2019-06-02

Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Bocah menangis dan meronta/ronta lantaran tak ada sinyal di kampung halaman keluarganya di Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. [Instagram/palopo_info]
StatusAceh.net - Mudik sudah menjadi semacam ritual bagi umat Muslim di Indonesia setiap Idul Fitri. Namun, pada zaman kiwari, terdapat persoalan bagi kaum milenial yang mudik: jaringan internet di kampung halaman tak sebaik di kota.

Jaringan internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kaum milenial kekinian. Lantas, bagaimana kalau jaringan internet buruk saat mudik?

Seorang bocah di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan misalnya, menangis histeris dan meronta-ronta saat dibawa orangtuanya mudik ke kampung halaman, Kecamatan Lamasi.

Ternyata, bocah tersebut kebingungan lantaran tak bisa bermain salah satu gim online pada smartphone, PUBG Mobile.

Tingkah bocah yang menangis dan meronta-ronta akibat tak bisa main PUBG Mobile di kampung saat Lebaran itu terekam kamera dan videonya viral setelah diunggah di akun Instagram @palopo_info.

"Seorang bocah menangis akibat tak ada jaringan internet di kampung keluarganya. Karena sering main PUBG ini atau nonton Youtube. Begini kalau pergi di rumahnya keluarga yang tidak ada jaringan Internetnya. Kejadian di Lamasi Kab. #Luwu," tulis si pengunggah video.

Berdasarkan video yang diunggah dan dilihat Solopos.com—jaringan Suara.com, Sabtu (8/6/2019), bocah tersebut terus menangis dan mengeluh lantaran tak ada jaringan Internet.

"Enggak ada jaringan, enggak ada jaringan," teriak bocah itu.

Kejadian pada video viral itu kemudian dijadikan pelajaran bagi sebagian warganet dalam mendidik anak.

Menurut sebagian dari mereka, video viral itu menunjukkan salah satu efek buruk Internet terhadap anak-anak. | Suara.com

Korban alami luka pada beberapa bagian tubuh setelah dikeroyok orang tak dikena,
Photo : VIVA.co.id/Muhammad AR
Bogor - Rombongan keluarga yang sedang berwisata tiba-tiba dikeroyok orang tak dikenal di jalan Desa Cibeureum, Cisarua, Puncak Bogor, Sabtu 8 Juni 2019.  Korban meminta tolong ke petugas polisi yang sedang berjaga di jalan namun tak digubris.

Salah seorang dari rombongan, Raden Nurhadi mengatakan, kejadian itu terjadi pukul 16.00  WIB. Keluarganya lewat jalur alternatif Taman Safari, Cisarua. Di jalan ada satu mobil nyalip sambil memberi klason berkali-kali. Pengendara mobil toyota Avanza itu pun mengacungkan tangan.

Sesampainya di lokasi Kampung Baru, dihampiri orang-orang yang menaiki Avanza tersebut, tanpa basa-basi mereka langsung menganiaya keluargannya.

"Saya pikir biasa saja, enggak tahu kenapa, ditungguin sama mereka dan menghadang tiba-tiba di kampung baru Cibereum. Orang satu mobil turun menghampiri mobil dan menghadang mobil kami lalu membuka paksa pintu mobil," kata Raden kepada VIVA, Sabtu 8 Juni 2019 malam.

Aden mengatakan, saat itu di dalam mobil, ada orangtuanya Nuni mulyati(55) dan Hadiawan(60) yang sedang stroke, juga tiga saudaranya Hadisofyan (19), Agus (28) dan Rizki (26).

Orang-orang dari mobil Avanza itu langsung mengeroyok semua orang yang ada di dalam mobil. Tanpa pandang bulu. Mereka juga menginjak-ijak orangtuanya yang sedang stroke.

"Kita turun (dari mobil) tiba-tiba langsung terjadi pengeroyokan dan orangtua saya yang stroke dan ibu saya yang wanita diinjek-injek juga tanpa pandang bulu. Ada delapan orang mereka ajak berantem, langsung pukul, ada warga di sana bukannya memisahkan malah ngeroyok kami, mereka ikut pukulin kami. Saya (minta tolong) laporin ke polisi yang jaga tapi mereka tidak mau merespons," katanya.

Pada saat pengeroyokan, ada beberapa warga yang meminta keluargannya masuk mobil untuk menyelamatkan diri. Namun pelaku pengeroyokan terus melemparin mobil dengan batu, dan menendangi mobil hingga bagian spion parah.

"Saat ini saya sudah ambil langkah mau visum, tapi karena orangtua belum bisa ditinggal masih trauma, kami belum lapor polisi," katanya.

Saat ini, kata Raden, ia dan keluarga sudah beristirahat di villa, sambil merawat luka bekas penganiayaan. "Orangtua memar di tangan, di kaki, yang dipukul ada tujuh orang, lima bersaudara, orang tua dan adik saya," tutur Aden.

Dikonfirmasi Kepolisian setempat belum memberikan keterangan lebih jelas terkait penganiayaan tersebut, Kepala Unit Reskrim Polsek Cisarua, Iptu Irwan Alexsander, mengatakan kejadian itu akibat salah paham.

"Yaa ini lagi cek TKP, hanya salah faham," ujarnya. | Vivanews

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan turut hadir dipernikahan Mesut Oezil yang mempersunting Miss Turki, Amine Gulse di hotel mewah di tepi Bosphorus, Istanbul, Turki, Sabtu (08/06/2019). Foto: Istimewa
ISTANBUL - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan turut hadir dipernikahan Mesut Oezil yang mempersunting Miss Turki, Amine Gulse di hotel mewah di tepi Bosphorus, Istanbul, Turki, Sabtu (08/06/2019).

Erdogan dikabarkan mendampingi Oezil yang diketahui juga berdarah Turki. Sebelumnya pun Erdogan dan Oezil yang berpose sempat menuai kontroversi menjelang Piala Dunia 2018 lalu.

Oezil kemudian keluar dari Timnas Jerman dengan alasan rasisme dan rasa tidak hormat. Erdogan juga sering menghadiri pernikahan sejumlah publik figur di Turki, terutama selama kampanye pemilihan presiden yang diikutinya.

Pada Maret lalu, Oezil mengumumkan jika dirinya telah meminta Erdogan untuk menjadi pendampingnya di pesta pernikahan. Belakangan, setelah mundur dari Timnas Jerman, Oezil lebih dekat dengan Turki.

"Saya orang Jerman ketika kami menang, tetapi saya seorang imigran saat kami kalah," kata Oezil dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu sebelum pesta pernikahannya.
| Sindo

Kondisi para korban sesaat setelah kecelakaan. (Foto/Ist)
Gayo Lues - Mobil rombongan siswa Diktukbarek TA 2019 Rindam Iskandar Muda terperosok ke jurang sedalam sekitar 50 meter di Jalan Lintas Blangkejeren – Takengon Kec. Rikit Gaib, Gayo Lues, Sabtu (8/6/2019).

Akibat kecelakaan itu, dilaporkan satu siswa bernama Kopda Sudirman Bangko, tewas di tempat. Sedangkan beberapa orang lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa terjadi menjelang subuh pukul: 04.30 WIB.

Informasi yang diterima Waspadaaceh.com, Sabtu siang di Banda Aceh menjelaskan, rombongan siswa Pendidikan Pembentukan Bintara) Reguler (Diktukba Reg) berjumlah enam orang itu, naik mobil angkutan umum (Atrabu) atau L-300 Nopol BL 1346 BZ.

