kelompok Informasi Gampong (KIG) telah memberikan  manfaat bagi masyarakat," kata Marwan saat menjamu makan malam delegasi Jabatan Penerangan Malaysia di Restorant Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Rabu (18/9) malam.

Dari 23 kabupaten/kota di Aceh, kata Marwan, Sabang adalah salah satu kota terbaik dalam hal pelaksanaan KIG.

"Kelompok informasi gampong di Sabang sudah cukup aktif, sudah bisa melakukan marketing melalui website yang ada di gampongnya sendiri," Kata Marwan.

Sementara itu,  Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kementrian Kominfo, Selamat Sembirung mengatakan kehadiran delegasi Malaysia itu adalah kegiatan rutin dari Kominfo RI yang dilakukan setiap tahunnya semenjak 1984. Di mana pada masa itu, pemerintah Indonesia membangun kerja sama dengan pemerintah Malaysia di bidang komunikasi.

"Dulu kita lakukan pertukaran ini adalah untuk silaturrahmi atau sambung rasa," ujar dia.

Sembirung mengatakan, Aceh merupakan kali pertama dipilih oleh Kominfo untuk menjadi tempat studi banding KIG bagi delegasi Malaysia. Biasanya, kata dia, kota di pulau Jawa yang kerap dipilih.

"Pengelolaan informasi di Sabang sudah cukup baik, sehingga menggelitik kita ingin tahu," kata Sembirung.

Screenshoot Video 'Pembebasan Kemerdekaan Aceh Darussalam' (Foto: Istimewa)
Banda Aceh - Video berisi maklumat pengusiran warga yang bukan asli Aceh keluar dari Tanah Rencong viral di media sosial. Polisi masih menyelidiki pembuat video tersebut.

Video berdurasi 5 menit itu beredar pada Kamis (19/9/2019) melalui WhatsApp group (WAG) dan media sosial. Dalam video tampak 6 orang berdiri, lima di antaranya menggunakan sebo. Sementara satu orang berdiri dengan wajah terlihat.

Pembicara dalam video mengaku video tersebut direkam pada 18 Muharam. Para pria yang menamakan diri 'Pembebasan Kemerdekaan Aceh Darussalam/Aceh Merdeka (PKAD/AM)' ini membuat video di dalam sebuah ruangan tertutup yang belum diketahui lokasinya.

Isi video intinya meminta warga yang bukan masyarakat Aceh untuk keluar dulu dari Tanah Rencong. Hal ini, katanya, mereka ingin menyelesaikan persoalan Aceh. Dalam video, mereka juga memberi batas waktu untuk keluar dari Aceh maksimal 4 Desember mendatang. Sang pembicara memperbolehkan warga luar Aceh kembali setelah persoalan Aceh selesai.

Jakarta - Senator DPD RI Asal Aceh, H. Fachrul Razi, MIP yang juga terpilih kembali menjadi anggota DPD RI periode 2019-2024 mengatakan bahwa munculnya beberapa nama calon ketua DPD RI dalam beberapa bulan terkahir di media massa penting untuk untuk dikritisi. Dirinya merasa geram dengan narasi yang dibangun terhadap kredibilitas dan eksistensi DPD RI selama ini yang bertolak belakang dengan pernyataan politik yang dimunculkan oleh calon ketua DPD RI.

“Kalau mau maju sebagai calon ketua DPD RI periode 2019-2024 silahkan saja karena semua anggota mempunyai hak politik yang sama untuk mendaftarkan diri sebagai calon ketua DPD RI, namun disayangkan jika masih terdapat calon ketua yang 'menjual es di musim hujan',” kata Fachrul Razi.

Dirinya menjelaskan jika di musim hujan, jualan es tidak laku. Sebaiknya jangan menjual isu DPD lemah di saat rakyat masih memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap lembaga yang berdiri pasca reformasi ini. Dirinya mempersilahkan setiap calon ketua untuk menilai DPD RI secara objektif dan sesuai dengan realitas politik, jangan emosional maupun subjektif.

“Ini kesannya mau maju sebagai ketua DPD RI, kok membuat banyak anggota DPD RI yang terpilih kembali seakan akan tidak bekerja selama lima tahun menjabat dibelakang hari,” tegas Fachrul Razi.

Dirinya membantah jika pernyataan yang muncul di media massa serta media online belakangan ini karena dirasakan bahwa DPD RI masih memiliki kelemahan. “Aneh, jika ada oknum calon ketua yang belum pernah duduk sebagai anggota DPD RI, namun berkomentar berbagai hal negatif tentang DPD RI. Ada yang bilang lemah, tidak punya peran, masih belum maksimal, sehingga menjadi alasan untuk oknum tersebut mencalonkan diri sebagai ketua DPD RI. Ini seperti jualan es di musim hujan, isu itu tidak menarik. Sebaiknya mereka membangun 'Narasi Senator Indonesia Masa Depan', bukan asal ngecap,” tegas Fachrul Razi yang juga pimpinan komite I DPD RI.

Fachrul Razi menasehatkan agar calon ketua menawarkan kapasitas dirinya dan pengalaman dirinya serta strategi yang mau dibangun di DPD RI, bukan dengan mengeluarkan pernyataan kontroversial. “Dari awal saja sudah membuat ramai anggota terpilih lainnya menjadi tidak simpatik. Oleh karena itu kami menunggu strategi baru untuk membangun DPD RI oleh calon ketua DPD RI. Sebuah tawaran yang kongkrit bukan janji-janji politik,” jelas Fachrul Razi.

