Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Baksos Bambang Tri Banda Aceh Banjir Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona corona Covid-19 Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos dayah Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Film Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan Hindia History Hotel Hukum Humor HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malaysia Malware WannaCry Masjid Migas Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik Mudik Lebaran MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli PUSPA Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator sosial Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Turki Ulama USA Vaksin MR Vaksinasi Covid-19 vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Letnan W. B. J. A. Scheepens; 1892. (paling kanan). FOTO/wikicommon
StatusAceh.Net - Jumat, 10 Oktober 1913. Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens agak terlambat pulang ke rumah. Waktu itu, istrinya sedang bunting besar. Komandan divisi Marsose merangkap kepala pemerintahan di Sigli ini harus menghadiri meusapat (pengadilan adat). Sebuah putusan tidak menyenangkan harus diambil.

Seorang rakyat jelata memukul putra uleebalang (kaum bangsawan) yang terpandang bernama Titeue. Anak uleebalang telah berlaku tidak senonoh pada istri si jelata. Demi kehormatan istrinya, si jelata berani memukul anak bangsawan.

Dalam pandangan masyarakat feodal, memukul anak bangsawan adalah sebuah kesalahan, betapapun bersalahnya anak itu. Meski sebenarnya si jelata yang jadi korban, ia mesti menerima hukuman sangat berat.

Soal kasus pemukulan ini, seperti ditulis H.C. Zentgraaff dalam buku legendarisnya, Atjeh (1983), “seorang rakyat biasa dianggap sangat bersalah jika ia berani menggunakan tangannya terhadap seorang putra uleebalang” (hlm. 85-87).

Scheepens, selaku perwira Marsose yang terlibat Perang Aceh (termasuk ikut dalam Ekspedisi berdarah Gayo-Alas), bisa dikatakan sebagai musuh orang Aceh yang dianggap jahat. Tapi, sebagai kepala pemerintah yang ditugasi melindungi orang-orang sipil, wajib baginya untuk menegakkan keadilan.

Sebelum pergi, Scheepens berkata pada istrinya yang bunting besar itu, “tikus ini ada ekornya.” Maksudnya, si anak yang kena pukul adalah putra pembesar. Scheepens pun pergi ke meusapat. Pertemuan itu adalah untuk terakhir kali Nyonya Scheepens melihat suaminya dalam kondisi gagah.

Di meusapat itu, sang uleebalang begitu bernafsu menuntut hukuman seberat-beratnya kepada si jelata. Scheepens sempat mengingatkan sang uleebalang bahwa hukuman seperti yang diinginkannya itu sudah ketinggalan zaman.

“Tiga bulan hukum krakal (kurungan) sudah lebih dari cukup,” vonis Scheepens, setelah berkonsultasi dengan Kepala Ajun Jaksa yang pribumi.

Dasar bangsawan gila hormat, uleebalang tidak terima dan bilang: “Itu saya tidak terima.”

“Tetap tiga bulan. Habis perkara,” kata Scheepens yang keukeuh pada putusannya agar perkara yang ia rasa sudah diputus seadil-adilnya tak berlarut-larut.

Si uleebalang mengamuk. Ia mencabut rencongnya dan menghujamkannya ke perut Scheepens. Beberapa orang Aceh yang jadi pesuruh pun angkat klewang. Dengan penuh amarah, mereka pun mencabut klewang masing-masing dan berhasil merobohkan uleebalang.

Scheepens berusaha bersikap tenang. Bahkan berusaha meredakan kemarahan pesuruh-pesuruh tersebut. Scheepens, yang dikenal sebagai komandan tangguh, tahu betul apa yang akan terjadi pada orang yang perutnya kena tusuk rencong begitu dalam: mati.

“Tenang-tenang ia pulang ke rumahnya,” tulis Zentgraaff. Waktu dia sampai rumah, hanya sedikit darah yang terlihat di mata istrinya.

“Tak apa-apa hanya goresan kulit yang tak berarti. Mari kita minum segelas sampanye untuk hasil yang baik,” kata Scheepens untuk menenangkan.