Para siswa itu berasal dari satuan Kodim 0108/Agara berjumlah enam orang dan satu orang berasal dari Satuan Kesdam IM. Kronogis kejadian masih dalam proses pendalaman dan kabarnya aparat Kodim setempat tak lama setelah kejadian turun ke TKP.

Adapun korban dalam kejadian laka-lantas tunggal tersebut berjumlah sembilan orang, antara lain;

Kopda Iwan S. Sianturi, Kopda Yuliardo S, Koptu Muazin (Ta Kesdam IM), Kopda Richardo Pangaribuan, Kopda Rudi Hartono, Kopda Sari Rapid, Kopda Sudirman Bangko (Meninggal Dunia) dan dua orang sopir (identitas belum diketahui).

Satu orang korban atas nama, Kopda Sudirman Bangko, dinyatakan meninggal dunia karena terjepit di dalam badan mobil. Dan delapan korban lainnya telah dievakuasi ke RS. Rikit Gaib (kondisi masih belum diketahui).

Tindakan para petugas di lapangan, antara lain berkoordinssi dengan satuan Kodim 0113/Gayo Lues, melaporkan kepada atasan serta mengevakuasi dan membantu korban untuk mendapat perawatan medis. | Waspada

Pelaku yang Berhasil diamankan polisi. Foto: Istimewa
StatusAceh.Net - Polda Aceh berserta jajarannya menangkap jaringan pencuri spesialis mobil yang sudah belasan kali melakukan pencurian di beberapa kabupaten dan kota di wilayah timur Aceh.

“Pelaku berjumlah tiga orang, kita amankan dari tempat dan waktu berbeda,” sebut Direskrimum Polda Aceh, Kombes Agus Sartijo kepada wartawan, Jum’at (7/6).

Dia menjelaskan penangkapan pelaku yang pertama pada hari Rabu tanggal 4 juni 2019 sekira bertempat di Masjid Cunda  kecamatan Muara Dua kota Lhoksumawe.

“Pada hari itu sekira pukul 08.00 WIB tim opsnal ranmor berhasil mengamankan,

Amiruddin (53) warga desa Simpang Peut kecamatan Seunuddon kabupaten, Aceh Utara. Dari hasil pengembangan dari Amiruddin lalu kita berhasil mengamankan pelaku utama pencurian, yakni Samsul Kamal (29). Dia kita amankan di desa Krueng Lingka Kecamatan Baktia Kabupaten Aceh Utara tepatnya di rumah kediaman pelaku,” sebutnya.

Setelah itu,  tim melakukan introgasi terhadap kedua tersangka bahwasanya iya pernah juga mengambil 1 unit roda empat  L 300 bersama Mahdi Ismail alias Cek dan Din.

“Selanjutnya tim mendapat informasi keberadaan si Chek (alias) di desa Rawa Itek kecamatan Tanah Jambo Aye kabupaten Aceh Utara dan tim mencari keberadaan Chek (alias). Hasilnya pada 5 Juni, tim berhasil menemukan Chek di rumahnya,” sebutnya.

Setelah itu, tim melakukan introgasi terhadap Chek  bahwa mobil yang mereka curi itu dijual kepada Din sekarang menjadi (DPO).

“Modus Operandi pelaku, mereka mencuri kendaraan roda empat milik dengan mengunakan Kunci letter ” T ” pada saat mobil sedang parker,” ujarnya.

Untuk saat ini semua pelaku diamankan di Polresta Banda Aceh untuk dilakukan penyelidikan. Sedangkan untuk DPO masih dalam pengejaran polisi.(Rencongpost)

ilustrasi Sultanah aceh Taj`al-`Alam Tsafiatuddin
StatusAceh.Net - Sejak awal didirikan pada 1496, Kerajaan Aceh Darussalam sudah menganut agama Islam. Raja pertamanya, Ali Mughayat Syah, pun langsung bergelar sultan, gelar untuk menyebut pemimpin pemerintahan muslim. Boleh dibilang, Kesultanan Aceh adalah kerajaan Islam yang sebenar-benarnya.

Ini sedikit berbeda dengan perjalanan sejarah banyak kerajaan lain yang ada di Nusantara. Sebagian besar di antara kerajaan itu awalnya bercorak Hindu atau Buddha, bahkan ada yang masih menganut kepercayaan leluhur, sebelum menjadi kesultanan seiring masuknya ajaran Islam ke Nusantara.

Sedari masa kerajaan hingga kini, Aceh identik sebagai wilayah Islam taat. Maka, tersematlah julukan Serambi Mekkah untuk Aceh. Artinya, Aceh diibaratkan sebagai berandanya Mekkah, kota suci umat Islam, sekaligus sebagai pintu masuk utama ajaran Islam ke gerbang Nusantara yang datang dari Timur Tengah.

Di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam bahkan telah diberlakukan syariat Islam yang diresmikan sejak 2001 silam. Hukum-hukum yang sesuai ajaran Islam pun diterapkan secara ketat di tanah rencong, sampai detik ini.

Di balik kehidupan syariatnya yang sangat kuat, rakyat Aceh ternyata pernah dipimpin oleh raja perempuan atau sultanah. Dan tidak hanya sebentar, namun berlangsung hingga 58 tahun, yakni pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, kerajaan Islam yang sebenar-benarnya itu.

Sebenarnya, sebelum Kesultanan Aceh Darussalam ada di muka bumi, Aceh juga pernah punya wanita pemimpin. Ia adalah penguasa ke-6 Kerajaan Samudera Pasai, yakni Sultanah Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu (Emi Suhaimi & ‎Ali Hasymy, Wanita Aceh dalam Pemerintahan dan Peperangan, 1993:11).

Nihrasiyah, Ratu Samudera Pasai

Inilah raja wanita perdana di Aceh dan satu-satunya sultanah dalam riwayat pemerintahan Samudera Pasai yang berdiri sejak 1267 serta diyakini sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara bahkan di Asia Tenggara itu. Ratu Nihrasiyah berkuasa selama 28 tahun, dari 1400 sampai 1428 (Solichin Salam, Malahayati, Srikandi dari Aceh, 1995:20)

Sultanah Nihrasiyah termasuk penguasa paling gemilang yang membangkitkan kerajaannya dari trauma akibat serangan Majapahit. Dipimpin langsung oleh Gajah Mada, Majapahit menyerbu Samudera Pasai sejak masa Sultan Malik Az-Zahir (1346-1383) yang tidak lain adalah kakek Nihrasiyah, dan berlanjut ke era ayahnya, Sultan Zain Al-Abidin (1383-1400).

Dalam buku Wali Songo dengan Perkembangan Islam di Nusantara karya Abdul Halim Bashah (1993:62) disebutkan, Ratu Nihrasiyah berperan besar dalam memajukan Samudera Pasai, termasuk menjadikannya sebagai pusat perkembangan agama Islam yang besar dan kuat.

Sepeninggal Sultanah Nihrasiyah sejak 1428, Samudera Pasai berangsur-angsur mundur (Abdullah Ishak, Islam di Nusantara Khususnya di Tanah Melayu, 1990:91). Riwayat Samudera Pasai benar-benar tamat setelah pada 1524 seluruh wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528).
Sultanah Pertama Aceh Darussalam

Sejak tahun 1641, Kesultanan Aceh Darussalam diperintah oleh raja perempuan, yakni Sultanah Safiatuddin. Ia adalah anak tertua Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang lahir dengan nama Putri Sri Alam pada 1612. Seperti yang tercatat di berbagai referensi, Sultan Iskandar merupakan penguasa Aceh Darussalam yang paling jaya dan mashyur.