Fachrul Razi mengatakan bahwa DPD RI periode 2019-2024 terdapat 136 anggota DPD yang mendapat peringkat empat besar di setiap provinsi, hanya 44 orang atau 32,35 persen yang berstatus petahana dan 92 caleg atau 67,65 persen adalah wajah baru. “Silahkan saja maju sebagai calon ketua, tapi hargai juga dong kinerja anggota 2009-2014 dan 2014-2019 yang sudah bekerja maksimal,” tegasnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa DPD RI setiap periode mengalami peningkatan kinerja dan tingginya peminat untuk mencalonkan diri sebagai calon DPD RI. “Mungkin yang ngomong itu ngak sadar, kalau DPD RI selama ini memiliki gaung yang lebih tinggi sehingga menghantarkan dirinya untuk mendaftarkan diri sebagai calon anggota DPD RI hingga saat ini dirinya terpilih. Kalau DPD RI menjadi lembaga yang tidak diperhitungkan, mana mungkin ada yang mau daftar mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI pada pemilu yang lalu,” tutup Fachrul. (FRZ/Red)

,
Banda Aceh - Kepala Staf Kodam Iskandar Muda (Kasdam IM) Brigjend TNI Achmad Daniel Chardin, S.E memimpin upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Komandan Batalyon Infanteri Raider 112/Dharma Jaya dari pejabat lama Mayor Inf Agus Alfauzi S.I.P, kepada pejabat baru Mayor Inf Syarifuddin Liwang S.I.P.

Pelaksanaan upacara sertijab tersebut berlangsung di Lapangan upacara Batalyon Infanteri Raider 112/Dharma Jaya, Japakeh, Mata Ie, Aceh Besar, Rabu (19/9/2019).

Dalam amanat tertulisnya Pangdam IM Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko yang dibacakan Kasdam IM Brigjend TNI Achmad Daniel Chardin, S.E mengatakan, serah terima jabatan di lingkungan TNI AD dan Kodam Iskandar Muda khususnya, merupakan hal penting dalam perkembangan dan dinamika suatu organisasi, dengan tetap berorientasi pada kepentingan pembinaan satuan dan pembinaan personel, guna meningkatkan kualitas kinerja organisasi.

“Serah terima jabatan Danyonif Raider 112/DJ ini, sebagai upaya dalam meningkatkan dan mengoptimalisasikan keberhasilan pencapaian tugas pokok Kodam Iskandar Muda,” kata Kasdam IM.

Dengan dilandasi harapan dan optimisme yang tinggi, Kasdam berharap Danyonif Raider 112/DJ yang baru mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik - baiknya, serta mampu mewujudkan kinerja yang berkualitas demi keberhasilan pelaksanaan tugas pokok Kodam Iskandar Muda, tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Kasdam menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Mayor Inf Agus Alfauzi S.I.P., atas dedikasi dan pengabdiannya selama menjabat sebagai Danyonif Raider 112 / Dharma Jaya.

Selanjutnya, kepada Mayor Inf Syarifuddin Liwang S.I.P, Kasdam mengucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan yang diberikan untuk memimpin menjabat sebagai Danyonif Raider 112 /Dharma Jaya.

Pelaksanaan sertijab Danyonif 112/Dharma Jaya dimeriahkan dengan penampilan demonstrasi dan atraksi diantaranya, Drum Band yang di tampilkan oleh murid TK Kartika XV Yonif 112, Bela Diri Militer, Doble Stik serta tembak Mortir yang dilakukan oleh ratusan prajurit Yonif Raider 112 / Dharma Jaya.

Selain memimpin upacara serah terima jabatan, Kasdam IM juga meresmikan Monumen Patriot 112 dan Tugu Tiang Bendera di gunung Beruang Yonif Raider 112/DJ sebagai sejarah dan tradisi satuan Yonif Raider 112/Dharma Jaya.

Kegiatan upacara sertijab Danyonif 112/DJ turut dihadiri, Irdam IM, Kapoksahli, Danrindam IM, para Pa Ahli, Asisten Kasdam IM, Kabalakdam, para Dansat jajaran Kodam IM, Bupati Aceh Besar, Kapolres Aceh Besar, Wakil Ketua dan pengurus Persit KCK PD Iskandar Muda serta para tamu undangan yang hadir. ( Laung)

Lhoksukon - Nelayan bernama Irwan, 30 tahun, warga desa Ulee Rubek Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Rabu (18/9/2019) pukul 16.00 WIB menemukan sesosok mayat mengapung di laut saat sedang mencari ikan.

Mayat pria tersebut diketahui bernama Asnawi, warga Meunasah Geudong Kecamatan Baktiya, Aceh Utara yang hilang diseret arus saat menjaring ikan di kuala Jambo Aye, Kecamatan Seunuddon. Selasa (17/9/2019).

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kapolsek Seunuddon Iptu M Jamil mengatakan, jasad korban dievakuasi pihak Basarnas sesaat setelah menerima laporan temuan mayat tersebut.

“Jenazah korban dievakuasi dilaut berjarak setengah mil dari bibir pantai, tiba di darat jenazah langsung dibawa ke ambulan untuk dipulangkan kerumah duka.” ujar Iptu M Jamil.(Trb)

ACEH UTARA -  Bank Indonesia Vc Lhokseumawe menghempaskan Kramkrum VC Lapang 3-1 di laga hari ke-4 babak delapan besar Open Turnamen VolleyBall Muspika Nisam Cup Tahun 2019, Rabu (18/09/2019), di Lapangan JVC Blang Dalam Baroh Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

Amatan StatusAceh, pertandingan tersebut turut disaksikan oleh Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Aceh Utara Mawardi, didampingi Camat Nisam Ibnu Khattab, Camat Dewantara Fadly dan Camat Banda Baro Nawafil Mahyudha.

Kram Krum yang menurunkan sejumlah pemain masa depan hasil jebolan akademi mereka, sulit mengimbangi permainan dari pemain berpengalaman seperti Jefri, Saddam, Sada dan tosser Surya Dharma yang memperkuat Bank Indonesia Lhokseumawe.

Set pertama pemain Bank Indonesia langsung memimpin perolehan angka dengan selisih jarak yang jauh, lewat hentakan smeshan keras Sada dan Jufri, membuat anak Kramkrum begitu sulit mengembangkan permainan, perolehan angka untuk Bank Indonesia di set ini 25-12.

Set Kedua para pemain Bank Indonesia sedikit menurunkan tensi permainan, dan kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Mocin, Cekgu dan Boyli dari Kramkrum. Sempat terjadi kejar mengejar perolehan angka, namun akhirnya Kram Krum menutup set ini dengan kemenangan dengan angka 25-23.
Set ketiga dan keempat dikuasai oleh Bank Indonesia, dimana set ketiga mereka mengungguli Kram Krum 25-17 dan set keempat 25-23.

