Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

StatusAceh.Net - Ada apa dengan Aceh? Pertanyaan ini mengemuka hari-hari ini. Tiada angin tiada hujan dan terindikasi dengan soal persaingan pemilu dan pilpres 2019, tiba-tiba mendadak ada permint referendum itu dikatakan Muzakir Manaf alias Mualem.

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

“Alhamudlillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehancuran dari sisi apa saja. Itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, ke depan Aceh kita minta referendum saja,” begitu tegas Mualem yang disambut tepuk tangan dan yel yel "hidup Mualem".

Menariknya ucapan ini dikatakan langsung oleh Mualem pada acara terbuka berbuka bersama tikih penting Aceh. Acara itu beruoa peringatan Kesembilan Tahun (3 Juni 2010-3 Juni 2019), wafatnya Wali Neugara Aceh, Tgk. Muhammad Hasan Ditiro  Gedung Amel Banda Aceh, Senin (27/5) malam kemarin.

Pidato Mualem ini jelas sesuatu yang serius meski beragam analisanya. Pejabat pemerintah dan politisi Aceh misalnya menghargai itu  sebagai hak berendapat. Pejabat tinggi nasional yang ada di Jakarta pun begitu.

Menhan mengatakan Mualem tak usah macam-macam karena itu soal baru yang mengancam negara NKRI dan bisa berakibat munculnya kasus konflik seperti dahulu. Mendagri mengatakan pernyataak itu berlebihan karena semua hak dan kewenangan sudah diberikan kepada Aceh.

Namun apa pun jadinya, fantasi  yang ada di kepala saya tentang konflik Aceh sewaktu ditetapkan sebagai daerah Operasi Militer dan sebelum ada perjanjian damai bangkit. Masjid terbayang suasana kekerasan hingga serbuan tentara di Lhok Seumawe pada menjelang tahun 2000-an. Saya melihat langsung  banyak sekali korban yang menyeaski rumah sakit kala itu  akibat indisen perempatan Tjuanda, penyerangan Kampung Kandang, hingga terbunuhnya banyak tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka sempat ketemu dengan saya, misalnya Sofyan Dawood yang jenaka serta ke mana-mana pakai kaca mata hitam atau Ahmad Kandang yang pendiam. Tragis memang.

Selain itu saya juga simak cerita  dari rekan jurnalis senior yang sempat ketemu Tengku Bantaqiyah di hutan pedalaman Aceh sebelum tertembak. Katanya, sosok juga lucu, menarik, sekalgus  penuh kharisma. Dia seorang taat beribadah dan hidup kesehariannya sangat sederhana

Teguh bercerita bila anak pasukan Bantaqiyah selalu dia diperintahkan menjalani amalan agama tertentu dalam surau di pedalaman ketika berjuang. Bantaqiyah juga serius melakukan wirid setiap shalat, terutama setelah shalat Maghrib sampai datangnya waktu Isya. Dia selama itu tak pernah ke luar dari tempat duduk shalatnya.

‘’Untuk sampai ke tempat Tgk Bantaqiyah saya perlu sampai dua malam. Letalnya sangat susah di pedalaman Aceh Barat. Saya ke sana dipandu kurir dan harus berjalan kaki naik turun gunung dan masuk hutan,’’ kata Teguh mengenakan. Setelah bertemu, lanjutnya Tg Bantaqiyah tertembak dalam operasi yang dilakukan TNI.

GSelain itu saya juga sempat saksikan betapa berat dan penuh emosi para warga Aceh menjelang dan ketika perjanjian damai. Di pedalaman kampung di Aceh Utara saya saksikan ibu-ibu menangis ketika para juru damai yang terdiri dari orang Indonesia, asing, dan Aceh melakukan simbolisasi perdamaian dengan memotong senjata, termasuk memotong senjata serbu yang legendaris milik GAMi, yakni senapan AK 47.

Saat itu, di tepi ladang sebuah kampung yang terpencil yang dijadikan tempat upacara perdamaian dan landasan helikopter, para ibu dengan membawa anak-anak menyaksikan salah satu bagian acara perdamaian dengan berlinang air mata.