Sultan Iskandar Muda yang wafat pada 1636 tidak punya putra mahkota dan digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani, menantu almarhum atau suami Putri Sri Alam. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Putri Sri Alam setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617 (Sher Banu Latief Khan, Rule Behind The Silk Curtain: The Sultanahs of Aceh 1641-1699, 2009:34).

Namun, era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, dari 1636 hingga 1641 yang merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Putri Sri Alam sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Perdebatan yang menyoal pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata sudah terjadi pada saat itu. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Sri Putri Alam atau Ratu Safiatuddin. Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinannya.

Situasi bertambah pelik karena Sultanah Safiatuddin juga harus menghadapi ancaman dari luar seiring mulai menguatnya pengaruh VOC dari Belanda setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal 1641 (Arndt Graf, et.al., Aceh: History, Politics and Culture, 2010:8).

Namun, ternyata sang ratu mampu melewati masa-masa sulit itu. Bahkan, ia terbilang sukses membangkitkan kejayaan Aceh Darussalam yang mengalami periode gemilang pada era kepemimpinan sang ayah, Sultan Iskandar Muda, dan sempat redup semasa dipimpin oleh sang suami, Sultan Iskandar Tsani.

Barisan Wanita Pemimpin Aceh

Ratu Safiatuddin berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan (Usman Husein & Hasbi Amiruddin, Aceh Serambi Mekkah, 2008:52).

Dalam masa pemerintahan Ratu Safiatuddin inilah perpustakaan negara didirikan dan diperluas. Selain itu, sang ratu juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan kaum intelektual untuk mengembangkan bakat. Inilah masa yang melahirkan para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Ranirry, Syeh Abdur Rauf, dan masih banyak yang lainnya.

Sultanah Safiatuddin bertahta selama 34 tahun hingga mangkat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sultanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Kendati tidak semua ratu itu sanggup membawa Kesultanan Aceh Darussalam merasakan era emas seperti pada masa Sultan Iskandar Muda dan Sultanah Safiatuddin, namun bahwa Serambi Mekkah yang menerapkan syariat hukum Islam pernah memiliki rekam sejarah gemilang di bawah kepemimpinan kaum hawa adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Bahkan, Aceh punya banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin perempuan yang tidak melulu bertahta dengan label ratu atau sultanah. Para wanita hebat asli tanah rencong ini bahkan tampil sebagai panglima perang dan memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah, dari Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, hingga tentunya Cut Nyak Dien yang melegenda itu.

Sumber: Tirto.id

StatusAceh.Net - Harta senilai lebih dari USD267 juta atau lebih dari Rp3,8 triliun milik mantan diktator Nigeria, Sani Abacha, telah disita dari rekening bank Jersey. Harta sebanyak itu diperoleh melalui korupsi selama kepresidenannya pada 1990-an.

Jersey adalah wilayah suaka pajak yang terletak antara Prancis dan Inggris.Penyitaan kekayaan mendiang Abacha, keluarga dan kroninya itu telah dikonfirmasi Civil Asset Recovery Fund.

Sebuah perusahaan bernama Doraville memegang dana tersebut, yang dibekukan pada tahun 2014.

Setelah perselisihan hukum lima tahun, kekayaan itu kini telah dipulihkan dan akan dibagi antara Jersey, Amerika Serikat (AS) dan Nigeria.

"Penyitaan itu menunjukkan komitmen (Jersey) untuk menangani kejahatan keuangan internasional dan pencucian uang," kata Jaksa Agung Jersey, Robert McRae QC, seperti dikutip dari BBC, Kamis (6/6/2019).

Abacha berkuasa dari tahun 1993 hingga kematiannya pada tahun 1998.

Belum jelas berapa banyak uang yang akan dibagi oleh masing-masing dari tiga pemerintah.

Departemen Kehakiman Jersey menolak untuk mengomentari distribusi akhir kekayaan sitaan itu karena diskusi sedang berlangsung.

Pemerintah Jersey mengaku telah mendekati AS pada 2007 untuk meminta proses hukum dimulai di pengadilan AS terkait pencucian uang bekas diktator tersebut.

Departemen Kehakiman AS sendiri telah kehilangan uang jutaan dolar yang kembali ke Nigeria ketika Abacha dan rekan-rekannya melakukan pencucian uang melalui industri perbankan AS.

Menyusul pengumpulan bukti "ekstensif" di berbagai yurisdiksi internasional, dana dibekukan oleh Royal Court pada 2014 dan akhirnya dibayarkan ke Civil Asset Recovery Fund pada 31 Mei.

Uang itu hanya sebagian kecil dari miliaran dolar yang diduga dicuri dan dicuci selama kepresidenan Abacha.

Pemerintah Swiss tahun lalu mengembalikan USD300 juta kepada pemerintah Nigeria, setelah diketahui uang itu hasil curian dari dana publik.

Uang itu dibayarkan kembali kepada 300.000 rumah tangga Nigeria selama enam tahun ke depan.

Seorang juru bicara untuk Departemen Kehakiman Jersey mengaku telah menghadapi banding sampai ke pengadilan tertinggi di Jersey, serta proses terpisah oleh pihak ketiga di pengadilan AS. | BBC

Petugas Polsek Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan perangkat Gampong Meunasah Papeun, melihat bayi perempuan yang ditemukan dalam kardus di depan doorsmeer Jalan Malam Teuku Nyak Arief, AcehBesar, Rabu (5/6/2019). (SERAMBINEWS.COM)
Aceh Besar - Bayi perempuan yang diperkirakan berumur 5 hari, ditemukan di dalam kardus air mineral di doorsmeer kawasan Jalan Makam Teuku Nyak Arief Dusun Lampaseh, Gampong Meunasah Papeun, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Rabu (5/6/2019) malam.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH melalui Kapolsek Krueng Barona Jaya, Iptu M Hasan kepada Serambinews.com, Kamis (6/6/2019) mengatakan bayi perempuan itu ditemukan sekitar pukul 21.05 WIB.

"Bayi perempuan ini pertama kali ditemukan oleh dua warga setempat, yakni Fajaruddin (16) pelajar dan Ferdi (29)," kata M Hasan.

Menurut Kapolsek Krueng Barona Jaya, bayi perempuan tersebut ditemukan saat Fajaruddin sedang duduk di warung yang terpaut sekitar 100 meter dari doorsmeer tempat bayi tersebut ditemukan.

"Dari keterangan saksi, penemuan itu pertama kali dilaporkan oleh seorang pria yang tidak dikenal dan mengatakan ada terdengar suara tangisan bayi. Mendapat kabar tersebut Fajaruddin beberapa warga sekitar mencari sumber suara tersebut," ungkap Iptu Hasan.

Setelah ditelusuri, saksi beberapa warga setempat akhirnya menemukan suara bayi tersebut berasal dari dalam kardus air mineral yang diletakkan di depan doorsmeer.

"Begitu kardus tersebut dibuka ditemukan bayi perempuan. Kemudian Fajaruddin bersama warga setempat langsung menghubungi perangkat desa dan memberitahu tentang penemuan bayi tersebut dan dilaporkan ke kami," sebut Kapolsek Hasan.

Menurutnya, sekitar pukul 23.15 WIB, bayi yang ditemukan tersebut dibawa oleh keuchik beserta bidan desa dan ikut didampingi pihaknya dari Polsek Krueng Barona Jaya

"Bayi perempuan itu akhirnya kami bawa ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin untuk diperiksa kesehatannya. Alhamdulillah kondisi bayinya sehat dan saat ini sedang diasuh," sebut Iptu Hasan.

