Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

StatusAceh.net - Dua lelaki asyik berbincang di teras Asrama Mahasiswa Aceh Miftahussalam Medan, Kamis, 22 Juni 2017. Seorang di antaranya bernama Julheri, 30 tahun. Pria berkumis dengan perawakan khas Aceh ini alumni asrama tersebut. Kini, ia menjabat sebagai wakil kepala madrasah aliyah di Yayasan Miftahussalam. Kantor yayasan ini terletak di Jalan Darussalam, Medan.

Walaupun berada di Sumatera Utara, Yayasan Miftahussalam didirikan oleh seorang ulama dari Aceh. Namanya, Teungku Syahbudin Syah atau lebih dikenal sebagai Abu Keumala. Syahbudin awalnya hanya Pegawai Negeri Sipil di Seunuddon, Aceh Utara. Pada 1954 ia ditugaskan ke Medan. “Awalnya yayasan ini dibuat sebagai tempat mengaji, bangunannya belum seperti ini, masih semacam tepas gitu," ujar Julheri. Ia sedikit banyak tahu sejarah yayasan itu dari buku dan cerita para pengurus. Julheri sendiri berasal dari Lhoksukon yang juga berada dalam teritori Kabupaten Aceh Utara hingga sekarang.

Selain tempat mengaji, di situ juga kemudian dibangun asrama mahasiswa. Menurut Julheri, proses berdirinya asrama tersebut tidaklah mudah. Pada masa itu sempat terjadi konflik antarsuku di Medan yang berimbas pada asrama. Ia juga tidak tahu pasti apa penyebabnya.

Asrama dibangun untuk menampung para mahasiswa asal Aceh yang kuliah di Medan tapi tidak memiliki tempat tinggal. Asrama dikhususkan untuk pria saja. Ada 17 kamar ukuran 4x4 meter di asrama tersebut. Setiap kamar bisa diisi dua hingga tiga orang.
Masjid Taqarrub yang didirikan Abu Keumala | Foto: Ghandi Mohammad

Setelah menyelesaikan kuliahnya, biasanya para mahasiswa diberikan waktu hingga tiga bulan untuk mencari tempat tinggal baru. "Supaya ada pergantian dengan mahasiswa baru, karena kan jumlah kamarnya tidak terlalu banyak," ujar Julheri.

Julheri menetap di asrama sejak 2005 hingga 2009. Setelah keluar dari asrama, ia dipercaya menjadi staf kepala laboratorium, hingga akhirnya diangkat menjadi wakil kepala madrasah aliyah.

Asrama sudah menampung lebih dari 30 generasi. Kini banyak alumni asrama yang sukses. Di antara mereka ada yang menjabat sebagai wakil ketua MPR RI, wakil rektor di Universitas Sumatera Utara, wakil rektor di Universitas Malikussaleh, Aceh, dan lainnya.

Berdampingan dengan asrama, berdiri masjid dan bangunan tingkat tiga yang difungsikan sebagai sekolah. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan.

Sesuai dengan cita-cita awal Abu Keumala saat pertama kali mendirikan yayasan, kurikulum sekolah-sekolah di Miftahussalam bernuansa islami. Mulai dari cara berpakaian hingga materi pelajaran yang diberikan. "Di sini yang wanita wajib pakai jilbab, terus ilmu agama Islamnya juga kita perkuat," ujar Julheri.

Sahiri, 26 tahun, salah satu penghuni asrama, mengaku cukup nyaman tinggal di sana. Mahasiswa Universitas Negeri Medan menilai kegiatan positif yang diadakan yayasan. Misalnya, pengajian rutin saban malam jumat, gotong royong setiap akhir pekan, dan kegiatan lainnya. “Beberapa dari kita juga dilibatkan oleh penduduk sekitar untuk menjadi bilal di masjid. Jika ada yang meninggal dunia, kita yang membacakan tahlil dan tahtim," ujar pria asal Pulau Kampai, Langkat itu.

Sahiri juga bercerita hal yang sama tentang Abu Keumala. Namun, ia pun tidak tahu secara rinci bagaimana perjalanan ulama tersebut dalam menegakkan Islam di Kota Medan. Sahiri hanya menyebutkan satu nama, Abi Wan. Ia salah satu putera Abu Keumala yang kini mendirikan Pesantren Abu Keumala Al Aziziyah di kawasan Sei Mencirim, sekitar 13 kilometer dari Jalan Darussalam.

KBA.ONE mencoba menelusuri jejak pesantren yang terletak di kawasan Deli Serdang tersebut. Pada Rabu, 28 Juni 2017, di halaman pesantren itu terlihat dua santri sedang membersihkan halaman. "Abi Wan ada di dalam, silakan duduk dulu," ujar seorang santri sambil menunjuk sebuah balai yang berdiri tepat di muka masjid.