Setelah botol dibuka dan sampanye dituang, istrinya, juga kawan dekatnya, van Galen Last, minum bersama. Istrinya dan Galen tahu luka Scheepens serius. Hingga Scheepens pun dilarikan ke rumah sakit. Ahli bedah terkenal Dokter Dubinsky bahkan didatangkan dari Kutaraja. Dari Sigli, Scheepens dibawa ke Kutaraja dalam keadaan sekarat. Ia akhirnya tewas beberapa hari kemudian.

Disebabkan oleh Dendam Perang Aceh
Scheepens bukan satu-satunya orang Belanda yang mampus disambar rencong Aceh setelah Perang Aceh berlalu. “Kendati perlawanan (besar) bersenjata rakyat tampak bisa dipadamkan oleh Belanda, namun serangan terhadap militer dan pegawai Belanda berlangsung terus,” tulis Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, Volume 1 (2004: 70).

Inilah yang disebut Belanda sebagai Atjeh Moorden atau Pembunuhan Aceh. Antara 1910 hingga 1920, ada 75 kasus dan setelahnya, dari 1920 hingga 1930 ada 51 kasus. R.A. Kern pernah menyelidiki soal Pembunuhan Aceh ini. Simpulan sederhananya, ini terjadi karena balas dendam pada orang-orang Belanda yang disebut kaphe alias kafir. Pembunuhan ini terkadang dilakukan juga di tempat-tempat

Pada Juli 1933, hampir 20 tahun setelah Scheepens mati, komandan Marsose lain kena tusuk juga. Meski tidak dalam sidang meusapat. “Kapten Ch. E. Schmid, Komandan Divisi V Marsose ditikam oleh seorang Aceh bernama Amat Leupon di Lhok Sukon, Aceh Utara,” tulis Teuku Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah: Perang Aceh, 1873-1912 (1987: 134).

Menurut catatan Rosihan Anwar, Amat tak terlihat sebagai orang yang sangat benci kepada Belanda. Tapi, Amat adalah orang yang tidak akan lupa bagaimana militer Belanda membunuh ayahnya waktu ia berumur 10. Dendam Amat dituntaskan sepuluh tahun setelah pembunuhan itu. Dendam Amat lebih bisa dianggap sesuatu yang dapat dimaklumi, setidaknya oleh para pendendam, ketimbang Tineue yang egois.

Tak hanya Scheepens dan Schmid yang jadi korban dari kalangan Marsose. Kapten Joannes Paris juga terbunuh pada 3 April 1926 di Sape (Bakongan). Begitu juga Letnan Satu W. A. Molenaar yang terbunuh pada 11 Agustus 1926 di Teureubangan (Bakongan) dan Kapten Antonie Joris Haga mendapat giliran pada 19 Desember 1933 di Glé Breuëh (Lhöng).

Buku Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorighed (1941:295) menyebut, Scheepens yang kelahiran Ambon, 13 April 1868 itu dinyatakan meninggal dunia pada 17 Oktober 1913, seminggu setelah penusukan. Istrinya pun jadi janda.

Scheepens punya anak bernama Willem Jan Scheepens (lahir di Nijmegen, 13 Mei 1907). Seperti sang ayah, Scheepens junior alias Wim masuk Marsose. Sebelum Perang Dunia II, anak itu sudah jadi letnan satu dan pernah melintasi Gunung Leuser dari Bakongan ke Blang Kejeren.

Dalam pasukan komando Belanda Korps Speciale Troepen, Kapten Wim Scheepens pernah jadi komandannya. Kemudian ia digantikan sahabatnya, Kapten Westerling, yang pernah memimpin pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). 

Baca di SUMBER
loading...

Setelah Perang Aceh selesai dan Aceh jadi daerah pendudukan, beberapa perwira Belanda menjadi korban serangan individual yang dikenal dengan "Atjeh Moorden" (Pembunuhan Aceh).

Label: ,

Post a comment

loading...

Contact form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.