Ditambahkan sejauh ini pihaknya masih menelusuri siapa pelaku pembuang bayi tersebut dengan koordinasi dengan berbagai pihak.(*)

Sumber: aceh.tribunnews.com

Aceh Barat - Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat dialihkan ke Pelabuhan Penyeberangan di Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.

Pengalihan ini dilakukan lantaran Pelabuhan Meulaboh tengah menghentikan layanan pelayaran pada arus balik. Sehingga, bagi masyarakat yang akan menyeberang ke Pulau Simeulue ataupun ke daratan Aceh usai Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah harus mencari penyebrangan alternatif.

"Bagi masyarakat yang ingin menyeberang ke Sinabang, Pulau Simeulue atau ke daratan Aceh, untuk sementara hanya dilayani di Kabupaten Aceh Selatan," kata Kepala UPTD Pelabuhan Meulaboh, Romi Masri kepada Antara, Kamis (6/6), di Meulaboh.

Buruknya cuaca sejak sepekan terakhir juga menjadi faktor dihentikannya aktivitas penyeberangan kapal di wilayah ini.

Aktivitas penyeberangan dan pelayaran di Pelabuhan Meulaboh diperkirakan akan normal mulai tanggal 14 Juni 2019 mendatang, setelah jadwal keberangkatan kapal diterima dari ASDP.

"Penyebab tidak ada pelayaran ini karena tidak ada jadwal kapal yang akan berangkat di Pelabuhan Meulaboh menuju ke Sinabang dan sebaliknya," terangnya.

Selama ini, jadwal penyeberangan kapal di Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, dilakukan setiap dua kali dalam sepekan yakni setiap Hari Jumat dan Minggu untuk keberangkatan dari Meulaboh ke Sinabang.

Sedangkan jadwal pelayaran dari Sinabang ke Meulaboh dilayani setiap hari Kamis dan Sabtu, menggunakan kapal roro KMP Labuhan Haji, pungkas Romi. (Antara)

Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menolak keras wacana referendum Aceh. Ia bahkan meminta Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengantisipasi gejolak dari munculnya isu tersebut.

"Mengimbau kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengantisipasi perkembangan dari isu tentang referendum Aceh agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat," kata Bamsoet melalui keterangan tertulisnya.

Bamsoet berharap, antisipasi itu dapat mencegah timbulnya pergolakan politik daerah lainnya. Bamsoet juga mengimbau kepada akademisi dan pakar Hukum Tata Negara untuk menjelaskan dampak adanya referendum.

"Secara bersama agar menjelaskan kerugian yang ditimbulkan sebagai dampak dari adanya referendum, seperti menghilangkan rasa persatuan dan kesatuan sebagaimana dahulu pernah terjadi pada provinsi Timor Timur," ujar Politikus Golkar.

Isu Referendum ini belakangan muncul dari Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf. Bamsoet pun menegaskan, ia menolak tegas rencana referendum yang akan dilaksanakan oleh rakyat Aceh.

"Mengingat Indonesia merupakan negara kesatuan yang berdaulat dan NKRI adalah harga mati," ujar dia.

Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono pun menolak isu referendum Aceh. Ia berpendapat, referundum bukan sekadar koreksi pada pemerintahan, namun lebih pada suatu pertaruhan kedaulatan. Nono tak sependapat dengan isu yang digulirkan Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf, yang mengatasnamakan kondisi ketidakadilan dan ketertinggalan Aceh.

"Ini bukan memperjuamgkan keterbelakangan masyarakat. Bukan koreksi terhadap pemerintah. Tapi ini kita mempertaruhkan kedaulatan negara," kata dia.

Nono menegaskan, perjuangan apapun tidak boleh mengganggu kedaulatan negara. Ia menjelaskan, dari sudut pandang hukum, TAP MPR nomor 8 tahun 1998 mencabut tap MPR nomor 4 tahun 1983 tentang referendum. Turunannya adalah undang-undang nomor 6/1998, mencabut UU nomor 5 tahun 1985 juga tentang referendum.

"Artinya, di wilayah hukum indonesia sudah tidak ada yang lain kecuali itu. Tidak berlaku konstitusi atau UU yang lain," kata dia. | Republika

Lhokseumawe- Salah seorang Aktivis Mahasiswa Musliadi Salidan berpendapat bahwa stekmen Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mualem pada, Senin 27 Mei 2019 untuk membuat Referendum di Aceh merupakan hal yang lumrah dalam demokrasi.

Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Malikussaleh ini menyebutkan, secara politik kita tau bahwa 14 tahun sudah umur perdamaian,  namun luka akibat perang sampai saat ini belum dituntaskan,  Ketiadaan hukuman (Impunitas)  bagi pelaku pelanggaran HAM merupakan sederet bukti bahwa kondisi penegakan hukum dan HAM setelah perdamaian masih sangat memprihatinkan.

"Banyak kasus masih mangkrak dan perlu dicatat jika hal ini terus terbengkalai maka luka rakyat Aceh tidak pernah akan pulih dan kepercayaan kepada pemerintah pusat semakin menurun, disamping itu banyak juga turunan dari Mou Helsingki yang belum sepenuhnya tuntas terealisasi dan sebagai solusi, Jakarta harus menyelesaikan setiap persoalan kekerasan masa lalu agar kedepan setiap generasi muda Aceh tidak lagi harus mengungkit luka lama dan Aceh bisa bangkit untuk melanjutkan pembangunan, "Pungkasnya

Bagi Musliadi Referendum sediri bisa diartikan sebagai jajak pendapat resmi dari rakyat untuk mengetahui kehendak mereka mengenai bentuk pemerintahan, usulan legislative, atau berbagai kebijakan negara yang lain. Dari pengertian ini, maka berlangsungnya referendum tidak selalu dalam hubungan dengan inisiatif atau konteks kekerasan. Bahkan, di inggris dikenal sejenis referendum yang disebut sebagai Local Option, yang biasanya hanya dikenakan pada masyarakat suatu wilayah tertentu, misalnya untuk mengetahui kehendak rakyat setempat mengenai pendapat mereka apakah didaerah tersebut gedung bioskop boleh dibuka pada hari Minggu (hari yang bagi masyarakat Kristen, sebagaimana halnya masyarakat Inggris yang mayoritas beragama Kristen, merupakan hari ibadah), atau apakah penjualan alcohol didaerah itu dibolehkan atau tidak.

Saya pikir salah satu tugas intelektual adalah menyampaikan informasi yang benar bagi masyarakat.  Dalam dunia akademik tidak mengenal apa yang disebut rekayasaa informasi. Jika ada informasi yang salah maka tugas kita untuk meluruskan dan memperbaiki hal itu.tujuannya untuk mendidik masyarakat agar bisa melihat keadaan mereka, supaya bisa memperbaiki diri mereka, melepaskan mereka dari kemampuan indokrinasi pengetahuan.

Jajak pendapat sudah biasa dilakukan oleh negara-negara demokrasi di dunia. Cara ini merupakan strategi paling damai untuk memenuhi keinginan rakyat dalam menentukan nasib bangsa sendiri. Sehingga aspirasi rakyat tidak ada yang dikooptasi oleh kekuasaan yang tiran dan bagi Indonesia jajak pendapat atau referendum juga bukanlah hal yang baru, sebelumnya sudah dilakukan di Timur Leste (dulu tim-tim), semua proses berlangsung secara damai tanpa perlu menggerakkan militer yang cenderung berlaku refresif.