Dengan kemenangan ini Bank Indonesia Lhokseumawe dipastikan lolos ke semifinal, mendampingi dua tim yang telah duluan lolos, yaitu Meucat VC Nisam dan Halilintar VC Nisam Antara. Sedangkan satu tiket tersisa babak semifinal, akan di perebutkan oleh Raja VC Sp.3 Kuta Makmur dengan Trisakti VC Blang Mangat Kota Lhokseumawe.

Ketua Panitia Efrizal melalui Humas Publikasi dan Dokumentasi Tajuddin mengingatkan kepada para pecinta olahraga bola voli untuk hadir dan menonton pertandingan tunda ini.

“Pertandingan tunda antara Raja VC dengan Trisakti VC pasti cukup menarik, mereka sudah berjumpa kemaren dan sama kuat, untuk kali ini tidak istilah tunda, salah satu dari mereka harus dipastikan siapa pemenangnya, karena sesuai jadwal yang sudah kita susun, bahwa partai semifinal akan kita pertandingkan hari mulai Jum’at” kata Taju.

Petandingan besok, Kamis (19/09/2019)
Pertandingan Raja VC Sp.3 Kuta Makmur versus Trisakti Blang Mangat Kota Lhokseumawe adalah partai tunda, dimana mereka berbagi angka sama, pada pertandingan hari selasa (17/09/2019). Dan bias dipastikan pertandingan ulang ini akan menyajikan permainan yang seru, sengit dan menegangkan.

Raja VC diperkuat oleh pemain semisal, Yoyo, Udin Robot, Sulu, Majid, Panyang, Tosser berpengalaman Faizil Play dan Libero handal Doyok. Di kubu Trisakti mereka juga menurunkan skuat yang tidak kalah mentereng, Dekpan, Abon, Rama, Wanda, Bugek, tosser muda Bongkeng dan libero tangguh Hendra. (*)

Banda Aceh - Seluruh fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) menyetujui dan menetapkan Rancangan Qanun Aceh tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Perubahan (APBA P) tahun 2019. Karena itu, Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, berharap dengan kesepakatan APBA P tahun 2019 tersebut dapat membawa peningkatan dan perubahan yang berarti kepada kesejahteraan rakyat Aceh.

"Kami menyampaikan rasa terima kasih kami kepada seluruh anggota DPRA yang telah bersinergi menyelesaikan pembahasan rancangan Qanun Aceh tentang anggaran  pendapatan dan belanja Aceh perubahan (APBA P) tahun 2019," kata Taqwallah pada rapat paripurna dengan agenda pandangan akhir fraksi-fraksi tentang APBA Perubahan 2019 di ruang rapat paripurna DPRA, Banda Aceh, Rabu, 18/9.

Ia mengatakan, untuk mewujudkan hal tersebut maka setiap program, kegiatan, dan anggaran yang dituangkan dalam dokumen  APBA P tahun 2019 harus dilaksanakan sesuai dengan perundang-undangan sehingga tidak menimbulkan masalah yang berimbas pada pelanggaran hukum pasca pelaksana.

Dalam APBA perubahan 2019 ini, belanja Aceh meningkat sebesar Rp 223 miliar lebih. Sebelumnya jumlah APBA murni Rp 17,104 triliun. Kini naik menjadi Rp 17,327 triliun. Dapat dirincikan sesuai data yang telah ditetapkan dewan, APBA Perubahan 2019 sebesar Rp 17,327 triliun tersebut berupa pendapatan Aceh Rp 15,692 triliun, dan belanja Aceh Rp 17,327 triliun. Artinya terdapat surplus atau defisit sebesar Rp 1,635 triliun.

Kemudian, terdapat pembiayaan Aceh yang terdiri dari penerimaan mencapai Rp 2,954 triliun, pengeluaran Rp 72 miliar. Setelah dikurangi maka muncul  pembiayaan netto Rp 2,882 triliun.

Kemudian, ada anggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun berkenan sebesar Rp 1,247 triliun. Setelah pembiayaan netto Rp 2,882 triliun, dikurangi dengan anggaran SiLPA Rp 1,247 triliun, maka menghasilkan angka Rp 1,635 triliun. Sehingga, defisit APBA Perubahan 2019 tersebut tertutupi.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda mengatakan, ketujuh fraksi di DPRA sudah menyetujui dengan APBA P tahun 2019 tersebut, karena itu adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Aceh saat ini, sehingga harus diputuskan bersama sama.

"Semoga dengan perubahan ini dapat mempercepat upaya pembangunan Aceh saat ini, Karena Aceh sangat tinggal," kata Sulaiman.

Banda Aceh – Dinas Sosial Provinsi Aceh menggandeng Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabiltas Sensorik Netra (RSPDSN) atau Balai Tan Miyat yang beralamat di Bekasi untuk melatih dan membina 25 disabilitas netra Aceh agar dapat mandiri.

Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri melalui Kepala Bidang Rehabiltasi Sosial Dinas Sosial Aceh Isnandar mengatakan, pelatihan dan pembakalan tersebut telah berlangsung selama sepuluh hari hingga Rabu (18/9/2019) tadi pagi para disabilitas netra yang berasal dari 7 kabupaten/kota di Aceh yaitu, Banda Aceh, Aceh Besar, Singkil, Aceh Selatan, Nagan Raya, Abdya, dan Bireuen tersebut diberikan alat bantu usaha agar mereka mandiri.

Penyerahan alat bantu tersebut diserahkan dari Balai RSPDSN kepada Dinas Sosial Aceh, kemudian dari Dinas Sosial Aceh menyerahkan kepada Persatuan Penyandang Disabilitas Indonsia (PPDI) Aceh untuk dibagikan kepada para peserta pelatihan.

“Tadi sudah diserahkan secara sibolis oleh Kepala Dinas Sosial Aceh  Bapak Alhudri kepada Ketua PPDI Bapak Hamdanil, kemudian dialah yang akan mendistribusikan ke para penyandang disabiltas netara,” kata  Isnandar.

Isnandar menuturkan, kegiatan pelatihan tersebut merupakan kegiatan pelakanaan penjangkauan bagi disabilitas sensorik netra untuk tahun 2019. Kegiatan ini diadakan selama 10 hari, dimana mereka diberikan keterampilan berupa pijat (massage) denga harapan mereka nantinya mempunyai keterampilan supaya mandiri.

