Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Fito Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

StatusAceh.Net - Zulfadlie Kawom adalah seorang pengembara asal kecamatan Sawang, Aceh Utara. dia mempunyai kisah yang dikenang pada masa Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pertama di Kecamatan tersebut.

Berikut kisahnya yang dikutip oleh StatusAceh.Net, Rabu, 5 Desember 2018:

Tahun 2000 aku menjadi Relawan di Posko Mahasiswa dan Rakyat keu Aceh (Pemraka). Aku ditempatkan di Sawang, sebelum aku dipindah ke Nisam dan Matangkuli, dan berkahir di Paya Bakong.

Pada Desember 1999 aku berposko di Keude Babah Buloh, Kecamatan Sawang. Disanalah aku mengenal beberapa tokoh GAM Wilajah Pase, diantaranya Ahmad Blang, Syaridin dan lain-lain. Aku dan teman-teman dari bebearapa kampus lain seperti Polyteknik dan Akper di tempatkan pada sebuah Kedai kosong, disanalah kami membuat dapur umum,sekretariat daƱ lain-lain. 


Saat itu logistiknya di back up oleh Geuchiek Tar, seorang karyawan PT.KKA, dan juga anggota GAM( terakhir aku tahu dia terlibat), kami juga sangat dekat Apa Li, sekuriti PT KKA yang juga bergabung dengan GAM terakhir aku tahu dia meninggal karena memegang Bom, serta Apa Kari Gampong Teungoeh desertir Polisi yang menjadi GAM.Masyarakat sangat senang dengan keadatangan kami ke kampung dan membuat POSKO disana, seolah-olah masa itu kamilah "savior" terutama ketika ada aparat masuk kampung, kamilah yang akan bernegosiasi dan dengan bangga menggunakan Jas Almamater. Masyarakat saat itu tidaj mau tahu kami dari oraganisasi apa dan kampus mana.

Siang malam mereka mengunjungi Posko kami, mereka mengadu, anak, suaminya yang diambil (ditangkap) aparat.

Tanggal 4 Desember tahun 1999, diadakan Milad Pertama GAM, masa itu semua  rumah menaikkan bendera Bulan Bintang, sepanjang jalan merah dengan bendera. Kami melewati, tiang-tiang bendera dipinggir jalan Sawang, jalan Elak dan lorong-lorong di kampung-kampung.Kami menumpangi sepeda motor pinjaman masyarakat, kadang kami bonceng tiga, saat itu kami benar-benar merdeka.

Pagi,pukul 9:00, dari posko, kami melewati jalan elak, jalanan sangat sepi, disisi kiri kanan jalan penuh dengan bendera Bulan Bintang berkibar-kibar. Kami berlima terus melewati jalan nan sunyi itu. Tiba-tiba, anggota TNI keluar dari parit, ternyata tadi dengan posisi tiarap, sehingga tidak terlihat bangun dan mengarahkan senjata M.16 ke arah kami. 


"Berhenti...." kata anggota TNI itu, Kami di interogasi sebentar, serta memeriksa identitas kami.KTP, Kartu Mahsiswa dan Badge pengenal kami diambil mereka, kami lalu dibawa ke Pos mereka di Geurugok, Gandapura, tepatnya di Kantor Camat pada sebuah bangunan tua, disanalah, aku mengetahui mereka dei Kesatuan Linud 100. 

Disana kami diinterogasi lagi dengan berbagai pertanyaan, tapi kami tidak dipukuli, hanya sesekali di ceramahi. Kami menghungungi senior kami di Posko Utama di terminal Lhokseumawe, tidak ada satupun mereka datang, saya sudah pasrah. Selama di Pos BKO ini kami diperlakukan dengan baik, kami tidak di ikat dan dipukuli.Cuma mereka sedikit kesal, mangapa mahasiswa mendukung kaaum pemberontak (istilah mereka). 

Sore hari, kami dilepas, tapi KTP dan KTM ditahan, dan kami harus melapor selama 3 hari berturut-turut ke Pos mereka.Kami pun lega, bisa pulang dengan selamat, dan setelah itu kami, tidak melapor lagi, karena takut, akhirnya KTP dan KTM kami urus baru.(*)
loading...
Label: ,

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.