Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan History Hotel Hukum HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Ilustrasi
StatusAceh.Net - Suasana duka dirasakan Agus (53) dan keluarga, karena anaknya yang bernama Rusmaya (16), kini tidak lagi dapat berkumpul bersama seperti biasanya. Rusmaya adalah sosok gadis yang ceria, tetapi dia lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan meneguk racun rumput.

Kemarin malam pukul 19.46 Wita, Agus yang merupakan ayah dari Rusmaya berada di lantai 2 RSUD Tarakan, tepatnya di depan musala. Tampak terlihat raut wajah sedih Agus dan Hajrah (ibu tiri Rusmaya).

Agus berusaha tegar dan menahan rasa sedihnya, saat penulis mencoba untuk membuka pembicaraan dengan ayah almarhum. Agus sesekali mencoba tertunduk, untuk menahan air matanya saat memulai menceritakan kronologis kejadian, Maya-sapaan akrab Rusmaya memutuskan mengakhiri hidupnya.

Diakui Agus, sebelum membawa Maya ke Sebuku, putrinya dulu dibesarkan oleh sang nenek saat dia (Agus) dan ibu kandung Maya memilih untuk berpisah di Sulawesi kala itu. Sejak kecil hingga lulus Sekolah Dasar (SD), Maya seringkali mengungkapkan rasa rindunya kepada sang ayah.

Bahkan, tak jarang Maya dulu sering mendesak ayahnya yang tinggal dan bekerja di Sebuku, untuk membawa Maya ikut ke Sebuku. Akhirnya, karena kerinduan dirinya kepada sang anak, Agus memutuskan menjemput Maya di Sulawesi untuk dibawa ke Sebuku ketika ia telah lulus SD.

Singkat cerita, Maya yang telah lama tidak bertemu dengan sang ibu kerap kali mengungkapkan kerinduan yang mendalam kepada ibu kandungnya. Sehingga Maya kerap kali merasa sedih. Tak tega melihat putrinya bersedih terus, Agus berusaha untuk mencoba mencari keberadaan istri terdahulunya itu, yang telah menghilangkan jejak sejak memutuskan bercerai.

Akhirnya, setelah berusaha keras mencari keberadaan ibu kandung Maya, Agus mendapatkan kontak dan tanpa berlama-lama lagi dia memberikan nomor tersebut kepada Maya. Sontak Maya langsung saja menghubungi perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu.

Maya mulai berkomunikasi dengan sang ibu. Namun, rupanya Maya merasa ada yang berubah dari ibu yang dirindukannya itu. Rasa kecewa itu, sempat Maya ceritakan kepada sang ayah, yang beranggapan bahwa ayah dan ibunya sudah tidak lagi menyayanginya.

“Waktu itu Maya memang kecewa karena ibunya tidak mau menjawab telponnya lagi,” ujar Agus sembari sesekali menyeka air matanya.

Hingga akhirnya Minggu (23/4), Maya ditemukan oleh ibu tirinya telah terbaring lemah di dalam kamar, diduga usai meneggak racun rumput. “Waktu itu dia sudah muntah-muntah. Mamanya (Hajrah) menangis sejadi-jadinya dan memanggil saya. Karena panik, Maya langsung saya bawa ke Puskesmas Sebuku dengan sepeda motor dibantu mamanya,” tutur Agus.

Setelah dilakukan tindakan penolongan pertama, kondisi Maya sempat membaik setelah tiga hari dirawat di Puskesmas Sebuku, namun selang beberapa waktu, kondisi Maya kembali drop sehingga pihak puskesmas menyarankan agar dibawa ke Rumah Sakit (RS) Malinau.

“Waktu itu saya heran, karena malamnya Maya baik-baik saja, malah sempat bercanda dan masih sempat minta dibelikan camilan. Tetapi subuhnya dia kembali drop,” ujar Agus.

Setelah dibawa ke RS Malinau, ternyata kondisi Maya tidak kunjung membaik, sehingga dirujuk ke RSUD Tarakan, karena tidak memiliki alat yang memadai. “Pada waktu dibawa ke RSUD Tarakan, saya sempat berkata dan memberikan Maya semangat untuk bertahan. Waktu itu Maya hanya mengangguk-angguk saja karena saat itu ia sudah tidak dapat berbicara akibat racun yang telah melukai tenggorokannya,” kata Agus yang bekerja sebagai karyawan lepas di salah satu perusahaan kelapa sawit di Sebuku.

Ketika itu Agus sampai di RSUD Tarakan, Kamis (27/4) sekira pukul 15.00 Wita, dan Maya langsung dilarikan ke ruang ICU untuk segera dilakukan proses pengeluaran racun dari tubuhnya. Tak disangka sekitar pukul 17.00 Wita kondisi Maya semakin memburuk, sehingga dokter mengingatkan kepada Agus agar dapat menerima segala risiko dan kemungkinan yang akan terjadi pada Maya.

“Saya juga sempat melihat kondisi Maya yang sudah tidak berdaya dengan alat bantu pernapasan yang terpasang di mulutnya,” ungkap Agus.

Tuhan berkehendak lain, Maya tidak mampu bertahan akibat racun yang dia minum telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Hingga akhirnya Jumat (28/4) pukul 14.00 Wita, Maya menghembuskan nafas terakhir. Agus yang kembali terkenang dengan kondisi Maya kala itu, kembali tertunduk tak kuasa menahan sedihnya.

Rencananya jasad Maya akan dikebumikan di Sebuku. Namun, untuk membawa jasad anaknya, dia tidak memiliki biaya karena telah mengeluarkan banyak uang saat membawa Maya dari Sebuku ke Malinau hingga ke Tarakan. Kabar duka ini pun menyebar cepat di warga Tarakan, kemarin. Sejumlah warga langsung datang ke RSUD Tarakan.

Agus pun terbantu karena dia tak lagi bingung bagaimana membawa jasad anaknya. Warga dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Tarakan bersedia membantunya untuk menyediakan mobilitas ke Sebuku.

“Alhamdulillah, saya dibantu sesama perantau dari Sulawesi untuk membawa Maya pulang ke Sebuku,” pungkas Agus. (JPG)
loading...

Post a Comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.