“Tidak hanya keterapilan mereka juga diajarkan cara bersikap, bagaimana mereka melayani tamu dan sebagainya, ini dilakukan pelatihan ini selam 10 hari, bekerjasama dengan Balai RSPDSN,” katanya.

Dari balai tersebut pihaknya meminta instruktur untuk melatih para peserta disabilitas netra, sehingga nanti mereka mempunyai keterampilan, kemudian disamping mereka melatih keterampilan, balai tersebut juga memberikan bantuan berupa alat bantu bagi disabiltas, dalam hal ini karena yang dibantu adalah disabilitas netra dan sesuai dengan permintaan mereka adalah HP Android.

Namun HP Android ini adalah HP Android khusus yang ada aplikasi bisa berbicara sehingga kendatipun mereka adalah disabilitas netra namun mereka bisa menggunakan HP tersebut.

“Kenapa HP tersebut? karena HP tersebut ada aplikasi go massage sekarang dengan adanya teknologi misalnya ada yang pesan jasa mereka untuk jasa pijat mereka bisa menggunakan HP tersebut di samping nanti ada alat-alat bantu lainnya untuk mendukung keterampilan mereka dan mereka telah dilatih selam 10 hari,” ujar Isnandar. Turut hadir pada penyerahan bantuan tersebut Drs. Dida Rosida mewakili Kepala Balai RSPDSN. []

Banda Aceh – Dinas Sosial Provinsi Aceh melakukan pengukuran kursi roda celebral palsy untuk 100 orang penerima manfaat yang berasal dari 15 kabupaten/kota di Aceh, Rabu (18/9/2019) di halaman belakang Dinas Sosial Aceh. Pengukuran kursi roda untuk penderita celebral palsy tersebut bekerjasama dengan Yayasan Kasih Tuna Daksa Jakarta.

Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM kepada wartawan mengatakan, pengkuran hingga penyerahan kursi roda celebral palsy tersebut merupakan bantuan Pemerintah Aceh yang bersumber dalam APBA Dinas Sosial Aceh Tahun Anggaran 2019.

Adapun jumlah bantuan yang diberikan sangat tergantung dari jumlah nama yang diusulkan dari tiap-tiap kebupaten/kota melalui tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK), dan kemampuan anggaran yang yang dimiliki Dinas Sosial Aceh.

“Kegiatan seperti ini rutin kita lakukan untuk memperhatikan adik-adik kita yang menderita celebral palsy, ini sudah menjadi tanggungjawab kita sebagai pemerintah, dan kita sudah melaporkan ini ke Bapak Plt Gubernur Aceh,” kata Alhudri.

Alhudri menuturkan, kursi roda celebral palsy ini memiliki kekhususan dan berbeda dari kursi roda biasa, kursi roda celebral palsy dirancang untuk anak berkebutuhan khusus. Kursi roda ini khusus untuk membantu perkembangan anak-anak celebral palsy yang dilengkapi dengan safety belt, pegangan dan sandaran kepala, pegangan bahu, tangan, dan kaki.

Namun, untuk proses pembuatan akan memakan waktu lebih kurang 1,5 bulan, karena tiapanak- anak memiliki ukuran berbeda-beda.

“Kursi spesialis untuk adik-adik kita ini didatangkan dari Jakarta, kursi roda ini khusus untuk meraka yang mengalami gangguan pertumbuhan. Mudah-mudahan adik-adik kita ini diberikan kesembuhan oleh Alllah,” kata harap Alhudri.

Menurut Alhudri, masih banyak masyarakat yang belum tahu dengan kursi roda celebral palsy, hal ini berbeda dengan kaki dan tangan palsu  yang memang sudah banyak masyarakat tahu sehingga banyak masyarakat yang seharusnya mendapat bantuan ini menjadi tidak dapat karena disebabkan ketidak tahuan akan kursi roda khusus tersebut,  hal ini dapat juga dapat disebabkan karena informasinya belum merata di setiap kabupaten/kota di Aceh.

“Karena itu saya mohon kepada rekan-rekan wartawan mungkin ada masayarakat yang belum sampai informasinya tentang kursi roda ini tolong bantu diisampaikan kepada saudara-saudara kita, siapa tahu memang meraka layak menerima dan selama ini luput dari pemandangan kami karena meraka tidak tahu” kata Alhudri.

Pengukuran ini akan berlangsung selama dua hari yakni Selasa 18 s/d Rabu 19 September 2019 dengan jumlah penerima 100 orang dari 15 kabupaten/kota di Aceh. Adapun kabupaten/kota tersebut adalah, Banda Aceh 11 orang, Aceh Besar 7 orang, Aceh Tamiang 15 orang, Aceh Timur 4, Nagan Raya 10 orang, Aceh Selatan 5 orang, Pidie 8 orang, Pidie Jaya 9 orang, Bireun 1 orang, Aceh Utara 9 orang, Lhokseumawe 1 orang, Aceh Barat 9 orang, Subulussalam 1 orang, Bener Meriah 2 orang, dan Aceh Tengah 9 orang.

Bupati Yahukimo Abock Busup. Foto: ANTARA News Papua/Alfian Rumagit
Jakarta - Sebanyak 600 dari 1.950 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo yang berkuliah di berbagai kota studi di nusantara telah kembali ke Papua. Bupati Yahukimo Abock Busup menyebut kepulangan mereka menyusul aksi rasisme.

"Sebanyak 1.950 mahasiswa, yang ada di sini sudah pulang itu 600 orang, lalu 120 mahasiswa lainnya ada di ibu kota (Jakarta,red)," katanya di Kota Jayapura, Papua, Selasa (17/9).

Berdasarkan keterangan dari sejumlah mahasiswa yang ditemuinya, Abock mengungkapkan mereka mengaku diintimidasi, sehingga enggan kembali ke tempat studinya untuk melanjutkan kuliah.

"Jadi, saya tanya mereka (mahasiswa,red) mengapa kalian tidak mau bertemu dengan gubernur saat di Jawa Timur. Mereka sampaikan bahwa masih mendapat tekanan (rasisme,red), sehingga mereka pulang," katanya.