"Salah besar jika ada yang mengatakan bahwa referendum itu sangat berbahaya, apalagi sampai menakut-nakuti rakyat Indonesia, seolah-olah tanpa Aceh Indonesia akan punah. Yakinlah Indonesia akan tetap berdiri kokoh walau tanpa Aceh. Walaupun saat ini isu referendum Aceh menuai pro dan kontra namun tidak salah kalau pemerintah pusat belajar memahami rakyat Aceh. Cobalah merasakan suasana batin bangsa Aceh yang sudah lama menanti hadirnya keadilan. Tutupnya.(Rill)

Aceh Jaya - Sebuah mobil bak terbuka (pickup) jenis Panther mengalami kecelakaan dan terjun ke jurang di kawasan Gunung Geurutee, Gampong Babah Ie, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh.

Insiden yang menimpa 'Rombongan Lebaran' sejumlah 20 orang asal Desa Ujong Teuleung, Kecamatan Jaya, itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, Kamis (6/6). Data sementara, diketahui empat orang meninggal dunia.

Sekadar informasi, di Aceh, istilah 'Rombongan Lebaran' berarti adalah rombongan warga yang hendak berkunjung ke rumah saudaranya untuk bersilaturahmi.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek, rombongan yang ikut serta dalam mobil tersebut kebanyakan anak-anak. Petugas dari BPBA saat ini masih terlibat mengevakuasi dan mendata semua korban.

"Belum diketahui pasti kronologisnya," ujar Dadek kepada jurnalis. [kumparan/Acehkini]

Jambi - Syaharudin, Kepala Desa Pemayungan, Jambi, rela membayar dua pria untuk membunuh selingkuhan istrinya. Dua pria pembunuh bayaran itu adalah Dedi Sihombing (42), warga Labuhan Batu, Sumatera Utara dan Wayan Budiane (46) warga Pemayungan.

Mereka dibayar belasan juta rupiah oleh Syaharudin untuk menghabisi nyawa Hendra (30), warga Pemayungan, yang diketahui selingkuhan istri kepala desa.

Kasat Reskrim Polres Tebo Jambi, AKP Hendra W Manurung membenarkan hal tersebut. Menurutnya, kades menyuruh dua rekannya dengan upah belasan juta rupiah agar bisa menghilangkan nyawa korban.

"Upah tersangka untuk membunuh korban Hendra sebesar Rp15 juta dan yang melakukan itu Dedi," kata AKP Hendra di Jambi, Selasa, 4 Juni 2019.

Sementara tersangka Budi, berperan sebagai pengantar uang titipan dari kepala desa yang sebelumnya saling sepakat menerima tawaran untuk membunuh korban. "Sementara Dedi yang mengeksekusi korban Hendra sampai tewas di tempat," ujarnya.
Harga barang dilikuidasi turun hingga setengahnya hari ini! Beli sekarang

Setelah selesai membunuh korban, tersangka Dedi menyampaikan kepada Budi untuk melaporkan kepada Syaharudin bahwa tugasnya sudah selesai. Kemudian, Syahrudin menyuruh tersangka Dedi dan Budi untuk kabur dan menghilangkan jejak.

"Meski pelarian dua tersangka jauh, namun kita temukan juga karena tahu dari sidik jari korban dan ciri-ciri para tersangka pembunuh korban, sehingga pihak Polres Tebo menangkapnya sampai ke Sumatera Utara," terang Kasat Reskrim Polres Tebo.

Berdasarkan pengakuan pelaku, korban Hendra (30), dibunuh menggunakan tongkat besi oleh tersangka Dedi. Sebelumnya, baik korban maupun pelaku akan menggelar pesta narkoba jenis sabu di salah satu gudang milik kakak tersangka. Saat itu, Dedi langsung menghabisi Hendra dengan cara dipukul berulang kali dengan besi.

"Saat korban akan menyiapkan peralatan untuk menggunakan sabu dalam keadaan jongkok, tersangka Dedi Sihombing mengambil besi stik padat yang panjangnya 30 cm dari pinggang belakang tersangka, dan langsung memukul berulang kali kepala korban dan leher korban sampai tewas," ujarnya.

Diketahui, Syaharudin melakukan aksi pembunuhan bersama dua rekannya Dedi dan Budi pada 18 Mei 2019 lalu. Setelah adanya laporan dan penyelidikan lebih lanjut, Polres Tebo akhirnya menangkap tiga orang tersangka pada Minggu dini hari, 2 Juni 2019. Dua tersangka merupakan warga Pemayung dan satu orang warga Sumatera Utara.

Penangkapan ini berawal dari penangkapan seorang tersangka bernama Dedi Sihombing, yang ditangkap di rumah teman tersangka di Kampung Baru, Rantau Parapat, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, setelah adanya perkembangan Dedi mengaku disuruh kepala desa Pemayungan yang dibantu langsung oleh Budi.| Vivanews

Jakarta - Farwiza Farhan, seorang konservasionis Indonesia dari Sumatra, berbicara pada pleno pembukaan Konferensi Women Deliver 2019 di Vancouver, Kanada pada hari Senin, mendesak para kepala negara berkomitmen untuk bertindak dan memenuhi janji Perjanjian Paris dan Konvensi Keanekaragaman Hayati. Farhan berbicara di panggung bersama Perdana Menteri Kanada, Justin P.J Trudeau, Uhuru Kenyatta (Presiden Kenya), Nana Akufo Addo (Presiden Ghana) dan Sahle Work-Zewde (Presiden Ethiopia).

Menanggapi permohonan Farhan kepada kelompok tinggi untuk berkomitmen pada tindakan ambisius tersebut, Trudeau, Work-Zewde dan Kenyatta bertepuk tangan. Farhan meminta para kepala negara untuk melakukan tindakan yang kuat pada negosiasi multi-lateral yang akan datang pada tahun 2020 tentang pelestarian keanekaragaman hayati bumi dan meningkatkan komitmen nasional untuk pengurangan emisi melalui negosiasi iklim internasional. Farhan menunjukkan bahwa semua negara menderita kerusakan lingkungan. Selama kunjungan ke Gunung Kilamanjaro di Kenya dan alam di Kanada, perubahan iklim dan kegiatan komersial memaksa perubahan besar pada kehidupan masyarakat, membawa alam ke ambang kepunahan. Ini adalah tantangan yang sama dengan organisasi Farhan, HAkA, berupaya untuk berjuang di Indonesia, penghasil emisi karbon terbesar kelima di dunia. Farhan berkata, “Laporan sains PBB terbaru tentang keanekaragaman hayati memberi tahu kita satu juta spesies akan punah di masa mendatang. Ini sangat mengganggu karena kepunahan selamanya. Sering kali kita tidak tahu jasa ekosistem yang diberikan oleh spesies sampai mereka hilang."

Langkah Farhan dipandang sebagai hal yang vital. Kanada adalah pemain utama dalam negosiasi iklim, terutama karena AS bertujuan untuk keluar dari Perjanjian Paris di bawah kepresidenan Trump. Semua 196 negara penandatangan Perjanjian Paris berkewajiban untuk mengumumkan peningkatan pengurangan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020. Ethiopia dipandang sebagai pemimpin dalam energi terbarukan, penting dalam perang melawan perubahan iklim, di antara negara-negara Afrika. Tekanan dari negara-negara lain dan komunitas internasional sangat penting untuk menggeser Indonesia asli Farhan dari pengurangan tutupan hutan secara cepat untuk membuka jalan bagi pertanian komersial menjadi melindungi hutan yang tersisa yang menyediakan penyerap karbon vital.

