-->

Iklan

Harapan, Badak Sumatera yang Patut Kita Banggakan

Friday, 22 September 2017, 14:34:00 WIB Last Updated 2017-09-22T07:34:24Z
'/>
Harapan yang sudah beradaptasi dengan baik hidup di hutan tropis. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
StatusAceh.Net - Hampir dua tahun, Harapan berada di Suaka Rhino Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary, SRS) Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Perjuangan tanpa lelah telah ditempuh untuk memulangkan badak sumatera jantan ini dari Cincinnati Zoo, Ohio, Amerika Serikat, pada 2 November 2015. Bagaimana perkembangannya saat ini?

Zulfi Arsan, Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera (SRS), menuturkan, sejauh ini, Harapan menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Masa karantina selama tiga bulan, di awal kedatangannya, berjalan tanpa hambatan. Begitu pula dengan pola makannya yang kini tidak pilih-pilih lagi. “Harapan sudah mandiri. Dia sudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sebagaimana badak lainnya di SRS. Aktivitas berkubang dan mencari makan, semua normal. Beratnya sekitar 780 kilogram,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, di SRS, Lampung, Rabu (13/9/17).

Zulfi melanjutkan, kita berharap, Harapan segera kawin dengan badak betina guna menghasilkan keturunan. Siapa kandidat yang ia sukai, kami telah melakukan pengamatan melalui penandaan urine. Hasilnya, Harapan lebih condong memilih Ratu, ketimbang Rosa atau Bina.

“Badak akan melakukan urinasi yang biasanya di semprotkan ke daun. Nah, daun inilah yang diberikan ke Harapan untuk ditandai. Hasilnya, Harapan lebih tertarik pada urine yang dikeluarkan Ratu.”

Program ke depannya, ia akan kami kenalkan ke Ratu, untuk pertama kalinya, meski alternatif ke Rosa maupun Bina. Menurut Zulfi, kandidat untuk kawin alami yang normal memang ada pada Ratu, karena ia sudah berpengalaman. Perilaku alaminya yang kuat, diharapkan bisa membimbing Harapan. “Mudah-mudahan terlaksana secepatnya.”

Bagaimana dengan penyakit? Zulfi menjelaskan, berdasarkan data saat Harapan di Cincinnati Zoo, diduga ia menderita gangguan metabolisme berupa akumulasi zat besi. Penumpukan zat besi ini, dalam organ tubuh biasanya berada di hati dan ginjal. Bila terlalu parah, akan berujung kematian.

“Bila kita lihat data keseluruhan, kondisi ini memang terjadi pada badak-badak yang “dipelihara” di kebun binatang. Ini dikarenakan, faktor keterbatasan pakan, terutama dari segi jumlah dan variasi.”

Dengan interaksinya yang baik di Way Kambas, terutama pada pakan alami yang diberikan, diharapkan penyakit tersebut berkurang. Patut diketahui, ini penyakit metabolisme yang tidak menular.

“Untuk penyakit menular, sebelum Harapan pulang ke Indonesia, seluruh hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan dia terbebas penyakit. Semua prasyarat kepulangannya telah dipenuhi, jadi dia benar-benar sehat,” tegasnya.

Meski lahir di Cincinnati Zoo, Ohio, Amerika, 27 Mei 2007, sejatinya Harapan merupakan badak sumatera asal Bengkulu dari pasangan Emi (betina) dan Ipuh (jantan) yang dikirim ke Amerika pada 1991. Ipuh dan Emi secara keseluruhan memiliki tiga anak yaitu Andalas, Suci (betina), dan Harapan yang semuanya lahir di Cincinnati. Suci yang yang lahir di 2004, mati pada 31 Maret 2014. Sedangkan Emi mati pada September 2009 dan disusul Ipuh pada 2013.

Andalas yang lahir tahun 2001, telah dipulangkan ke Indonesia lebih dulu, pada 2007. Bersama pasangannya Ratu (16 tahun), ia telah memiliki dua keturunan yang lahir di SRS yaitu Andatu, badak jantan kelahiran 23 Juni 2012 dan Delilah, badak betina yang lahir 12 Mei 2016.

Secara keseluruhan, saat ini ada tujuh badak yang menghuni SRS yaitu tiga badak jantan (Andalas, Andatu dan Harapan) serta empat badak betina (Ratu, Bina, Rosa, dan adiknya Andatu).

Baca Selanjutnya 
Komentar

Tampilkan

  • Harapan, Badak Sumatera yang Patut Kita Banggakan
  • 0

Terkini

Iklan

Close x />