Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Banda Aceh - Pengadilan Tinggi (PT) Banda Aceh memangkas hukuman terhadap dua terdakwa kasus 12 kg sabu dari seumur hidup menjadi 15 tahun penjara. Duduk majelis yaitu Asmar, Eris Sudjarwanto dan Bayu Isdiyatmoko.

Kasus bermula saat terdakwa Padli mendapat tawaran pekerjaan menjadi kurir sabu dari seseorang bernama Aman (DPO), pada 2 Februari 2019. Dia menyetujui tawaran tersebut setelah dijanjikan upah sebesar Rp 6 juta.

Menjelang sore hari, terdakwa diperintahkan Aman untuk mengambil 12 bungkus sabu di Persawahan Desa Rantau Pakam, Kabupaten Aceh Tamiang. Padli meluncur ke lokasi dengan mengendarai motor bebek.

Setelah mengambil barang haram tersebut yang ditaruh dalam sebuah tas, Padli pulang ke rumahnya di kawasan Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang. Sekitar pukul 19.00 WIB, dia kembali dihubungi Aman dan diperintahkan untuk mengantar 10 bungkus sabu ke terdakwa Darwis Rulam.

Padli meluncur ke lokasi yang disepakati di Simpang Opak Kabupaten Aceh Tamiang dan tiba di sana sekitar pukul 22.00 WIB. Dia menemui Darwis yang sudah menunggu di lokasi. Untuk menjemput barang haram tersebut, Darwis dijanjikan upah Rp 10 juta.

Keduanya sempat berbincang sejenak di lokasi. Padli memperlihatkan sabu yang dibawa dalam tas. Namun karena sudah larut malam, Darwis enggan menerima sabu. Transaksi malam itu dibatalkan.

Esok harinya Minggu (3/2) sekitar pukuk 09.00 WIB, Padli diperintah oleh Aman untuk mengantar kembali sabu ke Darwis. Setelah menunggu hingga pukul 11.00 WIB, Darwis tidak kunjung datang.

Tak lama berselang, Padli dibekuk tim BNNP Aceh dan BNNK Aceh Tamiang. Ketika digeledah, ditemukan 10 bungkus sabu. Dia juga mengakui masih ada dua bungkus sabu yang disimpan di rumahnya.

Setelah menginterogasi Padli, petugas BNN membekuk Darwis. Dia mengakui akan menerima sabu tersebut. Keduanya diperiksa dan diadili dalam berkas terpisah.

Dalam persidangan di PN Kuala Simpang, Aceh Tamiang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut keduanya dengan hukuman 19 tahun penjara. Namun Majelis hakim memvonis keduanya lebih berat yaitu seumur hidup.

Duduk sebagai hakim dalam perkara ini Irwansyah Putra Sitorus sebagai hakim ketua dan hakim anggota masing-masing Ahmad Syairozi dan Orsita Hanum. Vonis dibacakan pada Rabu (11/9) lalu.

Terkait putusan itu, kedua terdakwa mengajukan banding. Lalu apa kata PT Banda Aceh?

"Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Kuala Simpang tanggal 11 September 2019 dalam perkara Nomor 168/Pid.Sus/2019/PN Ksp, sekedar mengenai kwalifikasi tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa, dan lamanya pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa sehingga amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut," putus hakim PT Banda Aceh.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 15 tahun dan denda sejumlah Rp 1 milyar rupiah dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan," ketok hakim.

Duduk sebagai hakim yaitu Asmar sebagai ketua majelis, Eris Sudjarwanto dan Bayu Isdiyatmoko masing-masing anggota. Putusan itu dibacakan pada Selasa (5/11) lalu. | Detik.com
loading...
Label: ,

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.