Women Deliver adalah konferensi terbesar di dunia yang didedikasikan untuk kesetaraan gender dan mempromosikan hak-hak perempuan di seluruh dunia, tahun ini mengambil tema Power, Progress, Change. Farhan diangkat sebagai contoh kepemimpinan perempuan oleh forum global ini, karena pekerjaannya menghubungkan solusi yang ditemukan di komunitas akar rumput, terutama melalui perempuan, dengan perubahan yang dituntut dari forum politik nasional dan internasional.

Farwiza Farhan memimpin organisasi Indonesia Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), organisasi akar rumput yang berbasis di Banda Aceh. Farwiza juga merupakan anggota pendiri The New Now, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengatasi tantangan terberat dunia melalui aksi kolaboratif dan mengangkat pekerjaan serta suara-suara muda yang berani.  (Rill)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberi izin kepada polisi menggunakan rekaman cctv milik Pemprov DKI untuk usut Rusuh Aksi 22 Mei. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mempersilakan kepolisian menggunakan rekaman kamera intai, Closed Circuit Television (CCTV) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengungkap kasus 22 Mei 2019. Anies mengatakan pada dasarnya CCTV tersebut memang bebas diakses oleh masyarakat.

"Itu kan memang bisa diakses, ada di Jakarta smart city," kata Anies di Puskesmas Kalideres, Jakarta, Senin (3/6).

Pada pertemuan sebelumnya pun Anies menyatakan bakal kooperatif jika nantinya dimintai kepolisian untuk menggunakan CCTV dalam pengungkapan kasus.

Diketahui DKI memiliki ribuan CCTV yang merupakan kerja sama Polda dan DKI pada zaman Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. CCTV ini banyak diletakkan di Halte TransJakarta dan sejumlah persimpangan.

Anies Persilakan Polda Buka CCTV Ungkap Kasus 22 MeiGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania menyatakan setidaknya ada sekitar 7.678 tangkapan kamera dari CCTV yang diakses oleh DKI.

Ribuan CCTV itu dimiliki oleh sejumlah dinas, mulai dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta hingga Dinas Sumber Daya Alam. Diketahui tangkapan CCTV itu merekam sejumlah aktivitas saat aksi kejadian 22 Mei berlangsung.

CCTV dijadikan alat bukti untuk pemeriksaan lebih lanjut. Anies memastikan bahwa kamera pengintai tersebut dapat dipergunakan semua orang.

Sebelumnya, keberadaan CCTV juga disebut-sebut dapat menjelaskan kronologi aksi 22 Mei yang berujung kerusuhan. Aktivis yang juga pengamat politik Rocky Gerung percaya akan langkah tersebut.

"Suatu waktu nanti ketika kita punya akses untuk melihat seluruh CCTV yang mana adalah milik Gubernur Anies Baswedan," kata Rocky dalam satu sesi diskusi di Rawamangun, Jumat (31/5).

Rocky sendiri mengaku telah melihat beberapa potongan video dari CCTV yang sudah beredar ke publik. Namun ia percaya gambaran lebih utuh mengenai kerusuhan itu dapat terlihat ketika semua rekaman CCTV dibuka ke publik. | CNN




Sigli - Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Sigli, Aceh dibakar narapidana (Napi). Aksi pembakaran ini diduga karena para napi tidak terima dispenser mereka disita petugas.

"Itu hanya insiden kecil, miskomunikasi antara petugas dengan warga binaan. Jadi ada petugas kita itu tanpa sepengetahuan kepala Rutan mengambil dispenser yang ada di kamar-kamar hunian warga binaan," kata Kepala Divisi Pemasyarakaran Kanwil Kemenkumham Aceh, Meurah Budiman.

Meurah mengatakan, dispenser itu sebelumnya dibagi oleh kepala Rutan untuk keperluan napi dalam melaksanakan ibadah puasa. Pembagian dispenser itu untuk memudahkan para warga binaan untuk sahur dan berbuka.
"Jadi ada pegawai tadi atas inisiatif pribadi tanpa melapor ke kepala Rutan mengambil semua dispenser yang ada di kamar, ditarik. Itu (sebenarnya) tidak boleh," jelas Meurah.

Hal itulah, kata Meurah, yang kemudian membuat para Napi mengamuk. Mereka kemudian membakar Rutan yang terletak di kawasan Benteng, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh dibakar sekitar pukul 12.00 WIB siang tadi.

Para napi membakar ruang kerja kepala pengamanan Rutan. Api seketika membumbung tinggi. Tiga armada pemadam dari Pemkab Pidie pun dikerahkan ke lokasi untuk menjinakkan api.

"Tadi saya dapat laporan yang terbakar baru kena ruang kerja kepala pengamanan Rutan," pungkas Meurah.(*)

Pasca rusuh, Rutan Kelas II B Sigli Aceh kini sudah kembali kondusif. Tampak foto saat terjadi kerusuhan di Rutan Sigli. (Ist)
Jakarta - Pasca terjadinya kerusuhan di Rutan Kelas IIB Sigli Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami melakukan video call dengan warga binaan di sana, Senin (3/6/2019).

"Bapak- bapak tenang untuk menyelesaian puasa ramadan. Saya akan mendengarkan apa yang menjadi keluhan dan menindaklanjuti," ujar Utami yang disambut riuh oleh warga binaan.

Pada saat yang sama Utami sedang menghadiri acara Spesial Ramadhan di Lapas Narkotika Jakarta bersama Ustaz Yusuf Mansyur dan Kang Rashied. "Situasi sudah kondusif, tidak ada korban jiwa dan tidak terjadi pelarian, gedung utama yang terbakar, api sudah padam," jelas Utami tentang kondisi terkini Rutan Pidie.

"466 orang penghuni Rutan Sigli sudah dapat dikendalikan, saat ini Kepala Rutan bersama Dandim Pidie masih terus melakukan pendekatan dan komunikasi dengan warga binaan," tambahnya.

Peristiwa diperkirakan bermula pada pukul 12.00 WIB. Terjadi kesalahpahaman antara warga binaan dan seorang petugas, yang akhirnya menimbulkan percekcokan yang berujung pada pembakaran dan kerusuhan. "Kebakaran dan kerusuhan dapat dipadamkan bekerjasama dengan Polres dan pemadam kebakaran Pidie. Kepastian penyebab kerusuhan masih dilakukan penyelidikan dan pendalaman oleh Tim Divisi PAS Banda Aceh bersama Polres Pidie," sebutnya.

Utami kembali mengingatkan kepada seluruh Lapas dan Rutan agar menjaga lingkungan tetap kondusif. "Dalam pelaksanaan tugas harus berdasar aturan dan sesuai SOP yang diterapkan dengan baik dan benar. Penegakan hukum sekaligus pelindungan HAM, teriring doa semoga kita senantiasa dalam lindunganNya," pungkasnya. | Sindo

Mobil patroli Kapospol Beutong Ateuh Banggalang yang dirusak massa usai terlibat kecelakaan. (Foto: Antara/Istimewa)
Nagan Raya - Mobil patroli milik Polsek Beutong Ateuh Banggalang di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, dirusak puluhan warga. Mereka marah setelah kendaraan operasional dinas itu diduga menabrak seorang pengendara sepeda motor hingga terluka.

Informasi yang diperoleh, peristiwa ini berawal saat mobil patroli Kapospol Beutong Ateuh Banggalang yang dikemudikan Brigadir Banta Lidan terlibat kecelakaan dengan Mesdi (25), seorang pengendara motor di kawasan Desa Babah Suak, Minggu (2/6/2019). Akibatnya, korban pengendara motor mengalami luka di bagian kepala, memar di paha dan sesak pada dada. Dia langsung dilarikan ke Puskesmas Beutong Ateuh Banggalang untuk mendapat perawatan medis.

