Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Wajah Dara Portugis di Lamno, Aceh Jaya Foto : bang-bro.blogspot.com
StatusAceh.Net - Siapa yang tak mengenal ungkapan Si Mata Biru yang terkenal di Aceh? Ungkapan yang disematkan kepada keturunan Portugis-Aceh dengan bola mata berwarna kebiruan yang bermukim di Lamno, Aceh Jaya. Ketenaran keturunan Portugis ini sudah dikenal sejak lama, membuat banyak hati tertaut, hingga tak jarang mereka yang datang bertandang ke Lamno hanya untuk melihat bukti kebenaran cerita yang tersebar sangat masyhur tersebut. Bahkan ada yang sampai meminang karena sudah terlanjur terpaut akan kecantikan dan kebaikan budi si Gadis Bermata Biru.

Singkat cerita, setelah Tsunami meluluh lantakkan Aceh 2004 silam, populasi Si Mata Biru pun semakin langka. Banyak dari keturunan mereka yang menjadi korban Tsunami. Sebelum tahun 2004, ditemukan banyak lokasi di Lamno yang menjadi kawasan tempat tinggal keturunan Portugis, sebut saja di daerah Kuala Daya dan Lambeuso.

Rasa penasaran untuk menemukan kembali keturunan Portugis yang tertinggal di Lamno pasca Tsunami akhirnya membawaku dan ketiga temanku lainnya berpetualang ke Lamno untuk mencari jejak si Mata Biru yang tertinggal. Berada di bawah kaki Gunung Geurutee, membutuhkan waktu 1, 5 jam dengan jarak tempuh sekitar 81 kilometer dari Banda Aceh untuk sampai ke sana. Dengan bermodalkan kenekatan, bahasa Aceh pas-pasan yang hanya aku kuasai dan tidak oleh ketiga temanku, ditambah lagi dengan tidak adanya rekan yang kami kenal di Lamno, akhirnya kami menyusuri Lamno hanya untuk menemukan Si Mata Biru yang semakin langka keberadannya.


Menurut sejarah, ternyata Si Mata Biru adalah keturunan dari pelaut-pelaut Portugis di bawah Nahkoda Kapten Pinto yang saat itu berlayar ke Malaka (Malaysia) dan sempat berdagang di wilayah Lamno. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511 . Kaum dari Portugis ini kemudian dikenal dengan kaum Porto yang akhirnya berbaur dengan orang Aceh, menikah, dan menetap di Lamno. Inilah yang menjadi cikal bakal sejarah adanya keturunan si Mata Biru di Lamno.

Setelah 1, 5 jam dilalui, kami sampai di Lamno dan mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di sana. Sempat menanyakan keberadaan mereka kepada petugas SPBU, namun ia mengatakan bahwa turunan Portugis tersebut sudah semakin langka dan hanya bisa ditemukan di daerah Lamee dan salah satu pesantren dekat makam seorang pahlawan Aceh, Poteumeureuhom. Kemudian, kami melajutkan lagi perjalanan untuk mencari pesantren di dekat makam Poteumeurehom, namun hasilnya nihil. Karena keterbatasan pengetahuan kami terhadap wilayah setempat, akhirnya kami tidak menemukan pesantren yang dimaksud. Sebuah kesimpulan pun kami dapatkan ketika kami menanyakan keberadaan Si Mata Biru pada masyarakat setempat. Sebagian besar dari mereka akan menjawab tidak tahu, seperti menutupi lokasi tempat tinggal keturunan Portugis ini. Ya, kami tahu, mereka tidak akan sembarangan memberikan informasi kepada orang asing yang baru masuk ke Lamno, apalagi ketiga temanku lainnya sama sekali tidak memahami bahasa Aceh, jadi sudah sewajarnya mereka semakin tertutup kepada kami.

