Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Banda Aceh - Tanggapan Muhammad Nazar terkait isu referendum yang bergulir dinilai sebagai bentuk mulai terkikisnya nilai-nilai perjuangan ke-Acehan di dalam diri Muhammad Nazar.

Penilaian ini disampaikan oleh mantan Wakil Ketua Pemuda Aceh Selatan (PAS) Pajril Darmi kepada media, Jum'at, (31/05/2019) dini hari.

Menurut Pajril, ungkapan Muhammad Nazar "Bek Culok rakyat Aceh lam Mon Tuha" itu seakan menunjukkan referendum itu sebagai Mon Tuha" yang seakan-akan tak elok.

Hal ini dinilai secara tidak langsung Muhammad Nazar sedang mencoba meludah ke atas.

 "Seharusnya sebagai tokoh yang pernah ikut menggerakkan referendum Bang Nazar tak perlu menunjukkan sikap yang terlalu sensitif terkait isu referendum. Semestinya, beliau justeru memberikan masukan-masukan kepada rakyat agar referendum itu berjalan damai dan demokratis sesuai yang termaktub di dalam konstitusi," ujar pemuda asal Aceh Selatan itu.

Masih kata Pajril, dia (Muhammad Nazar-red) juga mengatakan rakyat sudah pintar menilai, supaya ke depan Aceh tak terjebak lagi dalam permainan genderang orang lain. "Ini pernyataannya akan menjadi tanda tanya di publik, terutama generasi sekarang, apakah dulu ketika 1999, Muhammad Nazar terjebak terjebak genderang orang lain? Sehingga bahasa referendum itu seakan membuatnya harus gelisah berlebihan,"tambahnya.

pajril juga mengherankan bahasa Muhammad Nazar yang menyebutkan Aceh dan Jawa siapkan diri menghadapi kemungkinan, tapi tidak mesti referendum. "Pernyataan itu benar-benar kontradiktif. Justeru hal itu akan menyeret publik untuk menganggap sepertinya yang ngomong itu bukan Muhammad Nazar yang Dulu. Justeru kami melihat Muhammad Nazar yang kini terlalu tinggi kepentingan politisnya kepada pemerintah pusat hingga mengabaikan suara kerinduan masyarakat Aceh, padahal suara itu pernah mengantarkannya kepada kursi orang nomor dua di Aceh,"imbuhnya.

Pajril menyebutkan, wacana Referendum yang ditawarkan oleh Mualem itu hendaknya direspon positif, tidak sensitif. "Itukan pendapat Mualem jadi harus dihargai, tinggal lagi bagaimana wacana tersebut dilakukan sesuai dengan konstitusi di negeri yang demokratis ini. Kita justeru berharap sebagai salah satu penggerak tuntutan Referendum pada 1999 tempo hari, Muhammad Nazar memberikan masukan-masukan agar wacana referendum tersebut berjalan baik dan kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi pada masa lalu," cetusnya.

Pajril melanjutkan, referendum itu kan jejak pendapat bukan konflik, jadi jangan disalah tafsirkan terlalu dini. "Wacana Referendum itu dilakukan untuk  untuk melihat keinginan rakyat Aceh itu cenderungnya seperti apa. Toh, di negara-negara dengan demokrasi maju seperti Swiss referendum itu dilaksanakan sampai 3-4 kali setahun, bahkan urusan tanduk sapi pun pernah direferendumkan di Swiss. Jadi jangan sensitif apa lagi alergi terhadap kata referendum karena cara itu dibenarkan di negara yang menganut sistem demokrasi termasuk Indonesia,"jelasnya.

Pajril meminta agar semua tokoh berumbuk, duduk untuk merespon dan merencanakan wacana referendum ini agar berjalan baik sesuai konstitusi dan tak melanggar nilai-nilai demokrasi. "Sudahlah hentikan spekulasi dan kepentingan pribadi, kita jawab kerinduan rakyat dengan memberikan kesempatan rakyat berpendapat melalui referendum," tandasnya.[Rill]
loading...
Label:

Post a Comment

  1. Banyak Hulu balang yang mempergunakan Ilmu dan akal sehat nya manut dng Ulama, dan segelintir saja yang terperosok dalam moen tuha bersama Belanda penjajah.

    ReplyDelete

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.