Diduga tidak terima dengan peristiwa ini, warga yang diperkirakan berjumlah 80 orang emosional. Mereka mengamuk hingga akhirnya merusak kaca depan mobil patroli Isuzu Panther dengan nomor polisi BL 478 JA milik Kapospol tersebut.

Seusai merusak kendaraan, massa juga mencari keberadaan Kapospol Beutong Ateuh Banggalang. Namun Kapospol berhasil selamat setelah diamankan personel TNI di Pos Koramil setempat.

Kapolres Nagan Raya AKBP Giyarto SIK membenarkan adanya insiden tersebut.

"Kasus ini sudah diselesaikan secara internal di Pospol Beutong Ateuh Banggalang," kata Kapolres saat dikonfirmasi, Minggu (2/6/2019) malam.

Menurutnya, kejadian tersebut akibat kesalahpahaman masyarakat. Saat itu Kapospol sedang memundurkan kendaraan ke badan jalan. Mobil patroli itu kemudian menyenggol pengendara motor hingga terjatuh.

"Masalah kecelakaan ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan dengan keluarga korban. Tidak ada masalah lagi," katanya.

Kapospol Beutong Ateuh Banggalang Brigadir Banta Lidan juga membawa korban ke puskesmas terdekat menggunakan mobil dinasnya, serta menanggung semua biaya pengobatan terhadap korban. Soal kerusakan mobil patroli, polisi sampai saat ini belum mengetahui siapa saja pelaku pengerusakan.

"Dengan pihak keluarga korban tidak ada masalah, semua sudah diselesaikan secara kekeluargaan," tuturnya. | Inews

MANTAN Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Muzakir Manaf, yang saat ini menjabat sebagai ketua umum Komite Peralihan Aceh (KPA) dan sekaligus ketua umum Partai Aceh, sempat mewacanakan untuk menggelar referendum di Aceh, dengan pilihan Aceh akan tetap menjadi bagian dari Indonesia atau Aceh akan menjadi negara baru seperti kasus Timor Timur yang kini menjadi negara Timor Leste.

Gagasan tersebut muncul ke permukaan publik setelah hasil penghitungan suara KPU menunjukkan bahwa paslon Prabowo – Sandiaga kalah secara nasional namun menang di Aceh, dimana Paslon nomor 02 tersebut berhasil menang telak dengan 81 % suara.

Padahal Menkopolhukam Wiranto telah mengatakan bahwa semua peraturan yang mengatur tentang referendum sudah dicabut oleh pemerintah, misalnya Tap MPR nomor 8 tahun 1988 atau Tap MPR nomor 4 tahun 1993 tentang referendum.

“Jadi ruang untuk referendum dalam hukum  positif di Indonesia sudah tidak ada. Jadi nggak relevan lagi, apalagi kalau kita hadapkan kepada international court yang mengatur tentang masalah ini, juga nggak relevan,” tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Marzuki AR yang merupakan mantan kombatan GAM sempat menjelaskan, mengapa wacana terkait referendum diangkat kembali.

Salah satu alasannya, “Kita tahu bahwa Indonesia, beberapa saat lagi akan dijajah oleh asing. Itu yang kita khawatirkan. Karena itu, Aceh lebih baik mengikuti Timor Timur. Kenapa Aceh tidak.” Jelas Muzakir.

Ketua DPR Bambang Soesatyo juga menolak dengan tegas wacana referendum yang dimunculkan oleh Muzakir Manaf.

Pihaknya menuturkah bahwa penolakan secara tagas tersebut, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan yang berdaulat dan NKRI harga mati.

Di sisi lain, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, menilai bahwa wacana referendum di Aceh yang dilontarkan Muzakir Manaf karena dilatari emosi yang bersangkutan.

“Isu itu bukan hal yang fundamental. Itu hanya emosi saja. Emosi karena tidak menang,” tutur Moeldoko.

Pihaknya pun menduga bahwa gagasan referendum itu digaungkan karena partai yang dipimpinnya, Partai Aceh, gagal meraih suara optimal di Aceh seperti yang dikehendaki.

Moeldoko juga menilai bahwa wacana yang dinyatakan oleh Muzakir itu hanyalah sebatas wacana akademik, sehingga tidak perlu ditanggapi secara berlebihan.

Yang menjadi masalah adalah, mengapa agenda referendum digulirkan saat ini, setelah 14 tahun yang lalu kesepakatan damai telah ditandatangani dan sudah ada pula Partai Aceh yang dirintis mantan kombatan GAM.

Namun tidak semua pengurus internal Partai Aceh dan kalangan eks kombatan GAM setuju dengan wacana referendum yang disuarakan oleh mantan panglimanya, Muzakir Manaf.

Misalnya Kamarudin Abubakar yang menjabat sebagai Sekjen Partai Aceh, dirinya menyatakan bahwa wacana referendum tidak perlu diteruskan meskipun sepakat bahwa poin – poin kesepakatan mengakhiri konflik yang tercantum dalam MoU perlu diselesaikan.

Dirinya juga mengingatkan bahwa salah satu poin yang tertulis pada kesepakatan perdamaian Helsinki adalah, bahwa Aceh berhak memiliki bendera. Namun lambang bendera yang diajukan selama ini tidak disetujui oleh Pemerintah pusat karena dianggap mirip dengan bendera GAM, eks kelompok separatis yang sudah berdamai melalui MoU Helsinki.

Untuk meminimalisir permasalahan yang lebih besar, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan memberikan arahan kepada pemerintah provinsi Aceh dalam menyikapi munculnya wacana referendum Aceh. Kemendagri berharap agar wacana tersebut tidak dibesar – besarkan.

“Itu (referendum) enggak usah dibesar – besarkan, sudah tidak ada apa – apa kok. Pak Menkopolhukan sudah tegas terkait isu tersebut,” tuturnya.

Atas wacana terkait referendum ini, masyarakat tentu diminta untuk tidak terpengaruh dengan isu dan wacana terkait referendum yang muncul di Aceh. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto memastikan bahwa referendum tidak akan terjadi di Indonesia.

Masyarakat tentu diharapkan agar tidak terjebak dalam hoaks terkait dengan wacana referendum Aceh. Wiranto juga sempat menuturkan bahwa publik sudah memahami bahwa referendum tidak lagi berlaku dalam sistem pengambilan keputusan di Indonesia. Hal ini terlihat dari jumlah pemberitaan dan pembicaraan soal referendum di media sosial yang angkanya hanya sedikit.

Ia juga menghimbau kepada TNI untuk mengantisipasi perkembangan isu tentang referendum Aceh agar dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat. | Jawapos

Sigli- Diduga dipicu sikap arogan oknum petugas yang mengambil dispenser yang dibagikan oleh Kepala Rutan, Ratusan narapidana rutan sigli mengamuk bakar Rutan Klas II B Sigli,,Senin  (3/6/2019).

Informasi yang dihimpun, insiden pembakaran itu terjadi berawal dari ratusan napi di sana mengamuk.

Saat ini, petugas Rutan masih disandera oleh para napi tahanan. Sedangkan mobil pemadam kebakaran terus datang ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman api yang mulai menjalar ke seluruh ruangan kantor rutan dan api sampai saat ini belum berhasil dipadamkan.