Abock juga mengungkapkan bahwa sesama para mahasiswa yang kembali ke Papua itu akan menggelar pertemuan untuk menyamakan persepsi bagaiman selanjutnya kedepan.

"Mereka mengaku mau bertemu dulu dengan sesama koordinator tiap kabupaten, mereka mau rapat lalu akan bertemu dengan Gubernur Lukas Enembe dan menyampaikan juga alasannya mengapa tidak bertemu waktu di Jawa Timur," katanya.

Mengenai unjuk rasa damai pada Senin (16/9) siang dari ribuan warga di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Abock menjelaskan bahwa aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas tolak rasisme.

"Jadi, saya dapat foto yang dikirim kepada saya soal demo damai dan saya sudah sampaikan ke mereka bahwa setelah itu bubar. Saya juga sudah berkomunikasi dengan kapolres bahwa demo itu damai," katanya.

Abock mengatakan seharusnya demo tersebut sudah tidak perlu lagi dilaksanakan karena yang perlu dilakukan adalah bagaimana mengambil langkah dan tindakan menyelesaikan persoalan yang mengemuka.

"Inikan mereka demo karena mendapat informosi dari Jayapura bahwa akan menggelar demo serentak, sehingga mereka lakukan aksi di Yahukimo. Kira-kira 1.000-an orang yang berdemo, semua toko dan aktivitas memang sempat terhenti, tapi situasi aman," katanya. | jpnn

Pemindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur memberikan kesempatan bagi swasta untuk mengelola aset negara. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Pemindahan Ibu Kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur memberikan kesempatan bagi swasta untuk mengelola aset negara. Pasalnya aset milik negara yang berada di Jakarta dengan potensi lebih dari Rp 1.100 triliun nanti bakal ditawarkan ke swasta untuk dikelola paling cepat pada 2020 mendatang.

"Potensinya menurut perhitungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat ini setelah evaluasi aset, potensi aset milik negara di Jakarta di atas Rp1.100 triliun. Dan dikaitkan dengan pembangunan ibu kota baru, ada sekitar separuhnya yang nantinya bisa dikerjasamakan dengan swasta," ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Sambung dia menambahkan, skema kerja sama tersebut salah satunya berbentuk Build Operate Transfer (BOT). BOT merupakan bentuk pendanaan proyek yang memungkinkan swasta terlibat dari pembiayaan, merancang dan membangun.

"Kita menggunakan Peraturan Pemerintah (PP) mengenai pengelolaan barang milik negara yang paling mungkin menarik bagi swasta ada dua. Ada yang build operate transfer atau bangun guna serah maupun yang bersifat kerjasama pemanfaatan dengan suatu durasi waktu 30 tahun kira-kira," jelasnya .

Meski begitu Kepala Bappenas menekankan, ada beberapa aset negara yang secara kepemilikan tidak bisa diserahkan kepada swasta. Seperti sekolah dan rumah sakit, yang merupakan fasilitas publik. Diproyeksikan, swasta baru bisa melakukan penawaran untuk pengelolaan kepemilikan aset negara yang berada di Jakarta mulai 2020, pasca masterplan pembentukan ibu kota baru rampung.

"Paling cepat tahun depan. Karena kita harus siapkan dulu master plan dari ibu kota baru ini. Masterplan bisa selesai seluruhnya segera di tahun ini," tandasnya. | Sindonews

Kabut asap di Aceh (Foto: Datuk Haris Molana/detikcom)
Lhokseumawe - Kabut asap muncul di Aceh. BMKG pun mengimbau warga menggunakan masker saat berada di luar ruangan.

Kabut asap ini muncul di sejumlah wilayah seperti Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara dan Lhokseumawe pada Rabu (18/9/2019). Kabut asap disebut membuat kualitas udara menurun.

"Dengan kualitas udara menurun, kita imbau agar masyarakat memakai masker saat berada di luar ruangan. Termasuk banyak mengonsumsi air agar menjaga kesehatan," kata Prakirawan BMKG stasiun Malikussaleh, Aceh Utara, Febryanto Simanjuntak.

Dia mengatakan saat ini kabut asap juga menyelimuti kawasan Bandara Malikussaleh. Namun, dia tak menjelaskan detail dari mana kabut asap ini berasal.

"Jarak pandang secara horizontal di kawasan Bandara Malikussaleh, Aceh Utara sekitar 1,5 KM sejak pukul 10.00 WIB tadi," ujarnya.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) memang sedang terjadi di Pulau Sumatera seperti di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Berdasarkan data dari BNPB, Rabu (18/9) pukul 09.00 WIB, kualitas udara berbahaya itu berada terjadi di Riau.

Ada 388 titik api di di Riau. Selain itu, karhutla juga membuat kualitas di Jambi dan Sumatera Selatan tidak sehat. | Detik.com

Banda Aceh – Seorang bocah perempuan tanpa identitas ditemukan terlantar di bawah Jembatan Lamnyong, Banda Aceh pada Selasa 16 September 2019 kemarin. Bocah tersebut ditemukan Khalidun Syah (53 tahun) warga Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar yang kemudian membawa dan menyerahkan anak tersebut ke Dinas Sosial Aceh Rabu (17/9/2019) sekira pukul 10.00 WIB.

Dinas Sosial Aceh saat ini sedang melacak identitas keluarga bocah tersebut berada.

Staf di Seksi Rehabilitasi Anak dan Lansia Dinas Sosial Aceh, Muhammad Nasir, mengatakan, bocah berbaju merah muda tersebut mengaku bernama Fitri, diperkirakan berusia sekitar tujuh tahun, dia mengaku selama ini tinggal di bawah jembatan Lamnyong hingga kemudian dibawa oleh Khalidun Syah ke Dinas Sosial Aceh.

“Hingga saat ini kita belum tahu siapa orang tua dari bocah ini, bersamanya hanya ada sebuah dus yang berisi penuh baju, buku dan sandal. Diduga itu adalah baju si bocah seperti yang diakuinya kepada kami,” kata Muhammad Nasir.