Kami pun mencari lokasi kedua, yaitu daerah Lamee yang disinyalir sebagai lokasi lainnya, tempat di mana si Mata Biru tinggal. Lelah mencari, akhirnya kami beristirahat sekaligus makan siang di sebuah warung di Lamee. Beruntunglah, ternyata si pemilik warung berasal dari Aceh Besar dan  memudahkan saya untuk mengobrol panjang lebar dengan beliau, sesama orang Aceh Besar. Setelah beberapa lama, akhirnya si pemilik warung memberi tahu kepada kami mengenai lokasi tempat salah seorang anak perempuan keturunan Portugis yang biasanya mengaji di balai desa. Balai desa tersebut terletak tepat berada di belakang warung tersebut. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Itu artinya kami masih diberikan kesempatan untuk pergi ke balai desa, menemui seseorang yang telah membawa kami berani pergi hingga sejauh ini.
Memasuki jalan kecil berkerikil, kami memilih menepikan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki saat memasuki perkampungan warga. Sekitar 100 meter setelahnya, sayup-sayup terdengar suara anak-anak mengaji yang berasal dari balai desa yang terletak di sebelah kiri jalan. Setibanya di sana, kami disambut dengan puluhan tatapan anak-anak yang melihat kami layaknya orang asing yang baru masuk kampung. Setelah berkenalan dan menyampaikan maksud kedatangan kami kepada guru mengaji di sana,  kami diperkenalkan dengan salah seorang anak perempuan keturunan Portugis yang duduk sambil tertunduk malu, seolah mengetahui bahwa tujuan kedatangan kami tak lain untuk bertemu dengannya. Menurut pengakuan sang guru, sudah banyak tamu yang datang dari luar Lamno yang bermaksud sama seperti kami, bahkan ada yang sampai sangat ingin melihat rambut anak ini yang berwarna keemasan seperti Bule. Namun ia begitu risih karena enggan melepas jilbabnya. Ia malu jika harus menampakkan rambutnya lagi, dan faktor inilah yang membuat dirinya semakin enggan untuk bertemu dengan orang asing. Namun kami memilih untuk menghormati apa yang dia inginkan. Sudah diberi kesempatan untuk dapat bertemu dengannya saja adalah sebuah hal yang sangat luar biasa yang harus kami syukuri.

Ya, keturunan Portugis ini memang umumnya sangat pemalu. Sifat pemalu mereka inilah yang membuat mereka lebih terlihat ekslusif. Jika sudah beranjak dewasa, mereka cenderung lebih suka jika menikah dengan sesama mereka daripada dengan seseorang yang berasal dari luar komunitas mereka. Tapi belakangan ini, sudah ada di antara mereka yang mau dipersunting oleh pria luar.

Sebut saja namanya Aida (nama sebenarnya harus disamarkan), gadis kecil berusia 9 tahun dengan perawakan kecil, putih dan memiliki warna mata coklat ke abu-abuan. Selain dirinya, kakaknya yang berumur sekitar 14 tahun juga memiliki kesamaan rupa seperti dirinya. Namun saat ini, kakaknya sedang mondok di Pesantren yang letaknya berdekatan dengan makam Poteumeureuhom. Sejenak terlintas di pikiranku, bisa jadi yang seharusnya kami temui (jika kami tidak tersesat tadi) adalah kakak dari Aida. Anehnya, kedua orang tua mereka tidak sedikitpun berwajah sama seperti mereka, dan  terlihat seperti keturunan Aceh lainnya yang berkulit sawo matang. Namun akhirnya diketahui bahwa nenek mereka mempunyai rupa yang sama seperti mereka dan mirip dengan wajah bangsa Eropa.

Setelah mengikuti kegiatan anak-anak mengaji dan bertemu dengan Aida di balai desa, kami pun meminta izin untuk berfoto bersama, dan pamit untuk pulang. Sebuah perjalanan yang tidak sia-sia untuk mencari jejak si Mata Biru yang tertinggal. Aceh dengan beragam etnis yang tinggal di dalamnya, sejenak membuatku terpaku betapa bangganya aku bisa menjadi bagian dari negeri ini. Ah, si Mata Biru, betapa eklusifnya dirimu. Sanger terakhir di warung kecil Gunung Geurutee, menjadi saksi terakhir saat kami meninggalkan Lamno.(*)


loading...

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.