’’Saya tak terima-saya tidak terima. Senjata itu dibeli dari uang kami orang Aceh,’’ kata para ibu saat itu. Di situlah harti saya bergidik dan melihat ‘kilatan api perlawanan’ yang ada di dalam diri dan mata mereka. Di situ saya teringat sosok Cut Nyak Dien pejuang Aceh yang meninggal dalam pengasingan Belanda di Jawa Barat yang legendaris itu. Betapa teguh dan berani sikap para ibu itu.

Sama dengan Teguh saya pun khawatir dengan situasi yang muncul belakangan. Untuk menuliskan kegundahan hatinya saya menjadi paham bila menulis begini. Apalagi dia saat itu orang dari Jakarta yang diberi tugas mengurus sebuah koran yang terbit di Aceh. Teguh tahu persis risiko yang berulang kali dialaminya sebagai orang yang disebut sebagai ‘orang Jawa’. Nyawa jadi taruhan.

Kali ini melalui laman media sosial dia pun khusus menulis tentang Aceh yang ditujukan kepada saya yang juga mengalami tragedi konflik Aceh secara langsung. Dia menulis begini:

“Saya bermimpi mengunjungi Aceh bersama Muhammad Subarkah.  Sepanjang perjalanan membaca HC Zentgraff (buku ini menuliskan kisah seorang Morsase selama bertempur di Aceh), mampir di Pesantren Tano Abe, membaca karya Hamzah Fansuri, seraya membayangkan berapa lama Dennys Lombard berada di perpustakaan tertua di Asia Tenggara itu.

Ingin saya katakan ke Muhammad Subarkah bahwa saat orang Jawa masih sibuk berdebat soal keris berliuk atau tidak, orang Aceh sudah punya perpustakaan. Lalu juga bersama pergi ke Gayo, menikmati kopi luwak di pinggir Danau Laut Tawar, sebelum ekosistem lahan basah itu kini mengecil dan jadi empang.

Kita ke Singkil, mampir ke Pesantren yang membesarkan nama Abdurauf Asy Singkili. Atau ke Beutong Ateuh , bernostalgia di meunasah Teungku Bantaqiah. Balik lagi ke Banda Aceh, dan selfi di lokasi Jenderal Kohler terbunuh saat menyerbu Kutaraja, kota yang kini bernama Banda Aceh.”

Yang paling membuat saya bergidik ketika dia menyarankan agar baca tulisannya bertajuk 'Peutjut yang Sunyi, Perang Aceh yang Terlupa'. Dia ingin bercerita mengenai sebuah arena pemakaman Belanda yang berada di tengah Kuta Raja (Banda Aceh).

“Peucut itu bukan sekadar pemakaman serdadu Hindia-Belanda, tapi saksi bisu kehebatan rakyat Aceh melawan serdadu Belanda. Ribuan serdadu Belanda dimakamkan di sini, dan nama-nama mereka tertera di gerbang Peucut. Dengan sejenak membaca nama-nama di gerbang itu, pengunjung akan tahu betapa serdadu Hindia-Belanda yang bertempur di Aceh terdiri dari berbagai suku; Jawa, Ambon, dan lainnya,’’ tulis Teguh.

Ketika membaca tulisan ini saya jadi teringat pernyataan Prof Henk Schulte Nord Holt dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) tentang perang Aceh. Katanya, kini hampir tidak ada generasi Belanda (jangan-jangan orang Indonesia juga,red) saat ini yang mengidentifikasi diri dengan Perang Aceh,

"Orang Belanda lebih sibuk dengan isu perbudakan di masa lalu, karena banyak keturunan budak yang tinggal di Belanda. Perang Aceh hanya dilihat sebagai tindakan tidak benar secara politikk. katanya.

Di situ ada juga pernyataan dia yang memiriskan hati:” Perang Aceh adalah lonceng besar yang akan terus berbunyi dan memekakan telinga!”

Nah, masihkan semua main-main dengan soal Aceh yang serius ini. Sebab, selain Aceh daerah istimewa lain seperti Jogjakarta dan Papua wilayah ini juga pernah meminta referendum ketika ada soal serius dengan Jakarta.

Maka belajarlah dan jangan lupakan sejarah. Ingat, tak ada yang baru di bawah sinar matahari!

Sumber: Republika.co.id
loading...
Label: ,

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.