Abdiya aceh Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Agama Aksi 112 Aksi 313 Aleppo Artikel Artis Auto Babel Baksos Bambang Tri Banda Aceh Batu Akik Bencana Alam Bendera Aceh Bergek Bireuen Bisnis BNN BNPB Bom Kampung Melayu Budaya Carona corona Cuaca Cut Meutia Daerah Dana Bos Deklarasi Akbar PA Deplomatik Depok Dewan Pers DPR RI Editorial Ekomomi Ekonomi Energi Feature Fito FORMATPAS Foto FPI Gampong Gempa Aceh Gempa Palu Gunung Sinabung Haji HAM Hathar Headlines Hiburan Hindia History Hotel Hukum Humor HUT RI i ikapas nisam Indonesia Industri Info Dana Desa Informasi Publik Inspirasi Internasional Internet Iran Irwandi-Nova Irwndi Yusuf IWO Jaksa JARI Jawa Timur Jejak JKMA Kemenperin Kemenprin Kesehatan Khalwat KIP Kisah Inspiratif Korupsi Koruptor KPK Kriminal Kriminalisasi Kubu Kuliner Langsa lgbt Lhiokseumawe Lhokseumawe Lingkungan Listrik Lombok Lowongan Kerja Maisir Makar Makassar Malaysia Malware WannaCry Masjid Milad GAM Mitra Berita Motivasi Motogp Mudik Mudik Lebaran MUI Musik Muslim Uighur Nanang Haryono Narkotika Nasional News Info Aceh Nisam Nuansa Nusantara Obligasi Olahraga Ombudsman Opini Otomotif OTT Pajak Palu Papua Parpol PAS Patroli Pekanbaru Pelabuhan Pemekaran Aceh Malaka Pemekaran ALA Pemerintah Pemilu Pendidikan Pengadilan Peristiwa Pers Persekusi Pertanian Piala Dunia 2018 Pidie Pidie Jaya Pilkada Pilkada Aceh PKI PLN PNL Polisi Politik Poso PPWI Presiden Pungli PUSPA Ramadhan Ramuan Raskin Riau ril Rilis Rillis rls Rohingya Rohul Saladin Satwa Save Palestina Sawang Sejarah Selebriti Senator Sosok Sport Status-Papua Sumatera Sunda Empire Suriah Syariat Islam T. Saladin Tekno Telekomunikasi Teror Mesir Terorisme TGB Thailand TMMD reguler ke-106 TNI Tokoh Tsunami Aceh Ulama USA Vaksin MR vid Video vidio Waqaf Habib Bugak Warung Kopi Wisata YantoTarah YARA

Abdi (24), pemuda asal Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, ini dipasung keluarganya karena dinilai sering bikin ulah dan mengganggu warga
Sulbar - Diduga stres, Abdi (24), seorang pemuda dipasung oleh keluarganya sendiri di ruang dapur sebuah rumah panggung di Dusun Penanian, Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Abdi dipasung dengan cara kedua tangan dan kakinya dirantai dan digembok besi. Meski bicaranya terlihat normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda menderita gangguan jiwa, namun Abdi dianggap keluarganya sedang sakit.

Abdi merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya telah meninggal dunia sepuluh tahun silam. Menurut Abdi, ia dipasung oleh pamannya sejak tujuh bulan lalu karena dianggap meresahkan warga.

Meski hidup terpasung, namun Abdi tak pernah lupa makan sahur untuk menjalankan puasa di siang hari.

"Saya puasa terus, Pak. Saya merasa tersiksa batin diperlakukan seperti ini. Seperti sudah sepuluh tahun rasanya saya di sini, padahal baru tujuh bulan," kata Abdi.

Dia mengaku dipasung oleh pamannya karena dianggap sering mengganggu warga. Abdi ditempatkan di ruang dapur belakang rumahnya. Seluruh aktivitasnya ia lakukan di situ, mulai dari makan hingga buang air.

Abdi berharap dirinya segera dilepaskan dari pasungan. Ia mengaku diperlakukan tidak manusiawi oleh keluarganya.

Sementara itu, Heni (50), ibu kandung Abdi, hanya bisa meneteskan air mata sambil menatap anaknya yang kini dipasung dengan rantai besi.

Heni mengatakan, anaknya dipasung bukan keinginan dirinya, melainkan sang paman Abdi karena dianggap mengganggu orang lain.

Heni mengaku sangat prihatin melihat kondisi anaknya dipasung berbulan-bulan.

"Saya juga kasihan pak lihat anak saya. Ia dipasung oleh pamannya karena dinilai sering mengganggu warga," kata Heni sambil menangis.

Menurut warga sekitar, sehari-hari Abdi tidak menunjukkan tanda-tanda ada gangguan jiwa. Karena semua pertanyaan warga bisa dijawab layaknya orang sehat.

Hanya saja Abdi kadang mengamuk dan merusak barang apa saja di sekitarnya jika penyakitnya kambuh lagi.

"Baik ji pak, cuma kadang kalau datang lagi sakitnya bisa mengamuk," katanya.

Untuk menghidupi keluarga kecilnya, Heni terpaksa mencari nafkah dengan cara membuat sapu lidi atau menjual sayur kangkung yang dipetik di sungai untuk dijual ke pasar. Hasil penjualan yang tidak seberapa itu dipakai Heni untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras dan lainnya.

Heni mengaku tidak mendapatkan jatah beras miskin atau Raskin. Dulu ia mengaku pernah mendapat pembagian raskin beberapa liter dari yang seharusnya 20 liter per bulan. Namun belakangan setiap kali ia datang ke kantor desa setempat petugasnya hanya bilang semua raskin sudah habis dibagikan.

"Dulu saya dapat pak, tapi sekarang tidak dapat lagi. Saya pernah tanya petugasnya tapi katanya semuanya sudah dibagi-bagi,” ujar Heni.

Heni mengaku tidak tahun kenapa dirnya tidak mendapatkan jatah raskin. Namun ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar anaknya bisa diobati.
(Kompas)
loading...
Label:

Post a comment

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *

StatusAceh.Net. Theme images by i-bob. Powered by Blogger.