Nasir menambahkan, diantara baju yang didapatkan dalam dus tersebut, terdapat selembar pakaian bertuliskan PAUD Aslami Jurong Puejera, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

“Dari pengakuan si anak baju itu miliknya, ini sedang kami lacak ke sana,” kata Nasir.

Untuk sementara, kata Nasir anak tersebut akan dititipkan di UPTD Rumoh Seujahtra Aneuk Nanggroe (RSAN) panti milik Dinas Sosial Aceh yang menangani tentang anak-anak terlantar.

“Kami menghimbau siapa saja yang mengenal anak ini mohon disampaikan kepada keluarganya, atau boleh menghubungi kami ke nomor telpon  saya 085260138528,” harapnya. []

BANDA ACEH - Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Dyah Erti Idawati, mengajak masyarakat Aceh memerangi stunting untuk menghasilkan generasi unggul sebagai penerus bangsa di masa yang akan datang. Hal itu ia katakan saat memberikan materi tentang penanganan dan pencegahan stunting kepada peserta pelatihan peningkatan kapasitas kader masyarakat, di hotel Permata Hati, Banda Aceh, Selasa, 17/9.

Ia mengatakan, secara garis besar stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang menyebabkan tumbuh kembang anak menjadi tidak baik dan sempurna. Seperti tubuh anak menjadi lebih pendek dan berat badan pun kurang (kurus). Namun bukan hanya itu, kata Dyah, stunting juga mengakibatkan keterlambatan perkembangan otak anak, sehingga hal itu berdampak pada terhambatnya tingkat kecerdasan anak.

"Waspada, dimana kita khawatirkan adalah otaknya tidak berkembang, selain otak stunting juga menggangu pertumbuhan dan perkembangan fisik. Kalau generasi sekarang stunting gimana mau memimpin bangsa, padahal pak Nova mau anak-anak kita tumbuh menjadi generasi hebat untuk Aceh hebat," kata Dyah.

Oleh sebab itu, Dyah menginginkan agar para ibu di seluruh Aceh untuk bisa mencukupi asupan gizi anak yang dimulai dari dalam kandungan hingga bayi berusia 2 tahun, karena 70 persen perkembangan otak anak dimulai pada usia tersebut, dan akan terus berkembang ke 90 persen pada usia 5 tahun.

Ia menambahkan, bahwa penanganan pencegahan stunting harus dimulai dari tingkat gampong melalui Posyandu yang ada disetiap desa. “Kalau bukan dari gampong yang menangani ini maka tidak akan terselesaikan masalah stunting ini, kecuali panyakit yang membutuhkan penanganan medis profesional seperti bocor jantung, itu bisa di rujuk ke Provinsi," katanya.

Selain itu, Dyah juga mengatakan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan melalui pemerintah Aceh sedang menggalakkan program isi piringku. Dalam program tersebut menjelaskan keragaman makanan dalam satu piring, mencakup protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral seimbang sehingga mencukupi gizi tiap harinya.

Namun demikian, Dyah mengatakan pentingnya keberagaman tersebut karena tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuh dan juga banyaknya asupan lauk makanan pun bergantung pada usia, karena tingkat kebutuhan gizi setiap usianya berbeda.

 “Makan bukan hanya sekedar kenyang namun juga harus memenuhi nutrisi tubuh. Yang paling terpenting adalah protein dan itu harus diasup dari hamil, karena itu merupakan nutrisi yang paling dibutuhkan oleh otak si jabang bayi,” kata Dyah. 

Selanjutnya, Dyah memperkenalkan para peserta tentang tata cara mencuci tangan dengan baik untuk mencegah anak dan ibu terkontaminasi bakteri yang masuk melalui tangan. Maka dari itu, kata Dyah,  mencuci tangan dengan baik dan bersih juga merupakan cara ampuh untuk mencegah stunting. Selain mencuci tangan, olahraga rutin serta lingkungan hidup yang rapi, teratur, bersih, serta sanitasi  yang baik juga turut andil membantu pencegahan stunting.

Banda Aceh – Dinas Sosial Provinsi Aceh menyerahkan bantuan material rehab rumah dan alat bantu berupa kursi roda kepada lansia terlantar di Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Selasa (17/9/2019).

Lansia tersebut diketahui bernama Usman Idris berusia 97 tahun. Dia dikabarkan hidup terlantar seorang diri dengan kondisi rumah dan kesehatan yang sangat memprihatinkan.

Mendengar kabar tersebut Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Aceh Isnandar memerintahkan tim Rehabilitasi Sosial dan Pendamping Sosial lanjut Lansia untuk melakukan penjangkauan dan asesment lebih lanjut.

Saat ditemui di kediamannya, Usman Idris didapati sedang terbaring tidak berdaya di dalam gubuk berukuran 2 x 2,5 meter dengan kondisi atap dan dinding gubuk yang sudah lapuk dan tidak layak ditempati. Diketahui Usman masih memiliki anak yang sudah memiliki rumah sendiri, namun dirinya memilih tinggal di gubuk reot tersebut seorang diri.

Saat ditanyai kenapa Usman lebih memilih tinggal di gubuk tersebut ketimbang tinggal di rumah anaknya, usman menjawab bahwa dirinya tidak mau merepotkan anak dan menantunya.

Usman Idris telah lama menduda setelah ditinggal wafat isterinya sejak 7 tahun lalu. Dirinya memiliki dua orang anak , satu perempuan dan satu laki –laki. Anak pertama perempuan sudah meninggal dunia, sementara yang laki masih hidup dan tinggal berdekatan dengan gubuk Usman Idris.

“Dari hasil asesment yang kita dapatkan, maka atas persetujuan kepala Dinas Sosial Aceh Bapak Alhudri, Dinas Sosial Aceh memberikan bantuan berupa material untuk rehab rumah dan alat bantu berupa kursi roda,” kata Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lansia, Rita Mayasari—salah satu kepala seksi di Bidang Rehabilitasi Sosial yang dipimpin oleh Isnandar.

Menurut Rita, selain rehab rumah dan memberikan alat bantu kursi roda, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas Jeulingke untuk melakukan cek kesehatan secara berkala kepada Usman Idris. Sebab, selain faktor usia yang membuat Usman Idris tidak berdaya, beberapa jarinya juga tidak bisa digerakkan dengan baik, maka perlu adanya fisioterapi untuk menyembuhkan lumpuh yang diderita Usman idris.