Sedangkan pihak keamanan dari TNI/Polri sudah diturun ke lokasi. Hanya saja masih belum bisa masuk ke dalam Rutan lantaran para napi terus melakukan perlawanan dari dalam.

Hingga berita ini diturunkan suasana masih mencekam dan aparat kepolisian belum ada yang mendekat ke lokasi, sedangkan pihak Kantor Wilayah Hukum dan HAM aceh sedang dalam perjalanan menuju ke rutan Sigli dari Banda aceh.(Red)

Subussalam - Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab) Kota Subulussalam tolak tegas wacana referendum Aceh, pernyataan penolakan ini dikemukakan dalam diskusi yang mereka gelar di Resto Braga Coffe, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Diskusi ini mereka adakan untuk menanggapi pernyataan mantan wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf dalam peringatan wafatnya Wali Nanggroe Aceh Hasan Tiro beberapa waktu lalu, yang menyebutkan keinginan adanya referendum di Aceh karena kondisi Indonesia yang tidak stabil.

Ketua Forkab Kota Subulussalam, Raja Bakti Kombih mengatakan, mereka menolak wacana referendum kali ini karena keinginan tersebut tidak berdasar, “Pernyataan ini bisa mengganggu kedaulatan negara, jangan ada lagi derita rakyat, cukup sudah darah dan air mata tumpah di masa yang lalu”, kata Raja Bakti saat membacakan pernyataan Forkab di depan forum diskusi.

Humas Forkab Kota Subulussalam, Zainal Abidin, SE Ak menambahkan, ketimbang wacana referendum Aceh, pihak Forkab Kota Subulussalam lebih setuju agar wacana pemekaran provinsi Aceh Leuser Antara, atau Provinsi ALA dikedepankan, sebab pemekaran Provinsi Baru ini lebih jelas manfaatnya bagi rakyat, “Dengan lahirnya provinsi ALA, kita bisa lebih fokus meningkatkan kehidupan ekonomi rakyat yang di wilayah selatan dan tengah Aceh yang sejak dulu jauh tertinggal dibanding kabupaten kota lain di Aceh”, sebut Zainal.

Selain menolak tegas, pihak Forkab Kota Subulussalam juga menghimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi dengan isu referendum ini, sebab bila salah menafsirkan, wacana referendum ini bisa berbuah bencana, sehingga membuat keamanan dan kemajuan wilayah Aceh yang selama ini di rasakan warga pasca MOU Helsinki bisa buyar dan berpotensi membuat Aceh kembali kemasa-masa kelam seperti saat wilayah ini masih dilanda konflik. | Cakrawala.co

Bapak tewas dibunuh ayah kandung karena bangunkan salat.
Mataram - Seorang perawat yang bekerja di Rumah Sakit Kota Mataram tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Ia marah pada sang ayah lantaran dibangunkan agar menunaikan salat.

Insiden ini terjadi di Kelurahan Karang Baru, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kabid Humas Polda NTB, Ajun Komisaris Besar Polisi Purnama, mengatakan perawat perempuan bernama Hilda Nurafriani membunuh ayahnya, Muh Nurahmad pukul 16.00 Wita, Sabtu, 1 Juni 2019.

"Korban membangunkan pelaku untuk Salat Asar, namun pelaku tidak terima dan mengambil pisau dapur lalu menusuk korban di bagian dada, pinggang dan mata," ujar Purnama, Minggu, 2 Juni 2019.

Korban yang terluka parah dilarikan ke RSAD. Pukul 19.00 Wita korban yang merupakan pensiunan PNS ini meninggal dunia.

"Pelaku kini diamankan di Polres Mataram," ujar Purnama. | Vivanews

Lhoksukon - Tim Polres Aceh Utara menembak tiga pelaku pembobol mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Desa Matang Kumbang, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (2/6/2019).

Ketiganya berinisial SB (42), MA (44), dan M (39), seluruhnya warga Medan, Sumatera Utara.

Kasat Reskrim Polres Aceh Utara, Iptu Rezky Kholiddiansyah, menyebutkan, ketiga pelaku ini membobol sejumlah mesin ATM di Aceh seperti di Kabupaten Bireuen, Aceh Tengah, Bireuen dan Kota Lhokseumawe.

"Polisi menerima informasi bahwa mereka akan beraksi di Aceh Utara. Sehingga, diselidiki dan ditangkap saat melintas di jalan nasional Medan-Banda Aceh," kata Rezky.

Saat ditangkap, kata Rezky, ketiganya berupaya kabur. Sehingga polisi terpaksa menembak pelaku dan mengenai kaki.

Dia menyebutkan, ketiga tersangka ini akan diserahkan ke Polres Bireuen, untuk penyidikan lebih lanjut. Pasalnya, lokasi pembobolan ATM berada di Kabupaten Bireuen.

"Mereka sedang dirawat di Puskesmas Lhoksukon, Aceh Utara. Nanti akan kita serahkan ke Polres Bireuen. Barang buktinya uang puluhan juta dan satu mobil Avanza," ujar Rezky. (Kompas.com/Masriadi)

Sumber:Kompas.com


Statusaceh- Syukri bin Ismail salahsatu napi Lapas Klas I Medan asal Aceh Timur yang dikabarkan menghilang dari Lapas oleh istrinya Siti Nurbaya dikarenakan tidak berhasil ditemuinya.

Pihak Lapas melalui Kepala Pengamanan Lapas Jaya Saragih kepada menerangkan napi Syukri bin Ismail oleh Kantor Wilayah Kemenkumham Sumatera Utara telah memindahkannya ke Lapas Nusakambangan, Kamis (30/5/2019) dini hari.

“ Ada 12 narapidana yang berasal dari Lapas Klas I Medan yang dipindahkan ke Nusakambangan,salahsatunya adalah syukri bin ismail dan T. Nanja oleh Kantor Wilayah “, ujar
Jaya mengaku dirinya baru mengetahui adanya pemindahan napi ke nusakambangan pada pukul 23:00 WIB malam setelah diberitahukan oleh Plh. Kalapas Juhari Sitepu yang juga merangkap Kadivpas Sumatera Utara.


Menurut jaya, syukri selama ini adalah salahsatu napi yang tidak bermasalah dan kerap membantu petugas menjaga kamtib di lapas klas I medan.

“ Saya sendiri terkejut syukri ikut dipindahkan,padahal orang baik,dia disini tokoh bagi warga binaan Aceh,kerap bantu petugas mengamankan lapas dan selama saya tugas disini kayaknya tidak ada masalah apapun “,tutur jaya kepada redaksi melalui sambungan telepon selulernya.


Sementara itu Kalapas Klas I Medan yang baru Nico yang dihubungi melalui sambungan telepon selulernya menyampaikan belum mengetahui perihal adanya pemindahan napi ke Lapas Nusakambangan karena dirinya belum bertugas saat itu.

“ Saya belum cek karena waktu pindahan saya belum ada disini “,ungkap nico singkat yang juga pernah menjabat Kadivpas Papua Barat, Sabtu (1/6/2019). 

Ditempat terpisah Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Dra Sri Puguh Budi Utami Bc.IP yang dikonfirmasi mengenai pemindahan napi tersebut membenarkannya.


Sri mengatakan jika pemindahan para napi tersebut bukanlah berasal dari Ditjenpas namun usulan tersebut berasal dari Kadivpas atau Plh Kalapas Klas I Medan.

" Yang lebih tahu soal ini Kadivpas dan kalapas karena usulan dari mereka, mohon tanyakan pada mereka ", tulis sri melalui pesan WhatAps yang du\ikirimkan ke redaksi, Jum'at (31/5/2019).(Red)
loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.