Tidak lama kemudian muncullah sosok yang mereka sebut Abi, seorang pria berpeci dan berpakaian serba putih. Nama aslinya Muhammad Ridwan. Pria 45 tahun ini anak kedelapan dari pernikahan Teungku Syahbuddin Syah dan istrinya Hamdian. "Anak Abu Keumala ada sembilan orang, tiga sudah meninggal. Alhamdulillah, sayalah yang meneruskan Abu dalam berdakwah,” ujar lelaki dengan suara beratnya yang khas itu.

Abu Keumala, kata Abi Wan, sedari kecil sudah hidup di dayah. Ia mengaji dan menimba ilmu di Keumala, Kabupaten Pidie. Karena itulah ia diberi gelar Abu Keumala. Saat Abu Keumala datang ke Medan, tambah Abi Wan, belum banyak sekolah yang bersyariatkan Islam. Apalagi, yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Lalu, Abu Keumala pun mendirikan tempat pengajian kecil. Ibarat gayung bersambut, itikad Abu diterima baik oleh masyarakat Aceh yang ada di Medan. Beberapa dari mereka mewakafkan tanah untuk dijadikan pusat pendidikan Islam dan dipimpin oleh Abu. Awalnya, dibuka sebuah sekolah menengah pertama.

Abi Wan juga membenarkan perkataan Julheri bahwa penabalan nama Jalan Darussalam diberikan oleh Abu Keumala. "Diberikan nama tersebut karena beliau pernah belajar di Pesantren Darussalam di Aceh," ujarnya.

Agar terlihat sama seperti pesantren Darussalam yang ada di Aceh, Abu Keumala juga mendirikan sebuah masjid tepat di sebelah yayasan. Masjid itu diberi nama Taqarrub, kini dipimpin oleh Profesor Aslim Sihotang.

Ditanya soal konflik yang pernah terjadi hingga berimbas pada yayasan, Abi Wan tidak tahu pasti penyebabnya. "Kalau tidak salah waktu itu organisasi kepemudaan Aceh, dengan kelompok suku kita Batak ada perselisihan, tapi kurang tau apa penyebabnya," ujarnya.

Menurutnya Yayasan Miftahussalam waktu itu hanya terkena imbasnya saja karena kebetulan menggunakan kata 'Aceh' pada nama yayasan. "Mungkin mereka berpikir kita ada hubungannya dengan konflik tersebut, datanglah mereka dan membakar yayasan itu."

Abi Wan terdiam sesaat. Matanya menatap ke langit-langit balai. "Abu Keumala jadi salah satu korban pemukulan pada waktu itu. Beliau tidak mau pergi dan tetap teguh untuk mempertahankan pesantren. Banyak yang mengira ia sudah meninggal, tapi Alhamdulillah karena ridha Allah SWT beliau selamat dari kematian," ujar Abi Wan.

Upaya Abu Keumala berdakwah di Medan tak sia-sia. Pengaruhnya cukup besar. Jalan Darussalam yang dulunya dihuni masyarakat mayoritas nonmuslim, kini sekitar 90 persen penduduknya beragama Islam. Kata Abi Wan, saat Abu Keumala masih hidup tidak ada yang berani mendirikan hotel di Jalan Darussalam. “Dulu bioskop aja nggak bisa dibangun di sini, apalagi hotel. Karena Abu juga takut terjadi apa-apa. Tapi sekarang bisa kita lihat, setelah Abu meninggal, hotel berdiri megah di Jalan Darussalam ini."

Tak hanya di Medan, Abu Keumala juga berdakwah ke berbagai penjuru Sumatera Utara hingga Tanah Karo. Di Karo, Abu mengislamkan banyak orang. Bahkan, beberapa masyarakat Karo sempat ingin memberikan marga Sembiring kepada Abu Keumala sebagai bentuk penghormatan.

Ulama-ulama besar di Sumatera Utara seperti Syekh Arsyad Thalib Lubis juga menaruh hormat kepada Abu Keumala. Ini menjadi salah satu bukti Abu Keumala berperan penting dalam pertumbuhan Islam di Sumatera Utara.

Selain itu, citra Jalan Darussalam yang dikenal sebagai Kampung Aceh juga tak terlepas dari peran Abu Keumala. Ia termasuk orang Aceh pertama yang bermukim di jalan tersebut. Setelah itu, berdatanganlah satu demi satu warga asal Aceh untuk bermukim di daerah tersebut.

Sambil menawarkan kue kering khas lebaran yang sudah dihidangkan, Abi Wan mengakhiri perbincangan dengan memberikan sedikit pesan kepada seluruh umat Islam di Indonesia. Menurut Abi, Abu Keumala selalu menyerukan untuk tetap mempertahankan agama Islam, khususnya Ahlussunnah Waljama’ah. "Apapun pekerjaan kita, di mana pun sekolah kita, tetap niatkan untuk akhirat, intinya pertahankan agama. Jangan sampai juga umat Islam terpecah belah."

Sumber: Kba.one
loading...

Abu Keumala menjadi salah satu ulama yang disegani di Medan. Ia berdakwah hingga Tanah Karo.

Label: ,

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.