“Pemberian bantuan tadi kita berikan langsung kepada Nurfaridah ( 40 tahun)  menantu Kakek Usman Idris  dan turut disaksikan oleh perangkat Gampong Alue Naga, dan Puskesmas Jeulingke,” pungkas Rita.[]

Banda Aceh – Dinas Sosial Provinsi Aceh menyelurkan bantuan berupa 19 becak VIAR untuk 13 gampong dan 6 organisasi sosial (orsos). Bantuan yang bersumber dari aspirasi Wakil Ketua II DPRA Irwan Djohan tersebut diserahterimakan di halaman gudang Dinas Sosial Aceh di Gampong Labuy, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (17/9/2019.

Hadir dalam penyerahan tersebut Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan Sosial (PMKS) Nila Fajria mewakili Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri, Irwan Djohan, unsur dari Dinas Sosial Kota Banda Aceh, serta para penerima manfaat yang terdiri dari perangkat desa dan organisasi sosial (Orsos) masyarakat.

Irwan Djohan pada kesempatan itu mengungkapkan, sebagai anggota DPRA ia memiliki tanggungjawab moral untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan, oleh sebab itu saat dirinya melakukan reses dimana masyarakat menyampakaikan aspirasi kepada dirinya, atau ia mengamati langsung kegiatan masyarakat baik di gampong-gampong atau di organisasi sosial kemasyarakatan, Irwan menemukan ada kebutuhan masayarakat terhadap kendaraan operasional yang bersifat sebaguna.

Dia mencontohkan seperti kebutuhan kendaraan pada kegiatan kebersihan di gampong, kegiatan sosial kemasyarakatan, ataupun untuk kegiatan oraganisasi sosial.

“Maka atas dasar itu saya mencoba mengalokasikan anggaran pada APBA 2019 bekerjasama dengan Dinas Sosial Aceh, dan alhamdulillah pada saat ini sudah dapat diterima oleh masayarakat,” katanya.

Irwan menjelaskan, bantuan berupa becak serbaguna tersebut bukanlah bantuan pribadi darinya, melainkan uang rakyat yang berasal dari pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah untuk kemudian oleh pemerintah menyalurkan kembali kepada rakyat, apakah itu dalam bentuk sarana infrastruktur, pendidikan, termasuk sarana sosial, dan sarana operasional baik itu untuk pemerintahan maupun organisasi masyarakat.

“Dan alhamadulillah pada sore hari ini ada 19 unit bantuan pemerintah melalui Dinas Sosial Aceh yang dapat bapak/ibu terima,” katanya.

Namun Irwan berharap, kendaraan operasional bantuan Dinas Sosial Aceh tersebut harus dijaga, dirawat, dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat di gampong maupun, untuk kepentingan organisasi, dan yayasan yang nanatinya juga akan berguna bagi masyarakat luas.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Nila Fajri mengingatkan kepada penerima manfaat yang sudah menandatangani surat pernyataan agar tidak menyalahgunakan bantuan pemerintah tersebut.

Nila menekankan bantuan Pemerintah Aceh melalui aspirasi Irwan Djohan tersebut tidak untuk disalahgunakan atau bahkan diperjualbelikan.

 “Kami berharap masing-masing penerima bertanggungjawab atas penggunaan barang tersebut dan dimanfaatkan semakasimal mungkin dan tidak untuk dijual. Kami Dinas Sosial Aceh juga mengucapkan terimlasih kepada Pak Irwan Johan yang sudah mengalokasikan anggaran pada Dinas Sosial Aceh,” pungkasnya.

Penerima bantuan, Akhyar dari Yayasan Pintu Hijrah mengaku sangat bersyukur atas bantuan Dinas Sosial Aceh tersebut, ia bertekad akan mempergunakan becak tersebut sesuai dengan peruntukan.

“Syukur Alhamduulillah dengan adanya bantuan dar ini kami sangat bertermikasih dan akan kita pergunakan sebaik mungkin,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kasi Kesejahteraab Gampong Pineung, Marzuki mengatakan, degan adanya bantuan becak tersebut akan mereka pergunakan untuk mengangkut sampah di Gampong Pineung terutama sampah dari lorong-lorong yang tidak dapat dimasuki mobil.

“Bantuan Dinsos Aceh dari aspirasi Pak Irwan Djohan ini sangat berguna untuk gampong kami,” ujarnya.

Adapun gampong dan Orsos penerima bantuan becak tersebut adalah, Gampong Neusu Aceh, Gampong Peuniti, Gampong Pante Riek, Gampong Punge Jurong, Gampong Lampaseh Aceh, Gampong Merduati, Gampong Lamteumen Timur, Gampoh Ceurih, Gampong Jeulingke, Gampong Lamdom, Gampong Punge Blangcut, Gampong Pineung, Yayasan Media Kasih, PKBM Ruman Aceh, Pembinaan Anak Cacat Aceh, Yayasan Sirah, Yayasan Hakka Aceh, dan Yayasan Nurun Nabi. Adapun satu gampong penerima lainnya masih dalam koreksi pihak dinas sosial Aceh.[]

Banda Aceh - Wakil Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Aceh, Dyah Erti Idawati, menyambut baik rencana sejumlah pengusaha dari Malaysia yang ingin mengembangkan bisnis dan budidaya tiram masyarakat di Aceh.

"Sangat senang dari pihak Malaysia berkeinginan membantu untuk mendongkrak ekonomi masyarakat," ujar Dyah Erti saat menerima audiensi para pengusaha dari Malaysia di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Selasa (17/9).

Dyah mengatakan, selama ini ia juga kerap mengunjungi sejumlah petani tiram. Menurutnya, petani tiram juga harus menjadi komponen masyarakat yang berkecukupan dan sejahtera.

"Saya sebagai Wakil Ketua PKK juga terus membina petani tiram agar bisa mendapatkan income yang membaik," kata Dyah. Selain memperoleh income yang baik, menurut dia, para petani tiram juga harus dibina terkait manajeman keuangan agar penghasilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan keluarga.

Menurut istri Plt Gubernur Aceh itu, dalam hal pemasaran, Aceh selama ini masih terkendala dalam mengeskpor produksi dan komoditas barangnya ke luar negeri. Di mana komoditas dari Aceh harus diekspor terlebih dahulu melalui pelabuhan di Provinsi Sumatera Utara.

Sementara itu, Ceo Kholysa Group Berhard Malaysia, Zaifudin Ramli mengatakan pihaknya siap mengembangkan potensi tiram sebagai sumber peningkatan ekonomi baru bagi masyarakat Aceh.

Pihaknya, kata Zaifudin, akan membangun ekosistem budidaya tiram yang baik bagi para petani tiram di sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Mulai dari produksi, marketing, sampai dengan pendistribusiannya ke luar negeri.

"Barang petani tersebut bisa kita impor ke Malaysia, untuk memenuhi kebutuhan di sana," ujar Zaifudin. Apa yang mereka lakukan, kata Zaifudin, adalah untuk memperbaiki ekosistem bisnis UMKM di Aceh, khususnya bagi petani tiram.

Zaifudin mengatakan, tiram memiliki nilai jual tinggi di Malaysia. Oleh sebab itu, pihaknya berkeinginan membeli tiram Aceh serta memberdayakan petaninya. Dengan demikian, kata dia, diharapkan ekonomi petani tiram di Aceh dapat meningkat.

Turut hadir pula dalam pertemuan itu sejumlah kepala perusahaan asal Malaysia lainnya. Di antaranya Zin Ali dari Venture Builder dan Mohd Halim Ibrahim dari Ibraz Group.

Banda Aceh - Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyampaikan Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh Perubahan (RAPBA-P) Tahun Anggaran 2019, dalam rapat paripurna dewan, di gedung DPR Aceh, Selasa 17/09.

Penyampaian Rancangan APBA-P Tahun Anggaran 2019, kata Nova, merupakan tindak lanjut dari KUA-PPAS yang telah disepakati bersama dengan pihak dewan di DPR Aceh. Ia berterimakasih pada komisi dan Banggar dewan yang telah menyelesaikan pembahasan KUA-PPAS dan mengadakan pertemuan rapat konsultasi dengan SKPA terkait sehingga telah dilakukan penyesuaian kembali terhadap program dan kegiatan dari KUA-PPAS yang telah diajukan sebelumnya oleh Tim Anggaran Pemerintah Aceh.

"Kami yakin dengan penyesuaian tersebut, RAPBA-P Tahun Anggaran 2019 telah lebih aspiratif dan rasional, sehingga tuntutan kebutuhan pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dapat kita wujudkan," kata Nova Iriansyah.

Plt Gubernur mengatakan, proses penyiapan dan penyusunan dokumen RAPBA-P tahun Anggaran 2019 telah dilakukan sesuai dengan mekanisme ketentuan perundang-undangan yang ada. Di samping itu penyusunan anggaran juga telah diupayakan untuk dapat mengakomodir prinsip-prinsip dari Rencana Kerja Pemerintah Aceh Tahun Anggaran 2019.

Sesuai dengan kebijakan umum Perubahan APBA Tahun Anggaran 2019, kata Nova, perubahan kebijakan belanja Aceh diarahkan pada program dan kegiatan yang sesuai dengan delapan prioritas pembangunan Aceh yang telah diselaraskan dengan 15 program unggulan Gubernur sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Aceh Tahun 2019.

Adapun delapan Prioritas rencana Kerja Pemerintah Aceh antara lain adalah penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, peningkatan aksesibilitas dan kualitas kesehatan, pengurangan kesenjangan antar wilayah melalui pengembangan kawasan strategis dan penguatan konektivitas serta peningkatan ketahanan pangan dan energi.

Selanjutnya prioritas Rencana Kerja Pemerintah Aceh adalah pnguatan dinul Islam dan peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan investasi dan nilai tambah hasil pertanian, industri kreatif, dan pariwisata, optimalisasi sumberdaya alam berkelanjutan dan penurunan resiko bencana serta penataan reformasi birokrasi dan penguatan perdamaian.

"Semua program prioritas pembangunan dimaksud, telah dijabarkan ke dalam program dan kegiatan RAPBA-P Tahun Anggaran 2019," kata Plt Gubernur. Ia menyebutkan, alokasi perubahan anggaran belanja tahun anggaran 2019 telah memperhatikan kebutuhan yang benar-benar mendesak dan berdampak terhadap peningkatan pembangunan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Nova berharap pembahasan RAPBA-P tersebut dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah disepakati, sehingga keseluruhan program/kegiatan dan anggaran yang ditetapkan bersama dalam APBA Perubahan Tahun Anggaran 2019 dapat secepatnya ditindaklanjuti pelaksanaannya oleh SKPA guna memenuhi berbagai tuntutan kebutuhan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat secara optimal. []

ACEH UTARA -  Laga hari ke-4 babak delapan besar Open Turnament VolleyBall Muspika Nisam Cup Tahun 2019 nanti sore, Rabu (18/09/2019), di Lapangan JVC Blang Dalam Baroh Kecamatan Nisam, mempertemukan Bank Indonesia VC Lhokseumawe  dengan Kram Krum VC Lapang.

Pertandingan ini adalah laga terakhir di babak delapan besar, untuk menentukan siapa yang berhak melangkah ke babak semifinal.

Bank Indonesia yang bermaterikan, pemain-pemain terbaik seperti Jefri,  menjadi salah satu kandidat kuat calon juara.

Kramkrum VC juga tidak biaa dipandang sebelah mata, tim ini merupakan salah satu tim terbaik di Aceh Utara. Selain mengandalkan jebolan akademi mereka sendiri, juga di perkuat beberapa pemain berpengalaman.

Yang pasti pertandingan sore nanti, akan seru dan menghibur, ujar Tajuddin, S.Sos Humas, Publikasi dan Dokumentasi Open Turnament VolleyBall Muspika Nisam Cup.

Kemaren sore (Selasa, 17/09/2019) pertandingan antara Trisakti VC versus Raja VC berakhir imbang, dan mereka akan bertanding ulang hari Kamis, 19 September 2019.(Taju)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.